Showing posts with label rekomendasi. Show all posts
Showing posts with label rekomendasi. Show all posts

Tuesday, October 13, 2015

Japan Trip : Onigiri


Onigiri (nasi kepal) merupakan makanan khas Jepang yang berupa nasi yang dipadatkan berbentuk segitiga, bulat atau silinder. Ada yang menyebutnya dengan Omusubi atau Nigiri-han. Onigiri dibentuk dan diisi sesuai selera lalu dibalut oleh nori (rumput laut). Di Jepang cukup mudah menemukan Onigiri, karena biasanya makanan ini dijadikan bekal. Jika ingin membeli onigiri maka mudah saja untuk menemukan di berbagai convenience store. Onigiri memang memiliki beberapa kelebihan, selain praktis makanan ini juga jauh lebih tahan lama ketimbang nasi biasa.

Bentuk onigiri bermacam-macam, ada yang berbentuk segitiga sama sisi, bentuk bulat, bentuk bulat pipih, bentuk bola dan bentuk persegi empat. Nasi yang digunakan sebagai bahan utama onigiri pun beragam dari mulai nasi putih, nasi yang dicampur kacang-kacangan, jamur, nasi yang yang dicampur dengan biji wijen. Isi dari onigiri yang di jual di Jepang ini berbagai macam ada daging ikan-ikanan, saus mayonaise, gorengan, telur, daging-dagingan, acar, tumisan maupun sayur. Setelah dibentuk dengan campuran isi tersebut, onigiri dibalut dengan nori (rumput laut).

Onigiri beli di Family Mart
Selama di Jepang saya beberapa kali mencoba onigiri, salah satunya di convenience store. Ada banyak onigiri isi yang dijual di sana, namun kamu harus berhati-hati mengenai ingredientsnya. Jangan sampai mengandung yang tidak halal. Kamu bisa menanyakan kepada petugas convenience store, mana onigiri yang kira-kira berisi ikan saja atau ayam. Karena cukup banyak onigiri yang berisi salami atau daging babi yang beredar di convenience store. Cari yang halal ya, no putaniku (no salami/jangan daging babi). Petugas akan berbaik hati memberi tahu kepadamu.

Onigiri dari Piece Hostel
Saya juga mencoba onigiri yang disediakan secara cuma-cuma di hostel Kyoto yakni Piece Hotel. Ketika saya sampai di Kyoto siang hari, kebetulan saya mampir ke ruang makan, ternyata ada sebuah nampan yang penuh dengan onigiri yang sudah dibungkus dengan plastic wrap dengan porsi yang cukup besar. Petugasnya mengatakan bahwa tamu bisa mengambil onigiri tersebut sesukanya, bahkan bisa dibawa untuk bekal di perjalanan. Lumayan banget kan! Onigirinya berbentuk bulat dengan taburan nori di seluruh isi nasi tersebut, serta wijen. Febi yang memang tidak doyan nori awalnya enggan untuk mengambil. Nori memang berbau menyengat dan agak amis baginya. Namun ketika saya mencoba satu onigiri, sama sekali tidak tercium bau nori, bahkan rasanya sangat gurih walaupun tidak ada isi daging apa-apa.

Febi yang awalnya menolak untuk mengambil, langsung berubah pikiran. Saya yang dari awal sudah ngambil malah berpikir mau nambah lagi untuk bekal di jalan hehehehe. Nasinya sangat pulen, sepertinya diberi minyak supaya lebih gurih, entah bagaimana caranya rasanya sangat enak, apalagi nasinya masih hangat. Nyam nyammm... Keesokan harinya saat sarapan ternyata saya menemukan lagi onigiri yang dihidangkan di hotel tersebut, seperti biasa saya langsung mengambilnya tanpa basa basi. Ini laper atau doyaaaan :D


Salam,
Noni Halimi

Monday, October 12, 2015

Japan Trip : Menuju Khaosan Tokyo Original, Asakusa (31 Oct 2014)

Kami menaiki kereta menuju Asakusa Station dengan kartu pass Tokyo Subway Ticket. Kartu ini free dipergunakan untuk berapa kali pemaiakan selama masa kartunya masih aktif selama 3 hari sesuai yang kami pesan. Jadi kami tidak perlu khawatir dan ribet meyiapkan uang untuk membeli tiket setiap kali akan menaiki kereta. Kami cukup tap kartu pass kami di pintu masuk, selayaknya tap EZLink Card di Singapura. Perjalanan dari Bandara Tokyo Haneda 2F yakni menaiki Keikyu Line menuju Asakusa Station cukup singkat. Berhubung masih pagi hari, pemandangan masih sejuk dan situasi penumpang terlihat sibuk. Memang benar apa yang dikatakan oleh banyak orang, bahwa penduduk Jepang kalau berjalan memang terlihat terburu-buru. Entah seperti mengejar sesuatu. Bahkan untuk mengejar kereta sampai berlarian ke sana kemari, padahal jarak kereta satu dengan di belakangnya kurang dari 5 menit dan kedatangan kereta sangat on time alias tepat waktu tanpa kurang satu menit pun. Mereka berhitung dengan detik.

