Tuesday, July 12, 2016

Rekomendasi Daily Khimar atau Bergo

Sejak hamil, melahirkan dan mengurus anak, waktu dibuat seefisien mungkin untuk urusan berhias alias dandan, tak terkecuali urusan jilbab. Kalau jaman dulu pergi ke luar pakai jilbab segi empat atau pasmina mesti banget diseterika dulu, pasang-pasang jarum dll, reuuusss rempong. Kalau sekarang saya lebih sering mengenakan bergo alias jilbab langsung pakai. Hemat waktu dan nggak ribet pas lagi megang anak. Jilbab non instan saya pergunakan sesekali saja kalau lagi banyak waktu πŸ˜†

Kedengarannya simpel, ya sudah cari saja bergo instan. Hmmmm, tapi tunggu, saya termasuk orang yang pilih pilih untuk urusan jilbab instan atau bergo, terutama bagian pet atau topi depannya. Kalau saya tidak suka bentuknya, ya saya nggak nyaman pakainya. Jadi mesti banget dapet pet yang nyaman dan pas dimuka saya. Saya juga pilih pilih bahan bergo yang saya pakai, kalau panas saya tidak suka yang ada malah basah kuyup. Plusss desain bentuk bergonya saya juga lebih suka yang simpel, bukan yang ramai payet sana sini atau kerut sana sini.

Nah, mengenai bergo yang cucok marucok denga selera saya, berikut saya share, barang kali ada yang sedang nyari bergo yang nyaman. 

1. Zoya

Awal mula saya mencoba brand ini gegara Zoya buka store baru di samping cabang tempat saya bekerja. Otomatiiiis saya dan rekan-rekan iseng berkunjung, sekalian kenalan sama mbak-mbak yang jaga. Dan saya dipertemukanlah dengan bergo Zoya dengan bentuk simpel, tanpa belah, tanpa payet ataupun bordir. Begitu saya coba pakai di fitting room, wooow enak banget! Bahan spandex lycra yang jatuh waktu dipakai tapi juga nggak gampang lecek. Pas banget. Akhirnya saya tanya ke mbaknya, kalau di cuci bisa merusak pet-nya tidak? Karena saya bosen banget beli bergo pasti ga awetnya karena pet-nya lemes dan rusak. Saat pet rusak, pupus lah bergo saya πŸ˜… Karena buat saya, bergo yang bagus petnya harus bagus. Nah, kata mbaknya bergo Zoya ga bakal berubah petnya walaupun dicuci dan seterika berkali-kali. Ih wow penasaran sama marketing mbaknya, akhirnya saya coba beli. Ternyata beneran loh, kualitasnya top. Sampai sekarang koleksi bergo Zoya yang saya punya belum ada yang pet nya rusak, padahal usianya sudah hitungan tahun. Adik-adik saya juga jadi hobi banget sama Zoya, berbekal ngembatin bergo milik saya πŸ˜‚ Soal harga memang lumayan mahal sih, tapi jadi cukup terbantu dengan adanya kartu member yang bisa dapat diskon tambahan 10%. Harga bergo Zoya ukuran Medium dengan menutup dada berkisar 40-60ribu. Yang disayangkan, bergo simpel macem begitu jarang produksinya, dan tidak ada ukuran yang lebih besar lagi. Bergo ukuran jumbo Zoya rata-rata bermotif dan berpayet. Rame lah pokoknya, mungkin marketnya emak-emak yaaa..

2. House of Fathiya

Pertama kali tahu brand ini karena nggak sengaja explore Instagram, ketemu deh sama Daily Khimar House of Fathiya. Kok kayaknya pet nya enak banget ya. Akhirnya coba beli dengan ikut PO, kebetulan mereka sedang ada PO. Saya pesan 2 pc untuk permulaan. Kebetulan saya juga mencari bergo yang agak besar, jadilah saya pesan ukuran XL, harganya 60.000 per bergo, sangat terjangkau mengingat ukurannya cukup besar. Biasanya pasti harganya di atas 100ribu. 

Setelah sebulan lamanya, akhirnya kiriman datang dan woooowww bergonya enak banget dipakai. Petnya super nyaman dan berasa rugi cuma pesen 2 biji mana PO lama. Setelah berapa lama akhirnya saya tahu kalau lokasi offline store House of Fathiya masih di daerah Lenteng Agung juga, iiiih dekeeet. Jadi bisa langsung main ke store tanpa nunggu PO. Mana ownernya juga geulis pisan, masih muda tapi luar biasa, namanya Fathiya.
 
Bahan yang digunakan adalah Kaos Rayon Platinum dengan kualitas bagus, lembut, tebal tapi nggak bikin gerah, tidak nerawang dan jahitannya super rapi. Bentuknya pinguin jadi ga kelihatan kebesaran, fit and proper di badan. Ukurannya besar sehingga menutup sempurna apalagi kalau sedang menyusui Umar, berguna banget! Pokoknya saya jatuh cinta sama bergo daily khimar HoF. Belakangan saya baru tau juga kalau salah satu penjahit HoF adalah mantan penjahit di Zoya. Laaah pantesan aja berasa mirip pet Zoya, asiiikkk! Saat ini saya punya beberapa warna Daily Khimar HoF dan dipastikan jadi langganan banget πŸ˜‚πŸ˜‚ Instagramnya bisa cek di houseoffathiya dan ownernya fathiyaatmadja

3. Khimar Haura Zizara

Nah kalau ini beda bahan, sedikit untuk yang formal, ini berbahan spandex crepe (mosscrepe) dengan tekstur tebal dan tidak menerawang. Ukurannya juga besar, dan ada aksen serutan yang mirip dengan Daily Khimar Fatima milik brand Atelier Angelina. Harga khimar Zizara ini tergolong agak mahal yakni 140.000. Ada harga ada kualitas sih, jahitannya juga rapi. Bisa cek di instagram zizara_ zizara_store, zizara_reseller, readystock_zizara dan buanyaaak reseller yang tersebar di seluruh Indonesia.

4. Kiciks Daily

Kiciks ini merupakan bergo berbahan kaos import high quality dengan pilihan warna yang bikin jatuh hati. Awalnya pet Kiciks ini kecil, namun kini dibuat satu lagi style pet ukuran sedang, sehingga konsumen bisa memilih lebih nyaman pakai pet kecil atau sedang. Owner kiciks ini yakni Uni Dewi dan Suaminya. Bahkan katalog Kiciks dihandle sendiri sama uni yang jadi modelnya. Aaaahhh adem banget liat wajah manisnya uni. Cara pembelian bergo kiciks ini dengan sistem PO yanh super lama tapi memuaskan hasilnya. Kalau mau cepat bisa dicari di distributor resmi kiciks. Seperti yang saya lakukan hehe 😁 *maunya cepet. Harga bergo ini juga tergolong terjangkau, untuk ukuran XL seharga 57.000 saja. Mirip dengan HoF kaaaan.. Saya memang cinta produk harga murah πŸ˜‹ Bagi yang berminat ini instagramnya kiciks_daily dan ownernya dwpermata. Bisa juga cek di distributor Kicis seluruh Indonesia buat yang mau cari ready stock.

5. Fatima Khimar from Atelier Angelina

Saya belum punya produk ini sih, tapi tetap saya rekomendasikan karena oke bangeeet. Bahan ceruty dengan kualitas terbaik. Ada harga, ada kualitas katanya. Harganya memang agak mahal, untuk ukuran S 185.000, M 190.000 dan L 210.000. Berasa juga kalau koleksi kan? Hehe makanya sampai sekarang saya belum punya. Yang bikin gemes banget adalah warna basic dan pastel yang super cute, pluuuus kalau dipakai sama ownernya makin baper pengen punya. Udah lama banget kepoin akun instagramnya. Iya, yang punya Atelier Angelina ini adalah Teh Angella Fransisca atau biasa dipanggil Teh Angie. Beliau ini mantan model dan sekarang sudah hijrah pakai hijab syar'i. Meuuuni geulis pisan kayak barbie, pokoknya mah tob banget apalagi kalau posting juga soal rumah tangga, bapeeer abis 😍 Bagi yang berminat, cusss ke Instagram atelier.angelina, angelina.update dan ownernya angellafransisca.

Monday, July 11, 2016

Wewangian dari Masa ke Masa

Siapa yang nggak suka wangi? Pastinya semua orang suka dengan wangi-wangian. Eits, tapi ga sembarang wangi, namanya selera orang beda-beda. Ada yang suka aroma wangi menyengat, ada yang suka soft, ada yang suka wangi buah, bunga, dan wangi tak terdeteksi lainnya. Yang penting wangi. Soal wewangian ini, bisa dibilang saya punya proses panjang coba sana sini menyesuaikan dengan selera saya dan kantong saya pastinya, sampai saya punya signature fragrance sendiri karena pakenya itu lagi itu lagi. 

1. Eskulin Cologne Disney Series Cinderella

Entah dapet ide beli cologne ini darimana, kayaknya sih nggak sengaja lagi nyari parfum yang murah di supermarket, dan dapetlah parfum ini. Harganya lupa berapa, yang jelas masuk kantong pelajar banget. Wanginya super lembuuut banget mirip kayak pewangi pakaian pas lagi nyeterika πŸ˜‚ tapi kalau dipake kelamaan wanginya mirip kaya bedak kalau kata suami saya (waktu kita masih SMA dulu). Ternyata harga murah nggak bikin juga kualitas ikut murahan. Buktinya ini cologne walaupun judulnya ga ada EDP sekalipun, wanginya tahan lama. Seragam udah dicuci, pakai pewangi pakaian, pas mau diseterika masih juga ada wangi ala-ala bedak yang suami saya bilang tadi. Weeew.

2. Natural Wonders

Kalau body mist ini saya mulai coba gonta ganti juga jaman SMA. Jadi awal mulanya teman saya bilang kalau ada body mist wangi bener harganya yaa cukup lumayan, belinya di Century Blok M Plaza. Iya cuma ada di Century doang, saya taunya dulu begitu. Alhasil saya coba berbagai macam wewangian dari wangi vanilla, strawberry, pear, campuran buah, bunga dan lain sebagainya, saya juga sampai nggak inget, karena tidak ada yang sampai sekarang masih saya pakai. Walaupun harganya cukup terjangkau, tapi ketahanan wanginya cukup lumayan kok, awet dipakai setengah hari deh. Kalau udah nggak wangi bisa semprot lagi, karena harganya nggak mahal-mahal banget jadi tega aja kalo semprot berkali-kali πŸ˜‚

3. The Body Shop Strawberry

Jadi saya itu pecinta strawberry. Biasanya sih beli pernak perniknya. Saking sukanya sama strawberry, pernah dibawakan oleh-oleh parfum mini wangi strawberry dari rekan saya yang melancong ke Vienna. Entah mereknya apa ya, saya juga lupa. Tapi wangi strawberry nya maniiiis banget, ga bikin eneg, malah bikin nyaman. Nah, berhubung brand The Body Shop ini punya body mist wangi strawberry maka saya pun memutuskan untuk mencoba. Berharap wanginya lembut dan manis macem parfum ala Vienna, well ternyata wangi strawberry The Body Shop di luar ekspektasi, saya kurang suka, hiks. Saya cuma pernah beli sekali dan ga repeat order. Tapi sekarang malah dikasih The Body Shop lagi dengan wangi yang berbeda macem White Musk Libertine, berhubung suami saya kerja di The Body Shop, suka dibagi gratis. Lumayan rejeki istri πŸ˜…

4. Bali Ratih Strawberry

Kasusnya sama, karena ada varian wangi strawberry maka saya coba. Berujung kuciwa juga soalnya wangi strawberry Bali Ratih ga sama kayak yang saya pengin. Apa ini pertanda saya mesti melancong juga ke Vienna buat dapetin wangi strawberry yang super enak itu? Ehehhee ngareepp. Namun demikian, wangi Bali Ratih cukup soft dan ga bikin eneg kok, variannya juga banyak kalau mau coba-coba.

5. Paris Hilton Heiress

Ini dia parfum favorit yang bisa dibilang jadi signature fragrance saya, soalnya keseringan pake ini terus. Sampe suami saya waktu jaman pacaran hafal banget sama wangi ini. Seri heiress yang dikeluarkan oleh Paris Hilton memang diminati oleh kaum muda yang enerjik yang suka wewangian yang soft dengan wangi dominan ylang ylang maniiis seperti wangi bubble gum. Untuk detail wanginya bisa googling sendiri, karena saya juga ga bisa deskripsikan seperti apa wanginya. Yang jelas ini parfum cukup tahan lama, saya semprot di baju, eh besoknya masih wangi. Ckckck luar biasa. Parfum ini juga masih saya pakai sampai sekarang, rasanya udah jadi parfum andalan banget.

6. Escada Rockin' Rio

Pertama kali saya mencoba parfum ini bukan karena beli brand aslinya, tapi cuma iseng beli parfum 40ribuan di toko pernak pernik Bunga. Ternyata wanginya enak banget pas sudah dipakai. Fresh, soft, maniiis kombinasi fruity berbau nanas jeruk dan berakhir musk. Setelah itu parfum ala-ala habis baru saya coba beli lagi dengan botol aslinya. Wanginya tetap enaaaakkk! Favorit banget pokoknya, masih dipake sampai sekarang. 

