Wednesday, August 13, 2014

Packing List Barang Bawaan Traveling

Berencana traveling ke luar negeri, pasti tidak mau ketinggalan barang bawaan yang sudah dipersiapkan. Nah, saya akan share list barang bawaan yang penting dan perlu dipersiapkan serta tips barang bawaan untuk traveling ke luar negeri.

DOKUMEN.
1. Paspor
2. KTP atau ID lain
3. Itinerary perjalanan
4. Itinerary tiket pesawat
5. Bukti pemesanan hotel
6. Serta dokumen dokumen lain yang kiranya dibutuhkan

Tips : Silakan fotocopy dokumen tersebut dan berikan kepada travelmate kita. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di sana, maka persiapkan cadangannya. Begitu pula dengan travelmate kita, dokumen copy miliknya akan kita simpan. Bukan hanya hardcopy, tapi scan semua dokumen tersebut dalam bentuk softcopy dan masukkan dalam email. Hal ini untuk jaga-jaga jika terjadi hal yang tidak diinginkan.

UANG.
1. Mata uang setempat
2. ATM (Mastercard/ Visa)
3. Kartu Kredit

Persiapkan mata uang negara tujuan sejak keberangkatan. Hitung pengeluaran apa saja yang dibutuhkan secara seksama untuk menghindari kekurangan uang atau malah pemborosan uang. Jika kamu memiliki uang dalam bentuk dollar maka bisa dibawa untuk jaga-jaga. Uang bukan hanya dalam bentuk kertas atau koin namun bisa juga ATM. Jika nanti kekurangan uang .kamu bisa mengambil di mesin ATM negara sana, gunakan yang ada logo Master Card. Kartu ATM BNI bisa dipergunakan dengan charge 35.000 sekali transaksi.

Tips : Jika kamu membawa mata uang setempat dan sudah memperhitungkan biaya yang akan dikeluarkan selama bepergian, maka saran saya adalah tidak menempatkan seluruh uang dalam satu tempat (dompet). Bagilah uang tersebut menjadi 3 bagian dan letakkan dalam 3 tempat yang berbeda. Misalnya di dalam dompet, di dalam koper dan di dalam ransel. Usahakan letakkan di posisi yang aman. Pembagian uang ini dalam rangka tindakan preventif ketika salah satu barang kita hilang, kamu masih memiliki persediaan uang yang lain.

PETA.
1. Buku pedoman negara tersebut
2. Peta kota secara keseluruhan
3. Peta transportasi
4. Peta lokasi-lokasi wisata

Tips : Jika kamu memiliki buku panduan traveling ada baiknya dibawa. Biasanya buku panduan traveling jg menyediakan peta transportasi seperti stasiun MRT atau BTS, bahkan peta lokasi wisata. Jika kamu tidak punya, jangan khawatir, kamu bisa mendapatkannya ketika sudah sampai di lokasi negara tujuan. Ketika kamu sampai di Airport, maka yang harus kamu cari selain pintu keluar adalah pusat informasi. Di sana kamu bisa mendapatkan peta dan buku panduan secara gratis. Saran saya ambil lebih dari satu (toh gratis kan). Siapa tahu hilang atau rusak, maka kamu masih memiliki persediaannya.

BAJU.
1. Baju atasan
2. Jeans/ Bawahan
3. Pakaian Dalam
4. Pakaian Tidur

Tips : Bawalah baju secukupnya dan tidak berlebihan. Ketika bepergian jauh, maka yakinlah bahwa kamu seharian akan menggunakan baju yang sama. Ketika malam baru menggunakan baju tidur. Jika kamu ada perjalanan menggunakan bis malam, maka yakinlah kamu akan tidur dengan baju yang sama, yang kamu pakai tadi pagi. Kamu tidak membutuhkan baju tidur. Perhitungan baju ini disesuaikan juga dengan medan lokasi traveling kamu. Jika kamu berniat pergi ke daerah yang butuh jalan kaki banyak, akan tidak cocok jika memakai dress yang merepotkan. Jika kamu ke tempat yang agak dingin, maka gunakan pakaian yang agak tebal. Jika hostel menyediakan tempat menjemur, maka bisa kamu pergunakan untuk mencuci dan menjemur pakaian kamu.

ELEKTRONIK dan PERKABELAN.
1. HP
2. Kamera
3. Powerbank
4. Charger Kamera
5. Charger HP
6. Charger Powerbank
7. Colokan Cabang
8. Colokan Universal
9. Tongsis

Tips : Gunakan pocket kamera karena lebih ringan dan memudahkan ketimbang membawa kamera DSLR yang cukup berat dan memakan tempat. Namun jika kamu mau hasil yang lebih bagus dan suka fotografi tidak masalah jika membawa kamera DSLR dan perlengkapannya. Colokan cabang dipergunakan untuk cas HP dan Kamera dalam waktu yang bersamaan. Colokan universal adalah colokan yang digunakan di negara tersebut. Misal di Singapore dan Malaysia menggunakan colokan lubang 3, berbeda dengan Indonesia yang menggunakan colokan lubang 2. Maka, kamu membutuhkan colokan universal dengan ujung 3 namun berlubang 2 sehingga bisa dipergunakan untuk peralatan colokan Indonesia.

FOOD DRINK.
1. Tempat Makan
2. Tempat Minum 500-1000ml
3. Sendok Traveling

Tips : Traveling memang identik dengan kuliner, kita bisa mencari makan sepanjang waktu di negara tersebut. Namun membawa tempat makan agaknya menjadi hal yang bermanfaat juga. Jika perjalanan berangkat cukup lama, maka kamu bisa membawa bekal dari rumah yang dimakan ketika sampai di tempat tujuan, terlebih jika kamu tidak ada waktu untuk membeli makanan. Kotak makan juga bisa dipergunakan untuk membawa kelebihan makanan atau bekal untuk perjalanan yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Tentunya ini akan lebih menghemat pengeluaran. Ketika pulang, kotak makan juga bisa dipergunakan untuk meletakkan barang barang bawaan kecil. Intinya sih kamu harus rajin cuci kotak makan yaaa selepas dipakai. Bawalah serta tempat minum ke mana pun tujuan kamu, karena kamu akan sangat membutuhkannya. Jika habis, maka tersedia banyak isi ulang minum gratis. Jangan membeli mineral water, harganya super mahal dibanding di Indonesia (kecuali kalau kepepet).

PERALATAN MANDI.
1. Handuk ukuran kecil
2. Sabun Cair kecil
3. Sikat gigi
4. Shampo Sachet
5. Pasta gigi
6. Deodorant
Tips : Gunakan handuk ukuran kecil untuk menghemat isi koper, biasanya di hotel akan disediakan handuk juga. Jika kamu memiliki travelmate, maka bisa sharing alat mandi. Misal kamu membawa pasta gigi dan shampo sedangkan travelmate kamu membawa sabun cair.

MAKE UP.
1. Kapas
2. Olive oil sedikit
3. Facial wash kecil
4. Lotion anti UV kecil
5. Bedak
6. Lip balm
7. Eyeliner
8. Peniti, jarum, bros
9. Ikat rambut atau jepitan

Tips : Jika kamu mempunyai special treatment untuk wajah, maka pindahkan ke wadah kecil. Bawa peralatan make up standar saja, jangan rempong cyin. Kamu mau traveling sih, bukan mau pemotretan. Tempatkan jarum, peniti dan bros dalam satu wadah.

OBAT-OBATAN.
1. Koyo
2. Hansaplast
3. Tolak Angin
4. Obat Pusing
5. Obat Demam
6. Obat Diare
7. Freshcare/ Minyak kayu putih
8. Obat-obatan pribadi lainnya

Tips : Bawa secukupnya, kamu mau traveling dalam waktu singkat bukan mau buka praktik dokter kecil kan :P Tadi itu adalah penyakit yang mungkin muncul di negara orang. Bawa obat dari negara sendiri, kalau di sana belum tentu cocok. Belilah koyo ukuran besar dan lentur. Sangat membantu ketika kaki pegal dan rasanya mau somplak setelah seharian berjalan kaki.