Kereta yang saya naiki agak mirip dengan kereta commuter line yang ada di Jakarta. Memang benar mirip, karena kereta commuter yang ada di Jakarta kabarnya memang hasil kereta limpahan dari Jepang. Bentuk dan isinya sama persis. Pagi itu sudah banyak terlihat penumpang yang akan berangkat kerja dan anak sekolah dengan seragam khas Jepang yang akan berangkat sekolah. Ada pun saya perhatikan selama di dalam kereta, mereka lebih banyak diam dan tidak mengobrol di kereta, Suatu hal yang memalukan dan dianggap mengganggu kepentingan umum jika berbicara terlalu keras di dalam kereta. Tatapan kosong, melihat gadget yang mereka bawa, serta membaca buku. Hampir tidak ada yang tidur di kereta, padahal pagi hari biasanya orang cenderung mengantuk.

Warna pakaian yang dikenakan oleh orang kantoran di Jepang hampir sama antara satu dengan yang lainnya. Mereka mengenakan coat berwarna gelap baik hitam, cokelat tua, maupun biru gelap polos tanpa ada motif macam-macam. Demikian halnya dengan anak sekolah yang mengenakan jas berwarna biru gelap atau hitam, untuk anak wanita mengenakan rok kotak-kotak hitam atau biru gelap, mereka juga membawa tas tenteng atau tas ransel kaku khas pelajar Jepang. Pemandangan unik yang selalu saya impikan untuk dilihat :D

Tidak lama, akhirnya kami sampai di stasiun Asakusa. Begitu keluar dari stasiun, kami langsung menggigil, padahal kami sudah mengenakan jaket tebal berlapis. Namun agaknya badan kami belum menyesuaikan diri. Jalanan pagi itu masih sepi dan kami menebak-nebak dengan peta kira-kira ke mana arah Khaosan Guest House tempat kami menginap. Biasanya kami menggunakan google maps untuk mencari lokasi dimana pun kami berada. Namun apa daya saat itu memang kami tidak punya akses internet sama sekali sehingga kami hanya mengandalkan bertanya kepada orang yang lewat serta insting kesotoyan kami yang sangat kami harapkan. 



Setelah tanya sana sini, kami berjalan menyusuri sungai yang belakangan diketahui bahwa sungai besar tersebut merupakan Sumida River yang terkenal itu lhooooo...Telat amat baru nyadar. Ternyata lokasi penginapan kami di Tokyo cukup mudah untuk ditemukan, namanya Khaosan Tokyo Original, tidak jauh dari jembatan dan stasiun Asakusa. Kami langsung menemukan hostel tersebut di salah satu lorong jalan yang sangat bersiiiiiiih tanpa sampah sehelai pun. Ckck.

Saat masuk dengan menekan bel, ternyata pengurus guest house atau penginapan tersebut seorang perempuan,. Ia bernama Chieko-san. Kami bertiga dipersilahkan masuk dan kami memberitahu keperluan kami untuk check in. Dengan sangat ramah ia memperkenalkan diri dan menanyakan nama saya. Ia fasih berbahasa Inggris walaupun terkadang ia menggunakan bahasa Jepang. Untuk check in kami diharuskan untuk menyerahkan seluruh passpor kami untuk di copy oleh Chieko-san sebagai data. Setelah itu kami membayar biasa sewa untuk 3 hari 2 malam di Tokyo. Kebetulan saya dan Febi memesan kamar woman dormitory sehingga harus berbaur dengan traveler yang lain, sedangkan adik saya memesan private room.

Ketika saya sedang mengobrol, ternyataaa...Febi bertemu dengan salah satu rekan kantornya yang kebetulan juga menginap di Khaosan Original. What a coinsidence. Teman kantor Febi tersebut merupakan teman kuliah dari teman kerja saya di kantor. Rasanya dunia sempit ya, sesempit daun kelor. Sampai di penginapan rasanya saya mau sujud syukur, sangat dimudahkan sekali pencariannya, tidak sampai muter-muter bahkan nyasar. Alhamdulillaaaaahh. Tidak sabar rasanya untuk destinasi pertama di Tokyo :D



Salam,
Noni Halimi

Friday, September 18, 2015

Japan Trip : Dotonbori Street, Osaka (05 Nov 2014)

Dotonbori Street
Puas bermain di Osaka Castle, saya melanjutkan perjalanan ke Dotonbori. Untuk bisa menuju ke Dotonbori, kamu hanya perlu menaiki kereta dan turun di Stasiun Shinsaibashi kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki. Dotonbori Street adalah salah satu pusat perbelanjaan yang terbesar di Osaka. Seperti one stop shopping di Dotonbori menyediakan tempat untuk membeli oleh-oleh, tempat berbelanja, tempat kuliner makanan ringan maupun berat. Ketika masuk ke Dotonbori akan terlihat papan lampu bertuliskan Dotonbori. Wuaah hari sudah mulai gelap, memang saat yang tepat untuk berjalan di sekitar Dotonbori. Area ini memang terkenal dengan ikon-ikon yang terdapat di tokonya, beberapa ada yang saya abadikan dalam bentuk foto.

