Monday, June 20, 2016

Sahabat Sepanjang Masa

Waktu sama SMA saya memiliki sahabat dekat, sebut saja Putro/Puput (panggilan di sekolah sih Budi) dan Avi atau Ampi )ini cewe yaaah). Kami dekat karena berada dalam satu kelas yang sama, organisasi yang sama, dan mungkin jalan pikiran dan kekonyolan yang sama. Kami berada dalam kelas XI Alam 5, entah ide dari mana ditunjuklah secara aklamasi Putro sebagai Ketua Kelas, saya sebagai Sekretaris dan Ampi Bendahara (atau Sekretaris 2 kok saya jadi lupaaa 😂). Kelas dipimpin oleh orang-orang macam kami ditengarai hasilnya akan zuper sekaliiih. Kami juga berada dalam satu organisasi yang sama, Rohani Islam atau biasa disihgkat Rohis. Namun jangan salah sangka, di sana kami malah jadi tim hore lebih ke arah rusuh ketimbang kalem khas Aktivis Dakwah Sekolah (ADS)

Bagaimana tidak, kalau ada yang ngomong bijak dikit kami spontan bilang "Cieeeee.." Saya dan Ampi kalau ngomong udah kayak toa upacara, kuenceng abis, dan Putro ga beda jauh.  Rapat (atau biasa kami menyebutnya Syuro) selalu kacau kalau ada kami. Tapi terkadang juga karena ide konyol kami yang spontan malah sering jadi solusi dan alternatif solusi dalam setiap rapat (pede gilaaaaakkk). Bukan hanya itu, kami malah suka cekikikan kalau rapat tanpa hijab (pembatas laki laki dan perempuan). Kalau ada hijab terus diem? Enggak juga, saya dan Ampi malah suka iseng ngintip dari balik hijab.

Pernah suatu ketika juga, another awkward Syuro, saya lupa itu rapat acara apa, biasanya kami rapat di Masjid sekolah, namun ini dilakukan di dalam kelas seusai jam pelajaran sekolah. Yess ga ada hijab penutup berarti. Hanya terpisah tempat duduk saja, baris kiri untuk laki laki dan kanan untuk perempuan. Dan tebak kami bertiga di sebelah mana? Belakang? Iya, di belakang, tapi posisinya di meja tengah. Gak sebaris sama ikhwan ga sebaris sama akhwat. Rekan-rekan satu angkatan kami untungnya sih asik semua, jadi udah paham juga kelakuan kami.

Syuro makin panjang, akhirnya Putro keluar kelas, saya dan Ampi pun menyusul. Ngapain? Ngaji di luar kelas? Bukan.. Kami malah maen kejar-kejaran di koridor sambil lempar-lemparan sepatu. Ketauan Ketua Rohis langsung di sidang kali nih 😂 Ahh tapi nggak juga, Senior kami baik ikhwan dan akhwat sudah angkat tangan dan mahfum atas kelakuan dan pertemanan kami bertiga. Jadi mereka sudah biasa juga.

Kami sering berkegiatan Rohis bareng terutama kepaniatiaan. Terlebih jaman kelas 2 merupakan jamannya menjadi pengurus bukan. Salah satu moment kepanitiaan yang tidak saya lupakan sampai sekarang, yakni acara di sekolah, kalau tidak salah dalam rangka memperingati Maulid Nabi. Rohis akan mengadakan acara dengan panggung di lapangan basket, tim pengisi acara, dekorasi dan semuanya dihandle oleh Rohis. Saya kebagian dekorasi, jaman dulu jadul abis, beneran manual hias pakai styrofoam dan karton warna warni untuk membentuk tulisan dan hiasan. H-1 sebelum acara, para ikhwan sepakat untuk menginap mempersiapkan panggung dan dekorasi. Saya dan Ampi ikut membantu, bedanya akhwat yang lain selesai sampai sore, tapi kami? Lanjut sampe nginep di sekolah 😂😂😂

Rumah Ampi sangat dekat dari sekolah, hanya perlu jalan kaki beberapa ratus meter saja. Karena mudah dijangkau jadi kalau ada perlu apa-apa pasti ke rumah Ampi, termasuk numpang mandi dan kalau ada acara sekolah saya suka menginap di rumah Ampi. Nah, demikian halnya dengan acara Maulid Nabi tersebut. Ampi dan saya pulang ke rumah untuk berganti pakaian, kemudian kembali lagi ke sekolah selepas maghrib untuk membantu dekorasi. Kami tidak hanya berdua tapi banyak juga rekan-rekan ikhwan yang membantu, mereka memang akan menginap (di panggung?), termasuk juga ada Putro di sana.

