Tuesday, October 13, 2015

Pemred Suara Islam Mantu, Menjadi Reuni Aktivis Islam (Kolom Silaturrahim)

Taken From : Tabloid Suara Islam Edisi Maret 2015
(www.suara-islam.com)
  
Pemimpin Redaksi Suara Islam HM Aru Syeif Fachruddin Assadullah mantu dan menggelar pernikahan putri sulungnya Noni Halimi alumnus Fakultas Hukum UI, disunting Budyono Saputro alumnus Fakultas MIPA UI. Aqad nikah dilangsungkan di Gedung Sabha Widya Wisma Makara UI, Jalan Prof. Miriam Budiardjo, di dalam lingkungan Kampus Universitas Indonesia Depok, pada Ahad 15 Februari 2015 / 25 Rabi'ul Akhir 1436 H. Khutbah nikah diberikan oleh H. Shofyan Achmad, kakak kandung Nilawati Achmad ibunda pengantin putri, sementara nasihat perkawinan diberikan oleh KH. Achmad Cholil Ridwan Lc yang merupakan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat. Saksi-saksi terdiri M. Halwan Aliuddin Anwarrulah dan Sudjito dan bertindak memimpin pernikahan Ahmad Zabidi S.Ag dari KUA Beji, Depok. Acara pernikahan ini sebenarnya sebuah pernikahan selazimnya, namun yang menjadi istimewa dalam resepsi yang berlangsung setelah prosesi aqad nikah itu, forum itu berubah menjadi ajang reuni aktifitas pendakwah yang selama ini menggerakkan roda dakwah Islamiyah di negeri ini.

Di depan pintu masuk gedung, undangan disambut karangan bunga ucapan selamat sejumlah tokoh nasional antara lain : Ketua Umum Partai Gerindra Letjen (Purn) H. Prabowo Subianto, H. Ahmad Muzani Sekjen Partai Gerindra, Mayjen H. (Purn) Muchdi PR, Wakil Ketua DPR-RI Fadli Zon SS, M.Sc di mana tiga nama yang terakhir juga datang menyaksikan prosesi aqad nikah. Ada lagi Wakil Ketua MPR-RI Dr. Hidayat Nurwahid MA, dan tampak datang juga Letjen (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin, mantan Wakil Menteri Pertahanan RI, dan rekan-rekan Muchdi PR alumnus Akmil 1970 di antaranya Kol. Djumiran, alumnus Akmil 1968 Muhammad Anwar.

Tampak datang juga Nurmala Dewi mendampingi suami Dr.H.Ms Kaban M.Si. Ketua Umum Partai Bulan Bintang yang dikenal sebagai Menteri Kehutanan (1999-2004), datang juga Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Dr.Ir. Rokhmin Dahuri MS yang dikenal sebagai Menteri Kelautan (1999-2004), Dr.Hendri Saparini ekonom nasional, dan deretan pengacara Islam mulai : Mantan Direktur YLBHI H.Munarman SH, H.Wirawan Adnan SH, HM.Luthfie Hakim SH, Qumar SH, juga hadir Dr.H. Eggie Sudjana SH M.Si. dan H.Ir. Abdullah Hehamahua M.Sc yang dikenal sebagai Penasihat KPK yang acapkali berdebat di layar televisi dengan Eggie Sudjana.

Dari kalangan pers tampak hadir wartawan senior Tempo Amran Nasution, mantan Ketua LKBN Antara Asro Kamal Rokan, Yudhono dari Antara, wartawan TV senior Kawiyan, Mantan Pemred Majalah Islam Media Dakwah Nasmay Lofita Annas dan pengendali Gema Insani Pers HM. Umar Basyarahil, juga M.Hakim dari GIP. Yang istimewa tentu saja kedatangan Drh. H. Taufiq Ismail bersama istri Tante Ati yang dikenal para seniman sebagai ibu penggerak kegiatan kesenimanan di Indonesia

Ajang Reuni Para Pendakwah dan Aktivis Islam

Yang tidak diduga di tengah acara resepsi pernikahan putri Pemred Suara Islam ini, berubah menjadi ajang reuni para pendakwah dan aktivis Islam juga tokoh-tokoh Ormas Islam, khususnya Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Pelajar Islam Indonesia (PII), Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia (HMI), juga ormas Islam lainnya. Topik pembicaraan berkisar agresifitas kehadiran Syiah di Indonesia yang kini berani eksis bahkan menyerbu Adz-Dzikra pimpinan Ust. Arifin Ilham. Peranan Islam di tengah pergulatan politik kenegaraan yang dirasakan Islam kehilangan peranan. Sisi lain pertemuan reuni niscaya adalah temu kangen di antara aktivis yang jarang bertemu selama ini.

Tampak hadir seperti disebut di muka KH. Achmad Cholil Ridwan, yang dikenal aktivis Islam sejak PII berkiprah melawan komunis di tahun 1960-an, ikut bergabung HM. Zain Nashruddin ketua PII Karesidenan Madiun, bersama PII Madiun lainnya Drs. Muhammad Yasin, dan berbincang mengenang Peristiwa Kanigoro di mana anak-anak PII hampir ‘dihabisi’ oleh PKI dan peristiwa Kanigoro dikenal sebagai Prolog G30S PKI 1965. Ikut bergabung diskusi sambil berdiri aktivis PII dari Surakarta, HM. Natsir Zubaidi yang kini menjabat Wasekjen MUI Pusat. Ada H.Mashrum SH bersama istri yang juga aktivis PII-wati dan kini menjadi Kepala Pengadilan Agama Banten.

Tampak pula Ustd. Mashadi tokoh PII yang pernah aktif pada 1970-an bersama Sofyan Djalil kini Menko Perekonomian Kabinetnya Joko Widodo. Mashadi yang pernah menjabat sebagai Anggota DPR dari PKS akrab berbincang dengan Muchdi PR yang rupanya sebelum masuk Akmil (akademi militer) juga aktif di PII. Ada lagi aktifis PII, Masyhuri, Mantan Kepala Humas Kementerian agama,, termasuk Sekjen Gerindra Muzani yang telah disebut dimuka rupanya mantan anggota PII juga bersama deretan PII generasi muda seperti Fami Fachruddin, Miqdad Hussein dan generasi tua PII seperti H.Ramlan Mardjoned, yang pada 1970 menjadi “ajudan” Bp.Prawoto Mangkusasmito juga M.Natsir tokoh-tokoh Masyumi.