Ikon pertama yang paling terkenal adalah Mr. Glico Man yakni hiasan bergambar seorang laki-laki sedang berlari di lintasan lari bertuliskan Glico. Ada pun Glico merupakan salah satu produk makanan yang ada di Jepang. Ikon kedua yang tidak kalah menarik adalah Kuidaore Taro, yakni boneka berbaju badut yang sedang memukul drum. Ikon ketiga adalah Kani Doraku Crab, kepiting raksasa yang dipajang di depan restoran Kani Doraku. Selain itu masih ada lagi ikon gurita, ikan kembung, dapi dan lain-lain. Kesemua icon tersebut dipasang di masing-masing toko pada bagian atas toko berbarengan dengan lampu neong yang berwarna warni.

Neon dan ikon Dotonbori Street
Sepanjang jalan Dotonbori ini terhampar luar tempat penjualan souvenir mulai dari gantungan kunci, tempelan kulkas, baju, kipas, gelas, snack atau makanan ringan dan pernak-pernik lain yang bisa dijadikan oleh-oleh. Harga yang ditawarkan di tempat penjualan souvenir ini cukup terjangkau. Saya sarankan untuk membeli oleh-oleh khas Osaka, yakni yang bernuansa Mr. Glico Man, Takoyaki, Okonomiyaki, tulisan Osaka, dan banyak lagi, Selain itu, banyak juga toko yang menjual makanan pinggir jalan seperti takoyaki dan okonomiyaki. Porsi satu buah okonomiyaki sangat banyak sehingga tidak bisa dihabiskan seorang diri. Harganya berkisar antara 400 hingga 500 yen. 

Ebisu Bridge
Area Dotonbori Street ini dilengkapi dengan sarana untuk duduk-duduk dibagian tengah jalan. Bentuknya hanya tiang atau pilar kecil yang bagian bawahnya ada kursi melingkar yang bisa dipergunakan untuk duduk. Pas banget untuk yangingin beristirahat setelah lelah seharian berjalan. Di sana juga terdapat banyak convenience store yang memberikan fasilitas wifi gratis, salah satunya Family Mart. Saat beristirahat duduk-duduk bisa sambil browsing. Jika kita berjalan ke dalam lagi, maka kita akan menemukan Jembatan Ebisu yang dibawahnya mengalir sungai. Sungai tersebut dihiasi oleh lampu-lampu dan dijadikan tempat wisata juga, yakni dengan adanya perahu wisata yang melintasi sungai. Kalau ingat jembatan Ebisu ini, saya jadi teringat oleh Heiji dan Kazuha! Osaka ini merupakan tempat asal Heiji (detektif dari Barat) dalam serial Detective Conan. Ia ingin menyelesaikan kasus mengenai transaksi ganja dan berakhir di Jembatan Ebisu. Akhirnya saya kesampaian juga ke area Dotonbori ini :D


Salam,


Japan Trip : Osaka Castle (05 Nov 2014)

Osaka Castle
Itinerary saya di Osaka pada hari itu adalah mengunjungi Osaka Castle dengan cara menaiki kereta dan turun di JR Osakajokoen Station. Osaka Castle adalah salah satu objek wisata terkenal yang sarat akan sejarah di Osaka. Bangunan ini berupa kastil yang mulai dibangun pada tahun 1583 oleh Totoyomi Hideyoshi, dan sampai saat ini sudah beberapa kali dilakukan renovasi. Saat saya mengunjungi Osaka Castle bertepatan dengan musim gugur. Sepanjang jalan menuju Osaka Castle berhamburan pohon ginko yang menjulang tinggi, daunnya berwarna kuning terang dan sangat cantik menghiasi sepanjang jalan. Tidak jauh dari sana juga terdapat pohon sakura, namun sayang karena bukan musim semi jadi tidak ada bunga sakura yang tampak. Jika musim semi tiba pastilah cantik suasananya. Namun saya tidak terlalu kecewa karena pemandangan musim gugur tidak kalah cantik karena daun-daun ginko yang sangat cerah ini.