TAMBAHAN.
1. Tissue Basah
2. Tissue Biasa
3. Mukena dan Sajadah kecil
4. Pembalut (mungkin jatahnya menstruasi saat traveling)
5. Notes kecil
6. Pulpen
7. Sandal Jepit
8. Kaos Kaki
9. Jaket
10. Goodie bag
11. Plastik (minimal bawa 2 plastik besar)
12. Plastik bening kecil untuk barang-barang berharga agak tdk basah
13. Payung
14. Topi / Kacamata 

Tips : Bawalah serta tissue basah dan tissue biasa di ransel sehari hari kamu, karena penting untuk digunakan. Traveling bukan berarti lupa ibadah ya, bawa mukena jangan lupa. Jika bepergian jauh boleh loh shalatnya di jamak. Meski jaman sudah canggih apa-apa ditulis di HP, bukan berarti pulpen tidak penting. Pulpen akan dipergunakan sewaktu-waktu dibutuhkan misalnya untuk pengisian borang fiskal. Jika kamu pergi menggunakan sepatu, maka ada baiknya kamu membawa sendal jepit nyaman yang bisa dipergunakan untuk basah-basahan. Kaos kaki selalu dipakai jika kamu menggunakan sepatu baik sepatu sport maupun flatshoes bahkan crocs sekalipun. Selain menghindari belang kaki, kaos kaki juga mencegah luka lecet pada haki karena seharian berjalan kaki. Kaos kaki jg bisa dipergunakan malam hari ketika suhu turun.

CATATAN PENTING
- Bawa koper ukuran kabin agar bisa dimasukkan ke dalam kabin pesawat
- Packing barang bawaan super efisien tempat. Saat berangkat, usahakan posisi setengah kosong setengah terisi. Karena pada saat pulang kamu akan mengisi setengah kosong koper kamu dengan oleh-oleh.
- Gunakan lock key untuk koper
- Gantung tanda pengenal koper dan sertakan alamat dan kontak kamu jika koper kamu hilang.

"Packing adalah gerbang menyenangkan dari Traveling". -Noni Halimi

Selamat Packing ya!

Check in Penerbangan Internasional

Jika kamu akan bepergian ke luar negeri atau penerbangan internasional, tentunya akan jauh lebih banyak persiapan ketimbang penerbangan domestik. Salah satunya adalah ketika di bandara dan menunggu keberangkatan.

Jika telah tiba waktunya hari kamu berangkat untuk penerbangan internasional, maka perhatikan tiket pesawat kamu, lihat jadwal penerbangan terutama boarding  dan take off. Jika untuk penerbangan domestik kamu disarankan untuk sampai bandara 1 jam sebelum take off, maka untuk penerbangan internasional kamu disarankan untuk tiba di bandara 2 jam sebelum take off. 

Untuk maskapai Air Asia dan Tiger Airways penerbangan baik domestik maupun internasional ada di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno Hatta. Perjalan ke Soekarno Hatta bisa ditempuh dengan kendaraan pribadi, taxi, atau bus Damri (Pasar Minggu, Blok M, Lebak Bulus, dll) dengan harga 30.000. Terminal 3 berada di paling depan bandara, biasanya akan diturunkan pertama oleh Bus Damri. Silahkan kamu turun dan cari pintu masuk Keberangkatan (Depature). Tunjukkan bukti pemesanan tiket kamu di pintu masuk bandara kepada petugas, akan lebih baik jika bukti pemesanan dalam bentuk hardcopy atau print.  Masuklah ke dalam dan scan barang bawaan kamu di pintu masuk. Jangan lupa untuk memisahkan HP, barang elektronik, maupun barang yang mengandung logam seperti jam tangan dan ikat pinggang. Jika menggunakan jaket maka lepaskan jaket. Masuk dan berjalanlah ke tempat antrian check in. Perhatikan petunjuknya, carilah maskapai penerbangan Internasional.

Untuk Air Asia tersedia fasilitas Online Check in yang terdapat di Website. Ada pula fasilitas self check in yakni berupa mesin yang berjejer di pintu masuk dala. bagian dalam tempat check in. Caranya sangat mudah, kamu tinggal input kode booking penerbangan kamu, dan pilih siapa saja penumpang yang akan kamu check in. Kamu juga bisa melakukan check in untuk penerbangan pulang sekaligus, sehingga pada saat kamu pulang nanti tidak terburu-buru untuk mengejar waktu check in dan lama mengantri. Mesin akan mengeluarkan kertas boarding pass. Simpan baik-baik, jangan sampai hilang, terutama boarding pass untuk penerbangan pulang. Jika kamu membawa barang bawaan yang akan diletakkan di bagasi, maka kamu harus check in di tempat check in biasa. Tiger Airways belum memiliki fasilitas self check in sehingga kamu juga memerlukan untuk mengantri.

Apa yang dibutuhkan ketika antri untuk check in. Persiapkan passpor dan bukti booking tiket pesawat yang sudab di print. Petugas akan melakukan pengecekan data. Siapkan juga uang pajak bandara sebesar 150.000 rupiah yang akan dibayarkan di konter check in pada saat yang sama. Jika kamu mau, kamu bisa request kepada petugas untuk duduk di posisi pinggir pesawat dekat jendela dan sayap pesawat. Duduk di posisi dekat jendela akan memberikan sensasi berbeda dan bisa melihat pemandangan secara leluasa. Sedangkan posisi dekat dengan sayap pesawat adalah posisi dengan tingkat turbulensi terkecil. Setelah petugas selesai cek, maka kamu akan mendapatkan kertas boarding pass. Jangan lupa untuk mengambil kembali paspor atau KTP (jika diperlukan) dari petugas. Pastikan tidak ada barang yang tertinggal.

Berjalanlah ke sisi sebelah kiri antrian check in, masuk melalui pintu buka tutup otomatis. Naiklah ke lantai atas. Lokasi boarding room untuk maskapai Air Asia dan Tiger Airways baik Domestik maupun Internasional berada di sana. Baca isi kertas boarding pass kamu, di sana tertulis Boarding Gate Open yakni kapan waktunya boarding room dibuka, Boarding Time yakni kapan waktunya kamu meninggalkan Boarding Room dan bersiap ke pesawat, Take Off atau waktunya kamu lepas landas, serta Waiting Gate yakni tempat kamu menunggu di Boarding Room. 

Di lantai ini kamu akan berhadapan dengan petugas imigrasi. Ini adalah batas kamu akan keluar dari negeri ini. Posisi Imigrasi untuk Air Asia ada di paling kiri. Siapkan dokumen kamu yang berupa paspor dan boarding pass. Antrilah sesuai jalur dan ketika akan sampai urutan kamu, berdirilah di belakang garis. Penumpang akan maju satu per satu untuk menghadap petugas imigrasi. Bukan rombongan ya, apalagi minta temenin berduaan. Sendiri-sendiri, cyiiiin! Tunjukan paspor dan boarding pass kamu, pandangan wajah ke depan, lihat muka petugas imigrasinya dan senyumin aja kalo berani, hehehe. Biasanya petugas akan menanyakan ada keperluan apa pergi ke luar negeri, berapa hari, atau basa basi lain. Tanggapi dengan elegan dan senyum. Petugas akan memberi stempel keluar Bandara Internasional Soekarno Hatta di paspor kamu. Jangan banyak basa basi dengan petugas, apalagi sampai minta nomer HP, jangan. Kamu akan memghambar antrian di belakang kamu. Silakan kamu berjalan masuk ke petugas selanjutnya yakni pemeriksaan dokumen boarding pass. 

Setelah itu, kamu akan melewati mesin scanning selanjutnya. Jika kamu membawa air mineral atau barang cair lain dengan ukuran lebih dari 100ml maka siap-siap harus merelakannya hilang. Mesin scan ini akan mendeteksi cairan. Jika kamu membawa botol minumal berisi air, mau diletakkan di paling bawah koper sekalipun pasti akan ketauan. Saya sarankan untuk membawa botol kosong saja, isi ketika nanti sampai di lokasi tujuan. Jangan membawa parfum dala. jumlah banyak karena akan disita petugas. Setelah semua oke, maka duduk manis di boarding room. Di sana banyak colokan listrik, bisa kamu manfaatkan untuk cas hp. Toilet berada di ujung ruangan, bersebelahan dengan musholla. 

Jika waktunya sudah tiba, dengarkan notifikasi dari pengeras suara. Apabila sudah masuk boarding time, maka kamu tinggal mengikuti arahan petugas untuk antri. Petugas akan memeriksa kembali maskapai penerbangan, tujuan penerbangan, dan nomor kursi. Setelah itu, gunakan eskalator turun. Dan keluar dari ruangan sudah menunggu Bus Air Asia yang akan mengantar kamu menuju pesawat. Naiklah ke dalam pesawat dan jangan lupa berdoa ya :) Demikian sekilas tentang check in bagaimana Cara Check In di Bandara Terminal 3 Air Asia dan Tiger Airways, semoga membantu ;)

Koper atau Ransel

Berpergian ke luar negeri ala backpacker memang menyenangkan. Keliling tempat-tempat wisata tanpa tour guide, makan makanan khas daerah tersebut dengan rekomendasi dari tripAdvisor, menginap dengan harga dormitory, pengeluaran dan belanja yang irit. Backpacker adalah istilah untuk orang yang berpetualang ke suatu tempat dengan dana yang minim namun memanfaatkan sedemikian rupa sehingga perjalanannya menjadi efektif, efisien dan murah. Sering kali backpacker diindentikan dengan orang yang bepergian dengan backpack atau ras ransel. Memang ada benarnya sih, biasanya backpacker menggunakan ransel besar dalam perjalanan mereka. Semua perlengkapan dimasukan ke dalam tas ransel besar, bahkan sepatu pun digantung di sisi kanan kiri tas. Ransel mereka menjadi berubah fungsi ketika malam menjadi bantal atau sandaran kepala.

