Showing posts with label LRT. Show all posts
Showing posts with label LRT. Show all posts

Monday, January 11, 2016

Peta LRT KTM Komuter Monorail KLIA Kuala Lumpur, Malaysia

Malaysia memiliki banyak sekali moda transportasi yang saling terintegrasi. Mulai dari kereta, di Kuala Lumpur punya beragam jenisnya. Ada kereta berjenis LRT, Komuter, KLIA Transit, KLIA Ekspress, dan Monorail. Begitu juga dengan berbagai macam bus dan taxi, semua terintegrasi di terminal besar yang bernama KL Sentral.

Bagi yang masih bingung peta moda transportasi di Kuala Lumpur, boleh di save gambar di bawah ini. insya Allah ga bakal nyasar yaa :)

Source : www.wonderfulmalaysia.com


Peta LRT Monorail KTM KLIA Ekspress, KLIA Transit Kuala Lumpur

Thursday, July 23, 2015

Review Submarine Guest House Kuala Lumpur, Malaysia

KELEBIHAN (+)
1. Harganya super murah dan sangat terjangkau
2. Lokasi strategis dekat Pasar Seni dan Petaling Street, akses LRT Pasar Seni
3. Air panas 24jam
4. Akses wifi gratis
5. Aman, karena masih di area jalan besar
6. Dekat dengan lokasi wisata
7. Sarapan gratis
8. Petugas ramah dan fasih berbahasa inggris
9. Hostel dilengkapi dengan fasilitas cctv
10. Cukup bersih dan nyaman
11. Kasur twin dengan ukuran yang cukup
12. Dapat blanket
13. Bayar ditempat secara tunai

KEKURANGAN (-)
1. Lokasi hostel ada di dalam ruko yang berada di lantai 2. Agak repit angkut-angkut koper
2. Suasananya super sunyi, jadi lumayan berbisik-bisik kalau mau mengobrol dengan travelmate terutama jika sudah malam

--------
Submarine Guest House
Website : http://www.submarinehotels.com/
Booking : 
Location : Central Market 2
Jalan Hang Kasturi, Kuala Lumpur, Malaysia
Access : LRT Pasar Seni
Pict Source : Google
Pintu depan
Ruang tunggu dan ruang santai
Kamar mandi
Kamar tidur

Sunday, August 3, 2014

Ke mana Stesen Dang Wangi

Hari kedua kami di Kuala Lumpur, saya berniat mengajak adik-adik saya ke KLCC Twin Tower. KLCC (Kuala Lumpur Convention Center) Twin Tower adalah landmark dua buah menara kembar yang merupakan icon kota Kuala Lumpur, Malaysia. Hari itu ternyata salah seorang kolega Bapak berkunjung ke Tune Hotel tempat kami menginap dan mengajak silaturahim ke kantornya. Berhubung saya dan adik-adik tetap ingin pergi ke KLCC, maka kami tidak ikut Bapak dan Ibu. Saya dan adik-adik pergi ke KLCC dengan menggunakan kereta.

Stesen adalah sebutan Stasiun bagi orang Malaysia. Stesen kereta terdekat dari Tune Hotel tempat kami menginap adalah Monorail Medan Tuanku. Kita cukup berjalan ke arah timur, ikuti saja jalurnya monorail. Jaraknya hanya 200 meter saja. Dekat bukan? Namun untuk menuju ke KLCC, kita tidak bisa menggunakan Monorail, melainkan LRT. Jika kami menaiki jenis monorail, maka kami harus turun di monorail stesen Bukit Nanas, dan berjalan ke arah KLCC. Sedangkan jika kami menaiki jenis LRT, maka kami turun persis di stesen KLCC dan akan keluar tepat di Twin Tower. Adik saya tak sabar menaiki monorail yang keretanya berada di jalan layang dengan satu rel. Saya beritahukan bahwa kita akan naik monorail saat pulang saja, bukan saat berangkat.