Untuk menuju ke Osaka Castle, kita harus turun di stasiun Osakajokoen. Setelah turun dari stasiun berjalanlah ke arah taman umum yang cukup luas, biasanya dipergunakan untuk bercengkrama, bermain sepeda, bahkan ada lapangan baseball. Ikuti petunjuk jalan menuju Osaka Castle ke arah kanan, kamu akan menemukan banyak pohon ginko sepanjang jalan. Tidak jauh dari sana, sudah terlihat Osaka Castle yang menjulang. Untuk masuk ke dalam kastil ini kita harus membeli tiket seharga 600 yen. Loket dibuka dari pukul 08.30 sampai dengan 17.00.
Memasuki kawasan Osaka Castle
Taman sekitar Osaka Castle
Mejeng di depan pohon Ginko
Foto ala-ala
Wisata saya ke Osaka Castle ini tentunya foto dengan background Osaka Castle. Tidak jauh dari kastil terdapat danau yang cukup luas yang bisa kita lihat dari ketinggian. Ketika saya sedang berjalan-jalan melihat danau tersebut dari pinggir pagar, ternyata ada segerombolan turis yang sedang membuat video clip. Terlihat seorang wanita sedang direkam, ia duduk santai bernyanyi sambil memainkan gitar. Adik saya pun bertanya kepada salah satu crew, siapa orang yang sedang direkam tersebut. Ternyata ia adalah Nikki Lane, seorang penyanyi asal USA. Saya nggak hafal artis USA, ketika pulang ke Indonesia barulah saya googling hehehehe.

Nikki Lane sedang shooting video clip
Es krim rasa kelopak bunga sakura
Di dalam area kastil terdapat juga jajaran tempat makan dan tempat duduk-duduk santai. Saya hanya mencoba membeli es krim rasa kelopak bunga sakura seharga 250 yen, dan ternyata rasanya cukup unik. Pulang dari kastil kami melewati kembali taman Osaka dan menyempatkan melewati salah satu event costplay samurai dan ninja. Adik saya sempat berfoto dengan orang Jepang yang mengenakan kostum ninja. Untuk bisa berfoto dengan kostum samurai serta ninja kamu bisa menyewa di event tersebut seharga 500 yen. Harga yang cukup mahal, karena itu kami hanya berfoto bersama petugas cosplay sajalah *teteeepp.


Salam,

Thursday, September 17, 2015

Penginapan di Tokyo, Kyoto dan Osaka

Akomodasi yang harus dipikirkan saat kita traveling ke Jepang salah satunya adalah penginapan. Membayangkan Negara Jepang dengan tingkat biaya hidup yang cukup tinggi membuat saya awalnya cukup khawatir menemukan hostel yang 'on budget'. Maklum, setiap traveling saya tidak biasa menginap di tempat penginapan yang mahal, saya selalu mencari range harga middle – end, demi pengiritan kantong. Namun ternyata, tidak sulit juga lho menemukan tempat penginapan dengan harga yang cukup murah.

Di Jepang sangat menjamur yang namanya Capsule Hotel atau Kapuseru Hoteru, yakni penginapan dengan kamar mini yang hanya berisi jajaran kasur-kasur berbentuk kapsul atau peti saja. Jepang memang sangat terbatas dalam ruang karena negara kecil, maka dimanfaatkan sedemikian hingga ruangan kecil bisa menampung orang banyak, hingga tercetuslah hotel kapsul. Ruang untuk tidur tamu lumayan kecil yang berbentuk peti modular terbuat dari plastik atau fibberglass berukuran 2 x 1 x 1.25 meter. Ruangan ini menyediakan fasilitas kasur dan fasilitas hiburan di dalamnya seperti televisi dan koneksi internet. Jangan khawatir, privasi tamu terjaga dengan adanya tirai dan pintu fibberglasss di bagian ruang masuk kamar. Harga menginap per malam di hotel kapsul ini tergolong murah berkisar antara 2000 JPY sampai 4000 JPY. Namun berhubung saya agak horor tidur di ruangan sempit dan berasa peti mati, maka saya mengurungkan niat untuk mencoba jenis penginapan seperti ini :D

Ada pun perjalanan saya ke Jepang mengunjungi tiga kota besar, yakni Tokyo, Kyoto dan Osaka. Masing-masing penginapan memiliki kesan tersendiri. Hari pertama saya menginap di Bandara Internasional Tokyo Haneda, berhubung kami baru landing pukul 11 malam dan tidak memungkinkan untuk perjalanan mencari penginapan. Akhirnya kami dari awal sudah memutuskan untuk bermalam di bandara menunggu pagi hari baru kami memulai perjalanan. Berikut hasil review dari saya mengenai hostel yang saya tempati selama di Jepang :
Foto bersama Chieko-san plus dapat oleh-oleh origami dan permen Jepang
Salah satu kasur di Khaosan Tokyo Original
Penginapan di Tokyo – Khaosan Tokyo Original

[+] Lokasi strategis tidak begitu jauh dari Stasiun Asakusa
[+] Lingkungan cukup aman dan nyaman walaupun pulang larut malam
[+] Pengurus hostel namanya Chieko-san, ramah dan mahir berbahasa Inggris sehingga mudah komunikasi
[+] Harga cukup terjangkau, saat itu kamar dormitory khusus wanita 2200 JPY / malam / orang (Harga pemesanan Oktober 2014)
[+] Kamar ber-AC dan cukup sejuk. Kasur dan suasana kamar cukup nyaman, homey banget
[+] Tersedia fasilitas Wifi 24 jam non stop dengan kecepatan super

[-] Kami dapat kamar di lantai 2 sehingga butuh menaikan dan menurunkan barang
[-] Kamar mandi cukup sempit, namun lumayan nyaman.
[-] Hanya tersedia satu kamar mandi dan satu toilet sehingga untuk pemakaiannya harus bergantian
[-] Kami memesan kamar dormitory sehingga berbarengan dengan penghuni lain, agak kurang nyaman ketika ingin mengobrol dengan travelmate, harus bisik-bisik agar tidak mengganggu. Tidak bisa leluasa packing juga kalau sudah larut, khawatir berisik dan mengganggu penghuni kasur-kasur sebelah.