Tidak ada salahnya jika bepergian ke luar negeri dengan ransel, namun secara pribadi saya lebih senang menggunakan koper kabin, dan sebuah ransel kecil serba guna. Mengapa? Saya memang terbiasa jalan kaki dalam jarak tempuh yang jauh, bukan suatu masalah jika harus berjalan kaki seharian ke banyak tempat wisata atau mengendarai transportasi umum. Namun kendalanya adalah jika membawa ransel yang berat, tentunya akan menghambat gerak saya. Saya tidak terlalu tinggi dan kesulitan untuk membawa barang banyak dalam waktu yang cukup lama. Berbeda halnya dengan wisatawan asing yang bertubuh tinggi dan jauh lebih enteng untuk memikul tas ransel super besar. Terlebih memang fisik mereka biasa untuk hal seperti itu. 

Saya pernah traveling menggunakan ransel besar. Memang rasanya efisien dengan ruangan yang begitu besar dapat memuat banyak barang. Namun ransel menjadi sangat berat, dan mau tidak mau harus saya panggul (berasa bawa karung beras). Alhasil pulang dari perjalanan tersebut saya harus rela pasang banyak koyo di pundak. Nyeri. Akhirnya untuk perjalanan selanjutnya saya tidak mau menggunakan ransel lagi. Saya memilih koper ukuran kabin dan ransel kecil serba guna. 

Mengapa koper ukuran kabin?

Berpergian dengan biaya minim ala backpacker pastinya akan memikirkan bagaimana cara memangkas biaya-biaya yang mungkin keluar. Salah satunya adalah biaya bagasi pada maskapai penerbangan. Jika kita menggunakan koper besar, tentunya tidak dapat dimasukkan ke dalam kabin, sehingga mau tidak mau kita harus memasukkannya ke dalam bagasi which is untuk mendapatkan bagasi kita harus membeli bagasi yg artinya adalah pengeluaran. Big no. Kita minimalisir pengeluaran bagasi dengan membawa koper kabin. Dengan menggunakan koper kabin yg lebih kecil, kita akan lebih selektif dalam belanja dan membeli oleh-oleh. Pertama kali yang terpikir ketika membeli oleh-oleh adalah "koper masih muat gak yah?" Akhirnya adalah bisa menekan biaya belanja karena harus banyak mikir, takut gak muat di koper, heheehee. Beda halnya jika membawa koper besar, tentu bukan masalah membeli banyak hal, toh bisa masuk koper semua. Akhirnya adalah terjadinya pemborosan dan pengeluaran tidak terkontrol.

Koper kabin adalah koper berukuran small yang bisa diletakkan di kabin pesawat. Koper tersebut bisa dibawa naik ke pesawat bersama kita. Dengan koper kabin, akan menghemat waktu perjalanan kita karena begitu landing, kita tidak perlu antri lagi untuk klaim bagasi. Ukuran koper kabin ini adalah 56cm × 36 cm × 23 cm atau sekitar 21". Maksimal berat koper adalah 7 kg. Peraturan masing-masing maskapai berbeda namun kurang lebih seperti itu. Saya pernah siiih melihat orang yang membawa koper agak besar namun diperbolehkan masuk kabin. Saya juga tidak paham, mungkin pengawasannya sedang longgar. Namun ada baiknya jika mengantisipasi di awal, karena di negara tujuan lebih strict terhadap barang bawaan wisatawan. Di Malaysia contohnya, kabin kelebihan berat 1kg akan ditolak. Bagasi kelebihan 1kg pun akan dikenai biaya cukup mahal. 

Mengapa ransel kecil serba guna?

Yang saya maksud dengan ransel kecil serba guna ini adalah sebuah tas punggung dengan ukuran kecil yang memiliki banyak kantong dan berbahan anti basah. Banyaknya kantong pada ransel bisa dipergunakan untuk meletakkan barang-barang kecil yang penting seperti dompet paspor, uang, hp, perlengkapan charger, kamera, tissue, peniti, jarum, permen dan lain sebagainya. Makin banyak kantong akan making banyak sisi kegunaan yang bisa dimanfaatkan. Dengan ukuran yang kecil juga akan memudahkan kita untuk membawanya. Tidak terlalu berat.

Jadi, untuk bepergian ke luar negeri, saya lebih memilih menggunakan koper kabin dan ransel kecil ketimbang ransel backpacker. :)

Sunday, August 3, 2014

Support Hijab

Let's support our friend to wear Hijab ❤

Putro Iyun Siluet

Putro Iyun Siluet
Taken From Cisarua Riverside Restaurant
Photograph by us
Selfiiiieeeee hahhahaa

Our Siluet

Malam di Marina Bay

Suasana lampu gedung yang menjulang dan atraksi lampu di perairan tiba-tiba saya teringat dengan Marina Bay Sand tahun 2012 silam. Saat itu hampir tengah malam namun kami masih semangat empat lima untuk menyusuri sekitar Merlion Park dan Marina Bay. Kaki sih sudah kerasa somplak banget, mengingat lokasi hostel kita yang kurang strategis di daerah Little India. Bagi yang ingin menikmati Merlion Park dan sekitarnya, saya sarankan untuk malam hari karena lampu-lampu dinyalakan dan suasana kota makin hidup. Patung Merlion singa air mancur pun akan menyala ketika malam, menambah kecantikan kota kecil itu. 

Marina Bay
Bertiga
Merlion Park

Pasangan Customer Service Ala-Ala

Di kantor saya sedang marak debet intern alias cinta lokasi di kantor. Dulu jaman saya masih OJT agaknya sangat tidak mungkin yang namanya cinlok. Entah angkatan saya yang memang gak cocok buat digombalin atau kami terlalu nyaman dengan kondisi friend zone. Namun keadaan cukup berbeda setahun belakangan, rupanya banyak benih-benih cinlok tumbuh subur. Iseng saya menghitung kurang lebih ada 8 pasang atau 16 pegawai. Hal ini tentunya akan mengguncang bisnis perusahaan hehhehe. Bagaimana tidak, peraturan perusahaan tidak mengijinkan pasangan suami istri bekerja dalam satu payung perusahaan. Hal itu berarti jika ada pasangan cinlok yang akan menikah dalam satu kantor, maka wajib bagi salah satu dari mereka untuk resign atau mengundurkan diri dari perkerjaan. Makin banyak yang resign tentu jumlah pegawai akan semakin sedikit dan tentunya berpengaruh ke kinerja bisnis perusahaan kan?

Saya dan rekan-rekan sering bercanda bahwa tahun 2014 ini diprediksinya menjadi tahun punahnya Cabang Fatmawati. Satu per satu pegawai wanita mulai mengundurkan diri karena ingin menikah dengan salah satu pegawai Cabang Fatmawati juga. Sudah 2 orang resign dan menikah. Sisanya menunggu waktu. Kebanyakan yang resign adalah pihak wanita. Benar-benar punah deh Fatmawati. Baiklah saya coba menghitung pegawai yang debet intern di Cabang Fatmawati. Andhini-Fatih, Dini-Heru, Auliya-Faizal, Dinda-Dimas, Christy-Alfian, Anggi-Helmy, Luana-Adi, Rona-Rere(Cabang lain). Buanyak banget yaaa. Kalau kata orang tua di Fatmawati begitu menanggapi fenomena cinta lokasi ini "Bukankah baik? Itu artinya Fatmawati sebagai sarana mempertemukan jodoh dan menyambung silaturahim" Okelah kalau tetua sudah bicara begitu, bocil-bocil ini ikut saja.

Rekan customer service saya pun ikut dalam adegan debet intern ini. Insya Allah mereka akan meresmikan pada awal tahun depan. Namanya Andhini. Sedangkan pasangannya adalah Fatih dari unit Operasional.

