Showing posts with label kuala lumpur. Show all posts
Showing posts with label kuala lumpur. Show all posts

Monday, January 11, 2016

Peta LRT KTM Komuter Monorail KLIA Kuala Lumpur, Malaysia

Malaysia memiliki banyak sekali moda transportasi yang saling terintegrasi. Mulai dari kereta, di Kuala Lumpur punya beragam jenisnya. Ada kereta berjenis LRT, Komuter, KLIA Transit, KLIA Ekspress, dan Monorail. Begitu juga dengan berbagai macam bus dan taxi, semua terintegrasi di terminal besar yang bernama KL Sentral.

Bagi yang masih bingung peta moda transportasi di Kuala Lumpur, boleh di save gambar di bawah ini. insya Allah ga bakal nyasar yaa :)

Source : www.wonderfulmalaysia.com


Peta LRT Monorail KTM KLIA Ekspress, KLIA Transit Kuala Lumpur

Thursday, July 23, 2015

Review Tune Hotel Downtown KL, Malaysia


KELEBIHAN (+) :
1. Harga terjangkau, untuk 1 kamar twin berkisar 75 MYR atau 300.000 IDR
2. Fasilitas lift sehingga tidak perlu naik turun tangga
3. Kamar mandi di dalam
4. Air panas 24 jam
5. Akses wifi gratis 24 jam
6. Kualitas kamar hotel, kasur nyaman, kamar bersih
7. Ada petugas yang membersihkan kamar setiap hari
8. Tersedia ruang penyimpanan bagasi
9.  Ada kulkas kecil di dalam kamar
10. Dipinjamkan handuk per orang, kalau kotor bisa langsung diganti
11. Petugas ramah dan fasih berbahasa inggris serta bisa dimintai informasi mengenai tempat wisata.
12. Bisa memesan berbarengan dengan tiket pesawat Air Asia, biasanyakl malah banyak promo jika booking jauh-jauh hari.
13. Ada fasilitas seterika dan laundry
14. Aman dilengkapi dengan CCTV
15. Ada fasilitas ATM
16. Jumlah kamar yang banyak yakni terdiri dari 27 kamar twin, 184 kamar double dan 64 kamar single.
KEKURANGAN (-) :
1. Lokasi yang tidak dekat dari stasiun LRT, namun dekat dengan stasiun Monorail. Walaupun dekat dengan akses transportasi kereta, namun jalur monorail agak ribet dan hanya sedikit armadanya. Lebih baik cari yang dekat stasiun LRT, armada lebih banyak dan aksesnya lebih mudah.
2. Pembayaran dilakukan sebelum check in, apabila dadakan ada pembatalan maka uang tidak bisa direfund
3. Jika check in sebelum pukul 14.00 maka akan dikenakan biaya tambahan berupa early check in yang dibayarkan tunai saat check in.

---------------------
Tune Hotel
Downtown KL
Location : 316 Jalan Tuanku Abdul Rahman, 
50100 Kuala Lumpur, Malaysia.
Access : Monorail Medan Tuanku
Website : www.tunehotels.com 

Lobi Tune Hotel
Lobi Tune Hotel
Kamar Single
Double Room
Penampakan Tune Hotel Downtown KL

Review Submarine Guest House Kuala Lumpur, Malaysia

KELEBIHAN (+)
1. Harganya super murah dan sangat terjangkau
2. Lokasi strategis dekat Pasar Seni dan Petaling Street, akses LRT Pasar Seni
3. Air panas 24jam
4. Akses wifi gratis
5. Aman, karena masih di area jalan besar
6. Dekat dengan lokasi wisata
7. Sarapan gratis
8. Petugas ramah dan fasih berbahasa inggris
9. Hostel dilengkapi dengan fasilitas cctv
10. Cukup bersih dan nyaman
11. Kasur twin dengan ukuran yang cukup
12. Dapat blanket
13. Bayar ditempat secara tunai

KEKURANGAN (-)
1. Lokasi hostel ada di dalam ruko yang berada di lantai 2. Agak repit angkut-angkut koper
2. Suasananya super sunyi, jadi lumayan berbisik-bisik kalau mau mengobrol dengan travelmate terutama jika sudah malam

--------
Submarine Guest House
Website : http://www.submarinehotels.com/
Booking : 
Location : Central Market 2
Jalan Hang Kasturi, Kuala Lumpur, Malaysia
Access : LRT Pasar Seni
Pict Source : Google
Pintu depan
Ruang tunggu dan ruang santai
Kamar mandi
Kamar tidur

Wednesday, July 22, 2015

Review Back Home Kuala Lumpur, Malaysia


Back Home merupakan salah satu tempat menginap yang low budget di Kuala Lumpur. Harganya yang cukup terjangkau tidak menjadikan hostel ini kalah saing dari segi fasilitas dan lokasi. Hostel ini berlokasi yang cukup strategis yakni 30, Jalan Tun H S Lee, 50100 Kuala Lumpur, Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur, Malaysia, Telp.+60 3-2022 0788. Lokasinya dekat dengan stasiun LRT Masjid Jamek, hanya berjalan kaki berapa ratus meter dan sampailah di sepanjang jalan bertuliskan Back Home. Akses penginapan yang dekat dengan LRT sangat menguntungkan dan jadi pertimbangan di Kuala Lumpur, Malaysia. Pasalnya, kamu akan banyak berkeliling tempat wisata menggunakan moda transportasi umum seperti LRT atau bus kota. Jika akses penginapan sulit untuk ditempuh jalur LRT atau bus kota, maka kamu akan banyak membuang tenaga dan efisiensi waktu. Maka carilah hostel yang dekat dengan akses transportasi.

Pada Maret 2015 silam kebetulan saya menginap di Back Home Hostel. Harga kamarnya 120 MYR per malam untuk double bed atau senilai 456.000 IDR (kurs 3800 IDR) untuk dua orang. Sebenarnya masih ada yang harganya hampir sama dengan Back Home, namun saya mencoba memilih Back Home, lumayan nyobain hostel yang berbeda-beda. Harganya cukup worth it, sebanding dengan apa yang kamu dapat. Lokasi strategis, kamar yang cukup luas, suasana yang cozy dan homy sekali, sarapan gratis, ada tempat penitipan barang, kamar mandi yang bersih. Semuanya sudah cukup menjadi dasar penilaian hostel tersebut cukup baik. Tak lupa melihat review dan rating yang diberikan di trip advisor, maka kamu akan semakin yakin memilih hostel ini.

Back Home mempersilahkan kepada customer yang ingin early check in tanpa mengenakan biaya tambahan apa pun. Saya memesan kamar menggunakan situs booking.com, sengaja cari yang gratisan, jadi booking bisa kapan saja, cancel jg tanpa biaya, dan pembayaran dilakukan 100 persen di tempat. Akses internet wifi ada dan ruang browsing untuk santai cukup luas dan nyaman. Kamu tidak perlu khawatir kesulitan googling atau update status karena akses wifi 24 jam. Kamu hanya perlu tanyakan password wifi ketika kamu check in di receptionist. Kamar mandi memang sharing (bersama-sama), namun jumlah pintu cukup banyak dan terpisah antara kamar mandi wanita dan pria. Sarapan dibuka pada pukul 07.00 pagi dengan menu roti, selai berbagai rasa, margarin, gula, kopi, teh, susu sampai sereal. Semuanya self service, alias kamu ambil sendiri makanan dan minuman yang kamu mau. Tersedia juga pemanggang roti jika kamu ingin roti panggang, dan tersedian juga coffee maker jika kamu ingin membuat kopi. Sarapan ini unlimited, tidak dibatasi jumlahnya, sehingga kami bisa membawa kota makan dan mengisinya dengan roti untuk persiapan bekal di perjalanan. Namanya juga pengiritan hehehehe. 