 Dari kalangan HMI niscaya adalah Abdullah Hehamahua yang dikenal sebagai Ketua Umum PB HMI pada 1980-an, juga MS. Kaban dan Eggie yang dikenal sebagai aktifis HMI MPO. Tokoh Muhammadiyah yang datang adalah Tabrani Syabirin MA yang dikenal sebagai Ketua Majlis Tabligh PP Muhammadiyah. Hadir Drs. Muh Mansyur aktivis Muhammadiyah yang kemudian menjadi anggota DPR-RI PPP dua periode sejak 1987 sd 1997. Mansyur datang ke resepsi bersama Yudho Handoko aktivis dakwah dari kalangan Muslim Tionghoa yang sangat militan.

Yang tampak lebih istimewa tentu saja kehadiran sejumlah ulama antara lain : KH.Abdul Rasyid Abd Syaffi'i Pimpinan Perguruan As Syafiiyah bersama isteri Ibunda Azizah Azis yang memimpin Majelis Taklim kaum Ibu Umahat tiap Kamis pagi di Masjid Al Barkah Asyafiiyah Balimatraman Tebet Jakarta Selatan. Putri-putrinya yang juga ikut mengelola perguruan Islam seperti Hj. Ita Rogayah, Dewi Rasyid yang kini menjabat sebagai anggota DPD-RI, Aisyah, Asma, dan Alwi Rasyid ikut datang. 

Kalangan pendakwah dari Dewan Dakwah hadir Drs. Zahir Khan, Zulfi Syukur, HM Nazif dan isteri Ibu Erma, lagi Ustd Wardi Kamili, Ustd Aseli Ridwan MA dll. Dari GPMI (Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesia) yang didirikan Alm Ahmad Sumargono, hadir Ais Salman putra Sumargono bersama ibundanya Dr. Joom Sumargono M.Sc, Yunas, Carum Widodo dll Tampak hadir pula Prof.Dr. KH. Didien Hafidudhin MA yang merupakan Ketua BAZNAS, ada KH. Abbas Aula dari Bogor yang banyak mendidik mahasiswa IPB yang kemudian terjun menjadi pendakwah nasional, yang di antaranya juga ikut hadir Dr. Adian Husaini, Ir. Nuim Hidayat M.Sc, Ir. KH.Muhammad Al Khathath yang dikenal sebagai Sekjen Forum Umat Islam (FUI) dan Pemimpin Umum Suara Islam, Drs Alfian Tandjung S.Pd. serta ulama dari luar kota pun tampak hadir KH.Syekh Ismail Royan pemimpin Perguruan Islam Babussalam di Pekanbaru, Riau.

Dari kalangan kelompok salafi dan perguruan Islam tampak hadir pula Hartono Ahmad Djaiz dan Toha Ahmad Djaiz, serta Haunan dari Lasykar Jihad yang kini memimpin Pesantren di Sumpiuh Cilacap. Tampak hadir pula jajaran Perguruan Islam Al Jannah Cibubur terdiri para pengasuh dipimpin oleh pendiri Al Jannah sendiri Bpk. Ir.H. Muslimin Siregar MM bersama istri Ibu Hj. Nurdjannah Harahap yang sejak pensiun dari Bulog telah berkhidmat membina Perguruan Islam Al Jannah yang kini tampil sebagai perguruan Islam yang representatif di Cibubur Jakarta Timur. Muslimin saat menjabat sebagai Kadolog di Timor Timur pada 1996 banyak berperan mengirim putra-putra Timor-Timur masuk ke sejumlah pesantren di Jawa, akibatnya Muslimin dituduh Uskup Bello sebagai melakukan Islamisasi. Rumah dinas Muslimin tiap malam acapkali dilempari batu dan kotoran hewan dan manusia. Muslimin yang berdarah Batak rupanya tidak gentar melawan intimidasi itu sehingga ia tercatat orang yang pertamakali melawan Uskup Bello. 

Rupanya diketahui, shahibul hajat HM Aru Syeif Assadullah telah bersahabat dengan Muslimin sejak ia menjabat Kepala Dolog di Timor Timur dan sering mengalami teror itu. Ditanya komentarnya forum tentang hajatannya yang berubah menjadi ajang reuni, HM Aru Syeif Assadullah bersyukur tak terhingga. Apalagi hampir semua jajaran tim inti Suara Islam hadir antara lain : Shodiq Ramadhan, Moh. Syah Agusdin,Syaiful Fallah, Zulharias, Fitrah Ramadhani, Sofyan Surrahman, Rasyidin Panggabean, Bernad Abdul Djabar, Hijrah Dahlan dan Drs. Sudadi yang menjadi “otak” Suara Islam. (Laporan : Muhammad Halwan Biro Suara Islam Jawa Timur)

Tabloid Suara Islam kolom Silaturrahim

10 Things to do in Japan

Berikut tempat-tempat dan hal-hal yang harus dilakukan ketika kamu berada di Jepang. Cocok untuk rekomendasi tempat wisata yang bisa kamu kunjungi lhoooo...

Kobe
Kyoto
Osaka
Akihabara
Chiba
Harajuku
Shibuya
Shinjuku

Japan Trip : Loker Penitipan Barang

Loker penitipan barang sangat berguna sekali bagi traveler yang ingin berkeliling berbagai tempat wisata namun belum melakukan check in penginapan. Rasanya repot membawa berbagai barang bawaan terutama koper dan ransel besar saat berkeliling ke tempat wisata. Salah satu alternatif yang bisa diambil oleh traveler adalah dengan menitipkan barang bawaan pada loker penitipan barang. Di Jepang sendiri, banyak tersedia loker penitipan barang yang tersebar di banyak tempat-tempat umum, salah satunya di stasiun kereta.

Biaya penitipan loker beragam tergantung ukuran loker yang akan kita sewa. Untuk ukuran kecil, dikenakan biaya 300 Yen per hari. Ukuran kecil ini hanya bisa memuat tas ukuran medium atau tas ukuran kecil. Jika ingin menyewa ukuran yang lebih besar dikenakan biaya seharga 500 Yen per hari yang bisa memuat koper ukuran medium. Sedangkan untuk ukuran yang lebih besar lagi bisa disewa seharga 700 Yen yang bisa memuat dua koper medium sekaligus ditambah ransel. Sebenarnya isi maksimum loker bisa disiasati dengan menata koper dengan benar. Contohnya saja saya memesan loker seharga 700 Yen untuk ukuran lumayan besar, namun bisa dimasukkan 2 koper medium dengan posisi vertical. Sisa dibagian atasnya saya letakkan tas ransel yang cukup besar hingga satu loker full terisi. Namun jangan memaksakan juga kalau memang tidak muat, daripada koper kamu rusak :D

Loker ukuran medium
 

Loker penitipan barang ini sangat berguna, saya emnggunakannya ketika dari Tokyo harus ke Osaka, setelah itu ke Kyoto baru kembali lagi ke Osaka. Daripada bolak balik memabwa koper, maka saya berinisiatif menitipkan koper saya di stasiun stasiun Osaka, baru ke Kyoto dengan membawa barang seperlunya. Sangat efektif dan mudah. Kamu tidak akan diganggu dengan membawa koper dan barang bawaan yang banyak.