Suatu hari pada Jumat yang cerah, kebetulan nasabah kami belum membludak. Saat itu Andhini sedang melayani nasabah. Sebelah meja Andhini adalah meja milik Mba Iing yang juga ada nasabah. Ternyata keperluan nasabah tersebut adalah bertemu dengan unit operasional, maka dipanggillah Fatih untuk turun ke Banking Hall lantai 1. Fatih pun duduk mengobrol dengan nasabah Mbak Iing. Adegan yang jarang terjadi. Secepat kilat Mba Iing langsung meminjam HP saya dan mengabadikan dalam foto. Ndilalah kok ekspresi mereka berdua sama-sama lagi mesem gtu. Lucuuuu! Walaupun personel unit layanan akan berkurang satu, tapi kami unit layanan super mendukung rencana baik mereka. Insya Allah dimudahkan yaaa Andhin dan Fatih :)

Candid by Mbak Iing

Kanjeng Mami Bebas Tugas

Kantor saya pernah dipimpin oleh tangan dingin seorang wanita yang bernama Ibu Retno Widiastutiningsih. Beliau adalah Operational Manager kami dari bulan Juni 2011 sampai dengan bulan September 2013. Hanya dalam waktu 2 tahun beliau bisa merapat dengan kami semua, bahkan dekat dengan anak-anak frontliner. Saya pernah beberapa kali bolak balik ke unit layanan-processing karena saat itu unit layanan dan unit processing sedang butuh SDM. Di satu pihak saya dibutuhkan oleh processing, di pihak lain Bu Retno tidak ingin melepas saya dari unit layanan. Bahkan saat saya ditugaskan di KCPS JPU Sudirman dan terjadi migrasi ke Cabang Bendungan Hilir, beliau lah yang bersikeras untuk menarik saya kembali ke Cabang Fatmawati. Akhirnya pegawai KCPS JPU Sudirman migrasi ke Bendungan Hilir, hanya saya seorang diri yang kembali ke Cabang Fatmawati.

Beliau adalah pribadi yang super ceria dan ramah. Jika ngobrol dengan Ibu, maka seperti mengobrol dengan Eyang sendiri (maaf ya bu, mirip banget soalnya, sangat mengayomi dan doyan bercerita). Padahal usia beliau sama dengan Ibu saya, kelahiran tahun 1961, namun berhubung suara beliau lemah lembut, jadi mirip sekali dengan Eyang saya. Banyak hal yang sering kami diskusikan serta bicarakan. Belakangan ada yang kasih selentingan becandaan bahwa saya adalah anak kesayangan Ibu Retno. Saya tidak mengambil pusing, karena menurut saya, Ibu Retno memang baik sekali dengan semua bawahannya. Dan saya sangat menghormati itu.

Ketika kami mendapatkan kabar bahwa Ibu Retno akan dimutasi ke Kantor Pusat, bukan main sedihnya. Kaget, syok dan tidak ingin berpisah dengan Ibu Retno. Saat itu saya sedang ditugaskan di unit Processing, bukan di unit layanan. Kami membuat skenario dan acara pelepasan Ibu Retno. Luar biasa, niat banget. Kami sampai pesan tenda, pesan prasmanan serta soundsystem. Kami akan membuat acara pelepasan Ibu Retno. Dengan waktu yang minim dan dadakan, tentu rundown acara dan MC juga ditunjuk dadakan. Acara akan dilakukan pada hari Jumat malam, dan penunjukan MC baru dilakukan pada Kamis malam (pake banget). Malem banget. Bagaimana tidak, jam 9 malam. Itu pun pake sistem aklamasi, alias yang ditunjuk harus mau.

Pak Yudi, yakni Penyelia Unit Processing sudah sounding selepas Shalat Maghrib, bahwa saya dan Fatih (unit Umum) yang akan menjadi MC acara pelepasan Ibu Retno. Awalnya saya pikir bercanda, jadi saya tanggapi dengan ketawa. Habis shalat Isya kok makin serius, terlebih ketika saya dipanggil ke ruangan Pak Yudi seorang diri, yang artinya Coaching Time. Setiap Pak Yudi memanggil anak buahnya untuk berbicara face to face dengannya itu artinya adalah waktunya coaching. Waktunya diskusi dan obrolan menguras air mata, hehee. Saya pernah dua kali kena coaching seperti ini. Yang pertama saat penunjukan MC Pelepasan Ibu Retno, dan yang kedua adalah ketika saya diumumkan promosi menjadi Penyelia Layanan Cabang. Fiuh penuh motivasi yang menguras air mata.

Okey, saya paham. Dengan dipanggilnya saya ke ruangan dan kena coaching, itu artinya ocehan saya harus jadi MC yang saya pikir becanda, adalah serius. Beliau mengatakan "Oce (panggilan orang kantor untuk saya), Ibu (panggilan untuk Ibu Retno) itu sayang banget lho sama Oce, bukan satu dua orang yang ngomong. Saya juga sering dapet cerita dari Bu Retno tentang Oce. Masa di hari-hari terakhir Ibu tugas di Fatmawati, Oce gak mau memberikan sesuatu yg terbaik? Akan lebih menyentuh kalau Oce yang jadi MC perpisahan" Saya cuma bisa ngangguk pasrah. Brooo...belom bikin skenario acaranya mau ngapain aja, mana katanya mau di bikin panggung. Dan yang bikin saya makin lemes.....ini pertama kalinya saya jadi MC acara lho. Doohh..belum pernah nih sebelumnya men.

Nervous? Jangan ditanyaaaa. Rekan-rekan unit processing sudah cekakakan menggoda saya sejak Jumat pagi. Sengaja hari itu saya tidak diberikan aplikasi Griya untuk di advis. Kata Pak Yudi, bonus buat Oce yang mau jadi MC. Saya dan Fatih latihan di ruang Processing, diiringi dengan gelak tawa cemong-cemong yang nonton. Kurang aseeem. Tak lupa saya juga membuat contekan untuk saya bawa ke atas panggung. Ya maklum MC amatir laaahh.

Sebenarnya bukan saya takut nervous di atas panggung karena jadi MC. Saya lebih takut kalau nanti saya nangis di atas panggung saking sedihnya pisah sama Bu Retno. Kan nggak lucu MC-nya nangis sampe nggak bisa ngomong. Tapi kata teman-teman saya, "justru itu kakak oce, jadi makin sedih acaranya kaaan". Baiklah, saya beranikan diri.

Acara demi acara saya dan Fatih buka dengan lancar, sampai ke puncak acara yakni ucapan perpisahan dari Bu Retno. Bukan main, saya rasanya pengen ke kamar mandi aja buat nangis. Hampir seluruh pegawai menangis malam itu merasakan kehilangan Bu Retno. Bahkan, Pak Yudi yang coaching saya juga nangis, cemong-cemong yang mukanya sangar gitu pada nangis. Sungguh inilah sosok pemimpin yang dicintai bawahannya. Dalam pidato perpisahannya, Bu Retno menyampaikan, "Saya sudah puluhan tahun bekerja di BNI dan BNI Syariah, saya sudah mutasi berkali-kali. Tetapi baru kali ini saya merasakan ikatan yang sangat kuat, sampai saya merasa seperti memiliki keluarga di sini. Cuma di Fatmawati saja." Spontan kami makin berurai air mata.

Lepas acara, lanjut adegan salam-salaman dengan Bu Retno. Tadinya saya sudah menahan tangis sekuat tenaga, saat bersalaman dan berpelukan dengan Ibu, maka tidak bisa terbendung lagi, saya nangis sejadi-jadinya. Pesan Ibu saat itu ketika memeluk saya adalah "Noni, yang kuat ya, kamu pasti bisa lebih berkembang lagi di Fatmawati" Entah apa itu maksudnya. Belakangan saya tahu bahwa Bu Retno adalah salah satu pengusung promosi saya menjadi Penyelia Layanan Cabang. Mungkin Ibu ingin memberikan petuah sebelum saya melewati hari-hari berat selanjutnya. Supaya saya tetap kuat.

Yang membuat kami kangen dengan celotehnya Bu Retno adalah gaya khas beliau bercerita yang ekspresif, serta ritual untuk foto bersama selepas Morning Briefing. Ketika Morning Briefing usai, segala hal-hal terkait unit sudah disampaikan, kemudian dilanjutkan pembacaan visi misi, budaya kerja, doa dan yel-yel. Maka selanjutnya kami beratur di banking hall untuk bersiap foto. Entah sudah berapa banyak foto yang kami hasilkan setiap usai morning briefing. Heheehee

Tidak terasa sudah lewat beberapa bulan setelah perpisahan Bu Retno. Pada bulan Juni 2014 lalu, Bu Retno dinyatakan pensiun dan bebas tugas. Lepas dari tugasnya, beliau tetap main ke Fatmawati dan mengirimkan dua box besar tahu isi dan pastel untuk anak-anak Cabang. Ini cemilan khas Bu Retno yang selalu saya rindukan. Beberapa hari ketika Ibu mutasi ke Kantor Pusat, beliau membawakan cemilan tersebut untuk Cabang Fatmawati. Pun demikian saat beliau dinyatakan pensiun, beliau juga mengirimkan cemilan ini. Bahkan orang kantor pusat saja tidak pernah dibawakan tahu isi super dan pastel yummy ini, eheehehe.

