Thursday, September 17, 2015

Bagaimana Cara Jepang Mengatasi Macet

Jepang adalah negara dengan penduduk padat namun minim lahan, seharusnya dengan lahan yang sempit dan penduduk yang banyak akan menyebabkan kemacetan sehari-hari. Namun faktanya Jepang merupakan salah satu negara yang bebas macet. Penyebab utama kemacetan adalah banyaknya volume kendaraan namun tidak dibarengi dengan bagusnya sarana dan prasarana jalan raya bagi pengguna jalan. Mengapa demikian? Apa yang dilakukan oleh pemerintah Jepang untuk menghapus kemacetan dari tanah negeri sakura ini? Ternyata ada beberapa cara yang dilakukan oleh pemerintah Jepang :


1. Pembatasan emisi pada setiap kendaraan yang ada di Jepang

Jepang melakukan pembatasan emisi terhadap setiap kendaraan yang ada di Jepang. Setiap kendaraan di Jepang ditempeli sticker uji emisi dengan batas waktu masa berlaku. Jika sudah daluarsa atau lewat masa berlaku maka pihak polisi berhak untuk menilang kendaraan. Uji emisi dilakukan secara berkala dan rutin. Jepang. Biasanya uji emisi pertama dilakukan 3 tahun setelah pembelian mobil, kemudian dilakukan dua tahun setelahnya. Uji emisi dilakukan oleh perusahaan swasta yang telah tersertifikasi di Jepang. Hasil uji emisi berupa data tingkat emisi yang dikeluarkan oleh kendaraan dan dan suku caang yang harus diganti demi mengembalikan kepada emisi yang diperbolehkan oleh negara. Nah, makanya jika ada mobil yang tidak lagi lolos uji emisi, untuk beberapa kasus pemilik mobil tersebut lebih memilih untuk mengganti dengan mobil baru dan membuang mobil lamanya. Kenapa? Karena biaya yang dikeluarkan lebih besar daripada membeli mobil baru. Alhasil bertambahnya satu mobil di jalan raya berbarengan dengan berkurangnya satu mobil tua di jalan raya sehingga peningkatan volume kendaraan tidak terlalu signifikan.


2. Biaya pajak yang melambung tinggi

Jepang juga terkenal dengan pajak kendaraan yang sangat tinggi bagi pemilik kendaraan. Semakin tua usia kendaraan maka semakin besar pajak yang harus dikeluarkan. Ini berkaitan dengan tingkat emisi yang dikeluarkan oleh kendaraan. Semakin tua usia kendaraan, maka produksi emisi akan semakin tinggi dan berkontribusi besar dalam mengotori lingkungan. Jadi wajar jika diminta pajak yang tinggi. Jika ada yang membeli mobil baru supaya pajak tidak setinggi mobil tua, maka mobil tuanya dikemanakan? Dibuang? Well, jika kondisi mobil tua tersebut masih baik maka bisa dijual lagi tentu tentu dengan harga yang lebih murah. Dan pembelinya pun harus bersiap-siap dengan membayar pajak yang tinggi. Jika kondisi mobilnya sudah tidak bagus maka bisa di recycle atau di daur ulang, namun ternyata juga butuh biaya yang cukup mahal juga. Orang Jepang pun akan semakin malas memiliki mobil sendiri.


3. Ongkos tol yang mahal

Rasanya biaya tol di Indonesia sudah cukup mahal, namun ternyata negara Jepang menerapkan tarif dasar tol yang jauh lebih mahal ketimbang Indonesia. Biaya yang harus dikeluarkan untuk melewati satu gerbang tol untuk jarak dekat adalah 1000 JPY (senilai 111.000 IDR), jika bepergian cukup jauh pasti membutuhkan keluar masuk beberapa pintu tol. Bagaimana dengan biaya tol untuk jarak jauh? Tentunya lebih mahal. Bayangkan jika dalam sehari kita butuh masuk ke 5 pintu tol, berapa biaya yang harus dikeluarkan?

 
4. Harga sewa parkir yang mahal

Jepang negara minimalis yang irit tempat, bahkan untuk sarana parkir Jepang membuat sistem luar biasa dengan parkir bersusun ke atas atas parkir bawah tanah. Hal ini untuk efisensi luas lahan yang tidak besar. Jika dalam lahan mendatar hanya cukup menampung 10 mobil, maka jika dibangun bertingkat atau bawah tanah bisa menampung 100 mobil. Luar biasa canggih. Namun jangan senang dulu, ternyata biaya yang harus dikeluarkan untuk parkir mobil per jam di Jepang sangat mahal. Pengemudi kendaraan yang memarkir kendaraannya dikenakan biaya parkir sebesar 200 JPY per jam atau senilai dengan (22.200 IDR per jam). Bandingkan dengan Indonesia 3000 per jamm. Bahkan biaya parkir bulanan untuk sebuah apartemen terbilang fantastis yakni sebesar 20.000 JPY sampai 25.000 JPY, atau senilai 2.2 juta sampai 2.7 juta rupiah!