Cara penggunaan loker penitipan barang di Jepang sangat mudah. Kamu hanya perlu mencari loker yang kosong, Biasanya lampu indicator akan berwarna merah jika di dalamnya sudah terisi. Sehingga kamu tidak bisa mempergunakan loker tersebut dan mencari loker lain yang masih available. Setelah kamu mendapatkan loker yang kosong, masukkan barang bawaan kamu. Dan tutup kembali dengan rapat, lalu masukkan koin seharga dengan biaya sewa loker satu hari. Jika barang yang kamu letakkan sudah lewat dari satu hari, maka di bagian depan loker terdapat jumlah uang yang harus kamu masukkan, sebagai biaya sewa hari selanjutnya. Karena pada saat pertama kali, kamu hanya membayar satu hari sewa.

Kunci loker
Ada beberapa loker yang menggunakan kunci untuk pembukaan loker kembali ketika pengambilan. Simpan baik-baik kunci tersebut, jangan sampai hilang. Foto loker tersebut baik nomor maupun lokasi loker, karena sepengelaman saya, di Jepang memang banyak sekali spot loker yang tersedia. Bisa sih kalau diingat-ingat, namun untuk antisipasi, maka ada baiknya rekan dan foto lokasi loker penyimpanan milik kamu. Jika kamu malas untuk mebawa-bawa barang saat bepergian di Jepang, maka loker penitipan barang adalah solusinya. Selamat mencoba :)



Salam,
Noni Halimi

Japan Trip : Sumida River dan Asahi Flame

Azuma Bashi Bridge adalah jembatan besar berwarna merah yang mengubungkan antara Sumida River menuju distrik Asakusa. Salah satu bangunan yang cukup terkemuka dan eye catching di sekitar jembatan ini adalah gedung tinggi milik perusahaan bir di Jepang yang cukup terkenal, yakni Asahi Beer yang berwarna kuning. Disebelahnya terdapat bangunan Flame Asahi yakni berbentuk menyerupai gelas yang terisi bir penuh hingga busanya keluar sampai atas. Seharusnya sih itu gambar busa bir, namun entah mengapa saat saya melihatnya nggak kepikiran busa. Saya juga tahu itu gedung bir karena pernah baca Hai Miiko entah edisi berapa yang pernah membahas mengenai gedung ini. Kalau tidak baca Hai Miiko, mungkin flame gedung ini lebih mirip ulet daripada busa.

Foto di dekat Gedung Asahi Flame
Dari Asahi Beer Building terlihat juga seperti bersebelahan yakni Tokyo Sky Tree yang merupakan bangunan / tower tertinggi di Jepang. Kelihatannya sih sebelahan, namun pada kenyatannya lokasinya cukup jauh, jangan coba-coba berjalan kaki dari Asakusa. Kecuali kalau kalian penasaran seperti saya bertiga yang berjalan dari Sensoji Temple menuju Tokyo Sky Tree dengan jalan agak memutar dan ternyata jauh juga meeeeennn...

Lokasi jembatan, pemandangan Sumida River dan Flame Asahi merupakan tempat pertama saya mengabadikan foto ketika sampai di Asakusa (selain di depan stasiun subway Asakusa) tentunya. Hari menjelang gerimis dan suhu makin rendah membuat saya harus segera menemukan penginapan Khaosan Tokyo Original untuk check in. Alhamdulillah lokasinya mudah sekali ditemukan, persis di dekat jembatan Azuma Bashi, kamu hanya perlu menyusuri jalan lorong pinggir Sumida River. Posisi Khaosan Tokyo Original memang dekat dengan Sumida River. Bahkan posisi kamar tempat saya menginap bagian jendelanya menghadap ke Sumida River. Sugoooooiii~


Salam,
Noni Halimi

Japan Trip : Cinderamata dari Chieko-san

Pagi itu merupakan hari terkahir saya menginap di Khaosan Tokyo Original. Sudah saatnya untuk check out dan melanjutkan perjalanan mencari kitab suci ke Barat (dikata Sung Gokong). Saat saya memberi tahukan akan check out kepada Chieko-san, ia langsung mempersiapkan administrasi, dan pengembalian kunci. Dari awal saya check in di hostel ini sudah disambut ramah sekali oleh Chieko-san. Tidak hanya ramah, namun ia juga terlihat sangat profesional dalam mengelola hostel. Entah ia pemilik atau sekedar menjaga saja.

From Chieko-san
Kami bertiga diantar sampai ke depan pintu, lalu kami diberikan tanda mata olehnya. Simple tapi berkesan untuk saya. Tanda matanya berupa beberapa permen warna warni ditambah origami dengan bentuk berbeda-beda yang dibungkus dengan plastik. Selain itu Chieko-san juga mengajak kami foto bersama di depan hostel untuk dokumentasi miliknya. Ia juga mengucapkan terima kasih atas kedatangan kami menginap serta berharap kami bisa menikmati liburan kami di Jepang, syukur-syukur jika bisa kembali lagi. Waaaahh aamiin bangeeet! Sambutan serta perpisahan yang hangat dari Chieko-san memang membuat saya makin terkesima dengan orang Jepang. Domo Arigatou Gozaimasu Chieko-san~

Salam,
Noni Halimi

Japan Trip : Bagaimana Cara Penggunaan Vending Machine di Jepang

Begitu banyaknya vending machine yang berceceran di Jepang memang sangat memudahkan masyarakat Jepang dan turis dalam membeli sesuatu. Tidak hanya menjual minuman, namun vending machine yang ada di Jepang juga menjual barang-barang lain seperti es krim, rokok, makanan beku yang bisa dihangatkan, payung, bunga, sepatum dasi dan lain sebagainya. Kalau kamu pergi ke Jepang sudah pasti harus tahu cara pembeliannya supaya nggak ndeso-ndeso banget gituuu... Berikut cara penggunaan vending machine :

1. Dekati vending machine yang akan kamu beli, lihat barang dagangannya dengan seksama, misalnya minuman. Lalu pilih dalam hati saja minuman yang akan kamu beli, Ingat, dalam hati saja. Tidak perlu laporan sama orang-orang yang berjalan di sekitar kamu atau meneriakkan minuman pilihan kamu. Pliss, jangan lakukan itu.

