Sunday, December 14, 2014

Akhirnya Pas Photo

Mas saya alias si calon manten memang dari dulu paling ogah untuk photo studio, bahkan setiap ada urusan dengan pas photo dia selalu foto selfie sendiri. Dih. Saya langsung protes pas doi juga nggak mau photo studio dan memilih untuk foto sendiri saja. Untungnya negosiasi saya berhasil dan Masnya mau foto studio, saya nggak perlu mengeluarkan adegan amukan massa hehehee. Kami langsung menyambangi Cemerlang Digital Photo di Margonda Raya, ini memang studio foto favorit saya karena berada di bilangan Margonda Raya, hasilnya bagus dan warnanya jernih. Baiklah, ditemani dengan Ibu saya yang ikut nimbrung akhirnya kami berfoto.

Harga 2 Pas Photo yang sudah burning ke CD, ditambah hasil cetakan 2x3, 3x4, 4x6 masing masing 3 buah kami mengeluarkan budget 80.000 rupiah. CD soft copy tersebut bisa kami cetak ulang lagi jika membutuhkan foto yang lebih banyak. Sesuai dengan harapan saya, hasilnya jernih. Memang nggak salah pertanyaan saya ke Mas waktu ngebujuk untuk photo studio "Yang, masa foto di buku nikah, selfie?" hahahhaha. Alhasil berhasil juga photo studio bukan ala-ala ini. Semoga bisa ditempel di buku nikah ya Mas, Aamiin Yaa Robbal'alamin.

Salam Senyum Gak Bisa Tiga Jari,
Noni Halimi

Sabha Widya Wisma Makara UI, Memorable Venue

Memilih venue adalah langkah awal bagi para calon manten tepat setelah mendapatkan ijin menikah dari kedua orang tua. Bagaimana tidak, ketika venue belum dapat, kita tidak bisa menentukan tanggal pernikahan, berujung kepada tidak bisa daftar KUA karena harus menuliskan tempat dan tanggal pernikahan juga untuk lokasi pengajuan KUA berdasarkan lokasi venue, demikian halnya tidak bisa cetak undangan.

Mencari venue untuk melangsungkan acara pernikahan susahnya mirip-mirip nyari jodoh. Memang cocok-cocokan atau rejeki-rejekian. Banyak rekan saya sesama calon manten yang sibuk juga mencari venue, pas pihak cewe sudah oke ternyata pihak cowo enggak, pas kedua pasangan oke ternyata orang tua nggak setuju di tempat itu, pas keluarga kita sudah oke ternyata keluarga pihak pasangan yang tidak sreg. Giliran udah sreg dan setuju semua di sana eh harganya gak sesuai budget. Giliran harga udah sesuai budget eh ndilalah bulan yang kita mau sudah full booked. Ya salaaamm.. puk-puk calon-calon manten, cobaan nyari venue memang rata-rata begitu, sabar yah.

Pertama kali saya survey venue karena pilihan orang tua saya, yakni Balai Komando yang terletak di komplek kopasus Cijantung, Jakarta Timur. Saya dan keluarga saya sudah sangat familiar dengan lokasi tersebut, secara kami bocah-bocah sekolah dari TK itu di Cijantung. Tempatnya luas dan area parkir pun memadai. Tak ambil pusing, saya dan Mas langsung menuju ke Balai Komando. Sampai di sana ternyata ada acara pernikahan juga. Kami masuk ke ruang administrasi untuk tanya info soal penyewaan Balai Komando. Harga sewa Balai Komando untuk tahun 2015 adalah 10 juta rupiah dan ada kemungkinan untuk naik saat tahun baru nanti. Jadi memang lebih baik booking dan DP dari beberapa bulan sebelum awal tahun. Ketika awal tahun memang akan selalu ada kenaikan harga sewa gedung untuk pernikahan.

Saat mau booking tentunya akan ditanya acaranya bulan apa? Saya dan Mas langsung bingung karena memang kami belum fiksasi bulan pernikahan. Wong kami hanya survey kok. Tapi iseng Mas bilang awal tahun, Januari atau Februari. Rencana pernikahan kami memang awal tahun Januari-Maret. Ternyata hanya beberapa tanggal saja yang kosong, banyak yang sudah dibooking. Untuk acara siang maupun malam banyak yang request.

Memang Balai Komando termasuk venue yang populer di daerah Jakarta Timur dan sekitarnya sih. Untuk DP, ternyata di sini tidak langsung bayar DP lho. Agak aneh ketika kami booking tanggal tapi belum bayar DP, malah disuruh obrolin dulu sama pihak orang tua dan keluarga. Kan menuh-menuhin catetan mereka saja kalau ada orang-orang yang hanya asal booking saja. Kemudian, Balai Komando mengharuskan penyewa menggunakan catering rekanan yang bekerjsama dengan mereka. Catering yang mereka tawarkan kurang lebih ada 8 rekanan, dan saat saya lihat brosurnya...jeng jeng...keliatan mewah banget. Tak pelak pasti harganya juga 'wah' alias mehong.

Rencananya kami akan menggunakan catering yang sudah saya pilih, bukan rekanan gedung, harganya sangat sesuai dengan budget kami. Namun sayang, Balai Komando akan mengenakan charge yang cukup besar untuk catering non rekanan. Nah, jadi saya harus cari venue yang tidak menerapkan charge untuk catering non rekanan.

Pulang dari survey Balai Komando kami galau charge catering, kami agak keberatan karena tidak bisa pakai catering luar rekanan. Catering yang akan kami pilih insya Allah sudah fix. Jadi PR kami adalah mencari venue yang tidak mengenakan charge kepada kami jika memakai jasa catering luar rekanan. Rejeki datang dari arah yang tidak diduga-duga, saat saya sedang mengobrol venue nikahan dengan rekan kerja saya, yang namanya juga Rejeki, hihi Rejeki Dwi Rahayu. Saya mendapat ide venue yang sempat terlupa dari otak saya. Ia berencana menggunakan venue Wisma Makara Gedung Sabha Widya di Universitas Indonesia. Lhaaa kok nggak kepikiran ke UI yah, padahal dekat dari rumah. Saya langsung sumringah dan semangat banget weekend segera melipir ke UI. Wong dari rumah ke UI cuma secipritan jaraknya.

Harga sewa Gedung Sabha Widya untuk tahun 2015 adalah 14juta rupiah, belum termasuk sewa genset. Harga tersebut berlaku untuk sewa gedung selama 8 jam sepuasnya. Kami bisa menggunakan gedung ini tanpa khawatir ada adegan "pengusiran" dari pihak gedung. Sering terjadi di gedung yang ada limit jam pemakaian adalah adegan beres-beres properti ketika masih banyak tamu keluarga yang sedang makan. Rasanya agak gimana gitu, masih banyak tamu keluarga yang ngobrol namun pihak gedung sudah mulai beres-beres merapihkan semuanya dengan alasan akan segera digunakan untuk pernikahan malam hari. Alhasil jadi buru-buru makan dan ngobrolnya. Belum lagi pihak gedung yang biasa menambahkan charge pemakaian gedung apabila melewati dari waktu yang telah mereka tentukan.

Lokasi gedung ini ada di Jl. Prof Dr. Miriam Budiardjo yang berada di dalam Kampus Universitas Indonesia, dekat dari Asrama Mahasiswa UI. Selain itu di gedung Widya Makara UI ini bersebelahan dengan Wisma Makara UI, penginapan yang bisa kami pakai untuk pihak keluarga yang datang dari luar kota. Kebetulan keluarga besar saya banyak dari luar kota sehingga akses penginapan dekat dengan venue adalah syarat mutlak. Dari segi harga memang cukup mahal, untuk ukuran luas sih standar, tempat pelaminan juga tidak bisa terlalu besar, namun lampu hias di tengah ruangan dan langit-langit yang cukup tinggi membuat gedung tersebut terasa agak luas. Lapangab parkir pun unlimited alias luas banget sepuasnya pakai area kampus. Hal lain yang menjadi pertimbangan kami adalah akses dari rumah saya dekat, lokasinya mudah ditemui (karena di dalam Kampus Universitas Indonesia) dan memorable venue untuk kami berdua yang notabene-nya almamater kampus ini.

Kampus UI memang menyimpan banyak kenangan untuk kami berdua. What a best venue for us! Kami langsung menanyakan sisa waktu available di bulan Januari, Februari dan Maret untuk hari Ahad. Ternyata masih ada beberapa tanggal. Kami cukup khawatir full, karena venue ini hanya memyediakan 1 acara dalam 1 hari. Kebayang kalau banyak yang minat bisa full. Alhamdulillah saya dapat 2 tanggal di bulan Februari dan 2 tanggal di bulan Maret. Saya dan Mas langsung mengajukan ke orang tua saya untuk 4 tanggal tersebut. Alhamdulillah mereka menentukan bulan Februari, katanya kalau Maret kelamaan (padahal cuma beda sebulan, sing kebelet kawin iki sopo tho yo hehehe).

Kami resmi DP untuk tanggal tersebut dengan transfer ke rekening BNI. Alhamdulillah negosiasi juga hanya melalui BBM saat saya lagi sibuk kerja di kantor, gak ada itung-itungan hari baik ala jawa tempo dulu. Menurut saya agak disayangkan jika niat baik pernikahan menyempurnakan sebagian iman mesti ada campur tangan hitunngan jawa klenik seperti itu. Dalam Islam tidak pernah mengajarkan itung-itungan tanggal baik pernikahan. Islam hanya mengajarkan hari terbaik untuk menikah adalah Jumat, karena Rasulullah menikah pada hari Jumat. Selain itu ada juga bulan-bulan terbaik untuk melangsungkan pernikahan menurut sunah, bukan hitungan Jawa. 

Venue Alhamdulillah sudah booked. Memang venue pernikahan itu kayak rejeki. Kalau memang kami ditakdirkan untuk menikah di sana, pasti akan ada jalan untuk booking. Saya hanya survey 2 venue pernikahan, jadi tidak bisa banyak share di sini. Saran saya untuk calon manten yang sibuk urus venue adalah tentukan dulu venue yang akan dipilih dari segi lokasi, biaya, dan fasilitas. Jika sudah ada tentukan saja dulu 3 tempat yang akan di survey, jangan terlalu banyak. Makin banyak tempat yang ingin disurvey akan semakin pusing. Kalau ketiga tempat itu tidak ada yang sreg, baru cari lagi 3 tempat lain.

