Showing posts with label singapore. Show all posts
Showing posts with label singapore. Show all posts

Thursday, July 23, 2015

Review Fernloft Hostel Chinatown Singapore

 
 
KELEBIHAN (+) :
1. Harga terjangkau
2. Ada female dormitory, jika beruntung pesan 4 orang dormitory dapatnya 1 kamar 4 kasur, bareng semua, tidak terpencar, jadi berasa private room untuk berempat
3. Lokasi cukup terjangkau dari MRT
4. Ruang kamar AC
5. Ada fasilitas wifi gratis
6. Fasilitas air panas 24 jam
7. Kamar tidur bersih dan nyaman
8. Petugas yang ramah dan berwawasan luas mengenai tempat wisata
9. Banyak brosur wisata dan peta yang bisa diambil gratis di ruang tunggu

KEKURANGAN (-)
1. Antrian kamar mandi yang cukup panjang karena banyak kamar
 
---
Fernloft Hostel Chinatown
Location : 257 Jln Besar, Singapore 208930
Booking : booking.com, reservations@fernloft.com
Website : www.fernloft.com
Pict Source : Google 
 


 

Review ABC Backpackers Hostel Singapura

KELEBIHAN (+) :
1. Harga terjangkau
2. Lokasi strategis. Lokasi ABC Backpacker hostel terletak tidak jauh dari stasiun MRT Bugis. Hanya perlu berjalan kaki beberapa ratus meter di Jalan Victoria, maka tak lama kamu akan menemukan Jl. Kubor lokasi ABC Backpacker Hostel.
3. Aman, karena masih di area jalan besar Victoria Street
4. Bersih dan nyaman
5. Air panas berfungsi 24 jam
6. Akses wifi 24 jam gratis
7. Sarapan gratis sepuasnya, malah bisa untuk bekal sarapan di jalan
8. Ada kulkas untuk menitip makanan atau minuman dingin
9. Petugas yang ramah, berwawasan mengenai tempat wisata, dan fasih berbahasa inggris.
10. Kamar AC
11. Ada female dormitory
12. Banyak WNI yang menginap dan hostel ini cukup tenar di kalangan wisatawan Indonesia

KEKURANGAN (-) :
1. Perhatikan AC kamar, saat itu AC kamar saya agak bermasalah sehingga bocor mengeluarkan air
2. Kamarnya banyak, sehingga antrian kamar mandi pun panjang, saran saya untuk mandi pagi hari sekali saat para turis masih tidur.

----------------
ABC Backpackers Hostel 
Loacation : 3 Jln Kubor, Singapore 199201
Booking : booking.com
MRT Access : MRT Bugis
Pict Source : Google


Wednesday, July 22, 2015

Review U8 Hostel Singapore

KELEBIHAN (+) :
1. Unik dan menggemaskan. Ini kesan pertama yang saya dapat ketika googling U8 Hostel. Tak heran saya bilang unik, design hostel ini memang sangat menyenangkan dan enak dipandang mata. Pemilik hostel memasang banyak wall sticker pada hostelnya dan sprei warna warni. 

2. Hostel ini juga bersih dan nyaman untuk ditinggali.

3. Affordable budget. Maret 2015 silam saya mencoba menginap di hostel U8 ini dengan harga kamar 69 SGD  atau senilai 621.000 IDR (kurs 9000 IDR). Harganya memang cukup mahal mengingat kurs di Singapura memang luar biasa melejit di awal tahun 2015. Namun untuk harga rata-rata kamar di Singapura per malam sudah cukup terjangkau


4. Lokasi Strategis. Lokasi U8 berada di 181 Upper Paya Lebar Road, Singapura. Jika kamu menggunakan akses MRT maka kamu bisa turun di MRT Bartley dan jalan lurus menanjak ke arah Paya Lebar Road. Sampai di perempatan jalan, kamu akan melihat jejeran ruko, salah satunya adalah hostel U8. Jika kamu menggunakan bus, kamu bisa langsung turun di Paya Lebar Road, persis di depan ruko dan kamu tidak perlu berjalan agak jauh. 

5. Petugas yang melayani cukup ramah, berpengetahuan luas tentang tempat wisata dan mampu berbahasa inggris dengan baik. Kami diperbolehkan untuk menitip barang bawaan selama belum waktu check in kami. Check in pertama kali dimulai dari pukul 14.00 waktu setempat. Kami juga diperbolehkan untuk mandi dan berberes selama belum check in. Lumayan, sehabis bersih-bersih, titip barang, kamu bisa melanjutkan perjalanan wisata tanpa buang-buang waktu.







6. Suanananya sangat nyaman dan seperti di rumah sendiri. Kebersihannya patut diacungi jempol, spreinya warna-warni dan menggemaskan. Wall Sticker sangat mendominasi hostel ini. Hampir diseluruh penjuru tembok dipasangi wall sticker dengan berbagai tema dan ukuran.Kamar mandinya bersih walaupun hanya ada 3 pintu saja. Tersedia juga dapur

7. Sarapan gratis disediakan dimulai dari pukul 07.00 pagi. Jika kamu ingin laundry cuci baju makan kamu bisa menggunakan fasilitas di hostel ini, namun dikenakan biaya, demikian halnya dengan seterika.

8. Akses Wifi 24 jam yang bisa dipergunakan sepuasnya.



KEKURANGAN (-) :
1. Kamar yang mini dan irit tempat, jadi agak dempet-dempetan gitu

2. Tidak tersedia loker untuk menyimpan barang berharga atau penitipan khusus yang terkunci sehingga ada rasa aman bagi customer.

3. Fasilitas air panas tidak ada

Over all saya cukup puas menginap di hostel ini walaupun kamarnya agak sempit dan mini, tapi bersih dan rapi. Saya kasih nilai 8.5 of 10 untuk U8 Hostel Singapore.

 ---

U8 Hostel
Address: 181 Upper Paya Lebar Road Singapore 534866
Contact: +65 62848482
Website: www.u8hostel.com
Email: booking@u8hostel.com
Pict. source : from other blog

Spore - KL Trip Day 4 (JB Sentral - Paya Lebar - Sentosa Island - Vivo City - Marina Bay Sand - Merlion Park - Mustafa Center)

Sekitar jam setengah 7 pagi kami sudah sampai di ujung Malaysia dengan mengendarai kereta malam Senandung Sutera. Matahari sudah mulai muncul dari peraduan *tssaaaahh. Tiba-tiba kereta berhenti, kami bingung kenapa orang-orang pada turun? Apakah kita sudah sampai di JB Sentral? Usut punya usut, ternyata belum sampai di JB Sentral lho. Pemberhentian sementara ini dimaksudkan untuk cap imigrasi keluar Malaysia. Jadi kamu tidak perlu membawa barang bawaan kamu, cukup membawa diri, dan paspor kemudian berjalan ke arah gedung imigrasi yang lokasinya di lantai atas stasiun kereta. Antrian mengular panjang namun proses stempel sangat cepat. Selesai di cap imigrasi keluar Malaysia, kami kembali diarahkan masuk kereta yang tadi, bergegas kami mencari kasur kami yang ditempati. Tak lama kereta berjalan kembali. Selang beberapa menit, kami sampai di stasiun JB Sentral. Kali ini kami benar-benar membawa seluruh barang bawaan kami.

Sampailah kami di pintu keluar JB Sentral check point. Ini sebenarnya masih perbatasan Malaysia, dan untuk menuju ke Singapura kita harus ke Woodsland Check Point dengan menggunakan Bus. Banyak bus jurusan Woodsland yang tersedia di sini, tinggal pilih saja dan geseklah EZLInk milikmu. KEtika bus sudah sampai di Woodsland Check Point maka kita akan berhadapan dengan imigrasi masuk Singapura kembali dan mengisi borang imigrasi. Dari Woodsland Check Point lanjut naik CauseWayLink seperti kemarin-kemarin untuk menuju ke Terminal Queens Street. Sampai di terminal Queen Street, kami menuju MRT Bartley yang berlokasi tidak jauh dari Jalan Paya Lebar yakni tempat hostel kami berada.

Kami menginap di Hostel U8 yang sudah dibooking di Indonesia dengan total pembayaran di tempat pada saat check in. U8 berlokasi di 181 Upper Paya Lebar Rd, Singapura 534866. Untuk menuju ke U8 jika menggunakan MRT, turunlah di MRT Bartley dan berjalan kaki menyusuri ke arah Paya Lebar Road. Tidak jauh dari sana ada jalan menurun yang berisi banyak ruko dan tempat makan. Di sana adalah Upper Paya Lebar dan U8 berlokasi di salah satu ruko tersebut. Pukul 10.00 belum bisa check in, namun kami bisa menitipkan barang bawaan kami serta mandi dan berganti pakaian. Kebetulan sudah super gerah maka kami pun mandi dan bersiap untuk jalan-jalan lagi :D

Sight Seeing Sentosa

Tujuan pertama kami adalah ke Sentosa Island. Untuk menuju ke Sentosa kami harus ke MRT Harbourfront di ujung selatan Singapura kemudian masuk ke Mall Vivo City, baru kemudian melanjutkan menaiki monorail Sentosa Express yang berada di lantai 3 Vivo City. Sampai di Vivo City ternyata perut sudah tidak bisa berkompromi maka kami mampir ke food court sedap yang berada di Mall Vivo City. Mayoritas menu makanan di food court ini halal, bahkan tertempel sticker Halal MUIS (Majlis Ugama Islam Singapura) yang berarti makanan tersebut sudah mendapatkan sertifikasi halal.