Banyak review dan komentar yang bisa kamu dapatkan di situs Back Home http://backhome.com.my/ atau Trip Advisor. Untuk rating Back Home dari saya bisa berikan 8 of 10 lah, not bad :D

picture source : blog.theholidaze.com

Spore - KL Trip Day 2 (KL Sentral - Batu Caves - Masjid Jamek - Pasar Seni - Back Home - Petaling Street - Raja Alang - KLCC)

Selamat pagi Kuala Lumpur, Malaysia.

Pukul 06.50 kami sudah mendarat dengan selamat di stasiun pemberhentian KTMB KL Sentral. Kami segera menurunkan koper, bergegas keluar dan langsung mencari hall utama KL Sentral. Ini kali pertama saya menggunakan KTMB antar kota, sehingga kurang familiar dengan lokasinya. Namun segera saya rekam lokasinya sehingga kali kedua saya ke sana tidak bingung. Tidak sulit menemukan hall utama KL Sentral, kami hanya perlu naik ke lantai 1.
KL Sentral merupakan tempat bertemunya berbagai moda transportasi di Malaysia baik Kereta, Taxi, Bus. Ada  4 jenis transportasi berbasis rel di Kuala Lumpur: KL Monorail, LRT (light rapid transit), KTM Komuter, dan KLIA Ekspres / KLIA Transit. Keempatnya dikenal sebagai sebuah sistem bernama Klang Valley Integrated Rail Transit.

KL Sentral memiliki tempat penyimpanan barang atau loker yang berlokasi di lantai 1 dekat surau/musholla. Berjejer puluhan loker dengan berbagai ukuran dari ukuran kecil, sedang hingg besar. Cara pemesanan loker cukup mudah, kamu hanya perlu membeli koin/token di penjaga loker seharga 5 RM untuk sekali pakai. Cari saja loker yang masih kosong, masukan barang bawaan yang akan disimpan, tutup loker dan masukkan token. Setelah itu kunci dan kamu boleh meninggalkan loker tersebut. Saran saya, foto lokasi loker untuk memudahkan mengingat lokasi ketika kamu sudah kembali dan berniat mengambil barang.

Di Malaysia saya tidak membeli kartu touris pass, saya selalu menggunakan uang receh untuk pembelian token secara harian di mesin pemesanan tiket. KTM Komuter berada di platform 3, ikuti saja petunjuk jalan yang mengarahkan ke kereta komuter. Tujuan kami adalah membeli tiket KTM Komuter Batu Caves seharga 2 RM per orang. 

Kereta berangkat pukul 08.30 dengan kondisi masih kosong plong segar bugar, kami yang belum mandi hanya bekal cuci muka sikat gigi di toilet KL Sentral jadi ikutan segar. Sampai di Batu Caves jam 09.00, kami masuk melalui pintu samping Batu Caves yang letaknya persis di depan stasiun KTM Batu Caves. Udara masih dingin sangat cocok untuk mendaki ratusan anak tangga ke atas Batu Caves, memang paling cocok ke sini pagi atau sore hari ketika matahari tidak menyengat. Setelah puas naik ke ujung atas dan kembali turun, kami menghabiskan waktu sampai jam 09.30. Singkat? Iyalah ngapain lama-lama di sana, yang penting cukup foto dan mendaki anak tangga sampai habis :D. Kami kembali ke stasiun pukul 09.45 untuk beli tiket KL sentral 2 RM masuk dr platform 1 jurusan Pelabuhan Klang menuju LRT Masjid Jamek.

Sampai di pintu keluar LRT Pasar Masjid Jamek, berhubung laparnya luar biasa, kami baru sempat sarapan roti, maka saatnya untuk membeli gorengan tusuk khas Kuala Lumpur yang banyak di jual di pinggir jalan. Harganya 1 RM sampai 1.2 RM per tusuk. Jenis gorengan satenya macam-macam, ada baso, sausage besar, sosis kecil, otak-otak, nuggets, udang galah, dan lain sebagainya. Gorengan tusuk itu dimakan bersama dengan saus atau chilli. Nyaaamm.

Lepas makan cemilan tadi, kami bergegas ke restoran Sahira untuk sarapan menjelang makan siang yang agak berat. Saya memesan Nasi Lemak Ayam dan suami saya memesan nasi briyani ayam. Restoran orang Malaysia ini sebelas dua belas dengan restoran India maupun Arab, porsinya buanyak bener. Rasa nasi lemaknya sangat enaaaak, ini termasuk nasi lemak yang terenak selama saya mencoba ke Kuala Lumpur. Kalau nasi briyani masih lebih enak milik Singapore Zam-Zam. Over all, lumayan banget makan di sini, harganya pun terjangkau. Kami sengaja tidak memesan minum karena masih memiliki air mineral. Kami juga berencana membeli ais sirap (es sirop) warna warni yang mejeng di tempat jualan gorengan tusuk tadi. Ada rasa melon, jeruk, mangga, milo, lobak dan lain sebagainya. Kami pesan ais sirap melon warna hijau yang rasanya menggiurkan seharga 2 RM saja.

Dari LRT Masjd Jamek menuju Pasar Seni cukup dekat jaraknya, hanya dengan berjalan kaki berapa ratus meter kamu sudah akan sampai di belakang Kasturi Walk Pasar Seni. Kami hanya melihat-lihat sebentar karena memang tidak berniat belanja di sana hehehe. Memang di Pasar Seni banyak menjual berbagai kerajinan tangan khas Malaysia dan cinderamata Malaysia, namun harganya tidak cukup bersahabat untuk traveler kere macem kami, saya lebih tertarik membeli souvenir di Petaling Street yang bentuknya emperan pasar dan menjunjung tinggi tawar menawar harga (emak-emak banget). Boleeeeh laaa..

Setelah puas dan lelah keliling Pasar Seni dan lupa foto-foto, kami menuju penginapan Back Home Kuala Lumpur untuk meletakan barang bawaan dan beristirahat sejenak. Dari Pasar Seni kami berjalan kaki menuju Back Home Kuala Lumpur. Lokasinya tidak jauh dari Stesen LRT Masjid Jamek, kamu hanya ikuti jalan searah dengan Mesjid Jamek, kemudian di perempatan  belok kiri. Alamat Back Home Kuala Lumpur Jalan Tun H S Lee, 50100 Kuala Lumpur, Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur, Malaysia. Hostel ini ada di pinggir jalan dan sangat eye catching tulisannya sehingga mudah untuk ditemukan. Setelah check in dan meletakan barang bawaan, kami terkapar beristirahat beberapa jam.

