Showing posts with label low budget. Show all posts
Showing posts with label low budget. Show all posts

Tuesday, October 6, 2015

Japan Trip : Shibuya Crossing + Shibuya 109 (01 Nov 2014)


Shibuya merupakan salah satu tempat terkenal di Tokyo dengan ciri khas hiruk pikuk kota metropolitan, salah satu pusat mode dan fashion Jepang, serta salah satu pusat perbelanjaan dan bisnis di kota Tokyo. Saking sibuknya kota ini seperti hampir tidak pernah tidur, selalu ramai akan pengunjung. Salah satu tempat khas di Shibuya ini adalah perempatan jalan raya yang penuh lalu lalang kendaraan dan pejalan kaki, sudut kota Shibuya tersebut sering disebut dengan Shibuya Crossing atau Persimpangan Shibuya.

Shibuya Crossing ini sangat fenomenal karena ribuan pejalan kaki berkumpul silih berganti menyebrangi persimpangan Shibuya, saling bersilangan satu sama lain dengan irama yang cepat. Setiap dua menit sekali lampu hijau untuk pejalan kaki menyala, tiba-tiba entah dari berbagai penjuru begitu banyak manusia yang menyebrang. Hingga lampu untuk pejalan kaki mati bergantian dengan kendaraan, maka dalam hitungan detik jalan raya sudah bersih dari manusia, bergantikan kendaraan. Pejalan kaki yang super penuh tersebut bergerak berpacu dengan waktu. Fenomena lalu lalang di Shibuya Crossing hingga pengosongan jalan raya dari manusia untuk dilewati oleh kendaraan menjadi pemandangan yang sangat unik dan seru untuk dinikmati bagi turis yang berkesempatan ke Shibuya.

Shibuya Crossing
Semakin malam maka semakin ramai, terutama jika hari libur. Saat saya ke Shibuya saat itu sudah malam hari dan turun hujan sehingga tidak bisa mengabadikan fenomena Shibuya Crossing dengan maksimal, namun saya tetap bisa merasakan aura kesibukan Shibuya malam tersebut. Orang datang dari berbagai arah persimpangan jalan berkumpul dalam satu titik dan bersilangan. Yang mendebarkan adalah ketika kita menyebrang jalan, saking banyaknya persimpangan, jika kita tidak konsentrasi menyebrang ke arah mana, maka kita bisa terbawa arus orang-orang. Semua bergerak cepat dan tergesa.

Jadi inget komik Gals
Sudah hampir tutup
Persis di depan Shibuya Crossing terdapat gedung Shibuya 109, yakni sebuah toko serba ada yang merupakan ikon distrik Shibuya. Pada awalnya Shibuya 109 merupakan toko-toko busana wanita usia 25 sampai 30 tahun, namun kini sudah bergeser menjadi tren anak muda sehingga kawasan ini jauh lebih banyak didominasi oleh kaum muda usia remaja. Mereka sering berkumpul, berbelanja dan sekedar duduk-duduk di Shibuya 109 dengan mengenakan berbagai macam kostum unik. Jika kamu ingin berbelanja di Shibuya 109 maka kamu akan banyak menemukan fashion trendy Jepang dengan berbagai mode. Jika beruntung, maka kamu bisa mendapatkan dengan harga murah, karena tidak jarang juga toko-toko di Shibuya 109 yang memberikan diskon besar-besaran. Untuk melihat informasi toko setiap lantai dan barang apa saja yang dijual di Shibuya 109, maka kamu bisa mengakses http://www.shibuya109.jp/en/



Salam,
Noni Halimi

Thursday, July 23, 2015

Review Submarine Guest House Kuala Lumpur, Malaysia

KELEBIHAN (+)
1. Harganya super murah dan sangat terjangkau
2. Lokasi strategis dekat Pasar Seni dan Petaling Street, akses LRT Pasar Seni
3. Air panas 24jam
4. Akses wifi gratis
5. Aman, karena masih di area jalan besar
6. Dekat dengan lokasi wisata
7. Sarapan gratis
8. Petugas ramah dan fasih berbahasa inggris
9. Hostel dilengkapi dengan fasilitas cctv
10. Cukup bersih dan nyaman
11. Kasur twin dengan ukuran yang cukup
12. Dapat blanket
13. Bayar ditempat secara tunai

KEKURANGAN (-)
1. Lokasi hostel ada di dalam ruko yang berada di lantai 2. Agak repit angkut-angkut koper
2. Suasananya super sunyi, jadi lumayan berbisik-bisik kalau mau mengobrol dengan travelmate terutama jika sudah malam

--------
Submarine Guest House
Website : http://www.submarinehotels.com/
Booking : 
Location : Central Market 2
Jalan Hang Kasturi, Kuala Lumpur, Malaysia
Access : LRT Pasar Seni
Pict Source : Google
Pintu depan
Ruang tunggu dan ruang santai
Kamar mandi
Kamar tidur