7. Paris Hilton For Women

Kebanyakan parfum yang dikeluarkan Paris Hilton itu manis dan soft makanya saya nggak ragu untuk coba varian lainnya. Googling sana sini ternyata banyak yang rekomendasiin Paris Hilton For Woman. Akhirnya eksekusi beli juga dan hasilnya.. not my favorite tapi not bad laah.. Wanginya sih enak, top notesnya melon dan apel, middle notesnya ylang ylang yang manisnta mirip heiress, dan base notesnya wangi musk. Tapi wangi dominannya memang lebih ke melon yang soft. Ketahanannya biasa aja, dipakai setengah hari juga hilang. Tapi so far sih cocok aja pakai ini πŸ˜†

8. Paris Hilton Can Can

Another percobaan Paris Hilton yang bentuk botolnya super gendut ini. Wanginya lagi-lagi kombinasi floral-fruity dengan campuran black currant, nectarine dan soft musk. Nyam nyammm.. Maniiiis. Ga heran kalau digandrungin sama kaum muda yang suka dengan wewangian fresh. Sebelas dua belas sama Paris Hilton For Women, wanginya cuma kuat setengah hari, ga bisa dipake lama-lama. Tapi Paris Hilton Can Can cocok juga dipakai acara malam, lebih elegan gimanaa gitu πŸ˜‹

Rata-rata wewangian yang saya pake cuma berputar di fruity floral yang dominan manis. Belom pernah coba wangi yang lebih banyak lagi, soalnya saya bukan hobi koleksi parfum juga sih. Tapi next kalo lagi niat sih pengen nyoba Britney Spears Fantasy katanya setipe sama Paris Hilton. Nanti deh kalo udah nyoba baru review πŸ˜‚







Sunday, July 10, 2016

Tas Produk Dalam Negeri

Saya bukan orang yang hobi beli tas, bukan orang yang suka koleksi tas apalagi gonta ganti tas. Selain tas itu barang mahal yang ga cocok buat dikoleksiin (mending koleksi kuaci), terlalu sering gonta ganti tas bikin bingung pindahin barang bawaan. Paling males banget kalau pindahan isi tas, sudah sampai tempat tujuan, eeeeh ternyata ada beberapa barang yang tertinggal di tas sebelumnya. Pengen balik lagi ke rumah ya gak mungkin.. Huft.

Ngomong-ngomong soal tas yang harusnya sih gak saya bahas soalnya gak punya banyak tas (terus ngapain tetep dilanjuuuut posting cuuuy), tapiii saya cuma mau share beberapa brand tas yang selalu bikin saya jatuh cinta, apalagi kalau bukan tas produk dalam negeri. Apa yang bisa dilakukan generasi muda---yang belom bisa bikin industri kreatif sendiri, selain mencintai produk dalam negeri dengan membelinya. Iyaa, karena belom bisa bikin sendiri, minimal yaa beli lah untuk sumbangsih ke bangsa sendiri dan mengangkat citra produk dalam negeri.

Bertebaran bak kacang goreng produk tas dalam negeri dengan kualitas premium dengan harga yang woooow.. mejik. Gak nyangka kalau harga tas dalam negeri bisa mahal-mahal juga. Terlebih tas hand made, eksklusif, extra ordinary dan kualitas super bagus, ga heran harganya selangit. Sebut saja Sew Stories, saya mupeng abis liatnya. Iya cuma bisa liat doang karena harganya selangit. Tas dengan desain eksklusif plus ukiran dengan warna-warni menggemaskan. Extra ordinary. Ada harga ada kualitas. Brand tas dalam negeri lainnya ada Tulisan untuk tas grafis, Abekani untuk Tote Bag, Mitra Jaya Learher untuk kulit, Dowa untuk jenis rajutan, dan masih banyak lagi. Tapi saya ga bahas banyak soal brand di atas, karena harganya ga masuk kantong saya.

Balik ke pernyataan di atas, saya ga hobi tas. Rasanya sayang sekali mengeluarkan uang sampai di atas 500.000 untuk sebuah tas. Rasanya ada yang janggal, saya berasa mubazir. Mending untuk kebutuhan lain, iya kan? Jujur saja budget pembelian tas saya paling mahal 350.000. Itu pun sudah hunting sana sini, cari harga pembanding, ditinggal tidur beberapa hari dulu (soalnya ga langsung dibeli, eh tetep kepikiran pengen beli hehehe) sampai akhirnya bisa eksekusi pembelian. Iya, itu harga maksimal yang bisa saya keluarkan untuk sebuah tas. Masih masuk akal, masih masuk kantong saya lebih tepatnya untuk membeli sebuah tas. 

Kata siapa tas produk lokal buatan Indonesia yang kualitas premium tidak ada yang terjangkau? Adaaaa.. Jangan julid dulu, selalu ada market untuk kalangan menengah ke bawah macem saya ini yang mikir berhari-hari buat beli tas agak mahal. Sebut saja brand Les Catino atau LC. Ini salah satu brand favorit saya dari jaman pertama kali kerja. Siapa sangka brand yang namanya macem bule-bule ini merupakan karya anak bangsa? Harganya masih terjangkau, pinter-pinter nyari diskon potongan di Zalora dan Berrybenka atau lagi clearance sale di departement store.  Kualitas? Boleh diadu, kuat dan tergolong awet. Saya punya tas Les Catino yang sudah beberapa tahun terpakai tapi masuk awet dari luar sampai dalamnya. Modelnya pun fashionable dan tidak ketinggalan jaman.

Selanjutnya, sebelas dua belas dengan Les Catino, ada Palomino. Ini juga masuk brand tas fashion yang ga kalah dengan model-model tas fashion lain tapi harganya cukup terjangkau. Saran saya, yang harus diperhatikan khusus untuk brand ini adalah hati-hati dalam pemilihan bahan tas, ada yang mudah rontok, ada yang awet. Kalau mau nyari aman sih beli yang bahannya kulit sintetis. 

Kalau tadi tas cewe-cewe banget, entah sling bag, shoulder bag, totte bag maupun satchel-- Nah, saya punya brand favorit juga untuk ransel. Dari jaman sekolah dulu saya selalu pakai Exsport. Walaupun namanya Exsport tapi jangan kira ini produk luar. No no.. Ini produk dalam negeri, tapi kualitasnya super kuat. Buktinya awet mengangkut buku-buku pelajaran yang super berat selama bertahun-tahun. Dari dulu hingga kini, brand Exsport menjadi salah satu pilihan untuk anak sekolah. Bahkan sampai kuliah saya masih pakai Exsport dengan kombinasi kantong laptop. Belum lagi sekarang ini, Exsport lebih fashionable. Kalau jaman dulu desainnya monoton begitu-begitu aja, kalau zaman sekarang rasanya full color dan beragam bentuk. Sampai pusing sendiri kalau mau beliin buat adek πŸ˜†

Brand satu lagi yang tidak kalah menarik dibidang ransel adalah Elizabeth. Ini juga top banget, walaupun ada yang harganya mahal, tapi selalu ada yang harganya menengah macem tas ransel mini yang sampai sekarang saya gagal move on sama tas ini. Kayaknya pergi ke mana pun saya lebih nyaman pakai tas ransel ini. Bahannya anti air, kantongnya super banyak, bentuknya mini tapi ketika dimasukkan banyak barang eeeh muat loh. Unbelievable! Saya jatuh cinta sama brand ini, terutama ranselnya. Jahitan serta bentuknya yang bikin awet terus walaupun dipakai bertahun-tahun. Plus gak gampang terlihat kotor, soal cuci tas ransel ini, bisa dihitung pakai jari kaliiii.. Saking jarangnya saya cuci πŸ˜‚

Sisanya? Tas KW? Saya kurang begitu suka tas KW, soalnya kualitasnya juga kurang oke. Walaupun bentuknya sangat mirip dengan tas aslinya karena tas KW adalah replika, rasanya tetap berasa ga elegan, kecuali kalau replikanya bagus *looh hehe πŸ˜… Saya lebih senang tas unbranded, iya tas tanpa brand apa-apa yang penting oke, nyaman, murah, baguuuus.

Bagi yang sedang mencari inspirasi dan rekomendasi tas brand lokal yang bagus, pilihan di atas bisa jadi alternatif. Semoga dapat tas yang cucok di hati yeeeesssss...

Wednesday, July 6, 2016

Belanja Online

Zaman makin canggih, bahkan untuk belanja saja cukup ambil handphone. Kalau jaman dulu, mau belanja atau beli barang mesti ke luar rumah, entah itu ke pasar atau Mall. Saat ini, semua bisa dilakukan di mana pun dan kapan pun dengan gadget kita. Belanja dengan gadget maupun komputer biasa disebut dengan belanja online atau online shopping. Di Indonesia sendiri sudah cukup banyak situs yang bergerak di bidang e-commerce yang dapat dijadikan sarana berbelanja online. 

Sebut saja Lazada dengan tagline Effortless shopping, belanja itu ga ribet alias mudah. Tinggal buka situsnya bahkan bisa aplikasinya bisa di download di gadget, cari-cari barang, pembayaran dan tunggu pesanan diantar. Mudah bukan? Lazada sendiri kebanyakn free ongkir, jadi hemat banget kalau nemu yang murah. Saya pertama kali belanja online ya melalui Lazada ini. Situs ini banyak juga kupon diskon, pembayaran bisa melalui transfer, e banking sampai pembayaran melalui kartu kredit. Namun seringnya harga di Lazada super di luar ekspektasi. Misal sebuah barang seharga 1juta, diskon 90%, hingga total akhir harga barang 100.000. Nah barang tersebut adalah sebuah dompet dengan brand yang biasa saja, dan kalau dipikir-pikir memang harga aslinya pantas 100ribuan. Jadi diskon di atas sebagai pamanis saja. Namun demikian banyak juga harga yang beneran murah, sering-sering pantau harga saja dengan pembanding yang lain. Langganan saya beli di Lazada apalagi kalau bukan pampers Umar hehehe, lumayan banget diskonnya πŸ˜†

Tokopedia, yang katanya kalau kita butuh barang apa pun bisa cari di sana. Tapi memang benar, rasanya nyari apa pun keywordnya, ada aja yang jualan. Yang saya suka dari Tokopedia, harga yang ditampilkan mendekati harga yang sebenarnya. Jadi kalau saya butuh cari info harga asli barang tersebut berapa, biasanya lari cek ke Tokopedia. Tapi sayaaaang, berbeda dengan Lazada yang free ongkir, kalau Tokopedia ini ada ongkirnya. Kebayang kalau pesen barang dari berbagai toko, banyak juga ongkirnya. Sedih? Jangan dulu. Karena Tokopedia juga sering kasih promo free ongkir. Enaknya juga, pencarian di Tokopedia bisa diurutkan dari banyaknya penjualan, banyaknya diskusi, banyaknya ulasan dsb sehingga kita bisa tahu kira-kira reputasi penjualnya seperti apa. Di kolom diskusi kita bisa tanyakan ketersediaan barang yang kita mau, kalau ada, baru dipesan.

Mirip dengan Tokopedia, ada lagi akun e-commerce yakni Shopee. Pertama kali saya dikenalkan situs ini oleh rekan kantor yang belanja kebutuhan bayi. Awalnya saya jarang belanja di sini karena sering crash di iphone, namun lama-lama ada update versi baru sehingga aplikasi jarang crash seperti dulu. Apalagi sekarang shopee sedang promo free ongkir untuk jangka waktu yang cukup lama. Biasanya saya siasatin kalau mau belanja online di Instagram, tanya dulu online shop tersebut punya akun shopee tidak? Kalau punya, pesan via shopee, lumayan free ongkir, hehe.. Keunggulan shopee ini juga bisa melihat barang dengan pengurutan penjualan terbanyak dan dilengkapi fitur chat ke penjual jika berniat ingin tanya ini itu soal barang yang akan dibeli. Bukan tanya alamat rumah yeeee.. Belum lagi adanya fitur tawar, wooww kita bisa nawar loh. Kalau tawaran kita diapprove, harga yang tertera otomatis berkurang. Keren khaaaan..

Instagram, sebenarnya ini akun media sosial untuk eksis, namun berkembang pesat jadi tempat jualan. Super banyaaak banget akun yang berisi barang dagangan. Tapi jangan kecewa dulu, justru mudah mencari berbagai barang melalui instagram, cukup dengan cari hashtag yang sesuai. Isinya supeeer banyak, sabar-sabar cari yang paling cucok aja..

