Showing posts with label itinerary. Show all posts
Showing posts with label itinerary. Show all posts

Tuesday, October 13, 2015

Japan Trip : Persiapan Itinerary Jepang


Visa sudah approval, langkah selanjutnya adalah membuat itinerary sungguhan. Jujur saja baru kali ini saya dadakan membuat itinerary. Setiap saya bepergian biasanya itinerary atau jadwal perjalanan sudah saya buat jauh-jauh hari. Berbeda dengan perjalanan saya kali ini, saya merasa persiapannya sangat minim dan serba mepet. Padahal destinasi saya adalah ke negara Jepang. Saya sudah googling sana sini, makin banyak baca makin puyeng dan makin deg-degan. Fiiuuhh. Masalahnya semua masih di dalam otak dan belum dituangkan dalam excel.

Alhasil mendekati hari H keberangkatan saya memutuskan untuk membuat itinerary bersama dengan Febi, travelmate saya yang nantinya akan berangkat bersama. Sebelumnya kami sudah membuat gambaran kasar di masing-masing draft kami, ketika nanti menginap baru kami akan menggabungkan semuanya. Ada pun draft tersebut saya buat di kantor saat sedang puyeng ngurusin Teller dan CS saya, sedangkan Febi pun dikerjakan di kantornya hehehe. Kami membagi tugas dengan cara Febi membuat itinerary Tokyo sedangkan saya membuat itinerary Kyoto dan Osaka. Kami saling balas-balasan revisi itinerary. Entah sudah part berapa itu draft.

Sungguh malam itu akan menjadi malam panjang karena kami harus berpikir keras bagaimana agar wisata kami ke Jepang berjalan dengan sukses. Rencananya kami akan bepergian ke 3 kota besar di Jepang yakni Tokyo, Kyoto dan Osaka. Berpindah dari satu kota ke kota lain dengan membawa barang bawaan besar tentu bukan perkara mudah, terutama dalam hal transportasi dan akomodasi. Yosshh... kami berencana menyelesaikan semuanya pada malam tersebut.

Sampai di rumah Febi, saya dan Febi langsung mengeluarkan alat pertempuran kami yak tidak lain adalah cemilan *looohh. Ini merupakan bagian penting dalam perintisan itinerary, rasanya kami tidak bisa berpikir kalau tidak ngemil *alasaaan. Saya membawa beberapa referensi buku yang membahas mengenai perjalanan ke Jepang serta tips-tips yang penting untuk diketahui. Saya dan Febi juga sudah print beberapa artikel yang berkaitan dengan destinasi wisata kami untuk memudahkan mengatur jadwal perjalanan.

Hostel yang akan kami tempati di 3 kota di Jepang sudah kami booking melalui booking.com, Alhamdulillah. Setidaknya penginapan sudah aman. Kenapa harus melalui booking.com? Karena pemesanan melalui booking.com tidak dikenakan biaya sepeser pun. Pembayaran dilakukan dengan uang cash ketika kami sudah sampai di lokasi tempat menginap. Lebih terjamin bukan? Apalagi kalau khawatir akan cancel mendadak, uang tidak akan hangus karena kami belum membayar apa-apa.

Destinasi wisata yang akan kami kunjungi juga sudah kami persiapkan, kami hanya mengatur waktu agar semuanya dirasa enak dan tidak terlalu melelahkan. Kami sudah membuat bucking list mengenai hal-hal apa saja yang harus saya lakukan di Jepang, terutama menaiki Shinkansen, itu wajib hukumnya. Kami berencana menaiki Shinkansen dari Kyoto menuju Osaka dengan perhitungan budget yang memadai karena harganya masih terjangkau. Walaupun konsekuensinya perjalanan dengan kereta peluru untuk ukuran jarak Kyoto dan Osaka sangat dekat dan hanya sebentar saja. Namun kami tidak masalah naik Shinkasen hanya hitungan menit, yang penting kami merasakan sensasinya kan?

Selanjutnya yang jadi permasalahan hidup kami adalah transportasi dari Tokyo menuju Kyoto. Ada banyak pilihan mengenai akses dari Tokyo ke Kyoto, diantaranya menggunakan jalur kereta Shinkansen, namun pastinya harganya mahal. Atau dengan menggunakan bus malam Willer Express dengan harga yang cukup terjangkau. Bus ini berangkat malam hari dari Tokyo dan akan tiba di Kyoto pada pagi hari. Pilihan yang tepat untuk menghemat penginapan kan? Namun sayang disayaaaanggg....kami cek website Willer Express ternyata tulisan kanji semua dan kami tidak berhasil memesan tiket tersebut. 



Peta Subway dan Kereta di Jepang
Pusing pala berbi. Saya dan Febi pontang panting cari cara, termasuk tanya sana sini ke teman yang punya akses di Jepang. Alhamdulillah ada teman dari teman kami (panjang kan urutannya), yang tinggal di Jepang, kami komunikasi melalui WhatsApp untuk meminta bantuan pemesanan bus. Dengan baik hati ia langsung reservasi bus untuk saya, Febi dan Adik saya melalui situs www.j-bus.co.jp dengan tujuan Tokyo – Kyoto. Mengapa kami tidak bisa memesan sendiri? Ini pertanyaan cerdas. Coba saja buka link tadi, dijamin siwer matanya melihat huruf kanji Jepang yang berserakan. Google translate sana sini namun tidak berhasil juga. Alhamdulillah ada yang membantu memesankan untuk kami.

Tiket bus untuk ke Gunung Fuji belum kami pesan karena rencananya kami akan membeli langsung di kounter tiket yang berada di terminal Shinjuku. Harganya kami sudah perkirakan sekitar 1700 Yen. Cukup mahal yaa.. Namun apa daya, kami wajib melihat Gunung Fuji, udah jauh-jauh ke Jepang masa nggak lihat Gunung Fuji kaaaaan..

Dalam satu malam akhirnya itinerary rampung diselesaikan, ini merupakan pencapaian yang cukup luar biasa bagi kami bedua. Ngebut fiksasi itinerary ditemani minyak kayu putih, coffee latte dan cemilan MSG. Terima kasih telah menemani kami semalaman :)


Salam,
Noni Halimi

Thursday, September 17, 2015

Sulit Mencari Wi Fi di Jepang?

Jepang termasuk salah satu negara yang maju akan teknologi, namun ternyata hal tersebut tidak dibarengi dengan banyaknya titik wifi gratis di berbagai kota di Jepang. Jauh lebih banyak Korea ketimbang Jepang, entah mengapa saya juga tidak tahu alasannya. Padahal harga paket internet di Jepang juga mahal, lumayan kan kalau ada gratisan hehehe. Tapi dengar-dengar, kecepatan akses internet di Negara Jepang terbilang super, ya pantes aja mahal. Di Indonesia saja nggak murah murah banget tapi aksesnya macem siput..

source : www.kawankumagz.com
Tapi benarkah sulit mencari wifi gratis di Jepang? Ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. Jepang juga menyediakan fasilitas wifi gratis di kota-kota besar. Jadi kamu tidak perlu khawatir. Masalahnya adalah kamu tinggal mencari titik titik wifi gratis yang biasa disebar di Jepang. Kebetulan saat saya ke Jepang tempo lalu sengaja tidak membeli paket internet, saya hanya akan mengandalkan wifi di hostel tempat saya menginap. Hampir seluruh tempat penginapan di Jepang memiliki akses internet yang bisa dimanfaatkan oleh tamu sepuasnya. Kamu hanya perlu menanyakan kepada petugas hostel user dan password wifi karena sudah pasti wifi dikunci.

Tidak memiliki akses paket internet di Jepang ternyata tidak membuat saya benar-benar mati gaya. Kenapa? Karena saya menemukan wifi gratis di beberapa tempat. Pertama kali saya mendarat di Jepang yakni Haneda International Airport, tersedia wifi gratis 24 jam. Demikian halnya dengan Kansai International Airport juga menyediakan wifi. Jadi pengunjung bisa mengakses internet saat berada di dalam bandara. Ternyata tidak hanya bandara, saya juga menemukan wifi gratis di seluruh lorong Tokyo Toei Line dan Tokyo Subway. Memang sih dalam satu hari ada batasnya yakni 15 menit per sesi dan diberikan waktu 5 sesi sehingga total pemakaian wifi adalah 1 jam 15 menit. Lumayan kan untuk update status? *looh

Wifi Jepang
Bukan hanya di Bandara dan stasiun kecil Toei dan Subway, namun wifi gratis juga bisa ditemukan di stasiun-stasiun besar seperti JR station di Tokyo, Kyoto maupun Osaka. Biasanya wifi gratis bertempat di dekat information center. Silahkan cari wifi di sekitar sana sembari bertanya-tanya kepada petugas. Wifi sangat dibutuhkan terutama untuk googling lokasi dan sebagainya loh..