Review ABC Backpackers Hostel Singapura

KELEBIHAN (+) :
1. Harga terjangkau
2. Lokasi strategis. Lokasi ABC Backpacker hostel terletak tidak jauh dari stasiun MRT Bugis. Hanya perlu berjalan kaki beberapa ratus meter di Jalan Victoria, maka tak lama kamu akan menemukan Jl. Kubor lokasi ABC Backpacker Hostel.
3. Aman, karena masih di area jalan besar Victoria Street
4. Bersih dan nyaman
5. Air panas berfungsi 24 jam
6. Akses wifi 24 jam gratis
7. Sarapan gratis sepuasnya, malah bisa untuk bekal sarapan di jalan
8. Ada kulkas untuk menitip makanan atau minuman dingin
9. Petugas yang ramah, berwawasan mengenai tempat wisata, dan fasih berbahasa inggris.
10. Kamar AC
11. Ada female dormitory
12. Banyak WNI yang menginap dan hostel ini cukup tenar di kalangan wisatawan Indonesia

KEKURANGAN (-) :
1. Perhatikan AC kamar, saat itu AC kamar saya agak bermasalah sehingga bocor mengeluarkan air
2. Kamarnya banyak, sehingga antrian kamar mandi pun panjang, saran saya untuk mandi pagi hari sekali saat para turis masih tidur.

----------------
ABC Backpackers Hostel 
Loacation : 3 Jln Kubor, Singapore 199201
Booking : booking.com
MRT Access : MRT Bugis
Pict Source : Google


Wednesday, July 22, 2015

Review Back Home Kuala Lumpur, Malaysia


Back Home merupakan salah satu tempat menginap yang low budget di Kuala Lumpur. Harganya yang cukup terjangkau tidak menjadikan hostel ini kalah saing dari segi fasilitas dan lokasi. Hostel ini berlokasi yang cukup strategis yakni 30, Jalan Tun H S Lee, 50100 Kuala Lumpur, Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur, Malaysia, Telp.+60 3-2022 0788. Lokasinya dekat dengan stasiun LRT Masjid Jamek, hanya berjalan kaki berapa ratus meter dan sampailah di sepanjang jalan bertuliskan Back Home. Akses penginapan yang dekat dengan LRT sangat menguntungkan dan jadi pertimbangan di Kuala Lumpur, Malaysia. Pasalnya, kamu akan banyak berkeliling tempat wisata menggunakan moda transportasi umum seperti LRT atau bus kota. Jika akses penginapan sulit untuk ditempuh jalur LRT atau bus kota, maka kamu akan banyak membuang tenaga dan efisiensi waktu. Maka carilah hostel yang dekat dengan akses transportasi.

Pada Maret 2015 silam kebetulan saya menginap di Back Home Hostel. Harga kamarnya 120 MYR per malam untuk double bed atau senilai 456.000 IDR (kurs 3800 IDR) untuk dua orang. Sebenarnya masih ada yang harganya hampir sama dengan Back Home, namun saya mencoba memilih Back Home, lumayan nyobain hostel yang berbeda-beda. Harganya cukup worth it, sebanding dengan apa yang kamu dapat. Lokasi strategis, kamar yang cukup luas, suasana yang cozy dan homy sekali, sarapan gratis, ada tempat penitipan barang, kamar mandi yang bersih. Semuanya sudah cukup menjadi dasar penilaian hostel tersebut cukup baik. Tak lupa melihat review dan rating yang diberikan di trip advisor, maka kamu akan semakin yakin memilih hostel ini.

Back Home mempersilahkan kepada customer yang ingin early check in tanpa mengenakan biaya tambahan apa pun. Saya memesan kamar menggunakan situs booking.com, sengaja cari yang gratisan, jadi booking bisa kapan saja, cancel jg tanpa biaya, dan pembayaran dilakukan 100 persen di tempat. Akses internet wifi ada dan ruang browsing untuk santai cukup luas dan nyaman. Kamu tidak perlu khawatir kesulitan googling atau update status karena akses wifi 24 jam. Kamu hanya perlu tanyakan password wifi ketika kamu check in di receptionist. Kamar mandi memang sharing (bersama-sama), namun jumlah pintu cukup banyak dan terpisah antara kamar mandi wanita dan pria. Sarapan dibuka pada pukul 07.00 pagi dengan menu roti, selai berbagai rasa, margarin, gula, kopi, teh, susu sampai sereal. Semuanya self service, alias kamu ambil sendiri makanan dan minuman yang kamu mau. Tersedia juga pemanggang roti jika kamu ingin roti panggang, dan tersedian juga coffee maker jika kamu ingin membuat kopi. Sarapan ini unlimited, tidak dibatasi jumlahnya, sehingga kami bisa membawa kota makan dan mengisinya dengan roti untuk persiapan bekal di perjalanan. Namanya juga pengiritan hehehehe. 