Aplikasi lain yang biasa saya gunakan untuk berbelanja adalah Bilna.com yang saat ini berubah menjadi Orami by Bilna. Beberapa kali saya transaksi melalui aplikasi ini, apalagi kalau ada promo voucher, potongan, dan diskon untuk produk-produk tertentu. Pernah juga ada voucher tambahan diskon 30% untuk transaksi menggunakan Kartu Kredit BNI dan BNI Syariah. Yeaaay. Orami sendiri lebih fokus pada kebutuhan bayi dan balita, super banyaaaak banget barang-barang yang berkaitan bayi balita di sini. Beberapa barang seperti Oogie Bear, Termometer, Gabag Cooler Bag, Pampers, Baju menyusui saya dapatkan di Orami by Bilna. Namun jangan terkecoh, walaupun banyak menyediakan kebutuhan bayi balita, bukan berarti tidak ada promo produk lain. Contohnya saat promo Maybelline saya pernah transaksi Nude Eyeshaddow dengan harga diskon, plus saya pernah transaksi lipstick Sari Ayu murah meriah yang super susah ditemukan di counter. Daripada muterin counter, belum tentu dapet, di Orami ada yaaa beli 😁

Elevenia, sebelas dua belas dengan Shopee sih.. Bentuknya kurang menarik dan entah kenapa saya kurang familiar dengan tampilan Elevenia. Untuk voucher yang ditawarkan Elevenia tidak begitu beragam dan gencar, namun jika beruntung bisa dapat barang dengan potongan murah. Saya pernah transaksi pembelian lipstick rire yang super booming itu, gegara mba wiwin bilang baguuus warnanya, maka saya coba, eh beneran bagus awet pula.. Promonya? Beli satu gratis satu. Yeaaay..

Situs e-commerce lainnya yang selalu saya perbandingkan jika membeli produk branded adalah Zalora dan Berrybenka. Kenapa? Karena kedua situs ini mirip dari segi produknya. Banyak brand yang sama mengisi kedua situs ini. Jadi pintar-pintar cek promo dan potongan saja, mana yang lebih murah, Zalora atau Berrybenka. Misal saya mencari Tas Les Catino, maka saya cek tas incaran saya di Zalora dengan voucher hasil akhirnya berapa, kemudia bandingkan dengan promo di Berrybenka, hehee. Dua-duanya super gak tanggung-tanggung kalau packing. Beli apa pun di service banget pakai box eksklusif. Saya pernah transaksi di Berrybenka, untuk dapat voucher potongan ternyata total belanjaan saya kurang minimal 5000. Wah nambah apa nih, feeling saya sih pasti Berrybenka ga bakal mengeluarkan produk dengan harga minim, pasti harga terendahnya 50.000. Huft kan sayang banget tambahannya banyak, padahal saya ga butuh-butuh banget. Pas saya cari, eh ternyata ada lho kuas eyeshaddow 10.000 kebetulan saya juga butuh. Ketika barang datang betapa terkejutnya saya, pesanan tambahan saya berupa sebuah kuas tadi dipacking dalam box eksklusif Berrybenka. Weeew.. Harga barang ga seberapa, dikasih box juga πŸ˜‚

Situs lainnya yang pernah saya pergunakan adalah Blibli.com dan Ebay. Khusus untuk Ebay biasanya saya suka iseng cari barang-barang China yang harganya jauh lebih murah ketimbang beli di Indonesia. Suami saya pernah beli baterai iphone di Ebay, hasilnya bagusss ga kayak baterai sekali pakai buang khas China. Saya beberapa beli casing HP berbagai motif dengan harga hanya 1-2 dollar saja, sedangkan di Indonesia dengan barang yang sama seharga 2-3 kali lipat lebih mahal. Tuh, untung kan beli di Ebay. Walaupun demikian, belanja di Ebay cuma untuk orang yang sabar, karena proses pengirimannya dari luar negeri, maka sampai di tangan kita pun bisa 1 bulan sejak pembelian. Hehehe.

Super banyak situs e-commerce yang terpercaya dan mendukung belanja online kamu. Saya punya beberapa tips dan saran (based on pengalaman pribadi) :

1. Pilihlah e commerce yang aman dan terpecaya sehingga menimalisir akun online shop bodong yang tipu-tipu. Pastikan track record penjual baik, penjualan banyak dan testimoninya positif. 

2. Belanja online sesuai kebutuhan. Mentang-mentang bisa diakses kapan pun dan dimana pun, jangan jadikan belanja online sebagai hobi, cari barang yang dibutuhkan, bukan random searching sehingga muncul keinginan untuk membeli barang lainnya. Prinsipnya sama seperti belanja di Supermarket. Biasakan sebelum masuk Supermarket, tulis catatan daftar barang yang akan dibeli sehingga meminimalisir pembelian barang yang tidak perlu sehingga lapar mata. 

3. Sering-sering bandingkan harga dari satu e-commerce satu ke yang lain, pakai voucher yang disediakan, hitung, mana yang paling murah itu yang kita ambil

4. Jika tidak menguntungkan, hindari pembelanjaan dengan metode pembayaran kartu kredit. Selain ada biaya tambahan, pembayaran melalui kartu kredit suka bikin si empunya ga sadar, sama saja seperti belanja di offline store. Ini kudu diperhatikan, kalau ga ada promo ga usah dipakai yesss..

5. Pada dasarnya online shopping ini untuk memudahkan, bukan mempersulit. Maka pilih situs online shopping yang memudahkan kamu berbelanja, dan memudahkan kamu untuk membayar. 

6. Tunggu moment-moment yang kiranya bakal banjir diskon. Apa salahnya bersabar sedikit. Ketika kita punya target barang yang akan dibeli, perhatikan chart harga dalam berbagai moment, entah potongan diskon, entah event yang diadakan situs e-commerce dan lain sebagainya. Simpan barang tersebut di wishlist. Kita akan punya patokan, berapa rata-rata harga jualnya dalam berbagai event dan promosi. Ketika mencapai harga yang paling rendah / murah, bisa langsung eksekusi :)

Demikian curcooooolan panjang soal online shopping. Saya biasa belanja online ketika ditugaskan kerja di Bintaro. Rekan-rekan saya sama juga kerjaannya hobi belanja online. Sampai-sampai pesanan kami datang silih berganti diterima oleh security. Bentar-bentar ada kurir paket, dan ributlah kami "paket punya siapa tuh??" Hingga munculah ide kalau kami itu kantor cabang online shopping saking seringnya belanja online. Maklum jaman dulu hamil mager keluar belanja. Hehhee. Happy Shopping 😍

Tuesday, July 5, 2016

Generasi Tahun 90

Siang hari puanas pol saya memilih tidak keluar rumah, kebetulan ada Mbak Wiwin Kakak Ipar saya di rumah. Kami mengobrol random di kamar, sambil ngadem. Ngomongin permainan anak jaman dulu vs permainan anak jaman sekarang. 

Entah mengapa kalau lihat anak jaman sekarang bermain, miris sekali. Rasanya terlalu individualis, tidak sekreatif anak jaman dulu, rentan manja dan gadget-colic. Anak jaman sekarang lebih senang main sama gadgetnya, nunduk dan tak peduli sama lingkungan sekitar. Lebih senang duduk berlama-lama di depan komputer untuk browsing dan mencari hiburan serta bermain. Rasanya sayang semua yang dibutuhkan anak pindah ke alat elektronik kotak itu.

Syedddiiihhh..

Kalau ingat saya jaman dulu, sangat berbeda sekali. Waktu di mana rumah-rumah tidak sebagus sekarang, yang punya motor bisa dihitung pakai jari, apalagi yang punya mobil. Suasana jalan raya belum seramai sekarang, masih banyak tanah merah, masih banyak tanah lapang untuk tempat bermain anak. Masih banyak tanaman-tanaman hijau yang tumbuh di kiri kanan jalan. Masih banyak pohon-pohon besar yang memayungi kami bermain di bawahnya.

Rinduuu..

Dulu waktu saya kecil, saya selalu diperbolehkan untuk main di luar oleh orang tua saya. Tempat bermain saya dan teman-teman ada di depan rumah. Tanah petakan cukup pas untuk bermain dikelilingi beberapa pohon rambutan Cipelat super manis dan pohon alpukat, adeeem bangettt. Kalau pas musim rambutan dan dipanen oleh Bapaknya tetangga saya, bocah-bocah baris nanti dibagi rambutan. Rambutan Cipelat ini super enak, rambutnya botak, cenderung tajam, isinya bulat sempurna, dan kalau dimakan ngelotok dagingnya, hingga sisa bijinya saja, tidak ada daging buah yang tersisa di biji. Yg masih warna kuning aja sudah manis luar biasa, gimana warna merah. Tak heran harga rambutan cipelat ini termahal di kelasnya. Kadang senengnya luaaaar biasa, ketika ga sengaja nemu rambutan merah matang yang jatuh. Mayaaan.. Rambutan gratis.

Tetangga saya ada beberapa yg punya rumah tinggal sendiri, tapi kebanyakan yang lain di rumah kontrakan petakan. Banyak anak-anak kecil yang hampir-hampir sebaya dengan saya. Range usianya ada yang sebaya atau beda 1 sampai 4 tahun. Jaman SD, saya biasa bermain siang hari sepulang sekolah sampai menjelang Ashar. Nah pulang ke rumah untuk mandi, lepas itu kadang masih ada yang main ke luar lagi dengan piyama yang udh kece sama bedak putih yang kentara banget cemong, pertanda ia bener-bener abis mandi, ga boong.

Main apa?

Kami generasi tahun 90an yang artinya lahir di tahun 80an, tidak pernah kehabisan ide permainan. Kalau anak cewe biasanya suka main karet. Rasanya ada yang kurang kalau anak cewe ga punya karet sendiri. Makanya saya buat juga sendiri, sengaja beli karet 1/4kilo hanya untuk dibuat pernainan karet. Beli karetnya yang warna hijau atau merah, bentuknya lebih besar dan lebih molor, jangan yang kuning. Bikinnya sampai pakai kaki segala buat penahannya loh. Kalau yang pernah bikin mungkin tahu. Tapi jangan salah, permainan karet ini bukan cuma untuk anak perempuan, anak laki-laki pun kadang ikutan. Dari tinggi semata kaki, dengkul, pinggang,  dada, pundak, telinga, kepala hingga merdeka dengan tangan ke atas. 

Main tap gunung, yang digambar di tanah pakai kapur papan tulis, bentuknya 3 kotak vertikal, 2 kotak horizontal, 1 kotak lagi vertikal, 2 kotak horizontal. Ditutup bagian paling atas gambar setengah lingkaran atau kita sebut dengan gunung. Batu gacoan kami menggunakan pecahan genteng atau pecahan keramik. Kami malah punya gacoan favorit, yang kalau dilempar enak sesuai dengan kemauan kami. Kalau anak tahun 90an pasti tahu nih cara main tap gunung.

Permainan lain yang super sering dimainkan adalah kasti dan petak umpet. Kalau kasti dimainkan sore hari menjelang mandi sore. Kami punya pemukul kasti sendiri, terbuat dari kayu yang dibikin sendiri lupa sama bapaknya siapa yah. Bola kasti pun punya untuk ramai-ramai. Untuk tiangnya kami menggunakan media berupa pohon. Base 1 pohon rambutan, base 2 pohon alpukat dan base 3 pohon coklat. Yang seru karena mainnya bukan di tanah lapang, jadi kalau mukulnya kencang sekali bisa terbang entah kemana. Kadang masuk halaman tetangga, masuk ke area kandang ayam tetangga juga, bola nyangkut di pohon (kalo ini yang lebih sering sih kok batminton, buat nuruninnya pake lempar raket supaya dahannya goyang) dan yang paling males kalau bola kastinya nyemplung ke kubangan got atau rawa-rawa disekitar tempat bermain kami. Aargghh.... Sumpah males banget, tapi tetap saja bola yang nyempung dan berlumuran itu diambil, digunakan buat gebok (istilah melempar bola ke badan lawan untuk mematikan). Malah makin seru! Soalnya lawan larinya makin ketakutan kena bola berlumur tanah rawa gambut gotttt πŸ˜‚

Petak umpet juga suka kami mainkan, kadang suka ngumpet jauh banget sampe ke RT sebelah, ga heran lama kelar nge-gong-in. Selama adegan ngumpet sempet-sempetnya kami maen peletekan dulu. Tau peletekan? Itu tanaman yg berbunga warna ungu, dan buahnya panjang-panjang kalau sudah tua berwarna cokelat. Nah yang warna cokelat ini dicemplungin ke got atau saluran air, dan voilaaaa pletek pletek... Meledak kayak petasan. Pecah semua dan keluar isi biji-bijinya. Yang seru kalau lagi ngumpulin di tangan eh tangan kita keringetan, peletekannya meledak di tangan πŸ˜†

Mainan anak laki?

Layang-layang maksudnya? Ooh buat saya dan teman-teman, itu bukan mainan anak laki, itu mainan semua anak. Naik ke atas genteng untuk menaikkan layangan, kejar-kejaran rebutan layangan putus, atau sekedar kesayat benang gelasan yang tajam. Sudah makanan sehari-hari. Kalau lagi musim rambutan dan lagi main layangan, bagai peribahasa sambil menyelam minum air, kami main layangan sembari metikin buah rambutan yang selanjutnya dimakanin rame-rame. Belom bilang ke bapaknya yang punya pohon sih, cuma dibolehin sama anaknya yang punya, dia yang idein malah πŸ˜›πŸ˜›

Gundu. Bukan cuma permainan laki-laki. Sungguh, jaman dulu kita ga maen gender. Semua permainan bisa dilakukan baik laki laki maupun perempuan. Bahkan gundu juga dimainkan oleh perempuan, termasuk saya. Senang sekali jaman dulu suka mengumpulkan gundu dengan berbagai versi. Ada gundu biasa, gundu susu, bahkan gundu emas. Bagaimana yah menjelaskannya, hehe. Intinya kita bermain adu gundu, kalau yang terkena gundu gacoan kita, gundu teman kita itu, kita ambil seperti tawanan. Hehe.