Teriakan kami menyambut Ibu Retno datang ke Cabang berhamburan, senang rasanya bisa ketemu Bu Retno lagi. Kali ini tidak dengan seragam batik atau baju dinas lainnya, namun gamis ungu polos Ibu Retno dan seuntai senyum khas beliau. Tak lupa kami melaksanakan ritual foto bersamaaaaa. Yeaay. Selamat bebas tugas Ibu, semoga sehat selalu, makin berkah dan Hasanah kehidupannya. Terima kasih atas segalanya. Love you.

Ngabubundut

Sore hari saya dan Putro berencana akan ngabuburit di Masjid Ukhuwah Islamiyah (UI), satu-satunya Masjid besar milik Universitas Indonesia. Biasa, setiap kali masuk UI kami pasti akan keliling satu putaran kampus, menikmati udara sejuk, pohon rindang dan suasana kampus kami dulu. Entah karena saat itu udara mendung jelang hujan, lebih dingin dari biasanya, maka kami malah tertarik untuk melakukan satu kali putaran lagi dengan rute dalam. Biasanya kami hanya lewat jalur bus kuning, namun kali itu kami masuk Rektorat, Menara Air, Perpustakaan Pusat, Pusgiwa dan Stadion hingga berakhir di tujuan kami yaitu Masjid UI.

Adzan Ashar sudah berkumandang, kami bergegas masuk Masjid untuk menunaikan Shalat Ashar. Lepas Shalat, kami duduk di kanopi kantin depan Masjid UI. Dulu memang belum ada kantin, sekarang sudah dibangun kantin untuk membeli makanan dan minuman. Padahal itu persoalan saya dan rekan-rekan di kampus masa kuliah dulu. Kami suka main ke Masjid UI dalam waktu yang cukup lama, tak jarang suka kelaparan. Namun lucunya di Masjid UI tidak ada yang jual makanan satu pun, sampai kami harus balik lagi ke Fakultas Hukum untuk jajan. Pernah kami terlontar ide, kalau saja di Masjid UI ini kita bikin kantin, pasti laku keras. Bisa jadi pemasukan juga untuk Masjid kan. Rupanya harapan kami sudah direalisasikan oleh pihak Masjid. Sekarang sudah dibangun kantin beneran heheehee.

Duduk di kantin tanpa makanan (karena lagi puasa) sambil memandangi danau yang penuh dengan orang yang memancing ikan menjadi pemandangan ngabuburit yang cukup asyik. Memang sih di danau rektorat ada ikannya, cuma yaaaa....masa lagi hujan-hujan tetap mancing? Mereka tidak bergerak lagi lokasi. Mereka tenang saja mancing seolah tidak hujan. Ada beberapa yang mancing pakai jas hujan namun sisanya seolah cerah berawan saja, tanpa menggunakan payung, jas hujan, atau perangkat anti hujan lainnya. Dibiarkannya saja air hujan mengguyur baju mereka. Kalau kata Putro, itu namanya sudah kecanduan mancing, apa pun bisa tidak dihiraukan demi mancing ikan. Astaghfirullah.

Ngobrol dari mulai Islam, pemilu, kantor, rumah, semuannya. Dari mulai hal penting sampai hal yang gak penting untuk diobrolin. Kami menamakannya ngabubundut. Ngobrol ngalor ngidul saat ngabuburit oleh dua gundut. Nggak jelas apa yang dicurhatin dan diobrolin, hanya berbagi cerita dan lelah saja *preeett.

Tidak terasa Adzan Maghrib berkumandang, saya bergegas pesan siomay untuk buka puasa. Putro yang awalnya tidak mau pesan siomay eh malah ikutan saya. Tadinya dia cuma mau buka puasa pakai teh dan kurma yang kami bawa, eh berubah pikiran. Gundut. Namanya juga ngabubundut, katanya.

Siomay dadakan untuk buka puasa
Lanjut Fish n Co
Fish n Co

Pesan Pencarian

Hari itu saya dan Putro berencana ngabuburit untuk buka puasa bersama. Awalnya kami mau ke Bintaro Xchange untuk refreshing mencoba main Ice Skating. Maklum ndeso banget, seumur-umur kami belum pernah main ice skating. Saya cuma pernah main roller blade roda empat berjejer satu garis, jaman SD. Itu pun gara2 Adik laki-laki saya yang minta dibelikan. Jaman kuliah saya dan Putro masih mikir-mikir juga mau ke Mall Taman Anggrek untuk main Ice skating, takut uang jajan kami tidak cukup. Dengan uang jajan yang ngepas dan belum punya penghasilan; sendiri agak malu rasanya untuk jajan dan jalan yang mahal. Rasanya tidak enak untuk menengadah minta uang jajan lebih ke orang tua buat pacaran hehehe. Tapi oh tapiiii berhubung Bintaro jg jauh banget dari Lenteng Agung, maka saya tiba-tiba malas ke sana. Secepat kilat saya Whatsapp Putro untuk ubah itinerary, tapi saya tetap butuh refreshing sih...

"Sayang, batal ke Bintaro aja yaaa..kok aku males ya ke sana.. Jauh banget, mana mendung juga di rumah.." (biasanya unsur cuaca dikait-kaitkan menjadi satu faktor yang bisa dipergunakan untuk mendukung pendapat saya).

"Ya udah, terus kita ke mana jadinya?" tanya Putro seraya siap-siap berangkat

"Aku butuh refreshing sih, udah butek banget di kantor. Ke Gramed aja yuk, aku liat-liat buku aja udah cukup cerah kok" Jawab saya meyakinkan

"Enak ya, refreshing kamu mah murah, cuma liat-liat buku di toko buku doang.." jawabnya singkat dan sumringah karena kita gak perlu keluar uang banyak, dipikir saya cuma liat-liat buku saja.

"Tapi aku boleh beli buku yah Ayang. Aku rencananya mau nyari buku Quanta yang banyak, Muhammad Assad, terus buku Doa Indah, Traveling ke Jepang....banyak deh! Boleh kan? Boleh beli buku kaaaaan?" Tanya saya.

"............"

Akhirnya saya beli enam buku dengan girang. Hahahha. Oiya Putro ini paling ogah banget kalau ke toko buku, beda sekali sama saya yang suka asyik sendiri dan lupa kalo saya datang berdua ke toko buku. Saya muter-muter lihat buku, tiba-tiba Putro hilang. Hadeeh. Namun terkadang kami lihat-lihat buku bareng sih, semacam home interior, room design atau sejenisnya. Dari dulu Putro dan saya senang melihat buku model-model desain rumah dann kamar.

Hari itu juga, saat saya lihat-lihat buku tiba-tiba Putro hilang. Saya keliling mencari dan menemukan ia sedang di komputer mesin pencarian buku. Entah apa yang dia lakukan. Lepas pakai komputer, dia hanya senyam senyum saja. Melihat gelagat yang super mencurigakan saya cek isi komputernya, dan ternyata....

Love you chu.

Dengan jumlah pencarian 0 karena tidak ada buku seperti yang dimaksud. Ya salaaam. Untung saya tinggal nyari buku sebentar, kalau lama bisa-bisa dia ngetik diary di komputer mesin pencarian :D

Love you chu

Ke mana Stesen Dang Wangi

Hari kedua kami di Kuala Lumpur, saya berniat mengajak adik-adik saya ke KLCC Twin Tower. KLCC (Kuala Lumpur Convention Center) Twin Tower adalah landmark dua buah menara kembar yang merupakan icon kota Kuala Lumpur, Malaysia. Hari itu ternyata salah seorang kolega Bapak berkunjung ke Tune Hotel tempat kami menginap dan mengajak silaturahim ke kantornya. Berhubung saya dan adik-adik tetap ingin pergi ke KLCC, maka kami tidak ikut Bapak dan Ibu. Saya dan adik-adik pergi ke KLCC dengan menggunakan kereta.