2. Lihat harganya, sesuaikan dengan budget yang kamu miliki. Kalau kamu hanya memegang uang 100 Yen, tolong jangan sok-sok-an ingin membeli minuman seharga 160 Yen, karena nggak akan keluar dari mesin kalau uangnya kurang.

3. Masukkan uang senilai harga minuman yang ingin kamu beli atau lebih besar dari harga tersebut. Misalnya harganya 130 Yen, maka kamu bisa memasukkan uang pecahan 100 Yen + 10 Yen + 10 Yen + 10 Yen. Jika kamu tidak memiliki uang receh 30 Yen, maka kamu bisa memasukkan 200 Yen (Cieee gayaaa...)

4. Tunggu lampu indikator menyala.

5. Tekan tombol dibawah replika minuman yang kamu inginkan. Kalau warnanya hijau artinya barang masih tersedia, namun kalau berwarna merah berarti stocknya habis, kamu belum beruntung, mungkin coba lain kali. Pilih yang ada stocknya saja ya.

6. Tidak lama kemudian akan keluar suara minuman jatuh dari bawah mesin tersebut, ambil minuman yang sudah jatuh di tempat pengambilan barang.

7. Jika kamu memasukkan uang lebih dari harga yang tertera, maka setelah barang kamu ambil akan keluar kembalian dari bagian tengah mesin. Tidak perlu malu-malu, ambil sisa kembalian kamu, saya tahu kamu masih butuh *laaah

Demikian tata cara penggunaan vending machine di Jepang, mohon dipergunakan sebagaimana mestinya. Selamat menikmati :)



Salam,
Noni Halimi

Japan Trip : Vending Machine

Source pict : www.thedailyjapan.com
Tidak berlebihan rasanya jika saya menyebut Jepang sebagai negeri sejuta vending machine. Ini terkait dengan jumlah vending maching yang berceceran di Jepang super banyak dan unik. Bagaimana tidak, baru beberapa kali melangkah sudah ada vending machine di pinggir jalan, sisi jalan bahkan sudut jalan sepi sekali pun. Sebagai negara maju, Jepang selalu membuat inovasi dengan teknologi dalam kehidupan sehari-hari mulai dari sarana transportasi yang canggih sampai dengan vending maching yang beragam.

Vending machine adalah mesin penjual otomatis yang tidak ada penjaganya. Ya terang aja, wong itu mesin yang didesain tanpa penjaga. Semua berjalan secara otomatis. Misalnya saya ingin membeli minuman, saya tinggal memasukkan uang Yen ke dalam mesin, kemudian memilih minuman dengan menekan tombol, kemudian “kluuung” minuman tersebut akan otomatis keluar.

Terkadang saya membeli minuman di Vending Machine bukan karena haus juga sih, Kadang saya tertarik dengan berbagai bentuk minuman yang di jual di Vending Machine yang tidak ditemukan di Indonesia. Saya banyak melihat merek minuman dengan bentuk dan kemasan unik yang tidak ada di Indonesia. Saya menemukan berbagai kemasan minuman soda fanta yang tidak biasa. Untuk air mineral yang di jual di Jepang memang relatif mahal banget, asli. Jika kamu membelinya di restoran maka harga air mineral bisa sampai 200 Yen. Jika kamu membelinya di convenience store maka berkisar 130 Yen. Nah jika kamu membelinya di vending machine maka kamu akan lebih hemat karena hanya seharga 100 Yen. Mau lebih hemat lagi? Kamu cari saja pancuran air minum gratis yang biasa tersebar di kota Tokyo :D

Demikian pula dengan Vending Machine yang menjual selain minuman, saya pun tertarik untuk mencoba. Misalnya yang menjual es krim. Saya pernah beberapa kali mencoba membeli es krim di Vending Machine, lucu rasanya keluar es krim dari mesin dengan kondisi persis dari kulkas, masih beku tanpa cair sedikit pun. Rasa es krim yang ditawarkan pun beragam sampai bingung mau beli yang mana. Es krim yang dijual berbentuk stick, ada juga yang berbentuk wafer. Es krim keluaran Glico ini rata-rata seharga 130 Yen. Lumayan mahal juga untuk ukuran yang tidak seberapa. Namun jangan tanya rasanya, super enak dan bikin ketagihan lho!

Tidak hanya minuman serta es krim, vending machine di Jepang juga menjual makanan beku yang bisa dihangatkan secara otomatis. Turis tidak perlu repot-repot ke restoran untuk memesan makanan dan menggunakan bahasa tarzan ala-ala karena jangang orang Jepang yang bisa berbahasa Inggris. Makanan yang dijual beragam harganya mulai dari 200 Yen hingga 500 Yen.

Vending machine yang saya temui di Jepang juga unik, berhubung saya tidak pernah menemukannya di negara saya. Umumnya vending machine hanya menjual minuman dingin. Namun saat saya ke Jepang, saya baru menyadari, ternyata dalam satu vending machine yang sama, juga dijual minuman hangat baik kemasan botol maupun kaleng, Saya pernah mencoba membeli. Ketika saya pilih minuman dingin maka akan keluar dingin seperti dari kulkas. Namun ketika kedua kali saya membeli minuman di mesin yang sama, memilih minuman hot coffee milk, maka saat saya ambil minumannya terasa sekali panas dari kaleng tersebut. Keren ya :D 

Vending Machine Eskrim
Hasil keluarnya
Selain terkenal dengan banyaknya vending machine, Jepang juga terkenal dengan uniknya barang yang dijual di vending machine. Jika biasanya hanya menjual minuman, maka Jepang bisa membuat vending machine yang menjual makanan, es krim, tiket bioskop, sepatu, telur, sayuran, rokok, payung, bunga, dan lain sebaginya. Uniknya di Jepang memang sangat patuh pada aturan, walaupun vending machine rokok bisa ditemui dimana saja, namun tidak semua orang bisa membeli rokok tersebut. Kenapa? Khusus untuk rokok, kamu harus memiliki kartu yang bernama Taspo. Kartu ini dikeluarkan untuk legalitas pembelian rokok. Tentunya bocah yang masih di bawah umur tidak memiliki kartu ini sehingga ia tidak bisa membeli rokok secara bebas merdeka (emangnya Indonesiaa...fiuuh). Cara mempergunakannya ketika membeli hanya perlu di tap pada scaner kemudian lakukan pembelian seperti biasa.