Jika tidak sempat survey lokasi, sempatkan waktu unntuk browsing cari informasi, karena banyak kok calon manten yang review mengenai venue yang sudah mereka survey. Kalau tidak sempat juga untuk datang, kamu bisa cek availability atau ketersediaan waktu venue tersebut di hari apa saja, bulan apa saja melalui telepon. Karena jaman sekarang memang kita yang mengikuti jadwal gedung sih, mereka kosong tanggal berapa saja. Agak susah jika kita yang menentukan tanggal terlebih dahulu, kemudian mencari venue yang kosong pada tanggal tersebut. Kalau pas lagi kosong di tanggal yang kita mau ya syukur Alhamdulillah. Namun saya tidak menyalahkan yang berstrategi seperti itu, seperti yang saya tulis di atas bahwa dapet venue sesuai harapan itu rejeki. Dan rejeki tidak akan salah antar, ia akan datang ke orang yang tepat. Jangan lupa senantiasa berdoa ya calon manten, semoga segera dapat venue paling oke. Aamiin

Aula Gedung Sabha Widya saat acara pernikahaan saya
Fasilitas :
[+] Aula seluas 20 meter x 30 meter
[+] Kurang lebih menampung 800 - 1000 orang.
Tapi saat pernikahan saya tamu yang datang 1300an bisa ketampung semuaFree 100 kursi tanpa cover
[+] Dua ruang rias untuk pengantin yang cukup luas
[+] Sound system dalam gedung. Cek dan koordinasi dengan PIC Sound System.
[+] Free parking area gedung dan sekitar gedung sepuasnya
[+] Free 1 kamar pengantin untuk 1 hari
Saya ambil H-1 sebelum acara, lumayan bisa dipergunakan untuk simpan barang-barang yang dibutuhkan untuk hari H, seperti barang-barang seserahan, souvenir, dan perlengkapan rias dari catering
[+] Tidak ada biaya tambahan jika menggunakan catering luar rekanan
[+] Jika ingin menyewa kolam renang maka dikenakan biaya tambahan
[+] Waktu penyewaan gedung satu hari full tanpa batas. Sabha Widya hanya menyewakan kepada satu orang dalam satu hari sehingga tidak perlu khawatir bergantian dengan orang lain di hari yang sama

Berburu Bahan Kebaya Pernikahan

Salah satu kerjaan persiapan pernikahan yang seru adalah hunting bahan kebaya untuk keluarga, among tamu dan lain sebagainya. Saya pribadi dan mas-nya tidak berniat untuk membeli bahan kebaya dan menjahit kebaya, karena kami mendapatkan pinjaman busana untuk akad dan resepsi dari catering. Kalau dipikir-pikir akan sayang sekali beli bahan mahal, jahit kebaya dress atau kebaya modern dengan ongkos jahit yang cukup mahal, dipakai hanya sekali seumur-umur. Maka kami berdua sepakat untuk mengambil fasilitas dari catering kami. Jadi pengembaraan kami mencari bahan hanya difokuskan untuk mencari bahan untuk keluarga dan among tamu.

Pagi hari sekitar pukul 09.00 bel rumah sudah berbunyi dan saya masih sibuk di kamar mandi haha. Alhasil si mas menunggu saya kelar beres-beres. Ternyata dia datang bersama kakak dan keponakannya, si Nabil. Aaaakhhhh! Terdengar suara dari lantai bawah, Nabil ngoceh-ngoceh, saya langsung lari turun ke ruang tamu. Yeaaayyy! Kami berencana mencari bahan di toko langganan Mbak Wiwin (kakak-nya si mas), namanya Mega Fashion Textile and Tailor, katanya sih lumayan lengkap dan murah harganya. Tanpa mikir panjang kami langsung meluncur ke Mayestik. Beruntung kami sampai ke Mayestik belum tengah hari, jadi belum terlalu panas.

Tokonya dekat dengan gerbang pintu keluar Mayestik. Jadi kalau kamu masuk dari gerbang pintu masuk utama (persis sebelah BNI Mayestik) kami masuk dan belok kiri ikuti jalan luruuuussss terus. Tokonya ada di kiri jalan hampir ke arah gerbang pintu keluar Pasar Mayestik. Saya dilayani oleh petugas yang bernama Mas Yudi yang memang sudah dikenal oleh Mbak Wiwin. Selama 3 jam kami muter-muter mencari bahan dan warna yang sesuai selera, tentunya sesuai dengan kantong juga hehehe.

Saking banyaknya bahan yang dijual di sini, saya punya beberapa saran :
  1. Buat list berapa set bahan yang akan kamu beli. Misal kamu akan membeli busana Akad Nikah, busana Resepsi, busana resepsi Orang tua, busana resepsi keluarga inti kakak adik, busana resepsi keluarga inti orang tua (pakdhe budhe, om, tante), among tamu dan sebagainya. Untuk membuat satu busana kebaya atasan biasanya membutuhkan 2 meter brukat, 2 meter kain lapisan dalam, jilbab untuk yg mengenakan jilbab
  2. Tentukan dulu budget per meter yang akan kamu keluarkan. Misal kamu memberikan budget per meter maksimal Rp. 40.000 atau maksimal Rp. 60.000. Setelah itu, tentukan warna dominan apa yang akan kamu ambil. Informasikan hal tersebut kepada petugas, sehingga kamu akan dicarikan harga bahan dan warna yang kamu kehendaki. Kamu akan diberikan kain-kain dengan warna dan harga sesuai yang kamu minta. Pilihlah dari kain-kain yang sudah dicarikan oleh petugas itu. Hal itu untuk meminimalisir melihat-lihat bahan secara random. 
  3. Namanya pasar, pasti tetap ada konsep tawar-menawar. Terlebih lagi namanya Ibu-Ibu pasti tidak lepas dari nawar harga. Walaupun harganya sudah murah tapi kalau nggak ditawar rasanya ada yang kurang begitu. 
  4. Karena Mayestik penuh dan panas, saya sarankan untuk datang sebelum pukul 12 siang. Sebenarnya sih di dalam ruangan Mega Fashion dingin dan ber-AC, tapi luar ruangannya itu lho, super panas kalo terlalu siang. 
  5. Tips terakhir, Kamu datang ke Pasar Mayestik yang menyuguhkan jajanan-jajanan lawas yang sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Tunggu apa lagi, selama berbelanja atau setelah berbelanja panggil abang-abang jualan dan beli makanan minuman mereka. Dari kue cubit, kue laba-laba, pukis, cendol, dawet, tahu gejrot, kue rangi, manisan nenek sihir, dan masih banyak lagi. Sayang banget kalau dilewatkan! Iyaa.. tau..ini gak nyambung sama tips beli bahan di atas. Abaikan saja.
Harga yang ditawarkan beragam dan jenis bahannya juga beragam. Ada brukat Prada dengan jenis lace warna pink harganya 150.000 per meter. Untuk kebaya orang tua banyak pilihan brukatnya, dari yang simpel sampai yang sudah dipayet. Harga kain yang sudah dipayet berkisar 350.000 sampai 500.000 per meter. Mahal? Emang. Tapi jangan khawatir, masih seabrek lagi harga brukat yang murah mulai dari 20.000, 30.000, atau 40.000 per meter kok. Bahkan mereka jg menyediakan paket seragam brukat termasuk daleman chiffon dengan harga 150.000 per stel. Pintar-pintar saja dalam memilih. Selain bahan kebaya, mereka juga menjual kain motif songket dengan bahan satin. Harganya hanya 20.000 saja namun warna dan motifnya sangat cantik.

Untuk yang berniat ke Mega Fashion Textile and Tailor, bisa ke Jl. Tebah III No. 20 CD, Mayestik Jakarta Selatan. Telp. (021) 72794038, 72798846 atau 95203377.

Semoga membantu para calon manten,
Noni Halimi





Photo Walk on Fame Hunter

Kawinan anak muda jaman sekarang sepertinya kurang lengkap tanpa adanya photobooth. Memang tingkat kenarsisan anak muda masa kini agaknya meningkat sekian ratus persen tatkala virus selfie sedang menggandrungi kaum muda. Hal tersebut difasilitasi oleh oknum-oknum pebisnis di Indonesia salah satunya dengan ada Photobooth di event-event, termasuk event kawinan.
 
Sebenarnya fenomena photobooth ini sudah ada dari negeri seberang tempat tujuan Sun Go Kong, Pat Kay dan kawan-kawannya sejak lama. Nah, untungnya di Indonesia tidak ketinggalan jaman, dan sudah ikut booming. Berhubung saya juga doyan foto, maka saya juga akan memfasilitasi para undangan untuk berfoto dan mengabadikan moment indah ini. Yak perjuangan dimulai dari mencari vendor photobooth yang on budget, lagi-lagi ini soal budget, berhubung kami calon manten belom tajir (bukan kere), ini jadi persoalan hidup *lebay. Sabtu malam alias malam minggu saya diisi dengan googling pricelist vendor photobooth, maka harga yang saya dapat di range 3.5juta sampai 8juta rupiah. Ckckck mahal juga.

Sebenarnya istilah penamaan photo booth pernikahan itu kurang tepat. Foto pada event dengan dekorasi dan hasil foto yang bisa langsung cetak ditempat bukanlah photo booth, namun istilahnya adalah Walk of Fame. Orang lebih sering mengenal dengan istilah photo booth. Arti photo booth yang sebenarnya jika di luar negeri adalah foto yang dilakukan di dalam studio kecil. Mungkin kamu pernah melakukannya saat jaman sekolah dulu, masuk ke dalam box dan foto bersama. Saya biasanya menyebutnya dengan photo box. Justru yang seperti itu namanya photo booth. Yaaa..apa pun namanya yang jelas saya paham maksudnya adalah foto instan di event pernikahan.

Banyak vendor yang menyediakan jasa Walk of Fame untuk event pernikahan. Paket yang ditawarkan pun berbeda-beda, ada yang paket unlimited 2 jam, 3 jam bahkan sampai 4 jam. Ada pula harga yang ditentukan dari jumlah foto yang dicetak, sehingga tamu yang akan foto akan dibatasi untuk foto. Ada yang paket 100 foto, 200 foto, 300 foto dan sebagainya tergantung selera. Untuk jenis paket yang akan dipilih, silahkan lihat kebutuhan dari masing-masing calon manten, dan jangan lupa untuk memikirkan budget maksimum yang dikeluarkan untuk anggaran walk of fame ini.

Okey, hasil searching semalam suntuk membuahkan beberapa opsi pilihan untuk vendor walk of fame, salah satunya Icon life, moments to go, starlite, origamii. Semuanya vendor rekomended menurut saya, beberapa diantaranya saya sudah pernah cek sendiri alias dating ke nikahan yang pakai mereka dan ikut foto. Hasilnya sih jernih dan memuaskan.

Pagi hari di Ahad yang mendung berawan, saya masih gegoleran di kasur dan guling-guling di kamar. Hari itu niatnya saya dan pacar ingin cari souvenir di LP Cipinang, namun apa daya si pacar ternyata mendadak tidak bisa pergi pagi harinya. Menjelang siang hari, saya baru ingat ada Wedding Expo di JCC, namanya 9th Wedding Celebration Festival yang diadakan selama 3 hari dari tanggal 28 November 2014 sampai tanggal 30 November 2014. Biasanya banyak vendor yang diundang di sana, seru juga kalau ikutan…

Eh. tunggu tiba-tiba saya baru ingat kalau hari itu adalah hari terakhir pameran Wedding Celebration Festival. Aaakhhhh!! Saya minta temenin salah satu sahabat saya yang kerja di Republika, namanya Ampi. Spontan saya langsung wassap dan kena oceh "dasaaarrrr… kenapa gak bilang dari kemaren-kemaren, kan gue bisa siap-siap jadinya dari pagi". Tapi tetep sih, dia bersedia nemenin ke WCF 2014. horeeeyyy! Makasih Ampi, semoga cepet ketemu jodohnya! Aaamiin.