Sore hari lepas mandi dan berberes kamar, kami langsung menuju ke Petaling Street. Pasar ini merupakan pasar tempat jual beli souvenir, buah, makanan, tas, dompet dan berbagai macam barang dagangan dengan harga yang cukup murah. Pasar ini memang baru buka menjelang sore, sehingga apabila kamu ingin berbelanja maka waktu terbaik adalah sore hari atau malam hari. Menjelang malam di Petaling Street juga banyak yang membuka restoran makanan pinggir jalan yang menyajikan berbagai jenis makanan Malaysia. Saya belum pernah sih mencoba makan di Petaling Street, karena ini kampong China sehingga banyak makanan tidak halal, sehingga saya tidak pernah memutuskan untuk makan di Petaling. Saya menemukan timbangan koper lucu seharga 18 RM di Petaling. Lumayan murah setelah nego harga dari 20 RM ke 18 RM :D

Dari Petaling Street ke Pasar Seni sangat dekat, kamu hanya perlu berjalan kaki menyusuri depan Petaling Street, dan sampailah di Pasar Seni dan Stesen LRT Pasar Seni. Tujuan kami selanjutnya adalah ke Stesen LRT Dang Wangi, kemudian menyebrang ke Monorail Bukit Nanas. Dari pintu keluar stesen Dang Wangi ada escalator di jalan raya untuk menyeberang ke arah monorail Bukit Nanas. Kami harus menyeberang, karena kereta yang akan kami naiki berbeda dengan laluan LRT. Harga tiket Monorail dari stesen Bukit Nanas ke stesen Medan Tuanku 1.2 RM per orang. Kami sampai di Medan Tuanku sekitar pukul 20.00.

Waktu yang pas untuk makan malam di Jalan Raja Alang. Di sana banyak restoran pinggir jalan yang menjual makanan lezat, tahun lalu saya ke sana saat bulan Ramadhan dan Jalan Raja Alang ini dipenuhi dengan jejeran tenda bazaar Ramadhan menjelang berbuka puasa. Luar biasa. Saya berencana makan di restoran Mazni. Dalam perjalan dari stesen Monorail Medan Tuanku ke Raja Alang, kami melewati Tune Hotel Down Town KL, tempat saya dan keluarga saya menginap saat Ramadhan ke KL. Saya dapat pesan dari Bapak Ibu saya untuk membeli cokelat Arab yang berukuran 2 kg per kemasan seharga 40 RM di swalayan Arab. Berjajaran dengan Tune Hotel memang banyak sekali swalayan Arab yang menjual cokelat. Lepas beli cokelat kami berjalan lurus menuju Jalan Raja Alang.

Sesampainya di Mazni restoran, kami langsung memesan Tom Yam Sotong 6 RM dan Tom Yam campur 5 RM lengkap dengan teh tariknya. Total makan malam kami sebanyak 14.5 RM. Lumayan bersahabat di kantong.  Tom Yam Mazni memang terkenal gurihnya, walapun fotonya kurang menggiurkan efek kamera, percayalah rasanya super dan wajib di coba.

Kenyang dengan tom yam hangat di malam hari, kami melanjutkan perjalanan ke Stesen Chow Kit yang lokasinya tidak jauh dari Jalan Raja Alang. Dari Chow Kit kami kembali ke monorail Bukit Nanas seharaga 1.3 RM dan menyebrang ke LRT Dang Wangi untuk menuju ke LRT KLCC sebesar 1 RM. Ada apa di KLCC? Apalagi kalau bukan Twin Tower Petronas, kami ingin mengambil foto malam hari. Keluar dari LRT KLCC ambil kea rah Ampang, dari sana akan langsung tembus ke Jalan Ampang yang berlokasi persis di depan Suriah KLCC. Untuk menuju Twin Tower dari Suriah KLCC cukup mudah, kamu hanya masuk ke Suriah KLCC dan ikuti petujuk jalan kea rah belakang gedung dan sampailah di taman Twin Tower Petronas dengan air mancur dan taburan lampu hias warna. Di situlah spor terbaik untuk mengambil gambar twin tower secara utuh. Kami menghabiskan waktu di petronas hingga pukul 22.00 kemudian dilanjutkan untuk kembali ke hostel Back Home.

Kami pulang pukul 22.00 dari stesen LRT KLCC ke LRT Masjid Jamek dengan biaya 1.3 RM per orang. Perjalanan yang cukup melelahkan untuk hari ini. Saatnya beristirahat dan mempersiapkan untuk perjalanan esok pagi.

Spore - KL Trip Day 1 (Preparation)

Hello!!

Sebenarnya ini adalah perjalanan pertama kami traveling ke luar negeri dengan status baru sebagai suami istri. Emang sebelum nikah sudah pernah? Belum pernah juga sih :P

Berawal dari kelakuan calon istri alias saya sendiri, yang lagi iseng buka website maskapai favorit, www.airasia.com sekitar Agustus 2014. Dan voilaaa saya menemukan destinasi Jakarta-Singapura-Jakarta dengan harga tiket keberangkatan 99.000 IDR dan kepulangan 189.000 IDR. Dengan grasak grusuk mata berbinar lihat harga yang lumayan oke, saya langsung berinisiatif whatsapp calon suami saya untuk membeli tiket tersebut. Dan calon suami saya cuma pasrah :D

Well, saya berdua saat itu belum menentukan tanggal pernikahan, boro-boro deh, masih nunggu persetujuan dari bapak boleh nikah apa nggak :p Tapi kami hanya memperkirakan kemungkinan pertengahan Maret insya Allah kami sudah menikah, jadi tiket tersebut bisa jadi destinasi honeymoon kami. Dengan modal dengkul dan pedenya masya Allah, saya langsung pesan 2 tiket PP Jakarta-Singapura-Jakarta untuk tanggal 18 Maret 2015 - 22 Maret 2015. Nothing to lose. Traveler nekat emang begini sih, kalau nanti kami belum nikah bulan Maret yaa hangus sudah tiketnya. Makanya kami harus usaha Maret sudah menikah *motivasi *ngaco

Beriringan Bismillah dag dig dug akhirnya saya pesan tiket untuk perjalanan awal 2015 disponsori oleh Hasanah Card BNI Syariah dan Air Asia, can't wait Singapore!! Alhamdulillah yaaa memang sudah takdir kami menikah 15 Februari 2015, Jadi tiket yang saya beli tidak sia siaaaaaa, yatta!!

Perjalanan kami memang ke Singapura, tapi waktunya terlalu lama untuk eksplore Singapura selama 5 hari, terlebih kurs Dollar Singapura melejit gilaaaa mahalnya. Bisa kere mendadak saya kalo kelamaan di Singapura berdua suami. Akhirnya saya berinisiatif untuk membagi perjalanan ke negara tetangganya lagi yang lebih bersahabat hidupnya, yakni Malaysia. Kami berencana menyebrang ke Malaysia menggunakan kereta KTMB (Keretapi Tanah Melayu Berhad/ Malayan Railway) Malaysia. Tata cara pembelian tiket sudah saya posting di thread lain ya.

Segala persiapan pernikahan dan kehidupan awal pernikahan membuat waktu tidak terasa tiba-tiba sudah sampai tanggal 18 Maret 2015, saatnya refreshing bersama suami (baru).