Banyak review dan komentar yang bisa kamu dapatkan di situs Back Home http://backhome.com.my/ atau Trip Advisor. Untuk rating Back Home dari saya bisa berikan 8 of 10 lah, not bad :D

picture source : blog.theholidaze.com

Spore - KL Trip Day 1 (Changi Airport - Singapore Zam Zam - Masjid Sultan - Queen Street Terminal - Johor Baru)

Pesawat Air Asia QZ 266 membawa kami terbang dari Bandara Internasional Soekarno Hatta menuju Changi Airport Singapura. Selama di dalam pesawat kami sudah dibagikan borang dari Negara Singapura terkait barang bawaan yang harus diisi, jangan lupa untuk selalu membawa pulpen ya..

Pukul 17.30 waktu Singapura dengan perbedaan waktu 1 jam lebih cepat dari Indonesia, kami sampai di Bandar Udara Intenasional Changi. Ini kali pertama saya ke Changi, sebelumnya ke Singapura melalui jalur bus dari Kuala Lumpur dan Jalur air dari Batam. Perlu waktu yang agak lama untuk keluar bandara ini, cukup luas dan muter-muter. Walaupun keren, belum ada yang menandingi bandara di Tokyo yang super keren *tetep Jepang*

Sebelum menaiki MRT saya sempat top up 10 SGD kartu Ezlink milik saya dan membeli 12 SGD kartu baru Ezlink untuk suami saya, dengan balance due kartu 7 SGD. Dari pintu kedatangan di Changi, kami langsung menuju ke MRT ke arah Tanah Merah, keluar di Exit B menuju MRT Joo Koon keluar di exit A ke arah Pasir Ris. Kami langsung ke arah  MRT Bugis karena kami berniat makan malam di daerah Arab Street, shalat Maghrib Isya di Masjid Sultan dan segera ke Queen Street terminal untuk naik bis.

Agenda makan malam kami sudah dipersiapkan dalam itinerary. Kami berencana makan di restoran Arab yang bernama Singapore Zam-Zam, letaknya persis di samping Masjid Sultan, pinggir jalan raya. Sangat mudah untuk menemukan restoran ini, harganya cukup terjangkau, porsi buanyaaak banget cocok untuk orang-orang yang kelaparan terus seperti kami, dan rasanya tobbbb markotob!! Recommended to try.


Kami pesan 1 nasi briyani ayam paha dan 1 murtabak ayam, untuk minuman karena kami belum beli minum, jadilah beli teh tarik. Nasi briyani kami makan sepiring berdua (supaya romantic) karena porsinya yang lumayan jumbo, setelah itu dilanjutkan makan murtabak ayam lezat yang porsinya juga jumbo. Alhamdulillah kenyaaaang. Kami makan malam seharga 15 SGD untuk dua orang. Lumayan mahal? Namanya juga Singapura. Kalau soal rasa, nasi briyani 8 of 10 dan Murtabak 8 of 10. Untuk teh tarik rasanya biasa saja, belum ada yang ngalahin teh tarik di Kuala Lumpur.

Lepas makan kami menuju Masjid Sultan untuk menunaikan shalat Maghrib dan Isya (jamak takdim). Masjid yang cukup besar di kawasan Bugis dan sangat nyaman untuk berlama-lama merebahkan badan. Tapi kami tidak bisa berleha-leha karena kami harus mengejar bus causewaylink di Queen Street Terminal.

Pukul 20.15 ke Queen Street Terminal  untuk naik Causewaylink Bus warna kuning harga 1 tiketnya 3.3 SGD. Sebenarnya bisa naik bus 170 dengan harga tiket lebih murah, namun kondisinya penuh dan saya agak malas untuk bawa koper dan sebagainya berdesakan, akhirnya memutuskan untuk naik Causewaylink. Sebelum menaiki bus, kami Antri di pinggir terminal beli tiket di kounter tiket cash atau dengan ezlinkcard. Antrian mengular sepanjang sisi terminal dan teratur, tidak ada rebutan apalagi berdesakan masuk.

----------------------------------------terminal queen street---------------------------------------

Bus causewaylink dan 170 merupakan bus antar kota antar negara dari Terminal Queen Street sama Johor Bahru. Nantinya kami akan turun untuk cap imigrasi, kemudian lanjut lagi naik bus di imigrasi. Bus yang akan dinaiki belum tentu sama dengan bus di Queen Street, tidak masalah asalkan jenis bus masih sama dan kamu masih memegang tiket bus. Jika kamu berangkat dengan Causewaylink, maka pastikan saat setelah cap imigrasi dan kembali naik bus juga menaiki jalur bus Causewaylink.

Tidak terasa sudah pukul 21.00 waktu setempat, kami sampai di Woodsland checkpoint, untuk cap imigrasi keluar Singapura. Kami berbondong-bondong turun dari bus dan berjalan masuk ke Woodsland Checkpoint yang berada di lantai 5. Jangan khawatir tersesat, ikuti saja arus lalu lalang orang, semua menuju imigrasi keluar Singapura.