Sampai di sana kami beli tiket masuk seharga Rp. 20.000 per orang dan kami bisa melihat macam-macam vendor yang membuka booth di pameran tersebut. Dari vendor undangan. wedding cake, wedding dress, wedding organizer, catering, dekorasi, entertainment, photography, sampai walk of fame juga adaaa! Saya langsung mau salto rasanya! Kami berkeliling sebentar, dan mampir ke beberapa vendor walk of fame incaran saya. Tanya sebentar dan bandingkan dengan yang lain, pilihan saya tetap jatuh pada Starlite.

Konsep Starlite yang unik, frame yang lucu-lucu dan kualitas foto yang memuaskan membuat saya jatuh hati. Harga yang ditawarkan untuk paket 4 jam unlimited seharusnya 5.000.000, namun karena sedang pameran maka diskon jadi 4.000.000. Saya langsung menelepon si pacar untuk minta persetujuan, awalnya ia bilang waktunya terlalu lama, kenapa tidak ambil yang 3 jam saja. Saya menjelaskan bahwa Starlite tidak memiliki paket 3 jam, dan vendor lain yang menyediakan paket 3 jam harganya 3.500.000, untuk yang 2 jam seharga 3.000.000, beda tipis.

Lebih baik ambil yang 4 jam dengan estimasi 1 jam sebelum acara + 2 jam acara resepsi + 1 jam setelah selesai acara resepsi. 1 jam sebelum resepsi dimulai bisa dipergunakan untuk tamu-tamu yang sudah dating terlebih dahulu sejak akad untuk berfoto duluan sehingga pada saat acara resepsi di mulai mereka tidak foto lagi membuat antrian. Lumayan kan mengurangi antrian foto. Nah 1 jam setelah selesai acara dipergunakan untuk keluarga yang masih ingin foto, dan tentunya untuk foto penganten. Masa iya kami gak ikutan foto juga *penganten juga mau narsis ahhaha. Mendengar penjelasan saya, si pacar setuju, dan mengirimnya wassap persetujuan romantis ke saya *tumbeeen*

Tanpa banyak gaya, apalagi gaya salto, saya langsung menyambangi booth Starlite dan menanyakan apakah tanggal acara saya sudah ada yang pesan atau belum. Ternyata memang rejeki kami, tanggal tersebut masih kosong. horeeeeeey, Alhamdulillah! Saya deal dan membayar DP sebesar 30% dari harga yang ditawarkan. Tidak ada biaya tambahan yan dikenakan atas venue saya yang di luar Jakarta ini (Depok). Berbeda dengan salah satu vendor yang saya tanya ternyata untuk venue yang dilakukan di luar Jakarta akan dikenakan transport surcharge, walaupun lokasinya hanya pinggiran Jakarta alias Depok, alias UI yang lokasinya setengah Jakarta-setengah Depok. Hisshh. Saya langsung blacklist vendor tersebut, doi gak ikutan pameran di WCF juga siih.

Alhamdulillah kelar urusan walk of fame yang super ekspress ini. Malam sibuk googling, besoknya langsung deal. Tinggal bayar sisa DP saja. Oiya kelebihan Starlite lainnya adalah marketing Starlite yang super ramah dan antusias sekali ngobrol dengan kita. Marketing macem begini memang akan membuat customer merasa nyaman dan senang. Ada beberapa marketing yang kaku dalam melayani customer, jadi saya agak malas untuk tanya-tanya lebih lanjut. Semoga perform Starlite memuaskan di acara saya nanti, insya Allah. Aaaamiiiiin. Surprise datang, ternyata si pacar mau nyusul saya jemput di JCC, horeeeyyy! ^^

Noni Halimi

Mendadak Khitbah

Hari Ahad di penghujung Agustus 2014, saya dan pacar ada rencana ngobrol bareng dengan Bapak dan Ibu saya. Rencananya sih hanya ngobrol santai agak serius sebagai langkah awal si pacar mendekat diri kepada Bapak dan Ibu saya. Maklum, biasanya si pacar memang jarang sekali main ke rumah, dan dari 2005 saya mengenal dia, belum pernah sama sekali duduk bareng untuk ngobrol agak serius dengan Bapak saya. Saya pun memberikan informasi kepada kedua orang tua saya bahwa si pacar ingin berkunjung dan mengobrol dengan Bapak. Kebetulan kedua orang tua saya ke Lampung dan baru kembali pada hari Ahad pagi. Waktu yang pas untuk ngobrol-ngobrol santai dengan mereka pasca pulang dari Lampung.
 
Memang tujuan utamanya hanya ngobrol biasa, jadi saya dan si pacar juga santai-santai saja. Tidak ada yang begitu spesial dan harus dipersiapkan. Paling makan siang karena waktu pertemuan hampir tiba makan siang. Walaupun Ibu saya beberapa kali menanyakan keseriusan si pacar terhadap saya, namun saya tidak menekan si pacar untuk segera melamar saya, toh dia yang paling paham kapan waktu terbaiknya *preeet.
 
Ketika sampai rumah saya, si pacar disambut oleh saya dan Ibu. Kami bercanda seperti biasa, duduk di ruang tamu. Sesekali saya berbisik "deg-degan gak yang?" Ia menjawab dengan cengengesan khas "Nggak kok, biasa aja. Tapi keringetan nih." Katanya sambil kipas-kipas. Tak lama, datang Bapak saya ikut nimbrung. Bapak saya orang yang sangat tegas dan senang sama orang yang update informasi di berbagai media, sedangkan si pacar adalah tipe orang yang super males banget update berita. Hahaha. Ketemunya sama calon mertua jurnalis.

Bapak saya pun membuka obrolan to the point dengan hanya berkata "Jadi, gimana, tro?" Yang mungkin artinya adalah Apa maksud kedatangan kamu ke sini? Mendengar pertanyaan Bapak saya ke pacar, yang ditanya juga pacar, tapi malah saya yang panik, laaah gimana jawabnya yaa ini. Ternyata si pacar menjawab dengan sangat tenang dan teratur, bahwa ia datang ingin meminta izin kepada Bapak dan Ibu saya untuk menikahi saya, menjadi saya istri, Ibu dari anak-anaknya kelak dan menjadikan saya sebagai jodoh dunia akhiratnya. Ia juga menjelaskan bahwa ia bukan orang yang punya banyak kelebihan, dan masih banyak kekurangan pada dirinya sehingga ia tetap akan berusaha terus memperbaiki diri. Ia menjelaskan keadaan keluarganya dan segala macam informasi yang dibutuhkan oleh Bapak dan Ibu saya.

Hingga di akhir pembicaraan ia mengulang kembali, bahwa semuanya tergantu izin dari Bapak dan Ibu saya. Si pacar menjelaskan dengan tenang dan tidak ada kesan nervous apalagi terbata-bata, persis seperti interview kerja. Selesai mengutarakan maksudnya, saya, Ibu dan Bapak bengong alias krik krik alias speechless. Terlebih saya yang makin speechless, karena niat kami berdua di awal pertemuan adalah hanya obrolan biasa saja, bukan untuk acara minta ijin menikah seperti ini. Mana saya tahu tiba-tiba jadi adegan melamar gini.

Aaarrgghhh!! ^^

Voilaaaa…maka hari itu jadi hari bersejarah buat saya. Kalau kata orang lamaran itu adalah mendatangkan keluarga pihak laki-laki kepada pihak wanita, memberikan hantaran dan tukar cincin, maka persepsi lamaran dalam benak saya adalah seorang laki-laki yang mendatangi Bapak/Wali nikah wanita untuk meminta ijin menikahi wanita tersebut. Jika ditarik istilah mungkin yang mendekati adalah khitbah atau meminang. Ya, saya lebih sepakat dengan khitbah ketimbang lamaran ala Indonesia pada umumnya. Saya, pacar dan keluarga pun sepakat untuk tidak mengadakan acara lamaran yang heboh itu, kami hanya akan mengadakan acara keluarga kedua belah pihak, insya Allah. :D

Salam,
Noni Halimi

Jelajah Souvenir Alfriandra Cipinang

Alfriandra/Yana Souvenir
Jl. Cipinang Pulo RT. 015 RW. 011 No. 11
Cipinang Besar Utara, Jakarta Timur
Telp : 021-96636329, 98880301, 8561305, 68415860
HP : 081584234647, 08128533791

Bicara soal souvenir yang murah dan unik pasti banyak yang sudah hunting ke Asemka atau Pasar Mester Jatinegara. Di sana memang banyak menyediakan beragam souvenir untuk pernikahan. Dari gunting kuku, tempat tusuk gigi, tempat tissue, gelas, mug, dompet koin dan seabrek barang dagangan lain yang biasa dijadikan souvenir pernikahan. Saya sempat hunting ke Asemka, namun dikarenakan hari Minggu, maka banyak toko yang tutup dan pencarian pun menjadi tidak efektif. Saran saya bagi pembaca yang ingin ke Asemka hari Sabtu saja. Setahu saya memang untuk pasar-pasar tertentu ada yang tutup hari Minggu. Semua ini bermula dari si Mas yang kebanyakan leha-leha di rumah, kemudian dadakan ngajak ke Asemka.

Tadinya saya sudah cukup sumringah melihat harga yang ditawarkan di Asemka yang terbilang masih masuk budget souvenir saya. Hanya saja saya kurang sreg dengan barang-barang yang dijual di Asemka, rasanya sama semua. Setiap toko pasti menjual barang yang mirip-mirip bahkan sama persis dengan toko sebelahnya. Layaknya sahabat bagai kepompong, doi jual barang yang sama semua. Alhasil saya bosan dan memutuskan untuk pulang saja. Saya dan Masnya berencana ke tempat lain pekan depan.

Sehari sebelum keberangkatan kami untuk membeli souvenir, kemudian saya teringat rekan saya pernah bercerita tentang Gudang Souvenir yang terletak di dekat LP Cipinang. Kebetulan saya pernah sih masuk ke Penjara LP Cipinang jaman penelitian kuliah, sekarang sih sudah lupa yaaa. Tapi saya pernahnya ke Penjara LP Cipinang, bukan ke souvenir LP Cipinang juga. Jadi intinya ingatan saya tidak membantu lah *sedih* *terus ngapain cerita*

Nama gudang souvenirnya adalah Alfriandra/Yana Souvenir. Kenapa saya bilang gudang, karena tempatnya memang seperti gudang. Jangan membayangkan toko dengan etalase yang dipasang di depan, sama sekali tidak seperti itu. Alfriandra / Yana Souvenir memang sebuah rumah produksi souvenir, entah dapat barang supply dari mana, yang jelas satu rumah itu penuuuuuuuh dengan beragam souvenir pernikahan. Alfriandra juga memiliki toko di Jatinegara, Tanah Abang dan Asemka. Dengar-dengar juga, Alfriandra menjadi supplier banyak toko di beberapa pasar *entah denger dari siapa, bisik-bisik tetangga? gossip.