Perjalanan kami dimulai dari rumah menuju Bandara Internasional Soekarno Hatta terminal 3, kami sampai pukul 13.00 siang menunggu take off pukul 14.30. Kami langsung menuju mesin self check in penerbangan Air Asia. Awalnya saya ingin check in penerbangan untuk berangkat dan pulang, tapi ternyata self check in sekarang hanya bisa untuk sekali terbang yaaa..baru tahu saya, soalnya biasanya bisa PP. Akhirnya saya hanya check in untuk berangkat deh..

Lepas itu, saya langsung menuju ke boarding room dan imigration untuk stempel keluar Indonesia di paspor kami. Seperti biasa suami saya emang sotoy luar biasa, udah saya bilangin ga boleh bawa minuman ke boarding room tapi kekeuh mau bawa. Alhasil sih ga jadi bawa, terus saya kasih lihat hasil sitaan minuman orang-orang yang berjejer di security system boarding room. Ngeyel yel. Suami saya cuma nyengir. Jangan lupa untuk shalat Dzuhur dan Ashar dengan menjamak di musholla boarding room Air Asia, dan tibalah panggilan keberangkatan pesawat kami. Sampai jumpa di Singapura :) -Noni Halimi
 
 

Sunday, August 3, 2014

Ke mana Stesen Dang Wangi

Hari kedua kami di Kuala Lumpur, saya berniat mengajak adik-adik saya ke KLCC Twin Tower. KLCC (Kuala Lumpur Convention Center) Twin Tower adalah landmark dua buah menara kembar yang merupakan icon kota Kuala Lumpur, Malaysia. Hari itu ternyata salah seorang kolega Bapak berkunjung ke Tune Hotel tempat kami menginap dan mengajak silaturahim ke kantornya. Berhubung saya dan adik-adik tetap ingin pergi ke KLCC, maka kami tidak ikut Bapak dan Ibu. Saya dan adik-adik pergi ke KLCC dengan menggunakan kereta.

Stesen adalah sebutan Stasiun bagi orang Malaysia. Stesen kereta terdekat dari Tune Hotel tempat kami menginap adalah Monorail Medan Tuanku. Kita cukup berjalan ke arah timur, ikuti saja jalurnya monorail. Jaraknya hanya 200 meter saja. Dekat bukan? Namun untuk menuju ke KLCC, kita tidak bisa menggunakan Monorail, melainkan LRT. Jika kami menaiki jenis monorail, maka kami harus turun di monorail stesen Bukit Nanas, dan berjalan ke arah KLCC. Sedangkan jika kami menaiki jenis LRT, maka kami turun persis di stesen KLCC dan akan keluar tepat di Twin Tower. Adik saya tak sabar menaiki monorail yang keretanya berada di jalan layang dengan satu rel. Saya beritahukan bahwa kita akan naik monorail saat pulang saja, bukan saat berangkat.

Stesen LRT terdekat dari Tune Hotel adalah Stesen Dang Wangi. Jika dilihat dari peta sih tidak terlalu dekat, butuh berjalan kaki cukup jauh, apalagi tengah hari puasa-puasa hehehe. Namun berhubung adik-adik saya penasaran ingin menaiki kereta Malaysia, maka semangat saja. Paling adik saya yang bungsu bertanya, "masih jauh ya, Yun?" Heheee

Perjalanan menyusuri stesen Dang Wangi dari Tune Hotel cukup mudah, ikuti saja petunjuk jalan. Kamu hanya berjalan ke arah selatan, dan akan menemukan Sogo Departement Store. Daerah sini memang banyak pusat perbelanjaan, salah satunya Busana. Sampai di perempatan depan Sogo, belok kiri. Bersabarlah menyusuri jalan panjang itu, teruuuusss sampai ujung belokan ke kiri. Ikuti saja jalannya. Tidak jauh dari jalan itu, kamu akan menemukan eskalator Monorail Bukit Nanas yang menghubungkan ke seberang jalan. Tapi tunggu, tujuan kamu bukan Monorail Bukit Nanas, tapi LRT Dang Wangi. Tarik napas sejenak beristirahat di halte dekat eskalator, dan tengok ke kiri... Dan, Tadaaaa....Stesen Dang Wangi sudah di depan mata. Kita sudah sampai lho.

Stesen Dang Wangi
Mejeng Dulu
Masuklah ke dalam Stesen dengan menggunakan eskalator turun. LRT yang tersedia di Malaysia memang kebanyakan menggunakan rel bawah tanah, sehingga jika ingin menaiki kereta, maka harus masuk stesen dengan eskalator turun. Jika kamu tidak berniat buru-buru, maka berdirilah di sisi kiri eskalator, karena sisi kanan untuk mendahului. Jangan berdiri di kanan, kamu akan menghalangi orang belakang untuk mendahului. Setelah sampai ke dalam, pastikan kamu membeli tiket ya. Untuk membeli tiket/token, kamu hanya perlu mendatangi mesin pembelian tiket otomatis di depan pintu masuk. Jangan khawatir mengantri, mesinnya banyak kok.

Cara pembelian tiket di Stasiun Kereta Kuala Lumpur


Mesin pembelian tiket otomatis ini akan mengeluarkan token kereta berbentuk koin plastik berwarna biru. Cara pembeliannya, silakan kamu tekan pada layar touch screen English. Nanti akan muncul peta kereta Kuala Lumpur dengan berbagai jenis, dari LRT, Monorail, KLIA Express, KLIA Transit dan Commuter. Semuanya terintegrasi dan bersatu di Stesen KL Sentral. Pilih stesen tujuan kamu, tap pada peta di layar, jangan sampai salah tap ya, karena posisi gambarnya berdekatan. Cek lagi ketika sudah dipilih. Nanti akan muncul harga tiket untuk 1 token. Kamu bisa membeli lebih dari 1 token jika pergi berkelompok seperti saya. Caranya? Tekan saja tanda + nanti jumlah token dan harga total token akan berubah.

Token Pembelian Tiket LRT
Setelah selesai, waktunya pembayaran. Nah, untuk membayar harga tiket, kita hanya perlu memasukkan uang ke mesin. Ada untuk uang kertas dan ada untuk uang koin. Mesin ini hanya menerima pecahan uang kertas 1RM, 5RM, 10RM. Sedangkan untuk uang koin, mesin ini bisa menerima pecahan 1 Sen, 2 Sen, 5 Sen, 10 Sen, 20 Sen, 50 Sen, dan 1RM. Jika harga tiketnya 1.6RM, maka artinya kamu membutuhkan 1RM dan 60 Sen. Jika kamu tidak memiliki uang 60 Sen, kamu bisa memasukan 2 lembar/koin 1 RM. Lalu sisa 40 sen kemana?? Tenaaaang...saat kamu masukkan 2 RM, mesin akan mengeluarkan token milik kamu di bagian bawah mesin (persis seperti mesin penjual minuman). Selang beberapa detik perhatikan layar mesin akan tertulis Pemulangan Baki, yang artinya mesin akan mengeluarkan kembalian kamu. Uang koin sen kembalian kamu akan keluar di tempat pengambilan token.