---------------------------------------causewaylink----------------------------------------------

Setelah cap keluar Singapura di paspor, kami kembali mengular mengantri naik bus Causewaylink jurusan JB Sentral atau Johor Baru Sentral di jalur CW2. Jangan khawatir menunggu lama, karena stok bus ini sangat banyak. Perjalanan kedua dengan bus ini tidak memakan waktu yang lama, karena jarak Woodsland Checkpoint dengan Johor Baru area Malaysia sangat dekat, hanya beberapa menit saja.

Tidak berapa lama sampai juga kami di JB Checkpoint untuk masuk imigrasi Malaysia dengan cap masuk Malaysia di paspor kami. Setelah dari cikgu-cikgu imigrasi Malaysia, ikuti petunjuk jalan yang tertera ke arah JB Sentral. Letak JB Sentral cukup dekat dari imigrasi, hanya berbeda gedung saja. Jangan takut untuk tersesat ya. Kalau nyasar, prinsip orang kita jaman dulu, jangan malu untuk bertanya.

Pukul 21.30 sampai di JB Sentral turun dari lantai 4 ke lantai 3 untuk ke kounter tiket KTMB. Persoalan hidup kami dimulai *lebay* Jadi begini, kami membeli tiket PP dari Johor Baru Sentral - KL Sentral dan KL - Sentral - Johor Baru Sentral. Namun pada saat proses akhir pembayaran dan pencetakan bukti validasi pemesanan tiket terdapat error message sehingga bukti e-tiket kami untuk perjalanan berangkat (JB Sentral - KL Sentral) tidak bisa diprint, sedangkan tiket pulang kami (KL Sentral - JB Sentral) bisa diprint. Alhasil kami hanya memiliki 1 e-tiket pulang, padahal keterangan transaksinya berhasil dan kartu kredit saya sudah terdebet sejumlah tiket PP. Saya sudah kirim email ke call center KTMB namun sampai hai keberangkatan kami belum juga dapat balasan. Jeng jeng jeng.

Dengan modal nekat bin sotoy, kami mendatangi kounter tiket KTMB untuk konfirmasi. Saya menceritakan awal mula pemesanan tiket sampai berakhir gagal print, dan hanya bisa print tiket kepulangan saja. Saya juga memberitahukan bahwa transaksi saya berhasil karena sudah konfirmasi ke kartu kredit Hasanah Card saya bahwa memang ada transaksi pembelian tiket KTMB sebesar 45 MYR x 4 atau 180 MYR pada hari tersebut.

Cikgu penjaga kounter kemudian melakukan verifikasi data, namun ternyata kode booking pemesanan kami tidak ditemukan dan kami diminta untuk melakukan cancel ke Kartu Kredit untuk pengembalian dana. Lemes dengernya? Iya lah pasti, males banget kan nelepon ke Call Center Kartu Kredit yang sudah terproses transaksinya, terlebih KTMB tidak memberikan bukti bahwa transaksi gagal. Namun, masih ada keberuntungan di tiket kepulangan kami yang sudah kami cetak, ternyata tiket tersebut bisa dikonfirmasi, sehingga tiket kepulangan kami aman. Kami hanya perlu membeli ulang tiket berangkat saja. No problemo, kita urus belakangan saja cancel tiket berangkat. Mengenai tiket ini, saya ada cerita menarik di postingan selanjutnya :D
Selesai membeli tiket 45 MYR untuk 2 orang Kelas Superior Malam (ADNS) sleeper train, kami menunggu di ruang tunggu persis di depan pintu masuk keberangkatan KTMB Senandung Sutera. Kereta akan berangkat dari JB Sentral pukul 23.35 dan sampai di KL Sentral pada pukul 06.50 pagi pada platform B.

Di JB Sentral ada loker penitipan, masuk gate 6 lurus terus setelah Starbucks ada belok kanan berjejer loker penitipan barang sehari 10-20 ringgit tergantung besar ukuran loker. Jika kamu ingin menitipkan loker di JB Sentral bisa meletakkan di sana.

Kami menunggu kereta Senandung Sutera sekitar 1 jam dengan asyik memperhatikan lalu lalang orang dan tingkah orang-orang sekitar yang sedang menunggu. JB Sentral memang cukup ramai karena stasiun perbatasan untuk ke berbagai kota bahkan lintas ke Singapura dan Thailand. Cukup banyak keluarga yang membawa banyak anggotanya dengan koper besar-besar menunggu di kursi tunggu. Waktu tidk terasa, hingga sudah pukul 23.30 dan kami pun masuk lewat gate B turun ke bawah platform 3 dan 4. Kami segera mencari koc/tempat M11 yang berbentuk kasur. Kebetulan saya memang sengaja memilih kasur bawah berseberangan, yakni 34 dan 36. Tidak menunggu lama, kereta pun berangkat.
Sampai jumpa di Kuala Lumpur :)

Sunday, August 3, 2014

Tarawih di Masjid Jamek Kampung Baru

Dua kali kami berkesempatan untuk shalat di Masjid ini, namanya Masjid Jamek Kampung Baru. Lokasinya sangat dekat dengan Jalan Raja Alang, tempat peristirahatan kami. Masjid ini cukup besar dan cukup strategis. Pada saat Shalat Shubuh, kami Shalat Shubuh di Mesjid ini pukul 06.00 (waktu Shubuh di sana memang siang). Keluar dari Masjid, ada bapak-bapak yang sedang mengaduk bubur sum-sum pada kuali yang supeeerr besar. Penasaran, maka bertanya. Ternyata kuali yang berisi bubur itu dibuat untuk dibagikan pada saat buka puasa. Luarrr biasa, dibuatnya dari shubuh-shubuh buta karena porsi kualinya yang sangat besar, maka dibutuhkan juga proses menggodok yang cukup lama.