Banyak makanan yang disuguhkan di food court ini mulai dari soup, baso, makanan padang, gado-gado, masakan khas Indonesia, bakmi, chicken rice, Hainan rice dan masih banyak lagi pilihan makanan halal lainnya. Berbeda dengan foodcourt sebelahnya sedap, seperti terbagi dua area, area tersebut tidak ada makanan halal, kami sudah keliling untuk mengeceknya. Pantas saja yang makan banyak chinesse dan tidak ada yang berjilbab hehehe. Kami menjatuhkan pilihan makan hainan rice value meal (teteeepp yang murah). Satu porsi nasi Hainan lengkap dengan ayam fillet, saus kecap dan soup tofu. Makanan simple tapi cukup untuk mengganjal perut. Harga 2 porsi makanan tersebut 10 SGD. Mahalnyoooo

Usai menyantap habis makan siang, kami pun melanjutkan ke lantai 3 untuk menaiki Sentosa Express. Kereta Monorail yang menghantarkan kami ke pulai Sentosa. Sentosa Island memiliki 4 stesen monorail Sentosa Station, Waterfront Station, Imbiah Station, dan Beach Station. Sentosa Station adalah stasiun pertama yang berada di dalam Vivo City. Waterfront Station adalah stasiun yang harus kalian singgahi jika ingin pergi ke Universal Studio Singapore (USS). Imbiah Station adalah stasiun yang bersebelahan dengan patung Merlion raksasa—jika kalian mau foto di patung Merlion raksasa. Stasiun berikutnya adalah Beach Station. Kalau kalian berniat menonton Song of The Sea atau ingin bermain di pantai, kalian dapat turun di stasiun ini.

Berhubung tujuan awal kami adalah foto foto unyu di depan USS, kami turun di Waterfront Station. Berjalan masuk ke arah USS dan kami sudah menemukan bola duni abesar bertuliskan Universal Studios Singapore. Panas terik tidak menghalangi kami untuk berfoto. Satu-satunya yang menghalangi hari kami adalah harga aqua botol Singapura merek AQUA 1 liter saja seharga 3.5 SGD atau 33.950 IDR (kurs 9700). Wedaaannnn biasanya di Indonesia mah 3000 perak. Rasanya pengen jungkir balik alih profesi jadi penjual air mineral di Singapura. Kami juga membeli eskrim F&N Tropical Sling seharga 1 SGD dapet 2 biji. Lumayan dingin dingin seger lah, sebelum ketemu Uncle Ice Cream Singapura.






Lepas foto-foto kece di depan USS, Candylicious, Hershey’s dan sekitarnya, kami lanjut keliling naik Sentosa Express ke stasiun lainnya seperti Imbi, dan Beach Station. Namun kami hanya numpang ngadem doing dan tidak lanjut ke dalam wahana-wahana yang berada di dalamnya. Bukan apa-apa, selain kami nggak ada waktu untuk ke sana, juga nggak ada uang *loh. Tadinya kami berencana ke Garden By The Bay, tapi kaki rasanya mau somplak deh, akhirnya kami cancel itinerary ke Garden By The By, next time saja kalau ke Singapura lagi ya (ngarep). Alhasil kami memutuskan untuk turu alias istirahat di hostel dengan menggunakan bus.

Bus Singapura sebelas dua belas dengan Bus di Malaysia, untuk pembayarannya menggunakan tap kartu atau bisa manual bayar di supir bus, namun pastikan membayar dengan uang pas kalau nggak mau kena oceh supir bus. Kami mencoba naik bus tingkat dan sengaja mengambil posisi atas dan paling depan. Dari tempat duduk kami bisa terlihat suasana dan jalan-jalan di Singapura yang hiruk pikuk. Rute bus Singapura melewati berbagai jalan dan agak memutar, mungkin supaya jangkauan trayeknya menjadi luas. Walaupun dari segi waktu lebih cepat naik MRT daripada naik bus, namun berjalan-jalan menggunakan bus ada sensasi tersendiri, terlebih kita juga tidak akan punya banyak waktu untuk keliling banyak tempat. Wisata keliling dengan bus menjadi salah satu alternatif untuk sight seeing jalan-jalan di Singapura.

Indahnya Marina Bay Sand di Malam Hari


Setelah meregangkan otot dan ngaso sejenak di hostel, kami lanjut kelayapan lagi, rencananya kami akan ke Marina Bay Sand atau ke Merlion Statue yang letaknya tidak jauh dari MRT City Hall. Sebelumnya kami isi perut dengan asupan makanan dulu, belum bisa move on dari Singapore Zam-Zam, maka kami kembali mampir. Kali ini kami mencoba murtabak daging rusa. Harganya lebih mahal dari murtabak chicken, tapi dari segi ukuran lebih banyak dan jumbo. Ini kali pertama saya nyobain daging rusa, ternyata rasanya mirip-mirip dengan daging sapi, tapi seperti daging sapi cincang. Rasanya lebih mengenyangkan ketimbang ayam (iyalah ukurannya juga lebih gede). Tidak menghabiskan waktu lama, kami segera melahap murtabak tersebut.


Dari MRT City Hall ke Merlion Park/Statue cukup dekat, ikuti saja petunjuk jalan, dan kamu akan tiba di pelataran Marina Bay Sand tempat Merlion Statue. Dari kejauhan terlihat warna warni lampu yang menerangi. Kami langsung berfoto ria. Pada saat tengah asyik foto, tiba-tiba seorang mbak-mbak menyapa kami dengan bahasa Indonesia dan menawarkan bantuan untuk memfoto kami berdua. Bahkan ia menawarkan untuk memfoto kami dengan kami dengan kamera DSLR miliknya. Tentunya kami mau (mureeeeee, kapan lagi foto gratis mumpung ga bawa DSLR). Dia akan mengirimkan foto kami ketika sudah sampai di Indonesia. Ternyata mbak-mbak itu sedang jalan sendirian alias solo trip ke Singapura, ia berasal dari Solo. Karena kasian dia jalan sendiri ga ada yang bisa fotoin, maka kami menawarkan bantuan untuk memfoto mbak-mbak itu. Saking banyaknya orang di Merlion Park, saya nggak fokus foto mbak-mbak itu (alias lupa muka mbak-mbak itu), saat sudah jepret beberapa kali, ternyataaaaaa saya salah objek alias salah orang yang difoto hahaha. Pantesan suaminya saya bilang “kamu moto siapa sih?” hahahha nasiipp, map ya mbak..padahal hasilnya lumayan kese lho :P

One Stop Shopping Mustafa Center


Mustafa Center pasti merupakan salah satu destinasi belanja orang Indonesia yang pergi ke Singapura. Well, saya sebenarnya kurang begitu suka dengan suasana Mustafa Center, terlebih aromanya yang menyengat sekali. Tapi berhubung suami saya belum pernah, maka saya relakan masukin Mustafa Center di itinerary, sekalian saya juga mau beli tiger balm titipan Bapak saya. Untuk menuju di Mustafa Center sangat mudah, kamu hanya perlu naik MRT dan turun di stasiun Farrer Park.Dari pintu keluar Farrer Park berjalanlah ke arah lapangan rumput besar dan tidak jauh dari sana kamu akan menemukan departemen store besar yang bernama Mustafa Center.


Mustafa Center memang seperti one stop shopping kaerna perbagai barang dagangan sepertinya memang di jual di sini. Dari aksesoris wanita, jam tangan, eletronik, bahan makanan seperti swalayan, berbagai kebutuhan rumah tangga, groceries, aneka cokelat, pelbagai perlengkapan make up dari penjuru merek, maca-macam perawatan wajah, rambut, obat-obatan sampai souvenir Singapura di jual di sini. Mustafa Center menawarkan super buanyaaak sekali jenis cokelat. Saya pastikan kamu pasti bingung kalau belum menentukan pilihan sebelum ke sana. Karena di lorong cokelat terdapat beraneka ragam jenis cokelat dengan berbagai merek, ukuran, jenis dan rasa. Harga yang ditawarkan pun berbeda. Jika dibandingkan dengan Malaysia, harga cokelat di Singapura memang lebih mahal. Namun jika dibandingkan dengan Indonesia maka ada beberapa cokelat yang lebih murah seperti cokelat toblerone dan hershey. Saya memang tidak berencana membeli banyak cokelat di Singapura, jadi beli seperlunya saja.

Selain cokelat, di Mustafa Center juga menyediakan barang-barang souvenir khas Singapura. Bahkan bukan hanya Singapura tapi ada juga numpang negara lain seperti Jepang, Inggris, Perancis dan sebagainya. Souvenir yang ditawarkan di Mustafa juga banyak dari gantungan kunci, hiasan meja, patung merlion kecil, kaos untuk dewasa dan anak-anak, dan masih banyak lagi. Harganya cenderung lebih mahal ketimbang membeli di emperan seperti China Town atau Bugis. Harga kaos bisa dua kali lipat lebih mahal jika membeli di Mustafa Center. Walaupun dari segi kualitas memang lebih bagus di Mustafa.