Pintu Masuk/Keluar
Setelah kamu mendapatkan token, berjalanlah ke pintu masuk, nanti akan ada pagar masuk stesen. Perhatikan tanda hijau atau merah. Jika bertanda hijau, maka kamu bisa masuk melalui pintu itu, jika merah maka pintu tersebut khusus pintu keluar. Letakan token biru pada sisi atas palang pintu, ada tempat khusus untuk tap token/card. Kamu cukup tap sekali saja sampai mesin membaca dan pintu terbuka. Lewatlah dengan tenang, tidak panik, dan tidak teburu-buru. Mukanya biasa saja, jangan pasang ekspresi berlebihan karena kamu berhasil melewati ini semuaaaa. Jakarta memang gak ada sih yang kayak gini, saya paham ekspresi itu (pernah juga soalnya) wakaakak.

Jika kamu telah masuk palang pintu, kamu tinggal berjalan menuju tempat pemberhentian kereta, biasanya ada eskalator turun. Ikuti saja petunjuk jalannya. Masukkan token biru ke dalam saku, jangan sampai hilang karena kamu membutuhkan token itu untuk keluar dari stesen. Jalur keretanya ada dua lho, kiri dan kanan, perhatikan stesen tujuan kamu, jangan sampai kamu salah arah. Jika stesen kamu harusnya ke arah utara, jangan sampai kamu menaiki kereta yang ke selatan. Petunjuknya banyak dan jelas, kamu tidak perlu khawatir nyasar. Jika masih belum pede, tanya kepada orang sekitar, mereka dengan senang hati memberi tahu.

Ketika kereta datang, berdirilah di samping pintu masuk, jangan persis di depan pintu masuk. Bagian depan pintu masuk dipergunakan untuk penumpang yang akan turun. Peraturan di sana mendahulukan penumpang untuk turun, dan penumpang yang akan naik tidak diperbolehkan masuk sampai penumpang yang turun sudah selesai. Jadi tidak ada desak-desakan dan rebutan seperti Commuterline Jabodetabek milik kita. Semua teratur.

Kereta akan datang tiap beberapa menit sekali, paling tidak 1-2 menit sekali. Saking banyaknya kereta yang datang, hampir tidak pernah ada isi kereta sampai pepes tempe ala Commuterline Jabodetabek (maaf yaaa, lagi-lagi contohnya Indonesia hahaha). Kalau pun penuh ya masih tahap wajar, tidak berdesak-desakan. Ketika kereta berjalan, silakan menikmati pemandangan bawah tanah, apabila kereta sudah keluar dari bawah tanah, kamu bisa menikmati pemandangan luar kota Kuala Lumpur. Perhatikan notifikasi dari petugas mengenai stesen pemberhentian selanjutnya, atau kamu bisa memperhatikan petunjuk rute stesen kereta tersebut di bagian atas pintu.

Jika sudah sampai stesen tujuan, turunlah dengan beratur dan carilah pintu keluar. Token biru yang kamu simpan tadi silakan dikeluarkan, dan masukkan ke dalam lubang di palang pintu keluar. Jika di palang pintubmasuk bentuknya datar untuk sekedar tap/tempel token, jika di pintu keluar maka bentuknya seperti celengan. Masukkan token kamu ke celengan tersebut, dan pintu akan terbuka. Keluarlah dengan perlahan, dan saya ingatkan kembali, jangan tunjukkan ekspresi berlebihan :p

Bagaimana jika saya ingin transit berbeda jenis kereta?

Jika kamu ingin pergi ke stesen tujuan dengan jenis kereta yang sama dengan stesen kereta kamu, maka tidak akan bingung. Misal dari LRT Dang Wangi ke LRT KLCC. Maka tidak membutuhkan Transit Kereta. Namun bagaimana jika kamu berangkat dari LRT Dang Wangi dan ingin turun di Monorail Bukit Bintang? Nah kamu membutuhkan transit.

Apabila kamu ingin berganti jenis kereta, jangan khawatir, tetap pesan token sesuai stesen tujuan kamu, dan carilah stesen transit (interchange stesen). Turunlah di stesen transit, jangan keluar, tapi lanjut ke jenis kereta selanjutnya. Jangan masukkan token ke pintu, karena perjalanan kamu akan dianggap selesai pada saat kamu memasukkan token ke pintu keluar. Jadi selama kamu memegang token, kamu ingin transit di beberapa stesen, tidak masalah. Kamu boleh memasukkan token di pintu keluar saat akhir perjalanan kamu ya.

Suasana Jalan Dang Wangi
Sampai di KLCC saya menuju ke pintu keluar yg arah Suria KLCC. Suria adalah nama mall besar untuk kalangan atas, mungkin kalau di Jakarta seperti Plaza Indonesia. Banyak brand super mahal yang cuma bisa saya lihat saja dari etalase. Nggak berminat untuk beli dan nggak sanggup juga. Jadi biarlah menjadi hiburan mata saja. Setelah berjalan mengitari Suria KLCC, ikuti saja petunjuk jalan yang mengarahkan ke Twin Tower Petronas. Mudah kok. Kamu akan menemukan menara tersebut ketika keluar dari Suria KLCC. Spot terbaik untuk mengambil full gambar twin tower ada di bagian taman air mancur. Berjalanlah sampai ujuuuuuuunggg belakang. Di sanalah kamu bisa mengabadikan foto Twin Tower secara utuh sampai puncaknya.

Twin Tower Mendung
Saya sarankan untuk ke Twin Tower pada malam hari, karena gedung Twin Tower akan menyala dari dalam, super cantik untuk diabadikan. Jika tidak sempat malam, maka kamu bisa berkunjung pagi hari, ketika belum banyak sinar matahari. Jika terlalu siang, maka akan ada backlight dan kualitas foto kurang bagus. Kata orang, belum ke Malaysia jika belum foto di Twin Tower. Jadi jangan sia-siakan perjalanan kamu. Semoga bermanfaat yaaa!

Belanja Cokelat di Choc Boutique

Bingung mencari cokelat buat oleh-oleh di Kuala Lumpur? Saya punya rekomendasi untuk beli cokelat. Namanya Choc Boutique. Ini adalah kedai cokelat yang bisa ditemui di banyak tempat, seperti di KL Sentral, Suria KLCC, Sungei Wang Bukit Bintang, dan Central Market. Bahkan Central Market memiliki dua kedai cokelat, yang pertama di bagian depan (agak kecil kedainya), yang satu lagi agak ke tengah dengan bentuk yang agak besar dan banyak pilihan. Walaupun Choc Boutique yang berada di bagian depan Central Market kedainya agak kecil, namun saya lebih senang belanja di sana. Penjualnya sangat baik dan tak segan memberikan diskon. Penjualnya adalah orang Melayu dan orang India yang sangat friendly dan hangat dalam melayani customer. Di sana juga tidak jarang diberikan free tester untuk cokelat yang ingin kita beli. Jadi kita bisa memastikan dulu rasa cokelat yang akan kita beli, jika enak maka silahkan diangkut.