Kami mulai dekor di atas panggung, dari semangat sampai lelah karena jatoh terus tempelannya, emang masih amatir, pluss lapar sudah malem tapi belum juga makan malam. Alhasil kami istirahat di atas panggung sambil duduk duduk bahkan gegoleran sambil main game plus bercanda. Tak lama rekan kami nyeletuk, hampir tengah malam, "nyari nasi goreng yuk!!" Sontak setuju semua, saya dan Ampi juga mau ikutan beliiii.. Tapi ga boleh ke luar sekolah sama rekan-rekan ikhwan, katanya bahaya, jadilah kami menunggu itu nasgor dianter sama ikhwan-ikhwan. Iiikkhh so sweet bgt baru kali ini, biasanya kelakuan koplak semua, ternyata mereka bisa sweet juga. Bukan apa-apa, area Bulungan kalau sudah tengah malem suka banyak bencis katanya keliling. Serem khan.

Setelah makan kenyang, kami menyerahkan piring kosong untuk diantar lagi sama ikhwan-ikhwan ke abang nasgor di depan gerbang. Enaknyaaa. Perut kenyang jadi ngantuk, biar ga ngantuk malah ngobrol. Seringnya sih bercanda, karena malam itu juga rekan-rekan ikhwan termasuk Putro akan tampil sebagai tim Nasyid Ala-ala yang akan membawakan sebuah lagu di panggung esok hari. Saya lupa judulnya apa. Yang jelas kami ga berhenti tertawa menyaksikan mereka latihan semalaman. Kami memang berencana untuk begadang di sekolah jadi sengaja tidak pulang ke rumah Ampi. Niat abiiss.. Menjelang Shubuh beberapa ikhwan banyak yang terkapar di sepanjang panggung karena lelah, saya dan Ampi juga udh setengah teler abis. Selepas Shubuh kami berdua pulang ke rumah Ampi, untuk mandi dan bersiap ganti seragam sekolah. Bagaimana dengan ikhwan-ikhwan tadi? Mereka sih pada mandi di sekolah. 

Pada saat acara ceramah maulid, ramai sekali murid yang ikut, saya dan Ampi berasa zombie ngantuk abis, dan memilih duduk di belakang, luar barisan jamaah. Sesekali tertidur sambil duduk. Pas ditanya temen akhwat satu angkatan, gimana kemarin? Kami bilang, kami berdua begadang semalem di sekolah. Hapaahh??? Mereka kaget dan kami cuma cengengesan. Yang penting suksess acaranya, kemudian kami lanjut tidur di pojokan. Aaahhhh~ Oiya, bagaimana dengan Putro, dia dan ikhwan ikhwan tampil jadi Tim Nasyid ala-ala yang semalem sudah saya lihat latihannya itu. 

Saya bertiga sering belajar kelompok bareng, base camp kami di rumah Ampi. Biasanya kalau mau ujian, pulang sekolah saya dan Putro mampir ke rumah Ampi buat belajar bareng. Ibu (ibunya Ampi) biasanya menyediakan cemilan super banyak, harusnya buat nemenin belajar, ehh emang dasar kita bertiga gengges banget, itu cemilan dipake untuk nemenin kita ngobrol, malah kadang buat nemenin kita nonton pilem sambil tidur-tiduran. Ya Salaaamm.. Dan Ibu tiba2 teriak dari kamar sebelah, "Heeehhh pada belajar! Jangan ngobrol melulu, Avii..Nonii..Budiii" dengan suara khas Guru (maklum Ibunya Ampi memang seorang Guru). Sekarang kalo diinget-inget jadi kangen diocehin sama Ibu kalau kita lagi pada ngobrol bukannya belajar.

Kami berbagi sesuai bidang masing-masing yang kami minati dan kuasai. Kalau Matematika, Putro yang ngajarin. Biologi saya, sedangkan Kimia Ampi. Sisanya pasrah pada Ilahi, ga ada yang ngajarin soalnnya. Hehe. Saking kami sering bareng, kami membuat nama NBA70 dengan logo bola basket, dengan singkatan Noni-Budi-Avi-SMA70 atau IPA70 singkatan Iyun-Puput-Ampi-SMA70. Hehehhe. Bahkan kami punya hari jadi NBA70 lho, tanggal 28 Oktober 2005. Memang ada yang spesial tanggal tersebut? Buat kami sih ga ada kejadian spesial tahun itu, tapi tanggal 28 Oktober 1928 ada Sumpah Pemuda, dan itu bersejarah. Ga ada hubungannya sama kami sih, tapi karena kami pemuda supaya semangat juang, makanya kami ambil tanggal itu. Barangkali muncul di ujian, kami sudah hafal (ya kaliiii).