Gudang souvenir ini sudah cukup tenar dan populer di kalangan calon manten yang sedang galau mencari souvenir. Untuk lokasi pun mudah di akses. Terlebih jaman sekarang sudah ada google maps jaminan anti nyasar. 

Petunjuknya :

1. Kalau datang dari arah pinggir Stasiun Jatinegara atau Kampung Melayu, kamu akan melihat LP Cipinang di seberang jalan, lambaikan tangan. Horeee ketemu..! Putar balik kendaraan kamu sampai posisi LP Cipinang persis di jalur yang kamu lalui.

2. Jalan terus sepanjang LP Cipinang sampai habis, sebelah kiri jalan ada gang belok kiri, namanya Jl. Cipinang Latihan. Belok dan masuk ke dalam jalan tersebut.

3. Ikuti jalan, luruuus terus.  nanti ada jalan bercabang kamu belok kiri ikuti jalan, karena jalan lurusnya agak kecil. 

4. Tidak jauh dari sana ada jalan agak menurun di sebelah kanan, kamu belok kanan. Luruuuusss terus sampai terlihat sebuah rumah yang banyak orang parkir dan tukang parkir sedang semprit-semprit periwitan. Tidak lebay, tapi memang saking tersohornya tempat ini, maka banyak orang yang berbondong-bondong ke lokasi ini untuk hunting souvenir. Tempatnya nyaman, koleksi lumayan lengkap dan yang paling penting harganya murah plus terjangkau! *dibayar berape gue sama Alfriandra bisa promosi begini*

5. Gudangnya ada di sebelah kanan, terlihat plang Alfriandra / Yana Souvenir. Kamu sudah sampai tujuan, letakan kendaraan dan teriaklah "Berhasil…berhasil…horeeey!!!" *backsound Dora

Masuk ke gudang dengan perasaan deg-deg-an kira kira di sana jual apa (jual souvenir lah, menurut ngana?). Dan ternyata jeng jengg…..di luar rumahnya saja sudah ada bertumpuk-tumpuk dagangan souvenir yang siap kirim. Saya langsung masuk ke dalam rumah. Ternyata ruangannya ber-AC dan berkipas angin. Aaahhhh..surga duniaaa. Gak perlu panas-panasan dan berdesakan di Pasar Asemka, Mangga Dua, atau Jatinegara. Tempat ini memang oke banget! *lagi-lagi dibayar berapa gue sama Alfriandra* Okeh, saking banyaknya barang dagangan di sini, saya dan Mas pun bingung memilih yang mana. Setelah beberapa menit berputar dan melihat-lihat maka pilihan souvenir kami dijatuhkan pada……..jeng..jeng..jeng…

GELAS!

Mainstream? Emang. Biarin.  

Berhubung kami sudah lelah seharian jalan, akhirnya kami memutuskan untuk memesan gelas dengan standar kemampuan budget kami. Kami pilih gelas mug dengan ukuran medium dan bentuk yang lumayan jarang saya temukan di gelas mug yang biasa dijadikan souvenir nikahan. Bentuknya agak langsing, mungkin ini cucok dengan jeritan hati si Mas yang pengen langsing. Harganya 3500 rupiah saja dengan bungkus tile. Kalau kamu ingin mengganti bungkus dengan kemasan yang agak elegan boleeeh banget. Untuk kemasan mika atau paper bag dikenakan biaya tambahan 1000 rupiah per gelas. Jadi total hargannya 4500 rupiah. Berhubung budget kami hanya 4000 rupiah untuk souvenir, maka kami putuskan untuk pakai tile saja. Toh pembungkus juga akan dibuang nantinya. Mubazir kalau  mahal-mahal. *Pledoi (alasan pembenaran) calon manten yang belom tajir.

Pegawai Alfriandra cukup banyak dan sigap dalam melayani, begitu kami deal jenis souvenir, kami langsung diberikan satu bundel buku yang berisi gambar ilustrasi untuk cetak di gelas. Proses pembuatan maksimal 1.5 bulan, dengan DP sebesar 50% dibayar di tempat. Saya memilih gambar sepasang cewe-cowo sedang naik bis dan tulisan berbentuk cangkir kopi. Puas banget kerjaan satu ini lumayan membuahkan hasil. Alhamdulillah, checklist nyari souvenir kecoret jugaaaaak.

Oiyaa, saya punya tips dan saran untuk kamu yang ingin mencari souvenir di Alfriandra, supaya maksimal efektif dan efisien, ada hal-hal yang perlu diperhatikan :

1. Tentukan budget maksimum yang akan kamu keluarkan untuk membeli souvenir. Jangan sampai melebihi dari budget yang kamu anggarkan.

2. Tentukan pilihan item souvenir yang mungkin kamu pilih. Jangan terlalu banyak pilihan, nanti pusing sendiri.

3. Ketika kamu sedang memilih souvenir di Alfriandra pasti ramai pengunjung dan petugas pasti akan lelah jika kamu tanya berkali-kali soal harga. "yang ini berapa harganya mbak?" Mungkin pertanyaan pertama masih dijawab dengan senyum sama mbaknya. Tapi bayangin kalo udh pertanyaan ke sepuluh dengan jeda beberapa menit sekali, pasti mbaknya udah capek jawabnya. Jadi saran saya, kelilingi tempat souvenir, kumpulkan barang-barang yang mungkin menjadi pilihan kamu, setelah dapat beberapa barang, maka tanyakan kepada petugasnya sekaligus. Jika tidak ada harga yang pas dengan budget alias kemahalan, maka ulangi step yang tadi. Kumpulkan dulu pilihannya, baru tanyakan sekaligus.

4. Alfriandra akan sangat penuh pada hari libur atau weekend, maklum calon-calon manten ada waktunya weekend. Saran saya datang ke Alfriandra pagi sekali atau sore menjelang tutup ba'da Ashar. Situasi dan kondisi cenderung kondusif, tidak terlalu penuh.

Demikian penjelajahan Nonce The Explorer bersama dengan Putros gundut, melaporkan dari tempat kejadian perkara. Semoga calon-calon manten diberikan kemudahan dalam pencarian souvenir yang lumayan bikin galau ini. Cheers.

Salam Souvenirs,
Noni Halimi


 
 
 

Wednesday, December 3, 2014

Besar Besar Bangkok, Manis Manis Bangkok

Bukan isu lagi kalau Bangkok itu identik dengan yang besar besar. Sebut saja Durian Bangkok, sudah pasti kebayang besarnya itu Durian. Pepaya Bangkok, Jambu Bangkok maupun buah-buahan lain yang ada embel-embel Bangkok pasti sudah kebanyang kegedenya di atas rata-rata. Saya juga bingung sih, Thailand itu kalo nanem pohon gimana caranya kenapa buahnya bisa ekstra jumbo semuanya sih. Bukan Cuma buah-buahan sampai kucing yang saya lihat di Bangkok, dekat Masjid Chakrabongse pun seukuran anak anjing, Kucingnya gendut dan besar. Ya, khas Bangkok.

Bukan hanya besar, Bangkok juga identik dengan manis. Rasanya buah yang berasal dari Bangkok yang dijual ke Indonesia pasti rasanya manis. Sebut saja jambu bangkok yang warnanya hijau, rasanya super manis. Saya pikir itu hanya akal-akalan pengusaha saja biar jualannya laku. Maklum belum pernah ke Bangkok beneran, jadi bawaannya suudzon mulu *lah. Kali itu saya membuktikan sendiri soal buah Bangkok.

Ternyata Bangkok agak sebelas-dua belas dengan Jakarta. Bukan hanya soal waktu yang sama persis dengan Jakarta (tidak ada perbedaan waktu antara Bangkok dan Jakarta), namun juga soal abang-abang penjual rujak. Ternyata di Bangkok super banyak abang-abang di pnggir jalan yang jualan rujak. Mereka menggunakan gerobak yang berisi macam-macam buah. Eh gak macam-macam juga sih, lebih heboh buahnya Jakarta. Kalau di Bangkok biasanya hanya Mangga, Jambu Hijau, Jambu Merah. Jika di Jakarta menggunakan sambal kacang dan gula merah untuk sambalnya, maka di Bangkok hanya menggunakan bubuk rasa Pazzola saja. Dulu saya pernah mencoba Pazolla karena kebetulan Bapak saya entah dapat dari  mana. Rasanya manis, asam, asin, ramai rasanya. Tapi tidak pedas sama sekali. Sungguh orang Bangkok menyesal tidak merasakan rujak yang pedes sampe ke kuping.

Warna mangga Bangkok dan Jakarta sama, kuning. Tapi bedanya, saya yang udah ileran melihat mangga di gerobak abang-abang sudah membayangkan rasanya pasti asem, dengan tampilan super kuning. Ternyata salah dooonggg....Pada saat saya mencicipi satu gigitan mangga, luar biasa...rasanya manis! Saya pikir ah, paling cuma satu potog yang manis, diantara banyak potongan mangga yang ada, pasti yang lain asem! Ketika saya coba makan yang lain eh ternyata manis juga. Masih penasaran saya makan lagi potongan yang lain, masih manis juga, Saya tidak menyerah, saya coba lagi potongan-potongan yang lain sampai akhirnya itu seplastik mangga abis sama saya sendirian. Maapkan rasa penasaran sayaaaa rekan-rekan....*padahal emang doyan*

Masih agak gak rela bentuk mangga kuning gak menarik itu rasanya manis, malam harinya saya nyari abang-abang tukang jualan rujak. Ini bukan niat banget malem-malem nyari tukang rujak, tapi memang malam hari pun ini tukang rujak masih eksis aja jualan. Ibaratnya mereka jualan itu kayak pedagang cemilan buah keliling saja, yang bisa dimakan pagi siang sore malam. Kali ini saya dan rekan-rekan pesan mangga, jambu hijau dan jambu air merah ukuran jumbo. Dan luar biasanya itu buah gak ada asem-asemnya alias manis semua. Huh. Ini pasti konspirasi! Malam itu buah dikuasai oleh rekan saya yang lain supaya saya gak khilaf ngabisin sendirian.

