Monday, April 28, 2014

Revisi Nama Penumpang Air Asia

Kamu pernah mengalami kesalahan penulisan nama penumpang di pemesanan tiket pesawat Air Asia di website? Berikut saya share pengalaman saya mengenai kesalahan penulisan nama penumpang di Air Asia.

Jadi awalnya saya memesan tiket melalui HP dan terdapat fasilitas autofill yakni saat mengetikan huruf langsung otomatis muncul kata yang biasanya diketik. Saya memesan tiket untuk penerbangan Jakarta – Tokyo Haneda dan kepulangan Osaka – Jakarta. Namun karena memesan via HP, saya salah menuliskan nama penumpang kedua yakni travelmate saya, Febiana Malini. Saya malah mengisi nama belakangnya yang seharusnya Malini menjadi Halimi (nama belakang saya) Walaahh. Memang cukup mirip sih Halimi dan Malini, hanya beda dua huruf saja. Ya human error saking lagi nggak konsen hunting tiket dalam keadaan nggak enak badan :P

Akhirnya pada saat tiket sudah dikonfirmasi pembayaran, barulah saya sadar saya salah mengisikan nama belakang penumpang. Kemudian esok harinya saya langsung menelepon ke call center Air Asia di 021-29270999 dan menanyakan mengenai perubahan atau revisi nama penumpang. Saya diharuskan untuk mengirimkan email ke indonesia-support@airasia.com yang berisikan permohonan penggantian nama belakang penumpang dari Halimi menjadi Malini beserta scan KTP dan Paspor yang bersangkutan. Setelah email dikirim, saya harus mengkonfirmasi kembali ke call center 4 jam setelahnya. Saya juga kurang paham mengapa harus menunggu 4 jam. 

Akhirnya setelah waktu yang ditentukan, saya menelepon kembali staff Air Asia dan memberitahu soal pengiriman email. Pihak Air Asia kemudian mencari data yang saya kirimkan dan membuat laporan perubahan nama penumpang, Awalnya saya hanya ingin mengubah nama belakang Halimi menjadi Malini. Namun ternyata di paspor rekan saya itu tertulis 3 suku kata, yakni Febiana Malini Marjoni (nama belakang adalah nama Ayahnya). Saat kami ke Kuala Lumpur sih tidak masalah tidak ada nama Marjoni, namun kata mas-mas call center Air Asia, akan lebih aman jika disesuaikan dengan pasport. Maka petugas tsb pun membuat laporan perubahan nama menjadi Malini Marjoni sesuai dengan KTP.

Petugas tsb juga mengatakan bahwa prosesnya jika ingin lebih cepat lagi, bisa melalui e-form yang ada di website Air Asia, dengan menceritakan keluhan dan permasalahan serta attachment dokumen yang dibutuhkan. Katanya lebih cepat. Itinerary baru yang sudah direvisi pun dikirman ke email.
Jika ada yang salah melakukan pemesanan tiket di Air Asia untuk nama penumpang, jangan khawatir, segera telepon call center dan isi e-form ya :) Semoga bermanfaat. – Noni Halimi 

Wisata Sukabumi (One day trip) dengan Kereta Pangrango


Sudah sebulan yang lalu saya ingin sekali merasakan sensasi kereta wisata Pangrango, namun belum juga ada waktu. Namun 2 pekan lalu, saya makin ingin untuk mencoba, terlebih karena gagalnya wisata pantai yang saya rencanakan dengan travelmate saya. Akhirnya saya mengajak pacar saya (Putro) untuk mencoba kereta Pangrango dengan jurusan Bogor Paledang – Sukabumi. Tiket bisa dipesan melalui website Kereta api Indonesia, lebih memudahkan untuk cek ketersediaan kursi dan pembayarannya pun mudah, bisa melalui kartu kredit, debit maupun ATM. Sekarang pun pembelian tiket kereta api bisa dilayani di Indomaret terdekat, mudah kan?

Kami pun memesan tiket perjalanan untuk hari Minggu 27 April 2014. Kami pesan untuk berangkat dan pulang sekaligus di hari yang sama. Kami berangkat dari stasiun Bogor Paledang pukul 07.55 dan pulang dari Stasiun Sukabumi pukul 15.01. Ini jadwal paling pas untuk kamu yang ingin melakukan perjalanan one day trip seperti kami, cukup mengesankan walaupun singkat. Harga tiket kelas eksekutif adalah Rp. 50.000 sedangkan untuk kelas ekonomi Rp. 20.000. Untuk pembayaran melalui kartu kredit maupun melalui indomaret ada biaya administrasi Rp. 7000 – Rp. 10.000 per booking. 

Awalnya kami ingin berangkat hari Minggu tanggal 27 April 2014, namun berhubung Putro pikunnya kebangetan, dia lupa kalau hari Minggu ada kondangan, maka kami pun berencana untuk mengubah jadwal keberangkatan menjadi hari Sabtu tanggal 26 april 2014.  Memang tiket bisa diubah jadwal keberangkatannya dengan mendatangi Stasiun yang bisa mengurus masalah ini (contohnya Stasiun Senen atau Bogor). Jadi print tiketnya, datang ke Stasiun, tukar tiketnya dan minta untuk ubah jadwal. Namun berhubung kami tidak ada waktu (dan malas) untuk ke Stasiun, maka diputuskan untuk membeli tiket lagi di jadwal Sabtu 26 April 2014, dan tiket yang hari Minggu belum dibatalkan, rencananya kami akan membatalkan pada hari Sabtu saat perjalanan kami.

Proses pembatalan tiket sangat mudah, tapi memang dipotong 25% karena biaya pinalti. Kami membeli tiket Rp. 100.000 x 2 = Rp. Rp. 200.000 untuk booking berangkat dan pulang, maka yang dikembalikan adalah Rp. 74.000 x 2 = Rp. 148.000. Kami melakukan pembatalan tiket di Stasiun Sukabumi pas hari Sabtu perjalanan kami. Hanya dengan memberikan tiket yang sudah kami print, identitas KTP asli, dan isi formulir pembatalan. Pengembalian uang akan dilakukan secara tunai atau transfer. Untuk tunai prosesnya 1 bulan bisa diambil di Stasiun keberangkatan sedangkan untuk transfer ke Bank prosesnya 2-3 bulan. Kami memilih transfer, dan memasukan nama pemilik rekening, nomor rekening dan bank tujuan. Cukup simpel. Mbak-mbak petugas loket langsung print bukti pembatalan tiket dan memberikan kepada kami. Tiket bisa dibatalkan maksimum 1 jam sebelum keberangkatan. Jadi usahakan jika ingin dibatalkan, maka segera batalkan. Apabila pembatalan dilakukan setelah jadwal keberangkatan, maka dianggap hangus.

Adzan Shubuh berkumandang namun mata saya belum juga usai rasa kantuk. Maklum semalam ada amanah day di kantor yang menyebabkan saya pulang larut. Pun demikian dengan Putro, ada acara bersama rekan-rekannya sehingga pulang larut. Untung saja kami tidak ada yang kesiangan hehe. Pukul 05.40 ia menjemput saya dan langsung bergegas ke Stasiun Pondok Cina dengan menitipkan motornya. Ternyata pagi itu jadwal kereta ke Bogor sangat jarang. Kami menunggu sampai pukul 06.40 baru ada kereta menuju Bogor. Kami pun naik dan sampai di Stasiun Bogor pukul 07.10.

Letak Stasiun Bogor Paledang bukan berbarengan dengan Stasiun Bogor yang biasa terdapat lalu lintas Commuter Line Jabodetabek. Letak Stasiun Paledang berada di belakang Stasiun Bogor. Untuk menuju ke sana cukup mudah, kamu hanya perlu keluar dari Stasiun Bogor, lalu berjalan ke kanan, melewati tukang jualan emperan. Kemudian kamu berjalan mendekati rel, dan susuri rel tersebut ke arah menjauhi Stasiun Bogor. Di sana ada Stasiun dadakan, namanya Bogor Paledang. Nah keretanya akan berhenti di sana. Mengapa saya bilang dadakan? Karena bentuknya lebih mirip halte daripada Stasiun, kecil dan tidak terlihat dari luar. 

Sampai di sana banyak yang sudah mengantri untuk mencetak tiket, ada pula yang baru akan membeli tiket. Di sana tidak ada mesin pencetak tiket self printing, sehingga harus dibantu di loket oleh petugas. Antrian mengular dan matahari sudah mulai menyengat. Ada yang sudah antri panjang untuk membeli tiket yang berangkat jam 07.55 saat itu, namun harus berujung kecewa karena tiket sudah terjual habis. Ya, memang kereta jurusan Bogor Paledang – Sukabumi yang baru diluncurkan kembali pada November 2013 silam menarik minat banyak kalangan dan animo masyarakat akan kereta wisata ini sangat tinggi. Liburan murah ke luar kota, istirahat sejenak dari hiruk pikuk Jakarta dan menikmati pemandangan Sukabumi, udara segar dan suasana kotanya. Jika ingin memesan tiket, maka pesanlah seminggu atau dua minggu sebelum jadwal perjalanan. Kamu bisa cek ketersediaan tiket dengan reserve online tiket di www.kereta-api.co.id 

Tidak lama kami menunggu, kereta pun datang. Riuh penumpang berebut ingin segera masuk kereta. Kami pun tak sabar ingin menaiki kereta, namun berhubung kami membeli kelas eksekutif yang sudah ada nomor kursinya, maka kami bisa santai-santai berjalan :D Kelas Eksekutif 2 kursi nomor 7 C-D, tepat di bagian tengah gerbong. Kami sempat berpikir, sisi mana yang kena sinar terik matahari ya? Kami ingin pilih kursi yang tidak ada sorotan matahari. Ternyata sisi kursi kami tepat kena sorotan matahari hihihi. Untuk kamu yang ingin pesan nomor kursi, pilihlah Eksekutif 2 nomor A-B yaaaa.. Tapi tidak apa-apa, panas matahari tidak akan menggangu liburan kami. Kereta berangkat ontime pukul 07.55. Waaahh.


Perjalanan ditempuh dalam waktu 2 jam, dan tepat pukul 10.00 kami sudah sampai di Stasiun Sukabumi. Sampai di sana kami langsung melakukan pembatalan tiket yang sudah kami beli untuk hari Minggu (esok hari). Penjelasan mengenai pembatalan tiket sudah dijelaskan di awal yaaa. Keluar dari Stasiun Sukabumi rupanya persis di depan pasar tumpah dan pertigaan jalan membuat angkot berjajar macet semerawut. Kami belum tahu akan menaiki angkot apa untuk ke bubur bunut, maka kami memutuskan untuk berjalan kaki ke atas. Luruuuuuuss saja sampai ada pertigaan lampu merah. Di sana agaknya cukup lengang dari kesemerawutan angkot yang macet. Sampai sana banyak sekali anak sekolah yang baru pulang dengan baju seragam pramuka, baju olah raga, batik SMA dan lain-lain. Sangat ramai. Tak lupa juga deretan jajanan khas anak sekolah yang unik dan muraaaaahh yang patut untuk di coba, salah satunya adalah Bapeda. Harganya hanya Rp. 1000 per tusuk. Bapeda terbuat dari telur puyuh yang diberi adonan tepung maizenna lalu digulung di tusukan sate. Isinya bubuk pedas dan bisa dimakan dengan saus sambal cair. Ada pula jajanan lain seperti d’crepes, martabak, es jelly, ceker seblak dan sebagainya yang cukup membuat ileran :D

Jadwal kami selanjutnya adalah mencoba Bubur Ayam Bunut yang letaknya di Jalan Siliwangi. Sebenarnya bisa ditempuh dengan angkot kuning, dan berjalan sedikit ke arah atas saat angkotnya belok kiri ke arah RS. Syamsudin. Lokasi Bubur Bunut Siliwangi ini memang tidak jauh dari RS Syamsudin. Atau bisa juga menaiki angkot merah nomor 10 dan turun persis di depan Bubur Bunut Siliwangi. Kami ke sana dengan berjalan kaki, maklum temanya kan jalan-jalan, bukan angkot-angkot :D Ini dia Pusat Bubur Ayam Bunut Siliwangi. Suasananya cukup nyaman, ada air mancur dan kursi lesehan juga.