Mainan yang agak feminim?

Dulu saya juga suka main boneka ala-ala dari tangkai pohon pepaya sama temen-temen. Caranya tangkai pepaya yg ada bonggolnya dipotong sekitar 15 cm. Bagian bonggolnya dicutter bentuk lubang mulut dan digambar mata. Bagian ujung tangkai kecil yg bolong disumpel sama daun pepaya hingga tertutup sempurna. Mainannya mah sumpah jorok abis, main tanah. Jadi tanah dikasih air, sampai jadi bubur tanah, terus pakai sendok dari pelepah tangkai pepaya sisa, dimasukkan ke lubang mulut si boneka ala-ala tadi, ceritanya dia makan. Suapin terus sampe penuh sambil berimajenasi jadi emak-emak yang nyuapin anaknya. Ceritanya begitu. Setelah penuh sampai luber keluar dari mulut, maka saatnya sumpelan daun pepaya di tangkai bawah di lepas, dan keluarlah semua isi bubur tanah tadi, ceritanya... Hmmm itu lah πŸ˜‚

Gak cuma suap-suapan. Saya juga suka masak-masakan. Dari iseng masak boongan yang ga bisa dimakan, sampe masak agak serius yang kayaknya sih bisa dimakan. Ngulek jahe, kunyit, lengkuas yang nyabut di halaman rumah, nyari pohon mangkok yg bentuk daunnya miriiip bgt kayak mangkok. Plusss nyari benalu yg nemplok di pohon, yang warnanya kuning, persis kayak mie kuning. Jadilah ceritanya masak mie kuning. Kadang iseng cuma pengen tahu, masak permen relaxa, ternyata bisa sampai lumerrr. Kalau masak yang agak bener, pernah masak sop-sop-an. Simpel, berhubung ga tau resepnya, jadilah ngasal. Ambil kaleng sarden kosong dari rumah, kasih minyak dikit, masukkan bawang merah dan bawang putih yang diiris-iris. Lalu masukkan air, cemplungin kentang sama wortel yang sudah dipotong2, dikit aja berhubung ngembat dari dapur emak, plus masukkan royco, garam dan gula. Tiba-tiba baunya jadi super enak mirip sop dan kami langsung bangga luar biasa berhasil masak sop (lebay abis). Dan akhirnya itu sop setengah kaleng sarden kita makan beneran πŸ˜‚

Ga jauh dari adegang masak-masakan, saya dan tetangga-tetangga juga suka bakar singkong. Kebetulan tetangga, Ayahnya punya kebun singkong, alhasil kami bocah-bocah sering minta singkong. Setelah diperbolehkan, kami nyabut singkong sendiri, ini adegan super seru, maen tarik-tarikan batang singkong, pas keluar singkongnya jejingkrakan. Kalau ada singkong yg tertinggal di dalam tanah kita ambil juga *ga mau rugi. Setelah itu, singkong dicuci dari tanah2 yang menempel, sebagian menyiapkan api unggun. Jaman dulu mudah sekali cari kayu, tumpuk2, bakar, singkongnya dimasukkan di dalam api unggun kecil tadi. Kipas-kipas bergantian sampai kiranya sudah matang dengan kondisi permukaan singkong udh hitam legam namanya kena bara. Berebutan lah makan singkong hitam itu, belah jadi dua, kupas kulitnya pakai tangan dan nyam nyam.. Makan singkong sambil tangan cemong item-item. 

Berburu

Bukan seperti jaman sekarang anak-anak berburu pokemon melalui smartphone masing-masing. Kalau jaman saya kecil saya dan teman-teman juga senang berburu, tapi bukan pokemon. Saya senang berburu semut hitam yang besar banget di lubang semut. Caranya karet gelang dapur digunting hingga bentuknya seperti tali. Masukkan di lubang rumah semut dan tunggu sampai karet gelangnya bergerak masuk ke dalam yang artinya ditarik semut. Begitu bergerak langsung ditarik keluar, syuuut berbarengan dengan semut hitam keluar juga. Abis itu ya dibiarin aja, mancing semut yang lain lagi. Rasanya puas saja setelah berhasil iseng ngeluarin semut. Kalau musim penghujan tiba saya dan tetangga suka mandi hujan. Iya, lebih lebat lebih oke. Kalau hujan lebat saya sama adik-adik bersoray sambil bilang ke Ibu "Mandi ujan ya bu." Setelah dapat ijin langsung berlarian ke luar basah kuyup main perosotan berlumpur. Eyuuhh.. Tak lupa kalau sudah mulai reda kami berburu cacing yang bergelimpangan. Maklum banyak tanah segar di sekitar rumah, jadi bakal banyak cacing kalau hujan tiba.

Selain itu kami juga suka berburu entung-entung, yakni ulat yang menempati daun pisang. Kalau melihat ujung daun pisang bergulung, kami senang bukan main, langsung ambil galah yang diikat pisau, potong ujung daunnya, buka gulungan daun berasa buka surat kerajaan, dan voilaaa.. Ada entung ulat yang nangkring. Bentuknya genduuuut, ada kepalanya bulet hitam, dan badannya berbalut putih seperti bedak. Biasanya langsung kami ambil terus taro di tangan, ulat pun bergerak uget-uget.

Tak lupa siang hari kami berburu dempetan. Jadi serangga ini mirip kepik, tapi bentuknya panjang berwarna orange. Serangga ini tidak menggigit, jadi bisa kami permainkan. Serangga ini biasanya ditemukan di tanaman tertentu, saya lupa nama tanamannya apa, yang jelas sejenis ilalang, cuma ada bunganya saja, dan sudah sulit dijumpai saat ini. Nah biasanya ada serangga orange itu, 2 serangga saling berdempetan satu sama lain, saling membelakangi. Karena itu kami menyebutnya "dempetan". Apa yang kami lakukan? Mengambil mereka dan melepas dempetannya hingga terpisah sendiri-sendiri, lalu diletakkan di tangan, kemudian dilepas. Sampai sekarang saya juga nggak tahu, kenapa serangga itu bisa jalan dempet-dempet begitu? Apa sedang kawin? Zzzz. Serangga lain yang kami buru adalah belalang, dari belalang hijau, cokelat, sampai belalang yang super duper besar punya kaki bergerigi tajam, cuma bisa ditangkap pakai kain, ga bisa pakai tangan kosong kalau ga mau luka. 

Tidak semua teman saya pernah merasakan. 

Iya, karena berteman dengan berbagai latar belakang kondisi ekonomi, banyak juga diantara mereka yang belum pernah merasakan berenang di kolam renang. Kebetulan di rumah saya ada kolam renang yang terbuat dari plastik yang bisa dipompa. Saya dan adik-adik saya mengajak bocah-bocah renang di halaman rumah saya. Halaman saya tidak besar, tp cukup lah buat naro kolem renang mini. Agenda renang tiap sore hari, rumah saya berasa penyewaan kolam renang tapi gratis hihi. Kolam diisi hampir penuh, dimasukan kaporit. Wuih rasanya kayak kolam renang sungguhan. Super ramaaaai bocah-bocah dari usia 2 tahun sampai 12 tahun datang bergantian. Numplek semua. Sampai akhirnya overload itu kolem plastik bocor. Bubaaar ga bisa dipake lagi. Tapi kami tidak habis ide, di halaman itu juga ada kolam ikan yang dibuat sama Bapak saya cukup dalam, sekitar 1 meter. Luasnya ga besar-besar banget paling 1x2,5meter. Dibikin kolam renang dadakan lagi men, diisi air plus kaporit, nyemplung lagi deh bocah-bocah se-RT πŸ˜‚ Seruuuuu sekali.

Satu lagi yang saya rindukan soal masa kecil saya yang sekarang cukup sulit ditemukan pada zaman ini. Masih ada siih, tapi jarang. Yakni TPA dan jajanan jadul. Jaman dulu usia TK sampai SD sudah lazim sekali para orang tua memasukkan anak-anaknya ke TPA (Taman Pendidikan Al Quran), belajarnya di Masjid sama Kakak-kakak pengajar. Mereka sukarelawan, yang mengajarkan kami mengaji Iqro, kadang diajarkan juga nyanyian Islami anak-anak. Kami juga punya kartu TPA yang isinya record bacaan kami, Iqro berapa, halaman berapa, lanjut atau ulang. Kami mengaji biasanya menjelang sholat Ashar sekitar jam setengah 4 dan selesai pukul setengah 5. Rasanya seneng banget, apalagi kalau pulang bisa jajan πŸ˜‹ Banyak abang-abang mangkal di depan mesjid, ada yang jual baju-bajuan bongkar pasang (yang sampe sekarang masih ada aja dengan model yang ga berubah), tukang arum manis, tukang gulali merah hijau yang bisa dibentuk macam-macam ya sikat gigi, dot, balon, kipas, excited banget pokoknya pas abangnya ngebentuk ini itu, padahal terkadang ditiup atau digepeng-gepengin pakai tangan, jaman dulu ga berasa jorok πŸ˜‚ Dasar bocah. Kalau lewat warung ga kelar begitu aja, bisa beli anak mas, ichiban cokelat kotak yang isinya cairan berbagai rasa, permen karet warna warni, balon tiup sedotan, permen cicak dan lain sebagainya, semuanya bikin kangeeen...

Bener, memang tidak semuanya bisa dituliskan, tapi sekedar flashback saja, rasanya masa kecil kami generasi 90an lebih berwarna dan lebih kreatif. Berusaha bahagia dengan cara kami sendiri, dan dengan permainan ala kadarnya. Apa-apa bikin sendiri. Bayangin mau main mobil-mobilan aja bikin dulu dari kulit jeruk bali, mainan yang udah paling keren jaman dulu itu Kapal Otok-Otok di baskom yang baunya minyak tanah.

Aaahh sayang sekali anak jaman sekarang ga bisa ngerasain lagi, semoga banyak para orang tua yang mendidik anaknya lebih kreatif dengan banyak bermain yang simpel seperti jaman dulu, bukan sekedar kasih gadget. Semogaaa...

-Noni Halimi

Wednesday, June 29, 2016

Istri di rumah saja

“Ayah, aku mau kerja!”

“Jangan, lah. Kamu di rumah saja. Istri itu di rumah tugasnya :)”

“Itu, tetangga kita, dia kerja!”

“Hehe …, dia itu guru, sayaang. Dia dibutuhkan banyak orang. Yang membutuhkan kamu tidak banyak. Hanya Ayah dan anak kita. Di rumah saja, ya.”

“Itu…, tetangga kita yang satunya, yang sekarang sudah pindah ke kampung sebelah, aku lihat dia kerja. Bukan guru. Tidak dibutuhkan banyak orang.”

“Nanti, tunggu Ayah meninggal dunia.”

“Apa-apaan sih?”

“Dia itu janda, sayaaaang. Suaminya meninggal satu setengah bulan yang lalu. Makanya dia kerja.”

“Tapi kebutuhan kita makin banyak, Ayah”

“Kan Ayah masih kerja, Ayah masih sehat, Ayah masih kuat. Akan Ayah usahakan, InsyaAllah.”

“Iya, aku tahu. Tapi penghasilan Ayah untuk saat ini tidaklah cukup.”

“Bukannya tidak cukup, tapi belum lebih. Mengapa Ayah bilang begitu? Karena Allah pasti mencukupi. Lagi pula, kalau kamu kerja siapa yang jaga anak kita?”

“Kan ada Ibu! Pasti beliau tidak akan keberatan. Malah dengan sangat senang hati.”

“Istri Ayah yang Ayah cintai, dari perut sampai lahir, sampai sebelum Ayah bisa mengerjakan pekerjaan Ayah sendiri, segalanya menggunakan tenaga Ibu. Ayah belum ada pemberian yang sebanding dengan itu semua. Sedikit pun belum terbalas jasanya. Dan Ayah yakin itu tak akan bisa. Setelah itu semua, apakah sekarang Ayah akan meminta Ibu untuk mengurus anak Ayah juga?”

“Bukan Ibumu, tapi Ibuku, Ayah?”

“Apa bedanya? Mereka berdua sama, Ibu kita. Mereka memang tidak akan keberatan. Tapi kita, kita ini akan jadi anak yang tegaan. Seolah-olah, kita ini tidak punya perasaan.”

“Jadi, kita harus bagaimana?”

“Istriku, takut tidak tercukupi akan rezeki adalah penghinaan kepada Allah. Jangan khawatir! Mintalah pada-Nya. Atau begini saja, Ayah ada ide! Tapi Ayah mau tanya dulu.”