Keesokan harinya saya melihat tukang jualan buah lagi, tapi ada buah kesukaan saya, apalagi kalau bukan strawberry. Bahkan strawberry dijadikan camilan yang dijual bebas seenak jidat. Kalau di Jakarta strawberry jadi buah mahal yang dibungkus rapi dalam plastik bening, kalo di Bangkok sih biasa aja dipotongin dan dijembreng barengan sama levelnya mangga kuning-kuning yang kemaren itu. Level ileran saya sudah mencapai titik maksimum yang artinya saya harus beli itu strawberry! Harganya memang lebih malah daripada harga mangga potong. Jelas saja, dimana-mana strawberry jadi buah mahal *kenapa jadi gue yang bangga*

Saya perhatikan dengan seksama kumpulan strawberry sebelum saya beli, tak lupa saya juga memperhatikan  isi dompet dengan seksama, memastikan masih ada uang untuk bayar ke ibu-ibu yang jual. Bentuk strawberry juga jumbo, tetap terlihat jumbo walaupun sudah dipotong. Jelas saja, strawberry Bangkok.  Diatasnya ditaburi oleh gula. Saya senang, akhirnya ada juga buah yang asem. Strawberry sudah pasti asem, ini makanya dikasih gula. Walau asem saya tetep cinta strawberry, justru makin asem makin seru. Saya dan rekan saya membeli satu gelas plastik strawberry. Iler hampir netes. Saat buah strawberry sudah masuk ke mulut....*tolong, ceritanya ini adegan lambat ya* saya mengunyah pelan-pelan, dan rasanya.......MANIS! Edan! Ini strawberry termanis yang pernah saya rasain seumur-umur. Bukan gegara gulanya yang cuma dikit ditabur diatasnya, bukan juga karena ibu yang jualan pelit ngasih gula yang sedikit, bukan juga karena duit saya yang udah abis hari itu jadi gak bisa nambah beli oleh oleh, bukan juga karena saya supir tuk-tuk yang heran ngeliatin kami makan strawberry lahap banget, bukan itu. Tapi ini strawberry emang manis dari sononyeeeeeee....Arrrghhh!!!!

Strawberry Jumbo
Poto dulu sama yang dagang
Tanpa komando dari pemimpin upacara, saya langsung ngabisin segelas strawberry tadi tanpas sisa. Setelah kejadian strawberry tadi, akhirnya saya nyerah aja dan mengakui kalau buah-buah Bangkok itu manis gilak! Pantes aja Bangkok ada oleh-oleh manisan buah, emang buah Bangkok itu top. Buat yang menjelajah Bangkok jangan pernah lupa untuk memanjakan lidah kalian dengan buah-buahannya. Dijamin gak nyesel. Okey bye!

Salam Besar-Manis,

Noni Halimi

Wisata Singkat Wat Arun

Wat Arun atau Temple of The Dawn juga merupakan salah satu tempat menarik yang terkenal di kota Bangkok. Wat Arun adalah kuil yang menjulang seperti menara yang berlokasi dekat dari sungai Chao Phraya. Untuk mencapai ke Wat Arun, kamu harus menyebrang dengan perahu. Lokasi untuk menaiki perahu ada di district Thonburi, tepat di seberang Grand Palace dan Wat Po.

Pertama kami saya menaiki boat melintas Chao Phraya membuat saya sangat excited dan kegirangan. Tatkala mesin perahu boat dinyalakan dan menunggu penumpang yang naik, saya tak lepas dari jeprat sana sini untuk mengabadikan foto. Bangkok memang salah satu kota yang mengandalkan transportasi air, dikarenakan banyaknya sungai yang melintasi kota-kota di Bangkok. Bedanya dengan Indonesia, jika di Bangkok sangat terurus dan justru memanfaatkan adanya sungai untuk kepentingan masyarakat banyak dan wisatawan asing, sedangkan Indonesia dibiarkan begitu saja. Dari Sungai Ciliwung warnya masih agak bening (kata orang jaman dulu) sampai sekarang warnanya cokelat tua mendekati hitam tua, tak kunjung juga dimanfaatkan oleh pemerintah.

Tak lama menunggu penumpang, supir Chao Phraya Boat pun menjalankan mesin untuk menuju ke distri seberang. Saya pikir akan memutar-mutar dulu, ternyata langsung menyebrang. Berhubung lokasi Wat Arun persis di seberang distrik Thonburi tadi, jadi sensasi naik Chao Phraya Boat hanya sebentar saja *penonton kecewaaaaa* nanti kita naik lagi untuk ke Asiatique deh.

Panas Bingits
Wat Arun
Thiv dan Kk Sinta
Menjelang berangkat
Siang hari agaknya bukan waktu yang tepat untuk berkunjung ke Wat Arun, karena letaknya di pinggir sungai membuat situasi semakin panas dan silau (apa hubungannya). Intinya waktu yang cucok untuk ke Wat Arun adalah pagi hari ketika matahari belum terik atau senja ketika matahari terbenam. Konon sebutan Temple of The Dawn didapat ketika Raja Taksim berlayar mengarungi sungai Chao Phraya dan perahunya harus merapa ketika shubuh. Pemandangan di sana sangat indah, dan Raja Taksim ingin membangun kuil di tempat tersebut. Setelah kuil tersebut selesai di bangun, raja Taksim menamakannya kuil fajar. Lah tadi kan lagi bahas senja matahari terbenam kenapa jadi fajar ya. Intinya sih bagus lah kalo dalam keadaan remang-remang dan banyak cahaya dari sekitar kuil. Kuil tersebut jadi terlihat bersinar di antara sungai Chao Phraya yang eksotis.

Salam Fajar Menyingsing,
Noni Halimi


Patung Wat Po

Pernah melihat gambar patung Buddha warna emas yang sedang tidur di destinasi wisata Thailand? Saya sering sekali melihatnya. Nama tempat tersebut adalah Wat Po. Ini juga salah satu destinasi yang wajib untuk dikunjung (setidaknya bagi saya) di Bangkok. Wat Po atau Temple of The Reclining Buddha adalah kompleks vihara terbesar dan tertua di Bangkok. Vihara ini terkenal dengan patung Buddha rebah berlapis emas yang terbesar di dunia. Menurut kepercayaan Buddha, posisi patung rebah ini adalah posisi kenaikan Buddha ke nirwana. Ukuran patung Buddha ini mencapai 43 meter kali 15 meter.

Patung ini terdapat dalam satu ruangan yang terletak persis di dekat pintu masuk Wat Po. Patung ini hampir memenuhi seisi ruangan karena saking besarnya. Disekeliling patung Buddha ini terdapat jejeran mangkuk-mangkuk berwarna emas untuk mengisi koin. Jadi pengunjung yang datang ke sana meletakan koin koin mereka satu persatu ke dalam mangkok. Mereka antri dan berjejer satu per satu. Saya melihatnya mirip seperti main congklak, karena meletakan koin secara teratur dan berurutan.

Wat Po
Letak Wat Po ini tidak jauh dari Gran Palace, kamu hanya perlu berjalan kaki  untuk mencapai lokasi ini. Jika kamu tidak tahu, kamu bisa bertanya kepada pemilik toko-toko yang ada di area Grand Palace. Wat Po terletak di Sanam Chai Road. Tempat wisata ini buka setiap hari dari pukul 08.00 pagi sampai dengan pukul 17.00. Tiket masuk ke dalam Wat Po adalah 100 baht.

Salam bobo,

Noni Halimi 

Grand Palace Bangkok

Kalau ada yang bertanya, apa objek wisata utama yang harus dikunjungi di kota Bangkok? Maka jawabannya adalah Grand Palace. Ya, inilah icon kota Bangkok yang bisa disejajarkan dengan Twin Tower Malaysia atau Merlion Singapore. Ini adalah icon kota Bangkok. Kalau kata orang sih, nggak ke Bangkok kalau belum ke Grand Palace. Untung saya udah perah ke Grand Palace, berarti saya sudah ke Bangkok dong yaa *sujud syukur*

Grand Palace ini adalah kompleks istana yang pernah menjadi kediaman resmi raja Thailand. Meskipun sekarang sudah tidak dijadikan sebagai istana raja, namun pesona Grand Palace tetap tidak hilang begitu saja. Grand Palace dibangun pada tahun 1782 oleh Raja Rama I, mengenai silsilah Raja Rama bisa dibaca di sejarah Thailand, saya sendiri pusing bacanya, mungkin lain kali sempat untuk baca serius. Grand Palace dibangun tidak lama setelah Rama I memindahkan ibu kota Thailand dari Siam ke Rattanakosin. Bangunan ini usianya mencapai lebih dari seratus tahun. Sampai sekarang masih dimanfaatkan untuk administrasi negara, namun tidak lagi digunakan sebagai tempat tinggal raja. Arsitektur Grand Palace seperti perpaduan antara gaya khas Thailand dan gaya Eropa. Di satu sisi sangat terlihat tradisional namun di sisi yang lain sangat dipengaruhi unsur western.

Area ini sangat luas dan terdiri dari beberapa museum dan bangunan. Grand Palace terletak di Nha Phra Lan Road, buka setiap hari dari pukul 08.30 sampai dengan 16.30. Harga tiket masuk ke Grand Palace adalah 400 baht, da harga ini termasuk tiket terusan yang bisa dipakai untuk masuk ke Dusit Palace dan Temple of Emerald Buddha. Tiket ini juga bisa dipergunakan dalam hari yang berbeda. Saya dan rekan-rekan ke Grand Palace pada hari Senin, namun berhubung ini tempat keramat betul, maka walaupun weekdays, tetap saja ramai dikunjungi oleh orang. Jika kamu datang ke Grand Palace maka sempatkan untuk masuk ke dalam rumah-rumah tersebut, memang tidak diijinkan untuk mengambil gambar di beberapa tempat, tapi cukup memuaskan untuk dikunjungi. 



Area Grand Palace sangat teratur dan dijaga ketat, bahkan pengunjung yang akan masuk ke Grand Palace harus melewati seleksi petugas dulu dalam hal pakaian, Karena tempat ini merupakan tempat terhormat bagi orang Thailand, maka tidak diperkenankan untuk mengenakan baju tanpa lengan atau celana pendek. Wisatawan yang menggunakan celana pendek atau baju pendek akan dipanggil ke antrian khusus untuk dipinjamkan baju dan kain selendang untuk menutupi tubuhnya. Saya jadi ingat di Malaysia, wisatawan yang ingin berkunjung ke Masjid Malaysia pasti harus lolos seleksi. Bahkan wanita yang sudah mengenakan jilbab namun masih mengenakan jeans ketat dan pakaian diatas lutut, maka diwajibkan mengenakan jubah penutup. So far, Grand Palace worth to visit lah *jadi logat Malaysia.