Salam,
Noni Halimi

Japan Trip : Onigiri


Onigiri (nasi kepal) merupakan makanan khas Jepang yang berupa nasi yang dipadatkan berbentuk segitiga, bulat atau silinder. Ada yang menyebutnya dengan Omusubi atau Nigiri-han. Onigiri dibentuk dan diisi sesuai selera lalu dibalut oleh nori (rumput laut). Di Jepang cukup mudah menemukan Onigiri, karena biasanya makanan ini dijadikan bekal. Jika ingin membeli onigiri maka mudah saja untuk menemukan di berbagai convenience store. Onigiri memang memiliki beberapa kelebihan, selain praktis makanan ini juga jauh lebih tahan lama ketimbang nasi biasa.

Bentuk onigiri bermacam-macam, ada yang berbentuk segitiga sama sisi, bentuk bulat, bentuk bulat pipih, bentuk bola dan bentuk persegi empat. Nasi yang digunakan sebagai bahan utama onigiri pun beragam dari mulai nasi putih, nasi yang dicampur kacang-kacangan, jamur, nasi yang yang dicampur dengan biji wijen. Isi dari onigiri yang di jual di Jepang ini berbagai macam ada daging ikan-ikanan, saus mayonaise, gorengan, telur, daging-dagingan, acar, tumisan maupun sayur. Setelah dibentuk dengan campuran isi tersebut, onigiri dibalut dengan nori (rumput laut).

Onigiri beli di Family Mart
Selama di Jepang saya beberapa kali mencoba onigiri, salah satunya di convenience store. Ada banyak onigiri isi yang dijual di sana, namun kamu harus berhati-hati mengenai ingredientsnya. Jangan sampai mengandung yang tidak halal. Kamu bisa menanyakan kepada petugas convenience store, mana onigiri yang kira-kira berisi ikan saja atau ayam. Karena cukup banyak onigiri yang berisi salami atau daging babi yang beredar di convenience store. Cari yang halal ya, no putaniku (no salami/jangan daging babi). Petugas akan berbaik hati memberi tahu kepadamu.

Onigiri dari Piece Hostel
Saya juga mencoba onigiri yang disediakan secara cuma-cuma di hostel Kyoto yakni Piece Hotel. Ketika saya sampai di Kyoto siang hari, kebetulan saya mampir ke ruang makan, ternyata ada sebuah nampan yang penuh dengan onigiri yang sudah dibungkus dengan plastic wrap dengan porsi yang cukup besar. Petugasnya mengatakan bahwa tamu bisa mengambil onigiri tersebut sesukanya, bahkan bisa dibawa untuk bekal di perjalanan. Lumayan banget kan! Onigirinya berbentuk bulat dengan taburan nori di seluruh isi nasi tersebut, serta wijen. Febi yang memang tidak doyan nori awalnya enggan untuk mengambil. Nori memang berbau menyengat dan agak amis baginya. Namun ketika saya mencoba satu onigiri, sama sekali tidak tercium bau nori, bahkan rasanya sangat gurih walaupun tidak ada isi daging apa-apa.

Febi yang awalnya menolak untuk mengambil, langsung berubah pikiran. Saya yang dari awal sudah ngambil malah berpikir mau nambah lagi untuk bekal di jalan hehehehe. Nasinya sangat pulen, sepertinya diberi minyak supaya lebih gurih, entah bagaimana caranya rasanya sangat enak, apalagi nasinya masih hangat. Nyam nyammm... Keesokan harinya saat sarapan ternyata saya menemukan lagi onigiri yang dihidangkan di hotel tersebut, seperti biasa saya langsung mengambilnya tanpa basa basi. Ini laper atau doyaaaan :D


Salam,
Noni Halimi

Japan Trip : Persiapan Itinerary Jepang


Visa sudah approval, langkah selanjutnya adalah membuat itinerary sungguhan. Jujur saja baru kali ini saya dadakan membuat itinerary. Setiap saya bepergian biasanya itinerary atau jadwal perjalanan sudah saya buat jauh-jauh hari. Berbeda dengan perjalanan saya kali ini, saya merasa persiapannya sangat minim dan serba mepet. Padahal destinasi saya adalah ke negara Jepang. Saya sudah googling sana sini, makin banyak baca makin puyeng dan makin deg-degan. Fiiuuhh. Masalahnya semua masih di dalam otak dan belum dituangkan dalam excel.

Alhasil mendekati hari H keberangkatan saya memutuskan untuk membuat itinerary bersama dengan Febi, travelmate saya yang nantinya akan berangkat bersama. Sebelumnya kami sudah membuat gambaran kasar di masing-masing draft kami, ketika nanti menginap baru kami akan menggabungkan semuanya. Ada pun draft tersebut saya buat di kantor saat sedang puyeng ngurusin Teller dan CS saya, sedangkan Febi pun dikerjakan di kantornya hehehe. Kami membagi tugas dengan cara Febi membuat itinerary Tokyo sedangkan saya membuat itinerary Kyoto dan Osaka. Kami saling balas-balasan revisi itinerary. Entah sudah part berapa itu draft.

Sungguh malam itu akan menjadi malam panjang karena kami harus berpikir keras bagaimana agar wisata kami ke Jepang berjalan dengan sukses. Rencananya kami akan bepergian ke 3 kota besar di Jepang yakni Tokyo, Kyoto dan Osaka. Berpindah dari satu kota ke kota lain dengan membawa barang bawaan besar tentu bukan perkara mudah, terutama dalam hal transportasi dan akomodasi. Yosshh... kami berencana menyelesaikan semuanya pada malam tersebut.

Sampai di rumah Febi, saya dan Febi langsung mengeluarkan alat pertempuran kami yak tidak lain adalah cemilan *looohh. Ini merupakan bagian penting dalam perintisan itinerary, rasanya kami tidak bisa berpikir kalau tidak ngemil *alasaaan. Saya membawa beberapa referensi buku yang membahas mengenai perjalanan ke Jepang serta tips-tips yang penting untuk diketahui. Saya dan Febi juga sudah print beberapa artikel yang berkaitan dengan destinasi wisata kami untuk memudahkan mengatur jadwal perjalanan.