Untuk beberapa Mall perbelanjaan juga memberikan fasilitas wifi gratis. Tidak hanya toko namun juga cafe seperti Starbucks pun menawarkan wifi gratis. Yang lebih enak lagi, di Starbucks Jepang kamu bisa nongkrong sepuasnya dari pagi sampe itu toko tutup tanpa diusir lho. Lumayan banget kalau mau akses internet gratis dengan kecepatan super. Selain Starbucks saya juga menemukan wifi gratis di convenience store yang tersebar di kota-kota besar salah satunya family mart dan 7/11. Saya menyadari hal tersebut saat memegang HP di dalam convenience store, eeehhh ada wifi gratis! Hehhehe

Wifi gratis juga saya temui di terminal bus Shinjuku di dalam toko perbelanjaan elektonik yang besar di Shinjuku. Letaknya persis di seberang tempat bus lepas landas. Saat itu saya membaca pengumuman yang bertulisan "Free Wifi for 2 Weeks" Melihat kata free alias gratis saya langsung semangat, woooww apaan nih! Saya langsung mencari tahu bagaimana prosedur dapat wifi gratis di toko tersebut. Ternyata memang benar lho, bisa dapat wifi gratis selama 2 minggu khusus intuk turis. Wifi ini biaa di akses sepanjang terminal Shinjuku. 

Cara mendaftarnya cukup mudah, sama seperti membeli paket internet di berbagai negara, yakni kamu menujukkan passpor kamu ke petugas toko, kemudian ia memberi tahukan user yang bisa kamu pakai dan password yang digunakan. Semuanya gratisss tanpa harus membeli produk apa pun. Tentunya fasilitas ini sangat membantu turis walaupun turis tidak akan stay untuk jangka waktu panjang di terminal Shinjuku.

Nah, tadi adalah beberapa titik wifi gratis yang bisa kamu manfaatkan selama di Jepang. Jadi jangan takut mati gaya dan tersesat di Jepang karena tidak bisa terkoneksi dengan internet ya. Tidak perlu juga membeli paket internet yang harganya cukup mahal itu, selama bisa memanfaatkan wifi gratis, kenapa tidak?

Monday, September 14, 2015

Jepang Negara Super Bersih

Jepang negara yang sangat teratur, demikian halnya dengan aturan kebersihan yang ada di Jepang. Saat saya berkeliling Tokyo baik di lokasi wisata umum, jalan umum, jalan raya, bahkan jalan-jalan perumahan dan pinggir-pinggir jalan kecil, hampir tidak ada sampah secuil pun bertengger. Hal ini dikarenakan budaya masyarakat Jepang yang sangat memperhatikan dan mengedepankan kebersihan. Rasanya mau guling-gulingan di jalan, saking senengnya tidak ada sampah berserakan. Tidak hanya sampah, termasuk juga rokok. Di Jepang urusan rokok pun sangat diatur, Jepang melarang masyarakatnya merokok di sembarang tempat. Tersedia smoking area untuk mereka yang ingin merokok, dan jangan harap nemu sampah puntung rokok di jalanan, asli bersiiih.

Ngaso abis jalan jauh
Jalan raya yang kosong akan sampah
Jepang menyediakan banyak tempat sampah di sepanjang jalan dengan konsep sampah organik dan non organik. Tidak sulit menemukan tempat pembuangan sampah sehingga tidak ada alasan untuk membuang sampah sembarangan di Jepang. Saking mendarah daging akan kebersihan ini pun sudah ditanamkan ke anak-anak. Saya diceritakan oleh rekan saya yang punya pengalaman unik di Jepang. Saat itu ia sedang menaiki kereta Subway Jepang, dan ia berdiri tidak jauh dari seorang anak laki-laki bersama Ibunya. Anak tersebut kurang lebih berusia 4 tahun, ia sedang menggenggam kaleng yang berisi permen kecil berwarna warni. Karena ia tidak berhati-hati membuka tutup kaleng tersebut, entah mengapa kaleng tersebut jatuh berserakan ke lantai kereta. Tanpa dikomando oleh Ibunya, anak laki-laki tersebut secara otomatis memunguti permen yang berserakan di lantai dan menaruhnya di atas tissu kemungkinan untuk dibuang. Sedangkan permen-permen yang selamat dan tidak jatuh ke lantai, segera ia simpan dan menutup kembali kalengnya. Luar biasa, anak kecil saja sudah bisa berinisiatif akan kebersihan tanpa diperintah maupun diarahkan oleh orang dewasa yang mendampinginya.. 

Model tempat sampah paling simple di tempat umum
Saya juga menemukan bermacam-macam tempat sampah ketika di salah satu lokasi wisata. Biasanya di Indonesia hanya dibedakan sampah kering dan basah, atau organik dan non organik. Namun tempat sampah di Jepang jauh lebih spesifik. Ada tempat sampah khusus sampah yang bisa dibakar, sampah berbahan styrofoam, sampah minuman kaleng, sampah botol plastik, sampah botol atau segala macam berbahan gelas/kaca. Jepang juga membuat edukasi jenis-jenis tempat sampah ini dengan gambar kartun yang menarik. Memang hampir semua pesan edukasi maupun informasi di Jepang pasti menggunakan kartun daa gambar selain ingin menunjukkan identitas diri bahwa Jepang memang negara Anime, hal ini juga untuk memudahkan masyarakat memahami pesan yang disampaikan. Orang akan lebih tertarik dan mengerti ketika sebuah pesan disisipkan dengan visual gambar.

Semoga budaya bersih di Jepang bisa ditularkan ke Indonesia ya, setidaknya memulai dari diri sendiri untuk membuang sampah pada tempatnya dan mengajak orang lain untuk menjaga kebersihan bersama. Karena dalam Islam saja sudah jelas, kebersihan itu sebagian dari iman, kan? -Noni Halimi

Ini jalanan kampungnya, sama bersihnya

Seragam Jepang yang Keren

Berfoto bersama bocil-bocil SD di Sensoji Temple
Seragam sekolah atau biasa disebut dengan Seifuku sudah ada di Jepang sejak zaman Meiji atau lebih dari 100 tahun yang lalu. Pada zaman dahulu seragam anak sekolah di Jepang hanya berupa kimono formal, dan kemeja kerah tinggi untuk laki-laki. Namun seiring dengan perkembangan zaman, maka bentuk seragam sekolah di Jepang mulai berubah. Pada era tahun 1920 kemudian para siswa Jepang menggunakan seragam jenis pelaut yang berbentuk scarft segitiga disertai dasi, kelepak di bagian punggung serta rok untuk anak wanita. Seragam model pelaut ini diperkenalkan oleh kepala Sekolah Fukuoka Jo Gakuin University yang bernama Elizabeth Lee. Model seragam ini mengikuti seragam yang digunakan Angkatan Laut di Inggris. Sedangkan untuk murid laki-laki bisa menggunakan seragam Gakuran. Kata Gakuran berasal dari kata gaku yang artinya belajar/murid, dan ran yang artinya negara Barat. Gakuran mirip seperti pakaian militer tempo dulu dengan ciri khas kemeja gelap kerah tinggi tegak dan berkancing emas. Umumnya berwarna gelap keseluruhan dari atas hingga celana, ikat pinggang dan sepatu.

Kali ini foto bareng anak sekolah ABG Jepang
Minta difotoin loncat

Peranan dari Seragam

Seragam sekolah bisa menjadi simbol kemakmuran bagi siswa yang mengenakannya. Bagaimana tidak, ada beberapa sekolah menengah atas yang sengaja membuat desain seragam sekolah menggunakan perancang busana terkenal. Seragam juga berperan bagi siswa yang duduk di bangku SMP dan SMU dalam hal percintaan. Jika kita menonton acara dorama Jepang, maka biasanya untuk menyatakan cinta maka pelajar wanita akan mendatangi pelajar pria atau kekasihnya untuk meminta kancing (dai-ni) yakni kancing kedua dari atas jas seragam milik pelajar pria. Jika ia tidak bertepuk sebelah tangan, maka pelajar pria akan mencopot dan menyerahkan kepada pelajar wanita tersebut. Kenapa kancing kedua dari atas? Filosofinya kaerna letak kancing tersebut yang paling dekat dengan hati, sehingga seolah-olah siswa tersebut menyerahkan hatinya. Tsaaahhh..

Seragam sekolah di Jepang konon katanya bisa menaikan derajat keimutan beberapa poin ketimbang tidak menggunakan seragam. Buktinya pelajar Jepang sangat betah pergi kemana-mana mengenakan seragam, baik ke tempat perbelanjaan maupun tempat wisata sekali pun. Berbeda dengan di Indonesia yang ingin segera mencopot seragam ketika pelajaran sekolah telah usai dan ingin segera berjalan-jalan tempat lain, kalau di Jepang justru ingin tetap dipakai. Bahkan banyak pelajar Jepang yang tetap mengenakan seragam sekolahnya meskipun hari libur. Waduuuhh...