Tampak luar Piece Hostel
Source : google.com
Penginapan di Kyoto – Piece Hostel

[+] Lokasi strategis tidak begitu jauh dari Stasiun Kyoto cukup berjalan kaki. Namun posisinya agak masuk gang. Walaupun demikian masih terbilang cukup mudah untuk ditemukan
[+] Lingkungan cukup aman dan nyaman walaupun pulang larut malam
[+] Harga cukup terjangkau, untuk kamar private room berdua seharga 3400 JPY / malam / orang. Karena sharing cost, jadi agak ringan.
[+] Kamar cukup mini namun tetap nyaman, kualitas kasur hotel dan di dalam kamar terdapat wastafel serta hair dryer.
[+] Tersedia fasilitas Wifi 24 jam non stop dengan kecepatan super
[+] Ada fasilitas lift
[+] Free sarapan pagi, kalau mau membawa untuk bekal juga bisa
[+] Free onigiri sampai dengan siang hari. Jadi disediakan onigiri yang sudah di wrapping dengan ukuran lumayan jumbo yang bisa kita ambil sepuasnya. Lumayan banget. Bahkan saya ambil 2 buah untuk makan siang *mumpuuung. Rasanya pun super enak, nasinya manis asin dan baru kali itu saya makan onigiri langsung di Jepang. Beda rasanya dengan onigiri ala-ala di Indonesia.
[+] Namanya sih hostel, namun menurut saya sudah mirip dengan hotel, mungkin sekelas Tune Hote milik Air Asia.

[-] Kamar mandi terdapat di lantai 1, jadi kita tidak bisa sepuasnya wara wiri ke kamar mandi. Terlebih jika kita mendapat kamar di lantai atas.
 
Hotel Kaga, Osaka
Penginapan di Osaka – Hotel Kaga

[+] Lokasi strategis tidak begitu jauh dari Stasiun Shin Imamiya, Osaka cukup berjalan kaki. Namun posisinya agak masuk gang. Waktu kami sampai Osaka sudah malam hari jadi agak kesulitan mencarinya, namun kalau siang hari mungkin akan lebih mudah.
[+] Harga cukup terjangkau, untuk kamar private room berdua seharga 1700 JPY / malam / orang. (Harga pemesanan bulan Oktober 2014)
[+] Kamar cukup mini namun tetap nyaman, terlebih bentuk kasurnya tatami / kasur lipat jepang dan futon yang unik.
[+] Tersedia fasilitas AC, kulkas dan televisi di dalam kamar.
[+] Tersedia fasilitas Wifi 24 jam non stop dengan kecepatan super
[+] Ada fasilitas lift
[+] Toilet khusus wanita ada di lantai 6 (kebetulan kami juga dapatnya lantai 6, horeee) dan kondisinya sangat bersih, rapi dan terawat.
[+] Ada fasilitas tempat pemandian campur khusus wanita dan khusus pria khas Jepang

[-] Lingkungan yang cukup berbahaya kalau malam hari, disarankan untuk tidak keluar sendirian atau hanya berdua wanita semua. Dekat dengan area tuna wisma yang berkeliatan di kolong fly over serta cukup sepi kalau malam hari.

Kurang lebih demikian sekilas pengamatan saya mengenai penginapan di Tokyo, Kyoto dan Osaka. Ini merupakan komentar subjektif dari saya, sehingga mungkin saja rasanya berbeda untuk tiap orang. Mudah-mudahan bisa memberikan rekomendasi dan gambaran untuk kamu yang akan wisata ke Jepang ya





Salam,
Noni Halimi

Monday, September 14, 2015

Jepang Negara Super Bersih

Jepang negara yang sangat teratur, demikian halnya dengan aturan kebersihan yang ada di Jepang. Saat saya berkeliling Tokyo baik di lokasi wisata umum, jalan umum, jalan raya, bahkan jalan-jalan perumahan dan pinggir-pinggir jalan kecil, hampir tidak ada sampah secuil pun bertengger. Hal ini dikarenakan budaya masyarakat Jepang yang sangat memperhatikan dan mengedepankan kebersihan. Rasanya mau guling-gulingan di jalan, saking senengnya tidak ada sampah berserakan. Tidak hanya sampah, termasuk juga rokok. Di Jepang urusan rokok pun sangat diatur, Jepang melarang masyarakatnya merokok di sembarang tempat. Tersedia smoking area untuk mereka yang ingin merokok, dan jangan harap nemu sampah puntung rokok di jalanan, asli bersiiih.