Hostel yang akan kami tempati di 3 kota di Jepang sudah kami booking melalui booking.com, Alhamdulillah. Setidaknya penginapan sudah aman. Kenapa harus melalui booking.com? Karena pemesanan melalui booking.com tidak dikenakan biaya sepeser pun. Pembayaran dilakukan dengan uang cash ketika kami sudah sampai di lokasi tempat menginap. Lebih terjamin bukan? Apalagi kalau khawatir akan cancel mendadak, uang tidak akan hangus karena kami belum membayar apa-apa.

Destinasi wisata yang akan kami kunjungi juga sudah kami persiapkan, kami hanya mengatur waktu agar semuanya dirasa enak dan tidak terlalu melelahkan. Kami sudah membuat bucking list mengenai hal-hal apa saja yang harus saya lakukan di Jepang, terutama menaiki Shinkansen, itu wajib hukumnya. Kami berencana menaiki Shinkansen dari Kyoto menuju Osaka dengan perhitungan budget yang memadai karena harganya masih terjangkau. Walaupun konsekuensinya perjalanan dengan kereta peluru untuk ukuran jarak Kyoto dan Osaka sangat dekat dan hanya sebentar saja. Namun kami tidak masalah naik Shinkasen hanya hitungan menit, yang penting kami merasakan sensasinya kan?

Selanjutnya yang jadi permasalahan hidup kami adalah transportasi dari Tokyo menuju Kyoto. Ada banyak pilihan mengenai akses dari Tokyo ke Kyoto, diantaranya menggunakan jalur kereta Shinkansen, namun pastinya harganya mahal. Atau dengan menggunakan bus malam Willer Express dengan harga yang cukup terjangkau. Bus ini berangkat malam hari dari Tokyo dan akan tiba di Kyoto pada pagi hari. Pilihan yang tepat untuk menghemat penginapan kan? Namun sayang disayaaaanggg....kami cek website Willer Express ternyata tulisan kanji semua dan kami tidak berhasil memesan tiket tersebut. 



Peta Subway dan Kereta di Jepang
Pusing pala berbi. Saya dan Febi pontang panting cari cara, termasuk tanya sana sini ke teman yang punya akses di Jepang. Alhamdulillah ada teman dari teman kami (panjang kan urutannya), yang tinggal di Jepang, kami komunikasi melalui WhatsApp untuk meminta bantuan pemesanan bus. Dengan baik hati ia langsung reservasi bus untuk saya, Febi dan Adik saya melalui situs www.j-bus.co.jp dengan tujuan Tokyo – Kyoto. Mengapa kami tidak bisa memesan sendiri? Ini pertanyaan cerdas. Coba saja buka link tadi, dijamin siwer matanya melihat huruf kanji Jepang yang berserakan. Google translate sana sini namun tidak berhasil juga. Alhamdulillah ada yang membantu memesankan untuk kami.

Tiket bus untuk ke Gunung Fuji belum kami pesan karena rencananya kami akan membeli langsung di kounter tiket yang berada di terminal Shinjuku. Harganya kami sudah perkirakan sekitar 1700 Yen. Cukup mahal yaa.. Namun apa daya, kami wajib melihat Gunung Fuji, udah jauh-jauh ke Jepang masa nggak lihat Gunung Fuji kaaaaan..

Dalam satu malam akhirnya itinerary rampung diselesaikan, ini merupakan pencapaian yang cukup luar biasa bagi kami bedua. Ngebut fiksasi itinerary ditemani minyak kayu putih, coffee latte dan cemilan MSG. Terima kasih telah menemani kami semalaman :)


Salam,
Noni Halimi

Monday, October 12, 2015

Japan Trip : Menuju Khaosan Tokyo Original, Asakusa (31 Oct 2014)

Kami menaiki kereta menuju Asakusa Station dengan kartu pass Tokyo Subway Ticket. Kartu ini free dipergunakan untuk berapa kali pemaiakan selama masa kartunya masih aktif selama 3 hari sesuai yang kami pesan. Jadi kami tidak perlu khawatir dan ribet meyiapkan uang untuk membeli tiket setiap kali akan menaiki kereta. Kami cukup tap kartu pass kami di pintu masuk, selayaknya tap EZLink Card di Singapura. Perjalanan dari Bandara Tokyo Haneda 2F yakni menaiki Keikyu Line menuju Asakusa Station cukup singkat. Berhubung masih pagi hari, pemandangan masih sejuk dan situasi penumpang terlihat sibuk. Memang benar apa yang dikatakan oleh banyak orang, bahwa penduduk Jepang kalau berjalan memang terlihat terburu-buru. Entah seperti mengejar sesuatu. Bahkan untuk mengejar kereta sampai berlarian ke sana kemari, padahal jarak kereta satu dengan di belakangnya kurang dari 5 menit dan kedatangan kereta sangat on time alias tepat waktu tanpa kurang satu menit pun. Mereka berhitung dengan detik.

Kereta yang saya naiki agak mirip dengan kereta commuter line yang ada di Jakarta. Memang benar mirip, karena kereta commuter yang ada di Jakarta kabarnya memang hasil kereta limpahan dari Jepang. Bentuk dan isinya sama persis. Pagi itu sudah banyak terlihat penumpang yang akan berangkat kerja dan anak sekolah dengan seragam khas Jepang yang akan berangkat sekolah. Ada pun saya perhatikan selama di dalam kereta, mereka lebih banyak diam dan tidak mengobrol di kereta, Suatu hal yang memalukan dan dianggap mengganggu kepentingan umum jika berbicara terlalu keras di dalam kereta. Tatapan kosong, melihat gadget yang mereka bawa, serta membaca buku. Hampir tidak ada yang tidur di kereta, padahal pagi hari biasanya orang cenderung mengantuk.

Warna pakaian yang dikenakan oleh orang kantoran di Jepang hampir sama antara satu dengan yang lainnya. Mereka mengenakan coat berwarna gelap baik hitam, cokelat tua, maupun biru gelap polos tanpa ada motif macam-macam. Demikian halnya dengan anak sekolah yang mengenakan jas berwarna biru gelap atau hitam, untuk anak wanita mengenakan rok kotak-kotak hitam atau biru gelap, mereka juga membawa tas tenteng atau tas ransel kaku khas pelajar Jepang. Pemandangan unik yang selalu saya impikan untuk dilihat :D

Tidak lama, akhirnya kami sampai di stasiun Asakusa. Begitu keluar dari stasiun, kami langsung menggigil, padahal kami sudah mengenakan jaket tebal berlapis. Namun agaknya badan kami belum menyesuaikan diri. Jalanan pagi itu masih sepi dan kami menebak-nebak dengan peta kira-kira ke mana arah Khaosan Guest House tempat kami menginap. Biasanya kami menggunakan google maps untuk mencari lokasi dimana pun kami berada. Namun apa daya saat itu memang kami tidak punya akses internet sama sekali sehingga kami hanya mengandalkan bertanya kepada orang yang lewat serta insting kesotoyan kami yang sangat kami harapkan. 