Seragam Jepang sesuai dengan Musimnya

Seragam yang dipergunakan oleh pelajar Jepang terdapat berbagai jenis yang pemakaiannya disesuaikan dengan musim yang sedang berlangsung di Jepang. Seperti kita ketahui bahwa Jepang merupakan negara 4 musim yakni musim semi, musim panas, musim gugur dan musim dingin. Ada pun bentuk dan bahan seragam mengikuti musim yang ada di Jepang :

Contoh seragam di Jepang
Contoh seragam di Jepang part 2
1. Musim Semi
Musim ini merupakan hawa yang sangat cocok dan menyenangkan untuk banyak orang. Pada musim ini semua jenis seragam cocok dipergunakan, menurut beberapa sumber pada musim ini cara berpakaian sekolah tidak dijadwalkan sehingga siswa siswinya bisa saja mengenakan seragam yang berbeda-beda

2. Musim Panas
Pada musim panas, jenis seragam yang digunakan berlengan pendek, tipis, tanpa dasi, rok pendek. Mungkin lebih mirip dengan seragam sailor.

3. Musim Gugur
Pada saat itu suhu sudah mulai turun, hawa mulai dingin dan sudah banyak angin, karena itu jenis seragam yang dipergunakan biasanya berbentuk sweater, rompi atau blazer.

4. Musim Dingin
Pada musim di Jepang suhunya sangat rendah, sehingga jenis seragam mulai tertutup, yang paling sering digunakan adalah jenis blazer dengan tambahan scarft tebal di leher.

Atribut Sekolah Jepang


Salah satu atribut yang digunakan berbarengan dengan seragam di Jepang adalah Topi. Untuk anak TK biasanya berwarna kuning terang. Mungkin supaya lebih cerah dan mudah ditemukan ketika ada acara studi tour ke luar sekolah. Saya pernah melihat rombongan anak TK di suatu tempat wisata di Jepang dengan berbaris menggunakan topi kuning. Kalau lagi hilang, biar gampang nyarinya mungkin yaaaa..

Dasi yang dipergunakan pada seragam Jepang pun beraneka ragam jenisnya dari mulai dasi kupu-kupu, scarft untuk seragam sailor dengan berbagai warna, dasi formal untuk pasangan blazer. Kesemuanya dipakai oleh pelajar Jepang untuk melengkap seragamnya. 
Anak TK biasanya mengenakan topi kuning terang
Sedangkan untuk sepatu dan tas, terdapat keunikan sendiri untuk pelajar Jepang yakni jenis sepatu dan tas yang mereka kenakan sama persis satu dengan yang lainnya. Sepatu sekolah di Jepang biasanya didapatkan langsung dari sekolah satu paket dengan seragam bukan membeli secara sendiri-sendiri. Sepatu tersebut biasa disebut uwabaki. Biasanya uwabaki disimpan di loker sepatu milik masing-masing siswa. Jadi ketika siswa berangkat dari rumah ia menggunakan sepatu bebas, namun sesampainya di sekolah, ia wajib mengganti sepatunya dengan uwabaki dan meletakkan sepatu bebas miliknya di loker. Demikian halnya dengan tas. Untuk siswa TK biasanya menggunakan tas selempang atau post bag dengan warna senada dengan seragamnya. Untuk siswa SD biasanya menggunakan tas ransel yang disebut Randoseru, bentuknya kotak dengan bagian penutup agak keras, persis seperti tas milik Nobita. Sedangkan untuk siswa SMP biasanya mengenakan tas jinjing hitam, untuk anak SMA biasanya menggunakan tas berbahan lebih lentur dengan cara pakai diletakkan di pundak siswa. Pasa siswa juga sering menggantungkan gantungan kunci berupa boneka atau gantungan lucu lainnya pada tas mereka.

Kalau dipikir-pikir seru juga yaa seragam sekolah di Jepang yang punya tradisi dan ciri khas sendiri :D -Noni Halimi 

Imutnya Es Krim Jepang


Es Krim adalah makanan yang identik dengan rasa manis dan segar. Biasanya rasa es krim favorit yang ada di seluruh belahan dunia berkisar rasa coklat, vanilla atau strawberry. Di Jepang memang terkenal dengan es krim rasa matcha atau teh hijau, konon rasa matcha memang berasal dari Jepang dan Jepang merupakan negara pelopor yang membuat rasa matcha di banyak jenis produk makanan yang beredar. Rasa matcha atau teh hijau ini cenderung manis dan pahit, dan disinyalir merupakan jenis teh yang harganya cukup mahal di Jepang, sehingga cukup menarik jika dijadikan rasa makanan maupun minuman. 
Es krim bentuk kucing (neko)
Salah satu uniknya es krim Jepang yakni toko es krim yang berada di Kedai Daily Chico (bawah tanah Nakano Broadway), di sana menjual es krim dengan delapan macam rasa dalam satu toping/cup. Es krim ini ditumpuk tinggi menjulang ke atas dan tidak miring selama belum mencair. Es krim ini terdiri dari berbagai macam rasa yakni rasa strawberry, cokelat, mocca, vanilla, melon, anggur, matcha, dan ramune (soda). Saking ukuran es krim yang jumbo dan banyak maka agaknya kamu tidak akan mampu untuk menghabiskan es krim ini sendirian dan harus makan ramai-ramai. Hehehe. Biasanya pengunjung yang membeli es krim ini digunakan untuk difoto dan mengunggah ke berbagai social media.

Selain rasa-rasa segar dan manis di atas, Jepang juga menawarkan es krim dengan rasa unik dan tidak biasa diperjualbelikan di negara lain. Diantaranya es krim rasa wijen hitam dan bunga sakura. Rasanya cukup aneh dan lucu, apalagi membayangkan memakan es krim rasa kelopak bunga sakura. Entah kalau makan bunga sakura beneran rasanya akan sama seperti makan es krim tersebut atau tidak. Saya pribadi pernah merasakan es krim rasa bunga sakura, rasanya memang unik. Saat itu saya membeli di sebuah toko di daerah Osaka. Harga satu toping es krim berkisar antara 300 JPY sampai 500 JPY. Wuuiiihh. Kalau mau beli es krim dengan berbagai rasa dan harganya cukup murah bisa membeli di vending machine khusus es krim, harganya berkisar 100 JPY sampai 200 JPY dengan merek es krim Glico. Rasanya beraneka ragam dan pastinya enaaakkk :D

Es krim Glico yang dibeli di Vending Machine
Jika rasa-rasa tersebut masih tergolong normal, maka Jepang punya rasa es krim yang lebih ekstrim, ada es krim rasa daging kuda (busashi), es krim rasa sayap ayam (nagoya tebasaki), es krim rasa kepiting (kani aisu), es krim rasa belut (unagi aisu), es krim rasa ikan (sanma aisu), es krim rasa gurita (taco aisu), es krim udang (ebi aisu), es krim rasa sambal Jepang pedas wasabi, es krim rasa empedu ular berbisa, es krim rasa kaktus (saboten aisu), es krim rasa ikan paus, es krim lidah sapi, es krim rasa cumi-cumi, es krim rasa kari India, es krim sirip hiu, es krim rasa telur ikan, es krim rasa arang, es krim rasa kentang, es krim rasa terong ungu, serta es krim rasa bawang putih. Baru membayangkan rasanya saja sudah bergidik yaa, hehe tapi kalau penasaran boleh juga untuk dicoba :) -Noni Halimi

Uniknya ATM Jepang

Jalan-jalan ke Jepang dengan membawa uang cash dalam bentuk mata uang Yen sudah pasti ditangan, namun kita tidak mungkin untuk membawa uang cash dalam jumlah banyak sekaligus bukan? Untuk lebih aman kita pasti akan mempersiapkan dana cadangan di rekening kita jika sewaktu-waktu diperlukan di Jepang. Bagaimana dengan rekening yang kita miliki di Indonesia? Bisakah ditarik di mesin ATM Jepang?

Rekening yang ada di Indonesia terhubung dengan jaringan Master Card atau Cirrus untuk transaksi antar negara, sehingga rekening kita tetap bisa dipergunakan di luar negeri meskipun dengan mesin ATM bank lokal negara tersebut. Saya pribadi menggunakan rekening BNI Syariah dengan kartu ATM Hasanah Debit Card. Kartu ini bisa dipergunakan di mesin ATM berlogo Cirrus atau Master Card di seluruh dunia. Jadi saya tidak khawatir untuk melakukan penarikan di luar negeri meskipun dengan mesin ATM Bank lokal negara tersebut.

Bagaimana Proses Penarikan ATM BNI Syariah?

Untuk negara Jepang, saya mencoba penarikan uang di mesin ATM Seven Bank dengan jaringan Cirrus. Logonya angka 7 yang terdapat di 7/11 persiiis. Mesin ATM ini bisa ditemukan di banyak convenience store yang tersebar di tempat-tempat umum di Jepang, salah satunya di 7/11. Tata cara penarikannya sama seperti di Indonesia, mata uang yang dikeluarkan sesuai dengan mata uang negara tersebut, dan nominal pecahan yang keluar tergantung dari mesin ATM. Untuk di Jepang pecahan uang yang keluar adalah 10.000 JPY. Kurs akan berlaku sesuai kurs pada saat penarikan di negara tersebut, sehingga jumlah uang yang terdebet di rekening kita menyesuaikan dengan besar kurs yang berlaku saat itu. Biaya yang dipotong untuk penarikan menggunakan jaringan Cirrus adalah 25.000 IDR per transaksi. Mudah bukan?