Untuk membeli oleh-oleh dan souvenir khas Singapura saya lebih menyarankan untuk belanja di China Tiwn atau di Bugis Street. Mengapa demikian? Karena saya cinta pasar tradisional, harga bersaing, lebih beragam dan yang pasti bisa ditawar. Apalagi jika membeli dalam jumlah yang banyak bisa tawar minta binus tambahan hehehehe. Harga yang ditawarkan cukup berbeda dari Mustafa Center. Jadi tidak ada salahnya untuk belanja ngirit di Singapura kan?

Perjalanan singkat malam itu ditutup dengan jalan kaki nyari alternatif lain pulang ke hostel, karena suami saya iseng ga mau naik MRT Farrer Park yang letaknya cuma seipritan itu doang dari Mustafa. Alhasil kami naik bus hanya sampai 1 stasiun MRT dan ujung-ujungnya melanjutkan naik MRT Zzzzz.

Wisata sehari memang kurang puas untuk mengelilingi destinasi Singapura, namun bisa dimaksimalkan jika memang perjalanan yang dilakukan efektif dan efisien. Yang penting jangan banyak buang waktu :D Sekian laporan perjalanan kami di Singapura, saatnya terbang kembali di Indonesia esok pagi. Sayonara Singapura :D - Noni Halimi

Spore - KL Trip Day 3 (Dataran Merdeka - Petrosains - Chow Kit - KL Sentral - JB Sentral)

Pagi hari kami dimulai dengan nyari sarapan gratis di kitchen area Back Home Hostel Kuala Lumpur. Hostel ini memang menyediakan sarapan gratis pagi hari untuk customer yang menginap. Sarapannya sih hanya roti dengan pilihan selai kacang, strawberry. Untuk sereal bisa dicampur dengan susu plain. Untuk pilihan minuman bisa susu, kopi, teh atau air mineral untuk bekal perjalanan. Fasilitas sarapan gratis menjadi salah satu alasan dalam pemilihan hostel untuk menginap. Irit dan efisien itu perlu ibuk-ibuk. Selesai sarapan, saatnya bertualang seharian dengan itinerary : Dataran Merdeka (Samad Building – KL City Gallery – KL Discover City), Petrosains, dan Chow Kit.

Jarak tempuh dari Back Home Hostel menuju Dataran Merdeka cukup dekat, karena lokasi Dataran Merdeka tidak jauh dari Masjid Jamek dan Pasar Seni. Sambil olah raga pagi, kami berjalan menuju Dataran Merdeka. Sebenarnya banyak yang bisa dilihat di Dataran Merdeka, selain Samad Building, Museum Tenun, KL City Gallery, KL Library dan masih banyak lagi. Dataran Merdeka sering dipergunakan untuk acara nasional KL. Biasanya jika ada event khusus, jalan raya Dataran Merdeka akan ditutup dan dikhususkan untuk acara tersebut. Terlebih, persis di depan bangunan Sultan Abdul Samad terdapat lapangan luas. Di lapangan inilah biasanya acara digelar. Ibaratnya kalau di Indonesia yaa acara layar tancep atau dangdutan kali yaaa..


Sensasi KL Discover City
Biasanya dalam satu pekan terdapat hari-hari khusus city tour keliling Dataran Merdeka dipandu dengan tour guide dari Malaysia secara gratis tisss khusus untuk wisatawan. Namun apa daya, saya lebih suka eksplore dan sotoy sendiri ketimbang ikut rombongan tour. Waktu perjalanan lebih fleksibel dan efektif ketimbang ikut tour dengan 1 lokasi Dataran Merdeka bisa menghabiskan waktu setengah hari lebih. Weeew, rugi saya.

Alhasil kami foto-foto saja di Dataran Merdeka dan langsung menuju KL City Gallery. Saya memang berencana masuk KL City Gallery karena berniat menunjukan KL Discover City kepada suami saya yang belum pernah merasakannya.  Terakhir kali saya masuk KL City Gallery sih free of charge alias gratis, namun saat saya dan suami masuk, ternyata harus bayar tiket masuk seharga 5 RM per orang dan bisa di redeem dengan souvenir seharga 5 RM yang ada di souvenir shop. JIka ingin membeli lebih dari 5 RM maka cukup menambahkan saja. Wah baru nih. Ide bagus juga sih menerapkan system redeem souvenir untuk tiket masuk, jadi paling pengunjung yang dating sudah pasti akan membeli souvenir. Nggak kaya saya saat dulu ke KL City Gallery, mana masuknya gratis, sampai souvenir shop juga nggak beli apa-apa. Duh miris! Hahaha.

Di dalam KL City Gallery terdapat sejarah Kuala Lumpur dari jaman dahulu kala bahkan ada masa penjajahan Inggris. Ditampilkan juga papan sejarah serta maket gedung-gedung terkenal di Kuala Lumpur. Semuanya berkesan. Saat kami ke sana bulan Maret masih dalam suasana imlek, maka dekorasi KL City Gallery pun berubah menjadi imlek ria. Tak lupa kami mengabadikan dengan foto-foto. Berjalan ke lantai 2, terdapat KL Discover City yang saya ceritakan sebelumnya. Tak sabar saya menonton pertunjukannya.



Saat masuk ke ruangan seperti biasa lampu padam gelap dan tidak terlihat apa pun. Karena saya sudah pernah sebelumnya ke sana, jadi santai saja dan sudah tahu apa yang akan terjadi. Sedangkan suami saya karena kali pertama ke sana mulai bingung, ada apa ruangan gelap-gelap seperti ini. Haha. Tak lama, muncul suara dari layar jumbo di depan kami, bertuliskan besar Selamat datang di Kuala Lumpur. Saya langsung merinding saking kerennya itu backsound :P Ada hal yang membuat saya tak percuma ke sana dua kali, karena ternyata backsound dan isi videonya sudah mengalami banyak revisi, makin keren. Jadi kami disuguhkan video pemandu wisata melalui layar besar, tempat wisata di KL, makanan, tempat berbelanja, transportasi, kedudukan Malaysia di mata dunia, penghargaan untuk Malaysia, visi dan misi Malaysia, serta rencana kerja pembangunan yang akan dilakukan Malaysia hingga 2020 mendatang. Semuanya dikemas menarik ditambah dengan maket jumbo suasana Kuala Lumpur dengan kerlap kerlip warna persis di depan kami. Semuanya seirama dan membangkitkan semangat penonton. Sampai hamper tak berkedip saya menontonnya. Terlalu keren. Okeh ini nggak lebay, kamu mesti cobain sensasinya sendiri.

Usai pertunjukan rasanya pengen tepuk tangan sambil salto, andai di Indonesia juga dibuat seperti ini pasti akan keren, hanya saja niat salto saya urungkan mengingat di sekitar saya juga ada turis-turis lain yang menonton :D 

Di lantai bawah persis di dekat pintu keluar kami akan melewati Souvenir Shop yang tadi saya ceritakan. Ada pula pemahat dan seniman yang sedang membuat ukiran souvenir di dalam ruangan kaca. Pengunjung bisa melihatnya dari luar apa yang sedang mereka buat. Untuk harga souvenir beragam dari 5 RM sampai puluhan RM, tergantung jenis dan selera. Namun Arch Gallery ini lebih banyak mengedepankan konsep ukiran kayu, sehingga banyak souvenir yang berbentu kayu ukir, sangat cantik. Saya mencari harga souvenir 10 RM karena saya memiliki voucher 10 RM untuk di redeem. Saya memutuskan untuk membeli tempat kartu ukiran menara Petronas yang rencananya akan saya berikan ke Bapak untuk oleh-oleh.

Pulang dari Dataran Merdeka kami mencoba naik bus gratis yang bernama Go KL. Berhubung waktunya sempit, kami hanya mencoba beberapa halte saja dan langsung turun di dekat Back Home Hostel Kuala Lumpur untuk check out sebelum pukul 11.00. Dengan membawa koper dan barang bawaan, kami bergegas untuk ke KL Sentral untuk menitipkan koper merah supaya nggak rempong cyiiin… Perjalanan di lanjutkan ke LRT KLCC untuk shalat Jumat dan bermain di Petrosains. Sebelumnya kami mampir lagi di Shahira depan pintu keluar LRT Masjid Jamek untuk makan siang. Belum bisa move on dari Nasi Lemaknya yang sedaaaapp….


Jangan khawatir bingung shalat Jumat di mana, karena Malaysia tersebar surau dan Masjid yang cukup banyak. Untuk lokasi Masjid yang bisa shalat Jumat ada di dalam Mall Suria KLCC bagian belakang dekat miniatur mobil balap F1. Lokasi Masjid ada di lantai atas dengan menaiki sisi kanan atau kiri tangga. Masjid akan ditutup bagi perempuan saat jam Shalat Jumat, demikian halnya dengan Masjid lainnya di KL. Selama menunggu suami Jumatan, saya mencari surau terdekat untuk menunaikan Shalat Dzuhur. Letak surau di Mall Suria KLCC ada di lantai C dekat dengan Candylicious. Surau yang bersih dan nyaman tersebut khusus untuk wanita.