Bukan cuma di sekolah, kami juga suka main bareng ke tempat lainnya. Ragunan misalnya (kaya ga ada tempat lain), satu lagi yang saya ingat ke Planetarium. Moment kocak kami bertiga yang sulit dilupakan. Pasalnya tanggal 17 Juli 2005, selepas kami bertiga selesai menonton bintang di Planetarium, Putro berniat untuk menyatakan perasannya ke saya. Dan bodoh bin super sekaliih, sebelum pulang kita shalat Ashar, Putro menitipkan HPnya kepada saya. Entah kepencet apa, tiba-tiba muncul aplikasi notes yang setelah saya baca sekilas.... ternyata isinya teks pernyataan perasaan yang nantinya akan disampaikan ke saya. Buseeeett.. Udah kayak teks proklamasi kemerdekaan segala ditulis di notes. 

Panik baca sesuatu yang seharusnya ga saya lihat, buru-buru saya balikin. Pas pulang menunggu angkutan umum, Putro bilang siiis persisss kayak di notes yang saya sempat baca. Pengen ngakak tapi ga bisa malah sebaliknya. Kalau sekarang diingat-ingat aneh bin ajaib. Belum lagi, momen kelas 3 kami berpisah kelas. Agak berjauhan. Ampi IPA 2, saya IPA 4 dan Putro IPA 7. Kami sempat vakum bareng karena salah paham, namun bisa diselesaikan, namanya juga sahabatan ada aja asem garemnya. Sampai momen BTA70 (Bimbingan Terpadu Alumni) dan aktivitas belajar yang super pusying demi tercapainya impian kami bertiga untuk bisa kuliah di Universitas Indonesia.

Setelah jungkir balik baca buku sana sini, awut-awutan ngerjain soal ini itu, mata bengkak karena nonton dorama Jepang (kirain karena begadang belajar? Yeee bukan, capek ah belajar mulu). Akhirnya sampailah pengumuman SPMB kami bertiga Alhamdulillah lolos UI. Saya masuk Fakultas Hukum, Ampi masuk Fakultas Ilmu Budaya jurusan Sastra Indonesia, dan Putro masuk Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam jurusan Matematika. Sujud syukur seneng banget kami bertiga lolos semua.

Persahabatan kami belanjut sampai akhirnya jeng jeng saya dan Putro baru bilang kalau saya dan Putro saling tertarik. Ngoceh lah Ampi kenapa baru bilang saat itu (lupa tahun berapa kayaknya sih 2008), padahal kejadiannya sudah tahun 2005 yang lalu. Ampi sih sudah tahu, tapi menunggu kami yang menyampaikan. Hihi maaf ya Ampi, dulu rasanya banyak sekali pertimbangan yang kami berdua pikirkan. Untungnya Ampi toh ga masalah. 

Saat kuliah, saya bertiga juga sempat jalan-jalan ke luar kota, adalah sebuah misi saat itu. Kalau diingat, mungkin jadi kenangan seru. Namun selebihnya kami komunikasi hanya via chat, jarang kesana kemari bareng, tinggal saya dan Putro saja. Namun demikian, bukan berarti selesai, sampai sekarang masih dekat kok. Mereka berdua sahabat sepanjang masa yang saya miliki sampai kapan pun.

Sekarang, sahabat saya yg bernama Putro tadi sudah menjadi suami saya dan Bapak dari anak kami. Setelah proses panjang penuh drama suka duka dan ujian, akhirnya kami berdua ditakdirkan menikah. Acara pernikahan saya sangat banyak dibantu oleh Ampi, sungguh tertolong sekali. Nggak sabar rasanya saya dan Putro membantu acara pernikahan Ampi kelak. Soon. Kami tunggu yah mpi 😘

Dua orang di atas saksi perjalanan hidup saya, saksi perubahan saya dari ABG menjadi sosok yang lebih dewasa, mereka berdua yang jauh mengenal saya, kisah hidup dan kisah kasih saya, semua. Tanpa mereka saya bukanlah saya yang sekarang mengetik semua ini. Terima kasih, sahabat sepanjang masa. *lap ingus *taro mic *nyari waslap umar sebelum nangis *berasa abis pidato award.

-Noni Halimi-

No comments:

Post a Comment