“Apa, Ayah?”

“Apa alasan paling mendasar, yang membuat kamu ingin bekerja?”

“Ya untuk memperbaiki perekonomian kita, Ayah. Aku ingin membantumu dalam penghasilan. Untuk kita, keluarga kita.”

“Kalau memang begitu, kita buka usaha kecil saja di rumah. Misal sarapan pagi. Bubur ayam misalnya? Atau, bisnis online saja. Kamu yang jalani. Bagaimana? anak terurus, rumah terurus, Ayah terlayani, uang masuk terus, InsyaAllah. Keren, kan?”

“Suamiku sayang, aku tidak pandai berbisnis, tidak bisa jualan. Aku ini karyawati. Bakatku di sana. Aku harus keluar kalau ingin menambah penghasilan.”

“Tidak harus keluar. Tenang, masih ada solusi!”

“Apa?”

“Bukankah ada yang lima waktu? Bukankah ada Tahajud? Bukankah ada Dhuha? Bukankah ada sedekah? Bukankah ada puasa? Bukankah ada amalan-amalan lainnya? Allah itu Maha Kaya. Minta saja pada-Nya.”

“Iya, Ayah, aku tahu. Tapi itu semua harus ada ikhtiar nyata.”

“Kita ini partner, sayang. Ayahlah pelaksana ikhtiarnya. Tugas kamu cukup itu. InsyaAllah jika menurut Allah baik, menurut-Nya kita pantas, kehidupan kita pasti akan berubah.”

“Tapi, Ayah?!”

“Ayah tanya lagi…, kamu ingin kita hidup kaya, apa berkah?”

“Aku ingin kita hidup kaya dan berkah.”

“Kalau begitu lakukan amalan-amalan tadi. InsyaAllah kaya dan berkah.”

“Kalau tidak kaya?”

“Kan masih berkah? Dan…, tahu apa yang terjadi padamu jika tetap istiqomah dengan itu?”

“Apa, Ayah?

“Pilihlah pintu surga yang mana saja yang kamu suka. Dan kamu, menjadi sebenar-benarnya perhiasan dunia.”

***

Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seorang wanita (istri) itu telah melakukan shalat lima waktu, puasa bulan Ramadhan, menjaga harga dirinya dan mentaati perintah suaminya, maka ia diundang di akhirat supaya masuk surga berdasarkan pintunya mana yang ia suka (sesuai pilihannya),” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Thabrani).

“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholehah” [H.R. Muslim]

Source : LINE Post

Monday, June 20, 2016

Sahabat Sepanjang Masa

Waktu sama SMA saya memiliki sahabat dekat, sebut saja Putro/Puput (panggilan di sekolah sih Budi) dan Avi atau Ampi )ini cewe yaaah). Kami dekat karena berada dalam satu kelas yang sama, organisasi yang sama, dan mungkin jalan pikiran dan kekonyolan yang sama. Kami berada dalam kelas XI Alam 5, entah ide dari mana ditunjuklah secara aklamasi Putro sebagai Ketua Kelas, saya sebagai Sekretaris dan Ampi Bendahara (atau Sekretaris 2 kok saya jadi lupaaa πŸ˜‚). Kelas dipimpin oleh orang-orang macam kami ditengarai hasilnya akan zuper sekaliiih. Kami juga berada dalam satu organisasi yang sama, Rohani Islam atau biasa disihgkat Rohis. Namun jangan salah sangka, di sana kami malah jadi tim hore lebih ke arah rusuh ketimbang kalem khas Aktivis Dakwah Sekolah (ADS)

Bagaimana tidak, kalau ada yang ngomong bijak dikit kami spontan bilang "Cieeeee.." Saya dan Ampi kalau ngomong udah kayak toa upacara, kuenceng abis, dan Putro ga beda jauh.  Rapat (atau biasa kami menyebutnya Syuro) selalu kacau kalau ada kami. Tapi terkadang juga karena ide konyol kami yang spontan malah sering jadi solusi dan alternatif solusi dalam setiap rapat (pede gilaaaaakkk). Bukan hanya itu, kami malah suka cekikikan kalau rapat tanpa hijab (pembatas laki laki dan perempuan). Kalau ada hijab terus diem? Enggak juga, saya dan Ampi malah suka iseng ngintip dari balik hijab.

Pernah suatu ketika juga, another awkward Syuro, saya lupa itu rapat acara apa, biasanya kami rapat di Masjid sekolah, namun ini dilakukan di dalam kelas seusai jam pelajaran sekolah. Yess ga ada hijab penutup berarti. Hanya terpisah tempat duduk saja, baris kiri untuk laki laki dan kanan untuk perempuan. Dan tebak kami bertiga di sebelah mana? Belakang? Iya, di belakang, tapi posisinya di meja tengah. Gak sebaris sama ikhwan ga sebaris sama akhwat. Rekan-rekan satu angkatan kami untungnya sih asik semua, jadi udah paham juga kelakuan kami.

Syuro makin panjang, akhirnya Putro keluar kelas, saya dan Ampi pun menyusul. Ngapain? Ngaji di luar kelas? Bukan.. Kami malah maen kejar-kejaran di koridor sambil lempar-lemparan sepatu. Ketauan Ketua Rohis langsung di sidang kali nih πŸ˜‚ Ahh tapi nggak juga, Senior kami baik ikhwan dan akhwat sudah angkat tangan dan mahfum atas kelakuan dan pertemanan kami bertiga. Jadi mereka sudah biasa juga.

Kami sering berkegiatan Rohis bareng terutama kepaniatiaan. Terlebih jaman kelas 2 merupakan jamannya menjadi pengurus bukan. Salah satu moment kepanitiaan yang tidak saya lupakan sampai sekarang, yakni acara di sekolah, kalau tidak salah dalam rangka memperingati Maulid Nabi. Rohis akan mengadakan acara dengan panggung di lapangan basket, tim pengisi acara, dekorasi dan semuanya dihandle oleh Rohis. Saya kebagian dekorasi, jaman dulu jadul abis, beneran manual hias pakai styrofoam dan karton warna warni untuk membentuk tulisan dan hiasan. H-1 sebelum acara, para ikhwan sepakat untuk menginap mempersiapkan panggung dan dekorasi. Saya dan Ampi ikut membantu, bedanya akhwat yang lain selesai sampai sore, tapi kami? Lanjut sampe nginep di sekolah πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Rumah Ampi sangat dekat dari sekolah, hanya perlu jalan kaki beberapa ratus meter saja. Karena mudah dijangkau jadi kalau ada perlu apa-apa pasti ke rumah Ampi, termasuk numpang mandi dan kalau ada acara sekolah saya suka menginap di rumah Ampi. Nah, demikian halnya dengan acara Maulid Nabi tersebut. Ampi dan saya pulang ke rumah untuk berganti pakaian, kemudian kembali lagi ke sekolah selepas maghrib untuk membantu dekorasi. Kami tidak hanya berdua tapi banyak juga rekan-rekan ikhwan yang membantu, mereka memang akan menginap (di panggung?), termasuk juga ada Putro di sana.

Kami mulai dekor di atas panggung, dari semangat sampai lelah karena jatoh terus tempelannya, emang masih amatir, pluss lapar sudah malem tapi belum juga makan malam. Alhasil kami istirahat di atas panggung sambil duduk duduk bahkan gegoleran sambil main game plus bercanda. Tak lama rekan kami nyeletuk, hampir tengah malam, "nyari nasi goreng yuk!!" Sontak setuju semua, saya dan Ampi juga mau ikutan beliiii.. Tapi ga boleh ke luar sekolah sama rekan-rekan ikhwan, katanya bahaya, jadilah kami menunggu itu nasgor dianter sama ikhwan-ikhwan. Iiikkhh so sweet bgt baru kali ini, biasanya kelakuan koplak semua, ternyata mereka bisa sweet juga. Bukan apa-apa, area Bulungan kalau sudah tengah malem suka banyak bencis katanya keliling. Serem khan.

Setelah makan kenyang, kami menyerahkan piring kosong untuk diantar lagi sama ikhwan-ikhwan ke abang nasgor di depan gerbang. Enaknyaaa. Perut kenyang jadi ngantuk, biar ga ngantuk malah ngobrol. Seringnya sih bercanda, karena malam itu juga rekan-rekan ikhwan termasuk Putro akan tampil sebagai tim Nasyid Ala-ala yang akan membawakan sebuah lagu di panggung esok hari. Saya lupa judulnya apa. Yang jelas kami ga berhenti tertawa menyaksikan mereka latihan semalaman. Kami memang berencana untuk begadang di sekolah jadi sengaja tidak pulang ke rumah Ampi. Niat abiiss.. Menjelang Shubuh beberapa ikhwan banyak yang terkapar di sepanjang panggung karena lelah, saya dan Ampi juga udh setengah teler abis. Selepas Shubuh kami berdua pulang ke rumah Ampi, untuk mandi dan bersiap ganti seragam sekolah. Bagaimana dengan ikhwan-ikhwan tadi? Mereka sih pada mandi di sekolah. 

Pada saat acara ceramah maulid, ramai sekali murid yang ikut, saya dan Ampi berasa zombie ngantuk abis, dan memilih duduk di belakang, luar barisan jamaah. Sesekali tertidur sambil duduk. Pas ditanya temen akhwat satu angkatan, gimana kemarin? Kami bilang, kami berdua begadang semalem di sekolah. Hapaahh??? Mereka kaget dan kami cuma cengengesan. Yang penting suksess acaranya, kemudian kami lanjut tidur di pojokan. Aaahhhh~ Oiya, bagaimana dengan Putro, dia dan ikhwan ikhwan tampil jadi Tim Nasyid ala-ala yang semalem sudah saya lihat latihannya itu. 

Saya bertiga sering belajar kelompok bareng, base camp kami di rumah Ampi. Biasanya kalau mau ujian, pulang sekolah saya dan Putro mampir ke rumah Ampi buat belajar bareng. Ibu (ibunya Ampi) biasanya menyediakan cemilan super banyak, harusnya buat nemenin belajar, ehh emang dasar kita bertiga gengges banget, itu cemilan dipake untuk nemenin kita ngobrol, malah kadang buat nemenin kita nonton pilem sambil tidur-tiduran. Ya Salaaamm.. Dan Ibu tiba2 teriak dari kamar sebelah, "Heeehhh pada belajar! Jangan ngobrol melulu, Avii..Nonii..Budiii" dengan suara khas Guru (maklum Ibunya Ampi memang seorang Guru). Sekarang kalo diinget-inget jadi kangen diocehin sama Ibu kalau kita lagi pada ngobrol bukannya belajar.

Kami berbagi sesuai bidang masing-masing yang kami minati dan kuasai. Kalau Matematika, Putro yang ngajarin. Biologi saya, sedangkan Kimia Ampi. Sisanya pasrah pada Ilahi, ga ada yang ngajarin soalnnya. Hehe. Saking kami sering bareng, kami membuat nama NBA70 dengan logo bola basket, dengan singkatan Noni-Budi-Avi-SMA70 atau IPA70 singkatan Iyun-Puput-Ampi-SMA70. Hehehhe. Bahkan kami punya hari jadi NBA70 lho, tanggal 28 Oktober 2005. Memang ada yang spesial tanggal tersebut? Buat kami sih ga ada kejadian spesial tahun itu, tapi tanggal 28 Oktober 1928 ada Sumpah Pemuda, dan itu bersejarah. Ga ada hubungannya sama kami sih, tapi karena kami pemuda supaya semangat juang, makanya kami ambil tanggal itu. Barangkali muncul di ujian, kami sudah hafal (ya kaliiii).

Bukan cuma di sekolah, kami juga suka main bareng ke tempat lainnya. Ragunan misalnya (kaya ga ada tempat lain), satu lagi yang saya ingat ke Planetarium. Moment kocak kami bertiga yang sulit dilupakan. Pasalnya tanggal 17 Juli 2005, selepas kami bertiga selesai menonton bintang di Planetarium, Putro berniat untuk menyatakan perasannya ke saya. Dan bodoh bin super sekaliih, sebelum pulang kita shalat Ashar, Putro menitipkan HPnya kepada saya. Entah kepencet apa, tiba-tiba muncul aplikasi notes yang setelah saya baca sekilas.... ternyata isinya teks pernyataan perasaan yang nantinya akan disampaikan ke saya. Buseeeett.. Udah kayak teks proklamasi kemerdekaan segala ditulis di notes. 

Panik baca sesuatu yang seharusnya ga saya lihat, buru-buru saya balikin. Pas pulang menunggu angkutan umum, Putro bilang siiis persisss kayak di notes yang saya sempat baca. Pengen ngakak tapi ga bisa malah sebaliknya. Kalau sekarang diingat-ingat aneh bin ajaib. Belum lagi, momen kelas 3 kami berpisah kelas. Agak berjauhan. Ampi IPA 2, saya IPA 4 dan Putro IPA 7. Kami sempat vakum bareng karena salah paham, namun bisa diselesaikan, namanya juga sahabatan ada aja asem garemnya. Sampai momen BTA70 (Bimbingan Terpadu Alumni) dan aktivitas belajar yang super pusying demi tercapainya impian kami bertiga untuk bisa kuliah di Universitas Indonesia.