Tampilan Layar ATM di Jepang ada di bagian bawah
Bicara soal mesin ATM di negara Jepang, saya cukup memperhatikan dan sempat berkomentar bahwa ATM Jepang cukup unik. Bentuk mesin ATMnya sebenarnya mirip dengan ATM di Indonesia, hanya saja seluruh mesin ATMnya berbasis touch screen, sehingga untuk pengoperasiannya menggunakan layar sentuh. Seluruh ATM Jepang bisa dipergunakan untuk mencetak buku tabungan apabila nasabah ingin mencetak buku tabungan. Berbeda di Indonesia, saat ini baru beberapa Bank yang menerapkan mesin ATM yang bisa melakukan pencetakan mutasi buku tabungan oleh nasabah sendiri. Bahasa yang dipergunakan sudah pasti bahasa Jepang, namun jika ingin mengganti ke Bahasa Inggris, tinggal pilih saja pilihan bahasanya. Saya pun saat melakukan penarikan memilih bahasa Inggris, karena angkat tangan tidak bisa membaca tulisan Jepang bercampur kanji di mesin ATM.

Hal lain yang saya perhatikan adalah tempat keluar uang saat penarikan di mesin ATM. Jika rata-rata mesin ATM di Indonesia jika mengeluarkan uang maka akan keluar dari samping bawah mesin ATM, sehingga apabila nasabah sedang menarik uang yang cukup banyak akan bisa terlihat oleh orang disekitarnya. Mesin ATM Jepang berbeda, tempat keluarnya uang dari mesin ATM tidak dari samping, namun tepat berada di bagian depan nasabah dekat tombol-tombol mesin ATM. Ketika uang terproses akan luar, maka dari mesin akan terbuka “pintu uang” yang di dalamnya terdapat pecahan uang yang kita ambil. Tangan kita harus merogoh ke dalam lubang tersebut untuk mengambil, baru kemudian langsung dimasukan ke dalam dompet. Jadi orang disekitar kita tidak akan mengetahui berapa banyak jumlah uang yang kita ambil dari mesin ATM. Terlebih lagi di sisi kanan dan kiri mesin ATM diberikan sekat yang cukup lebar yang menghalangi pandangan kanan dan kiri orang disebelah kita untuk melihat. 

Tampilan pintu masuk kartu, buku tabungan serta pintu uang
Mesin ATM di Jepang juga menyediakan kalkulator yang tertempel di samping mesin ATM sehingga bisa dipergunakan oleh nasabah apabila memerlukan. ATM tersebut juga menyediakan kantong amplop uang secara cuma-cuma yang bisa diambil oleh nasabah sehabis melakukan penarikan uang. Masing-masing mesin ATM Jepang juga dilengkapi dengan tombol Robbery Alarm, yakni tombol alarm jika terjadi keadaan mendesak seperti pencurian dan sebagainya. Selain berfungsi untuk transaksi penarikan uang, mesin ATM di Jepang juga berfungsi untuk transaksi penyetoran jika nasabah ingin menabung. Pecahan yang diterima dari 1000 JPY, 2000 JPY, 5000 JPY sampai 10.000 JPY, tidak hanya itu terdapat juga untuk pecahan koin logam yakni 1, 5, 10, 50, 100 sampai 500 JPY. Berbeda di Indonesia yang mesin penyetorannya berdiri sendiri sebagai Cash Deposit Machine, maka di Jepang baik untuk setoran maupun penarikan, bersatu dalam satu mesin ATM.

Pilihan Menu ATM Jepang

お預け入れ: Deposit (memasukkan uang)
お引き出し: Withdrawal (penarikan)
お振込み: transfer ke rekening lain
お振り替え: transfer ke rekening lain milik sendiri (jika punya 2 rekening)
通長記入:pencatatan di buku rekening
残高照会: sisa uang
  • Masukkan kartu ATM dan nomor PIN. Jika memilih transaksi penarikan, masukkan jumlah uang yang diinginkan (perhatian: pada panel akan tertera kanji (kelipatan 1000) dan (kelipatan 10.000). Bisa juga memasukkan jumlah uang secara manual dengan menekan tombol angka).
  • Untuk menyelesaikan transaksi pilih tombol sebagai berikut:
確認 : konfirmasi
訂正 : koreksi
取消 : batalkan transaksi

Bagaimana cara penarikan uang di ATM Jepang?

Pertama yang dilakukan adalah memasukan kartu ATM kita ke dalam mulut kartu di mesin ATM sebelah kanan. Jadi mesin ATM Jepang memiliki dua lubang pintu, sebelah kiri untuk pintu masuk buku tabungan sedangkan sebelah kanan untuk pintu masuk kartu ATM. Jangan sampai tertukar pintu ya, yang bentuknya lebih lebar itu untuk memasukan buku tabungan, sedangkan yang lebih kecil untuk kartu ATM. Kemudian mesin ATM akan meminta kita untuk memasukkan nomor PIN, maka masukan PIN ATM di layar sentuh yang disediakan. Setelah itu pilih transaksi penarikan dan masukan nominal penarikan yang dikehendaki. Jangan lupa untuk melihat jumlah pecahan yang tersedia di ATM tersebut. Misalnya pecahan 10.000 JPY. Jika sudah menekan jumlah penarikan, klik OK. Maka akan ada pilihan untuk pencetakan receipt atau tidak, silahkan dipilih. Jika tidak ingin mencetak receipt maka akan terlihat di layar mesin ATM sisa uang yang ada di rekening tersebut dalam konvensi Yen. Setelah itu ATM akan keluar secara otomatis untuk diambil. Setelah kartu ATM diambil, barulah uang akan keluar dari pintu kotak uang mesin ATM. Posisi pintu kotak uang ini persis di depan perut/badan nasabah dan posisinya terlindungi karena di dalam kotak. Tidak seperti jenis ATM di Indonesia yang pintu keluar uangnya menjulur di bawah sehingga bisa terlihat oleh siapa pun. Lebih Asyik yaa :D -Noni Halimi

Trip Japan : Tokyo Subway Ticket

Begitu keluar dari Bandara Haneda Tokyo, kami menuju moda transportasi kereta yang bisa kami pakai menuju tujuan pertama kami yakni Asakusa Station. Namun kendala awal adalah kami belum tahu harus membeli tourist pass macam apa yang lebih irit dan mudah. Tak jauh dari pintu keluar bandara, ternyata ada kounter Tokyo Subway Ticket dengan papan pengumuman harga yang cukup masuk budget kami. Kartu ini bisa dipergunakan untuk seluruh kereta Tokyo Metro lines dan Toei Subway lines. Berhubung kami akan banyak menggunakan jasa kedua jalur tersebut, maka kami memutuskan untuk membeli kartu Tokyo Subway Ticket selama 3 hari seharga 1500 JPY atau senilai dengan 166.500 IDR (1 JPY = 111 IDR). 
Ada pun harga kartu pass untuk 1 hari adalah 800 JPY dewasa dan 400 JPY untuk anak-anak, 2 hari dengan harga 1200 JPY dewasa dan 600 JPY untuk anak-anak, 3 hari 1500 JPY untuk dewasa dan 750 JPY untuk anak-anak. Sedangkan untuk akses hanya Tokyo Metro Line tersedia 1 hari 600 JPY untuk dewasa dan 300 JPY untuk anak-anak dan 2 hari 980 JPY untuk dewasa dan 490 JPY untuk anak-anak. Berhubung saya membutuhkan dua lines, maka saya membeli gabungan Tokyo Metro Lines dengan Toei Subway Lines.

Petugas yang menjaga kounter sangat baik dan super ganteng *loh. Macem pemain dorama gitu lah, hehehee. Ia menjelaskan kegunaan tiket kami dan menunjukan masa expired kartu. Kami juga diberikan peta dan informasi wisata Tokyo yang menarik, Padahal masih pagi buta, tapi semangat kerja mas-masnya benar- benar patut diacungi jempol. Kami masih dekil belum mandi gini, dilayanin sama mas-mas yang udah kece badaaaaaiii :D

Untuk kamu yang bepergian ke Tokyo selama 1 sampai 3 hari saya menyarankan untuk membeli kartu pass Tokyo Subway Ticket ini :) -Noni Halimi


Mejeng dulu di Bandara Tokyo Haneda

Japan Trip : Terbang Bersama Air Asia X

Setelah persiapan yang cukup singkat, akhirnya tiba juga waktu keberangkatan saya ke Jepang bersama adik saya (Nabi) dan travelmate saya (Febiana Malini) yakni tanggal 30 Oktober 2014. Perjalanan akan ditempuh melalui Soekarno Hatta International Airport – transit di Kuala Lumpur KLIA 2 – Flight Thru dengan Air Asia X ke Haneda International Airport, Tokyo. Jadwal penerbangan kami pukul 08.30 pagi dan kami sudah sampai di Bandara Soetta pukul 05.00 pagi. Terlalu pagi? Tidak juga. Sebenarnya memang sudah ada himbauan dari maskapai bahwa untuk penerbangan internasional dipersiapkan sampai di Bandara 3 jam sebelum keberangkatan. Walaupun pintu check in belum dibuka, tidak ada salahnya untuk menunggu di Bandara lebih lama ketimbang kejebak macet kan? Terlebih hari itu adalah weekdays. Alhasil saya diantar oleh calon suami beserta keluarga saya ke Bandara sebelum Shubuh. Yang pergi bertiga tapi yang nganter rame-rame berasa pergi Haji, haha. Setelah sholat shubuh dan minta doa restu kepada keluarga, berjalanlah kami bertiga ke pintu masuk keberangkatan internasional.


