Thursday, October 8, 2015

Japan Trip : Sensoji Temple / Asakusa Kannon (31 Oct 2014)

Sensoji Temple Berasal dari kata Senso yang berarti Asakusa dan Ji yang artinya kuil. Sensoji temple adalah kuil yang bisa dibilang paling terkenal di seantero Tokyo. Dibangun pada abad ke 7, kuil ini merupakan salah satu kuil yang paling tua di Jepang walaupun beberapa bagian dari kuil sudah bukan merupakan bangunan asli. Sebelum masuk harus melalui gerbang luar yang dinamakan Kaminarimon. Kaminarimon adalah yang pertama dari dua gerbang pintu masuk Kuil Sensoji 1000 tahun yang lalu dan merupakan simbol dari Asakusa. Kalau anda memperhatikan, ada dua patung raksasa yang diletakkan di sebelah kanan dan kiri lentera raksasa itu Raijin (dewa petir) dan Fujin (dewa angin)
 
Sensoji Temple berada tidak jauh dari Nakamise Shopping Street dan Kaminarimon Gate. Kuil ini cukup ramai dikunjungi oleh masyarakat Jepang untuk tempat berdoa di area Asakusa. Setelah melewati Nakamise Shopping Street, saya mendapatkan gerbang lonceng besar lagi seperti Kaminarimon Gate. Gerbang utama tersebut bernama yaitu Hōzōmon. Dibalik gerbang itu digantungkan sandal jerami raksasa (waraji). Tidak jauh dari gerbang utama ada bangunan berbentuk pagoda bertingkat 5 yang disebut Gojūnoto. Konon didalamnya tersimpan bagian dari abu Buddha. Di sinilah pintu gerbang utama Sensoji Temple. Di sekitar pintu masuk ini banyak wisatawan yang berpose mengambil gambar lonceng besar berwarna merah yang tepat berada di tengah jalan. Agak susah mendapatkan angle baik dengan posisi kosong, karena kebetulan saat saya ke sana kondisi Sensoji Temple sangat ramai, padahal masih lumayan pagi lhoo.. Namun demikian hal tersebut tidak memupuskan semangat saya untuk berfoto :D
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Ketika saya masuk ke dalam, di dekat pintu masuk atau bagian terluar dari Sensoji Temple terdapat bangunan tertutup rapat seperti kasir yang sedang tutup. Bagian depannya terdapat banyak laci kecil yang berisi kertas ramalan dan kocokan kayu mirip kocokan arisan, namun yg keluar berbentuk bambu panjang yang isinya adalah ramalan. Lumayan banyak pengunjung yang mengambil ramalan tersebut. Harga untuk satu kali kocokan ramalan sebesar 100 Yen. Jika sudah mendapatkan ramalan, pengunjung cukup membaca apa isinya. Konon jika isinya ramalan baik maka sebaiknya di bawa pulang, jika hasilnya ramalan buruk maka harus diikat ditali panjang yang berada tidak jauh dari fortune teller (laci-laci ramalan) tersebut. Hal tersebut merupakan kepercayaan masyarakat Jepang, saya tidak mencobanya. 
 
Fortune Teller

Pengunjung yang mencoba peruntungan
Tempat menggantungkan ramalan nasib buruk
Terlihat juga dibagian luar area untuk membakar kayu-kayu kecil untuk berdoa, area tersebut penuh dengan asap pembakaran kayu-kayu kecil tersebut. Sebelum masuk bangunan itu, orang yang akan bersembahyang akan membeli dupa dan meletakkan dupa itu ditempat yang telah disediakan. Asap dupa itu dikibas-kibaskan ke dirinya. Kemudian mereka akan ke tempat khusus untuk membersihkan diri. Selain itu juga ada lokasi tempat keluarnya air dengan bentuk melingkar. Air tersebut digunakan untuk berkumur oleh pengunjung yang akan berdoa. Namun tidak jarang juga saya melihat orang yang mencuci tangannya dengan air tersebut. Mungkin itu salah satu ritualnya juga.  Mereka melingkar daa bergantian mengambil air dengan gayung kayu bulat. Saya sempat memegang air yang keluar dari pancuran tersebut, dingin layaknya musim gugur yang sedang bertebaran :D Menurut kepercayaan orang Jepang, air tersebut merupakan air suci. Banyak kuil yang terdapat spot seperti ini.


 
Saya kemudian menuju bagian dalam kuil, yakni bagian utama area ini. Bangunan utama dari kuil ini adalah Kannon Hall. Di sana terlihat tempat berdoa dengan lubang-lubang besar yang akan dilempari koin oleh pengunjung. Persis seperti serial komik Detective Conan soal kuil, sebelum berdoa biasanya mereka melempar koin ke tempat pelemparan koin yang berbentuk sel-sel kayu yang cukup besar. Saya melongok ke arah dalam, terdapat banyak sekali koin sen di sana. Setelah melempar koin biasanya ada lonceng yang dibunyikan dengan menggoyang-goyangkan tali. Namun saat itu saya tidak begitu memperhatikan sehingga terlewat untuk mencari lonceng tersebut. Biasaaaa... saya tahunya juga dari komik Conan *lagi-lagiiiii...

Bagian dalam Sensoji Temple
Tempat Berdoa
Saat berfoto di sekitar kuil, terdapat papan besar bertuliskan bahasa Jepang, entah apa tulisannya. Saat berfoto, saya menaikkan sedikit kaki saya untuk berpose, setelah itu entah kenapa kaki saya langsung kesemutan. Entah mengapa daya merasa gegara pose yang barusan, kaki saya kesemutan. OMG. Maapkan sayaaa... Akhirnya saya harus mengurut kaki berkali-kali dan melepas sepatu dan kaos kaki saya untuk saya urut. Setelah beberapa menit beristirahat, saya pun segera meninggalkan area utama kuil Sensoji dan mencoba berkeliling ke kuil sebelahnya. Kapooook pose yang aneh-aneh.

Saya cuma pasang pose seperti ini, langsung keram
Pijit-pijit dulu lepas sepatu
Tidak lama saya berkeliling di dalam, saya pun lanjut mengitari sekitar Sensoji Temple. Banyak murid-murid yang sedang studi tour ke kuil ini, membuat saya mengambil kesempatan untuk foto bersama mereka hahaha. Mereka sedang study tour ke Sensoji Temple ini. Lumayaaan foto sama bocah-bocah unyu Jepang dengan seragam kece. 
 
Pose bersama bocil SD
 
Tak jauh dari kuil tersebut jg ada kuil lain yang juga ramai dikunjungi. Saya menemukan becak manusia, dengan penampakan gerobak yang ditarik oleh mas2 dan penumpangnya duduk di belakang. Seruuuu kayaknya, tapi saya malas untuk tanya harganya berapaaa hanya untuk iseng-isengan. Saya dan Febi beristirahat sebentar sambil melihat sekeliling. Tak lupa menemukan bocah turis bule yang sedang bermain di pancuran air sendirian, iseng kami ajak berfoto :D Sekitar Sensoji Temple juga terdapat taman bunga yang unik bermekaran walaupun sedang musim gugur.


 

  
 

Demikian perjalanan saya bertiga ke Sensoji Temple, sangat terasa khas kuil Jepang dan orang-orang yang sedang sembahyang. Jika kamu ke Tokyo, maka kuil Sensoji ini jangan sampai terlewat dari daftar itinerary perjalanan :D

Salam,
Noni Halimi

No comments:

Post a Comment