Setelah jungkir balik baca buku sana sini, awut-awutan ngerjain soal ini itu, mata bengkak karena nonton dorama Jepang (kirain karena begadang belajar? Yeee bukan, capek ah belajar mulu). Akhirnya sampailah pengumuman SPMB kami bertiga Alhamdulillah lolos UI. Saya masuk Fakultas Hukum, Ampi masuk Fakultas Ilmu Budaya jurusan Sastra Indonesia, dan Putro masuk Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam jurusan Matematika. Sujud syukur seneng banget kami bertiga lolos semua.

Persahabatan kami belanjut sampai akhirnya jeng jeng saya dan Putro baru bilang kalau saya dan Putro saling tertarik. Ngoceh lah Ampi kenapa baru bilang saat itu (lupa tahun berapa kayaknya sih 2008), padahal kejadiannya sudah tahun 2005 yang lalu. Ampi sih sudah tahu, tapi menunggu kami yang menyampaikan. Hihi maaf ya Ampi, dulu rasanya banyak sekali pertimbangan yang kami berdua pikirkan. Untungnya Ampi toh ga masalah. 

Saat kuliah, saya bertiga juga sempat jalan-jalan ke luar kota, adalah sebuah misi saat itu. Kalau diingat, mungkin jadi kenangan seru. Namun selebihnya kami komunikasi hanya via chat, jarang kesana kemari bareng, tinggal saya dan Putro saja. Namun demikian, bukan berarti selesai, sampai sekarang masih dekat kok. Mereka berdua sahabat sepanjang masa yang saya miliki sampai kapan pun.

Sekarang, sahabat saya yg bernama Putro tadi sudah menjadi suami saya dan Bapak dari anak kami. Setelah proses panjang penuh drama suka duka dan ujian, akhirnya kami berdua ditakdirkan menikah. Acara pernikahan saya sangat banyak dibantu oleh Ampi, sungguh tertolong sekali. Nggak sabar rasanya saya dan Putro membantu acara pernikahan Ampi kelak. Soon. Kami tunggu yah mpi 😘

Dua orang di atas saksi perjalanan hidup saya, saksi perubahan saya dari ABG menjadi sosok yang lebih dewasa, mereka berdua yang jauh mengenal saya, kisah hidup dan kisah kasih saya, semua. Tanpa mereka saya bukanlah saya yang sekarang mengetik semua ini. Terima kasih, sahabat sepanjang masa. *lap ingus *taro mic *nyari waslap umar sebelum nangis *berasa abis pidato award.

-Noni Halimi-

Merindu Kumo

Iseng lihat-lihat album jadul, eehh tiba-tiba inget jaman dulu bareng Apak suka jalan-jalan naik motor. Kenapa naik motor? Soalnya dulu cuma punya motor belom punya mobil πŸ˜‚. Mau naik angkutan umum tapi Apaknya nggak betah kalo gerah keringetan, alhasil jalan-jalan naik angkutan umum bareng Apak bisa dihitung pakai jari. Paling mentok naik Busway, Kereta, Bus Kota dan Angkot. 

Duluuuu sekali (tsahelah ceritanya udah jadul banget banget), waktu saya dan Apak masih berseragam putih abu-abu kelas 2 SMA sekitar awal tahun 2005, Apak punya sebuah sepeda motor ala anak gahul sebutlah Kawasaki Ninja warna Hitam. Kami berdua memberi nama Kumo (Kuro Motor). Kuro dalam bahasa Jepang artinya Hitam. Jadi, motor hitam. Haha namanya ga kreatif abisss..

Namun berhubung kami bersekolah di sekolah yang senioritasnya agak ehemmm.. masih berstatus kelas 2, belum bisa sembarangan bawa kendaraan sendiri (iya segitunya..). Jadilah suka ngumpet-ngumpet bawanya. Apalagi kalau pakai motor segede gitu untuk ukuran anak SMA, belum banyak juga yang punya. Tapi menjelang kenaikan kelas 3, barulah Apak suka seenak jidat parkir di dalam sekolah, karena senior kelas 3 sudah mau lulus hehehe. Terlebih Apak ikutan Rohis dan parkirnya di parkiran Masjid Sekolah, jadi aman ga bakal ditindas.

Kumo yang menemani kami berdua ke berbagai tempat, entah sekedar mengantar saya pulang ke rumah, dari Blok M ke Lenteng Agung, terus muter-muter dengan jalur pulang yang berbeda-beda supaya ada pengalaman baru, supaya lebih lama juga sampenya (dasar anak muda, huuuuuuhh). Atau berpergian hari libur dengan budget minimalis ala anak sekolahan, entah cuma nonton, makan, ke Kota Tua, Monas, Taman Mini, Wisata gratisan keliling museum-museum, ke Planetarium dan masih banyak lagi yang susah disebutin satu per satu saking buanyaknya dan kebanyakan iseng. Kadang juga bepergian dengan budget agak berisi (pasti abis dapet uang jajan bulanan), atau abis ngebongkar celengan gentong plastik warna warni di lemari (Iya, sampe SMA saya masih suka nabung di celengan macem itu, dan kalau sudah penuh girangnya luar biasa. Langsung ambil pisau dipanaskan di api, terus digunakan untuk membuka celengan. Plastik mudah meleleh kena pisau panas, kadang dengan bodohnya mengenai isi uangnya, agak-agak gosong dikit πŸ˜‚πŸ˜‚) Isinya beragam dari 50rb sampai 2rb perak loh dimasukin juga saking pengen cepet-cepet penuh. 

Kemana biasanya kalau dapet budget berisi dikit? Pernah ke Ancol pakai motor, kuliner ke Bogor, bahkan yaaa kami pernah sampai Taman Safari pakai motor dari Jakarta Selatan loh. Iihh ga kebanyang kuat amat yak, kalo dipikir-pikir sekarang, mau pergi ke tempat jauh macem begitu pakai motor udah encok duluan kali. Naik mobil aja pegel πŸ˜‚ 

Bukan cuma itu, Kumo juga selalu nemenin kalau pas belajar kelompok ke rumah Ampi. Sahabat kami yg satu itu tinggal di Hang Jebat, jalan kaki dari sekolahan, jadi kami anggap base camp πŸ˜‚. Kumo saksi perjalanan kisah kami, ya seneng ya berantem ya dramaaaah kumbara di jalan raya. Haaaahh lagi lagi anak muda. Cekikikan di motor, ketawa di motor, berantem di motor, nangis di motor, baikan di motor, makan cemilan di motor, malah makan yang agak berat juga pernah di motor, kehujanan basah kuyup juga di motor, ngebut juga di motor. 

Sampai hal-hal konyol yang kami pernah lakukan. Kala itu kami super ga suka banget pakai jas hujan. Emang anak muda sotoy, udah tau pakai motor, musim ujan eh ga punya jas ujan. Sore hari pulang nonton kebetulan hujan agak rintik. Saya ingin segera pulang, jadilah kami menerobos gerimis. Cek isi tas ga ada jaket lagi, adanya sarung. Kata Apak, pakai sarung aja buat nutupin badan, tapi ga saya lakukan karena hanya gerimis. Ehhh ga lama hujannya deres sederes-deresnya. Daaanggg.. Gimana nih,, mau berenti tapi ga ada tempat neduh, akhirnya bablas aja, saya buka sarungnya buat kerukupan di belakang. Macem orang bener aja, kerukupan pakai sarung ujan-ujanan ya nggak ngaruh laaah, basah kuyup juga. Kadung basah, pikir saya. Ya sudah. Paling diliatin orang di jalan ada yang pakai sarung ujan-ujanan di motor πŸ˜‚πŸ˜‚. Beberapa hari setelahnya, kami patungan beli jas hujan bareng (gitu kek dari kemaren-kemaren).

Bukan cuma itu, kalau sekolah, Apak ga biasa bawa 2 helm. Berhubung kami backstreet juga khaaaan di sekolah. Alhasil ya tiap nganter pulang ga pernah pakai helm. Aman sih, area jalan pulang dari Blok M ke rumah ga ada polisi mangkal. Tapi masalahnya, kadang kalau kami lagi iseng muter-muter jalanan tuh, eeh ada aja polisi mangkal mau nilang. Kami pernah kena tilang 1 kali karena saya tidak pakai helm. Mana terlalu mencolok Kumo segede gambreng, eh penumpang belakang ga pake helm. Kalau pake motor bebek mungkin ga ditilang kali :p. Satu kali lagi pernah hampir kena, tapi dari arah seberang ada pengendara motor yang meneriaki kami, "Puter baliiiik ada polisi gendut!!!" Apaahh??! Ga berapa lama lewat belokan, beneran ada polisi mangkal, sengaja abis belokan dia mangkal, biar ga keliatan sama orang. Pas liat ada polisi kami langsung puter baliiiik cussss πŸ˜‚πŸ˜‚

Tapi kejadian ini ga berlangsung lama kok, karena tak lama setelahnya ada pameran PRJ Kemayoran, Apaknya beliin sepasang helm, hitam buat Apak, putih buat saya. Sebelumnya Apak sudah punya helm gratisan dari Kawasakinya sih, tp dia ikutan ganti supaya kembar sama saya. Mana pake duit hasil part time ngajar les privat hihi. Alhamdulillah punya helm, jadi ga akan kena tilang lagi karena ga pake helm deh πŸ˜‚. Banyak suka duka bareng Kumo sampai akhirnya tahun 2007, Kumo dicuri sama orang. Allah kasih cobaan, bye bye Kumo deh 😒

Tidak selang berapa lama, muncul New Kumo, Honda CBR di tahun yang sama 2007. Kami kasih namanya juga Kumo, karena motornya mirip dengan yang lama, sama gedenya, hitam juga. Bersama New Kumo kami juga banyak suka duka, walaupun ga sesering dengan Kumo, tapi New Kumo tetap punya cerita. Sampai di penghujung tahun 2007, terjadi insiden yang akhirnya New Kumo pensiun. Termasuk juga pengendaranya alias Apak nggak mau pakai motor gede, hingga beralihlah ke motor bebek hingga hari ini, apalagi kalau bukan si Revo KuningπŸ˜†

Thank you for a thousand good memories, for a thousand kilometers journey, up and downs relationship feeling. Thank you Kumo and New Kumo, both of you are perfect partner anyway. We love you both ❤️❤️

Keliling UI (lagi)

Sabtu tgl 11 Juni yang lalu, saya kebetulan ada keperluan berbelanja dengan suami. Umar? Di rumah dulu ya nak, panas banget di luar nih πŸ˜†πŸ˜ Kami berbelanja kilat di Carefour Depok dan mengejar Shalat Dzuhur di Masjid. Ketika di kasir, suami saya menanyakan :

πŸ‘³πŸ» : Shalat di mana mah? Kita ngejar Dzuhur dulu yah.
πŸ™ŽπŸ» : Di Masjid lah Pak, UI keburu ga yah?
πŸ‘³πŸ» : *sambil lirik jam di HP*
Keburu mah, yuk buruan (sambil cengengesan)

Saya pun bergegas menggandeng tangan suami saya ke parkiran motor dan cusss kita berangkat ke UI. Secepat kilat kami tiba di almamater kampus kami berdua. Langsung parkir dan segera berjalan masuk menuju Masjid. Seperti biasa, walau hari libur kuliah pun, Masjid ini tak absen dari ramainya jamaah. 

Suasana yang tidak pernah berubah dari dulu. Pertama kali saya shalat di Masjid ini juga bersama dengan suami saya. Saat itu saya bertiga suami dan sahabat kami, Avi datang mengunjungi UI Goes To School. Saat itu masih beraeragam putih abu-abu. Selesai berkeliling kami Shalat di sini. Suasananya yang tidak pernah berubah juga selama saya kuliah di Fakultas sebelah Masjid UI ini. Tetap teduh, rindang, adeeeem walaupun di luar terik matahari, dan riuh dengan orang-orang yang berlomba beribadah. 

Dulu belum ada kantin, jadi kalau berlama-lama di Masjid UI suka kelaparan dan girang banget kalau ada abang-abang jualan siomay, batagor, sekoteng, gorengan mangkal di depan parkiran. Kalau tidak ada? Balik ke Fakultas Hukum, yang cuma sebelahan. Masjid ini juga ramai sebagai tempat bertemunya aktivis-aktivis kampus baik akademisi maupun kerohanian. Sarana rapat antar fakultas maupun kajian antar fakultas. Tak pernah sepi. Ini Masjid UI. Aahh kangen sekali.

Saya menuju tempat wudhu wanita di selatan, sedangkan suami menuju ke tempat wudhu pria di utara. Tempat shalat untuk wanita ada di lantai 2. Banyak anak-anak kecil yang sedang pesantren kilat. Gemes bangeeetttt.. Iya, Masjid UI memang sering dijadikan tujuan sanlat untuk anak sekolahan. Lepas shalat Dzuhur, saya mengedarkan pandangan ke berbagai sudut lantai 2 tersebut. Selasar Timur biasa dipergunakan untuk duduk santai dan kajian. Selasar Selatan biasa dipergunakan untuk rapat organisasi rohis kampus, SALAM UI namanya. Terbayang hijab tiang yang dipergunakan untuk separator antara ikhwan (pria) dan akhwat (wanita). Tak lupa sebuah papan tulis yang dipergunakan bergantian. Aaahhh mahasiswa.