Salam Lambai Tangan Princess,
Noni Halimi


Masjid Chakrabongse


Bagian dalam Masjid Mungil Chakrabongse
Thailand bukan negara Muslim, dan sebagai seorang Muslim, hasrat saya mencari Masjid di Thailand semakin besar. Baca-baca buku panduan jelajah Bangkok saya menemukan satu Masjid yang kiranya wajib untuk saya kunjungi, namanya Masjid Chakrabongse. Masjid ini berlokasi di sekitar Khaosan Road dan Chakrapong Road. Saya memang tidak membayangkan Masjid besar layaknya di Malaysia. Saya sepakat (seorang diri) memasukkan Masjid Chakrabongse ke dalam itinerary. Berhubung saya yang bikin itinerary jadi suka-suka saya mau kemana :D

Jadwal kami ke Masjid ini adalah malam hari ketika kami berjalan kaki menyusuri Chakrapong Road. Banyak kuliner dan jajanan di sekitar jalan ini. Bahkan di salah satu perempatan jalan, ada yang tidak dilewati mobil dan dijadikan sebagai bazar makanan. Saya dan rekan-rekan menyempatkan diri membeli kebab dan sejenis pancake. Memang lapar menyebabkan bodoh. Pantes kalau jaman dulu kita mau aja dijajah. Alasannya apa? Karena pada kelaperan. Selesai memesan makanan, karena lapar yang menyerang, kami langsung menyantap tanpa mengabadikan foto makanan tersebut. Aarrggghhhh! *lebay* 

Tidak jauh dari area tersebut, saya berpapasan dengan seorang Bapak yang mengenakan peci kupluk. Entah mengapa saya juga yakin bahwa Bapak ini Muslim, walaupun bentuk pecinya memang gak mirip-mirip peci sih. Cuma aura sholehnya berasa *tsahelaaah* Tanpa komando langsung tanya Masjid Chakrabongse ada dimana. Dan benar sajaaaa...ternyata Bapk itu Muslim dan menunjukkan bahwa Masjid Chakrabongse ada di gang sebelah.

Kami kegirangan dan menuju pintu gang yang dimaksud oleh bapak tersebut. Kami menemukan plang tulisan Chakrabongse Mosque. Dan melirik ke arah gang persis di depan kami. Agak kecil bentuknya, lebih mirip gang senggol. Yaa apa pun itu, saya tetap gembira bisa menemukan tempat ini. Kami masuk ke dalam gang tersebut, dan mulai tercium aroma masakan dari rumah-rumah. Ternyata di sana banyak rumah yang menjual makanan, mungkin seperti warteg untuk anak-anak kost. Harum masakan yang khas dan sedaaap. Ini wangi masakan halal. Sungguh kontras dengan aroma masakan yang ada di sepanjang pinggir jalan Chakrapong Road tadi. Tak jauh dari mulut gang, kami menemukan pintu gerbang bertuliskan Chakrabongse Mosque. Alhamdulillah sampai.

Kami masuk berurutan dan berniat melepas alas kaki ketika sampai di depan Masjid. Ketika kami melepaskan alas kaki, ada seorang mas-mas yang menanyakan kami hendak apa? hendak sholat? Beliau berbicara bahasa Melayu, kami langsung jawab rehat sejenak ingin sholat Isya. Kemudian mas-mas itu bilang, “Ya boleh sekejap, kerana Masjid ini nak tutup, dah malam.” Saat itu memang menunjukkan pukul 20.30 malam. Mungkin karena Masjid ini dikelola oleh mereka, ada jam malam, terlebih kami juga serombongan wanita-wanita lemah (halaaah) yang seharusnya nggak boleh keluyuran malam-malam.

Tirai
Begitu masuk ke dalam Masjid langsung adeeeeem dan dingin parah. Tadinya kami gerah segerah-gerahnya jalan malam, habis masuk Masjid langsung nyeesssss....Angin dari kipas angin super kenceng membuat kami betah di dalam Masjid. Kalau nggak inget disuruh buruan sama mas-mas tadi, mungkin kami sudah nginep aja di Masjid :D Tiap saya datang ke Masjid mana pun di luar dari Jakarta dan kota-kota besar lainnya, atau ke Masjid di negara lain dengan pendudukan Muslim yang minoritas, membuat saya makin bersyukur bahwa saya sangat difasilitasi oleh tempat ibadah yang memadai, jangan sampe kalah semangat dengan saudara-saudara saya yang berada di daerah yang minoritas Muslim. Sempatkan untuk mengunjungi Mesjid di mana pun kamu bepergian, kamu akan belajar banyak.
Lemari Buku Mushaf
Mejeng di depan gang

Bangkok Shutdown

Bulan Februari 2014 lalu saya terbang ke Bangkok dalam keadaan deg-deg-an. Bagaimana tidak, saat itu ternyata masih terjadi kerusuhan dan demostrasi warga Bangkok. Aksi ini sudah berlangsung dari November 2013. Saya pikir Februari udah bosen demo, ternyata masih juga ada, bahkan makin gencar karena mendekati waktu Pemilu di Thailand. Demo ini bertujuan untuk menggulingkan Perdana Menteri Bangkok cantik bernama Yingluck Shinawatra. Para demostran dan pihak oposisi memaksa PM Bangkok untuk mundur dari kursi jabatannya. Terlebih ketika Thaksin Shinawatra, kakak dari Yinluck yang merupakan mantan PM, melarikan diri dari jeratan kasus korupsi. Yinluck dianggap membantu kakaknya dan bersekongkol dalam kasus korupsi.

Aksi demo ini bukan tidak heboh, bahkan aksi ini sudah banyak memakan korban. Beberapa ledakan terjadi di tengah-tengah kegiatan demonstran. Para demonstran beberapa kali menduduki pusat kota Bangkok dan memblokade jalan raya. Saya yang berencana pergi ke Bangkok jadi agak mikir. Bahkan saya disodorkan berita mengenai kersusuhan Bangkok oleh Bapak saya H-3 sebelum keberangkatan. Namun apa pun yang terjadi, tiket sudah dibeli, jadi saya tetap berangkat. Bismillah. Kami pun agak merombak itinerary perjalanan dan meminimalisir ke daerah yang rawan akan demo. Kami mungkin mendekati, namun  hanya sebentar saja. Tidak lupa kami rajin baca informasi mengenai Bangkok Shutdown dan lokasi-lokasi konflik. Selain itu kami memang dihimbau untuk tidak menggunakan atribut berwarna kuning atau merah, dan tidak menggunakan atribut bendera Thailand. Hal ini untuk membedakan demonstran dengan warga sipil lainnya.

Dengan baca doa yang super, temen-temen yang mau perang ke daerah konflik (siaaal), minta doa restu dari orang tua, kami pun tetep berangkat ke Bangkok. Berikut penampakan Bangkok Shutdown yang ada di area National Stadium, Siam dan sekitarnya. Benar kata media, memang masih terjadi demonstrasi.

Demo Yang Mirip Kemping
Bangkok Shutdown
Demonstasi yang dilakukan di Bangkok berbeda jauh dari bayangan saya. Berhubung saya tinggal di Jakarta, dan sering juga melihat orang demo, bahkan jaman mahasiswa malah ikut jadi peserta demo, dalam bayangan saya yaaaa...pendemo akan beriringan di pinngir jalan, berorasi, dan jika ada kerusuhan..ya nasip deh bentrok. Namun apa yang saya temukan berbeda sekali. Di Bangkok, aksi demo ini dilakukan dengan sangat tertib. Mereka menggunakan atribut demo, membangun panggung, berorasi, bahkan ada hiburan musik (ini demo apa kondangan dangdutan sih). Peserta demo duduk-duduk tertib di depan panggung sambil membentangkan atribut, tulisan, gambar yang mendukung aksi mereka. Bahka yang lebih lucu lagi, di stasiun National Stadium, terdapat lapangan cukup luas, mereka menggelar tenda hijau tentara, berbaris rapiiiii. Mereka menginap dalam rangka demo kepada pemerintahan, Lucu, ini demo apa kemping sih. Walaupun terlihat aman, bukan berarti tidak ada provokator dan potensi untuk rusuh. Jadi saya dan rekan-rekan hanya sekedar melihat dan segera menjauhi dari tempat lokasi demo. Cukup tahu saja, di sana demonya anti maintream gak kaya di Jakarta. Besok-besok saya kasih masukan untuk para demonstran kalau mau protes yang kreatif dikit, mungkin sambil bawa peralatan masak, terus masak-masak, abis itu masakannya dibagiin ke penonton demo (iyaa....ini demo memasak!)

Shopping Murah di MBK

Siapa sih yang tidak tahu MBK? Banyak orang yang tahu soal MBK, sedikit orang yang tidak tahu soal MBK. Dan sayangnya saya termasuk segelintir orang yang tidak tahu apa itu MBK *sedih tidak* Weitss..tapi itu duluuuu....sebelum saya pesan tiket Jakarta-Bangkok-Jakarta. Sejak saya nekat pesan tiket PP Jakarta-Bangkok-Jakarta melalui maskapai low budget Tiger Airways, sudah pasti saya akan cari tahu lokasi dan tempat yang wajib dikunjungi di Bangkok, maka saya pun tahu apa itu MBK. Terima kasih Tiger Airways *ala-ala tong fang.

MBK, Bangkok

MBK adalah salah satu pusat perbelanjaan yang ada di jantung kota Bangkok. Jika kamu menaiki transportasi umum BTS (kereta) maka kamu harus turun di National Stadium, berjalan sedikit dan voila..... kamu sudah sampai di MBK dengan jembatan yang langsung menghubungkan ke dalam mall tersebut. MBK itu singkatan (iya semua orang juga tahu keleus, Nonce). Nah kepanjangan dari MBK adalah Mah Boon Krong *oke saya ngaku lupa kepanjangannya, barusan saya google*. Jika kamu pergi ke MBK naik taxi maka bilang ke Pak supir ke Mah Boon Krong, karena sebutan tersebut untuk orang lokal. Mall ini ramai dikunjungi wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang ingin berbelanja. Gedung dengan 8 lantai ini memang menyediakan berbagai barang dagangan, mulai dari kosmetik, alat rumah tangga, fashion, souvenir, kerajinan tangan khas Thailand, kuliner, dan masih banyak lagi. Harga yang ditawarkan cukup terjangkau dan yang lebih asyik lagi di sini bebas tawar menawar layaknya ITC! Boleehh kakak...Silahkan Kakak...

Saat berkunjung ke MBK saya langsung memutar ke area perbelanjaan souvenir. Banyak barang yang dijual persis sama dengan yang ada di Chatuchak Weekend Market. Namun yang bikin kesel adalah harganya kok lebih murah dari Chatuchak yeeeeee...Bahkan untuk kaos, saya menemukan rombongan kaos souvenir dengan harga yang dibanderol 98 Baht saja per kaos, which is harganya kurang lebih 35ribuan. Ah meeeennn! Saya langsung ngibrit mendekati tokonya dan memegang bahan kaosnya. Well, aselik ini bahan kaos souvenir adem banget, beda banget sama kaos souvenir buatan Singapore atau Malaysia. Di Singapore untuk harga kaos dengan bahan yang agak lumayan mencapai 150ribu, sedangkan di Bangkok cukup merogoh kocek 35ribuan sudah dapat kaos kece. Walhasiiiiil kami kalap.

Bukan hanya kaos tapi juga banyak barang dagangan lainnya yang lebih murah dari di Chatuchak. Entah di Chatuchak kami tidak bisa nawar atau gimana keliatan bloonnya sehingga harganya jadi gak murah-murah banget. Jika kekurangan uang cash jangan khawatir di mall ini tersedia banyak money changer. Kamu bisa menukarkan uang rupiah atau dollar milik kamu ke dalam baht. Jika tetap tidak punya uang cash, kamu bisa menggunakan kartu kredit sebagai pembayaran. Banyak juga toko yang menyediakan mesin EDC sehingga kamu bisa berbelanja dengan cara menggesek kartu kredit di mesin EDC. Namun jika kamu tidak punya uang cash dan kartu kredit, saran saya kamu bisa berjalan kaki ke luar MBK, mending pulang saja daripada ngiler pengen beli ini itu kan!