Jenis cokelat yang dijual sangat beragam dari yang murah sampai yang mahal. Berat, ukuran dan packaging pun beraneka ragam. Ada yang tersedia dengan bentuk bar, kotak, toples atau pun plastik kiloan. Beberapa jenis cokelat yang tersedia dengan berat 250gr, 500gr sampai 1kg adalah jenis Berryls, Alfredo dan Checkers. Untuk rasanya bermacam-macam, dari almond, white choco, hazelnut, tiramisu, durians, kismis dan lain-lain. Rasanya mirip-mirip, dan saya lebih senang membeli merek Checkers karena harganya jauh lebih murah dari yang lain *prinsip ekonomi sangat dibutuhkan. Jika Berryls 500gr harganya adalah 27RM, maka 2 toples Checkers masing-masing 500gr harganya adalah 30RM. Hampir dua kali lipat kan! :D

Jika koper kamu simple dan tidak cukup memuat barang bawaan yang banyak, serta cokelat tersebut hanya untuk di rumah dan bukan untuk dibagikan, cobalah untuk membeli cokelat 1 kg dengan bungkusan plastik. Wadah plastik sangat irit tempat ketimbang kamu harus membeli wadah toples. Namun jika kamu ingin membagikan cokelat tersebut kepada masing masing orang, maka beli saja yang bentuknya candy bar. Harga cokelat di Choc Boutique cukup terjangkau jika kamu pandai memilih dan jeli membandingkan harga. Pilihlah cokelat yang dibandrol dengan harga diskon atau special price karena pastinya lebih murah.

Selain cokelat kemasan dalam toples, ada juga cokelat atau permen yang dikemas bersama boneka yang super lucu. Tapi saya tidak tertarik membeli berhubung harganya yang mahal gilak. Saya hanya menikmati lucu dan uniknya permen dan cokelat yang dihias dengan berbagai rupa.

Ada lagi tempat membeli cokelat yg murah, yakni di Supermarket ala-ala Timur Tengah di pinggiran Chow Kit. Di sana memang tidak menjual khusus cokelat seperti di Choc Boutique, tapi pergilah ke bagian makanan ringan cokelat dan permen. Tersedia satu bungkus besar cokelat kemasan ukuran 2 kg dengan harga 10-15RM saja. Cocok untuk bagi-bagi orang kantor hahaaha.

Kalau mau belanja cokelat yang agak bergengsi sedikit, kamu bisa melipir ke Berryls Kingdom. Di sana juga surganya cokelat. Berbeda dengan Choc Boutique yang hanya kedai lepasan, Berryls Kingdom adalah kedai cokelat besar yang berbentuk rumah. Saat kita masuk ke dalamnya, kita akan disuguhi pemandangan mesin pembuat cokelat dengan tong besar berisi cokelat bulat. Apakah cokelat itu bisa diambil? Tentu saja. Cokelat tersebut adalah tester yang bisa kamu ambil (sepuasnya). Berhubung saya gratisan hunter, adegan cokelat gratis ini tidak akan saya sia-siakan. Dekati mesin pembuat cokelat tersebut dengan perlahan, ambil dalam genggaman tangan, masukan saku jaket. Keliling sebentar. Masuk lagi dari pintu utama dan ambil lagi hahaha. Kelakuaaan. (Untung waktu ke sana bareng temen-temen, bukan keluarga :D)

Inti dari berbelanja cokelat adalah belanja sesuai kebutuhan dan sesuai budget. Jika budget tidak memenuhi, jangan beli berlebihan dan mahal-mahal. Karena menurut saya, cokelat di KL itu ada yang murah namun ada juga yang super mahal. Jadi silahkan belanja cerdas dan hemat ya :)
 
Cokelat hitungan gram
Dipilih dipilih
Tampilan Choc Boutique

Shalat Jumat di Stesen Masjid Jamek

Siang itu rencananya saya dan keluarga belanja ke Central Market dan Petaling Street. Lokasinya cukup mudah ditempuh, naik saja LRT sampai Stesen Pasar Seni, kemudian berjalanlah ke arah pintu keluar. Di sana sudah terlihat bangunan Central Market berwarna biru langit. Tak jauh dari Central Market, berjalanlah ke arah China Town, di sana terdapat tempat berbelanja bernama Petaling Street. Banyak barang murah yang bisa kamu beli di sana. Jangan lupa ya, pakai prinsip menawar dan senyum :D

Pulang dari belanja kilat ala Bapak saya di Central Market dan Petaling Street, kami berniat ke Masjid Jamek untuk menunaikan Shalat Jumat. Saya dan keluarga bergegas berjalan ke arah Masjid Jamek dari Petaling Street yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki saja. Ramai lalu lalang orang yang ingin menunaikan Shalat Jumat ditemani langit yang mendung dan sedikit gerimis romantis

Sampai di Masjid Jamek yang didominasi warna putih dan strip hitam itu, rupanya sudah banyak sekali para laki-laki yang bergegas ke dalam. Bapak dan Adik laki-laki saya pun masuk ke dalam, sedangkan kami yang perempuan menunggu di luar karena area Masjid, karena Masjid pada Jumat siang itu steril dari perempuan, hanya laki-laki yang diperbolehkan masuk. Hujan makin turun lebat, alhasil kami berlarian ke Stesen Masjid Jamek yang lokasinya persis bersebelahan dengan Masjid Jamek.
Suasana Jumatan di Stesen Masjid Jamek
Suasana Petaling Street
Di area stasiun rupanya tidak ada bangku untuk menunggu atau waiting area, sehingga kami yang cukup kelelahan jalan kaki puasa-puasa, menemukan ide untuk duduk-duduk di pojok dekat mesin otomatis pembelian token tiket LRT. Awalnya mungkin banyak yang heran kami duduk-duduk di sana, namun lama kelamaan malah ibu-ibu dan mbak-mbak banyak yang mengikuti untuk duduk di sebelah kami. Mungkin mereka juga menunggu hujan reda dan menunggu Shalat Jumat usai.

Saat khutbah Jumat disiarkan sayup-sayup terdengar dari stesen, dengan bahasa Malaysia yang khas. Saya tidak begitu fokus mendengarkan, karena lebih memilih bersandar, membuka smartphone dan mulai mengaji meneruskan tadarus saya. Hujan makin deras dan stesen makin ramai. Entah bagaimana dan siapa yang memulai, di depan saya ternyata sudah banyak Bapak-bapak yang menggelar koran dan sajadah untuk sholat Jumat di pelataran stesen. Awalnya tidak teratur, namun lama-kelamaan berbentuk shaf rapi, sampai akhirnya mereka mulai ikut Shalat Jumat berjamaah dari stesen.

Pemandangan cukup unik yang saya temui, karena stesen tempat lalu lalang orang tapi dipergunakan untuk shalat. Bukan hanya itu, Malaysia terkenal dengan kehidupan berbagai macam ras menjadi satu, sehingga dalam Shalat Jumat pun saya menemui bermacam ras berdiri bersampingan untuk Shalat. Melayu, India, Timur Tengah, Western. Budaya saling menghormati pun sangat kental. Orang yang lewat beratur melalui samping jalan tanpa mengganggu Muslim yang sedang menunaikan Shalat. Saat-saat rush hour, hujan dan banyak tantangan lainnya, Muslim yang taat memang tetap harus menjalankan kewajibannya.