Baru mau masuk udah mejeng :D
Kami menunggu sekitar 30 menit hingga diperbolehkan check in. Penerbangan menuju Kuala Lumpur terasa singkat dan tibalah kami di KLIA 2 pukul 11.30 AM waktu setempat. Kami langsung mencari papan yang bertuliskan Transit, karena kami harus menunggu di Boarding Room tujuan kami selanjutnya yakni Tokyo Haneda. Ini kali pertama saya melakukan penerbangan transit, namun karena papan petunjuk di KLIA lengkap dan tidak membingungkan, maka kami sampai dengan selamat di depan pintu boarding room. 

Berhubung waktu sudah hampir tengah hari, maka sudah saatnya membuka bekal makanan yang dibawa dari rumah. Ngirit? Oh sudah pasti. Selama bisa bawa bekal sendiri kenapa tidak? Kami membawa mashed potatoes dicampur dengan krim keju, susu dan sayuran. Makan kami lahap bener layaknya gak makan seminggu. Tersadar kami tidak punya air minum, kami pun berkeliling ke sekitar boarding room, ternyata ada pengisian air minum gratis. Berbeda dengan bandara Soekarno Hatta yang tidak menyediakan fasilitas isi air minum gratis, di KLIA ada lhoo. Rasa airnya cukup sejuk dan kami bisa mengambil sepuasnya. Kalau di imigrasi Indonesia sudah pasti kena sita. Di KLIA kami juga sembari menunaikan Shalat Dzuhur dan Ashar, karena perjalanan kami selanjutnya akan menghabiskan waktu 7.5 jam di dalam pesawat dan akan tiba tengah malam.

Transit di KLIA 2
Langit terlihat mendung di luar KLIA 2, dan kami mengabarkan keluarga untuk kembali meminta doa restu atas perjalanan kami bertiga. Bismillah, pesawat kami sudah datang. Ini adalah pesawat Air Asia X dengan kode pesawat D7522 yang akan membawa kami terbang dari Kuala Lumpur KLIA 2 menuju destinasi kami yakni Bandara Internasional Tokyo Haneda. Tak lama panggilan untuk masuk ke dalam pesawat pun bergema, tak sabar kami langsung menaiki pesawat, dan ternyata.....

Air Asia X
Makan malam ala-ala Air Asia
 Pertama kami disambut oleh pramugari dengan senyuman khas dan kami berjalan melewati bisnis class, yang sudah pasti bentuk kursinya berbeda lah dengan yang kami pesan *nasiip. Begitu sampai di deretan kursi tengah, saya melongo saking senangnya, pesawat Air Asia X memang berukuran lebih besar ketimbang pesawat Air Asia yang biasa saya naiki. Jika biasanya hanya ada 2 baris yakni baris kiri 3 kursi dan baris kanan 3 kursi. Maka Air Asia X terdiri dari 3 baris, yakni baris kiri 3 kursi, baris tengah 3 kursi dan baris kanan 3 kursi. Kebayang kan lebih luasnya *maap norak abis. Terlebih lagi saat kami bertiga mencari nomor kursi, terdengar pengumuman dari speaker pesawat mengenai informasi-informasi dengan bahasa Melayu, Inggris dan Jepang. Mendengar bahasa Jepang menggema di dalam pesawat, makin tidak sabar rasanya untuk segera sampai di Negeri Sakura tersebut.

Perjalanan panjang yang cukup melelahkan saya habiskan dengan : mengobrol, bercanda, membaca buku, makan-makan sampai tertidur dan terbangun lagi dan tertidur lagi. Hingga sampailah waktu landing kami di Bandara Tokyo Haneda pada pukul 10.30 PM malam hari. Tiba di Bandara kami langsung melihat sekeliling dan sudah pasti ke toilet. Tidak sulit menemukan toilet karena sepanjang di dalam Bandara bertebaran toilet, yang kabarnya memang banyak tombol ajaib. Benar saja, toilet ini memang banyak tombol ajaib yang super keren. Maklum saya belum pernah melihat toilet macem ini sebelumnya di Indonesia. Selepas itu, kami menuju imigrasi Jepang untuk mendapatkan stempel masuk Jepang.

Welcome to Japan
Pertama kali lewat lorong ini langsung nyari toilet
Berbaris rapi antrian pada malam hari itu dengan banyak petugas imigrasi Jepang yang melayani. Begitu sampai antrian saya dan saya dipersilahkan untuk maju, saya sangat terkesan dengan petugas imigrasi Jepang. Dengan budaya kerja Jepang, petugas tersebut tersenyum menyambut saya dan menyapa “Konbanwa” yang artinya selamat malam. Saya pun refleks membalas senyum lebar sambil menjawab "Konbanwa". Aaarggghhhh!! Petugas tersebut mulai membuka paspor milik saya dan memeriksa Visa milik saya. Tak lama saya diminta untuk meletakan jari saya di mesin pengindai sidik jari dan memposisikan mata saya di kamera yang disediakan, mungkin untuk pemotretan *eh. Setelah proses singkat tersebut selesai, ia tersenyum mengembalikan paspor milik saya sambil mengucapkan “Arigatou Gozaimasu” yang artinya “Terima kasih”. Saya berjalan menjauhi kounter petugas imigrasi tersebut masih dengan perasaan excited luar biasa. Baru kali ini seumur-umur saya berhadapan dengan petugas imigrasi yang disambut hangat dan penuh senyum, bahkan untuk jam tengah malam. Bahkan yang sering saya temui, di pagi hari pun petugas imigrasi juga jarang senyum :D Namun Jepang ternyata berbeda, luar biasa.


Denah Haneda Intl Airport kalau nyasar
Tidur darurat di bandara Haneda

Karena waktu menunjukan sudah tengah malam tidak mungkin untuk berkeliaran apalagi mencari penginapan, maka kami memutuskan untuk menginap di Bandara Haneda dan menunggu pagi hari. Kami sudah berencana akan menginap di Bandara setelah sebelumnya saya googling apakah bisa menginap di bandara Haneda, dan ternyata banyaaaakk yang menginap di sana. Begitu keluar dari imigrasi Jepang, langsung terhampar deretan kursi-kursi yang siap untuk jadi alas tidur :D Awalnya saya masih ragu untuk tidur merebahkan badan, karena banyak petugas yang berkeliaran, namun lama-lama saya menyadari bahwa memang diperbolehkan untuk tidur di ruangan tersebut. Banyak yang saya lihat merebahkan badan dengan santai sambil menaikan kaki di atas koper miliknya. Petugas memang berkeliaran untuk berjaga-jaga saja, tidak pernah menegur dan melarang, jadi amaaaaan~ Kendati demikian, jangan lupa untuk tetap menjaga barang barang yang kamu bawa ya, misalnya ransel kecil digunakan untuk bantalan kepala, sedangkan koper besar dijadikan alas untuk merebahkan kaki.

Mau begadang semalaman? Boleh juga. Kamu tidak akan bosan menunggu pagi karena di bandara ini tersedia fasilitas free Wifii dengan kecepatan super yang akan menemani kamu semalaman. Jangan khawatir juga baterai HP habis, karena tersedia banyak meja yang dilengkapi dengan stop kontak yang bisa dipakai sepuasnya untuk cas HP. Tidak jauh dari tempat duduk kami terdapat pula smoking room untuk pengunjung. Adik saya sempat menengok ke dalam, ia bercerita bahwa smoking roomnya luas dan bersih, lebih mirip kafe daripada tempat merokok gratis

Setelah beristirahat semalaman, Shubuh pun tiba, kami shalat di ruangan Bandara tersebut dengan menggelar sajadah :D Untuk akses air minum, di ruangan tersebut juga ada air minum gratis untuk isi ulang. Ketika saya mencoba untuk mengisi ulang botol minum milik saya, luar biasa airnya superrrr dingin kayak dari kulkas. Segaaaar. Maklum norak, saya langsung minum banyak :D Tersedia juga loker penyimpanan barang, toilet dan ruang ibu hamil dan menyusui. Ruangan tersebut bisa dipergunakan juga untuk bayi atau balita yang ingin berganti popok, dengan fasilitas beberapa kasur bersabuk pengaman yang berjejer serta sebuah mesin entah apa gunanya, saya belum pernah mencobanya (berhubung tulisannya juga bahasa Jepang semua). Jepang ramah sekali untuk ibu-ibu yang memiliki bayi dan balita yaaaa :D


Tombol toilet Jepang
Demikian hari pertama menginjakkan kaki di negera Jepang yang selama ini saya mimpikan, tidak sabar untuk petualangan berikutnya.