Masjid Kampung Baru
Suasana Bazar Ramadhan yang belum buka
Beda Shubuh, beda cerita juga dengan Maghrib dan menjelang tarawih. Saat setelah buka puasa, maka sudah banyak orang berbondong bondong menuju Masjid ini. Di luar area pelataran Masjid ini ada box besar berisi aqua gelas dengan es yang super banyak. Aqua gelas ini juga bisa diambil oleh jemaah yang akan tarawih. Di sebelahnya juga ada satu bungkus plastik kolak yang besar. Jangan tanya ururannya, jika biasanya di Indonesia kolak dibungkus dengan plastik ukuran 1/4 kg, ini dibungkus dengan plastik ukuran 1 kg. Dan ini gratis, bisa diambil berapa pun tak dibatasi. Bisa dibawa pulang. Edaan.

Tarawih dimulai pada pukul 20.30 dan berakhir pukul 23.00, jumlah rakaatnya ada 23 rakaat dengan imam yang membaca surat panjang entah berapa juz. Imam tarawihnya pun bergantian sampai 3 kali. Imam tarawih biasanya didatangkan dari Timur Tengah, namun terkadang dari orang Malaysia sendiri. Misinya adalah tarawih dengan menghatamkan Al Quran. Jadi imam membacakan surat setiap tarawih minimal sekali tarawih habis 1 juz. Bahkan biasanya baru 25 hari, Masjid tersebut sudah hatam. Bacaannya sangat merdu dan menghayati, terkadang imamnya terhenyuh sendiri karena saking menghayati. Saya pun teringat cuplikan imam Masjidil Haram yang memimpin Shalat. Sebegitu mengerti arti ayat yang dibaca hingga beliau menangis terisak di tengah Shalat. Masyaa Allah. Pengalaman tarawih di Masjid Malaysia memang menjadi pengalaman hidup yang berbeda, apalagi Tarawih di Masjidil Haram. Insya Allah ada saatnya kami sekeluarga ada rejeki ke sana. Aaamiiiin.

Dari sekian pengalaman mengharukan, tapi ada lucunya. Pada saat tarawih baru 8 rakaat, beberapa orang mundur ke belakang membubarkan diri. Jadi mereka akan melakukan witir sendiri 3 rakaat, hingga jumlahnya 11 rakaat. Mundurnya berbarengan dan sangat kompak, hehehee. Awalnya saya bingung, kok baru 8 rakaat langsung banyak yang bubar. Terlalu kompak dan berbarengan, hingga saya bingung. Tak lama saya menyadari bahwa mereka yang membubarkan diri itu akan melanjutkan witir sendiri. Jadi total tarawih mereka adalah 11 rakaat. (Tau gitu saya ikutan jugaa bubar *loh)

Suasana tempat shalat wanita
Area shalat untuk pria dan wanita dipisah ruangan, namun suaranya tetap terdengar. Suasana tempat shalatnya pun super adem, full AC dan nyaman. Beberapa wanita setengah baya ada yang menarik kursi untuk shalat sambil duduk. Di sana juga disediakan kursi bagi yang tidak kuat untuk shalat sambil berdiri. Selain area shalat, juga terdapat panggung di sisi kiri tempat wanita. Mungkin dipergunakaan untuk kajian kemuslimahan di Masjid ini.

Usai shalat tarawih, kami keluar Masjid dan kembali berdecak melihat meja yang tadinya menyuguhkan plastik kolak, kali ini berjejer buanyaaaak banget jajanan kue basah. Penuh makanan dan disediakan juga plastik untuk membukusnya jika ingin dibawa pulang. Aqua gelas dingin pun masih saja penuh. rupanya petugas akan mengisikan stock makanan dan minuman lagi ketika jumlahnya sudah mau habis. Masya Allah.

Jamaah mengambil minuman gratis
Makanan gratis
Ada lagi yang unik dari aqua gelas di Malaysia. Jika di Indonesia, maka aqua gelas dengan sedotan terpisah, dan harus mencopotnya satu per satu. Jika di Malaysia, maka sedotan aqua gelas langsung menempel satu paket dengan aqua. Pendek dong? Ya, memang ukurannya pendek, secara logika jika dipakai untuk aqua, akan tenggelam. Namun lucunya, ketika sedotan tersebut dicopot dari aqua gelas, dibuka dari plastiknya, maka sedotan tersebut bisa ditarik menjadi panjang ukurannya. Sehingga apabila ditusuk untuk minum, maka tidak akan tenggelam. Inovasi yang super dan sepertinya biayanya mahal hehhehehe.