Ngaso abis jalan jauh
Jalan raya yang kosong akan sampah
Jepang menyediakan banyak tempat sampah di sepanjang jalan dengan konsep sampah organik dan non organik. Tidak sulit menemukan tempat pembuangan sampah sehingga tidak ada alasan untuk membuang sampah sembarangan di Jepang. Saking mendarah daging akan kebersihan ini pun sudah ditanamkan ke anak-anak. Saya diceritakan oleh rekan saya yang punya pengalaman unik di Jepang. Saat itu ia sedang menaiki kereta Subway Jepang, dan ia berdiri tidak jauh dari seorang anak laki-laki bersama Ibunya. Anak tersebut kurang lebih berusia 4 tahun, ia sedang menggenggam kaleng yang berisi permen kecil berwarna warni. Karena ia tidak berhati-hati membuka tutup kaleng tersebut, entah mengapa kaleng tersebut jatuh berserakan ke lantai kereta. Tanpa dikomando oleh Ibunya, anak laki-laki tersebut secara otomatis memunguti permen yang berserakan di lantai dan menaruhnya di atas tissu kemungkinan untuk dibuang. Sedangkan permen-permen yang selamat dan tidak jatuh ke lantai, segera ia simpan dan menutup kembali kalengnya. Luar biasa, anak kecil saja sudah bisa berinisiatif akan kebersihan tanpa diperintah maupun diarahkan oleh orang dewasa yang mendampinginya.. 

Model tempat sampah paling simple di tempat umum
Saya juga menemukan bermacam-macam tempat sampah ketika di salah satu lokasi wisata. Biasanya di Indonesia hanya dibedakan sampah kering dan basah, atau organik dan non organik. Namun tempat sampah di Jepang jauh lebih spesifik. Ada tempat sampah khusus sampah yang bisa dibakar, sampah berbahan styrofoam, sampah minuman kaleng, sampah botol plastik, sampah botol atau segala macam berbahan gelas/kaca. Jepang juga membuat edukasi jenis-jenis tempat sampah ini dengan gambar kartun yang menarik. Memang hampir semua pesan edukasi maupun informasi di Jepang pasti menggunakan kartun daa gambar selain ingin menunjukkan identitas diri bahwa Jepang memang negara Anime, hal ini juga untuk memudahkan masyarakat memahami pesan yang disampaikan. Orang akan lebih tertarik dan mengerti ketika sebuah pesan disisipkan dengan visual gambar.

Semoga budaya bersih di Jepang bisa ditularkan ke Indonesia ya, setidaknya memulai dari diri sendiri untuk membuang sampah pada tempatnya dan mengajak orang lain untuk menjaga kebersihan bersama. Karena dalam Islam saja sudah jelas, kebersihan itu sebagian dari iman, kan? -Noni Halimi

Ini jalanan kampungnya, sama bersihnya

Seragam Jepang yang Keren

Berfoto bersama bocil-bocil SD di Sensoji Temple
Seragam sekolah atau biasa disebut dengan Seifuku sudah ada di Jepang sejak zaman Meiji atau lebih dari 100 tahun yang lalu. Pada zaman dahulu seragam anak sekolah di Jepang hanya berupa kimono formal, dan kemeja kerah tinggi untuk laki-laki. Namun seiring dengan perkembangan zaman, maka bentuk seragam sekolah di Jepang mulai berubah. Pada era tahun 1920 kemudian para siswa Jepang menggunakan seragam jenis pelaut yang berbentuk scarft segitiga disertai dasi, kelepak di bagian punggung serta rok untuk anak wanita. Seragam model pelaut ini diperkenalkan oleh kepala Sekolah Fukuoka Jo Gakuin University yang bernama Elizabeth Lee. Model seragam ini mengikuti seragam yang digunakan Angkatan Laut di Inggris. Sedangkan untuk murid laki-laki bisa menggunakan seragam Gakuran. Kata Gakuran berasal dari kata gaku yang artinya belajar/murid, dan ran yang artinya negara Barat. Gakuran mirip seperti pakaian militer tempo dulu dengan ciri khas kemeja gelap kerah tinggi tegak dan berkancing emas. Umumnya berwarna gelap keseluruhan dari atas hingga celana, ikat pinggang dan sepatu.

Kali ini foto bareng anak sekolah ABG Jepang
Minta difotoin loncat

Peranan dari Seragam

Seragam sekolah bisa menjadi simbol kemakmuran bagi siswa yang mengenakannya. Bagaimana tidak, ada beberapa sekolah menengah atas yang sengaja membuat desain seragam sekolah menggunakan perancang busana terkenal. Seragam juga berperan bagi siswa yang duduk di bangku SMP dan SMU dalam hal percintaan. Jika kita menonton acara dorama Jepang, maka biasanya untuk menyatakan cinta maka pelajar wanita akan mendatangi pelajar pria atau kekasihnya untuk meminta kancing (dai-ni) yakni kancing kedua dari atas jas seragam milik pelajar pria. Jika ia tidak bertepuk sebelah tangan, maka pelajar pria akan mencopot dan menyerahkan kepada pelajar wanita tersebut. Kenapa kancing kedua dari atas? Filosofinya kaerna letak kancing tersebut yang paling dekat dengan hati, sehingga seolah-olah siswa tersebut menyerahkan hatinya. Tsaaahhh..