Stesen LRT terdekat dari Tune Hotel adalah Stesen Dang Wangi. Jika dilihat dari peta sih tidak terlalu dekat, butuh berjalan kaki cukup jauh, apalagi tengah hari puasa-puasa hehehe. Namun berhubung adik-adik saya penasaran ingin menaiki kereta Malaysia, maka semangat saja. Paling adik saya yang bungsu bertanya, "masih jauh ya, Yun?" Heheee

Perjalanan menyusuri stesen Dang Wangi dari Tune Hotel cukup mudah, ikuti saja petunjuk jalan. Kamu hanya berjalan ke arah selatan, dan akan menemukan Sogo Departement Store. Daerah sini memang banyak pusat perbelanjaan, salah satunya Busana. Sampai di perempatan depan Sogo, belok kiri. Bersabarlah menyusuri jalan panjang itu, teruuuusss sampai ujung belokan ke kiri. Ikuti saja jalannya. Tidak jauh dari jalan itu, kamu akan menemukan eskalator Monorail Bukit Nanas yang menghubungkan ke seberang jalan. Tapi tunggu, tujuan kamu bukan Monorail Bukit Nanas, tapi LRT Dang Wangi. Tarik napas sejenak beristirahat di halte dekat eskalator, dan tengok ke kiri... Dan, Tadaaaa....Stesen Dang Wangi sudah di depan mata. Kita sudah sampai lho.

Stesen Dang Wangi
Mejeng Dulu
Masuklah ke dalam Stesen dengan menggunakan eskalator turun. LRT yang tersedia di Malaysia memang kebanyakan menggunakan rel bawah tanah, sehingga jika ingin menaiki kereta, maka harus masuk stesen dengan eskalator turun. Jika kamu tidak berniat buru-buru, maka berdirilah di sisi kiri eskalator, karena sisi kanan untuk mendahului. Jangan berdiri di kanan, kamu akan menghalangi orang belakang untuk mendahului. Setelah sampai ke dalam, pastikan kamu membeli tiket ya. Untuk membeli tiket/token, kamu hanya perlu mendatangi mesin pembelian tiket otomatis di depan pintu masuk. Jangan khawatir mengantri, mesinnya banyak kok.

Cara pembelian tiket di Stasiun Kereta Kuala Lumpur


Mesin pembelian tiket otomatis ini akan mengeluarkan token kereta berbentuk koin plastik berwarna biru. Cara pembeliannya, silakan kamu tekan pada layar touch screen English. Nanti akan muncul peta kereta Kuala Lumpur dengan berbagai jenis, dari LRT, Monorail, KLIA Express, KLIA Transit dan Commuter. Semuanya terintegrasi dan bersatu di Stesen KL Sentral. Pilih stesen tujuan kamu, tap pada peta di layar, jangan sampai salah tap ya, karena posisi gambarnya berdekatan. Cek lagi ketika sudah dipilih. Nanti akan muncul harga tiket untuk 1 token. Kamu bisa membeli lebih dari 1 token jika pergi berkelompok seperti saya. Caranya? Tekan saja tanda + nanti jumlah token dan harga total token akan berubah.

Token Pembelian Tiket LRT
Setelah selesai, waktunya pembayaran. Nah, untuk membayar harga tiket, kita hanya perlu memasukkan uang ke mesin. Ada untuk uang kertas dan ada untuk uang koin. Mesin ini hanya menerima pecahan uang kertas 1RM, 5RM, 10RM. Sedangkan untuk uang koin, mesin ini bisa menerima pecahan 1 Sen, 2 Sen, 5 Sen, 10 Sen, 20 Sen, 50 Sen, dan 1RM. Jika harga tiketnya 1.6RM, maka artinya kamu membutuhkan 1RM dan 60 Sen. Jika kamu tidak memiliki uang 60 Sen, kamu bisa memasukan 2 lembar/koin 1 RM. Lalu sisa 40 sen kemana?? Tenaaaang...saat kamu masukkan 2 RM, mesin akan mengeluarkan token milik kamu di bagian bawah mesin (persis seperti mesin penjual minuman). Selang beberapa detik perhatikan layar mesin akan tertulis Pemulangan Baki, yang artinya mesin akan mengeluarkan kembalian kamu. Uang koin sen kembalian kamu akan keluar di tempat pengambilan token.