Lepas shalat saya menuju ke selasar utama pintu masuk, menunggu suami. Tumben, kok dia belum ada. Padahal seharusnya sudah menunggu saya di depan. Tak lama ada yang menepuk pundak saya sambil cengengesan "Nyari siapa mbak? Nyari suami ya?" Iiiiihh kebiasaan, selalu seperti itu datang dari arah belakang, kadang malah mengagetkan. Huft kelakuan Apaknya Umar. Kami menuju parkiran motor untuk bergegas pulang, namun sebelum pulang suami saya menawarkan "keliling UI satu puteran yuk mah!" 

Hayuuuukkk!! 

Saya langsung semangat empat lima hehe, dua puteran juga boleh pak. Dari Masjid UI kami langsung berbelok ke samping Fakultas Hukum, wow berubah, ada pelataran Fakultas Hukum dan Bikun. Coffee. Seonggok bus kuning yang disulap menjadi tempat nongkrong minum kopi. Lanjut melewati sarang nusuh power rangers alias Perpustakaan Pusat, crystal of sciences. Begitu lanjut lagi ke belakang FIB eehh jalanan ditutup, kata Bapak2 yang jaga, hari Minggu sekarang UI ditutup sebagian.

Yowes melipir ke FIB lanjut FISIP dan masuk ke jalur utama Bikun Biru. Udara mulai dingin, bagaimana tidak kanan kiri pohon tinggi semua, dan cuaca mendadak mending. Yeaahh semeriwing angin sepoy-sepoy menemani kami. Melewati Fakultas Ekonomi, kemudian Fakultas Teknik. Haahh kangennyoo biasanya saya dan suami suka jalan smjg masuk Kutek (Kukusan Teknik) pakai motor untuk sekedar berkeliling. Jalan yang biasa menuju Kutek sudah berdiri bangunan Klinik Makara namanya. Kalau dulu namanya PKM (Pusat Kesehatan Mahasiswa), letaknya di depan Fakuktas Kesehatan Masyarakat dan samping Fakultas Ilmu Keperawatan.

Saat melewati Gymnasium dan Stadion saya berujar, "Sampe lulus, amanya belum pernah masuk ke sana lho pak" (menunjuk Stadion dan Gymasium). Sambil ketawa Apaknya bilang "Sama mah, Apaknya juga belom" Nggak heran kalau suami saya sih, memang ga pernah ikut organisasi lintas fakultas macam SALAM UI atau BEM UI. Hanya seputaran satu Fakultas saja. Sedangkan saya paling senang ikut organisasi lintas Fakultas, seru aja kenalan sama banyak teman-teman beda Fakultas dengan berbagai latar belakang. Apalagi yang didapat kalau bukan link dan menjalin silaturahim kan? Lewat Pusgiwa (Pusat Kegiatan Mahasiswa) suami pun bilang belum pernah ke sana. Hehehe.

Belok ke menara air menuju rektorat, eeehhh ditutup lagi jalanannya. Muter deh ke Fakultas MIPA tempat suami saya, eehh tutup juga. Aaahh lagi ga beruntung nih, akhinya kami bundaran UI lagi untuk pulang. Cuma setengah gini kelilingnya. Begitu sampe UI Wood, suami menurunkan kecepatan supaya kami bisa menikmati pemandangan UI Wood dan Danau, ternyata rumputnya sudah hijau lagi. Beberapa bulan lalu waktu jarang hujan kering warna kuning. 

Begitu sampai gerbatama (gerbang utama), saya pikir mau selesai. Eh dilanjut sampai arah Asrama Mahasiswa UI dan Wisma Makara. Tak lupa arah sana juga ada Gedung Sabha Widya. Masih ingat? Itu gedung bersejarah tempat suami mengucapkan akad nikah setahunan yang lalu. "Siapa yang mau nengokin tempat nikahaaaan?" Ujar suami saya sambil mempercepat motor. "Amanyaaaaa!!" Saya membalas sambil berteriak. 

Sampai Asrama Mahasiswa UI, yang tidak lain juga tempat pool bus kuning, berjejer rapi bus tak berpenumpang tersebut. Aah kangen naik bus kuning ini. Begitu sampai Sabha Widya, sepiiii kosohg~ kami hanya numpang mutar motor saja. Iyalah, puasa-puasa gini jarang yang mengadakan pernikahan, biasanya ramai pasca Idul Fitri nanti dan akhir tahun hehe. 

Demikian perjalanan keliling UI yang super singkat yang saya lakukan bersama suami. Cuma sebentar, tapi rasanya memanggil banyak memori dan berhimpitan untuk keluar. Satu per satu berloncatan dengan riang. Aaahh.. UI 😍

Sunday, June 19, 2016

Menghapus Foto Mantan

Putus dari pacar terus berniat menghapus semua foto mantan pacar di social media dan perangkat lainnya? Untuk sebagian orang, menghapus foto mantan itu penting, karena ketika ia menghapus foto mantan, ia akan lebih mudah untuk melupakan. Ia akan lebih mudah pula untuk move on dan mendapatkan yang baru. Ketika sudah bersama pacar yang baru, mungkin pacar barunya cemburuan, dan ingin supaya kisahnya dengan mantan 'bersih' tak bersisa. Jadilah ia menghapus foto mantannya. Atau malah pacar barunya yang menghapus foto mantannya, daripada berantem mulu. Menghapus foto mantan penting, apalagi yang susah buat move on, apalagi yang putusnya ga baik2 dan syeelll kesyellll kalo liat muka mantannya. Rasanya pengen ngapus semua yess.. (Segitunya hihihi). 

Untuk sebagian lain, menghapus foto mantan menjadi tidak penting. Kenapa? Toh ia bisa kok move on tanpa harus menghapus kenangan. Mungkin juga ia merasa toh hubungan mereka baik-baik saja, keputusan berpisah adalah keputusan bersama, no hurt feeling, sehingga buat apa tho foto-fotonya dihapus. Mungkin juga isi foto bersama mantan juga standar saja, tidak biasa publish yang kelewat mesra sehingga wajar sajalah jika masih tersimpan di sosial media dan orang lain melihat. Mungkin juga orangnya cuek, dan tidak mempermasalahkan masa lalu, toh statusnya masih pacaran, belum nikah ini. Jadi tidak apa-apa tho kalau fotonya masih ada?

Pilihan untuk tidak menghapus foto mantan pacar diambil sebagian orang dengan alasan di atas, salah satunya saya. Saya punya mantan pacar yang sudah saya kenal cukup lama. Hmmmm...Sebut saja namanya Mr. Budi (bukan nama samaran, emang beneran namanya itu πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚). Iya, saya kenal dekat dengan Mr. Budi ini dari jaman berseragam putih abu-abu. Kami kenal dekat karena satu kelas dan berlanjut sampai kami keterima di UI. Alhasil bareng terus, walaupun kami beda Fakultas. 

Selepas saya lulus, masih juga sama dia lagi-dia lagi. Singkat cerita saya keterima kerja di sebuah perusahaan perbankan sebut saja BNI Syariah, sedangkan Mr Budi masih menyelesaikan skripsinya. Well pending setahun, sampai akhirnya ia berhasil lulus (juga) dan keterima di salah satu perusahaan perbankan, sebut saja BRI. Bagaimana dengan kisah kami? Masih, dia lagi-dia lagi. Sampai pada saat ia penempatan di luar kota yakni Cilacap, April 2012 kami putus. Ternyata kami ga lulus LDR, banyak godaannya, banyak cobaannya. Kami putus, setelah menjalin kisah selama hampir 7 tahun. Berasa nyicil KPR kan yeee..

Ia bersama dengan pasangan barunya yang sudah saya ketahui sebelum saya putus dengan pacar saya. Lalu, saya sendiri aja. Syediih? Iyeeelah.. Pake nanya lagi ah.. Tapi tidak berlangsung lama, 2 bulan saya bengong-bengong dulu patah hati (eh ini itungannya lama ga yahhh) saya lanjut memotivasi diri saya sendiri dan membangun benteng yang jauh lebih kuat dari sebelumnya, banyak belajar, banyak mengambil hikmah, dan tentunya banyak bersyukur karena cobaan ini pasti untuk kebaikan kami bertiga (iya bertiga sama pacar barunya Mr Budi). Untuk menghargai privasi dan kebahagiaan Mr Budi tadi, setelah semua clear, saya tidak pernah melabrak sesepacarnya atau menghubungi Mr Budi atau pacarnya. Karena buat saya, cukuplah dengan tidak mengusik mereka, artinya saya berusaha merelakan dan melepasnya. Tsaaahhhelah...

Ada 2 moment yang saya harus menghubungi Mr Budi melalui SMS atau media ketik sejenisnya. Event ulang tahun Mr Budi, dan permohonan maaf saat lebaran. Saya punya alasan tersendiri kenapa juga putus sama temen yang super deket sampe berasa sodara kok ya ga boleh ngucapin ultah sama lebaran. Hanya sampai situ, besoknya tidak berlanjut ke obrolan yang lain. 

Beberapa lama setelah saya move on dan mulai membuka pintu hati (udah kayak acara menjelang buka puasa di tipi-tipi), eh saya pacaran dengan seseteman satu perusahaan, sebut saja Mr. Satu Lagi, biar gampang. Cinlok? Enggak sih, doinya aja ngepepet mulu dateng ke outlet saya 😎 *ketauan orangnya abis....deh gue* Dan jadilah kami mencoba jalan bareng. Ternyata Mr Satu Lagi ya biasa aja sama sosial media. Tidak mempermasalahkan juga dengan foto-foto saya, ga kepo juga sampe liat postingan entah berapa tahun lalu. Kalo saya mah pasti kepo hihihi. Jadi aman aja, ga disuruh buat hapus sana sini. 

Saya juga memilih tidak menghapus foto Mr Budi, karena memang foto yang saya upload biasa aja, nggak ada foto spesial layaknya pasangan kekasih romantis lainnya. Tidak ada. Sesemantan (bahasanya kaya caption IGtaiment banget sih) saya, Mr Budi, memang sahabat dekat saya, orang yang ikut serta menyaksikan proses metamorfosa saya dari jaman SMA, rasanya sampai kapan juga ia tetap sahabat saya, ga mungkin bisa dihilangkan. Plus saya males juga nanti ada yang mikir macem-macem, kenapa kok fotonya dihapus, putusnya ga baik-baik ya? Saya juga masih dekat sama keluarganya pasca putus, jadi toh.. biarkan sajalah. Kecualiii...syarat dan ketentuan berlaku. Apa itu? Kalau saya sudah menikah, dan suami saya berkeberatan. Sok lah, hayukk dihapus semua yang dirasa keberatan. Apa sih yang enggak buat suami khaaan... πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†. 

Okeehhh ceritanya disekip sekip biar cepet, sampai tiba waktunya di awal tahun 2013, saya mulai siap untuk berkomunikasi lagi dengan Mr Budi. Saya yakin sudah setroooong ga baper. Toh saya juga sudah punya pacar si Mr Satu Lagi khan. Aman ada yang jagain. Cuma berkabar saja, karena selama ini saya tidak pernah tahu kabarnya bagaimana, dan risih juga ga sih, temen deket banget tiba-tiba hilang ga komunikasi, nanti kalo doi kawin trus saya ga diundang gimanaaah cobaaaak mikiiiiiirrr *kepikirannya cuma ke situ doang πŸ˜‚ Iya, sesimpel itu. Saya juga cuma tahu info ternyata ia pindah penempatan ke Sumatera dari Kakaknya dan Kakak Iparnya Mr Budi--yang nggak pernah habis godain saya untuk balikan lagi sama Mr Budi. Katanya, kangen nggak sama Putro (panggilan dekat Mr Budi)? Kangen kaaaaan? Udah, balikan aja sih Yun (panggilan dekat untuk saya).. Mikir dalem hati saya, sekarang sih udah kosong aja ga ada perasaan dan niat buat balikan, boro2 deh.. Tapi kalo Allah berkehendak lain mana tau? 

Awal 2013 sekedar berkabar tapi malah Mr Budi yang dari awal baper. Bahkan sebelum saya mulai interaksi dia udah galau dan baper duluan. Cobaan.. cobaan... Saya masih teguh pendirian dan bersikap normal saja, stay cool. Eehh Allah punya rencana hebat pastinya. Saya putus sama Mr Satu Lagi yang singkat itu. Katanya, mending saya sama Mr Budi aja. Laaahh pan saya dan Mr Budi udah putus kita yee.. Beklah.. Namanya juga takdir, jadilah saya jomblo lagi.. Mblooo..mbloo... Begitu saya putus dengan pacar, saya mengurangi intensitas berkabar dengan Mr Budi, takutnya dia udah baper, saya malah ikutan baper karena ga ada pacar. Semua baper. Ah ribet nanti. 