Sungguh bersyukur bisa mendapatkan pengalaman melihat Shalat Jumat di pelataran Stesen Masjid Jamek, hehe. Alhamdulillah

Tarawih di Masjid Jamek Kampung Baru

Dua kali kami berkesempatan untuk shalat di Masjid ini, namanya Masjid Jamek Kampung Baru. Lokasinya sangat dekat dengan Jalan Raja Alang, tempat peristirahatan kami. Masjid ini cukup besar dan cukup strategis. Pada saat Shalat Shubuh, kami Shalat Shubuh di Mesjid ini pukul 06.00 (waktu Shubuh di sana memang siang). Keluar dari Masjid, ada bapak-bapak yang sedang mengaduk bubur sum-sum pada kuali yang supeeerr besar. Penasaran, maka bertanya. Ternyata kuali yang berisi bubur itu dibuat untuk dibagikan pada saat buka puasa. Luarrr biasa, dibuatnya dari shubuh-shubuh buta karena porsi kualinya yang sangat besar, maka dibutuhkan juga proses menggodok yang cukup lama.

Masjid Kampung Baru
Suasana Bazar Ramadhan yang belum buka
Beda Shubuh, beda cerita juga dengan Maghrib dan menjelang tarawih. Saat setelah buka puasa, maka sudah banyak orang berbondong bondong menuju Masjid ini. Di luar area pelataran Masjid ini ada box besar berisi aqua gelas dengan es yang super banyak. Aqua gelas ini juga bisa diambil oleh jemaah yang akan tarawih. Di sebelahnya juga ada satu bungkus plastik kolak yang besar. Jangan tanya ururannya, jika biasanya di Indonesia kolak dibungkus dengan plastik ukuran 1/4 kg, ini dibungkus dengan plastik ukuran 1 kg. Dan ini gratis, bisa diambil berapa pun tak dibatasi. Bisa dibawa pulang. Edaan.

Tarawih dimulai pada pukul 20.30 dan berakhir pukul 23.00, jumlah rakaatnya ada 23 rakaat dengan imam yang membaca surat panjang entah berapa juz. Imam tarawihnya pun bergantian sampai 3 kali. Imam tarawih biasanya didatangkan dari Timur Tengah, namun terkadang dari orang Malaysia sendiri. Misinya adalah tarawih dengan menghatamkan Al Quran. Jadi imam membacakan surat setiap tarawih minimal sekali tarawih habis 1 juz. Bahkan biasanya baru 25 hari, Masjid tersebut sudah hatam. Bacaannya sangat merdu dan menghayati, terkadang imamnya terhenyuh sendiri karena saking menghayati. Saya pun teringat cuplikan imam Masjidil Haram yang memimpin Shalat. Sebegitu mengerti arti ayat yang dibaca hingga beliau menangis terisak di tengah Shalat. Masyaa Allah. Pengalaman tarawih di Masjid Malaysia memang menjadi pengalaman hidup yang berbeda, apalagi Tarawih di Masjidil Haram. Insya Allah ada saatnya kami sekeluarga ada rejeki ke sana. Aaamiiiin.

Dari sekian pengalaman mengharukan, tapi ada lucunya. Pada saat tarawih baru 8 rakaat, beberapa orang mundur ke belakang membubarkan diri. Jadi mereka akan melakukan witir sendiri 3 rakaat, hingga jumlahnya 11 rakaat. Mundurnya berbarengan dan sangat kompak, hehehee. Awalnya saya bingung, kok baru 8 rakaat langsung banyak yang bubar. Terlalu kompak dan berbarengan, hingga saya bingung. Tak lama saya menyadari bahwa mereka yang membubarkan diri itu akan melanjutkan witir sendiri. Jadi total tarawih mereka adalah 11 rakaat. (Tau gitu saya ikutan jugaa bubar *loh)

Suasana tempat shalat wanita
Area shalat untuk pria dan wanita dipisah ruangan, namun suaranya tetap terdengar. Suasana tempat shalatnya pun super adem, full AC dan nyaman. Beberapa wanita setengah baya ada yang menarik kursi untuk shalat sambil duduk. Di sana juga disediakan kursi bagi yang tidak kuat untuk shalat sambil berdiri. Selain area shalat, juga terdapat panggung di sisi kiri tempat wanita. Mungkin dipergunakaan untuk kajian kemuslimahan di Masjid ini.

Usai shalat tarawih, kami keluar Masjid dan kembali berdecak melihat meja yang tadinya menyuguhkan plastik kolak, kali ini berjejer buanyaaaak banget jajanan kue basah. Penuh makanan dan disediakan juga plastik untuk membukusnya jika ingin dibawa pulang. Aqua gelas dingin pun masih saja penuh. rupanya petugas akan mengisikan stock makanan dan minuman lagi ketika jumlahnya sudah mau habis. Masya Allah.

Jamaah mengambil minuman gratis
Makanan gratis
Ada lagi yang unik dari aqua gelas di Malaysia. Jika di Indonesia, maka aqua gelas dengan sedotan terpisah, dan harus mencopotnya satu per satu. Jika di Malaysia, maka sedotan aqua gelas langsung menempel satu paket dengan aqua. Pendek dong? Ya, memang ukurannya pendek, secara logika jika dipakai untuk aqua, akan tenggelam. Namun lucunya, ketika sedotan tersebut dicopot dari aqua gelas, dibuka dari plastiknya, maka sedotan tersebut bisa ditarik menjadi panjang ukurannya. Sehingga apabila ditusuk untuk minum, maka tidak akan tenggelam. Inovasi yang super dan sepertinya biayanya mahal hehhehehe.

Aqua Malaysia yang sedotannya unik
Sedotan memanjang
Saking bertebarannya makan gratis, seperti tidak ada yang kelaparan rasanya, bahkan tuna wisma di Kuala Lumpur dijamin makanan dan perlengkapan sehari-harinya. Saya melihat di sepanjang jalan dekat Chow Kit pada malam hari, ada segerombolan orang yang sedang antri makanan dan bagi-bagi baju layak pakai. Ternyata mereka adalah tuna wisma yang sedang antri. Mereka dilayani oleh NGO yang bergerak dalam bidang sosial fokus tunawisma. Tidak hanya dari NGO, tetapi dana pemeliharaan tuna wisma ini juga diberikan oleh Kerajaan Malaysia. Jadi mereka tidak gelandangan compang camping di kolong jembatan. Mereka cukup rapi dan tidur di lokasi-lokasi tertentu yang diperbolehkan Negara, tidak di sembarang tempat. Ini baru sesuai dengan Undang-Undang Indonesia, bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh Negara. Jika saja negara kita mampu seperti Malaysia.

Well done, sekian dulu pengamatan saya saat tarawih di Masjid Kampung Baru, semoga bisa memberikan hikmah dan motivasi kepada pembaca sekalian.
Salam,
Noni Halimi

Pemilu di Kuala Lumpur

Saya berangkat ke Malaysia pada tanggal 9 Juli 2014, tepat pada hari pencoblosan. Entah kenapa pembelian tiket saya benar-benar sudah rencana Allah, pas banget. Kami sekeluarga tetap bisa ikut pemilu dan malamnya langsung terbang ke Malaysia. Padahal saya membeli tiket sekitar 9 bulan yang lalu, boro-boro tahu jadwal pemilu kapan. Memang semuanya sudah rencana Allah. Alhamdulillah.