Usai Jumatan, kami bertemu kembali di meeting point pintu masuk Suria KLCC (maklum tidak ada alat komunikasi, paket pun tidak ada, kami hanya mengandalkan wifi). Saat seperti ini janjian di meeting point sangat penting, ala-ala Adam dan Siti Hawa yang ketemu di Jabal Rahmah. Untungnya pertemuan kami tidak disertai drama berpelukan dan mengharu  biru ala sinetron. Kami tidak membuang waktu, langsung menuju ke Petrosains.

Bermain Sambil Belajar di Petrosains, Suria KLCC

Petrosains adalah wahana bermain dan berlajar untuk anak-anak dan dewasa yang terletak di dalam Mall Suria KLCC lantai 4. Harga tiket masuknya 25 RM untuk dewasa, jika menunjukan ID Card Malaysia akan mendapatkan potongan harga. Sayangnya kami tidak punya (ya iyalaaah). Masuk ke dalam Petrosains tidak diperkenankan membawa tas berlebih bahkan ransel sekali pun, sehingga ransel milik suami saya dititipkan di loker yang disediakan di dekat pintu masuk. Loker ini tidak berbayar, dan barang bisa diambil kembali ketika sudah selesai berpetualang di Petrosains.


Kounter tiket Petrosains sudah bisa melayani pembelian tiket dari pukul 08.30 pagi. Sedangkan untuk jam operasional Petrosains dimulai pukul 09.00. Jam masuk terakhir pukul 16.00 dan Petrosains akan tutup pada pukul 17.00. Saran saya jika ingin bermain di Petrosains dari pagi atau menjelang siang, jangan terlalu sore karena cukup sayang jika hanya berkunjung sebentar. Di dalam Petrosains terdapat banyak wahana edukasi yang menarik untuk dicoba dan ditonton, mirip denan PPIPTEK di Yogyakarta atau Museum PPIPTEK di Taman Mini, namun Petrosains lebih beragam, futuristic dan lebih modern ketimbang milik kita. Saat masuk pun cukup membuat antrian panjang karena menggunakan kereta berisi 6-8 pengunjung untuk membawa kami masuk ke dalam Petrosains. Keretanya mirip dengan wahana di Universal Studios Singapore wahana Transformers.


Beberapa wahana yang membuat saya cukup tertarik adalah kami mencoba simulasi menaiki roket dengan kecepatan ratusan KPH (kilometers per hour) dengan masuk ke ruangan ala-ala roket dan angin kencang yang berhembus di dalamnya seolah-olah kami sedang terbang ke angkasa dengan kecepatan roket. Wuuussh. Selain itu ada percobaan kendaraan di luar angkasa dan mencoba baju astronot. Terlalu banyak permainan dan percobaan yang ada di dalam Petrosains sampai waktu sehari sepertinya tidak cukup untuk eksplorasi semua alatnya. Terlebih lagi banyak juga wahana bermain kilang minyak dengan pipa-pipa yang besar serta perosotan anak yang panjang. Memang destinasi wisata yang cocok untuk anak kecil usia SD atau SMP.

Setelah cukup puas bermain di Petrosains, kami melanjutkan perjalan ke Chow Kit untuk berburu cokelat. Saya memang berencana membeli cokelat di KL, bukan di Singapura karena harga cokelat di KL jauh lebih bersahabat ketimbang cokelat di Singapura. Terlebih saya lebih suka cokelat KL yang sebelas dua belas sama cokelat di Batam. Kami pun berencana akan membeli cokelat di bilangan Chow Kit, nama tokonya adalah Chow Kit WLH C&C S/B yang terletak 105 Lekong Raja Laut A, Chow Kit, Malaysia. Ini kali pertama saya mencoba ke toko tersebut, denger-denger sih banyak yang murah, well see then..

Belanja Coklat Murah di Chow Kit, Kuala Lumpur, Malaysia 

Bingung mau beli coklat murah di Kuala Lumpur? Dimana tempat membeki coklat murah di Kuala Lumpur? Belanja coklat di Chow Kit bisa menjadi salah satu alternatifnya. Sampai di Chow Kit, kami turun dari monorail dan ke jalan raya. Lekong Raja Laut tidak jauh dari stesen monorail chowkit, jalan lurus ke arah Pasar Chow Kit hanya melewati satu gang saja maka sudah sampailah kita di Chow Kit W.L.H C&C S/B persis di seberang Pasar Chow Kit. Saya lupa kepanjangan dari W.L.H C&C S/B ini apa, yang jelas saat itu hari hujan rintik-rintik, saya dan suami berlarian langsung masuk ke toko tersebut. Sebenarnya ini bukan toko kecil, lebih seperti gudang ala-ala Makro tempo dulu. Dari luar tidak terlihat brand swalayan atau sejenisnya, persis mirip gudang. Ketika sampai di dalam pun mirip Makro yang isinya rak-rak tinggi dengan penuh berbagai macam makanan dari mulai makanan kemasan, minuman botol, sirup, minuman berbagai rasa, botol kecap, saus, sampai tak lupa berbagai jenis coklat dan cemilan. Lantainya pun semen biasa, persis lah kaya gudang.


Lokasi cokelat dan cemilan agak di pojok, kamu akan mudah menemukannya.  Saran saya, ambil troli untuk berbelanja, karena kamu akan kalap berbelanja cokelat di sini. Bayangkan saja, berbagai jenis cokelat, permen dan cemilan dijual dalam jumlah pack besar dan harga yang relatif murah. Sebut saja 1 plastik besar Roka dihargai 7.2 RM atau 28.000 IDR (kurs 3900 IDR). Beli 6 plastik malah diskon menjadi 41.40 RM. Belum lagi cokelat dan biskuit lain seperti Apollo seharga 5.10 RM sampai 6.5RM per box besar. Bagaimana tidak kalap? Yak an yak an? Bukan hanya itu, berbagai permen dan manisan bertebaran di sini dengan jumlah yang banyak, dari permen karet bentuk buah-buahan, permen cokelat bulat warna warni, choky-choky, cokelat batang, cokelat koin, agar-agar, sampai marshmallow. Untuk halal atau tidak silakan cek di kemasan, banyak juga kok label halal pada makanan-makanan tersebut. Jangan sampai ambil yang tanpa logo Halal MUI Malaysia yaah..

Puas belanja dengan menggotong berkilo-kilo coklat dengan harga murah (harta karum kamiiiiii) perjalanan di lanjutkan ke KL Sentral untuk mengambil koper kami dan menunggu kereta Senandung Sutera dari KL Sentral menuju terminal JB Sentral. Kereta berangkat pukul 23.30 dari KL Sentral dan akan tiba di JB Sentral pukul 06.50 pagi. Kebetulan kami belum berkemas isi belanjaan coklat yang luar biasa banyak itu lhooo, rencananya kami akan membongkar muat di kasur dalam kereta Senandung Sutera :D Tiket sudah saya kantongin dengan sotoy mendalam inget kata-kata cikgu di JB Sentral hari kemarin, kalau tiket kepulangan saya dan suami bisa digunakan dan sudah dikonfirmasi, sehingga saya tidak perlu membeli tiket lagi.

Saat kereta datang, kami langsung memcari tempat tidur kami yang kami pesan berseberangan di kasur bawah. Saya langsung membongkar isi koper dan menyusun cokelat-cokelat tadi ke dalamnya. Suami saya dengan sigap menyerahkan semua bawaannya untuk saya susun (dasar deeehhh). Saya packing di atas kereta yang sudah berjalan. Setelah semua packing selesai, saya kembali dag dig dug menunggu pemeriksaan karcis. Semoga memang tiket kami valid ya, berhubung tiket berangkat agak kacau. Tak lama petugas kereta pun dating untuk memeriksa karcis per gerbong. Saya langsung menunjukan hasil print tiket kami yang berbentuk sehelai kertas HVS yang sudah dilipat lemas bentuknya, haha. Petugas memeriksa sejenak, kemudian mengembalikan kepada saya dengan mengucapkan terima kasih, ia pun beralih  ke kasur berikutnya. Legaaaaaaaa…tiket kami bisa dipergunakan. Kalau tidak, mungkin akan diturunkan di stasiun depan hehe.. -Noni Halimi

Spore - KL Trip Day 2 (KL Sentral - Batu Caves - Masjid Jamek - Pasar Seni - Back Home - Petaling Street - Raja Alang - KLCC)

Selamat pagi Kuala Lumpur, Malaysia.

Pukul 06.50 kami sudah mendarat dengan selamat di stasiun pemberhentian KTMB KL Sentral. Kami segera menurunkan koper, bergegas keluar dan langsung mencari hall utama KL Sentral. Ini kali pertama saya menggunakan KTMB antar kota, sehingga kurang familiar dengan lokasinya. Namun segera saya rekam lokasinya sehingga kali kedua saya ke sana tidak bingung. Tidak sulit menemukan hall utama KL Sentral, kami hanya perlu naik ke lantai 1.
KL Sentral merupakan tempat bertemunya berbagai moda transportasi di Malaysia baik Kereta, Taxi, Bus. Ada  4 jenis transportasi berbasis rel di Kuala Lumpur: KL Monorail, LRT (light rapid transit), KTM Komuter, dan KLIA Ekspres / KLIA Transit. Keempatnya dikenal sebagai sebuah sistem bernama Klang Valley Integrated Rail Transit.