Stesen adalah sebutan Stasiun bagi orang Malaysia. Stesen kereta terdekat dari Tune Hotel tempat kami menginap adalah Monorail Medan Tuanku. Kita cukup berjalan ke arah timur, ikuti saja jalurnya monorail. Jaraknya hanya 200 meter saja. Dekat bukan? Namun untuk menuju ke KLCC, kita tidak bisa menggunakan Monorail, melainkan LRT. Jika kami menaiki jenis monorail, maka kami harus turun di monorail stesen Bukit Nanas, dan berjalan ke arah KLCC. Sedangkan jika kami menaiki jenis LRT, maka kami turun persis di stesen KLCC dan akan keluar tepat di Twin Tower. Adik saya tak sabar menaiki monorail yang keretanya berada di jalan layang dengan satu rel. Saya beritahukan bahwa kita akan naik monorail saat pulang saja, bukan saat berangkat.

Stesen LRT terdekat dari Tune Hotel adalah Stesen Dang Wangi. Jika dilihat dari peta sih tidak terlalu dekat, butuh berjalan kaki cukup jauh, apalagi tengah hari puasa-puasa hehehe. Namun berhubung adik-adik saya penasaran ingin menaiki kereta Malaysia, maka semangat saja. Paling adik saya yang bungsu bertanya, "masih jauh ya, Yun?" Heheee

Perjalanan menyusuri stesen Dang Wangi dari Tune Hotel cukup mudah, ikuti saja petunjuk jalan. Kamu hanya berjalan ke arah selatan, dan akan menemukan Sogo Departement Store. Daerah sini memang banyak pusat perbelanjaan, salah satunya Busana. Sampai di perempatan depan Sogo, belok kiri. Bersabarlah menyusuri jalan panjang itu, teruuuusss sampai ujung belokan ke kiri. Ikuti saja jalannya. Tidak jauh dari jalan itu, kamu akan menemukan eskalator Monorail Bukit Nanas yang menghubungkan ke seberang jalan. Tapi tunggu, tujuan kamu bukan Monorail Bukit Nanas, tapi LRT Dang Wangi. Tarik napas sejenak beristirahat di halte dekat eskalator, dan tengok ke kiri... Dan, Tadaaaa....Stesen Dang Wangi sudah di depan mata. Kita sudah sampai lho.

Stesen Dang Wangi
Mejeng Dulu
Masuklah ke dalam Stesen dengan menggunakan eskalator turun. LRT yang tersedia di Malaysia memang kebanyakan menggunakan rel bawah tanah, sehingga jika ingin menaiki kereta, maka harus masuk stesen dengan eskalator turun. Jika kamu tidak berniat buru-buru, maka berdirilah di sisi kiri eskalator, karena sisi kanan untuk mendahului. Jangan berdiri di kanan, kamu akan menghalangi orang belakang untuk mendahului. Setelah sampai ke dalam, pastikan kamu membeli tiket ya. Untuk membeli tiket/token, kamu hanya perlu mendatangi mesin pembelian tiket otomatis di depan pintu masuk. Jangan khawatir mengantri, mesinnya banyak kok.

Cara pembelian tiket di Stasiun Kereta Kuala Lumpur


Mesin pembelian tiket otomatis ini akan mengeluarkan token kereta berbentuk koin plastik berwarna biru. Cara pembeliannya, silakan kamu tekan pada layar touch screen English. Nanti akan muncul peta kereta Kuala Lumpur dengan berbagai jenis, dari LRT, Monorail, KLIA Express, KLIA Transit dan Commuter. Semuanya terintegrasi dan bersatu di Stesen KL Sentral. Pilih stesen tujuan kamu, tap pada peta di layar, jangan sampai salah tap ya, karena posisi gambarnya berdekatan. Cek lagi ketika sudah dipilih. Nanti akan muncul harga tiket untuk 1 token. Kamu bisa membeli lebih dari 1 token jika pergi berkelompok seperti saya. Caranya? Tekan saja tanda + nanti jumlah token dan harga total token akan berubah.

Token Pembelian Tiket LRT
Setelah selesai, waktunya pembayaran. Nah, untuk membayar harga tiket, kita hanya perlu memasukkan uang ke mesin. Ada untuk uang kertas dan ada untuk uang koin. Mesin ini hanya menerima pecahan uang kertas 1RM, 5RM, 10RM. Sedangkan untuk uang koin, mesin ini bisa menerima pecahan 1 Sen, 2 Sen, 5 Sen, 10 Sen, 20 Sen, 50 Sen, dan 1RM. Jika harga tiketnya 1.6RM, maka artinya kamu membutuhkan 1RM dan 60 Sen. Jika kamu tidak memiliki uang 60 Sen, kamu bisa memasukan 2 lembar/koin 1 RM. Lalu sisa 40 sen kemana?? Tenaaaang...saat kamu masukkan 2 RM, mesin akan mengeluarkan token milik kamu di bagian bawah mesin (persis seperti mesin penjual minuman). Selang beberapa detik perhatikan layar mesin akan tertulis Pemulangan Baki, yang artinya mesin akan mengeluarkan kembalian kamu. Uang koin sen kembalian kamu akan keluar di tempat pengambilan token.

Pintu Masuk/Keluar
Setelah kamu mendapatkan token, berjalanlah ke pintu masuk, nanti akan ada pagar masuk stesen. Perhatikan tanda hijau atau merah. Jika bertanda hijau, maka kamu bisa masuk melalui pintu itu, jika merah maka pintu tersebut khusus pintu keluar. Letakan token biru pada sisi atas palang pintu, ada tempat khusus untuk tap token/card. Kamu cukup tap sekali saja sampai mesin membaca dan pintu terbuka. Lewatlah dengan tenang, tidak panik, dan tidak teburu-buru. Mukanya biasa saja, jangan pasang ekspresi berlebihan karena kamu berhasil melewati ini semuaaaa. Jakarta memang gak ada sih yang kayak gini, saya paham ekspresi itu (pernah juga soalnya) wakaakak.

Jika kamu telah masuk palang pintu, kamu tinggal berjalan menuju tempat pemberhentian kereta, biasanya ada eskalator turun. Ikuti saja petunjuk jalannya. Masukkan token biru ke dalam saku, jangan sampai hilang karena kamu membutuhkan token itu untuk keluar dari stesen. Jalur keretanya ada dua lho, kiri dan kanan, perhatikan stesen tujuan kamu, jangan sampai kamu salah arah. Jika stesen kamu harusnya ke arah utara, jangan sampai kamu menaiki kereta yang ke selatan. Petunjuknya banyak dan jelas, kamu tidak perlu khawatir nyasar. Jika masih belum pede, tanya kepada orang sekitar, mereka dengan senang hati memberi tahu.

Ketika kereta datang, berdirilah di samping pintu masuk, jangan persis di depan pintu masuk. Bagian depan pintu masuk dipergunakan untuk penumpang yang akan turun. Peraturan di sana mendahulukan penumpang untuk turun, dan penumpang yang akan naik tidak diperbolehkan masuk sampai penumpang yang turun sudah selesai. Jadi tidak ada desak-desakan dan rebutan seperti Commuterline Jabodetabek milik kita. Semua teratur.

Kereta akan datang tiap beberapa menit sekali, paling tidak 1-2 menit sekali. Saking banyaknya kereta yang datang, hampir tidak pernah ada isi kereta sampai pepes tempe ala Commuterline Jabodetabek (maaf yaaa, lagi-lagi contohnya Indonesia hahaha). Kalau pun penuh ya masih tahap wajar, tidak berdesak-desakan. Ketika kereta berjalan, silakan menikmati pemandangan bawah tanah, apabila kereta sudah keluar dari bawah tanah, kamu bisa menikmati pemandangan luar kota Kuala Lumpur. Perhatikan notifikasi dari petugas mengenai stesen pemberhentian selanjutnya, atau kamu bisa memperhatikan petunjuk rute stesen kereta tersebut di bagian atas pintu.

Jika sudah sampai stesen tujuan, turunlah dengan beratur dan carilah pintu keluar. Token biru yang kamu simpan tadi silakan dikeluarkan, dan masukkan ke dalam lubang di palang pintu keluar. Jika di palang pintubmasuk bentuknya datar untuk sekedar tap/tempel token, jika di pintu keluar maka bentuknya seperti celengan. Masukkan token kamu ke celengan tersebut, dan pintu akan terbuka. Keluarlah dengan perlahan, dan saya ingatkan kembali, jangan tunjukkan ekspresi berlebihan :p

Bagaimana jika saya ingin transit berbeda jenis kereta?

Jika kamu ingin pergi ke stesen tujuan dengan jenis kereta yang sama dengan stesen kereta kamu, maka tidak akan bingung. Misal dari LRT Dang Wangi ke LRT KLCC. Maka tidak membutuhkan Transit Kereta. Namun bagaimana jika kamu berangkat dari LRT Dang Wangi dan ingin turun di Monorail Bukit Bintang? Nah kamu membutuhkan transit.