5. Sulitnya mendapatkan SIM di Jepang (Surat Izin Mengemudi)

Bagi sebagian warga masyarakat Jepang, ujian mendapatkan SIM merupakan momok yang menakutkan. Bagaimana tidak, banyak yang harus mengulang 7 hingga 10 kali dan biaya yang dikeluarkan untuk sekali pendaftaran SIM sangat fantastis. Ujian praktik SIM dilakukan langsung di jalan raya bersama dengan petugas penilai. Untuk mendapatkan SIM di Jepang butuh biaya besar. Bagi orang yang belum memiliki SIM sebelumnya harus menunjukkan sertifikat kelulusan dari tempat kursus mengemudi yang tarifnya 200.000 JPY – 300.000 JPY atau sekitar 22 juta sampai 33 juta. Sedangkan pendatang yang sudah punya SIM dari negara asal tetap harus ujian praktik dengan biaya 3000 JPY atau senilai 3.3 juta.. Bayangkan berapa biaya yang harus dikeluarkan jika tidak lulus ujian SIM dan harus mengulang sampai 10 kali? Tidak hanya itu, jika pengemudi sudah mendapatkan SIM dari pemerintah Jepang, maka ia akan sangat berhati-hati dan menghindari pelanggaran lalu lintas. Salah satu pelanggaran lalu lintas yakni menggunakan ponsel selama berkendara. Jika terjadi pelanggaran lalu lintas akan dikenakan denda cukup tinggi dan akan terecord dalam daftar riwayat SIM si pengguna mobil. Jika pengguna mobil sudah beberapa kali melanggar di riwayatnya, maka bisa berakibat dicabutnya SIM yang ia miliki, yang artinya untuk mendapatkanya kembali harus ujian SIM lagi dari awal dengan biaya yang super itu. 


6. Sarana transportasi umum massal yang baik dan lebih murah

Dari seluruh permasalahan dan kejadian di atas, dapat disimpulkan bahwa pemerintah Jepang membuat warganya malas untuk membeli mobil, dan poin terakhir inilah yang menjadi solusi dari masyarakat dan pemerintahan Jepang, yakni penggunaan sarana transportasi massal. Jepang membangun sarana transportasi umum seperti bus dan kereta dengan teratur, canggih, cepat, nyaman, informatif, tepat waktu dan lebih murah ketimbang menaiki kendaraan pribadi. Kereta akan datang tiap 2 sampai 3 menit sekali dan tepat waktu. Sekali lagi, tepat waktu. Dalam stasiun juga terdapat akses internet yang bisa kita gunakan untuk mencari informasi rute yang akan ditempuh selama perjalanan. Biaya yang diperlukan pun relatif lebih murah ketimbang menaiki kendaraan pribadi. Alhasil masyarakat Jepang beralih menggunakan sarana transportasi massal ini.

Indonesia menerapkan pajak yang mahal untuk kendaraan mobil mewah sedangkan untuk mobil tua tidak demikian. Bahkan negara tidak membatasi satu orang memiliki berapa banyak kendaraan. Untuk warga negara yang memiliki penghasilan besar bisa saja membeli 5 sampai 10 mobil karena merasa mampu juga untuk membeli dan membayar pajak. Hal ini hanya akan menambah pendapatan negara saja. Volume kendaraan semakin meningkat namun sara prasarana jalan raya juga tidak memadai. Rumitnya permasalahan macet di Indonesia sudah seperti benang kusut. Andai saja Indonesia menerapkan cara-cara seperti yang dilakukan Jepang, semoga saja Indonesia khususnya jakarta bisa terbebas dari macet.


Salam,
Noni Halimi

4 comments:

  1. tulisannya menarik mbak, tp mnrt saya ada bbrp hal yg perlu dikoreksi (mgkin jg salah ketik) :
    terutama point SIM bagi pendatang (orang asing). kalau 3000 yen (biaya test praktek) kisaran 300 ribu IDR (anggap 1yen=100 IDR), tidak sampai 3 juta IDR.
    Biaya parkir kalau di kota biasanya 200yen/20 mnt, 1 jam sekitar 600 yen
    Kalau di kota kecil, memang masih ada yg 300 yen utk sehari (di Midorino, dekat Tsukuba-shi, Ibaraki-ken, data th 2014)
    atau 500yen di dekat stasiun Tsukuba maupun di Okayama (tp perlu jalan kaki kira2 10 mnt)
    Biaya sewa parkir 20.000 yen/bulan mgkn di Tokyo ya, kalau di Tsukuba, Okayama, Osaka masih bisa kisaran 5000-10.000 yen/bulan, bahkan ada yg 7500 yen/bulan utk 2 kendaraan

    Di luar poin2 di atas, saya setuju dg tulisannya, semoga pemerintah Indonesia mau belajar dan masyrakatnya bersedia susah bbrp saat demi lalin yg lbh baik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih telah berkunjung dan terima kasih atas koreksinya. Wah lengkap banget :D Salam kenal Mbak / Mas :)

      Delete
    2. Tulisannya menarik dan saya langsung jadi tau..seharusnya pemerintah indonesia banyak belajar tentang negara lain kayak gini ni..indonesia kan macet harusnya dia belajar gimana negara lain bisa nanganinnya trus jadiin motivatif..harus banyak belajar ni pemerintahnya..

      Delete
    3. This comment has been removed by the author.

      Delete