Aqua Malaysia yang sedotannya unik
Sedotan memanjang
Saking bertebarannya makan gratis, seperti tidak ada yang kelaparan rasanya, bahkan tuna wisma di Kuala Lumpur dijamin makanan dan perlengkapan sehari-harinya. Saya melihat di sepanjang jalan dekat Chow Kit pada malam hari, ada segerombolan orang yang sedang antri makanan dan bagi-bagi baju layak pakai. Ternyata mereka adalah tuna wisma yang sedang antri. Mereka dilayani oleh NGO yang bergerak dalam bidang sosial fokus tunawisma. Tidak hanya dari NGO, tetapi dana pemeliharaan tuna wisma ini juga diberikan oleh Kerajaan Malaysia. Jadi mereka tidak gelandangan compang camping di kolong jembatan. Mereka cukup rapi dan tidur di lokasi-lokasi tertentu yang diperbolehkan Negara, tidak di sembarang tempat. Ini baru sesuai dengan Undang-Undang Indonesia, bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh Negara. Jika saja negara kita mampu seperti Malaysia.

Well done, sekian dulu pengamatan saya saat tarawih di Masjid Kampung Baru, semoga bisa memberikan hikmah dan motivasi kepada pembaca sekalian.
Salam,
Noni Halimi

Ifthar Massal di Masjid Besi, Selangor

Hari ketiga kami di Kuala Lumpur, kami berencana untuk tarawih di Masjid Tuanku Mizan Zainal Abidin Putrajaya atau lebih dikenal dengan Masjid Besi. Memang tujuan utama kami ke Kuala Lumpur saat puasa adalah menikmati tarawih di Masjid-Masjid besar Kuala Lumpur. Putrajaya memang banyak sekali Masjid besar. Maklum ini adalah area pusat pemerintahan Kuala Lumpur, banyak sekali gedung pemerintahan, istana perdana menteri dan perumahan kawasan menteri dan pegawai negeri. Sepanjang area Putrajaya dipasang cctv bahkan sampai ke jalan raya dan area perumahan. Kebiasaan orang Malaysia adalah tertib rambu lalu lintas, sehingga apabila ada lampu merah di area tersebut, padahal jalanan kosoooong melompong, tetap saja kendaraan berhenti dan menunggu lampu hijau. Coba kalau di Indonesia.....eemmmm

Masjid Besi
Jalanan Masuk Masjid
Sekitar Luar
Kami sampai di Masjid Tuanku Mizan Zainal Abidin pukul 17.00 atau masih 2.5 jam lagi buka puasa. Di Kuala Lumpur buka puasa pukul 19.30, mulai tarawih pukul 20.30 dengan 23 rakaat bacaan puanjang-puanjang maka praktis kami selesai tarawih pukul 23.00. Weeew. Kata Bapak, nanti ada saatnya kalau ada rejeki, insya Allah kami umroh bertujuh. Berhubung belum waktunya, maka ke Kuala Lumpur dulu dan merasakan nikmatnya puasa di negeri---yang sama-sama mayoritas Islam layaknya Indonesia, namun sangat berbeda suasananya.

Bagian luar Masjid ternyata dibangun tenda-tenda putih bazar Ramadhan yang menjual makanan, minuman, pakaian dan segala macam yang bisa dijual. Dari ketinggian Masjid kami melihat bazar tenda putih seperti tenda di Padang Arafah. Ramai manusia lalu lalang. Namun sayang sekali harganya mahal ketimbang di Indonesia. Saya cek harga jilbab di Malaysia sekitar 125 RM atau senilai 475.000 IDR. Mahal bangeeeet. Liat baju-baju gamis di sana juga mahal, padahal modelnya standar saja, sekitar 125 RM - 175 RM. Rasanya pengen ke Tanah Abang terus buka lapak di sini haha. Dari segi model ala-ala Hijab memang Indonesia lebih kreatif dan cantik.