Setelah tanya sana sini, kami berjalan menyusuri sungai yang belakangan diketahui bahwa sungai besar tersebut merupakan Sumida River yang terkenal itu lhooooo...Telat amat baru nyadar. Ternyata lokasi penginapan kami di Tokyo cukup mudah untuk ditemukan, namanya Khaosan Tokyo Original, tidak jauh dari jembatan dan stasiun Asakusa. Kami langsung menemukan hostel tersebut di salah satu lorong jalan yang sangat bersiiiiiiih tanpa sampah sehelai pun. Ckck.

Saat masuk dengan menekan bel, ternyata pengurus guest house atau penginapan tersebut seorang perempuan,. Ia bernama Chieko-san. Kami bertiga dipersilahkan masuk dan kami memberitahu keperluan kami untuk check in. Dengan sangat ramah ia memperkenalkan diri dan menanyakan nama saya. Ia fasih berbahasa Inggris walaupun terkadang ia menggunakan bahasa Jepang. Untuk check in kami diharuskan untuk menyerahkan seluruh passpor kami untuk di copy oleh Chieko-san sebagai data. Setelah itu kami membayar biasa sewa untuk 3 hari 2 malam di Tokyo. Kebetulan saya dan Febi memesan kamar woman dormitory sehingga harus berbaur dengan traveler yang lain, sedangkan adik saya memesan private room.

Ketika saya sedang mengobrol, ternyataaa...Febi bertemu dengan salah satu rekan kantornya yang kebetulan juga menginap di Khaosan Original. What a coinsidence. Teman kantor Febi tersebut merupakan teman kuliah dari teman kerja saya di kantor. Rasanya dunia sempit ya, sesempit daun kelor. Sampai di penginapan rasanya saya mau sujud syukur, sangat dimudahkan sekali pencariannya, tidak sampai muter-muter bahkan nyasar. Alhamdulillaaaaahh. Tidak sabar rasanya untuk destinasi pertama di Tokyo :D



Salam,
Noni Halimi

Thursday, October 8, 2015

Japan Trip : Sensoji Temple / Asakusa Kannon (31 Oct 2014)

Sensoji Temple Berasal dari kata Senso yang berarti Asakusa dan Ji yang artinya kuil. Sensoji temple adalah kuil yang bisa dibilang paling terkenal di seantero Tokyo. Dibangun pada abad ke 7, kuil ini merupakan salah satu kuil yang paling tua di Jepang walaupun beberapa bagian dari kuil sudah bukan merupakan bangunan asli. Sebelum masuk harus melalui gerbang luar yang dinamakan Kaminarimon. Kaminarimon adalah yang pertama dari dua gerbang pintu masuk Kuil Sensoji 1000 tahun yang lalu dan merupakan simbol dari Asakusa. Kalau anda memperhatikan, ada dua patung raksasa yang diletakkan di sebelah kanan dan kiri lentera raksasa itu Raijin (dewa petir) dan Fujin (dewa angin)
 
Sensoji Temple berada tidak jauh dari Nakamise Shopping Street dan Kaminarimon Gate. Kuil ini cukup ramai dikunjungi oleh masyarakat Jepang untuk tempat berdoa di area Asakusa. Setelah melewati Nakamise Shopping Street, saya mendapatkan gerbang lonceng besar lagi seperti Kaminarimon Gate. Gerbang utama tersebut bernama yaitu Hōzōmon. Dibalik gerbang itu digantungkan sandal jerami raksasa (waraji). Tidak jauh dari gerbang utama ada bangunan berbentuk pagoda bertingkat 5 yang disebut Gojūnoto. Konon didalamnya tersimpan bagian dari abu Buddha. Di sinilah pintu gerbang utama Sensoji Temple. Di sekitar pintu masuk ini banyak wisatawan yang berpose mengambil gambar lonceng besar berwarna merah yang tepat berada di tengah jalan. Agak susah mendapatkan angle baik dengan posisi kosong, karena kebetulan saat saya ke sana kondisi Sensoji Temple sangat ramai, padahal masih lumayan pagi lhoo.. Namun demikian hal tersebut tidak memupuskan semangat saya untuk berfoto :D
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Ketika saya masuk ke dalam, di dekat pintu masuk atau bagian terluar dari Sensoji Temple terdapat bangunan tertutup rapat seperti kasir yang sedang tutup. Bagian depannya terdapat banyak laci kecil yang berisi kertas ramalan dan kocokan kayu mirip kocokan arisan, namun yg keluar berbentuk bambu panjang yang isinya adalah ramalan. Lumayan banyak pengunjung yang mengambil ramalan tersebut. Harga untuk satu kali kocokan ramalan sebesar 100 Yen. Jika sudah mendapatkan ramalan, pengunjung cukup membaca apa isinya. Konon jika isinya ramalan baik maka sebaiknya di bawa pulang, jika hasilnya ramalan buruk maka harus diikat ditali panjang yang berada tidak jauh dari fortune teller (laci-laci ramalan) tersebut. Hal tersebut merupakan kepercayaan masyarakat Jepang, saya tidak mencobanya. 
 
Fortune Teller

Pengunjung yang mencoba peruntungan
Tempat menggantungkan ramalan nasib buruk
Terlihat juga dibagian luar area untuk membakar kayu-kayu kecil untuk berdoa, area tersebut penuh dengan asap pembakaran kayu-kayu kecil tersebut. Sebelum masuk bangunan itu, orang yang akan bersembahyang akan membeli dupa dan meletakkan dupa itu ditempat yang telah disediakan. Asap dupa itu dikibas-kibaskan ke dirinya. Kemudian mereka akan ke tempat khusus untuk membersihkan diri. Selain itu juga ada lokasi tempat keluarnya air dengan bentuk melingkar. Air tersebut digunakan untuk berkumur oleh pengunjung yang akan berdoa. Namun tidak jarang juga saya melihat orang yang mencuci tangannya dengan air tersebut. Mungkin itu salah satu ritualnya juga.  Mereka melingkar daa bergantian mengambil air dengan gayung kayu bulat. Saya sempat memegang air yang keluar dari pancuran tersebut, dingin layaknya musim gugur yang sedang bertebaran :D Menurut kepercayaan orang Jepang, air tersebut merupakan air suci. Banyak kuil yang terdapat spot seperti ini.