Pintu Masuk/Keluar
Setelah kamu mendapatkan token, berjalanlah ke pintu masuk, nanti akan ada pagar masuk stesen. Perhatikan tanda hijau atau merah. Jika bertanda hijau, maka kamu bisa masuk melalui pintu itu, jika merah maka pintu tersebut khusus pintu keluar. Letakan token biru pada sisi atas palang pintu, ada tempat khusus untuk tap token/card. Kamu cukup tap sekali saja sampai mesin membaca dan pintu terbuka. Lewatlah dengan tenang, tidak panik, dan tidak teburu-buru. Mukanya biasa saja, jangan pasang ekspresi berlebihan karena kamu berhasil melewati ini semuaaaa. Jakarta memang gak ada sih yang kayak gini, saya paham ekspresi itu (pernah juga soalnya) wakaakak.

Jika kamu telah masuk palang pintu, kamu tinggal berjalan menuju tempat pemberhentian kereta, biasanya ada eskalator turun. Ikuti saja petunjuk jalannya. Masukkan token biru ke dalam saku, jangan sampai hilang karena kamu membutuhkan token itu untuk keluar dari stesen. Jalur keretanya ada dua lho, kiri dan kanan, perhatikan stesen tujuan kamu, jangan sampai kamu salah arah. Jika stesen kamu harusnya ke arah utara, jangan sampai kamu menaiki kereta yang ke selatan. Petunjuknya banyak dan jelas, kamu tidak perlu khawatir nyasar. Jika masih belum pede, tanya kepada orang sekitar, mereka dengan senang hati memberi tahu.

Ketika kereta datang, berdirilah di samping pintu masuk, jangan persis di depan pintu masuk. Bagian depan pintu masuk dipergunakan untuk penumpang yang akan turun. Peraturan di sana mendahulukan penumpang untuk turun, dan penumpang yang akan naik tidak diperbolehkan masuk sampai penumpang yang turun sudah selesai. Jadi tidak ada desak-desakan dan rebutan seperti Commuterline Jabodetabek milik kita. Semua teratur.

Kereta akan datang tiap beberapa menit sekali, paling tidak 1-2 menit sekali. Saking banyaknya kereta yang datang, hampir tidak pernah ada isi kereta sampai pepes tempe ala Commuterline Jabodetabek (maaf yaaa, lagi-lagi contohnya Indonesia hahaha). Kalau pun penuh ya masih tahap wajar, tidak berdesak-desakan. Ketika kereta berjalan, silakan menikmati pemandangan bawah tanah, apabila kereta sudah keluar dari bawah tanah, kamu bisa menikmati pemandangan luar kota Kuala Lumpur. Perhatikan notifikasi dari petugas mengenai stesen pemberhentian selanjutnya, atau kamu bisa memperhatikan petunjuk rute stesen kereta tersebut di bagian atas pintu.

Jika sudah sampai stesen tujuan, turunlah dengan beratur dan carilah pintu keluar. Token biru yang kamu simpan tadi silakan dikeluarkan, dan masukkan ke dalam lubang di palang pintu keluar. Jika di palang pintubmasuk bentuknya datar untuk sekedar tap/tempel token, jika di pintu keluar maka bentuknya seperti celengan. Masukkan token kamu ke celengan tersebut, dan pintu akan terbuka. Keluarlah dengan perlahan, dan saya ingatkan kembali, jangan tunjukkan ekspresi berlebihan :p

Bagaimana jika saya ingin transit berbeda jenis kereta?

Jika kamu ingin pergi ke stesen tujuan dengan jenis kereta yang sama dengan stesen kereta kamu, maka tidak akan bingung. Misal dari LRT Dang Wangi ke LRT KLCC. Maka tidak membutuhkan Transit Kereta. Namun bagaimana jika kamu berangkat dari LRT Dang Wangi dan ingin turun di Monorail Bukit Bintang? Nah kamu membutuhkan transit.

Apabila kamu ingin berganti jenis kereta, jangan khawatir, tetap pesan token sesuai stesen tujuan kamu, dan carilah stesen transit (interchange stesen). Turunlah di stesen transit, jangan keluar, tapi lanjut ke jenis kereta selanjutnya. Jangan masukkan token ke pintu, karena perjalanan kamu akan dianggap selesai pada saat kamu memasukkan token ke pintu keluar. Jadi selama kamu memegang token, kamu ingin transit di beberapa stesen, tidak masalah. Kamu boleh memasukkan token di pintu keluar saat akhir perjalanan kamu ya.