Berbeda degan Pemilu di Indonesia pada tanggal 9 Juli 2014, Pemilu di luar negeri untuk warga negara Indonesia yang tinggal di negera tersebut sudah dilaksanakan pada tanggal 5 Juli 2014. Pemilu di Kuala Lumpur diadakan pada dua lokasi TPS yakni KBRI Kuala Lumpur dan Sekolah Indonesia Kuala Lumpur. Namun kolega Bapak Saya yakni Ustadz Mukmin menceritakan bahwa banyak undangan pencoblosan pemilu yang datang terlambat. Pemilu dilakukan pada tanggal 5 Juli dan untuk mencoblos harus membawa undangan pencoblosan (kalau di Indonesia yaa seperti Surat Tanda Daftar Pemilu yang dibawa ke TPS). Namun ternyata banyak undangan pemilu yang baru sampai pada tanggal 7 Juli di mana pemilu sudah selesai dilakukan, hadeeeh

Entah bagaimana penyelesaian bagi WNI Malaysia yang tidak dapat undangan mencoblos, yang pasti di mana pun kita berada, sebagai warga negara kita memiliki hak pilih, maka pergunakan dengan baik. Salut untuk WNI di luar sana yang sangat bersemangat ikut Pemilu. Tinggal di luar negaranya bukan berarti kehilangan semangat nasisonalisme. Berikut spanduk pemilu yang saya temukan di Jalan Raja Alang, Kuala Lumpur, Malaysia.

Spanduk arahan Pemilu di Malaysia

Bazar Ramadhan Jalan Raja Alang

Lokasi istirahat yang disediakan oleh kolega Bapak saya berada di Raja Alang, Kuala Lumpur. Jalan Raja Alang adalah sebuah jalan panjang yang biasa dibuat bazar Ramadhan. Saya pernah menonton Upin Ipin saat bulan puasa, ada scene Upin dan Ipin diajak Kak Ros untuk belanja buka puasa di Bazar Ramadhan. Terlihat suasana bazar dengan tenda yang ramai menjajakan jajanan berbuka. Ternyata saya menyaksikan sendiri Bazar Ramadhan ala Upin Ipin di sini.

Ramainya Bazar Ramadhan Jalan Raja Alang
Jalan Raja Alang
Harga makanan dan minuman yang dijual pada Bazar Ramadhan cukup murah, range harga 1 sampai 10 RM saja. Maka jika belanja di sini cukup membawa uang 10 RM atau senilai 38.000 IDR maka kita sudah bisa pulang membawa banyak macam makanan. Ada yang menjual kue basah khas Kuala Lumpur yang super enak 1RM dapat 3 biji. Es milo, es mango pinneaple, es talas, es cincau, es kelapa, es blackcurant, es teh tarik dan segala macam minuman es dengan harga 1 RM untuk plastik kecil dan 2 RM untuk plastik besar. Ukuran plastik besarnya ternyata memang besar banget, cukup untuk 4 gelas. Es yang dipergunakan di bazar kaki lima ini bukan es balok dari kali ciliwung yang dipecah dengan alat tidak steril seperti di Indonesia. Saya melihat sendiri truk freezer membawa berkarung-karung plastik es bersih dan dibagikan kepada pedagang di sana. Es bulat yang biasa digunakan di kedai siap saji fast food, sudah berbentuk kecil-kecil dan higienis. Beda banget sama Indonesia yang.....ahhh sudahlah daripada emosi.

Makanan yang dijual beragam, ada tom yam, mie khas Penang, Ayam goreng, nasi lemak, nasi briyani, mie goreng Kuala Lumpur, ayam goreng, ayam madu, ayam fillet bumbu, murtabak manis atau asin, roti jala, cemilan ringan, sampai favorit saya di KL saat kelaparan dan pengen ngirit, yakni sosis dan baso tusuk harga 1 RM dilumur saus. Nyaaamm.

Nasi Lemak
Laksa Penang, Malaysia
Ngomong-ngomong Ayam Madu, saya ingat sekali Upin Ipin pernah melihat rekannya Mael pedagang sejati sedang berdagang Ayam Madu di Bazar Ramadhan. Harganya 1RM dapat 2 ayam. Kala itu Upin dan Ipin malah menjualnya dengan 1 RM dapat 3 ayam. Rupanya memang benar-benar ada yang menjual Ayam Madu dengan kipas dan asap yang aromanya lezat. Harganya 1 RM dapat 2 potong kecil ayam, atau 2 RM dapat 1 bagian ayam paha drum stick/dada. Persis seperti film Upin Ipin. Aaaahhh!

Ayam Madu dan bocah yang ingin membeli
Ayam Madu Ipin Upin
Nak Ayam Madu?
Selain makanan yang beraneka ragam, penjual di bazar ini juga ramah dan super baik. Saat kami tanya macam-macam mengenai makanan mereka, dijawab dengan lengkap dan jelas. Tak jarang juga mereka memberi lebih pada makanan kami. Saat kami hanya beli nasi briyani polos seharga 1 RM sebanyak 2 buah, kami dapat gratis sebungkus saus acar nanas lumayan banyak, padahal kami tidak membeli lauknya. Semoga keberkahan mengalir untuk pedagang-pedagang super baik ini.

Tidak jauh dari deretan bazar, terdapat pasar pagi yang menjual banyak daging, ikan, dan sayuran bahan baku memasak. Tidak hanya itu, pasarnya juga menjual buah buahan yaag super beraneka ragam. Dari mulai mango, kelengkeng, duku, manggis, delima, nangka, cempedak, melon, semangka, durian, jambu air, pepaya, pisang, dan masih banyak lagi. Sumpah saking banyaknya buah, saya sampe mikir "Di sini gak ada musim buahnya kali ya, kok banyak banget buahnya"
.
Durian Hahaha
Salah satu yang menarik buat saya adalah penjual durian yang berjejer di sana, mereka menjual 10 RM untuk 5 durian yang bisa dibuka langsung ditempat. Kami membeli 10 RM dan diberikan gratis 1 buah durian sehingga totalnya 6 durian. Tuh kan, lagi-lagi pedagangnya baik-baik banget. Penjualnya mahir membuka durian dan dengan gesit memasukkan isi buah durian ke dalam box tempat makan besar yang kami bawa. Penuh. 10 RM entah dapet berapa biji, banyak bangeeet. Dan setelah dimakan, rasanya manis semua, tidak ada yang mengecewakan. Di luar jenis durian itu, saya sempat membeli durian jenis Udang Merah. Harganya cukup mahal yakni 20 RM isinya hanya 4 buah durian besar. Saat mencoba 1 buah, luar biasaaaaa, enak banget! Hampir seluruh isinya daging durian semua dan biji duriannya.....cuma seiprit saja. Warna daging duriannya kuning kemerahan, karena itu disebut Udang Merah. Rasanya lebih enak dari durian Monthong. Asli deh harus nyobain :D

Pasar Jalan Raja Alang
Bazar Ramadhan ini pun masuk pemberitaan di statiun televisi Malaysia saat saya sedang menonton TV di hotel siang hari. Liputannya mengenai Bazar Ramadhan di Raja Alang. Waaahh beruntungnya saya pernah ke sana. Hehehe. Pengalaman yang berbeda bisa menikmati puasa di negeri orang, walau bagaimana pun serunya, tetap saya rindu negeri sendiri :D