 
Saya kemudian menuju bagian dalam kuil, yakni bagian utama area ini. Bangunan utama dari kuil ini adalah Kannon Hall. Di sana terlihat tempat berdoa dengan lubang-lubang besar yang akan dilempari koin oleh pengunjung. Persis seperti serial komik Detective Conan soal kuil, sebelum berdoa biasanya mereka melempar koin ke tempat pelemparan koin yang berbentuk sel-sel kayu yang cukup besar. Saya melongok ke arah dalam, terdapat banyak sekali koin sen di sana. Setelah melempar koin biasanya ada lonceng yang dibunyikan dengan menggoyang-goyangkan tali. Namun saat itu saya tidak begitu memperhatikan sehingga terlewat untuk mencari lonceng tersebut. Biasaaaa... saya tahunya juga dari komik Conan *lagi-lagiiiii...

Bagian dalam Sensoji Temple
Tempat Berdoa
Saat berfoto di sekitar kuil, terdapat papan besar bertuliskan bahasa Jepang, entah apa tulisannya. Saat berfoto, saya menaikkan sedikit kaki saya untuk berpose, setelah itu entah kenapa kaki saya langsung kesemutan. Entah mengapa daya merasa gegara pose yang barusan, kaki saya kesemutan. OMG. Maapkan sayaaa... Akhirnya saya harus mengurut kaki berkali-kali dan melepas sepatu dan kaos kaki saya untuk saya urut. Setelah beberapa menit beristirahat, saya pun segera meninggalkan area utama kuil Sensoji dan mencoba berkeliling ke kuil sebelahnya. Kapooook pose yang aneh-aneh.

Saya cuma pasang pose seperti ini, langsung keram
Pijit-pijit dulu lepas sepatu
Tidak lama saya berkeliling di dalam, saya pun lanjut mengitari sekitar Sensoji Temple. Banyak murid-murid yang sedang studi tour ke kuil ini, membuat saya mengambil kesempatan untuk foto bersama mereka hahaha. Mereka sedang study tour ke Sensoji Temple ini. Lumayaaan foto sama bocah-bocah unyu Jepang dengan seragam kece. 
 
Pose bersama bocil SD
 
Tak jauh dari kuil tersebut jg ada kuil lain yang juga ramai dikunjungi. Saya menemukan becak manusia, dengan penampakan gerobak yang ditarik oleh mas2 dan penumpangnya duduk di belakang. Seruuuu kayaknya, tapi saya malas untuk tanya harganya berapaaa hanya untuk iseng-isengan. Saya dan Febi beristirahat sebentar sambil melihat sekeliling. Tak lupa menemukan bocah turis bule yang sedang bermain di pancuran air sendirian, iseng kami ajak berfoto :D Sekitar Sensoji Temple juga terdapat taman bunga yang unik bermekaran walaupun sedang musim gugur.


 

  
 

Demikian perjalanan saya bertiga ke Sensoji Temple, sangat terasa khas kuil Jepang dan orang-orang yang sedang sembahyang. Jika kamu ke Tokyo, maka kuil Sensoji ini jangan sampai terlewat dari daftar itinerary perjalanan :D

Salam,
Noni Halimi

Japan Trip : Kaminarimon Gate - Nakamise Shopping Street (31 Oct 2014)

Nakamise Shopping Street
Sebelum menuju Sensoji Temple, kamu akan melewati Kaminarimon Gate dan Nakamise Shopping Street. Tempat tersebut ramai dengan pengunjung yang akan ke Sensoji Temple. Untuk menuju tempat tersebut, saya berjalan dari Khaosan Guest House ke arah Asakusa. Tidak sulit menemukan Asakusa karena sedari pagi sudah ramai oleh turis dan pengunjung. Terlihat pintu masuk dengan lampion besar berwarna merah, khas Asakusa. Banyak yang mengambil foto di area tersebut. Di dalamnya terdapat jalan yang penuh dengan barang dagangan yakni Nakamise Shopping Street.

Nakamise Shopping Street adalah jalan yang berisi banyak toko yang menjual berbagai barang. Di sisi kanan dan kiri jalan terdapat ruko-ruko yang menjual berbagai macam dagangan seperti souvenir berupa gantungan kunci, tempelan kulkas, kipas, kaos bertuliskan jepang, sandal khas jepang, yukata, kimono, payung bahkan kue-kue camilan serta jajanan khas Jepang. Harga yang ditawarkan bermacam-macam, mulai dari 100 JPY sampai dengan yang mahal sekali pun. 

Contoh dompet
Cemilan
Banyak kue yang dijual
Bisa langsung lihat cara membuatnya
Tempelan kulkas



Untuk harga gantungan kunci berkisar 300 JPY, kipas bisa mencapai 1000 JPY, payung bening besar seharga 300-500 JPY, sandal khas jepang yang mencapai 2000 JPY, kaos souvenir Jepang berkisar 2000 JPY. Sedangkan untuk makanan dan camilan yang dijual beraneka ragam berkisar 100 JPY - 500 JPY. Untuk makanan saya tidak mencoba maupun membeli karena masih khawatir tidak halal. Jika kamu mau membeli makanan maupun cemilan, bisa saja kamu menanyakan kepada penjualnya, apa bahan dari kue tersebut. Pastika memang tidak ada bahan bahan yang haram seperti babi, rum dan sebagainya. Kalau sudah aman, bismillah saja, semoga bener heheehehe. Kalau ingin membeli souvenir, Nakamise Street bisa dijadikan referensi untuk membeli, namun harga yang ditawarkan standar, tidak terlalu murah seperti Daiso. Adapun pengunjung Nakamise Shopping Street, berasal dari turis luar, turis lokal maupun anak-anak sekolah yang berseragam. Entah sepertinya mereka sedang study tour ke Sensoji Temple *sotoy

Suasana lorong Nakamise Shopping Street
Pose dulu
Banyak anak sekolah yang berkeliaran juga
Sisi dalam Nakamise Street

Mulai hujan
Sekitar Nakamise Street terdapat banyak lorong dengan tampilan khas Jepang. Lorong yang kecil dan padat bangunan namun penuh tulisan dan gaya bangunan Jepang. Seperti di film dorama Jepang dengan adegan orang yang sedang mabuk karena sake melewati lorong-lorong jalan yang agak sempit dan khas Jepang. Tidak ingin kehilangan momen, saya pun berpose mengabadikan area tersebut. Cihuuuy

Salam,
Noni Halimi