Seragam sekolah di Jepang konon katanya bisa menaikan derajat keimutan beberapa poin ketimbang tidak menggunakan seragam. Buktinya pelajar Jepang sangat betah pergi kemana-mana mengenakan seragam, baik ke tempat perbelanjaan maupun tempat wisata sekali pun. Berbeda dengan di Indonesia yang ingin segera mencopot seragam ketika pelajaran sekolah telah usai dan ingin segera berjalan-jalan tempat lain, kalau di Jepang justru ingin tetap dipakai. Bahkan banyak pelajar Jepang yang tetap mengenakan seragam sekolahnya meskipun hari libur. Waduuuhh...

Seragam Jepang sesuai dengan Musimnya

Seragam yang dipergunakan oleh pelajar Jepang terdapat berbagai jenis yang pemakaiannya disesuaikan dengan musim yang sedang berlangsung di Jepang. Seperti kita ketahui bahwa Jepang merupakan negara 4 musim yakni musim semi, musim panas, musim gugur dan musim dingin. Ada pun bentuk dan bahan seragam mengikuti musim yang ada di Jepang :

Contoh seragam di Jepang
Contoh seragam di Jepang part 2
1. Musim Semi
Musim ini merupakan hawa yang sangat cocok dan menyenangkan untuk banyak orang. Pada musim ini semua jenis seragam cocok dipergunakan, menurut beberapa sumber pada musim ini cara berpakaian sekolah tidak dijadwalkan sehingga siswa siswinya bisa saja mengenakan seragam yang berbeda-beda

2. Musim Panas
Pada musim panas, jenis seragam yang digunakan berlengan pendek, tipis, tanpa dasi, rok pendek. Mungkin lebih mirip dengan seragam sailor.

3. Musim Gugur
Pada saat itu suhu sudah mulai turun, hawa mulai dingin dan sudah banyak angin, karena itu jenis seragam yang dipergunakan biasanya berbentuk sweater, rompi atau blazer.

4. Musim Dingin
Pada musim di Jepang suhunya sangat rendah, sehingga jenis seragam mulai tertutup, yang paling sering digunakan adalah jenis blazer dengan tambahan scarft tebal di leher.

Atribut Sekolah Jepang


Salah satu atribut yang digunakan berbarengan dengan seragam di Jepang adalah Topi. Untuk anak TK biasanya berwarna kuning terang. Mungkin supaya lebih cerah dan mudah ditemukan ketika ada acara studi tour ke luar sekolah. Saya pernah melihat rombongan anak TK di suatu tempat wisata di Jepang dengan berbaris menggunakan topi kuning. Kalau lagi hilang, biar gampang nyarinya mungkin yaaaa..

Dasi yang dipergunakan pada seragam Jepang pun beraneka ragam jenisnya dari mulai dasi kupu-kupu, scarft untuk seragam sailor dengan berbagai warna, dasi formal untuk pasangan blazer. Kesemuanya dipakai oleh pelajar Jepang untuk melengkap seragamnya. 
Anak TK biasanya mengenakan topi kuning terang
Sedangkan untuk sepatu dan tas, terdapat keunikan sendiri untuk pelajar Jepang yakni jenis sepatu dan tas yang mereka kenakan sama persis satu dengan yang lainnya. Sepatu sekolah di Jepang biasanya didapatkan langsung dari sekolah satu paket dengan seragam bukan membeli secara sendiri-sendiri. Sepatu tersebut biasa disebut uwabaki. Biasanya uwabaki disimpan di loker sepatu milik masing-masing siswa. Jadi ketika siswa berangkat dari rumah ia menggunakan sepatu bebas, namun sesampainya di sekolah, ia wajib mengganti sepatunya dengan uwabaki dan meletakkan sepatu bebas miliknya di loker. Demikian halnya dengan tas. Untuk siswa TK biasanya menggunakan tas selempang atau post bag dengan warna senada dengan seragamnya. Untuk siswa SD biasanya menggunakan tas ransel yang disebut Randoseru, bentuknya kotak dengan bagian penutup agak keras, persis seperti tas milik Nobita. Sedangkan untuk siswa SMP biasanya mengenakan tas jinjing hitam, untuk anak SMA biasanya menggunakan tas berbahan lebih lentur dengan cara pakai diletakkan di pundak siswa. Pasa siswa juga sering menggantungkan gantungan kunci berupa boneka atau gantungan lucu lainnya pada tas mereka.