Berhubung sudah agak kesiangan, maka yang tersedia hanya Bubur Ayam Bunut biasa. Kami kehabisan jeroan, ati ampela dan usus yang biasanya disantap bersama dengan bubur. Harusnya sih dari pagi hari, namun apa daya memang jam 10.30 kami baru sampai sana. Harga bubur ayam bunut biasa untuk ukuran 1 porsi adalah Rp. 13.000 dan ½ porsi seharga Rp.10.000. Kami memesan dengan ukuran 1 porsi dan ternyata cukup banyak dan besar mangkoknya. Tekstur bubur bunut ini seperti bubur Manado yang biasa Ibu saya buat di rumah, agak kasar dan masih terlihat butiran nasinya. Soal rasa bubur bunut ini cukup gurih dan enak lho! Patut untuk dicoba kalau ada perjalanan ke sini.

Usai makan Bubur Bunut, kami melepas lelah dan sholat Dzuhur di mushola tempat makan tersebut. Kemudian perjalanan kam lanjutkan untuk membeli Mochi Lampion di Jl. Bhayangkara Gg. Kaswari 2. Seharusnya sih bisa menaiki Angkot Kuning menuju Jl. Bhayangkara, namun kami lagi-lagi memutuskan untuk menikmati perjalanan dengan berjalan kaki sekitar 1 km dari lokasi Bubur Bunut Siliwangi. Tak lupa Putro selalu mengeluarkan GPS dari HP-nya hahaha. Nggak bakal nyasar deh!

Menyusuri Jl. Bhayangkara ternyata banyak plang penjual Mochi dengan iming-iming Mochi Asli dan sebagainya. Karena saya dari awal ingin membeli Cap Lampion, maka iklan tersebut hanya angin lalu saja. Tak lama kemudian kami menemukan gang menuju Mochi Lampion Kaswari, ada gang berwarna plang merah. Rasa mochi yang ditawarkan beragam ada rasa kacang, wijen, cokelat, durian, keju kacang, blueberry, dan lain-lain. Rasa yang rekomended buat saya itu rasa durian. Slurp. Isi 1 kotak mochi hanya 15 biji dan untuk mochi kacang berisi 50 biji. Harganya beraneka ragam dari Rp. 25.000 sampai Rp. 30.000 per kotak.


Usai membeli mochi, kami kemudian pulang menuju Stasiun Sukabumi dan menunggu kedatangan kereta kami. Hujan deras mengguyur Sukabumi, udara makin sejuk. Sayangnya kereta kami datang terlambat, seharusnya pukul 15.01 sudah berangkat namun ini pukul 16.00 baru berangkat. Yaa sudahlah yang penting perjalanan kami happy-happy aja, saatnya menikmati perjalanan pulang dengan suasana sunset romantis :D *ohya kami lupa men-jamak shalat, maka kami pun sholat di dalam kereta dengan tayamum, karena  perkiraan sampai Bogor pasti sudah Maghrib :P 

Demikian cerita kami hari ini, untuk kamu yang berencana ke Sukabumi PP, yuk silahkan dicoba. Sebenarnya masih ada beberapa area yang bisa dikunjungi seperti Resort Selabintana yakni hotel dengan fasilitas dan suasana yang cukup asri untuk berjalan-jalan, kemudian ada Mesjid Raya Sukabumi, dan apabila masih punya banyak waktu bisa wisata ke pabrik keju dan pabrik pembuatan pisau di Cisaat. Semoga bermanfaat ya :D – Noni Halimi

Saturday, April 19, 2014

Itinerary Traveling to Bangkok

Hi guys, this is some suggestion for you, if you want travel to Bangkok, hope it will help you. Actually this is my itinerary :”D

Itinerary Traveling Bangkok 4D3N

22-25 February 2014
Let’s Go Bangkok!
Flight 220214
CGK-BKK
15.40 – 19.25
Flight 250214
BKK-CGK
11.25 – 14.55

Hello Bangkok!
Day 1 (22 February 2014)
15.40 : Pray Ashr and take off
19.30 : Arrived at Suvarnabhumi Int Airport
20.00 : Waiting for my friend, meeting point at Shuttle Bus from Don Mueang Airport
22.00 : Arrived at Phay Thai by MRT
22.30 : Taxi PhayThai St. to Samsen Road
23.00 : Check in at Amazing House
            Pray Isya, Maghrb. Get some rest

Day 2 (23 February 2014)
05.00 : Pray Fajr and get dressed
            Having breakfast
07.00 : Exploring Chatuchak Market
09.00 : Go to Siam Station
10.30 : Go to Siam Square
            Exploring Madame Tussauds
13.00 : Lunch
13.30 : Go to National Stadium Station
14.00 : Lets go Shopping at MBK
16.00 : Going back to Samsen Road
            Buy Dinner
17.30 : Get some rest, take a bath, dinner
18.30 : Pray Maghrb and Isya
19.00 : Walking at Chakrabongse Road
20.00 : Visit Pray Chakrabongse Mosque
            Buy dinner atvChakrabongse Road
21.30 : Going back to hostel and sleep

Day 3 (24 February 2014)
05.00 : Pray Fajr and get dressed
            Having breakfast
07.00 : Get ready to Grand Palace
08.00 : Exploring Grand Palace
10.00 : Enjoying Wat Arun
11.00 : Enjoying Wat Pho
13.00 : Vimanek Mansion, Dusit Place
            Having Lunch
14.00 : Exploring Dusit
16.00 : Go to Khao San Road
            Pray Dzuhr, Ashr
            Get ready for Asiatique
17.00 : Exploring Asiatique
19.00 : Back to Samsen Road by bus
20.15 : Arrived at Hostel
            Pray Isya and Maghrb
            Take a bath, dinner and sleep
            Hard Packing

Day 4 (25 February 2014)
05.00 : Pray Fajr and get dressed
07.00 : Check out hostel, go to Phay Thai
08.00 : Phay Thai to Suvarnabhumi Intl Airport
09.15 : Arrived at Suvarnabhumi
            Having breakfast
11.25 : Take off

Bye Bangkok and Hello Again Jakarta!
*Time is based on Bangkok area which is there’s no different time between Bangkok and Jakarta.

Tanpa Lelah Bersedekah

Sedekahlah untuk sesama,
Karena itulah harta terbaikmu
Karena itulah harta abadimu.
Ketika  kamu memberi rezeki kepada orang lain dari arah yang tidak mereka sangka-sangka..
Maka yakinlah,
Kamu pun akan Allah berikan rezeki dari arah yang tidak  disangka-sangka
Berikanlah..
Maka biarkanlah Allah yang menggantinya
Jangan khawatir berapa pun yang kamu berikan. Jangan khawatir apa pun yang kamu berikan
Jika hanya dengan senyuman sudah bernilai sedekah,
Mengapa tidak engkau berikan yang lebih membawa berkah?
Teruslah berbagi,
Maka kamu akan dikaruniai rezeki
Jangan lelah untuk bersedekah,
Hartamu akan semakin berlimpah
Kehidupanmu akan semakin berkah
Dan akhiratmu tak membuat engkau resah
-Noni Halimi

Sibuk

Rutinitas dunia sering kali menghabiskan waktu.
Sibuk menyiapkan bekal,
Sibuk mengurus suami dan anak-anak,
Sibuk urusan rumah tangga,
Sibuk urusan kantor,
Sibuk dengan kemacetan,
Sibuk mengejar target
Sibuk mencari nasabah,
Sibuk membuat laporan dan advis
Sibuk meeting dengan clients
Sibuk...
Sesibuk itukah dirimu hingga tiada waktu untuk mengingat Tuhanmu?
Maka pantaskah kita untuk berkata,
“Maaf Tuhan, kami sedang sibuk.”?
-Noni Halimi


Setiap Kesulitan Selalu Ada Kemudahan

Merasa lelah dengan kesulitan dan cobaan yang dihadapi?
Ingatlah..

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa
(dari kejahatan) yang dikerjakannya...” (QS. Al- Baqarah : 286)

Jangan khawatir,
Allah memberi jalan keluar di setiap persoalan,
Jawaban di setiap permohonan,
Dan kemudahan di setiap kesulitan
Kesulitan yang justru membuatmu dekat dengan Allah,
hakikatnya adalah anugerah
sedangkan kesenangan yang justru membuatmu jauh dari Allah,
hakikatnya adalah musibah.
-Noni Halimi


Sebuah Renungan

Jangan menyesali segala yang sudah terjadi
Semuanya sudah terukur dengan pasti
Tuhan tahu engkau mampu
Maka Dia berikan cobaan itu kepadamu
Tuhan tidak  menciptakan segalanya sia-sia
Yakinlah di balik sebuah musibah pasti ada hikmah
Maka bersabarlah kawan, dan kuatkanlah kesabaranmu.
Percayalah, Tuhan ingin berikan hati yang lebih kuat
Mata yang lebih banyak melihat kebaikan
Tangan yang lebih sering menolong sesama
Telinga yang lebih mudah mendengar nasihat
Dan pikiran yang jauh lebih banyak berprasangka baik.
Belajar ikhlas
Berdamailah dengan dirimu sendiri
Maafkanlah orang-orang yang pernah menorehkan luka kepadamu
Maafkanlah..
Pahamilah mereka juga manusia yang bisa berbuat salah
Lihatlah ke atas untuk memacu semangat
Lihatlah ke bawah untuk mensyukuri nikmat
Hey, banyak yang ingin seperti dirimu.
Maka bersyukurlah
Jika engkau tertawa, dunia ikut tertawa bersamamu
Jika engkau menangis, maka engkau akan menangis seorang diri
Hentikan tangismu.
Engkau pantas bahagia.
Maka berbahagialah kawan :)
-Noni Halimi

Prasangka Buruk

Umar bin Khattab pernah berkata :
“Janganlah engkau berprasangka terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu yang mukmin kecuali persangkaan yang baik”
“Hati-hatilah kalian terhadap perkataan yang sekalipun benar kalian tidak diberi pahala, namun apabila salah kalian berdosa. Perkataan tersebut adalah berprasangka buruk terhadap saudaramu.”

Jika kamu berjumpa dengan orang yang lebih muda,
Berprasangka baiklah bahwa ia belum banyak dosa seperti kita
Jika kamu berjumpa dengan orang yang lebih tua,
Berprasangka baiklah bahwa ia lebih banyak beramal sholeh di dunia
Jika kamu berjumpa dengan orang kaya,
Berprasangka baiklah bahwa sedekahnya lebih banyak dari kita
Jika kamu berjumpa dengan orang alim,
Berprasangka baiklah bahwa ia lebih banyak mengajak kebaikan
Jika kamu berjumpa dengan orang yang pernah bermaksiat,
Berprasangka baiklah bahwa ia sudah bertaubat.
Penuhi hati dan pikiran kita dengan prasangka yang baik
Karena seburuk-buruknya prasangka adalah berprasangka yang buruk kepada orang baik.