KL Sentral memiliki tempat penyimpanan barang atau loker yang berlokasi di lantai 1 dekat surau/musholla. Berjejer puluhan loker dengan berbagai ukuran dari ukuran kecil, sedang hingg besar. Cara pemesanan loker cukup mudah, kamu hanya perlu membeli koin/token di penjaga loker seharga 5 RM untuk sekali pakai. Cari saja loker yang masih kosong, masukan barang bawaan yang akan disimpan, tutup loker dan masukkan token. Setelah itu kunci dan kamu boleh meninggalkan loker tersebut. Saran saya, foto lokasi loker untuk memudahkan mengingat lokasi ketika kamu sudah kembali dan berniat mengambil barang.

Di Malaysia saya tidak membeli kartu touris pass, saya selalu menggunakan uang receh untuk pembelian token secara harian di mesin pemesanan tiket. KTM Komuter berada di platform 3, ikuti saja petunjuk jalan yang mengarahkan ke kereta komuter. Tujuan kami adalah membeli tiket KTM Komuter Batu Caves seharga 2 RM per orang. 

Kereta berangkat pukul 08.30 dengan kondisi masih kosong plong segar bugar, kami yang belum mandi hanya bekal cuci muka sikat gigi di toilet KL Sentral jadi ikutan segar. Sampai di Batu Caves jam 09.00, kami masuk melalui pintu samping Batu Caves yang letaknya persis di depan stasiun KTM Batu Caves. Udara masih dingin sangat cocok untuk mendaki ratusan anak tangga ke atas Batu Caves, memang paling cocok ke sini pagi atau sore hari ketika matahari tidak menyengat. Setelah puas naik ke ujung atas dan kembali turun, kami menghabiskan waktu sampai jam 09.30. Singkat? Iyalah ngapain lama-lama di sana, yang penting cukup foto dan mendaki anak tangga sampai habis :D. Kami kembali ke stasiun pukul 09.45 untuk beli tiket KL sentral 2 RM masuk dr platform 1 jurusan Pelabuhan Klang menuju LRT Masjid Jamek.

Sampai di pintu keluar LRT Pasar Masjid Jamek, berhubung laparnya luar biasa, kami baru sempat sarapan roti, maka saatnya untuk membeli gorengan tusuk khas Kuala Lumpur yang banyak di jual di pinggir jalan. Harganya 1 RM sampai 1.2 RM per tusuk. Jenis gorengan satenya macam-macam, ada baso, sausage besar, sosis kecil, otak-otak, nuggets, udang galah, dan lain sebagainya. Gorengan tusuk itu dimakan bersama dengan saus atau chilli. Nyaaamm.

Lepas makan cemilan tadi, kami bergegas ke restoran Sahira untuk sarapan menjelang makan siang yang agak berat. Saya memesan Nasi Lemak Ayam dan suami saya memesan nasi briyani ayam. Restoran orang Malaysia ini sebelas dua belas dengan restoran India maupun Arab, porsinya buanyak bener. Rasa nasi lemaknya sangat enaaaak, ini termasuk nasi lemak yang terenak selama saya mencoba ke Kuala Lumpur. Kalau nasi briyani masih lebih enak milik Singapore Zam-Zam. Over all, lumayan banget makan di sini, harganya pun terjangkau. Kami sengaja tidak memesan minum karena masih memiliki air mineral. Kami juga berencana membeli ais sirap (es sirop) warna warni yang mejeng di tempat jualan gorengan tusuk tadi. Ada rasa melon, jeruk, mangga, milo, lobak dan lain sebagainya. Kami pesan ais sirap melon warna hijau yang rasanya menggiurkan seharga 2 RM saja.

Dari LRT Masjd Jamek menuju Pasar Seni cukup dekat jaraknya, hanya dengan berjalan kaki berapa ratus meter kamu sudah akan sampai di belakang Kasturi Walk Pasar Seni. Kami hanya melihat-lihat sebentar karena memang tidak berniat belanja di sana hehehe. Memang di Pasar Seni banyak menjual berbagai kerajinan tangan khas Malaysia dan cinderamata Malaysia, namun harganya tidak cukup bersahabat untuk traveler kere macem kami, saya lebih tertarik membeli souvenir di Petaling Street yang bentuknya emperan pasar dan menjunjung tinggi tawar menawar harga (emak-emak banget). Boleeeeh laaa..

Setelah puas dan lelah keliling Pasar Seni dan lupa foto-foto, kami menuju penginapan Back Home Kuala Lumpur untuk meletakan barang bawaan dan beristirahat sejenak. Dari Pasar Seni kami berjalan kaki menuju Back Home Kuala Lumpur. Lokasinya tidak jauh dari Stesen LRT Masjid Jamek, kamu hanya ikuti jalan searah dengan Mesjid Jamek, kemudian di perempatan  belok kiri. Alamat Back Home Kuala Lumpur Jalan Tun H S Lee, 50100 Kuala Lumpur, Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur, Malaysia. Hostel ini ada di pinggir jalan dan sangat eye catching tulisannya sehingga mudah untuk ditemukan. Setelah check in dan meletakan barang bawaan, kami terkapar beristirahat beberapa jam.

Sore hari lepas mandi dan berberes kamar, kami langsung menuju ke Petaling Street. Pasar ini merupakan pasar tempat jual beli souvenir, buah, makanan, tas, dompet dan berbagai macam barang dagangan dengan harga yang cukup murah. Pasar ini memang baru buka menjelang sore, sehingga apabila kamu ingin berbelanja maka waktu terbaik adalah sore hari atau malam hari. Menjelang malam di Petaling Street juga banyak yang membuka restoran makanan pinggir jalan yang menyajikan berbagai jenis makanan Malaysia. Saya belum pernah sih mencoba makan di Petaling Street, karena ini kampong China sehingga banyak makanan tidak halal, sehingga saya tidak pernah memutuskan untuk makan di Petaling. Saya menemukan timbangan koper lucu seharga 18 RM di Petaling. Lumayan murah setelah nego harga dari 20 RM ke 18 RM :D

Dari Petaling Street ke Pasar Seni sangat dekat, kamu hanya perlu berjalan kaki menyusuri depan Petaling Street, dan sampailah di Pasar Seni dan Stesen LRT Pasar Seni. Tujuan kami selanjutnya adalah ke Stesen LRT Dang Wangi, kemudian menyebrang ke Monorail Bukit Nanas. Dari pintu keluar stesen Dang Wangi ada escalator di jalan raya untuk menyeberang ke arah monorail Bukit Nanas. Kami harus menyeberang, karena kereta yang akan kami naiki berbeda dengan laluan LRT. Harga tiket Monorail dari stesen Bukit Nanas ke stesen Medan Tuanku 1.2 RM per orang. Kami sampai di Medan Tuanku sekitar pukul 20.00.

Waktu yang pas untuk makan malam di Jalan Raja Alang. Di sana banyak restoran pinggir jalan yang menjual makanan lezat, tahun lalu saya ke sana saat bulan Ramadhan dan Jalan Raja Alang ini dipenuhi dengan jejeran tenda bazaar Ramadhan menjelang berbuka puasa. Luar biasa. Saya berencana makan di restoran Mazni. Dalam perjalan dari stesen Monorail Medan Tuanku ke Raja Alang, kami melewati Tune Hotel Down Town KL, tempat saya dan keluarga saya menginap saat Ramadhan ke KL. Saya dapat pesan dari Bapak Ibu saya untuk membeli cokelat Arab yang berukuran 2 kg per kemasan seharga 40 RM di swalayan Arab. Berjajaran dengan Tune Hotel memang banyak sekali swalayan Arab yang menjual cokelat. Lepas beli cokelat kami berjalan lurus menuju Jalan Raja Alang.

Sesampainya di Mazni restoran, kami langsung memesan Tom Yam Sotong 6 RM dan Tom Yam campur 5 RM lengkap dengan teh tariknya. Total makan malam kami sebanyak 14.5 RM. Lumayan bersahabat di kantong.  Tom Yam Mazni memang terkenal gurihnya, walapun fotonya kurang menggiurkan efek kamera, percayalah rasanya super dan wajib di coba.

Kenyang dengan tom yam hangat di malam hari, kami melanjutkan perjalanan ke Stesen Chow Kit yang lokasinya tidak jauh dari Jalan Raja Alang. Dari Chow Kit kami kembali ke monorail Bukit Nanas seharaga 1.3 RM dan menyebrang ke LRT Dang Wangi untuk menuju ke LRT KLCC sebesar 1 RM. Ada apa di KLCC? Apalagi kalau bukan Twin Tower Petronas, kami ingin mengambil foto malam hari. Keluar dari LRT KLCC ambil kea rah Ampang, dari sana akan langsung tembus ke Jalan Ampang yang berlokasi persis di depan Suriah KLCC. Untuk menuju Twin Tower dari Suriah KLCC cukup mudah, kamu hanya masuk ke Suriah KLCC dan ikuti petujuk jalan kea rah belakang gedung dan sampailah di taman Twin Tower Petronas dengan air mancur dan taburan lampu hias warna. Di situlah spor terbaik untuk mengambil gambar twin tower secara utuh. Kami menghabiskan waktu di petronas hingga pukul 22.00 kemudian dilanjutkan untuk kembali ke hostel Back Home.

Kami pulang pukul 22.00 dari stesen LRT KLCC ke LRT Masjid Jamek dengan biaya 1.3 RM per orang. Perjalanan yang cukup melelahkan untuk hari ini. Saatnya beristirahat dan mempersiapkan untuk perjalanan esok pagi.