Hampir setiap Masjid di sini menyelenggarakan tarawih 23 rakaat. Imam dari lokal atau timur tengah pasti membacakan surat puanjang puanjang yang suaranya super bagus (kata Bapak sama Ibu, ini mirip kayak di Masjidil Haram, saya cuma ngangguk-ngangguk aja berhubung belom pernah). Kebiasaan di Masjid Putrajaya ini jg mengadakan buka puasa massal secara gratis selama sebulan penuh. Stock buka puasa sampai 2500 orang dan dibiayai oleh Negara, bukan dari sumbangan donatur-donatur. Negara memiliki alokasi dana sendiri untuk kegiatan seperti ini. Hal ini tidak ditemui di Indonesia.
Bazar ala Mina
Awalnya saya pikir hanya takjil biasa, mungkin kurma dan makan ringan yang dibungkus. Namun pada saat saya sampai di kanopi dalam Masjid, terlihat karpet panjaaaaaang yang berjajar 8 baris. Di atas karpet diletakkan takjil dan orange jus. Di setiap pilar Masjid terdapat juga meja berisi tumpukan takjil berupa kurma + pastel dan tong orange jus super gede yang bisa kita refil seenak jidat. Pengambilan takjil juga tidak dibatasi, maka bisa dibawa pulang jika berminat. Di selasar Masjid didirikan tenda dan meja-meja, serta meja prasmanan untuk makan malam. Jadi lepas buka puasa dengan takjil, kemudian lanjut sholat Maghrib. Setelah itu kami beratur (berbaris) di meja-meja prasmanan untuk mengambil makan malam seenak jidat juga (ada nasi, lauk pauk ayam, telur, dan banyak lagi). Sumpah saya berasa lagi di kawinan orang. Pemerintahan Malaysia banyak duit banget ya. Momen ini banyak diikuti oleh masyarakat Putrajaya, Kuala Lumpur, warna negara Malaysia lainnya bahkan turis dari berbagai negara.

Setelah santap makan malam, piring diletakan di sisi meja kemudian diangkut dan dibereskan oleh petugas Masjid yang berpakaian putih. Dalam waktu singkat, selasar Masjid sudah kembali rapi dan kami bersiap untuk sholat Isya dilanjutkan tarawih. Pemandangan suasana Masjid yang indah dan semangat orang-orang yang luar biasa mencari pahala kebaikan.

Bagian belakang Masjid dekat terdapat rak yang berisi air mineral botol 350 ml, dan kotak amal di sampingnya. Jamaah bisa mengambil air secara gratis dan jika ingin beramal bisa memasukkan uang ke dalam kotak tersebut. Bukan hanya Masjid ini saja yang menyediakan minum gratis, pun demikian di Masjid Pink Putrajaya. Saat saya ke Masjid Putrajaya ada pula rak macam ini, bahkan ada dispenser air yang bisa kami isi ke dalam botol minum pribadi sepuasnya. Dingin, hehehe.

Lepas shalat saya melihat-lihat pemandangan luar, terlihat dari jauh jembatan Seri Wawasan. Hall utama untuk shalat berjamaah ada di lantai 2. Ada arsitektur menakjubkan mengenai Masjid ini. Ketika saya berjalan ke pinggir Masjid, terdapat kolam yang cukup luas. Saat malam gelap dan lampu hias Jembatan Seri Wawasan menyala dari kejauhan, ternyata saya menyadari bahwa kolam tersebut dibuat dengan sudut pandang sejajar dengan Jembatan Seri Wawasan. Maka ketika kita duduk di depan kolam, dan memandang ke luar, maka kita seperti duduk di lautan kolam hingga ada Jembatan di tengah kolam. Padahal jarak jembatannya jauuuh dan dibawah sana, tapi entah kenapa rasanya seperti dekat karena susunan arsitektur Masjid yang luar biasa ini.

Kira-kira seperti itulah pengalaman shalat tarawih saya di Masjid Tuanku Mizan Zainal Abidin, Selangor Malaysia. Usai shalat, makin ramai dengan panggung nasyid dan masih ramai orang yang berkunjung bersiap i'tikaf.

Area Tempat Berkumpul
Dewan Peradilan
Add caption

Thank You Air Asia

Berawal dari bulan September 2013 saat saya sedang asyik cari tiket murah di kantor, tetiba saya ingat obrolan Ibu Bapak saya yang berencana ke Kuala Lumpur sekeluarga. Maka saya langsung bbm Ibu saya, bahwa tiket murah Jakarta-Kuala Lumpur jatuh pada bulan Juli 2014, saat bulan puasa dan liburan anak sekolah. Di luar dugaan, bbm singkat beliau menjawab bahwa Bapak saya pun setuju dengan rencana kami akan liburan dan berpuasa di Kuala Lumpur. Horeeeeeyy!!

Pemesanan tiket Air Asia untuk penerbangan internasional bisa dilakukan dengan isian nama penumpang dan tanggal lahir saja, berbeda dengan maskapai penerbangan lain yang membutuhkan data identitas nomor paspor. Ini yang saya suka dari Air Asia, bisa ngajak siapa pun yang belum punya paspor untuk pesan tiket penerbangan internasional. Yang penting pesen tiket dulu ke luar negeri, bikin paspor belakangan. Pun demikian dengan keluarga saya, yang memiliki paspor baru Bapak, Ibu dan saya, sedangkan keempat adik-adik saya belum memiliki paspor.