-Noni Halimi
#SelfReminder #SebuahRenungan

Itinerary Traveling to Kuala Lumpur

Hi guys, this is some suggestion for you, if you want travel to Kuala Lumpur, hope it will help you. Actually this is my itinerary :”D

Itinerary Traveling Kuala Lumpur 4D3N
24-27 January 2014
Let’s Go Kuala Lumpur!
Flight 240114
CGK-KUL
13.15 – 16.15
Flight 270114
KUL-CGK
14.55 – 16.00

Hello Kuala Lumpur!
Day 1 (Friday, 24 January 2014)
13.15 : Pray Dzhur and Ashr,Take Off
16.45 : Get ready to KL Sentral
18.30 : Arrived at KL sentral
           Buy Genting Bus and Cable Car
19.00 : Go to Hostel at Pasar Seni by LRT 
19.30 : Check in hostel
           Pray Maghrb and Isya
20.00 : Exploring China Town, Petaling Street and Around Central Market
22.00 : Go back to hostel, get some rest.

Day 2 (Saturday, 25 January 2014)
05.00 : Pray Fajr and get dressed
06.30 : Go to LRT Pasar Seni – KL Sentral. Take Bus Genting Highland at KL Sentral Basement
07.30 : Driving the road to Genting High
09.00 : Arrive at Genting Highland Stesen, go upstairs and take Cable Car
09.30 : Exploring Genting Highland Indoor Theme Park and around
11.15 : Take Cable Car again
11.30 : Waiting for Bus to Gombak
12.30 : Arrived at Gombak, catch taxi
13.15 : Exploring Batu Caves
14.15 : Go to Batu Caves KTM
15.30 : Ready to Mes Sultan Salahuddin
16.30 : Enjoying Mesjid Sultan Salahuddin, Pray Ashr and Dzuhr
18.30 : Get the bus to I-City at Seksyen 2
19.30 : Enjoying I-City
21.00 : Dinner at I-City
22.30 : Going back to Hostel
23.00 : KTM to KL Sentral - Pasar Seni
00.00 : Walking night around Dataran Merdeka and Central Market
00.30 : Going back to hostel 
           Pray Isya and Maghrb, take a rest.

Day 3 (Sunday, 26 January 2014)
05.00 : Pray Fajr, get dressed
08.00 : breakfast at Yusoof and Zakhir
09.00 : Walking tour at Dataran Merdeka, KL City Gallery, KL Discover City
           And around Mesjid Samad
10.00 : Get ready to Putrajaya Terminal
11.00 : Arrived at Putrajaya Terminal
11.30 : Arrived at Komplek ABC
12.00 : Enjoying Mesjid Putra
           Pray Dzuhr and Ashr
13.00 : Go to Putrajaya Terminal to take KLIA Transit – Hang Tuah
Transit at Hang Tuah and take Monorail Bukit Bintang
14.30 : Shopping at Sungei Wang Mall
15.30 : Walking at Bukit Bintang Street
16.30 : Go to KLCC Twin Tower
17.00 : Exploring Suriah Mall
18.00 : Enjoying KLCC Twin Tower
20.00 : Go back to Hostel by MRT KLCC
21.00 : Arrived at Hostel
           Pray Isya and Maghrb, get some rest.
           Soft Packing

Day 4 (27 January 2014)
05.00 : Pray Fajr
           Get dressed, having breakfast
08.00 : Shopping at Kesturi Walk
09.00 : Shopping at Central Market and Petaling Street
10.00 : Back to hostel. Hard packing.
11.00 : Check out hostel
           Go to KL Sentral take airbus to LCCT
13.00 : Check in Air Asia
14.55 : Take Off

Good Bye Kuala Lumpur and Hello Again Jakarta! :)
*time is based on Kuala Lumpur area, +1 hour from Jakarta.
 

Beda

Jangan membandingkan diri kita dengan orang lain,
jika hanya akan membuatmu pesimis dan rendah diri.
Kebahagiaan itu hadir ketika kita percaya diri dan yakin akan potensi diri
Percayalah, masing-masing kita beda cita, beda impian, beda harapan,
beda jalan, beda kesempatan, beda kelebihan dan beda kekurangan.
Jangan iri,
Masing-masing kita sudah memiliki takdir dan jalan cerita
yang sudah Tuhan persiapkan untuk kita sendiri
Keep Smiling :D
- Noni Halimi

Tuesday, April 15, 2014

Hadits Tentang Doa Yang Buruk Kepada Orang Lain

Imam Abu Daud meriwayatkan dari hadits Abu Darda RA bahwasannya Rasulullah bersabda :

“Apabila seorang hamba melaknat sesuatu maka laknat tersebut naik ke langit, lalu tertutuplah pintu-pintu langit. Kemudian laknat itu turun ke bumi lalu ia mengambil ke kanan dan ke kiri. Apabila ia tidak mendapatkan kelapangan, maka ia kembali kepada orang yang dilaknat jika memang berhak mendapatkan laknat dan jika tidak, ia kembali kepada orang yang mengucapkannya.”

Berhati-hatilah dlm berdoa. Jangan mendoakan yg buruk kpd org lain. Terlebih jika org tersebut adalah orang baik. Serem cyin ⌣̈‎​

Chiisana Koi No Uta (An Important Person is Sitting Right Beside Me) by Mongol 800

Chiisana Koi No Uta
An important person is sitting right beside me

•♪•◦°˚˚°◦•♪

Hiroi uchuu no kazu aru hitotsu
One of many in this wide universe

Aoi chikyuu no hiroi sekai de
In the great world of this blue earth

Chiisana koi no omoi wa todoku
This tiny feeling of love will reach

Chiisana shima no anata no moto e
You on the little island

Anata to deai toki wa nagareru
Time have passed since i first met you

Omoi wo kometa tegami wo fueru
The letters with my feeling frow in numbers

Itsushika futari tagai ni hibiku
Without us realizing, it is already echoing between us

Toki ni hageshiku toki ni setsunaku
Sometimes intense, sometimes sad

Hibiku wa tooku haruka kanata e
It echoing distantly

Yasashii uta wa sekai wo kaeru
This gentle song changes the world


Hora, anata ni totte daiji na hito hodo
Look, the person who is important to you

Sugu soba ni iru no
Is right beside you

Tada anata ni dake todoite hoshii
I just want to reach only you

Hibike koi no uta
This echoing love song

Hora, hora, hora
Listen, listen, listen
Hibike koi no uta
To this echoing love song

Anata ha kidzuku futari wa aruku
You noticed that even the dark street

Kurai michi demo hibi terasu tsuki
We walk on is lit up by the moon every night

Nigirishimeta te hanasu koto naku
Not letting go of the hand i grasped

Omoi ha tsuyoku eien chikau
The feeling are strong, i promise forever

Eien no fuchi kitto boku wa iu
In the depths of forever, i'll surely say

Omoi kawarazu onaji kotoba wo
These same words with my feelings unchanged

Soredemo tarizu namida ni kawari
But it's still not enough and turns into tears

Yorokobi ni nari kotoba ni dekizu
It turns into joy, i can't put into words

Tada dakishimeru tada dakishimeru
Just embracing, just embracing

Sunday, April 6, 2014

My Twin Ulil Wedding

Hari ini merupakan hari bahagia untuk twin saya, Sulis Mardiana. Betapa tidak pada hari ini ia akan melepas masa lajang, yeaaayyy! Sulis atau biasa dipanggil Ulil adalah salah satu sahabat saya di kantor. Saya memang berkawan dekat dengan 4 orang wanit ciamik di kantor, yakni Ulil, Iput, Kingkong dan Ocon. Memang panggilan yang aneh, entah darimana asalnya. Sedang saya sendiri biasa dipanggil Nonce, Once atau Oce.
Saya kenal ulil saat klasikal batch kami di Wisma Pelatihan BNI46, Slipi. Ya, kami memang 1 angkatan. Kami menyebutnya dengan ADP Batch 2. Saat itu Saya dan ulil hanya sekedar kenal nama, hingga berakhirlah masa klasikal dan penempatan OJT pun dilakukan. Saya dan ulil kebagian di Cabang Jakarta Selatan, baik OJT maupun penempatan denitif setelahnya.

Pertama kali OJT dimulai, kami tak banyak interaksi, maklum masih baru dan adaptasi dengan lingkungan kantor. Kami pun belum banyak bercanda, hanya mencuri waktu untuk mengobrol di tengah serangan ngantuuuukkkknya baca BPP (Buku Pedoman Perusahaan) yang wajib dibaca oleh anak OJT baru. Setidaknya saat itu kami masih sama-sama berpikiran kalau kami itu pen-di-am. Hingga makin lama, 1 bulan tak terasa, mulailah sifat asli kami keluar satu sama lain, yang sama koplaknya, becandaan kami yang nyambung dan kami yang hobi bgt ceng-ceng-in orang, agaknya membuat kami klop. Sampai-sampai orang kantor menyebut kami KEMBAR. Ya, kembaran. (bodohnya ada saja orang kantor yang percaya kalo kami ini beneran kembar haha).

Kami pun men-declare satu sama lain bahwa kami kembar, karena sifat kami yang mirip, tingkah laku mirip, gaya becandaan mirip dan muka yang mirip *kata orang-orang sih. Pasca pengangkatan pegawai tetap atau setelah OJT 3 bulan, kami terpisah jarak, saya di Kantor Cabang Pembantu Syariah Depok sedangkan Ulil di cabang. Namun kami masih dalam 1 cabang yang sama yang masih bertemu apabila ada acara Amanah Day, pertemuan Cabang dengan seluruh Cabang Pembantu di bawahnya.

Ulil merupakan anak bungsu dari 7 bersaudara, namun ia sama sekali tidak terlihat seperti anak bungsu, karena kedewasaannya dalam menyikapi segala hal. Memang kelakuannya dan becandaannya sering kekanakan-kanakan karena memang fun itu ya harus seperti bocah lepas, tapi begitu menyikapi suatu case atau masalah langsung berubah 180 derajat, serius dan solusi yang diberikan luar biasa. Saya salut dengan orang macem begini, ceria namun penuh kedewasaan.