Spore - KL Trip Day 1 (Changi Airport - Singapore Zam Zam - Masjid Sultan - Queen Street Terminal - Johor Baru)

Pesawat Air Asia QZ 266 membawa kami terbang dari Bandara Internasional Soekarno Hatta menuju Changi Airport Singapura. Selama di dalam pesawat kami sudah dibagikan borang dari Negara Singapura terkait barang bawaan yang harus diisi, jangan lupa untuk selalu membawa pulpen ya..

Pukul 17.30 waktu Singapura dengan perbedaan waktu 1 jam lebih cepat dari Indonesia, kami sampai di Bandar Udara Intenasional Changi. Ini kali pertama saya ke Changi, sebelumnya ke Singapura melalui jalur bus dari Kuala Lumpur dan Jalur air dari Batam. Perlu waktu yang agak lama untuk keluar bandara ini, cukup luas dan muter-muter. Walaupun keren, belum ada yang menandingi bandara di Tokyo yang super keren *tetep Jepang*

Sebelum menaiki MRT saya sempat top up 10 SGD kartu Ezlink milik saya dan membeli 12 SGD kartu baru Ezlink untuk suami saya, dengan balance due kartu 7 SGD. Dari pintu kedatangan di Changi, kami langsung menuju ke MRT ke arah Tanah Merah, keluar di Exit B menuju MRT Joo Koon keluar di exit A ke arah Pasir Ris. Kami langsung ke arah  MRT Bugis karena kami berniat makan malam di daerah Arab Street, shalat Maghrib Isya di Masjid Sultan dan segera ke Queen Street terminal untuk naik bis.

Agenda makan malam kami sudah dipersiapkan dalam itinerary. Kami berencana makan di restoran Arab yang bernama Singapore Zam-Zam, letaknya persis di samping Masjid Sultan, pinggir jalan raya. Sangat mudah untuk menemukan restoran ini, harganya cukup terjangkau, porsi buanyaaak banget cocok untuk orang-orang yang kelaparan terus seperti kami, dan rasanya tobbbb markotob!! Recommended to try.


Kami pesan 1 nasi briyani ayam paha dan 1 murtabak ayam, untuk minuman karena kami belum beli minum, jadilah beli teh tarik. Nasi briyani kami makan sepiring berdua (supaya romantic) karena porsinya yang lumayan jumbo, setelah itu dilanjutkan makan murtabak ayam lezat yang porsinya juga jumbo. Alhamdulillah kenyaaaang. Kami makan malam seharga 15 SGD untuk dua orang. Lumayan mahal? Namanya juga Singapura. Kalau soal rasa, nasi briyani 8 of 10 dan Murtabak 8 of 10. Untuk teh tarik rasanya biasa saja, belum ada yang ngalahin teh tarik di Kuala Lumpur.

Lepas makan kami menuju Masjid Sultan untuk menunaikan shalat Maghrib dan Isya (jamak takdim). Masjid yang cukup besar di kawasan Bugis dan sangat nyaman untuk berlama-lama merebahkan badan. Tapi kami tidak bisa berleha-leha karena kami harus mengejar bus causewaylink di Queen Street Terminal.

Pukul 20.15 ke Queen Street Terminal  untuk naik Causewaylink Bus warna kuning harga 1 tiketnya 3.3 SGD. Sebenarnya bisa naik bus 170 dengan harga tiket lebih murah, namun kondisinya penuh dan saya agak malas untuk bawa koper dan sebagainya berdesakan, akhirnya memutuskan untuk naik Causewaylink. Sebelum menaiki bus, kami Antri di pinggir terminal beli tiket di kounter tiket cash atau dengan ezlinkcard. Antrian mengular sepanjang sisi terminal dan teratur, tidak ada rebutan apalagi berdesakan masuk.

----------------------------------------terminal queen street---------------------------------------

Bus causewaylink dan 170 merupakan bus antar kota antar negara dari Terminal Queen Street sama Johor Bahru. Nantinya kami akan turun untuk cap imigrasi, kemudian lanjut lagi naik bus di imigrasi. Bus yang akan dinaiki belum tentu sama dengan bus di Queen Street, tidak masalah asalkan jenis bus masih sama dan kamu masih memegang tiket bus. Jika kamu berangkat dengan Causewaylink, maka pastikan saat setelah cap imigrasi dan kembali naik bus juga menaiki jalur bus Causewaylink.

Tidak terasa sudah pukul 21.00 waktu setempat, kami sampai di Woodsland checkpoint, untuk cap imigrasi keluar Singapura. Kami berbondong-bondong turun dari bus dan berjalan masuk ke Woodsland Checkpoint yang berada di lantai 5. Jangan khawatir tersesat, ikuti saja arus lalu lalang orang, semua menuju imigrasi keluar Singapura.

---------------------------------------causewaylink----------------------------------------------

Setelah cap keluar Singapura di paspor, kami kembali mengular mengantri naik bus Causewaylink jurusan JB Sentral atau Johor Baru Sentral di jalur CW2. Jangan khawatir menunggu lama, karena stok bus ini sangat banyak. Perjalanan kedua dengan bus ini tidak memakan waktu yang lama, karena jarak Woodsland Checkpoint dengan Johor Baru area Malaysia sangat dekat, hanya beberapa menit saja.

Tidak berapa lama sampai juga kami di JB Checkpoint untuk masuk imigrasi Malaysia dengan cap masuk Malaysia di paspor kami. Setelah dari cikgu-cikgu imigrasi Malaysia, ikuti petunjuk jalan yang tertera ke arah JB Sentral. Letak JB Sentral cukup dekat dari imigrasi, hanya berbeda gedung saja. Jangan takut untuk tersesat ya. Kalau nyasar, prinsip orang kita jaman dulu, jangan malu untuk bertanya.

Pukul 21.30 sampai di JB Sentral turun dari lantai 4 ke lantai 3 untuk ke kounter tiket KTMB. Persoalan hidup kami dimulai *lebay* Jadi begini, kami membeli tiket PP dari Johor Baru Sentral - KL Sentral dan KL - Sentral - Johor Baru Sentral. Namun pada saat proses akhir pembayaran dan pencetakan bukti validasi pemesanan tiket terdapat error message sehingga bukti e-tiket kami untuk perjalanan berangkat (JB Sentral - KL Sentral) tidak bisa diprint, sedangkan tiket pulang kami (KL Sentral - JB Sentral) bisa diprint. Alhasil kami hanya memiliki 1 e-tiket pulang, padahal keterangan transaksinya berhasil dan kartu kredit saya sudah terdebet sejumlah tiket PP. Saya sudah kirim email ke call center KTMB namun sampai hai keberangkatan kami belum juga dapat balasan. Jeng jeng jeng.

Dengan modal nekat bin sotoy, kami mendatangi kounter tiket KTMB untuk konfirmasi. Saya menceritakan awal mula pemesanan tiket sampai berakhir gagal print, dan hanya bisa print tiket kepulangan saja. Saya juga memberitahukan bahwa transaksi saya berhasil karena sudah konfirmasi ke kartu kredit Hasanah Card saya bahwa memang ada transaksi pembelian tiket KTMB sebesar 45 MYR x 4 atau 180 MYR pada hari tersebut.

Cikgu penjaga kounter kemudian melakukan verifikasi data, namun ternyata kode booking pemesanan kami tidak ditemukan dan kami diminta untuk melakukan cancel ke Kartu Kredit untuk pengembalian dana. Lemes dengernya? Iya lah pasti, males banget kan nelepon ke Call Center Kartu Kredit yang sudah terproses transaksinya, terlebih KTMB tidak memberikan bukti bahwa transaksi gagal. Namun, masih ada keberuntungan di tiket kepulangan kami yang sudah kami cetak, ternyata tiket tersebut bisa dikonfirmasi, sehingga tiket kepulangan kami aman. Kami hanya perlu membeli ulang tiket berangkat saja. No problemo, kita urus belakangan saja cancel tiket berangkat. Mengenai tiket ini, saya ada cerita menarik di postingan selanjutnya :D
Selesai membeli tiket 45 MYR untuk 2 orang Kelas Superior Malam (ADNS) sleeper train, kami menunggu di ruang tunggu persis di depan pintu masuk keberangkatan KTMB Senandung Sutera. Kereta akan berangkat dari JB Sentral pukul 23.35 dan sampai di KL Sentral pada pukul 06.50 pagi pada platform B.

Di JB Sentral ada loker penitipan, masuk gate 6 lurus terus setelah Starbucks ada belok kanan berjejer loker penitipan barang sehari 10-20 ringgit tergantung besar ukuran loker. Jika kamu ingin menitipkan loker di JB Sentral bisa meletakkan di sana.

Kami menunggu kereta Senandung Sutera sekitar 1 jam dengan asyik memperhatikan lalu lalang orang dan tingkah orang-orang sekitar yang sedang menunggu. JB Sentral memang cukup ramai karena stasiun perbatasan untuk ke berbagai kota bahkan lintas ke Singapura dan Thailand. Cukup banyak keluarga yang membawa banyak anggotanya dengan koper besar-besar menunggu di kursi tunggu. Waktu tidk terasa, hingga sudah pukul 23.30 dan kami pun masuk lewat gate B turun ke bawah platform 3 dan 4. Kami segera mencari koc/tempat M11 yang berbentuk kasur. Kebetulan saya memang sengaja memilih kasur bawah berseberangan, yakni 34 dan 36. Tidak menunggu lama, kereta pun berangkat.
Sampai jumpa di Kuala Lumpur :)

Spore - KL Trip Day 1 (Preparation)

Hello!!