Suasana Jalan Dang Wangi
Sampai di KLCC saya menuju ke pintu keluar yg arah Suria KLCC. Suria adalah nama mall besar untuk kalangan atas, mungkin kalau di Jakarta seperti Plaza Indonesia. Banyak brand super mahal yang cuma bisa saya lihat saja dari etalase. Nggak berminat untuk beli dan nggak sanggup juga. Jadi biarlah menjadi hiburan mata saja. Setelah berjalan mengitari Suria KLCC, ikuti saja petunjuk jalan yang mengarahkan ke Twin Tower Petronas. Mudah kok. Kamu akan menemukan menara tersebut ketika keluar dari Suria KLCC. Spot terbaik untuk mengambil full gambar twin tower ada di bagian taman air mancur. Berjalanlah sampai ujuuuuuuunggg belakang. Di sanalah kamu bisa mengabadikan foto Twin Tower secara utuh sampai puncaknya.

Twin Tower Mendung
Saya sarankan untuk ke Twin Tower pada malam hari, karena gedung Twin Tower akan menyala dari dalam, super cantik untuk diabadikan. Jika tidak sempat malam, maka kamu bisa berkunjung pagi hari, ketika belum banyak sinar matahari. Jika terlalu siang, maka akan ada backlight dan kualitas foto kurang bagus. Kata orang, belum ke Malaysia jika belum foto di Twin Tower. Jadi jangan sia-siakan perjalanan kamu. Semoga bermanfaat yaaa!

Shalat Jumat di Stesen Masjid Jamek

Siang itu rencananya saya dan keluarga belanja ke Central Market dan Petaling Street. Lokasinya cukup mudah ditempuh, naik saja LRT sampai Stesen Pasar Seni, kemudian berjalanlah ke arah pintu keluar. Di sana sudah terlihat bangunan Central Market berwarna biru langit. Tak jauh dari Central Market, berjalanlah ke arah China Town, di sana terdapat tempat berbelanja bernama Petaling Street. Banyak barang murah yang bisa kamu beli di sana. Jangan lupa ya, pakai prinsip menawar dan senyum :D

Pulang dari belanja kilat ala Bapak saya di Central Market dan Petaling Street, kami berniat ke Masjid Jamek untuk menunaikan Shalat Jumat. Saya dan keluarga bergegas berjalan ke arah Masjid Jamek dari Petaling Street yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki saja. Ramai lalu lalang orang yang ingin menunaikan Shalat Jumat ditemani langit yang mendung dan sedikit gerimis romantis

Sampai di Masjid Jamek yang didominasi warna putih dan strip hitam itu, rupanya sudah banyak sekali para laki-laki yang bergegas ke dalam. Bapak dan Adik laki-laki saya pun masuk ke dalam, sedangkan kami yang perempuan menunggu di luar karena area Masjid, karena Masjid pada Jumat siang itu steril dari perempuan, hanya laki-laki yang diperbolehkan masuk. Hujan makin turun lebat, alhasil kami berlarian ke Stesen Masjid Jamek yang lokasinya persis bersebelahan dengan Masjid Jamek.
Suasana Jumatan di Stesen Masjid Jamek
Suasana Petaling Street
Di area stasiun rupanya tidak ada bangku untuk menunggu atau waiting area, sehingga kami yang cukup kelelahan jalan kaki puasa-puasa, menemukan ide untuk duduk-duduk di pojok dekat mesin otomatis pembelian token tiket LRT. Awalnya mungkin banyak yang heran kami duduk-duduk di sana, namun lama kelamaan malah ibu-ibu dan mbak-mbak banyak yang mengikuti untuk duduk di sebelah kami. Mungkin mereka juga menunggu hujan reda dan menunggu Shalat Jumat usai.