Ia alumni dari IPB jurusan kehutanan, sangat banyak cerita koplaknya bersama rekan-rekan koplak kuliah soal kehutanan. Ia menjalin hubungan yang cukup lama dengan Wisnu. Mereka merupakan rekan satu SMA 63. Saya pun kenal dengan Wisnu. Bahkan Wisnu tahu kalau saya dan ulil di kantor sering dibilang kembar. Perrnah suatu ketika kami bercanda kalo orang kembar pasti tetap ada siapa yang lahir duluan. Lucunya memang bulan kelahiran kami sama, Maret :D

Tanggal Ulil adalah 15 Maret sedangkan tanggal saya adalah 25 Maret. Saat ditanya siapakah yang jadi kakak? Dengan santai saya menjawab : “Harusnya kan gw duluan, lil, yang lahir, Cuma daripada rebutan keluarnya dari emak kita masing-masing, dan daripada di luar kita berantem, jadi gw persilahkan lo keluar duluan (tanggal 15).” Dan ulil menanggapinya tak lebih ngaco lagi “Nanti kalo gw bosen jadi adeknya, kita gantian ya, Ce. Gw kakaknya lo adeknya. Gantian aja terus suka-suka mood kita.” Ngooookk. Akibat hubungan kembar dan kakak adik tak sedarah yang aneh ini, saya kebiasaan manggil Wisnu dengan sebutan Adik Ipar. Karena ia pasangan dari ulil dan ulil merupakan kembaran saya :D

Balik lagi ke hari nikahan Ulil ya. Sungguh intro aja panjang bener deh. Rempong cyin. Pagi itu saya memang berniat datang akad nikah jam 07.00 pagi di Petukangan Utara, tidak jauh dari rumah Ulil. Sehari sebelumnya alias kemarin saya baru saja ikut seminar dan pulang agak malam, aselik capek bener sih. Dan saya baru bisa memejamkan mata pukul 23.30. weleeehhh. Alhamdulillah sih siap-siap yang lancar, ngebut hehhee. Jam 06.00 saya sudah janjian berangkat bareng dengan Ocon dari stasiun Tanjung Barat. Saat ini memang masih lengang sehingga taxi yang kami tumpangi benar-benar ngebut hehe. Hanya membutuhkan waktu 30 menit dari Tanjung Barat ke Petukangan.

Saat kami sampai sudah berbaris dari besan pria, yakni Wisnu dan keluarga. Kami cengengesan keluar dari taxi dan menuju ke dalam ruangan pengantin wanita. Ulil sudah rapi dan duduk di kursi. Begitu  kami datang, saya dan ocon langsung berhambur memeluk dan menciumnya, sambil bercanda “Iiiihh siapa sih nih, cantik banget??” serayaku sambil mencolek pipi ulil. Tak pelak ulil menahan ketawa dan balas “Udah gw bilang lo jangan dateng pas akad, ce, nanti gw ketawa gimana pas akad.” hahahhahaa. Tadinya saya mau menceritakan kejadian lucu taxi kami melintas di depan iring-iringan pengantin pria, tapi saya bilang nanti aja kelar akad baru diceritain, daripada ketawa2 bahaya :P

Prosesi akad yang sangat mengharukan terjadi. Saya memang paling senang melihat prosesi akad nikah, karena sangat sakral dan kekeluargaan. Mengharukan. Demikian juga akad nikah ulil. Terlebih saat ulil memohon izin untuk direstui menikah, memohon maaf atas segala dosa yang telah ia lakukan kepada Bapak dan Ibunya serta rasa terima kasih yang luar biasa atas kasih sayang yang telah diberikan selama ini. Saat Bapak dari Ulil membacakan ijab, maka disambut dengan lantang oleh Wisnu. Luar biasa, merinding. Saat-mengharukan itu membuat ulil menangis, dan cukup dengan kode tatapan mata ke saya, saya pun paham dia minta tisue akakakak. Dasar kontak batin. Alhasil saya jadi asisten bolak balik, ngasih tisue dan ngambil tisue sekaan air mata :”D

Tidak banyak yang bisa saya ungkapkan atas rasa bahagia ini, dengan penuh doa saya mengharapkan pernikahan Ulil dan Wisnu diberkahi dan diberikan keturunan yang sholeh dan sholehah. Senang rasanya Asyrs (saya, ulil, ocon, kingkong dan iput) bisa berkumpul pada pagi hari itu saat akad, menyaksikan momen sakral yang sangat bersejarah itu. Saking bahagianya, lebih baik saya apresiasikan lewat foto. *lah *bilang aja mau narsis.

Doa untuk orang yang menikah :
“Barakallahu laka wa baraka ‘alaikuma wa jama’a bainakuma fii khair”
Artinya, Semoga Allah memberkahi kalian berdua, dan memberkahi di atas kalian berdua, dan menghimpun kalian berdua dalam kebaikan.

Happy Wedding dear my koplak twin an brother, i’m freakingly happy for you both, really! Have a wonderful marriage :)

- Noni Halimi

Forgive and Forget

“Saya memaafkan, namun saya tidak melupakan, karena saya menjadikannya pelajaran."

Apakah sekiranya terlihat tidak ikhlas, sedang tidak ada satu manusia pun yang benar-benar tahu keikhlasan seseorang, melainkan Tuhannya.

Saat kita memaafkan, maka saat itulah proses ikhlas dipaksakan. Ya, memang ikhlas awalnya harus dipaksakan.  Karena ikhlas itu proses, bukan instan.

Orang yang berani mengingat dan menceritakan kenangan pahit dengan tenang, justru telah melewati masa recovery yang lebih baik. Ketimbang dengan orang yang sengaja melupakan dan menghindar dari kenangan pahit.

Apakah orang yang tidak melupakan kenangan pahit berarti tidak ikhlas? Belum tentu. Justru ia telah menerima ketetapan yang diberikan dari Tuhannya. 

Lalu kemudian, apakah orang yang melupakan lantas dibilang sudah ikhlas? Belum tentu juga. Sebenarnya tidak ada korelasinya antara melupakan dengan keikhlasan.
Bersyukurlah atas seluruh kejadian pahit yang pernah menimpamu dahulu. Karena masa lalu itulah yang saat ini membentukmu. 

-Noni Halimi

My Little Room at Office

Menurut saya, Office Desk adalah salah satu bagian terpenting dalam seharian saat bekerja. Bagaimana tidak, lha wong seharian saya duduk di meja itu, ngerjain ijo-ijo di sana, pusing juga di sana, berpikir di sana, ngobrol di sana, nyemil di sana, dengerin musik di sana, streaming youtube di sana, makan juga kadang-kadang di sana. Untung aja saya gak tidur juga di sana. Hampftt. Saking lamanya saya berada di meja tersebut, maka sudah pantas apabila saya menempatkannya sebagai kamar kedua saya. 8 jam lebih saya berada di meja itu, bahkan nyaingin waktu saya di kamar rumah saya sendiri. Gile benerrr.

Untuk menempatkan meja saya seperti kamar, maka saya hias sedemikian hingga agar saya nyaman dan ngerasa semuanya lengkap di meja saya. Pertama dari segi logistik, saya biasa menyediakan makanan untuk cemilan di saat lapar menyerang atau saat stress ngerjain aplikasi. Stok ini yang membuat rekan-rekan saya di unit lain kalo laper suka ke ruangan Processing buat minta makanan. Karena kebanyakan anak-anak Processing punya banyak makanan.

Dari cemilan minuman berupa uc 1000, susu ultra, nutrisari, lemon tea, nescafe , energen oat, energen cokelat, hingga cocoa dan delfi hot choco. Untuk cemilan ringan seperti snack-snack angin yang gak ngenyangin dan cuma bikin bungkus sampah dimana-mana. Udah tau gak ngenyangin tapi tetep aja dimintain. Tidak ketinggalan cemilan penghilang laper, yakni mie gelas dan pop mie, huahahha! :D Gak hanya itu, saya juga menyediakan saos sambal, kecap, pisau, dan gula. Lama-lama saya buka warung deh inih.

Laci meja saya juga saya penuhi dengan barang-barang yang bermanfaat untuk saya, juga untuk meletakkan buku bacaan yang sedang saya baca. Area atas meja saya letakkan barang-barang yang berhubungan dan yang tidak berhubungan dengan kantor. Ya alat tulis, itu berhubungan dengan kantor. Nah kalau pensil warna? Itu gak ada hubungannya sama kantor sih, tapi kalau saya lagi bosen kan saya bisa gambar hehehe. Atau pas baca buku, pensil warna saya gunakan untuk coret-coret kalau ada quotes yang bagus.

Lalu dinding kubikel saya tempel-tempel seenak jidat. Dari yang awalnya hanya untuk estetika, kemudian samapai seenak jidat nempel foto narsis diri sendiri. Saya juga menempel doa selepas shalat Dhuha karena doanya bagus dan mirip dengan kondisi saya yang saat ini kan mengais rezeki (bekerja). Kemudian quotes kesukaan saya dari Surat Ali Imran ayat 200 yang berbunyi : ishbiru wa shobiru, yang artinya bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu.

Ada juga quotes dari Ar-Ra’d mengenai Allah tidak ada mengubah nasib seseorang hingga orang tersebut mengubah dirinya sendiri. Hal itu memicu saya untuk berbuat banyak di kantor, bertumbuh dan berproses. Ada pula quotes : Change Your Thought Will Change Your World, itu supaya saya selalu berpikiran positif. Well, itu semua yang menguatkan saya dan membuat saya akan lebih nyaman di meja saya.

Oh ya, tak lupa saya juga punya perkakas penting sepenting-pentingnya yakni headset! hahahaha. Iya ini penting banget, karena biasa nemenin saya saat mengetik EFO dan butuh hiburan. :D

Banyak rekan saya yang melongo begitu ke meja saya karena terbilang cukup ramai. Padahal kalo dibolehin ramai sekalian mau saya pasang sound system supaya pas lagi dengerin AKB 48 bisa poll jogetnya, baassss!!! Tapi kan nggak mungkin ya, nanti orang kantor pada ikutan joget AKB 48 kan repoooot. Saya repot harus ngajarin mereka satu-satu *lah

Kalau mau nyaman dan senang di kantor, maka mulailah dari menghias meja kerjamu dan buatlah senyaman mungkin. Kalau memungkinkan bantal sama guling juga akan saya bawa. Tapi saya cukup bawa boneka bantal sajalah, daripada orang kantor heboh saya bawa bantal guling dan sleeping bed, tentu saya tidak se-ekstrem itu hahaha.

Salah Satu Sudut Meja
Komputer Apa Jemuran

Lidi-lidian Attack!!

Saat itu saya sedang browsing-browsing, ngaso sebentar habis ngerjain ijo-ijo (baca : aplikasi). Entah mengapa saya tiba-tiba ingat dengan snack lidi-lidian yang jaman SD biasa saya beli bersama kawan-kawan. Tahu snack lidi-lidian? Bentuknya memang seperti lidi, tipis dan panjang, rasanya pedas karena dibubuhi oleh bubuk cabai yang banyak. Saking senang makan lidi-lidian, sampai bumbu terakhir pun saya gulung terus sampai posisinya terbalik supaya seluruh bumbu bisa saya cicip (untuk yang biasa melakukannya juga untuk menikmati lidi-lidian, pasti tahu dong maksudnya seperti apa, hehe) Ibaratnya hingga butiran bumbu terakhir :”D

Kemudian saya membuka obrolan kepada rekan sebelah saya, Arumi dan Ndari. Singkat cerita gak penting kami intinya adalah...kangen makan lidi-lidian *biar cepet hahaha. Kemudian saya dan Arumi googling mengenai lidi-lidian, di mana toko online yang menjual lidi-lidian. Sambil timbang sana sini, lihat record penjualan, maka diputuskanlah untuk membeli Mie Lidi Nyere (Lidi-lidian beraroma Daun Jeruk). Kami pilih rasa yang kami kehendaki, kemudian main ke unit sebelah untuk menawarkan, apakah mau ikutan beli. Kan lumayan jadi sekalian belinya. Setelah mengumpulkan list pesanan, Arumi langsung memesan via bbm. Toko online-nya punya bbm loh.