Sebenarnya ini adalah perjalanan pertama kami traveling ke luar negeri dengan status baru sebagai suami istri. Emang sebelum nikah sudah pernah? Belum pernah juga sih :P

Berawal dari kelakuan calon istri alias saya sendiri, yang lagi iseng buka website maskapai favorit, www.airasia.com sekitar Agustus 2014. Dan voilaaa saya menemukan destinasi Jakarta-Singapura-Jakarta dengan harga tiket keberangkatan 99.000 IDR dan kepulangan 189.000 IDR. Dengan grasak grusuk mata berbinar lihat harga yang lumayan oke, saya langsung berinisiatif whatsapp calon suami saya untuk membeli tiket tersebut. Dan calon suami saya cuma pasrah :D

Well, saya berdua saat itu belum menentukan tanggal pernikahan, boro-boro deh, masih nunggu persetujuan dari bapak boleh nikah apa nggak :p Tapi kami hanya memperkirakan kemungkinan pertengahan Maret insya Allah kami sudah menikah, jadi tiket tersebut bisa jadi destinasi honeymoon kami. Dengan modal dengkul dan pedenya masya Allah, saya langsung pesan 2 tiket PP Jakarta-Singapura-Jakarta untuk tanggal 18 Maret 2015 - 22 Maret 2015. Nothing to lose. Traveler nekat emang begini sih, kalau nanti kami belum nikah bulan Maret yaa hangus sudah tiketnya. Makanya kami harus usaha Maret sudah menikah *motivasi *ngaco

Beriringan Bismillah dag dig dug akhirnya saya pesan tiket untuk perjalanan awal 2015 disponsori oleh Hasanah Card BNI Syariah dan Air Asia, can't wait Singapore!! Alhamdulillah yaaa memang sudah takdir kami menikah 15 Februari 2015, Jadi tiket yang saya beli tidak sia siaaaaaa, yatta!!

Perjalanan kami memang ke Singapura, tapi waktunya terlalu lama untuk eksplore Singapura selama 5 hari, terlebih kurs Dollar Singapura melejit gilaaaa mahalnya. Bisa kere mendadak saya kalo kelamaan di Singapura berdua suami. Akhirnya saya berinisiatif untuk membagi perjalanan ke negara tetangganya lagi yang lebih bersahabat hidupnya, yakni Malaysia. Kami berencana menyebrang ke Malaysia menggunakan kereta KTMB (Keretapi Tanah Melayu Berhad/ Malayan Railway) Malaysia. Tata cara pembelian tiket sudah saya posting di thread lain ya.

Segala persiapan pernikahan dan kehidupan awal pernikahan membuat waktu tidak terasa tiba-tiba sudah sampai tanggal 18 Maret 2015, saatnya refreshing bersama suami (baru).

Perjalanan kami dimulai dari rumah menuju Bandara Internasional Soekarno Hatta terminal 3, kami sampai pukul 13.00 siang menunggu take off pukul 14.30. Kami langsung menuju mesin self check in penerbangan Air Asia. Awalnya saya ingin check in penerbangan untuk berangkat dan pulang, tapi ternyata self check in sekarang hanya bisa untuk sekali terbang yaaa..baru tahu saya, soalnya biasanya bisa PP. Akhirnya saya hanya check in untuk berangkat deh..

Lepas itu, saya langsung menuju ke boarding room dan imigration untuk stempel keluar Indonesia di paspor kami. Seperti biasa suami saya emang sotoy luar biasa, udah saya bilangin ga boleh bawa minuman ke boarding room tapi kekeuh mau bawa. Alhasil sih ga jadi bawa, terus saya kasih lihat hasil sitaan minuman orang-orang yang berjejer di security system boarding room. Ngeyel yel. Suami saya cuma nyengir. Jangan lupa untuk shalat Dzuhur dan Ashar dengan menjamak di musholla boarding room Air Asia, dan tibalah panggilan keberangkatan pesawat kami. Sampai jumpa di Singapura :) -Noni Halimi
 
 

Bagaimana Cara Memesan Tiket KTMB Malaysia

Wisata Singapura ke Malaysia dengan Jalur Darat Kereta Api

Bermula dari akhir Agustus 2014 berburu tiket murah di maskapai Air Asia, dengan semangat empat lima saya cari destinasi Jakarta-Singapura-Jakarta untuk honeymoon saya dan calon suami. Setelah cari-cari pasangan tanggal murah berangkat dan pulang, maka didapatkan rencana liburan Singapura 18-22 Maret 2015 (dengan harap-harap cemas tanggal tersebut kami sudah menikah, kalau belom yah angus lah). Awalnya saya tidak masalah 5 hari wisata Singapura, toh saya dapat tiket murah dengan biaya berangkat 99.000 IDR dan pulang 189.000 IDR. Namun makin lama harga SGD (Singapore Dollar) makin menjadi dan melambung, sampai menyentuh harga 9800-an hampir 10.000 berasa USD jaman dulu. Kayaknya dua tahun lalu masih 8000. Kalau sampai 10.000 berasa juga biaya hidupnya. Berhubung puyeng ngitung biaya hidup dua orang di Singapura selama 5 hari, maka saya memutuskan (sepihak) alternatif wisata lain. Iya. Saya memilih nyebrang di Negara tetangga Singapura yang biaya hidupnya lebih bersahabat, yakni Malaysia.

Membuat itinerary Malaysia Singapura tidak memakan waktu lama, karena sebelumnya saya sudah pernah wisata ke dua negara tetangga tersebut. Namun perjalanan saya ke dua Negara tersebut bermacam-macam jalur. Saya pernah naik bus malam dari Malaysia ke Singapura, saya juga pernah ke Singapura dari Batam melalui jalur air pelabuhan Sekupang, atau ke Malaysia seperti biasa dengan jalur udara. Namun saya belum pernah menyeberang ke Malaysia menggunakan kereta api. Baca-baca di banyak sumber perjalanan dari Singapura ke Malaysia atau Malaysia ke Singapura bisa dilakukan dengan 3 jalur, yakni jalur udara dengan pesawat terbang, jalur darat dengan bus antar kota antar Negara, serta jalur darat dengan menggunakan kereta api.  Terus terang saya belum pernah mencoba menyeberang dari Singapura ke Malaysia dengan kereta api, maka liburan kali ini saatnya mencoba.

Apa itu KTMB?

Perjalanan dari Singapura ke Malaysia maupun sebaliknya bisa ditempuh dengan menggunakan kereta api Malaysia yang disebut KTMB (Keretaapi Tanah Melayu Berhad). KTMB atau disebut juga Malayan Railway merupakan pengendali kereta api utama di Semenanjung Malaysia. Kereta ini bermula dari jaman penjajahan Inggris yang digunakan untuk jalur pengangkutan timah. Hubungan jalan kereta di Semenanjung Malaysia yang dikendalikan oleh KTM, terdiri dari dua jalur utama dan beberapa jalur cabang. Jalur utama terdiri dari Jalur Pantai Barat dan Jalur Pantai Timur.

Jalur Pantai Barat mulai dari Padang Besar di Perbatasan Malaysia-Thailand di Perlis (yang terhubung dengan landasan Negara Thailand ke Singapura melalui Butterworth, Pulau Pinang dan Kuala Lumpur. Disebut jalur Pantai Barat karena ia melalui negeri-negeri pantai barat di Semenanjung Malaysia.  Jalur Pantai Timur dimulai percabangan rel dari Gemas di Negeri Sembilan dan Tumpat serta Rantau Panjang, yang semuanya berada di Negeri Kelantan. Sedangkan Jalur Cabang yakni Batu Caves-Sentul-Kuala Lumpur-Pelabuhan Klang.

Keretaapi Tanah Melayu Berhad atau KTMB inilah yang akan saya pergunakan untuk menyeberang dari Singapura ke Malaysia. Saya akan memilih kereta malam, agar perjalanan dilakukan pada malam hari saya bisa istirahat dan sampai di tempat tujuan pagi hari sehingga waktu liburan saya tidak terbuang percuma hanya untuk perjalanan dari Singapura ke Malaysia atau sebaliknya.