Saat khutbah Jumat disiarkan sayup-sayup terdengar dari stesen, dengan bahasa Malaysia yang khas. Saya tidak begitu fokus mendengarkan, karena lebih memilih bersandar, membuka smartphone dan mulai mengaji meneruskan tadarus saya. Hujan makin deras dan stesen makin ramai. Entah bagaimana dan siapa yang memulai, di depan saya ternyata sudah banyak Bapak-bapak yang menggelar koran dan sajadah untuk sholat Jumat di pelataran stesen. Awalnya tidak teratur, namun lama-kelamaan berbentuk shaf rapi, sampai akhirnya mereka mulai ikut Shalat Jumat berjamaah dari stesen.

Pemandangan cukup unik yang saya temui, karena stesen tempat lalu lalang orang tapi dipergunakan untuk shalat. Bukan hanya itu, Malaysia terkenal dengan kehidupan berbagai macam ras menjadi satu, sehingga dalam Shalat Jumat pun saya menemui bermacam ras berdiri bersampingan untuk Shalat. Melayu, India, Timur Tengah, Western. Budaya saling menghormati pun sangat kental. Orang yang lewat beratur melalui samping jalan tanpa mengganggu Muslim yang sedang menunaikan Shalat. Saat-saat rush hour, hujan dan banyak tantangan lainnya, Muslim yang taat memang tetap harus menjalankan kewajibannya.

Sungguh bersyukur bisa mendapatkan pengalaman melihat Shalat Jumat di pelataran Stesen Masjid Jamek, hehe. Alhamdulillah

Sunday, April 6, 2014

KL Trip : 24 January 2014 (LCCT - KL Sentral - Dataran Merdeka - China Town - Petaling Street)

Hari ini merupakan perjalan saya berdua dengan sahabat saya dari SMA yakni Febi untuk berkeliling Kuala Lumpur. Kami sudah jauh hari memesan tiket Air Asia dengan harga CGK – KL 99.000 IDR dan KL – CGK 199.000 IDR. Harga yang cukup murah untuk tamasya ke KL lah. Sebelumnya saya sudah pernah ke KL dengan rekan kuliah saya, namun waktunya sempit dan hanya berkunjung ke beberapa tempat. Dan saat itu kali pertama saya keluar negeri sehingga tidak ada persiapan itinerary dan sebagainya. Kali itu kami berempat, cukup memakan waktu banyak karena mengatur orang lebih banyak. Kali ini hanya berdua, mungkin akan lebih fleksibel.

Pesawat kami take off pukul 12.45 WIB dan pukul 11.00 saya sudah sampai ke bandara untuk melakukan self check in. Air Asia memiliki fasiitas self check in sehingga untuk check in tidak perlu mengantri, kita hanya cukup menuju ke mesin self check in yang disediakan Air Asia, dengan teknologi layar sentuh hanya memasukkan nomor booking saja, dan kita sudah bisa memilih untuk check in untuk kita snediri termasuk guess yang ada di tiket kita apabila kita memesan berbarengan dengan teman atau keluarga dalam satu itinerary tiket. Kita juga bisa memilih untuk check in pada saat depature juga sekaligus arrival sehingga pada saat pulang kita tidak perlu lagi bergegas untuk check in.

Tidak terasa pukul 11.30 dan Febi masih belum juga sampai Bandara Soekarno Hatta Terminal 3, keberangkatan Internasional. Saya mulai panik, ia memberi kabar masih di dalam tol. Dengan waktu tipis, akhirnya Febi datang dan langsung saya suruh naik ke lantai 2 dan menuju ke Boarding Room. Saya sudah menunggu di depan Boarding Room. Tentunya saya tidak dapat masuk Boarding Room tanpa Febi, kalaupun saya sudah masuk ya tidak dapat keluar lagi, masa saya ke KL sendirian. Akhirnya Febi pun datang dengan bergegas kami menuju antrian Boarding Room keberangkatan internasional. Waktu yang cukup sempit dan sudah masuk waktu Dzuhur, Saya pun bergantian sholat Dzuhur dengan Febi di Musholla Baording Room, tak lama penumpang Air Asia tujuan Kuala Lumpur dipanggil untuk naik pesawat.

Perjalanan ditempuh dalam waktu 2 jam dari Jakarta menuju Kuala Lumpur. Perkiraan kami akan sampai di Kuala Lumpur adalah pukul 15.45 atau sekitar pukul 4 sore waktu Kuala Lumpur. Terdapat perbedaan waktu 1 jam lebih cepat antara Jakarta dan Kuala Lumpur. Apabila di Jakarta masih pukul 15.00 maka di Kuala Lumpur sudah pukul 16.00. Beruntung kami duduk bersebelahan dan tak terasa terbang 2 jam pun usai.