Sang empu lidi-lidian pun bilang kalau pesanan lengkap semua dan totalnya ada 2 kg! Wow! Haha. Karena kami pesan banyak maka kami pun diberikan free ongkir dari Sukabumi – Jakarta. Alhamdulillah :D Ohya, lokasi tokonya ada di Sukabumi. Setelah melakukan proses pembayaran dari rekening BNI Syariah saya ke rekening BCA juragan lidi, maka dimulailah deg-deg-an nunggu kiriman datang, aakh gak sabar (okeeh ini lebay).

Dua hari kemudian, Arumi diberitahukan oleh security di banking hall lantai 1 bahwa ada kiriman. Sentak kami bersorai “Itu pasti lidi-lidiannya!!!” Nggak sabar, Arumi langsung turun dan mengambil paketnya di lantai 1. Begitu sampai ke ruangan Processing, saya langsung berhambur dan gak sabar untuk membuka. Dan inilah paket kami.

Saya baru tahu, ternyata isinya hanya 60gram, udah ngebayangin isinya jauh lebih banyak dari itu padahal hehehe. Tapi gapapa, terbayar harganya dengan rasa lidi-lidian yang gurih dan pas rasanya. Sukses membuat unit lain yang mencoba lidi-lidian kami untuk pesan juga. Mereka menanyakan kapan lagi mau order lidi-lidian, kalau mau order mereka mau ikutan. Weeew pengikut lidi-lidian pun nambah :”D Kini dalam seminggu terakhir, lidi-lidian happening banget di cabang, ahahhaha!

Well kalau boleh kasih saran, saya sih jauh lebih suka dengan yang rasa Sedang Pedas (SD). Pedasnya pas, tidak terlalu pedas, tapi ya pedas juga sih *terbukti saya tetep kepedesan juga dan minum terus* Kalau yang rasa Super Pedas, berlebihan pedasnya, lebih berasa lada. Kalau yang rasa lain (jagung bakar, asin, strawberry, pizza, rendang, dll) agak aneh menurut saya, karena rasa lidi-lidian itu ya pedas seperti yang dulu saya sering beli, bukan asin atau manis. Itu menurut saya yaaaa.. Kalau penasaran, silahkan dicoba dan nikmati serangan lidi-lidian :D

Kardus Kiriman Lidi-Lidian
Stock Pembelian Lidi-Lidian

KL Trip : 27 January 2014 (Central Market - Petaling Street - China Town - LCCT)

Tidak terasa ini adalah hari terakhir perjalanan Saya dan Febi di Kuala Lumpur. Kami akan terbang pukul 14.45 sehingga hanya memiliki waktu sedikit untuk berjalan-jalan sekitar Pasar Seni. Kali itu kami memang berencana untuk membeli cokelat di Choc Boutique yang berada di dekat pintu utama dari Central Market. Setelah mandi dan sarapan gratis di hostel, kami bergegas keluar.

Memang setelah saya bandingkan harga-harga yang menjual cokelat saat kemarin saya berkelana, memang choc boutique yang ada di central market inilah yang paling murah. Ada pula choc boutique yang ada di KL Sentral. Namun tahun lalu saya membeli di Central Market dan pedagangnya sangat ramah, maka saya nggak kapok untuk kembali lagi. Bahkan 2 tahun lalu saya ke KL dan mencoba membeli coklat di Beryl Kingdom namun harganya luar biasa mahaaaaal.


Setelah berbelanja cokelat berapa kilos hahahhaa, saya dann febi melipir ke Petaling street untuk sekali lagi berbelanja, selesai berbelanja kami kembali ke hostel untuk bersiap pulang. Kami perpisahan dengan pemilik hostel dan bergegas menuju bandara LCCT. Tentunya kami menggunakan LRT Pasar Seni – KL Sentral, setelah itu baru menaiki Bus dengan tujaun KL Sentral – LCCT. 

Sesampainya di bandara kami tak menunggu lama untuk kembali pulang ke Jakarta. Well done, trip yang sangat berkesan dan menyenangkan dan banyak ilmu yang bermanfaat. Semoga bisa ke KL lagi nanti bersama keluarga bulan puasa nanti, insya Allah, Aaamiin yaa Robbal’alamiin


Cek total pengeluaran selama Trip KL 4 hari 3 malam :

Day 1
Minum @ 3.2 RM x 2 = 6.4 RM
SIMCARD @ 35 RM x 2 = 70 RM
Tiket Genting @ 10.30 RM x 2 = 20.60 RM
Tiket LRT KL Sentral – Pasar Seni = Free by Bang Wasif
Hostel 210 RM
Tiket Bus @ 8 RM x 2 = 16 RM
Total  = 323 RM

Day 2
LRT ke KL Sentral @ 1 RM x 2 = 2 RM
Cable Car @ 6 RM x 2 = 12 RM
Bus Pulang @ 3.4 RM x 2 = 6.8 RM
Taxi ke Batu Caves = 10 RM
Minuman Kaleng @ 1 RM x 2 = 2 RM
KTM ke Shah Alam @ 3.9 RM x 2 = 7.8 RM
Bus No. 529 @ 1 RM x 2 = 2 RM
Sosis dan Gorengan Stick @ 3 RM x 2 = 6 RM
Beli Minuman 3 RM + 2 RM = 5 RM
Bus U80 @ 1 RM x 2 = 2 RM
Bus ke Seksyen 2 @ 50 sen x 2 = 1 RM
KFC Dinner 16 RM
Aqua di Sevel @ 1.3 RM x 2 = 3.6 RM
Taxi ke Padang Jawa 10 RM
KTM dari Padang Jawa – KL Sentral @ 2.9 RM x 2 = 5.8 RM
LRT KL Sentral – Pasar Seni @ 1 RM x 2 = 2 RM
Jajan di Masjid 3 RM
Total = 96 RM

Day 3
Bus Putrajaya @ 3.5 RM x 2 = 7 RM
Nadi Putra @ 50 sen x 4 = 2 RM
KLIA Transit @ 5.3 RM x 2 = 10.60 RM
LRT Hang Tuang @ 1.5 RM x 2 = 3 RM
Monorail Bukit Bintang @ 1.5 RM x 2 = 3 RM
LRT Pasar Seni @ 1.6 RM x 2 = 3.2 RM
Nasi Lemak , Teh Tarik, Teh O = 9.4 RM
Total = 38.20 RM

Day 4
LRT Ps Seni – KL Sentral @ 1 RM x 2 = 2 RM
Bus dari KL Sentral – LCCT @ 8 RM x 2 = 16 RM
Total 18 RM

Total Pengeluaran selama di KL adalah 323 RM + 96 RM +  38.20 RM + 16 RM = 473.2 RM, atau 236.6 RM per orang (senilai dengan 910.910 IDR)

Artinya dengan budget 1 juta pun kamu bisa keliling KL dengan murah dan asik ala backpacker dan budget traveler kaaaan. Tentunya itu diluar tiket pesawat dan belanjaan. Tipsnya ya belilah tiket pesawat jauh hari sehingga dapatkan dengan harga murah. Untuk belanjaan ya belanjalah seperlunya, sesuaikan dengan budget belanja sehingga tidak mengganggu budget operasional traveling. Sekian share dari saya, semoga bermanfaat, selamat berpetualang!

KL Trip : 26 January 2014 (KL City Gallery - Mesjid Putra / Pink Mosque - Sungei Wang - Bukit Bintang - Suriah KLCC Twin Tower - Pasar Seni)

Pagi itu Saya dan Febi bangun lebih santai, dan bersiap dengan santai tidak seperti sebelumnya kami berangkat terburu-buru. Kami pun sempat sarapan di hostel dan mengisi amunisi untuk perjalanan kami hari itu. Kami berjalan keluar hostel pada pukul 09.00 pagi dan berkeliling Dataran Merdeka, masuk ke KL City Gallery dengan pintu masuk icon I LOVE KL. Masuk ke KL City Gallery tidak dipungut bayaran alias free. Itu juga yang membuat saya sangat semangat haha. Sebenarnya ada city tour sekitar Dataran Merdeka namun sayang hari itu tidak ada jadwalnya. Di dalam KL City Gallery terdapat miniatur  landmark wisata yang menarik di KL, ada Mesjid Jamek, Dataran Merdeka, Twin Tower dan lain-lain. Tak lupa juga ada tempat membeli oleh oleh dengan ukiran kayu unik berbentuk landmark KL. Lucu-lucu tapi sayang mahal, haha.

Historical Treasure
National Heritage of Malaysia
Bagian Depan KL City Gallery
Area Dataran Merdeka
Icon I Love KL
Kerajinan Ukiran di KL City Galerry
Galeri Kuala Lumpur
Bangunan Mesjid Samad

Di KL City Gallery terdapat satu tempat yang membuat saya terpukau, ia adalah Discover City. Awalnya saya tidak tahu itu tempat apa, saya masuk ke dalam, terdapat di lantai 2. Begitu sampai melalui Red Carpet, ternyata sepi. Saya ragu-ragu mendekat. Namun ternyata ada petugas laki-laki yang sedang duduk di depat pintu yg tertutup tirai. Begitu melihat saya, ia langsung berdiri dan bersemangat menyambut. “Come on, let’s go, faster” sambil menggerakkan tangannya mengajak saya untuk masuk ke dalam ruangan. Wah semangat banget, padahal Cuma saya dan Febi aja di sana. Kemudian sebelum masuk ruangan, ia berkata “You can walking around, but do not touch. You can take a picture but please dont using flash, okay?” Kami mengangguk. “Take your time”

Kemudian saya dan Febi dipandu masuk ruangan gelap. Tak lama setelah  kami masuk tiba2 di depan kami berdiri ada layar besar dengan intro musik yang keren, saya memperhatikan, ternyata video tempat tempat wisata yang ada di KL. Saat saya asik melihat tayangan, tiba-tiba di depan kami menyala semua.

Wooow! Ternyata tempat di depan kami adalah meja superrr besar yang bersikan miniatur kota Kuala Lumpur, dengan bangunan bangunan di dalamnya. Benar-benar kota Kuala Lumpur dijadikan miniatur. Persis. Saya melihat Twin Tower bercahaya dan gedung-gedung lain bercahaya. Luar biasa. Seperti melihat kota Kuala Lumpur dari atas langit pada malam hari. Semua terlihat kecil dan cantik. Sekitar 5 menit saya dan Febi berdecak kagum, dan mikir kapan Indonesia punya beginian, fiuh.

Discover The City

Penampakan KL Discover The City di Dalam Ruangan
Setelah  puas keliling dan foto di sekitar sana, kami berjalan menuju pemberhentian bus menuju Putrajaya, katanya sih di dekat Mydin (Supermarket wholesale yang cukup terkenal di KL yang menjual berbagai macam barang). Kami menaiki Bus Putrajaya dengan pemberhentian akhir di terminal Putrajaya. Harga tiket bus adalah 3.5RM. Tak memakan waktu lama, kami pun sampai di terminal Putrajaya. Kami bertanya ke supir, bagaimana cara melanjutkan perjalanan untuk sampai ke Mesjid Putra?

Katanya kami harus menyambung menaiki bus Nadi Putra. Bus itu adalah Bus dalam komplek Putra, memang harus menaiki bus tersebut. Harga tiket Nadi Putra hanya 50 sen. Saat kami naik, sangat kosong, dan kami langsung mengambil tempat duduk paling depan dekat supir supaya mudah untuk bertanya. Di perjalanan ternyata supirnya sangat ramah dan menceritakan banyak hal tentang Putrajaya. Beliau juga penggemar sinetron Indonesia dan fans-nya Acha Septriasa. Weew. Hahhaa.