Salam,
Noni Halimi      

Wednesday, July 22, 2015

Spore - KL Trip Day 3 (Dataran Merdeka - Petrosains - Chow Kit - KL Sentral - JB Sentral)

Pagi hari kami dimulai dengan nyari sarapan gratis di kitchen area Back Home Hostel Kuala Lumpur. Hostel ini memang menyediakan sarapan gratis pagi hari untuk customer yang menginap. Sarapannya sih hanya roti dengan pilihan selai kacang, strawberry. Untuk sereal bisa dicampur dengan susu plain. Untuk pilihan minuman bisa susu, kopi, teh atau air mineral untuk bekal perjalanan. Fasilitas sarapan gratis menjadi salah satu alasan dalam pemilihan hostel untuk menginap. Irit dan efisien itu perlu ibuk-ibuk. Selesai sarapan, saatnya bertualang seharian dengan itinerary : Dataran Merdeka (Samad Building – KL City Gallery – KL Discover City), Petrosains, dan Chow Kit.

Jarak tempuh dari Back Home Hostel menuju Dataran Merdeka cukup dekat, karena lokasi Dataran Merdeka tidak jauh dari Masjid Jamek dan Pasar Seni. Sambil olah raga pagi, kami berjalan menuju Dataran Merdeka. Sebenarnya banyak yang bisa dilihat di Dataran Merdeka, selain Samad Building, Museum Tenun, KL City Gallery, KL Library dan masih banyak lagi. Dataran Merdeka sering dipergunakan untuk acara nasional KL. Biasanya jika ada event khusus, jalan raya Dataran Merdeka akan ditutup dan dikhususkan untuk acara tersebut. Terlebih, persis di depan bangunan Sultan Abdul Samad terdapat lapangan luas. Di lapangan inilah biasanya acara digelar. Ibaratnya kalau di Indonesia yaa acara layar tancep atau dangdutan kali yaaa..


Sensasi KL Discover City
Biasanya dalam satu pekan terdapat hari-hari khusus city tour keliling Dataran Merdeka dipandu dengan tour guide dari Malaysia secara gratis tisss khusus untuk wisatawan. Namun apa daya, saya lebih suka eksplore dan sotoy sendiri ketimbang ikut rombongan tour. Waktu perjalanan lebih fleksibel dan efektif ketimbang ikut tour dengan 1 lokasi Dataran Merdeka bisa menghabiskan waktu setengah hari lebih. Weeew, rugi saya.

Alhasil kami foto-foto saja di Dataran Merdeka dan langsung menuju KL City Gallery. Saya memang berencana masuk KL City Gallery karena berniat menunjukan KL Discover City kepada suami saya yang belum pernah merasakannya.  Terakhir kali saya masuk KL City Gallery sih free of charge alias gratis, namun saat saya dan suami masuk, ternyata harus bayar tiket masuk seharga 5 RM per orang dan bisa di redeem dengan souvenir seharga 5 RM yang ada di souvenir shop. JIka ingin membeli lebih dari 5 RM maka cukup menambahkan saja. Wah baru nih. Ide bagus juga sih menerapkan system redeem souvenir untuk tiket masuk, jadi paling pengunjung yang dating sudah pasti akan membeli souvenir. Nggak kaya saya saat dulu ke KL City Gallery, mana masuknya gratis, sampai souvenir shop juga nggak beli apa-apa. Duh miris! Hahaha.

Di dalam KL City Gallery terdapat sejarah Kuala Lumpur dari jaman dahulu kala bahkan ada masa penjajahan Inggris. Ditampilkan juga papan sejarah serta maket gedung-gedung terkenal di Kuala Lumpur. Semuanya berkesan. Saat kami ke sana bulan Maret masih dalam suasana imlek, maka dekorasi KL City Gallery pun berubah menjadi imlek ria. Tak lupa kami mengabadikan dengan foto-foto. Berjalan ke lantai 2, terdapat KL Discover City yang saya ceritakan sebelumnya. Tak sabar saya menonton pertunjukannya.



Saat masuk ke ruangan seperti biasa lampu padam gelap dan tidak terlihat apa pun. Karena saya sudah pernah sebelumnya ke sana, jadi santai saja dan sudah tahu apa yang akan terjadi. Sedangkan suami saya karena kali pertama ke sana mulai bingung, ada apa ruangan gelap-gelap seperti ini. Haha. Tak lama, muncul suara dari layar jumbo di depan kami, bertuliskan besar Selamat datang di Kuala Lumpur. Saya langsung merinding saking kerennya itu backsound :P Ada hal yang membuat saya tak percuma ke sana dua kali, karena ternyata backsound dan isi videonya sudah mengalami banyak revisi, makin keren. Jadi kami disuguhkan video pemandu wisata melalui layar besar, tempat wisata di KL, makanan, tempat berbelanja, transportasi, kedudukan Malaysia di mata dunia, penghargaan untuk Malaysia, visi dan misi Malaysia, serta rencana kerja pembangunan yang akan dilakukan Malaysia hingga 2020 mendatang. Semuanya dikemas menarik ditambah dengan maket jumbo suasana Kuala Lumpur dengan kerlap kerlip warna persis di depan kami. Semuanya seirama dan membangkitkan semangat penonton. Sampai hamper tak berkedip saya menontonnya. Terlalu keren. Okeh ini nggak lebay, kamu mesti cobain sensasinya sendiri.

Usai pertunjukan rasanya pengen tepuk tangan sambil salto, andai di Indonesia juga dibuat seperti ini pasti akan keren, hanya saja niat salto saya urungkan mengingat di sekitar saya juga ada turis-turis lain yang menonton :D 

Di lantai bawah persis di dekat pintu keluar kami akan melewati Souvenir Shop yang tadi saya ceritakan. Ada pula pemahat dan seniman yang sedang membuat ukiran souvenir di dalam ruangan kaca. Pengunjung bisa melihatnya dari luar apa yang sedang mereka buat. Untuk harga souvenir beragam dari 5 RM sampai puluhan RM, tergantung jenis dan selera. Namun Arch Gallery ini lebih banyak mengedepankan konsep ukiran kayu, sehingga banyak souvenir yang berbentu kayu ukir, sangat cantik. Saya mencari harga souvenir 10 RM karena saya memiliki voucher 10 RM untuk di redeem. Saya memutuskan untuk membeli tempat kartu ukiran menara Petronas yang rencananya akan saya berikan ke Bapak untuk oleh-oleh.

Pulang dari Dataran Merdeka kami mencoba naik bus gratis yang bernama Go KL. Berhubung waktunya sempit, kami hanya mencoba beberapa halte saja dan langsung turun di dekat Back Home Hostel Kuala Lumpur untuk check out sebelum pukul 11.00. Dengan membawa koper dan barang bawaan, kami bergegas untuk ke KL Sentral untuk menitipkan koper merah supaya nggak rempong cyiiin… Perjalanan di lanjutkan ke LRT KLCC untuk shalat Jumat dan bermain di Petrosains. Sebelumnya kami mampir lagi di Shahira depan pintu keluar LRT Masjid Jamek untuk makan siang. Belum bisa move on dari Nasi Lemaknya yang sedaaaapp….


Jangan khawatir bingung shalat Jumat di mana, karena Malaysia tersebar surau dan Masjid yang cukup banyak. Untuk lokasi Masjid yang bisa shalat Jumat ada di dalam Mall Suria KLCC bagian belakang dekat miniatur mobil balap F1. Lokasi Masjid ada di lantai atas dengan menaiki sisi kanan atau kiri tangga. Masjid akan ditutup bagi perempuan saat jam Shalat Jumat, demikian halnya dengan Masjid lainnya di KL. Selama menunggu suami Jumatan, saya mencari surau terdekat untuk menunaikan Shalat Dzuhur. Letak surau di Mall Suria KLCC ada di lantai C dekat dengan Candylicious. Surau yang bersih dan nyaman tersebut khusus untuk wanita.

Usai Jumatan, kami bertemu kembali di meeting point pintu masuk Suria KLCC (maklum tidak ada alat komunikasi, paket pun tidak ada, kami hanya mengandalkan wifi). Saat seperti ini janjian di meeting point sangat penting, ala-ala Adam dan Siti Hawa yang ketemu di Jabal Rahmah. Untungnya pertemuan kami tidak disertai drama berpelukan dan mengharu  biru ala sinetron. Kami tidak membuang waktu, langsung menuju ke Petrosains.