Apabila kamu ingin berganti jenis kereta, jangan khawatir, tetap pesan token sesuai stesen tujuan kamu, dan carilah stesen transit (interchange stesen). Turunlah di stesen transit, jangan keluar, tapi lanjut ke jenis kereta selanjutnya. Jangan masukkan token ke pintu, karena perjalanan kamu akan dianggap selesai pada saat kamu memasukkan token ke pintu keluar. Jadi selama kamu memegang token, kamu ingin transit di beberapa stesen, tidak masalah. Kamu boleh memasukkan token di pintu keluar saat akhir perjalanan kamu ya.

Suasana Jalan Dang Wangi
Sampai di KLCC saya menuju ke pintu keluar yg arah Suria KLCC. Suria adalah nama mall besar untuk kalangan atas, mungkin kalau di Jakarta seperti Plaza Indonesia. Banyak brand super mahal yang cuma bisa saya lihat saja dari etalase. Nggak berminat untuk beli dan nggak sanggup juga. Jadi biarlah menjadi hiburan mata saja. Setelah berjalan mengitari Suria KLCC, ikuti saja petunjuk jalan yang mengarahkan ke Twin Tower Petronas. Mudah kok. Kamu akan menemukan menara tersebut ketika keluar dari Suria KLCC. Spot terbaik untuk mengambil full gambar twin tower ada di bagian taman air mancur. Berjalanlah sampai ujuuuuuuunggg belakang. Di sanalah kamu bisa mengabadikan foto Twin Tower secara utuh sampai puncaknya.

Twin Tower Mendung
Saya sarankan untuk ke Twin Tower pada malam hari, karena gedung Twin Tower akan menyala dari dalam, super cantik untuk diabadikan. Jika tidak sempat malam, maka kamu bisa berkunjung pagi hari, ketika belum banyak sinar matahari. Jika terlalu siang, maka akan ada backlight dan kualitas foto kurang bagus. Kata orang, belum ke Malaysia jika belum foto di Twin Tower. Jadi jangan sia-siakan perjalanan kamu. Semoga bermanfaat yaaa!

Belanja Cokelat di Choc Boutique

Bingung mencari cokelat buat oleh-oleh di Kuala Lumpur? Saya punya rekomendasi untuk beli cokelat. Namanya Choc Boutique. Ini adalah kedai cokelat yang bisa ditemui di banyak tempat, seperti di KL Sentral, Suria KLCC, Sungei Wang Bukit Bintang, dan Central Market. Bahkan Central Market memiliki dua kedai cokelat, yang pertama di bagian depan (agak kecil kedainya), yang satu lagi agak ke tengah dengan bentuk yang agak besar dan banyak pilihan. Walaupun Choc Boutique yang berada di bagian depan Central Market kedainya agak kecil, namun saya lebih senang belanja di sana. Penjualnya sangat baik dan tak segan memberikan diskon. Penjualnya adalah orang Melayu dan orang India yang sangat friendly dan hangat dalam melayani customer. Di sana juga tidak jarang diberikan free tester untuk cokelat yang ingin kita beli. Jadi kita bisa memastikan dulu rasa cokelat yang akan kita beli, jika enak maka silahkan diangkut.

Jenis cokelat yang dijual sangat beragam dari yang murah sampai yang mahal. Berat, ukuran dan packaging pun beraneka ragam. Ada yang tersedia dengan bentuk bar, kotak, toples atau pun plastik kiloan. Beberapa jenis cokelat yang tersedia dengan berat 250gr, 500gr sampai 1kg adalah jenis Berryls, Alfredo dan Checkers. Untuk rasanya bermacam-macam, dari almond, white choco, hazelnut, tiramisu, durians, kismis dan lain-lain. Rasanya mirip-mirip, dan saya lebih senang membeli merek Checkers karena harganya jauh lebih murah dari yang lain *prinsip ekonomi sangat dibutuhkan. Jika Berryls 500gr harganya adalah 27RM, maka 2 toples Checkers masing-masing 500gr harganya adalah 30RM. Hampir dua kali lipat kan! :D

Jika koper kamu simple dan tidak cukup memuat barang bawaan yang banyak, serta cokelat tersebut hanya untuk di rumah dan bukan untuk dibagikan, cobalah untuk membeli cokelat 1 kg dengan bungkusan plastik. Wadah plastik sangat irit tempat ketimbang kamu harus membeli wadah toples. Namun jika kamu ingin membagikan cokelat tersebut kepada masing masing orang, maka beli saja yang bentuknya candy bar. Harga cokelat di Choc Boutique cukup terjangkau jika kamu pandai memilih dan jeli membandingkan harga. Pilihlah cokelat yang dibandrol dengan harga diskon atau special price karena pastinya lebih murah.

Selain cokelat kemasan dalam toples, ada juga cokelat atau permen yang dikemas bersama boneka yang super lucu. Tapi saya tidak tertarik membeli berhubung harganya yang mahal gilak. Saya hanya menikmati lucu dan uniknya permen dan cokelat yang dihias dengan berbagai rupa.

Ada lagi tempat membeli cokelat yg murah, yakni di Supermarket ala-ala Timur Tengah di pinggiran Chow Kit. Di sana memang tidak menjual khusus cokelat seperti di Choc Boutique, tapi pergilah ke bagian makanan ringan cokelat dan permen. Tersedia satu bungkus besar cokelat kemasan ukuran 2 kg dengan harga 10-15RM saja. Cocok untuk bagi-bagi orang kantor hahaaha.

Kalau mau belanja cokelat yang agak bergengsi sedikit, kamu bisa melipir ke Berryls Kingdom. Di sana juga surganya cokelat. Berbeda dengan Choc Boutique yang hanya kedai lepasan, Berryls Kingdom adalah kedai cokelat besar yang berbentuk rumah. Saat kita masuk ke dalamnya, kita akan disuguhi pemandangan mesin pembuat cokelat dengan tong besar berisi cokelat bulat. Apakah cokelat itu bisa diambil? Tentu saja. Cokelat tersebut adalah tester yang bisa kamu ambil (sepuasnya). Berhubung saya gratisan hunter, adegan cokelat gratis ini tidak akan saya sia-siakan. Dekati mesin pembuat cokelat tersebut dengan perlahan, ambil dalam genggaman tangan, masukan saku jaket. Keliling sebentar. Masuk lagi dari pintu utama dan ambil lagi hahaha. Kelakuaaan. (Untung waktu ke sana bareng temen-temen, bukan keluarga :D)

Inti dari berbelanja cokelat adalah belanja sesuai kebutuhan dan sesuai budget. Jika budget tidak memenuhi, jangan beli berlebihan dan mahal-mahal. Karena menurut saya, cokelat di KL itu ada yang murah namun ada juga yang super mahal. Jadi silahkan belanja cerdas dan hemat ya :)
 
Cokelat hitungan gram
Dipilih dipilih
Tampilan Choc Boutique

Shalat Jumat di Stesen Masjid Jamek

Siang itu rencananya saya dan keluarga belanja ke Central Market dan Petaling Street. Lokasinya cukup mudah ditempuh, naik saja LRT sampai Stesen Pasar Seni, kemudian berjalanlah ke arah pintu keluar. Di sana sudah terlihat bangunan Central Market berwarna biru langit. Tak jauh dari Central Market, berjalanlah ke arah China Town, di sana terdapat tempat berbelanja bernama Petaling Street. Banyak barang murah yang bisa kamu beli di sana. Jangan lupa ya, pakai prinsip menawar dan senyum :D

Pulang dari belanja kilat ala Bapak saya di Central Market dan Petaling Street, kami berniat ke Masjid Jamek untuk menunaikan Shalat Jumat. Saya dan keluarga bergegas berjalan ke arah Masjid Jamek dari Petaling Street yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki saja. Ramai lalu lalang orang yang ingin menunaikan Shalat Jumat ditemani langit yang mendung dan sedikit gerimis romantis

Sampai di Masjid Jamek yang didominasi warna putih dan strip hitam itu, rupanya sudah banyak sekali para laki-laki yang bergegas ke dalam. Bapak dan Adik laki-laki saya pun masuk ke dalam, sedangkan kami yang perempuan menunggu di luar karena area Masjid, karena Masjid pada Jumat siang itu steril dari perempuan, hanya laki-laki yang diperbolehkan masuk. Hujan makin turun lebat, alhasil kami berlarian ke Stesen Masjid Jamek yang lokasinya persis bersebelahan dengan Masjid Jamek.
Suasana Jumatan di Stesen Masjid Jamek
Suasana Petaling Street
Di area stasiun rupanya tidak ada bangku untuk menunggu atau waiting area, sehingga kami yang cukup kelelahan jalan kaki puasa-puasa, menemukan ide untuk duduk-duduk di pojok dekat mesin otomatis pembelian token tiket LRT. Awalnya mungkin banyak yang heran kami duduk-duduk di sana, namun lama kelamaan malah ibu-ibu dan mbak-mbak banyak yang mengikuti untuk duduk di sebelah kami. Mungkin mereka juga menunggu hujan reda dan menunggu Shalat Jumat usai.