Bis Nadi Putra  adalah angkutan utama di Putrajaya dan hampir semua kawasan dilewati oleh Nadi Putra. Jadi  seperti halnya Bis Kuning yang melewati puteran kampus UI, mungkin ini juga seperti Bis Kuning. Sampai di halte pemberhentian yang kami maksud (setelah tanya dan pedekate sama supir Bus Nadi Putra yang sangat ramah, kami pun turun di halte terdekat menuju Mesjid Putra (Mesjid Pink). Kami berjalan menyusuri pinggir komplek Putra.

Sampai di Mesjid Pink super panas dan sangat menyengat. Saya yang tadinya malas mengeluarkan payung jadi beneran mengeluarkan payung saking panasnya. Kami tak sabar berjalan menuju Mesjid Pink ini. Dari luar sudah menjulang kubah dengan arsitektur menawan dan warna imut bangeeettt. Ternyata Mesjid Putra sedang ada renovasi. Kami masuk ke dalam Mesjid Putra.

Mesjid Putra (Pink Mosque)
Penampakan Bagian dalam Mesjid Putra
Ditetapkan aturan bahwa untuk masuk ke dalam harus menggunakan baju panjang dan jilbab. Jadi yang tidak  mengenakan jilbab wajib memakai jubah ala voldemort. Warna jubahnya adalah merah. Lucuuuu. Bahkan yang menggunakan jilbab tapi bajunya tidak menutupi bagian bawah pinggang pun disuruh  untuk memakai jubah. Saat itu saya sedang menggunakan baju panjang selutut dan jeans sedangkan febi menggunakan dress sehingga kami bebas masuk tanpa dipanggil petugas untuk mengenakan jubah voldemort itu.
Jubah ala Voldemort untuk masuk ke Mesjid Putra
Febi langsung menunaikan Shalat Dzuhur jamak dengan ashar, sedangkan saya menunggu di pinggir Mesjid karena sedang libur. Saya perhatikan banyak anak kecil berkeliaran dengan wajah turunan Timur Tengah yang menggemaskan. Saya berkeliling dan menemukan papan ini di samping Mesjid. Cerdas. Memang kita harus mendahulukan panggilan Allah untuk shalat ketimbang mendahulukan panggilan dari manusia.
Hayoooooo!
Suasana di pinggir Mesjid Putra juga asri dengan pemandangan menuju ke arah luar terdapat danau luas dan jembatan serta semilir angin membuat kami berdua makin aktif foto-foto. Tak lupa saya juga mengirimkan pesan kepada Bapak saya di Jakarta yang menanyakan saya pergi kemana saja hari ini. Memang setiap saya perjalanan jauh akan selalu dipantau karena Bapak saya juga petualang, jadi Bapak saya wajib tahu area destinasi saya.
:D
Selesai dari Mesjid Putra lalu kami keluar komplek dan menyusuri tempat yang tadi, kembali ke halte awal kami datang. Dari sana kami naik Bus Nadi Putra untuk kembali ke terminal Putrajaya. Dari Terminal Putrajaya lalu kami melanjutkan perjalanan ke Bukit Bintang. Memang jarak Putrajaya sudah cukup jauh dari KL, namun kita bisa menempuhnya dengan mudah dan cepat menggunakan MRT atau LRT. Saat  itu kami memilih untuk menaiki KLIA Transit, yakni kereta yang bertujuan akhir ke Bandara Internasional Kuala Lumpur. Terdapat 2 jenis kereta yang mengantar ke KLIA ini. Ada KLIA Transit yang berhenti di beberapa stasiun kereta, dengan kecepatan dan harga tiket yang lebih rendah. Ada pula KLIA Express dengan pemberhentian hanya di KLIA, kecepatannya tinggi, harganya pun juga cukup mahal.

Saya dan Febi memilih untuk mencoba menaiki KLIA Transit, saya belum pernah menaiki ini sebelumnya, maka yuk dicoba. Harga tiket KLIA Transit dari Putrajaya adalah 5.3 RM berhenti di Hang Tuah. Dari Hang Tuah kami berganti jenis kereta yakni menggunakan kareta Monorail dengan bentuk kereta yang lebih kecil dan susunan tempat duduk yang sedikit, lebih banyak yang berdiri dan pastinya penuh.

Penampakan KLIA Transit
Bagian Dalam Kursi KLIA Transit

Kami turun di pemberhentian stasiun Bukit Bintang. Dari sana sangat dekat sekali masuk ke Sungei Wang. Itu adalah salah satu jejeran mall yang terdapat di Bukit Bintang. Saya dan Febi hanya iseng melihat lihat sembari penasaran mencari sendal dan sepatu produksi khas dari Kuala Lumpur yang harganya 10RM. Ternyata ketemu! 

Saya melepas pandang pada jejeran sepatu dan sandal serta wanita-wanita yang sibuk menjajal. Saya biasa saja, tidak begitu tertarik membeli karena modelnya pun mirip dengan di Jakarta, rata-rata adalah flatshoes. Dan untuk harga termurah adalah model sandal jepit 10RM. Malas sekali rasanya membeli sandal jepit seharga 10RM, maka saya mengurungkan niat untuk membeli (bilang aja gak punya budget wakakak).

Hari sudah mulai sore, sekitar pukul 17.00. Waktu yang pas untuk berjalan kaki menyusuri Bukit Bintang. Daerah Buki Bintang makin gemerlap ketika malam hari karena makin banyak jajanan dan lalu lalang orang. Namun kami rencananya memang tidak ingin berlama-lama. Di sana banyak terdapat jejeran Mall dengan isi yang kurang lebih sama lah dengan Jakarta. Saya tidak begitu tertarik memasukinya satu per satu, hanya Sungei Wang yang saya masuki, karena sebelumnya saya juga sudah pernah ke Bukit Bintang dan berkeliling masuk beberapa Mall. Yaa hasilnya biasa saja.

Di perjalanan saya menemui tukang es krim turki nomaden yang sedang melayani pelanggannya. Berkerumun banyak orang karena penjualnya menggoda pembeli dengan atraksi es krim diputar balik namun tidak tumpah. Pejalan kaki ada yang hanya melihat saja sambil menikmati atraksi permainan es krim pak Turki gratis tanpa harus membeli es krim (contohnya saya dan Febi hahaha). Ohya saya sempat berkunjung ke Sephora, yakni toko kosmetik yang cukup tenar di kalangan wanita high class, bagaimana tidak harganya pun high class. Saya hanya melihat sebentar lalu kembali keluar.

Es Krim Turki
Setelah berkeliling Bukit Bintang tiba saatnya tujuan destinasi berikutnya yakni KLCC atau Twin Tower. Kami menaiki KL City Tour Bus, namanya Go KL, yakni bis untuk wisata yang bisa dinaiki di halte-halte wisata dan menariknya bus ini gratis. Nah ini yang saya suka! Hahaha. Kami berlari ke tempat pemberhentian bus di seberang sana, agak terburu-buru karena kami salah berdiri menunggu bus, kurang ke arah utara. Alhasil pada saat bus datang dan tidak berhenti di depan kami namun berhenti jauuuh di depan kami, ya kami berlari mengejar. Saya dan Febi turun di pemberhentian hotel yang dekat sekali dengan bagian belakang Twin Tower dan Surriah Mall. Kami berjalan menuju Suriah Mall dengan berjalan kaki melalui pintu belakang.

Sebelumnya saya pernah juga masuk ke Suriah Mall, dan memang tidak ada yang dapat dibeli di sana, mahal. Di sana kita bisa masuk untuk naik ke Twin Tower, namun saya memang dari awal tidak ada niat untuk naik ke atas saya, saya nyari gratisan maka saya akan menikmati Twin Tower dari luar, dari taman seperti tahun lalu.

Saat di dalam Suriah Mall, saya dan Febi sempat ke tolet  namun ada yang berbeda. Jadi saat masuk ke lorong menuju restroom, di ujung lorong terdapat petugas berseragam yg menjaga, dan ada kotak untuk membayar. Yaaa seperti toilet berbayar gitu lah. Sepertinya dulu waktu saya ke toilet Suriah ini tidak berbayar deh, maka saya bertanya kepada petugas, dan memang benar harus bayar. Untuk toilet yang free terdapat di lantai bagian atas. Saat berjalan keluar lorong saya sempat melihat tulisan Executive Restroom. Walahh ya pantes aja bayar, eksklusif ternyata. Sebenernya saya penasaran seperti apa isi dalamnya restroom itu, kenapa sampai harus bayar. Namun lagi-lagi, di sebuah perjalan memang niat dan keinginan selalu ada, namun budget lah yang menentukan pada akhirnya (yang intinya adalah Saya gak jadi masuk toilet berbayar itu).

Saat sore menjelang matahari terbenam, namun masih terang. Saya dan Febi keluar dari Suriah dan berjalan menyusuri taman air mancur yang berada di belakang twin tower. Saat ini belum gelap maka suasana belum kontras cahaya dalam twin tower. Kami tidak membuang waktu, maka berpose sebanyak mungkin sebelum gelap. Saat matahari sudah terbenam dan gelap, maka terlihatlah sisi eksotis twin tower atau menara kembar Petronas, cantik! Dua gedung kembar ini menjulang tinggi dengan jembatan penghubung sedang bangunan tersebut dibalut cahaya. Sungguh memukau sih.

Twin Tower

Puas foto-foto di twin tower, kami pun berjalan pulang menuju MRT KLCC yang berada di bawah tanah. Jadi dipinggir jalan raya terdapat seperti ruang bawah tanah dengan tangga di dalamnya, itu menuju ke MRT KLCC. Kami akan naik MRT dari KLCC menuju Pasar Seni. Sebelum pulang, kami nyemil sausage dan baso tusuk pinggir jalan dulu, harganya beda 20 sen dari yang biasa kami beli kemarin. Yaa karena mungkin belinya di pinggir twin tower.

Oh ya, sebelum berangkat ke Putrajaya kami menyempatkan diri untuk makan di Restoran Yusof, yakni restoran Arab yang lokasinya persis di samping Kasturi Walk, Pasar Seni. Kami memesan Canai dan Nasi Lemak Porsi Besar, Teh Tarik serta Teh ‘O (Es Teh), total makan dan minum adalah 9.4RM.

Bagian Depan Restoran Yusoof and Zakhir
Our Menu
Setelah pulang dari KLCC, kami lanjut berkeliling ke dalam Cetral Market, saat itu sudah pukul 21.30 sehingga sudah banyak toko yang bersiap tutup. Kami hanya berkeliling sebentar dan memang planning kami ke Central Market adalah esok hari. Perjalan ditutup dengan perut yang kenyang dan kaki yang mulai terasa lelah (baru berasa sekarang) :D

Cek pengeluaran kami hari ini :
Bus Putrajaya @ 3.5 RM x 2 = 7 RM
Nadi Putra @ 50 sen x 4 = 2 RM
KLIA Transit @ 5.3 RM x 2 = 10.60 RM
LRT Hang Tuah @ 1.5 RM x 2 = 3 RM
Monorail Bukit Bintang @ 1.5 RM x 2 = 3 RM
LRT Pasar Seni @ 1.6 RM x 2 = 3.2 RM
Nasi Lemak Total 9.4 RM
Total Pengeluaran 38.20 RM untuk 2 orang

KL Trip : 25 January 2014 (Genting Highland - Batu Caves - Blue Mosque - I City)

Pagi itu sudah pukul 05.30 pagi waktu Malaysia, ketika adzan berkumandang, saya membangunkan Febi untuk bergegas Shalat Shubuh dan kami pun bersiap-siap untuk perjalanan menyenangkan kami di hari kedua ini. Kemarin kami memang berpesan kepada penjaga hostel bahwa akan berangkat lebih pagi, dan kemungkinan tidak sarapan.  Di Jakarta mungkin bersiap pukul 05.30 atau 06.00 menjadi sangat terburu-buru dan  jalan raya pun sudah padat. Berbeda halnya dengan di Malaysia, pukul 06.30 pagi masih belum ramai dan masih cukup sepi.