MBK buka dari pagi hingga pukul 21.00 malam, makin malam justru makin ramai dan suasana dari luar MBK sangat cantik. Untuk yang berencana shopping di Bangkok, masukkan MBK sebagai salah satu destinasi belanja kamu. Dijamin gak bakal rugi! Kecuali kalo sebelumnya udah belanja banyak di Chatuchak sih *curcol

Salam Shopping,
Noni Halimi

Saturday, September 20, 2014

Madame Tussauds Bangkok

Menjelang siang hari lepas dari Chatuchak Weekend Market kami langsung bergegas ke Madame Tussauds yang terletak di Siam. Kami menaiki BTS dari Mo Chit menuju Siam dengan harga tiket BTS 42 THB. Karena panas yang super maka kami pun memutuskan untuk mencoba membeli ice cone McD yang berada di dalam stasiun Mo Chit. Harganya 9 THB atau lebih mahal daripada harga aqua dan harga ice cone di Indonesia. Tapi jangan khawatir, ukuran Bangkok memang selalu super big. Ini ice cone sampe lama bener saya bisa ngabisinnya sakit super gede. Padahal biasanya saya paling cepat kalau disuruh ngabisin ice cream. Madame Tussauds terletak di Siam Discovery lantai 6. Rupanya lokasi Siam Discovery sangat mudah ditemukan. Bekal bertanya orang sana sini, kami pun sampai di Madame Tussauds. Kami harus menyebrangi Siam Paragon (Mall besar dengan lambang huruf P di bagian depan gedung) dan Siam Center. Setelah menyeberang mall tersebut baru kami sampai di Siam Discovery dengan papan besar bertuliskan Madame Tussauds.

Sebenarnya saya sudah lama sekali ingin pergi ke Madame Tussauds. Untuk ke Madame Tussauds London agaknya masih lama dan belum cukup budget, maka Madame Tussauds Bangkok adalah yang paling dekat, hahaha. Begitu sampai di depan registrasi saya langsung menunjukkan bukti booking dan pembayaran tiket masuk Madame Tussauds. Jika kami masuk sebelum pukul 12.00 pm maka akan ada potongan harga. Untuk pembelian secara online juga mendapatkan potongan harga. Standar tiket untuk dewasa adalah 800 THB. Jika dilakukan pembelian online maka harga tiket menjadi 640 THB. Dan jika masuk sebelum pukul 12.00 siang maka tiket bisa dibeli dengan harga 480 THB saja atau hemat 40% dari harga normal. Menarik bukan.

Untuk lebih lengkapnya silahkan kunjungi laman berikut ini : www.madametussauds.com/bangkok/en/

Pose di depan Madame Tussauds

Chatuchak Weekend Market

Pagi hari di Bangkok tepat hari Minggu akan saya manfaatkan untuk ke Chatuchak Weekend Market yang berlokasi tidak jauh dari terminal Mo chit. Kami hanya butuh berjalan kaki dari Mo Chit. Berbekal peta yang sudah saya jarah di Bandara hari kemarin, maka dengan penuh percaya diri saya yakin nggak akan nyasar ke Chatuchak. Tentunya dengan modal tanya sana sini juga sih hehehehe.

Kami berangkat dari hostel menuju Samsen Road tempat pemberhentian bus sekitar pukul 06.40 pagi. saat itu masih sepi dan belum penuh kendaraan bermotor. Jalanan lengang dan masih cukup dingin. Bus besar yang kami naiki tanpa AC dengan kondektur seorang wanita yang sigap mengguncangkan kaleng sebesar kaleng Pringless yang berisi koin recehan untuk kembalian. Empat toiket untuk ke terminal Mo Chit kami harus membayar 11.5 THB. Lepas membayar dengan uang deposit kami bersama, dilanjutkan dengan menikmati perjalanan pagi hari di kota Bangkok. Hingga tidak terasa sampailah kami di terminal Mo Chit. Kami hanya berjalan kaki sedikit menuju Chatuchak Market. 

Pose dulu di Bus
Chatuchak (baca: Jatujak) adalah pasar tradisional yang hanya buka pada saat weekend (Sabtu Minggu) di Bangkok. Lokasinya berada di Chatuchak dekat dengan BTS Mo Chit. Chatuchak Market adalah pasar yang sangat banyak menjual barang barang. Lebih tepatnya one stop shoping. Karena kamu bisa menemukan banyak barang di sini. Dari baju, peralatan rumah tangga, kaos, cinderamata khas Bangkok seperti tas, gantungan kunci, hiasan dinding, tempelan kulkas, dan masih banyak lagi tersedia di sini. Tipsnya ketika berbelanja di sini adalah tentukan apa yang akan kamu beli sebelum masuk Chatuchak, karena banyaknya ragam yang dijual disesuaikan dengan lorongnya masing-masing. Misal lorong (soi) 1-3 untuk baju-baju, lorong 4-6 untuk makanan dan seterusnya. Sehingga ketika kamu sudah menentukan akan membeli apa maka sudah pasti akan menentukan akan masuk soi berapa. Hal ini untuk meminimalisir nysar dan buang-buang waktu dengan berjalan tanpa arah (tssaaaahhh).

Selain itu, agaknya prinsip membeli pada pasar di seluruh dunia akan berlaku hukum yang sama, yakni jika sudah ada barang yang diminati maka tawarlah dengan harga yang paling murah untuk mendapatkan harga yang sesuai dengan selera dan kantong. Demikian halnya dengan di Chatuchak, jangan malu untuk menawar harga dari harga awal yang mereka tawarkan. Terlebih lagi jika kamu membeli beramai-ramai dan dalam jumlah yang banyak biasanya akan diberikan potongan harga. Jangan lupa untuk survey alias berkeliling ke toko yang berbeda dengan barang yang sama untuk mencari perbandingan harga dan mendapatkan harga yang paling murah. Jangan ragu untuk bolak balik karena di sini memang banyak toko yang menjual barang yang mirip-mirip satu sama lain.

Jangan kalap untuk langsung membeli banyak barang. Selain Chatuchak masih ada lagi tempat perbelanjaan di Bangkok yang sayang untuk dilewati begitu saja. So, keep your money save in your pocket. Puas belanja kami keluar dari area pasar tersebut dan mencoba membeli mangga potong yang dijual di pinggir jalan. Ini kali pertama saya merasakan mangga Bangkok. Warnanya kuning, dan diberi bumbu garam gula selayaknya rujak pinggir jalan. Berbeda dengan di  Indonesia yang menggunakan sambal kacang, kalau di Bangkok hanya sebatas bumbu butiran garam manis asam asin ala-ala Pazzolla (untuk yang sudah pernah nyoba). saya pikir dengan warna kuning terang tersebut rasanya akan super asam, namun aneh ternyata rasanya sangat manis. Luar biasa. Harga seplastik mangga yang sudah dipotong adalah 10 THB (which is itu satu mangga gede utuh yang dipotong-potong). Lumayan murah lah. Tak lupa kami membeli aqua botol seharga 7 THB di pinggir jalan untuk menghilangkan rasa dahaga dan teman sarapan roti pagi hari :D

Buah buahan Rujak

Amazing House Bangkok

Perjalanan masuk ke Samsen Road Soi Song (2) penuh lika liku dan pemandangan kiri kanan kursi dan meja yang penuh dengan muda-mudi yang sedang bercengkrama di malam hari. Saya pikir mungkin itu adalah turis. Memang suasana lorong tersebut lebih mirip dengan China Town yang saya temui di Singapore atau Kuala Lumpur. Restoran pinggir jalan dalam gang yang cukup sempit muat satu mobil. Sampai di depan pintu hostel tak lupa kami mengucap syukur akhirnya ketemu juga sama ini hostel. Kami memesannya melalui Booking.com dan kami akan melakukan pembayaran di tempat alias on the spot. Kami berencana menginap 3 malam dengan 2 kamar tidur tanpa AC dan double bed. Kami memilih hostel yang kiranya cukup murah dan sesuai dengan budget kami. Namun ini hostel emang terlalu murah sih.

Kami memberanikan diri untuk masuk dan bertemu dengan Bapak yang duduk di dalam ruangan. Saya menginformasikan kalau sudah memesan hostel ini sebelumnya atas nama saya.

Kemudian ia mengernyitkan kening dan berkata : "What time is it?"
 Saya pun menjawab sambil melihat jam tangan saya "11.30pm, Sir"
Ia melanjutkan dengan muka serius "You inform me that you will come on 11.00pm, it's too late." Jawabannya membuat saya bingung.
"Well, i need some time to go here, and actually i have to wait my friend from Don Mueang Airport after my arrival in Suvarnabhumi, so it's a lil bit late."
Ia menjawab "I'm sorry, i cannot process you guys."
"Pardon me? It's just thirty minutes from my confirmation on your email" Saya makin heran dan agak panik.
"I'm sorry...." Tidak lama kemudian ia menahan tawa dan tertawa sambil berkata..
"Well, don;t take it that serious, i just joking. welcome to Bangkok, my name is Yong, anyway."
Lemes banget rasanya dan saya hanya bisa bilang
"Thank you, Yong. You make us so worried, you know"
Saya dan rekan-rekan saya hanya bisa ketawa lemes.

Saya kemudian diberitahukan peraturan hostel, diberikan dua kunci hostel dan tidak boleh sampai hilang jika hilang akan dikenakan denda. Jika ingin membeli air bisa dipesan di lantai 1. Dan lucunya ini hostel tidak memerlukan deposit money yang biasa diberlakukan untuk jaminan kunci. Jadi saya hanya membayar seharga 2 kamar hostel untuk 2 malam. Berapa harganya? Ini dia.