Sampai di bandara low cost carrier Kuala Lumpur, kami menuju bagian imigrasi untuk cek in ke Malaysia.  Saya juga melihat bagian transit untuk penumpang yang akan meneruskan perjalanan selanjutnya. Wah serunya. Pasti destinasi yang cukup jauh biasanya yang transit seperti itu.

Imigrasi di Malaysia tidak cukup rumit namun memang sangat ketat untuk masalah barang bawaan, terutama saat imigrasi pulang ke negara asal, akan sangat ketat dan diperhatikan. Saya sempat kehilangan satu botol parfum yang baru saja saya beli ketika saya lupa meletakannya di tas yang akan masuk ke cabin, seharusnya saya meletakan di koper saya yang akan dimasukkan ke dalam bagasi. Selain itu berat maksimum barang bawaan juga ditimbang. Biasanya penimbangan dilakukan apabila kita terlihat membawa barang berat dan ukuran koper besar. Intinya sih petugas Malaysia ketat jika berurusan dengan barang bawaan.

Sesampainya di bandara, Saya dan Febi langsung membeli Simcard untuk berkomunikasi selama di Kuala Lumpur. Saya pilih provider Maxis dan paket internet 1GB. Harga Simcard perdana di KL cukup mahal, sama dengan di Singapura. Harganya 35RM atau setara dengan hampir 134.000 IDR sangat berbeda jauh dengan Simcard yang bisa dibeli di Jakarta dengan harga 5.000 sampai 10.000 IDR saja. Dengan menyerahkan Passport saya, pembelian simcard pun diproses. Sama seperti di Jakarta, untuk mendaftarkan dan mengaktifkan Simcard biasanya akan memasukkan nomor KTP atau nomor Identitas. Pun demikian dengan di sini, maka untuk warga negara asing wajib menunjukkan passport.

Setelah itu kami bergegas menuju tempat pemberhentian bus menuju KL Sentral, lokasinya di sebelah kiri bandara dekat dengan Musholla. Harga tiket bus yang mengantar dari Bandara LCCT menuju KL Sentral adalah 8 RM per orang. Tiket bisa dibeli di kounter dalam bandara atau dapat dibeli langsung di tempat pemberhentian bus, sesaat sebelum naik bus. Perjalanan menghabiskan waktu sekitar 2 jam, karena cukup macet. 

Di dalam bus, Febi langsung membuka bekal  makanan nasi rendang yang dibawakan oleh Mamanya. Saat tutup tempat makan dibuka, wuissss langsung semerbak wangi khas rempah masakan rendang. Celotehku dalam hati “Ini baru rendang asli Padang, Indonesia, bukan rendang yang dibuat oleh Malay hehehe” Beberapa penumpang menoleh ke arah kami karena wangi makanan kami, tapi rasa lapar seolah tidak memedulikan, biarkan saja. Langsung kami menghajar bekal rendang sampai tak bersisa, perut pun langsung kenyang mendadak. Alhamdulillah. Ludesss.

Sampai di KL Sentral, tadinya kami akan bertemu dengan rekan Febi yakni Bang Wasif yang merupakan perserta salah satu acara konferensi di UI. Beliau ingin mengantar kami ke hostel. Saya sebenarnya tidak ingin merepotkan, sehingga saat itu saya bilang untuk mengurungkan niat saya, kita pergi sendiri. Akhirnya dibatalkan janji bertemu. Namun memang sudah ditakdirkan oleh Allah untuk bertemu, pada saat  kami ingin membeli tiket bus Genting  Highland untuk kepergian esok hari, kami bertemu di eskalator. Febi dan Bang Wasif berpapasan. Ya akhirnya kami membeli tiket diantar Abang tersebut serta beliau pun mengantar kami menuju Hostel Submarine dekat Pasar Seni.