Rencananya Bapak saya jg akan bertemu dengan kolega-kolega beliau yang tinggal di Kuala Lumpur. Saya baru tahu bahwa kami disediakan tempat menginap di area Raja Alang, tapi saya sudah pesan 3 kamar di Tune Hotel milik Air Asia di daerah Medan Tuanku. Alhamdulillah lokasi tempat menginap Raja Alang dengan Medan Tuanku cukup dekat, sehingga kami bisa singgah bergantian di dua tempat tersebut :D
Tune Hotel Medan Tuanku
Booking Tune Hotel
Tune Hotel adalah hotel bintang 3 milik Air Asia dengan konsep minimalist low budget traveler. Saya pesan 3 kamar double room untuk 3 hari. Harga per kamar untuk semalam sekitar 250.000 IDR. Harga yang cukup terjangkau dengan kantong saya ketimbang hotel-hotel mahal lainnya di Kuala Lumpur. Awalnya saya ingin pesan apartemen untuk kami sekeluarga, karena jumlah kami cukup banyak, maka akan lebih irit dan efisien apabila saya pesan satu kamar di apartemen. Banyak apartemen yang disewakan oleh pemiliknya di daerah Bukit Bintang. Saya pernah pesan di Fahrenheit 88 tahun 2012 silam, harganya cukup murah. Namun dikarenakan Bapak saya request pesan hotel yang dekat dengan Raja Alang, maka saya putuskan untuk memesan Tune Hotel yang beralamat di Jalan Tuanku Abdul Rahman 316, Kuala Lumpur 50100. 

Bulan Ramadhan tiba, bertepatan dengan pemilihan presiden yang ke 7 di negara saya, yakni tanggal 9 Juli 2014. Kami sekeluarga sudah packing dan mempersiapkan barang bawaan sehari sebelumnya. Pagi hari saya sudah sibuk untuk coblos pemilu hehehe, siang hari kami sudah siap dengan bekal makanan untuk buka puasa di Bandara. Kami take off pukul 20.30 WIB dan rencananya sehabis maghrib kami sudah harus check in bagasi. Pengalaman dari check in yang mepet sebelum-sebelumnya, maka lebih baik check in awal. Untuk penerbangan Internasional disarankan untuk sampai Bandara 2 jam sebelum keberangkatan. 

Seperti biasa, yang rempong di keluarga saya tiap pergi-pergi adalah makanan. Kebiasaan keluarga saya adalah bawa makanan sendiri, jarang beli makanan di luar apalagi restoran. Maka untuk buka puasa di Bandara, maka kami bawa makanan sendiri. Nasi briyani, gulai ayam, acar nanas, gurame tepung, semuanya bikinan sendiri. Ini berawal dari Bapak saya yang minta dibuatkan nasi briyani ala-ala di Singapur. Hadeeh.

Perjalanan ke bandara cukup lengang, mungkin karena orang-orang lebih milih diam di rumah habis nyoblos pemilu ketimbang memenuhi jalan raya. Sampai di Bandara pukul 17.00 dan kami ngabuburit di depan Musholla Parkiran Terminal 3. Rencananya setelah kami buka puasa, semua perlengkapan akan dibawa pulang lagi ke rumah oleh driver. Pengalaman berbuka puasa yang menyenangkan :)

Lepas Shalat maghrib dan Isya (jamak), kami langsung menuju tempat check in Air Asia. Paspor kami bertujuh semuanya diletakan di dompet traveling milik saya supaya memudahkan. Hanya hitungan menit, tidak mengantri, maka boarding pass sudah di tangan. Saya memang tidak pesan nomor kursi pada saat pesat tiket, karena booking nomor kursi akan dikenakan biaya tambahan. Buat apa? Lebih baik ya random saja saat check in, paling request agak duduknya masih sederetan, jangan ada yang terpisah sendirian. Eehhhh...rejeki anak sholehah, Saya dan Yasmin (adik saya yang bungsu) dapet nomor kursi 1 alias hot seat, paling depan. Yeaaah bisa liatin pramugari keceeee! 

Penerbangan Jakarta - Kuala Lumpur ditempuh dalam waktu 2 jam, namun terdapat perbedaan waktu antara Jakarta dan Kuala Lumpur 1 jam, sehingga ditambahkan waktu 1 jam lagi. Jika kami take off pukul 20.30, maka kami sampai di Kuala Lumpur pukul 22.30 WIB atau pukul 23.30 Waktu Kuala Lumpur.

Hot Seat Hahahaha
Pesawat saya ternyata berbarengan dengan orang-orang Lombok dan Kalimantan yang akan berangkat umroh. Ramai rasanya dengan seragam mereka yang berwarna putih dan logat daerahnya. Bahkan ketika diajak bicara bahasa Indonesia, mereka masih belum fasih dan bingung.

Alhamdulillah perjalanan sangat lancar dan kami mendarat di KLIA 2. Ini kali pertama saya menginjakkan kaki di KLIA 2, yakni bandara hasil perpindahan dari LCCT. Ini adalah bandara yang saling terintegrasi dengan Bandara KLIA 1. Ada jembatan penghubung yang keren. Luar biasa.
Dapat tiket pesawat berangkat yang super murah 199.000 IDR dan Tune Hotel yang cukup murah, tidak ada yang bisa saya ekspresikan selain bersyukur, Alhamdulillah..Thank you Air Asia :)