Bukti pembayaran Hostel Amazing House
Harga per kamar untuk satu malam hanya 300 THB yang artinya hanya 105.000 IDR untuk berdua. jika dibayar per orang kami hanya mengeluarkan 52.500 IDR per malam dan 157.500 IDR untuk tiga malam. Luar biasa muraaaah. Jangan berharap dapat fasilitas yang super oke dengan tarif murah begini. Bagi saya cukup lah untuk tidur dan istirahat. Kasurnya double dengan jenis kasur rumahan yang lumayan nyaman. Isi kamar hanya ada meja dan kipas angin bawah. Kamar mandi berada di luar dengan jumlah 2 kamar mandi yang dipakai bersama-sama. Cukup murah untuk harga segitu sih. Disyukuri saja :D

Akhirnya Bangkok

Bulan Februari menjadi bulan yang sangat saya nantikan, pasalnya pada akhir bulan tersebut saya bersama ketiga rekan kantor akan menjelajah kota Bangkok selama beberapa hari. Itinerary, hotel serta tiket Madame Tussauds sudah kami persiapkan jauh hari sebelum keberangkatan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Saya membeli tiket pesawat Tiger Airways beberapa bulan sebelumnya dengan promo free return, yang artinya saya hanya membeli tiket keberangkatan saja sedangkan tiket pulang seharga 0 rupiah. Pergi bayar, pulang dibayarin. Saat itu saya membeli tiker keberangkatan Jakarta - Bangkok (Suvarnabhumi Intl) dengan harga sekitar 675.000 IDR, ditambah bagasi pulang, biaya pemesanan dengan kartu, serta lain-lain, saya harus membayar tiket Jakarta-Bangkok-Jakarta dengan harga 1.000.000 IDR bersih. Harga yang cukup bersahabat lah untuk ke Bangkok, mengingat harga tiket promo untuk ke Bangkok dari Air Asia yang sudah lama saya perhatikan berkisar antara 1.500.000 IDR sampai dengan 1.800.000 IDR. 

Langsung saya booking dengan kompromi singkat dengan kedua rekan saya, yakni Kakak Shinta dan Thivany. Setelah tiket kami dapatkan, rekan kami yang bernama Ndari berniat ikut, namun sayang promo maskapai Tiger Airways tak kunjung datang, hingga akhirnya harus merelakan membeli Air Asia dengan harga yang sedikit lebih mahal, dan konsekuensinya adalah kami terpisah bandara. Tiger Airways akan mendarat di Bandara Internasional Suvarnabhumi sedangkan Air Asia akan mendarat di LCCT Don Mueang. Saya cukup khawatir dengan adegan pisah badara ini karena rekan saya Ndari kali pertama ke luar negeri. Namun, kami semua optimis perjalanan akan lancar dan aman. Bismullah.

Tibalah sore hari keberangkatan kami ke Bangkok. Saya dan Thivany sudah sampai Terminal 3 Soekarno Hatta. Syukur Alhmadulillah kami berempat berada di terminal yang sama, karena Air Asia pun akan berangkat dari Terminal 3. Setidaknya kami akan menunggu pesawat bersama walaupun Ndari nantinya akan berangkat beberapa menit setelah kami dengan maskapai lain. Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang dan Kakak Shinta berserta Ndari belum kunjung datang juga. Siang itu sungguh aneh, terik matahari namun di tengah perjalanan ke bandara tiba-tiba hujan sangat deras. Saya sudah mewanti-wanti Kakak Shinta dan Ndari supaya tiba lebih awal karena harus check in terlebih dahulu. Siapkan waktu setidaknya 2 jam sebelum keberangkatan internasional. Saya sudah ingatkan. Sekitar satu jam kami menunggu, akhirnya Ndari dan Kakak Shinta tiba. Kami bergegas ke Boarding Room dan menunggu pesawat kami.

Selama menunggu, kami langsung shalat Ashar dan Dzuhur dengan Jamak mengingat perjalan kami cukup panjang dan kemungkinan akan sampai di Bangkok lewat Isya. Tak lama kami sholat dan menunggu sambil nyemil De Besto (ayam yang dibawa oleh Ndari) kami langsung mendengar pengumuman bahwa pesawat Tiger Airways sudah siap dan kami diminta untuk beratur menuju ke pesawat. Ndari masih di terminal 3 menunggu penerbangan Air Asia.

Waktu tempuh Jakarta - Bangkok adalah 3 jam, dengan tidak ada perbedaan waktu diantara kedua tempat tersebut. waktu tempuh yang cukup panjang membuat saya memutuskan untuk tidur di tengah perjalanan. Saat bangun, ternyata langit sudah senja dan matahari tinggal ujungnya saja terlihat. Entah mengapa, saya langsung bersin berkali-kali dan demam. Biasanya setelah bangun tidur memang biasa suhu badan naik, namun sepertinya ini tidak biasa. Saya langsung berinisiatif meminum obat penurun panas dan pusing agar keadaan tidak semakin buruk. Setelah minum obat, saya melanjutkan tidur hehhehehehe.

Pukul 19.00 kami sudah tiba di Bandara Internasional Suvarnabhumi. Hal yang saya lakukan ketika tiba di sana adalah berputar keliling mencari imigrasi dan melihat-lihat. Lantai bawah bandara ini sangat biasa, tidak ada yang spesial. Padahal saya diceritakan oleh beberapa rekan saya yang sudah ke bandara ini, katanya bagus. Kami bertiga berjalan lurus entah berapa ratus meter dengan eskalator yang tiada akhir rasanya. Tidak bisa saya pungkiri ini bandara memang panjang gilaaakkk. Dan lucunya tiap saya menaiki eskalator, sesaat sebelum ujung eskalator akan ada notifikasi berbahasa Thailand yang mungkin artinya "Ini adalah batas akhir eskalator, hati-hati melangkah" Sotooooy gilak, tapi mungkin seperti itu. Bahasa dan iramanya super lucu yang membuat kami bertiga tergelak di ruangan panjang bandara yang cukup sepi itu.

Papan Pengumuman Maskapai
Papan Petunjuk Jalan supaya gak nyasar
Lepas melewati imigrasi, kami langsung bingung harus menunggu di mana. Maklum kali pertama kami ke sini dan kami belum menentukan meeting point bertemu Ndari dari Don Mueang. Saya pun bertanya sana sini mencari informasi mengenai Bus kedatangan dari Bandara Don Mueang ke Suvarnabhumi. Petugas memberitahukan bahwa bus akan berhenti di shuttle bus yang berada di lantai 2. Agak aneh sih, masa ada jalan raya di lantai 2. Namun ternyata memang benar, ada jalan layang tinggi yang dilewati oleh bus dan mobil-mobil yang datang untuk mengantarkan orang yang ingin masuk ke Bandara Intl Suvarnabhumi ini. Di lantai inilah saya baru melihat kerennya Suvarnabhumi. Hall yang berisi lalu lalang orang dengan berbagai kepentingan maskapai dan bagian luar yang indah berbentuk jalan layang. Kami bertiga menunggu Ndari di sana dengan mengandalkan komunikasi melalui BBM dan Twitter.

Saat saya sampai di Bandara, saya langsung membeli kartu perdana AIS 3G persis di dalam bandara sekaligus meminta untuk mengisikan paket blackberry agar tetap bisa terkoneksi dengan orang rumah. Maklum pakainya BBM. Namun demikian Bapak saya tetap saja menggunakan SMS. Haish. Harga AIS 3G ini sekitar 200 THB atau jika dikonversi ke dalam rupiah (1 IDR = 350 THB) maka senilai 70.000 IDR dengan paket yang bisa dipergunakan selama 2 bulan. Namun sayang saya hanya beberapa hari saja di Bangkok :S

Sim Card Thailand
Isinya
Selama menunggu Ndari datang di shuttle bus dari Don Mueang, kami malah asik ngobrol, foto-foto dan makan ayam De Besto yang tadi belum habis. Lumayan masih bisa dimakan daripada mubazir :D Pukul 21.15 kami baru bertemu dengan Ndari. Rupanya terjadi delay Air Asia sehingga jadwal ketibaan Ndari di Don Mueang juga terlambat. Fiuh bikin panik haha. Kami memutar otak bagaimana caranya sampai di Samsen Road dengan kondisi jalan yang sudah malam. Saya memang selalu kesulitan mencari tempat dengan kondisi gelap / malam. Seharusnya sih BTS atau kereta dalam kota Thailand sudah tidak beroperasi di atas jam 21.00 namun kami masih berharap ada kereta yang bisa mengantarkan kami ke Samsen Road, lokasi tempat penginapan kami.

 

Kami berlari menuju stasiun BTS yang masih di lantai 2 Bandara Suvarnabhumi ini. Ternyata masih ada kereta, dan jalan yang akan saya tempuh yakni sampai dengan Stasiun Phay Thai kemudian kami akan menyambung naik taxi sampai Samsen Road. Saya tidak bisa mengambil risiko mencari bus tengah malam begini dengan koper yang kami bawa. Syukur Alhamdulillah kereta masih ada dan kami diminta segera membeli tiket. Harga tiket kereta dari Suvarnabhumi menuju Phay Thai adalah 90 THB per orang. Kereta ini cukup bagus dan mirip dengan KLIA Express milik Malaysia. Di dalam kereta kami banyak bercanda dan rupanya Bapak disebelah kami memperhatikan. Dengan super polosnya Kakak Shinta menyapa "Liburan, Pak?" Saya dan kedua teman saya langsung bengong. Kenapa disapa pakai Bahasa Indonesia bukan bahasa Inggris. Hahaha. Rupanya Bapaknya mengerti Bahasa Indonesia dan cara berbicaranya mirip sekali dengan orang Melayu. Diceritakan bahwa Bapak ini adalah orang asli Thailand namun lama bekerja di Malaysia sehingga sedikit paham bahasa Melayu. Kami diberikan informasi mengenai tempat penginapan yang akan kami tuju, dan kami disarankan menaiki taxi. Ya, persis dengan rencana awal saya. Bapaknya sangat baik bahkan browsing tentang hostel kami dan menunjukkan foto gambar depan hostel kami. Beliau pun juga berpesan agar kami selalu berhati hati dan selamat menikmati kota Bangkok. :)

Tiba di stasiun Phay Thai, lagi-lagi kami harus nekat dan sok tahu berjalan ke arah mana. Rupanya di bawah tangga ada taxi yang sedang ngetem. Sepertinya sih taxi legal dan Bismillah saja saya langsung menanyakan apakah bisa kami berempat diantar ke Amazing House yang berada di Samsen Road. Mbak-mbak bagian pemesanan taxi pun bertanya dengan logat yang sangat aneh dan membuat saya berpikir keras dan menebak-nebak ini Mbak ngomong apa sih. Ternyata ia menanyakan lokasi hostel kami ada di Samsen berapa? Karena Samsen Road punya banyak lorong (soi), dari Samsen 1, 2, 3 dan seterusnya. Saya menunjukkan kertas print berisi alamat Amazing House yakni di Samsen 2 Road. Ia langsung mengerti dan bicara "Aaa...Samsen Soi Song" yang artinya adalah Samsen Soi 2. Saya langsung merekam dalam otak saya, itu artinya.

Ia menuliskan receipt pembayaran taxi dengan tulisan yang super saya nggak paham itu artinya apa, cacing semua. Walaupun demikian saya langsung masuk ke dalam taxi beserta barang-barang kami. Dalam hati saya bertanya-tanya, ini harus bayar berapa ya wong argo taxi-nya matiiiii :S

Bukti pemesanan Tiket Taxi
 Alhasil dengan kompromi sana sini, kami membayar dengan 100 THB. Perjalanan cukup lumayan dan kami disuguhi dengan pemandangan malam kota Bangkok kiri kanan lampu hias. Sepintas saya teringat dengan Jakarta karena kurang lebih jalanannya sama. Sampai di Amazing House kami pun mengucapkan terima kasih kepada Bapak supir taxi.