Kami berangkat pada pukul 06.30 menuju LRT Pasar Seni. Jarak hostel kami ke LRT Pasar senin hanya 100 meter saja, cukup berjalan kaki dan dekat sekali dengan Pasar Seni. Kami tidak perlu terburu-buru karena target sampai KL Sentral adalah pukul 07.00. LRT sudah mulai beroperasi lho jam 06.30.

LRT melaju dengan cepat dan sesuai jadwal, sampailah kami di KL Sentral. Bus Genting Highland berangkat dari basement lantai paling bawah di KL Sentral. Saat itu sudah banyak yang menunggu keberangkatan Bus Genting Highland. Jadwal paling awal yakni 07.30. Ada segerombolan turis Jepang dan juga wisatawan lokal dari Malaysia. Tak lama menunggu, kami pun masuk ke dalam bus. Sebelum masuk bus, satu per satu tiket kami diperiksa. Saya dan Febi mencari nomor duduk bangku kami. Dan ternyata kami duduk di bangku paling belakang. Horeeee! Pengalaman duduk di belakang :D Bus berangkat sangat on time, saya lirik jam digital di bagian depan bus, ya pukul 07.30 bus mulai melaju keluar dari terminal KL Sentral. Awalnya saya melihat Mesjid Negara, Railway Station yang sangat unik arsitekturnya dan banyak lagi. Tak lama kami masuk jalur bebas hambatan.

Selfie Dulu :p
Jalanan berubah dari jalan tol dengan pemandangan sisi kanan kiri yang tidak menarik menjadi agak menanjak dan berliku. Mirip sekali dengan jalanan di puncak. Kondisi luar pun mulai berselimut kabut, dan kuping saya muai budeg. Tidak terasa sudah 1 jam 30 menit perjalanan kami, sampailah di terminal Genting pukul 09.00. Situasi di terminal masih sangat sepi, karena bus kami adalah bus pertama yang datang dari KL Sentral. Saya dan Febi langsung menuju ke lantai atas, mengikuti petunjuk untuk menaiki Cable Car Genting Highland. Tidak perlu membeli tiket lagi karena tiket yang saya beli seharga 10,30 RM sudah termasuk di dalamnya tiket naik Cable Car.

Cable Car yang kami akan naiki juga tidak perlu antri, benar benar masih kosong. Saya dan Febi menaiki satu cable car. Senangnya bisa menaiki cable car secara private tanpa bergabung dengan rombongan lain. Mungkin karena masih pagi sekali dan kosong ya. Seharusnya cable car bisa dinaiki oleh 5-6 orang, dengan tempat duduk yang saling membelakangi.

Cable Car Genting
Sebelum cable car berangkat, kami diminta untuk berpose dalam cable car dan difoto oleh tim foto Genting Highland. Seperti di tempat rekreasi di Jakarta, mungkin nanti kami akan diminta membeli fotonya. Selama perjalanan cable car selama 15 menit kami disuguhkan pemandangan eksotis di ketinggian beberapa ratus meter dari daratan. Kabut mulai menyelimuti kembali dan sinar matahari masih malu-malu untuk muncul. Tanpa membuang waktu kami bergantian untuk mengambil foto, saatnya selfie  hahahaha.

Pelepasan Cable Car Genting
We're on the sky
Horeeee Sampai di Pemberhentian Cable Car
Sampai di pemberhentian cable car Genting Highland, kami langsung keluar dan menemukan foto kami sudah tercetak di sana. Wow. Sepertinya tadi baru saja di foto waktu di pemberangkatan cable car dan sudah tercetak di seberang sana. Sepertinya mereka memiliki penghubung, jadi pada saat wisatawan difoto saat berangkat, foto langsung di cetak di pemberhentian cable car. Sehingga saat wisatawan turun dari cable car sudah bisa melihat hasilnya dan jika berniat membeli bisa langgsung membeli. Saya penasaran melihat hasilnya, dan penasaran juga melihat harganya haha. Hasilnya cukup bagus tapi harganya yang nggak bagus. Satu foto seharga 20RM. Weeewwww. Terpaksa saya mengurungkan niat untuk membeli foto itu (padahal dari awal juga sudah nggak niat, pasti mehong soalnya).

Peta Theme Park
Salah Satu Permainan di Indoor Theme Park
Dari pemberhentian cable car tersebut, wisatawan bisa berjalan jalan di Genting Highland dengan aneka mall yang saling terhubung. Diantaranya ada yang berisikan indoor theme park dengan beraneka ragam permainan, dimulai dari kereta-keretaan, roller coaster, mobil-mobilan dan sebagainya. Saya dan Febi tidak tertarik untuk main, permainan indoor rasanya kurang seru. Kami hanya berkeliling dan berfoto, kebetulan juga di bagian luar Genting outdoor theme park sedang dalam proses renovasi sehingga tidak dibuka. Di dalam Genting Highland banyak hotel dan banyak sekali tempat casino. Ya di sana memang tempat orang bermain judi. Saya hanya penasaran seperti apa Genting. Kami memang tidak akan berlama-lama di sana, pukul 10.30 kami bersiap untuk pulang.
Masih Sepi :D
Roller Coster

Kami menuju cable car dengan membeli tiket cable car untuk pulang. Kemarin kami hanya  membeli tiket berangkat tanpa tiket pulang supaya waktunya lebih fleksibel karena kami belum pernah ke sana sebelumnya sehingga tidak dapat memprediksi jadwal bus dan cable car untuk pulang. Harga tiket cable car single trip per orang adalah 6 RM. Sampai di terminal pemberhentian bus, kami menuju Bus Genting Highland – Gombak karena kami akan meneruskan perjalanan ke Batu Caves. Kami tidak kembali lagi ke KL Sentral, karena jarak Gombak dengan Batu Caves sudah dekat ketimbang KL Sentral.

Kami membeli tiket bus seharga 3.4RM. Saat menunggu bus berangkat, kami masih duduk duduk di kursi tunggu persis di samping Bus Genting Highland. Saya dan Febi tidak melewatkan waktu untuk berfoto, kami bergantian foto dengan latar belakang Bus Genting Highland. Ternyata ada wisatawan China yang memperhatikan kami berfoto bergantian, dan ia menawarkan diri untuk mengambil foto, supaya Saya dan Febi bisa berfoto berdua, tidak bergantian. Baik banget itu mas-mas China, hehehe. Nggak nolak rezeki, Saya dan Febi pun langsung berpose. Klik.

Difotoin Mas Mas China hahahaha
Perut sudah kelaparan, untung kami  membawa roti yang bisa kami makan. Saat diminta untuk masuk bis, saya mencari nomor kursi sesuai dengan yang tertera di tiket bus. Namun ternyata kursi kami sudah ditempati oleh orang, Febi pun menunjukkan tiket kami dan menyamakan dengan nomor kursi. Ternyata itu memang kursi kami. Lah kok sudah ditempati orang. Kemudian  orang tersebut berkata “free for seat” yang artinya adalah kamu boleh duduk secara random yang kamu suka tanpa sesuai dengan nomor kursi yang tertera di tiket. Berbeda dengan bus waktu berangkat yang terisi full dan duduk sesuai nomor, bus menuju Gombak ini hanya terisi segelintir orang. Tanpa menunggu lama, bus pun berangkat walaupun hanya terisi sedikit saja penumpang. Berhubung free for seat, kami memilih untuk duduk di kursi paling depan. Kalau berangkat pagi di kursi paling belakang maka kali ini pulang di kursi paling depan.

Perjalanan menuju Gombak kurang saya perhatikan karena saya terserang ngantuk luar biasa. Perjalanan pun tidak terlalu lama, kami pun sampai di terminal Gombak. Saat itu pukul 11.30, dan luar biasa sangat  panas. Kami membeli minuman kaleng seharga 1 RM untuk menghilangkan dahaga di vending machine. Fiuuh. Kemudian dilanjutkan untuk mencari taxi untuk menuju Batu Caves. Awalnya saya dan Febi khawatir dengan taxi tanpa meter terlebih di terminal seperti ini dan banyak taxi yang ngetem. Untuk memastikan, kami pun mendekat ke taxi yang sedang ngetem dengan supir taxi yang sedang beristirahat. Kami bertanya mengenai taxinya apakah menggunakan meter?

Di Malaysia sebutan untuk taxi dengan argo adalah taxi meter. Jadi, meter itu ya argo. Sering saya temui taxi tanpa meter di KL yang langsung tembak harga. Untuk turis luar seperti kami dan jika tak pandai menawar, pastilah kena mahal. Daripada sesat dikemudian hari, lebih baik kami bertanya sama Pak Cik supir taxi. Kemudian pak supir taxi memberitahu bahwa taxi di sini menggunakan meter alias argo. Kami pun lega, dan tanpa basa basi kami naik taxi Pak Cik itu. Dengan ukuran taxi yang jauh lebih besar dari taxi lainnya, saya berpikir mungkin meterannya akan lebih mahal. Soalnya di Singapur seperti itu. Taxi yang ukurannya lebih besar daripada taxi sedan, harga argonya lebih mahal. Namun ternyata taxi di KL tidak seperti itu, harga meternya sama! Dari terminal Gombak ke Batu Caves hanya 15 menit dan menghabiskan 10RM.

Batu Caves adalah salah satu tempat pemujaan suci orang India yang terletak di Selangor, kurang lebih berjarak 13 km dari Kuala Lumpur. Tempat ini merupakan kuil yang paling populer di Kuala Lumpur yang dipersembahkan untuk Dewa Murungan. Patung Dewa Murungan terdapat persis di pintu masuk setinggi 42.7 meter.

Begitu sampai di sana, banyak wanita India menggunakan baju tradisional sari dan rambut panjang dengan aksesoris khas India. Benar-benar terasa seperti di India,  bukan di KL. Di bagian depan terdapat icon patung emas Dewa Murungan yang menjulang tinggi dan dibagian sekitarnya dipenuhi oleh burung dara dan wisatawan yang sibuk memberi roti kering untuk burung dara tersebut.

Burung Dara di Sekitar Pelataran Batu Caves
Bersiap Pendakian
Untuk mencapai ke atas gua, kami berdua harus mendaki 272 anak tangga, menjulang hingga 100 meter. Huwaaaa serunya! Saya paling senang mendaki seperti ini, rasa penasaran ingin tahu di puncak ada apa yaaa (walaupun sudah banyak googling foto-foto Batu Caves, namun tak puas rasanya jika belum melihat langsung kan).