Bermain Sambil Belajar di Petrosains, Suria KLCC

Petrosains adalah wahana bermain dan berlajar untuk anak-anak dan dewasa yang terletak di dalam Mall Suria KLCC lantai 4. Harga tiket masuknya 25 RM untuk dewasa, jika menunjukan ID Card Malaysia akan mendapatkan potongan harga. Sayangnya kami tidak punya (ya iyalaaah). Masuk ke dalam Petrosains tidak diperkenankan membawa tas berlebih bahkan ransel sekali pun, sehingga ransel milik suami saya dititipkan di loker yang disediakan di dekat pintu masuk. Loker ini tidak berbayar, dan barang bisa diambil kembali ketika sudah selesai berpetualang di Petrosains.


Kounter tiket Petrosains sudah bisa melayani pembelian tiket dari pukul 08.30 pagi. Sedangkan untuk jam operasional Petrosains dimulai pukul 09.00. Jam masuk terakhir pukul 16.00 dan Petrosains akan tutup pada pukul 17.00. Saran saya jika ingin bermain di Petrosains dari pagi atau menjelang siang, jangan terlalu sore karena cukup sayang jika hanya berkunjung sebentar. Di dalam Petrosains terdapat banyak wahana edukasi yang menarik untuk dicoba dan ditonton, mirip denan PPIPTEK di Yogyakarta atau Museum PPIPTEK di Taman Mini, namun Petrosains lebih beragam, futuristic dan lebih modern ketimbang milik kita. Saat masuk pun cukup membuat antrian panjang karena menggunakan kereta berisi 6-8 pengunjung untuk membawa kami masuk ke dalam Petrosains. Keretanya mirip dengan wahana di Universal Studios Singapore wahana Transformers.


Beberapa wahana yang membuat saya cukup tertarik adalah kami mencoba simulasi menaiki roket dengan kecepatan ratusan KPH (kilometers per hour) dengan masuk ke ruangan ala-ala roket dan angin kencang yang berhembus di dalamnya seolah-olah kami sedang terbang ke angkasa dengan kecepatan roket. Wuuussh. Selain itu ada percobaan kendaraan di luar angkasa dan mencoba baju astronot. Terlalu banyak permainan dan percobaan yang ada di dalam Petrosains sampai waktu sehari sepertinya tidak cukup untuk eksplorasi semua alatnya. Terlebih lagi banyak juga wahana bermain kilang minyak dengan pipa-pipa yang besar serta perosotan anak yang panjang. Memang destinasi wisata yang cocok untuk anak kecil usia SD atau SMP.

Setelah cukup puas bermain di Petrosains, kami melanjutkan perjalan ke Chow Kit untuk berburu cokelat. Saya memang berencana membeli cokelat di KL, bukan di Singapura karena harga cokelat di KL jauh lebih bersahabat ketimbang cokelat di Singapura. Terlebih saya lebih suka cokelat KL yang sebelas dua belas sama cokelat di Batam. Kami pun berencana akan membeli cokelat di bilangan Chow Kit, nama tokonya adalah Chow Kit WLH C&C S/B yang terletak 105 Lekong Raja Laut A, Chow Kit, Malaysia. Ini kali pertama saya mencoba ke toko tersebut, denger-denger sih banyak yang murah, well see then..

Belanja Coklat Murah di Chow Kit, Kuala Lumpur, Malaysia 

Bingung mau beli coklat murah di Kuala Lumpur? Dimana tempat membeki coklat murah di Kuala Lumpur? Belanja coklat di Chow Kit bisa menjadi salah satu alternatifnya. Sampai di Chow Kit, kami turun dari monorail dan ke jalan raya. Lekong Raja Laut tidak jauh dari stesen monorail chowkit, jalan lurus ke arah Pasar Chow Kit hanya melewati satu gang saja maka sudah sampailah kita di Chow Kit W.L.H C&C S/B persis di seberang Pasar Chow Kit. Saya lupa kepanjangan dari W.L.H C&C S/B ini apa, yang jelas saat itu hari hujan rintik-rintik, saya dan suami berlarian langsung masuk ke toko tersebut. Sebenarnya ini bukan toko kecil, lebih seperti gudang ala-ala Makro tempo dulu. Dari luar tidak terlihat brand swalayan atau sejenisnya, persis mirip gudang. Ketika sampai di dalam pun mirip Makro yang isinya rak-rak tinggi dengan penuh berbagai macam makanan dari mulai makanan kemasan, minuman botol, sirup, minuman berbagai rasa, botol kecap, saus, sampai tak lupa berbagai jenis coklat dan cemilan. Lantainya pun semen biasa, persis lah kaya gudang.


Lokasi cokelat dan cemilan agak di pojok, kamu akan mudah menemukannya.  Saran saya, ambil troli untuk berbelanja, karena kamu akan kalap berbelanja cokelat di sini. Bayangkan saja, berbagai jenis cokelat, permen dan cemilan dijual dalam jumlah pack besar dan harga yang relatif murah. Sebut saja 1 plastik besar Roka dihargai 7.2 RM atau 28.000 IDR (kurs 3900 IDR). Beli 6 plastik malah diskon menjadi 41.40 RM. Belum lagi cokelat dan biskuit lain seperti Apollo seharga 5.10 RM sampai 6.5RM per box besar. Bagaimana tidak kalap? Yak an yak an? Bukan hanya itu, berbagai permen dan manisan bertebaran di sini dengan jumlah yang banyak, dari permen karet bentuk buah-buahan, permen cokelat bulat warna warni, choky-choky, cokelat batang, cokelat koin, agar-agar, sampai marshmallow. Untuk halal atau tidak silakan cek di kemasan, banyak juga kok label halal pada makanan-makanan tersebut. Jangan sampai ambil yang tanpa logo Halal MUI Malaysia yaah..

Puas belanja dengan menggotong berkilo-kilo coklat dengan harga murah (harta karum kamiiiiii) perjalanan di lanjutkan ke KL Sentral untuk mengambil koper kami dan menunggu kereta Senandung Sutera dari KL Sentral menuju terminal JB Sentral. Kereta berangkat pukul 23.30 dari KL Sentral dan akan tiba di JB Sentral pukul 06.50 pagi. Kebetulan kami belum berkemas isi belanjaan coklat yang luar biasa banyak itu lhooo, rencananya kami akan membongkar muat di kasur dalam kereta Senandung Sutera :D Tiket sudah saya kantongin dengan sotoy mendalam inget kata-kata cikgu di JB Sentral hari kemarin, kalau tiket kepulangan saya dan suami bisa digunakan dan sudah dikonfirmasi, sehingga saya tidak perlu membeli tiket lagi.

Saat kereta datang, kami langsung memcari tempat tidur kami yang kami pesan berseberangan di kasur bawah. Saya langsung membongkar isi koper dan menyusun cokelat-cokelat tadi ke dalamnya. Suami saya dengan sigap menyerahkan semua bawaannya untuk saya susun (dasar deeehhh). Saya packing di atas kereta yang sudah berjalan. Setelah semua packing selesai, saya kembali dag dig dug menunggu pemeriksaan karcis. Semoga memang tiket kami valid ya, berhubung tiket berangkat agak kacau. Tak lama petugas kereta pun dating untuk memeriksa karcis per gerbong. Saya langsung menunjukan hasil print tiket kami yang berbentuk sehelai kertas HVS yang sudah dilipat lemas bentuknya, haha. Petugas memeriksa sejenak, kemudian mengembalikan kepada saya dengan mengucapkan terima kasih, ia pun beralih  ke kasur berikutnya. Legaaaaaaaa…tiket kami bisa dipergunakan. Kalau tidak, mungkin akan diturunkan di stasiun depan hehe.. -Noni Halimi

Spore - KL Trip Day 2 (KL Sentral - Batu Caves - Masjid Jamek - Pasar Seni - Back Home - Petaling Street - Raja Alang - KLCC)

Selamat pagi Kuala Lumpur, Malaysia.

Pukul 06.50 kami sudah mendarat dengan selamat di stasiun pemberhentian KTMB KL Sentral. Kami segera menurunkan koper, bergegas keluar dan langsung mencari hall utama KL Sentral. Ini kali pertama saya menggunakan KTMB antar kota, sehingga kurang familiar dengan lokasinya. Namun segera saya rekam lokasinya sehingga kali kedua saya ke sana tidak bingung. Tidak sulit menemukan hall utama KL Sentral, kami hanya perlu naik ke lantai 1.
KL Sentral merupakan tempat bertemunya berbagai moda transportasi di Malaysia baik Kereta, Taxi, Bus. Ada  4 jenis transportasi berbasis rel di Kuala Lumpur: KL Monorail, LRT (light rapid transit), KTM Komuter, dan KLIA Ekspres / KLIA Transit. Keempatnya dikenal sebagai sebuah sistem bernama Klang Valley Integrated Rail Transit.

KL Sentral memiliki tempat penyimpanan barang atau loker yang berlokasi di lantai 1 dekat surau/musholla. Berjejer puluhan loker dengan berbagai ukuran dari ukuran kecil, sedang hingg besar. Cara pemesanan loker cukup mudah, kamu hanya perlu membeli koin/token di penjaga loker seharga 5 RM untuk sekali pakai. Cari saja loker yang masih kosong, masukan barang bawaan yang akan disimpan, tutup loker dan masukkan token. Setelah itu kunci dan kamu boleh meninggalkan loker tersebut. Saran saya, foto lokasi loker untuk memudahkan mengingat lokasi ketika kamu sudah kembali dan berniat mengambil barang.