Saat khutbah Jumat disiarkan sayup-sayup terdengar dari stesen, dengan bahasa Malaysia yang khas. Saya tidak begitu fokus mendengarkan, karena lebih memilih bersandar, membuka smartphone dan mulai mengaji meneruskan tadarus saya. Hujan makin deras dan stesen makin ramai. Entah bagaimana dan siapa yang memulai, di depan saya ternyata sudah banyak Bapak-bapak yang menggelar koran dan sajadah untuk sholat Jumat di pelataran stesen. Awalnya tidak teratur, namun lama-kelamaan berbentuk shaf rapi, sampai akhirnya mereka mulai ikut Shalat Jumat berjamaah dari stesen.

Pemandangan cukup unik yang saya temui, karena stesen tempat lalu lalang orang tapi dipergunakan untuk shalat. Bukan hanya itu, Malaysia terkenal dengan kehidupan berbagai macam ras menjadi satu, sehingga dalam Shalat Jumat pun saya menemui bermacam ras berdiri bersampingan untuk Shalat. Melayu, India, Timur Tengah, Western. Budaya saling menghormati pun sangat kental. Orang yang lewat beratur melalui samping jalan tanpa mengganggu Muslim yang sedang menunaikan Shalat. Saat-saat rush hour, hujan dan banyak tantangan lainnya, Muslim yang taat memang tetap harus menjalankan kewajibannya.

Sungguh bersyukur bisa mendapatkan pengalaman melihat Shalat Jumat di pelataran Stesen Masjid Jamek, hehe. Alhamdulillah

Tarawih di Masjid Jamek Kampung Baru

Dua kali kami berkesempatan untuk shalat di Masjid ini, namanya Masjid Jamek Kampung Baru. Lokasinya sangat dekat dengan Jalan Raja Alang, tempat peristirahatan kami. Masjid ini cukup besar dan cukup strategis. Pada saat Shalat Shubuh, kami Shalat Shubuh di Mesjid ini pukul 06.00 (waktu Shubuh di sana memang siang). Keluar dari Masjid, ada bapak-bapak yang sedang mengaduk bubur sum-sum pada kuali yang supeeerr besar. Penasaran, maka bertanya. Ternyata kuali yang berisi bubur itu dibuat untuk dibagikan pada saat buka puasa. Luarrr biasa, dibuatnya dari shubuh-shubuh buta karena porsi kualinya yang sangat besar, maka dibutuhkan juga proses menggodok yang cukup lama.

Masjid Kampung Baru
Suasana Bazar Ramadhan yang belum buka
Beda Shubuh, beda cerita juga dengan Maghrib dan menjelang tarawih. Saat setelah buka puasa, maka sudah banyak orang berbondong bondong menuju Masjid ini. Di luar area pelataran Masjid ini ada box besar berisi aqua gelas dengan es yang super banyak. Aqua gelas ini juga bisa diambil oleh jemaah yang akan tarawih. Di sebelahnya juga ada satu bungkus plastik kolak yang besar. Jangan tanya ururannya, jika biasanya di Indonesia kolak dibungkus dengan plastik ukuran 1/4 kg, ini dibungkus dengan plastik ukuran 1 kg. Dan ini gratis, bisa diambil berapa pun tak dibatasi. Bisa dibawa pulang. Edaan.

Tarawih dimulai pada pukul 20.30 dan berakhir pukul 23.00, jumlah rakaatnya ada 23 rakaat dengan imam yang membaca surat panjang entah berapa juz. Imam tarawihnya pun bergantian sampai 3 kali. Imam tarawih biasanya didatangkan dari Timur Tengah, namun terkadang dari orang Malaysia sendiri. Misinya adalah tarawih dengan menghatamkan Al Quran. Jadi imam membacakan surat setiap tarawih minimal sekali tarawih habis 1 juz. Bahkan biasanya baru 25 hari, Masjid tersebut sudah hatam. Bacaannya sangat merdu dan menghayati, terkadang imamnya terhenyuh sendiri karena saking menghayati. Saya pun teringat cuplikan imam Masjidil Haram yang memimpin Shalat. Sebegitu mengerti arti ayat yang dibaca hingga beliau menangis terisak di tengah Shalat. Masyaa Allah. Pengalaman tarawih di Masjid Malaysia memang menjadi pengalaman hidup yang berbeda, apalagi Tarawih di Masjidil Haram. Insya Allah ada saatnya kami sekeluarga ada rejeki ke sana. Aaamiiiin.

Dari sekian pengalaman mengharukan, tapi ada lucunya. Pada saat tarawih baru 8 rakaat, beberapa orang mundur ke belakang membubarkan diri. Jadi mereka akan melakukan witir sendiri 3 rakaat, hingga jumlahnya 11 rakaat. Mundurnya berbarengan dan sangat kompak, hehehee. Awalnya saya bingung, kok baru 8 rakaat langsung banyak yang bubar. Terlalu kompak dan berbarengan, hingga saya bingung. Tak lama saya menyadari bahwa mereka yang membubarkan diri itu akan melanjutkan witir sendiri. Jadi total tarawih mereka adalah 11 rakaat. (Tau gitu saya ikutan jugaa bubar *loh)

Suasana tempat shalat wanita
Area shalat untuk pria dan wanita dipisah ruangan, namun suaranya tetap terdengar. Suasana tempat shalatnya pun super adem, full AC dan nyaman. Beberapa wanita setengah baya ada yang menarik kursi untuk shalat sambil duduk. Di sana juga disediakan kursi bagi yang tidak kuat untuk shalat sambil berdiri. Selain area shalat, juga terdapat panggung di sisi kiri tempat wanita. Mungkin dipergunakaan untuk kajian kemuslimahan di Masjid ini.

Usai shalat tarawih, kami keluar Masjid dan kembali berdecak melihat meja yang tadinya menyuguhkan plastik kolak, kali ini berjejer buanyaaaak banget jajanan kue basah. Penuh makanan dan disediakan juga plastik untuk membukusnya jika ingin dibawa pulang. Aqua gelas dingin pun masih saja penuh. rupanya petugas akan mengisikan stock makanan dan minuman lagi ketika jumlahnya sudah mau habis. Masya Allah.

Jamaah mengambil minuman gratis
Makanan gratis
Ada lagi yang unik dari aqua gelas di Malaysia. Jika di Indonesia, maka aqua gelas dengan sedotan terpisah, dan harus mencopotnya satu per satu. Jika di Malaysia, maka sedotan aqua gelas langsung menempel satu paket dengan aqua. Pendek dong? Ya, memang ukurannya pendek, secara logika jika dipakai untuk aqua, akan tenggelam. Namun lucunya, ketika sedotan tersebut dicopot dari aqua gelas, dibuka dari plastiknya, maka sedotan tersebut bisa ditarik menjadi panjang ukurannya. Sehingga apabila ditusuk untuk minum, maka tidak akan tenggelam. Inovasi yang super dan sepertinya biayanya mahal hehhehehe.

Aqua Malaysia yang sedotannya unik
Sedotan memanjang
Saking bertebarannya makan gratis, seperti tidak ada yang kelaparan rasanya, bahkan tuna wisma di Kuala Lumpur dijamin makanan dan perlengkapan sehari-harinya. Saya melihat di sepanjang jalan dekat Chow Kit pada malam hari, ada segerombolan orang yang sedang antri makanan dan bagi-bagi baju layak pakai. Ternyata mereka adalah tuna wisma yang sedang antri. Mereka dilayani oleh NGO yang bergerak dalam bidang sosial fokus tunawisma. Tidak hanya dari NGO, tetapi dana pemeliharaan tuna wisma ini juga diberikan oleh Kerajaan Malaysia. Jadi mereka tidak gelandangan compang camping di kolong jembatan. Mereka cukup rapi dan tidur di lokasi-lokasi tertentu yang diperbolehkan Negara, tidak di sembarang tempat. Ini baru sesuai dengan Undang-Undang Indonesia, bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh Negara. Jika saja negara kita mampu seperti Malaysia.

Well done, sekian dulu pengamatan saya saat tarawih di Masjid Kampung Baru, semoga bisa memberikan hikmah dan motivasi kepada pembaca sekalian.
Salam,
Noni Halimi