Pendakian Batu Caves sangat seru, kami berbarengan dengan berbagai macam turis asing dari banyak negara dan etnis. Dari bocah kecil sampai lanjut usia yang penasaran mendaki Batu Caves, juga dari orang-orang Hindu yang ingin beribadah di atas puncak Batu Caves.  Mereka diguduli dan diolesi oleh krim entah apa itu namanya. Mereka mendaki tanpa alas kaki. Mungkin memang seperti itu peraturannya. Saya juga melihat adat yang cukup unik dimana seorang laki-laki (sepertinya seorang Bapak) mendaki ke puncak Batu Caves dengan cara merangkak sambil seorang wanita meletakkan bayi di punggung laki-laki tersebut seperti main kuda-kudaan. Entahlah mungkin semacam upacara adat untuk kelahiran bayi (sotoooyyy)

Upacara Di Tangga Batu Caves
Saat pendakian, lucunya ada turis suami istri yang lanjut usia, dan melihat Febi sudah kelelahan, sedangkan saya masih semangat empat lima. Dia berkata : “Heii..you’re younger than  me, come on.” Katanya sambil menyemangati,    sedang istrinya tersenyum. Hahahaha, saya cuma nahan ngakak aja. Bagi yang takut dengan monyet, harap berhati-hati karena di tangga-tangga menuju puncak bertebaran monyet jahil yang sangat lihai merampas barang bawaan dan makanan.



Sampai di atas bahagia banget rasanya, tapi sayangnya agak tidak terawat dengan aroma tidak sedap. Di bagian dalam Batu Caves banyak stalaktit yang keren dengan jarak pandang ke atas yang cukup tinggi. Kami muter sebentar, kemudian kembali turun. Tidak ingin berlama lama karena perjalanan masih panjang.

Di atas kami sempat memutar otak untuk perjalanan selanjutnya, karena hari kemarin yang diluar ekspektasi membuat jadwal kami cukup kacau dari itinerary. Yaaa begitulah traveling, saat tidak sesuai dengan itinerary dan kondisinya, maka harus dipersiapkan untuk Plan B dan C. Kemudian kami memutuskan (dadakan) untuk menuju Mesjid Biru baru kemudian malamnya ke i-city

Stasiun KTM Batu Caves Persis Di Belakang Batu Caves
Kami berjalan ke arah samping Batu Caves, di sana ada stasiun kereta Batu Caves. Pintu keluar samping berada tidak jauh dari patung Dewa Murungan. Kami naik KTM menuju Shah Alam. Jarak tempuh  yang cukup jauh. Kereta yang kami naiki sangat kosong karena berangkat dari stasiun terakhir yakni Batu Caves. Febi sempat tertidur pun demikian dengan saya sampai pemberhentian kami di Shah Alam kami bangun. Agak nekat juga ketiduran di commuter padahal ga tahu jalan, cuma gahu turun di stasiun Shah Alam. Kondisi sekitar stasiun Shah Alam yang cukup  berbeda dengan LRT maupun MRT lain di pusat kota Kuala Lumpur membuat saya cukup hening beberapa saat. Lumayan sepi dan kiri kanan jarang pemukiman. Saya dan Febi sempat mampir dulu di kedai pinggir jalan untuk membeli gorengan tusuk sambil sepik-sepik nanya ke Ibu penjual, bagaimana cara ke Mesjid Biru Shah Alam. Kemudian diinformasikan kami harus menaiki Bus 529.

Terminal Bus
Sambil menikmati gorengan sosis berlumur saus, tiba-tiba bus 529 datang. Waahhh satu tusuk gorengan ekspres saya masukin mulut karena di dalam bus tidak boleh makan. Perjalanan kami adalah menuju terminal bus Shah Alam, kami pun lagi-lagi bertanya bagaimana cara sampai ke Mesjid Biru alias Blue Mosque. Agak susah menemukan orang yang tahu dimana Blue Mosque. Aneh.  Ternyata oh ternyataaaa nama beken mesjidnya adalah Mesjid Sultan. Pantesan kami tanya Blue Mosque gak ada yang tahu. Haisshh. Kalau kami tanya Masjid Sultan pasti mereka tahu.


Tampak Depan Blue Mosque
Jajanan di Selasar Masjid
Gorengan Tusuk Hahaha
Mesjid Sultan Hasanuddin
Kami berjalan menyusuri samping Mesjid dari jauh sudah kelihatan. Sampai di sana kami Sholat Ashar. Di selasar Mesjid ada yang berjualan namun ketika sudah Adzan maka langsung menutup lapaknya. Luar biasa.

Lapak Yang Langsung Ditutup Ketika Adzan Berkumandang
Setelah sholat maka kami melanjutkan perjalanan ke i-city. Namun ternyata oh ternyata bus yang kami harus naiki ke i-city Shah Alam sudah tidak ada, sehingga kami harus putar cara. Saat itu sudah pukul 19.30 waktu Kuala Lumpur. Bekal nanya ke mbak-mbak di samping kami yang menunggu  bus juga, akhirnya kami diberitahu bagaimana ke i-city. Kami berangkat bersama naik bus U80 dan turun dipemberhentian, lanjut ganti bus untuk menuju seksyen 2. Ternyata i-city yang terletak di seksyen 2 cukup sulit juga mengetahui letaknya, karena sudah malam dan tidak begitu terlihat plangnya. Untungnya kami diberitahu kakak itu turun dimana. Nama kakak yang baik hati itu adalah Kak Shasha. Kalo nggak dikasih tau sama kak Shasha maka kami nyasar deh. Beruntung Allah menolong kami.

I-City Bagian Depan Jalan Raya
Turun dari bus kami langsung menyebrang jalan ke i-city. Sekitar pukul 20.30 kami sampai di i-city, memang waktu yang pas karena malam hari lampu lampu dinyalakan dan gemerlapan. Saat di bagian depan i city, kami sedikit kecewa, ternyata lampunya hanya begitu saja. Namun ketika kami berjalan ke arah dalam... Woooooowww luar biasa. Banyak pohon tinggi yg luar biasa bejejer penuh lampu. Pohonnya seperti gemerlapan menyala. Nah ini baru tidak mengecewakan. Kami asik dengan foto-foto sampai lupa kalau belum makan malam. Beginilah kondisi dalam i-city.
Minta Tolong Difotoin sama Orang

Salah Satu Design Pohon Lampu di I City

Kami makan malam di KFC baru kemudian pulang. Saat pulang kami rencananya akan naik taxi sampai stasiun Padang Jawa. Namun kami tidak memberhentikan taxi dari depan pintu i-city, tapi kami berjalan jauh keluar, mendekat ke arah jalan raya, bahkan menyeberang jalan raya. Di sana kami memberhentikan taxi dan nego harga. Dapat dengan harga 10 RM. Ternyata supir taxi bilang kalau kami cegat taxi dari depan pintu masuk i-city, bisa kena 30 RM karena taxi tahu itu turis dan biasanya akan dikenakan biaya yang lebih mahal. Lagi lagi kami beruntung. Alhamdulillah. Di perjalanan kami mengobrol banyak dengan supir taxi yang ramah. Sampai di Padang Jawa sudah cukup malam alias jam 11 malam. Saat itu saya dan Febi jg cukup deg2an apakah terburu waktunya dan masih ada kereta.

Ternyata di depan kami, terdapat segerombolan keluarga yang sedang heboh membeli karcis. Tiket tak kunjung keluar karena mesin tidak bisa mendekteksi uang Malaysia yang kertas baru. Mesin akan lebih mudah mendeteksi dengan koin, maka ributlah mereka mencari koin. Saat itu kami juga ikut membantu saat mereka pusing mencari koin 50 sen. Alhasil setelah mereka selesai mendapatkan tiket untuk seluruh anggota keluarga, maka giliran kami  berdua yang ditolong, sampai akhirnya kami bisa membeli tiket atas bantuan mas-mas itu juga. Aman. Segerombolan keluarga sekitar 10 orang itu berasal dari Jakarta yang sedang berlibur ke KL, kami sempat mengobrol. Tak lama, datanglah kereta kami. Ya...ini adalah kereta yang terakhir beroperasi di hari itu. Fiuuh.

Mesin Pemesanan Tiket KTM, LRT dan MRT

Kami naik kereta terakhir dari stasiun Padang Jawa menuju KL Sentral. Wah. Agak membahayakan tapi sangat seru. Pengalaman naik kereta malam dengan isi penumpang yang super sedikit. Kami puas dengan foto-foto. Ternyata lebih mudah naik kereta lho ke I-city ketimbang naik bus. Saran saya, kalau mau ke Icity lebih baik naik Commuter dan turun di Stasiun Padang Jawa, setelah itu naik bus atau taxi ke Icity. Jaraknya tidak begitu jauh kok.

Akhirnya perjalanan hari ini selesai. Saking serunya perjalanan kami, tak terasa perjalanan yang jauh dan melelahkan tidak membuat kaki saya terasa pegal. Sampai di Pasar Seni pukul 00.00 malam dan kami masih saja sempat untuk keliling ke dataran merdeka untuk melihat-lihat dataran merdeka pada malam hari. Ternyata sudah sepi, namun tidak mematahkan semangat kami untuk berfoto.

Di perjalanan pulang, kami melihat truk air di pinggir jalan Central Market. Persis mobil keliling yang menyiram tanaman di kampus UI atau tanaman di pinggir jalan raya Jakarta yang pernah saya lihat. Penasaran saya pun mendekat, dan ternyata itu adalah mobil untuk membersihkan trotoar jalanan di KL. Jadi ada petugas yang menggunakan sepatu boot dan sikat panjang, mereka menyikat dan membersihkan trotoar setiap malamnya. Luar biasa pemerintah Malaysia memelihara fasilitas umumnya. Mereka mengedepankan kenyamanan rakyat dan wisatawan. Pantes aja kinclong banget trotoarnya. Bersih. Bukan hanya di sapu tetapi juga di sikat. Wuiih.

Di sekitar Central Market memang ada gedung-gedung tinggi, dan ternyata di pelatarannya berjejer orang-orang tuna wisma yang tidur beralaskan koran. Saya pernah dengar juga bahwa sekitar Central Market dan area Pasae Seni digunakan untuk rumah singgah. Jadi untuk orang-orang yang tidak memiliki tempat menginap, bisa tidur di sana, tapi yaaa dengan alas tidur sendiri dan siap-siap pagi-pagi sudah harus bersih lagi.

Berikut pengeluaran saya di hari kedua :
LRT ke KL Sentral @ 1 RM x 2 = 2 RM
Cable Car @ 6 RM x 2 = 12 RM
Bus Pulang @ 3.4 RM x 2 = 6.8 RM
Taxi ke Batu Caves = 10 RM
Minuman Kaleng @ 1 RM x 2 = 2 RM
KTM ke Shah Alam @ 3.9 RM x 2 = 7.8 RM
Bus No. 529 @ 1 RM x 2 = 2 RM
Sosis dan Gorengan Stick @ 3 RM x 2 = 6 RM
Beli Minuman 3 RM + 2 RM = 5 RM
Bus U80 @ 1 RM x 2 = 2 RM
Bus ke Seksyen 2 @ 50 sen x 2 = 1 RM
KFC Dinner 16 RM
Aqua di Sevel @ 1.3 RM x 2 = 3.6 RM
Taxi ke Padang Jawa 10 RM
KTM dari Padang Jawa – KL Sentral @ 2.9 RM x 2 = 5.8 RM
LRT KL Sentral – Pasar Seni @ 1 RM x 2 = 2 RM
Jajan di Masjid 3 RM
Total = 96 RM untuk 2 orang