Di Malaysia saya tidak membeli kartu touris pass, saya selalu menggunakan uang receh untuk pembelian token secara harian di mesin pemesanan tiket. KTM Komuter berada di platform 3, ikuti saja petunjuk jalan yang mengarahkan ke kereta komuter. Tujuan kami adalah membeli tiket KTM Komuter Batu Caves seharga 2 RM per orang. 

Kereta berangkat pukul 08.30 dengan kondisi masih kosong plong segar bugar, kami yang belum mandi hanya bekal cuci muka sikat gigi di toilet KL Sentral jadi ikutan segar. Sampai di Batu Caves jam 09.00, kami masuk melalui pintu samping Batu Caves yang letaknya persis di depan stasiun KTM Batu Caves. Udara masih dingin sangat cocok untuk mendaki ratusan anak tangga ke atas Batu Caves, memang paling cocok ke sini pagi atau sore hari ketika matahari tidak menyengat. Setelah puas naik ke ujung atas dan kembali turun, kami menghabiskan waktu sampai jam 09.30. Singkat? Iyalah ngapain lama-lama di sana, yang penting cukup foto dan mendaki anak tangga sampai habis :D. Kami kembali ke stasiun pukul 09.45 untuk beli tiket KL sentral 2 RM masuk dr platform 1 jurusan Pelabuhan Klang menuju LRT Masjid Jamek.

Sampai di pintu keluar LRT Pasar Masjid Jamek, berhubung laparnya luar biasa, kami baru sempat sarapan roti, maka saatnya untuk membeli gorengan tusuk khas Kuala Lumpur yang banyak di jual di pinggir jalan. Harganya 1 RM sampai 1.2 RM per tusuk. Jenis gorengan satenya macam-macam, ada baso, sausage besar, sosis kecil, otak-otak, nuggets, udang galah, dan lain sebagainya. Gorengan tusuk itu dimakan bersama dengan saus atau chilli. Nyaaamm.

Lepas makan cemilan tadi, kami bergegas ke restoran Sahira untuk sarapan menjelang makan siang yang agak berat. Saya memesan Nasi Lemak Ayam dan suami saya memesan nasi briyani ayam. Restoran orang Malaysia ini sebelas dua belas dengan restoran India maupun Arab, porsinya buanyak bener. Rasa nasi lemaknya sangat enaaaak, ini termasuk nasi lemak yang terenak selama saya mencoba ke Kuala Lumpur. Kalau nasi briyani masih lebih enak milik Singapore Zam-Zam. Over all, lumayan banget makan di sini, harganya pun terjangkau. Kami sengaja tidak memesan minum karena masih memiliki air mineral. Kami juga berencana membeli ais sirap (es sirop) warna warni yang mejeng di tempat jualan gorengan tusuk tadi. Ada rasa melon, jeruk, mangga, milo, lobak dan lain sebagainya. Kami pesan ais sirap melon warna hijau yang rasanya menggiurkan seharga 2 RM saja.

Dari LRT Masjd Jamek menuju Pasar Seni cukup dekat jaraknya, hanya dengan berjalan kaki berapa ratus meter kamu sudah akan sampai di belakang Kasturi Walk Pasar Seni. Kami hanya melihat-lihat sebentar karena memang tidak berniat belanja di sana hehehe. Memang di Pasar Seni banyak menjual berbagai kerajinan tangan khas Malaysia dan cinderamata Malaysia, namun harganya tidak cukup bersahabat untuk traveler kere macem kami, saya lebih tertarik membeli souvenir di Petaling Street yang bentuknya emperan pasar dan menjunjung tinggi tawar menawar harga (emak-emak banget). Boleeeeh laaa..

Setelah puas dan lelah keliling Pasar Seni dan lupa foto-foto, kami menuju penginapan Back Home Kuala Lumpur untuk meletakan barang bawaan dan beristirahat sejenak. Dari Pasar Seni kami berjalan kaki menuju Back Home Kuala Lumpur. Lokasinya tidak jauh dari Stesen LRT Masjid Jamek, kamu hanya ikuti jalan searah dengan Mesjid Jamek, kemudian di perempatan  belok kiri. Alamat Back Home Kuala Lumpur Jalan Tun H S Lee, 50100 Kuala Lumpur, Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur, Malaysia. Hostel ini ada di pinggir jalan dan sangat eye catching tulisannya sehingga mudah untuk ditemukan. Setelah check in dan meletakan barang bawaan, kami terkapar beristirahat beberapa jam.

Sore hari lepas mandi dan berberes kamar, kami langsung menuju ke Petaling Street. Pasar ini merupakan pasar tempat jual beli souvenir, buah, makanan, tas, dompet dan berbagai macam barang dagangan dengan harga yang cukup murah. Pasar ini memang baru buka menjelang sore, sehingga apabila kamu ingin berbelanja maka waktu terbaik adalah sore hari atau malam hari. Menjelang malam di Petaling Street juga banyak yang membuka restoran makanan pinggir jalan yang menyajikan berbagai jenis makanan Malaysia. Saya belum pernah sih mencoba makan di Petaling Street, karena ini kampong China sehingga banyak makanan tidak halal, sehingga saya tidak pernah memutuskan untuk makan di Petaling. Saya menemukan timbangan koper lucu seharga 18 RM di Petaling. Lumayan murah setelah nego harga dari 20 RM ke 18 RM :D

Dari Petaling Street ke Pasar Seni sangat dekat, kamu hanya perlu berjalan kaki menyusuri depan Petaling Street, dan sampailah di Pasar Seni dan Stesen LRT Pasar Seni. Tujuan kami selanjutnya adalah ke Stesen LRT Dang Wangi, kemudian menyebrang ke Monorail Bukit Nanas. Dari pintu keluar stesen Dang Wangi ada escalator di jalan raya untuk menyeberang ke arah monorail Bukit Nanas. Kami harus menyeberang, karena kereta yang akan kami naiki berbeda dengan laluan LRT. Harga tiket Monorail dari stesen Bukit Nanas ke stesen Medan Tuanku 1.2 RM per orang. Kami sampai di Medan Tuanku sekitar pukul 20.00.

Waktu yang pas untuk makan malam di Jalan Raja Alang. Di sana banyak restoran pinggir jalan yang menjual makanan lezat, tahun lalu saya ke sana saat bulan Ramadhan dan Jalan Raja Alang ini dipenuhi dengan jejeran tenda bazaar Ramadhan menjelang berbuka puasa. Luar biasa. Saya berencana makan di restoran Mazni. Dalam perjalan dari stesen Monorail Medan Tuanku ke Raja Alang, kami melewati Tune Hotel Down Town KL, tempat saya dan keluarga saya menginap saat Ramadhan ke KL. Saya dapat pesan dari Bapak Ibu saya untuk membeli cokelat Arab yang berukuran 2 kg per kemasan seharga 40 RM di swalayan Arab. Berjajaran dengan Tune Hotel memang banyak sekali swalayan Arab yang menjual cokelat. Lepas beli cokelat kami berjalan lurus menuju Jalan Raja Alang.

Sesampainya di Mazni restoran, kami langsung memesan Tom Yam Sotong 6 RM dan Tom Yam campur 5 RM lengkap dengan teh tariknya. Total makan malam kami sebanyak 14.5 RM. Lumayan bersahabat di kantong.  Tom Yam Mazni memang terkenal gurihnya, walapun fotonya kurang menggiurkan efek kamera, percayalah rasanya super dan wajib di coba.

Kenyang dengan tom yam hangat di malam hari, kami melanjutkan perjalanan ke Stesen Chow Kit yang lokasinya tidak jauh dari Jalan Raja Alang. Dari Chow Kit kami kembali ke monorail Bukit Nanas seharaga 1.3 RM dan menyebrang ke LRT Dang Wangi untuk menuju ke LRT KLCC sebesar 1 RM. Ada apa di KLCC? Apalagi kalau bukan Twin Tower Petronas, kami ingin mengambil foto malam hari. Keluar dari LRT KLCC ambil kea rah Ampang, dari sana akan langsung tembus ke Jalan Ampang yang berlokasi persis di depan Suriah KLCC. Untuk menuju Twin Tower dari Suriah KLCC cukup mudah, kamu hanya masuk ke Suriah KLCC dan ikuti petujuk jalan kea rah belakang gedung dan sampailah di taman Twin Tower Petronas dengan air mancur dan taburan lampu hias warna. Di situlah spor terbaik untuk mengambil gambar twin tower secara utuh. Kami menghabiskan waktu di petronas hingga pukul 22.00 kemudian dilanjutkan untuk kembali ke hostel Back Home.

Kami pulang pukul 22.00 dari stesen LRT KLCC ke LRT Masjid Jamek dengan biaya 1.3 RM per orang. Perjalanan yang cukup melelahkan untuk hari ini. Saatnya beristirahat dan mempersiapkan untuk perjalanan esok pagi.