Berhubung sampai penghujung tahun 2013 saya belum ada pacar, ya foto lama saya baik dengan Mr Budi dan Mr Satu lagi, ga ada yang saya hapus. Apalagi sama Mr Satu Lagi, lebih lebih jarang foto, ga suka eksis.

Ternyata, menjelang akhir tahun 2013, Mr Budi putus sama sesepacar satu perusahaan itu. Ia juga memutuskan untuk hengkang dari perusahaan tersebut, hijrah dari perusahaan konvensional dan memilih untuk kembali ke Jakarta mencari pekerjaan halal non ribawi. Siapa yang nggak percaya skenario Allah indah? Saya ceritain kalo ada yang masih ragu dan nggak percaya..

Di penghujung tahun 2013 selepas Mr Budi putus dengan sesepacar, dia mengajak saya kembali kepadanya. Jeng jeng.. Saya meminta waktu untuk berfikir dan beristikharah. Selama saya istikharah, saya bingung, benar-benar kosong, boro-boro ada rasa dan keinginan balik. Wong udah jungkir balik ikhlasin buat sesemantan tadi itu. Malah dulu berharap mereka jadi ke pelaminan. Plus sudah berlapang dada mencoba silaturahim dengan sesemantannya, walaupun berujung saya dicurigai punya niat buruk kepadanya, hiks hiks..

Bingung menjawab permintaan Mr. Budi. Apa yang harus saya lakukan?

Tidak tahu kenapa ditunjukkan untuk flash back, tiba-tiba pengen lihat foto-foto jaman dulu sama Mr Budi, sapa tau dapat inspirasi, sambil berdoa.... Kalau memang ini yang terbaik, berikan tanda, Ya Allah, tumbuhkan rasa sayang seperti dulu saya menyayanginya *bocoooor deh sekarang doanya. Iya, dulu doanya kaya gitu. 

Entah dateng darimana, tiba-tiba berasa super dekat lagi sama Mr Budi, berasa sesayang dulu. Jedaaarr... Padahal 1,5 tahun tidak tatap muka, tidak ngobrol banyak apalagi bercanda seperti jaman dulu. Tidak ada. Bahkan saya dalam kondisi netral. The power of old photos kah?? Entahlah, saya menganggap ini salah satu 'tanda' dari Allah, seperti doa yang saya panjatkan. Kenapa segitunya saya istikharah cuma buat balikan dan pacaran sama mantan saya ini? Takut dia pergi lagi? Enggak. Bukan ke sana. Saya menyadari bahwa usia saya tidak muda lagi (aahh bahas umur kan jadinya). Tentunya ketika saya menjalin hubungan, arah yang kita harapkan tidak lain dan tidak bukan dan sudah pasti dan tidak diragukan... (Duh panjang) adalah PERNIKAHAN. Ngapain mas mbak capek-capek balik lagi kalo nggak merencanakan untuk menikah. 

Akhirnya setelah mendapatkan keyakinan untuk kembali kepada Mr Budi, saya menerima permintaannya dan kami bersiap berjuang bersama.

Setahun kemudian kami berdoa, berstrategi, dan berjuang untuk mencapai tujuan Pernikahan. Hingga di bulan Agustus 2014, Mr Budi mengkhitbah saya ke Bapak saya. Jeng jeng jeng... Takdir Allah memang indah. Puji syukur atas rahmat dari Allah, Bapak saya approval khibah Mr Budi bulan Oktober, dan bulan November kami mulai mempersiapkan pernikahan. Alhamdulillah, saya dan Mr Budi menikah Februari 2015 dengan persiapan yang singkat karena tidak mau menunda-nunda. Cukuplah, perjalanan panjang kami dari SMA, masa persiapan nikah yang udah dapet approval wali pake lama? Hihi. 

Sudah menikah, menghapus foto mantan? Nah kalau ini iya, bersih bersinar tak ada sisa. Eh tapi, apa yang dihapus? Orang isi foto-foto mantan saya itu ya suami saya. Nah khan, ada gunanya juga foto-foto nggak dihapus, soalnya file foto saya di Mr Budi sudah bersih dari jaman dia pacaran dulu sama sesemantan. Berarti sesemantan tipe orang yang pertama yes? Yang hapus foto mantan? Gapapa, tiap orang punya alasan masing-masing 😊 Sedangkan saya juga sudah bersih-besih foto Mr Satu Lagi setelah menikah. Untung cuma dikit, ga pegel ngapusinnya πŸ˜‚. 

Hikmahnya kalau udah nikah bisa lihat foto jadul itu romantis banget iiih.. Bisa mengenang lagi moment di foto tersebut, nggak jarang cekikikan berdua kalo inget-inget pergi ke beberapa tempat. Terkadang nyeletuk "kapan-kapan ke sana lagi yuk!"

Well hey, kalau kamu berniat tidak hapus foto mantan pacar boleh-boleh kok. Siapa tahu jodoh kamu itu ya mantan pacar kamu lho, bisa buat kenangan untuk cerita berdua. Kecuali kalau pacar kamu yang meminta menghapus, daripada berantem melulu. Nah, kalau sudah menikah, untuk menghindari perselisihan, baper, kecemburuan, pertengkaran yang gak penting, bersihkan semuanya ya.. Hanya ada kamu dan dia, jangan ada dia dia dia yang lain. Usir cantik semua foto mantan ala incess Syahrini, huuuussshhh... husshhhh... sanaaahhh~

-Noni Halimi-

Friday, June 17, 2016

FS dan FB Punya Cerita

Tak sengaja saya membuka salah satu akun sosial media milik saya yang sudah lama tidak dikunjungi. Facebook. Agaknya jejaring sosial yang happening di tahun 2008 ini tidak semenarik dahulu waktu baru booming. Jika dulu Facebook sangat digandrungi dari usia muda sampai orang tua, kini Facebook tidak lagi menjadi jejaring favorit kaum muda. Namanya jg anak muda, ada jejaring sosial baru, yang lama sudah lupa. 

Jejaring senior Facebook yang sudah lebih dahulu ditinggalkan yakni Friendster, lebih lagi tidak ada kabarnya. Media sosial ini rasanya menjadi pioneer bagi anak tahun 90an untuk berkreasi di kancah sosial media. Friendster punya cukup banyak fitur yang mengasah kreasi untuk menghias homepage dan menemukan teman-teman lama kita. Plusss kepoin gebetan atau pacar, hihihi.

Jaman saya kuliah semester awal, saya dan rekan-rekan banyak yg belum memiliki laptop. Maklum, harga laptop zaman tahun 2006-2007 sangat mahal dan belum bisa dijangkau oleh banyak mahasiswa. Apalagi macem mahasiswa pengiritan kaya saya dan bergaul dekat dengan anak rantau yang mandiri dan jauh dari orang tua. Hampir sebagian besar belum ada yang punya laptop. Rasanya tidak ingin merengek ke orang tua untuk sekedar minta dibelikan laptop. Lebih baik menabung dulu sampai nanti dapat dari hasil jerih payah sendiri. 

Tidak punya laptop untuk ke kampus bukan berarti tidak bisa berkreasi dengan jejaring sosial. Kami masih punya smart phone, walaupun hitungannya ga smart-smart banget alias harganya ga mahal-mahal banget. Yang penting bisa browsing dan buka jejaring. Saya dan rekan-rekan kalau sedang senggang suka nongkrong di lobi fakultas supaya bisa browsing pakai wifi, atau ke labkom yang bisa dipinjam secara bergantian dengan menggunakan Kartu Tanda Mahasiswa. Namun penggunaan labkom ini sifatnya tidak bisa berlama-lama, dan digunakan untuk kepentingan kampus dan tugas-tugasnya saja. Mana bisa browsing jejaring sosial kelamaan di labkom, yang ada kasian yang antri πŸ˜‚

Tapi kalau super senggang, saya dan gerombolan rekan saya, tak habis cara. Kalau labkom gratis, maka pas lagi ada duit dan butuh hiburan browsing kita ke warnet. Iiih warnet dan rental komputer masih jaman??? Hey anak muda, zaman saya kuliah tahun 2006 warnet dan rental komputer masih berjamuran dimana-mana, terutama lingkungan kampus. Karena tidak semua mahasiswa punya laptop. Isinya? Ya mahasiswa yang nyari tugas, ngerjain skripsi, ya iseng browsing,  sampai iseng buka jejaring sosial. 

Harga rental komputer pada masa itu kalau tidak salah 1000 per jam. Dan biaya internet 3000-4000 per jam. Kalau di warnet dekat kampus saya banyak yang lesehan, setiap komputer dibatasi tirai atau gorden. Saya dan rekan-rekan biasa nongkrong di sana kalau lagi free. Ngapain? Buka Friendster (untuk selanjutnya disebut FS). Motivasi rekan-rekan saya yang buka FS beragam, ada yang kepoin mantannya, kepoin pacar baru mantannya, ada yang kepoin pacarnya, temen-temen pacarnya, ada yang kepoin gebetannya, temen-temen gebetan, keluarga gebetan, temennya temen gebetan (iiih panjang ye nasabnya). Pada intinya ga jauh-jauh dari asrama. Tsaahh preeett...

Racun banget kalau udah ke warnet suka lupa sendiri kalau udah kelamaan. Lucunya suka niat abis. Jadi kita Dzuhur dulu, abis sholat langsung ke warnet sampe Ashar.  Niat lah pokoknya. Belom lagi kalo lagi konsentrasi penuh menghias  FS, beuuuh ga ada yang bisa gangguin walopun temen sebelah udah narik2 gorden pembatas di warnet. Lucu rasanya. Kadang gordennya kita buka terus tengok-tengokan lagi ngapain, lagi buka FS siapa? Atau ada info baru entah siapa, sambil ngomong 'eh liat deh.... ' dan otomatis langsung ngerubungin satu layar komputer. 

Sungguh di tempat itu rasanya campur aduk, kadang seneng (kalo pas ngedit FS), kadang sedih (kalo pas liat gebetan deket sama cewe lain), kadang galau (liat mantan kayaknya punya tambatan baru), kadang penasaran (abis kepoin entah siapa). Sampai adegan nangis liatin layar komputer kalo berantem sama pacar. Beberapa yang saya ingat dari Friendster di kolom bagian depan ada fitur untuk menghias atau menuliskan pesan atau insert teks HTML. Saya malah senang sekali custom profile. Jadi tidak pakai background default dari FS, tapi pakai background sendiri dengan mencari kode HTMLnya. Bahkan terkadang insert gambar dan teks berjalan (marquee). Berasa keren banget kalo udah ngotak-ngatik FS. Ga jarang liat tutorialnya dan browsing soal kode HTML. 

Hal lain yang saya ingat adalah ketika kita kepoin orang. Kalau di FS kita membuka profile orang akan muncul notifikasi bahwa akun kita mengunjungi atau visit profile orang tersebut, yang artinya ketauan dong kita kepo. Nah biasanya kalau mau kepoin orang, kita setting FS kita menjadi private, sehingga ketika kita mengunjungi profile orang lain, tidak muncul notifikasi nama kita. Hanya sekedar unknown. Kita bebas kepo sana sini hihihi..Yang lucu kalau lagi asik-asik kepo, eeeehhh lupa setting private, aarghh hahahhaa memalukan kalo ketauan. Masa-masa remaja yang asem banget buat dilewatkan begitu aja. Kalau sekarang mana ada nongkrong di warnet macem bgitu. Udah pada nenteng laptop, netbook, bahkan ipad sendiri. 

Tahun kedua kuliah muncul jejaring baru bernama Facebook. Kami langsung beralih ke Facebook dan berangsur meninggalkan FS. Di Facebook (FB) kita bisa tag orang yang ada dalam foto yang kita publish. Kemudian sibuk komen-komenan. FB juga ada fitur untuk chat jadi tak jarang juga ada orang yang chat di FB. Sama hal nya dengan FS, kegunaan FB selain untuk sarana menjalin silaturahim juga tak lain sebagai sarana jomblo-jomblo kepo. 

Bedanya di tahun FB ini sudah mulai banyak mahasiswa yang punya laptop atau netbook. Apalagi menjelang skripsi, sebagian besar sudah punya sendiri. Tadinya nongkrong di warnet, ketika sudah punya laptop nongkrongnya di lobi maupun lokasi-lokasi terjangkau wifi di seluruh kampus. Kami bisa betah berjam-jam untuk urusan browsing. Bahkan kalau lagi iseng kami suka streaming youtube dan nonton bareng. 

Walaupun sudah jarang dibuka orang, namun FB masih tetap saja eksis. Karena tidak dapst dipungkiri jejaring sosial ini memiliki banyak manfaat, apalagi kalau bukan connecting. FB juga bisa dipergunakan untuk membuat akun profile lembaga, untuk membuat RSVP atau event, bahkan bisa dipergunakan untuk berjualan / membuka online shop. Biayanya sudah pasti gratissss.....

Banyak juga ya kenangan FS dan FB, tak terlupakan deh. Terima kasih FS dan FB, kalian punya cerita.

-Noni Halimi