Alhamdulillah kami sangat terbantu sekali, karena saat malam pasti agak sulit menemukan hostel tersebut.
Selepas check in di hostel dan membayar biayanya, saya dan Febi meletakkan koper. Saya memang sudah jauh hari memesan hostel tersebut via online internet melalui situs booking.com dan harga yang tertera dengan yang saya bayar sama. Saya cukup berlega hati. Harga hostel sekamar berdua dengan fasilitas AC untuk 4 hari 3 malam adalah 210 RM (sehingga per orang harus membayar 105 RM). Harga yang cukup bersahabat bukan? Kami pun hanya meletakkan koper dan melanjutkan petualangan kami. Bang Wasif katanya bersedia mengantar. Kami berkeliling sekitar dataran merdeka saja.

Saya bertiga melipir di sisi-sisi Central Market sehingga bisa tembus ke Dataran Merdeka, wah saya baru tahu jalan ini. Dulu saya pikir dataran merdeka itu jauh sekali, karena dulu saya naik taxi. Ternyata dekat sekali ya kalau dari Central Market. Maklum, sejak pengalaman pertama saya ke luar negeri dahulu tanpa persiapan, saya jadi harus membuat itinerary dan menghafalkan rute serta peta jalanan. Kami berhenti di deretan toko yang menjual barang kesenian, dari mulai gambar-gambar, lukisan, kerajinan tangan.

Toko Lukisan Karikatur di sekitar Central Market
Contoh Hasil Seni Pasir

Tak kalah menariknya ada bule yang sedang membuat kreasi pasir dalam botol. Ia seorang wanita dan membuat hasil kreasinya di depan banyak orang sehingga kami dapat menyaksikan cara pembuatannya secara gratis. Luar biasa lincah dan lihai sekali, Butiran pasir bisa berbentuk indah dan berbagai paduan warna yang cantik. Saya pernah punya botol tersebut di rumah, kala itu Bapak membawakan dari Arab Saudi dan Yordania, katanya ini semua dalamnya pasir.

Gadis Seniman Pasir

Lepas itu, kami tadinya ingin diajak berkeliling dengan kereta (mobil) oleh rekannya Bang Wasif, namun karena rekannya memarkir mobilnya di tempat yang tidak diijinkan memarkir kendaraan, maka ban mobil pun di borgol dan kena denda. Wuih. Memang memarkir saja di KL tidak boleh di sembarang tempat. Padahal itu lokasi pinggir jalan biasa yang dilewati lalu lalang orang. Alhasil kami berjalan kaki saja sekitar China Town dan Petaling Street. Area ini adalah kawasan untuk etnis China dan banyak pedagang yang berjualan cinderamata KL serta kawasan restoran pinggir jalan.

Suasana China Town
Pedagang di China Town

Bungaaaaaa :D

Toko Bunga China Town

Suasananya sangat meriah dengan lampion menghiasi bagian atas, penuh warna merah dan sisi kanan kiri banyak dagangan dan penjual berbagai macam belanjaan. Kami berkeliling sambil melihat-lihat. Aroma masakan pun beragam, ada pula aroma masakan babi yang sangat asing bagi saya, namun lama kelamaan jadi hafal. Tentu saya dan Febi tidak memilih lokasi tersebut untuk makan, saya akan mencari restoran arab atau restoran yang berlabel halal saja.

Pedagang Buah di Petaling Street

Di Petaling Street selain terkenal dengan harga barang yang murah dan dapat ditawar, terkenal juga area yang rawan dan banyak copet. Maka berhati-hatilah saat berkeliling di sini, pastikan tas berada di posisi depan, terutama dompet, barang berharga HP, kamera serta passport.

Pulang dari keliling China town dan Petaling kami pun pulang. Esok hari waktunya berkelana sendiri ya tanpa perantara, sepertinya saya dan Febi akan lebih menikmati petualangan sendiri :)

Cek pengeluaran hari ini :
Minum @ 3.2 RM x 2 = 6.4 RM
SIMCARD @ 35 RM x 2 = 70 RM
Tiket Genting @ 10.30 RM x 2 = 20.60 RM
Tiket LRT KL Sentral – Pasar Seni = Free by Bang Wasif
Hostel Twin Bed 4D3N = 210 RM
Tiket Bus @ 8 RM x 2 = 16 RM
Total = 323 RM