KTMB untuk keberangkatan malam hari atai night train milik Malaysia ini memiliki beberapa jenis kursi penumpang. Ada yang kursi duduk biasa selayaknya kereta api pada umumnya dengan dua kursi berjejer, namun ada pula jenis sleeper train atau kereta yang dilengkapi dengan kasur. Wait, what? Di dalam kereta ada kasurnya, jadi kita bisa tidur di dalam kereta? Hehehe, Seru bukan? Saya langsung nelen ludah baca review dari banyak blog, sepertinya seru dan menantang! Patut dicoba :D

Pesan Tiket dari JB Sentral Lebih Irit

Perjalanan saya akan bermula dari Singapura menuju Malaysia. Jika melihat dari stasiun kereta api pada umumnya maka seharusnya saya naik dari Singapura melalui stasiun Woodsland dan turun di KL Sentral yakni stasiun Malaysia. Namun saya tidak memilih rute tersebut, tapi saya memilih jalur Johor Baru atau terminal JB Sentral Why oh why? Hal ini tentu karena urusan biaya yang harus dikeluarkan *teteepp

Johor Baru merupakan daerah terluar Malaysia yang berbatasan langsung dengan Singapura. Jika kita menyebrang dari Singapura ke Malaysia melalui Johor Baru, itu artinya kita sudah naik kereta di Malaysia (Johor Baru) dan turun di Malaysia (Kuala Lumpur). Lah bagaimana caranya dari Singapura ke Johor Baru? Caranya sangat mudah, dari Singapura kamu bisa naik bus Causewaylink dari terminal Queen Street harganya 3.3 SGD sampai Woodsland Checkpoint kemudian lanjut naik Causewaylink selanjutnya hingga turun di Johor Baru Checkpoint atau JB Sentral. Memang agak repot myambung-nyambung sedikit tapi beda lhoo (harganya)

Jadi ada perbedaan harga tiket kereta apabila kita beli di JB Sentral daripada beli Woodsland. Beli tiket berangkat dari Woodsland lebih mahal ketimbang JB Sentral, padahal harga tiketnya sama-sama 45. Ternyata yang bikin beda adalah faktor pengali kursnya. Jika kamu naik dari stasiun Woodsland Singapura maka biaya yang dikeluarkan adalah 45 SGD x 9800 IDR atau sekitar 441.000 IDR, sedangkan jika kita membeli dengan keberangkatan JB Sentral atau Johor Baru, maka harga tiket yang dikeluarkan 45 RM x 3800 IDR atau sekitar 171.000 IDR. Bedanya 270.000 IDR per tiket. Lumayan kan?

Bagaimana Cara Memesan Tiket Kereta Api Malaysia

Setelah menentukan itinerary dan waktu keberangkatan, maka saatnya untuk memesan tiket kereta api KTMB. Saya bisa saja memesan tiket di kaunter penjualan tiket di Singapura atau Malaysia, namun khawatir tiket sudah terjual habis dan saya tidak bisa mendapatkan tiket untuk menyeberang ke Singapura. Daripada itinerary saya hancur berantakan, maka lebih baik saya pesan online di website KTMB. Cara pesan online lebih saya suka daripada pesan langsung di kaunter karena kita bisa mengetahui ketersediaan kursi dan alternatif cara lain apabila tiket habis. Bagaimana cara memesan tiket KTMB secara online? Caranya mudah, buka saja situs Keretapi Tanah Melayu Berhad di laman http://www.ktmb.com.my/

Nanti akan muncul halaman seperti ini


Saya sarankan jika belum memiliki user akun agar daftar terlebih dahulu, caranya cukup mudah, hanya perlu mengisi nama lengkap, user name yang diinginkan, password yang diinginkan, alamat email, nomor telepon dan HP. Setelah mendaftar, segera konfirmasi di email kamu dan sign in untuk masuk.

Mengapa disarankan untuk daftar sebagai pengguna? JIka nanti transaksi sudah berhasil akan lbih mudah mencari tiket yang kita pesan karena sudah masuk di history pemesanan. Dan jika ada gagal koneksi atau gagal transaksi maka lebih mudah untuk diproses. Intinya, ikuti kata saya aja deh biar cepet (maksa :D)



Setelah sign in akan muncul tampilan seperti ini, klik Ticket Reservation. Silakan isi bagian Onward dan Return. Pada bagian Onward silahkan isi Origin dengan tempat keberangkatan dan Destination dengan tempat tujuan kami, serta isi tanggal perjalanan. Misalnya berangkat dari JB Sentral dan tujuan KL Sentral pada tanggal 06 Juni 2015.


Input juga jenis kereta, untuk kereta malam pilihlah Senandung Sutera, dan jenis gerbong pilih yang ADNS – Superior Night Class dengan harga kasur tingkat atas untuk anak 27 RM, kasur bawah anak 33 RM, kasur dewasa tingkat atas seharga 39 RM dan kasur dewasa di bawah 45 RM. Setelah selesai tekan tombol Add. Maka akan muncul pop up untuk pengisian data diri penumpang yang terdiri dari : Nama penumpang, IC atau nomor paspor, dewasa atau anak-anak, pria atau wanita, serta pilihan nomor kursi yang dikehendaki.


Dengan klik nomor kursi akan muncul otomatis ketersediaan kursi atau sisa kursi yang bisa dipesan. Perhatikan warna kursi, warna merah untuk kursi yang sudah dipesan, warna abu-abu untuk kursi yang sementara bisa dipesan, namun saya tidak menyarankan untuk memilih ini, dan warna biru yang menandakan kursi tersebut kosong dan dapat dipesan. Klik label pilihan gerbong missal M6 atau M7. Nah, pilihlah kursi tersebut. Di sana juga ada keterangan Upper (Atas) Lower (Bawah) sehingga kita tidak bingung kode kasur yang akan dipilih. Kasur atas maupun bawah sebenarnya tidak masalah, namun saya lebih memilih kasur bawah supaya mudah meletakan koper dan barang bawaan, tidak perlu angkut ke atas. Pilih juga untuk kursi kepulangan. Lanjutkan dengan menekan tombol continue, dan akan muncul seperti ini


Pastikan data yang tercantum benar dan pilihan tiket sudah sesuai. Setelah itu dilanjutkan dengan menu pembayaran yakni pilihan pembayaran, saya memilih dengan menggunakan kartu kredit andalan saya yang menemani saya di pelbagai reservasi online liburan yakni Hasanah Card BNI Syariah. Setelah mengisi data pembayaran, maka akan ada keterangan transaksi sudah berhasil dan akan muncul tombol untuk print e-tiket. Silakan print bukti pemesanan tiket kamu tersebut dan jangan lupa untuk dibawa pada saat masuk ke dalam kereta untuk pemeriksaan.

Bagaimana? Simpel bukan?
Semoga bermanfaat.

Salam,
Noni Halimi

Friday, July 10, 2015

Koper Merah Kesayangan

Koper kabin yang biasa saya bawa kemana-mana rusak tempo hari yang lalu. Praktis saya bingung mau pakai koper apa untuk traveling ke Jepang bulan Oktober mendatang. Bongkar-bongkar koper di rumah yang ada ukuran besar dan ukuran kecil, tidak ada ukuran medium untuk kabin. Saya tidak mau membawa koper besar, karena saya tidak biasa memesan bagasi untuk keberangkatan. Biasaaaa...mengurangi budget tiket. Kalau saya bawa koper ukuran small atau kecil, tentu tidak akan memuat banyak barang, sedangkan perjalanan saya ke Jepang merupakan perjalanan terlama sepanjang yang pernah saya lakukan. Saya akan menghabiskan waktu 8 hari.

Puter-puter otak, koper kecil kurang muatan, koper besar tidak memungkinkan, sedangkan koper medium tidak punya. Jalan keluar satu-satunya adalah dengan membeli. Sungguh, ini jalan keluar terakhir alias last choice, ngeluarin duit untuk beli koper di saat-saat kere adalah keputusan yang berat *lebay. Tapi memang saya harus punya koper baru, karena koper lama saya rusak. Okelah, berarti memang butuh ya, bukan sekedar ingin (ingat prinsip ekonomi).

Pencarian koper saya berasa milih jodoh, emang bener cocok-cocokan. Nyari koper yang sesuai selera, bentuknya simpel, bahannya lumayan awet, dan harga terjangkau tentu bukan perkara mudah. Yang mahal banyak. Maka saya mulai hunting koper tiap menjelajah ke Mall. Biasanya di Margocity atau Pejaten Village suka ada bazar diskon koper murah. Diskon yang diberikan mulai 20%, 50% sampai dengan 70%. Tapi yaaaaa harga setelah potongan tetap mahal untuk saya sih. Kebetulan di dua tempat tersebut tidak ada yang menarik hati. Sekalinya ada yang menarik, tapi warnanya kurang oke.

Saya mencari koper dengan bahan kain sintetis, beratnya ringan, muatannya cukup banyak dengan ukuran 21 inchi medium size untuk ukuran koper kabin, serta harganya terjangkau. Muter-muter di Matahari Detos, eh nemu yang sesuai sama selera. Harganya sih 1.200.000, tapi diskon 50% jadi 600.000 IDR. Lumayan lah, rata-rata harga koper memang segitu. Kalau saya beli di Pasar Pagi Mangga Dua untuk ukuran koper kabin bisa kita dapatkan dari harga mulai 300.000 IDR, tapi dengan bahan dan kualitas yang kurang baik, agak sayang kalau dibeli tapi tidak awet ya. Berapa menit saya bolak balik memeriksa koper tersebut. Bentuknya simpel, bahannya oke, warna kesukaan saya, roda 360 derajat, ringan dan harganya cukup pas di kantong saya. Maka dengan mengucap Bismillah, saya jatuhkan pilihannya saya pada koper tersebut.

Koper ini yang akan menemani perjalanan saya selanjutnya :D
Say Hello to My New Friend :)



Brand : Polo
Store : Matahari Departemen Store
Price : 600.000 IDR (Sale 50%)
Color : Merah
Size : Cabin, 21 inch
Recommendation : 8 of 10