Kalau dipikir-pikir seru juga yaa seragam sekolah di Jepang yang punya tradisi dan ciri khas sendiri :D -Noni Halimi 

Imutnya Es Krim Jepang


Es Krim adalah makanan yang identik dengan rasa manis dan segar. Biasanya rasa es krim favorit yang ada di seluruh belahan dunia berkisar rasa coklat, vanilla atau strawberry. Di Jepang memang terkenal dengan es krim rasa matcha atau teh hijau, konon rasa matcha memang berasal dari Jepang dan Jepang merupakan negara pelopor yang membuat rasa matcha di banyak jenis produk makanan yang beredar. Rasa matcha atau teh hijau ini cenderung manis dan pahit, dan disinyalir merupakan jenis teh yang harganya cukup mahal di Jepang, sehingga cukup menarik jika dijadikan rasa makanan maupun minuman. 
Es krim bentuk kucing (neko)
Salah satu uniknya es krim Jepang yakni toko es krim yang berada di Kedai Daily Chico (bawah tanah Nakano Broadway), di sana menjual es krim dengan delapan macam rasa dalam satu toping/cup. Es krim ini ditumpuk tinggi menjulang ke atas dan tidak miring selama belum mencair. Es krim ini terdiri dari berbagai macam rasa yakni rasa strawberry, cokelat, mocca, vanilla, melon, anggur, matcha, dan ramune (soda). Saking ukuran es krim yang jumbo dan banyak maka agaknya kamu tidak akan mampu untuk menghabiskan es krim ini sendirian dan harus makan ramai-ramai. Hehehe. Biasanya pengunjung yang membeli es krim ini digunakan untuk difoto dan mengunggah ke berbagai social media.

Selain rasa-rasa segar dan manis di atas, Jepang juga menawarkan es krim dengan rasa unik dan tidak biasa diperjualbelikan di negara lain. Diantaranya es krim rasa wijen hitam dan bunga sakura. Rasanya cukup aneh dan lucu, apalagi membayangkan memakan es krim rasa kelopak bunga sakura. Entah kalau makan bunga sakura beneran rasanya akan sama seperti makan es krim tersebut atau tidak. Saya pribadi pernah merasakan es krim rasa bunga sakura, rasanya memang unik. Saat itu saya membeli di sebuah toko di daerah Osaka. Harga satu toping es krim berkisar antara 300 JPY sampai 500 JPY. Wuuiiihh. Kalau mau beli es krim dengan berbagai rasa dan harganya cukup murah bisa membeli di vending machine khusus es krim, harganya berkisar 100 JPY sampai 200 JPY dengan merek es krim Glico. Rasanya beraneka ragam dan pastinya enaaakkk :D

Es krim Glico yang dibeli di Vending Machine
Jika rasa-rasa tersebut masih tergolong normal, maka Jepang punya rasa es krim yang lebih ekstrim, ada es krim rasa daging kuda (busashi), es krim rasa sayap ayam (nagoya tebasaki), es krim rasa kepiting (kani aisu), es krim rasa belut (unagi aisu), es krim rasa ikan (sanma aisu), es krim rasa gurita (taco aisu), es krim udang (ebi aisu), es krim rasa sambal Jepang pedas wasabi, es krim rasa empedu ular berbisa, es krim rasa kaktus (saboten aisu), es krim rasa ikan paus, es krim lidah sapi, es krim rasa cumi-cumi, es krim rasa kari India, es krim sirip hiu, es krim rasa telur ikan, es krim rasa arang, es krim rasa kentang, es krim rasa terong ungu, serta es krim rasa bawang putih. Baru membayangkan rasanya saja sudah bergidik yaa, hehe tapi kalau penasaran boleh juga untuk dicoba :) -Noni Halimi

Uniknya ATM Jepang

Jalan-jalan ke Jepang dengan membawa uang cash dalam bentuk mata uang Yen sudah pasti ditangan, namun kita tidak mungkin untuk membawa uang cash dalam jumlah banyak sekaligus bukan? Untuk lebih aman kita pasti akan mempersiapkan dana cadangan di rekening kita jika sewaktu-waktu diperlukan di Jepang. Bagaimana dengan rekening yang kita miliki di Indonesia? Bisakah ditarik di mesin ATM Jepang?

Rekening yang ada di Indonesia terhubung dengan jaringan Master Card atau Cirrus untuk transaksi antar negara, sehingga rekening kita tetap bisa dipergunakan di luar negeri meskipun dengan mesin ATM bank lokal negara tersebut. Saya pribadi menggunakan rekening BNI Syariah dengan kartu ATM Hasanah Debit Card. Kartu ini bisa dipergunakan di mesin ATM berlogo Cirrus atau Master Card di seluruh dunia. Jadi saya tidak khawatir untuk melakukan penarikan di luar negeri meskipun dengan mesin ATM Bank lokal negara tersebut.

Bagaimana Proses Penarikan ATM BNI Syariah?

Untuk negara Jepang, saya mencoba penarikan uang di mesin ATM Seven Bank dengan jaringan Cirrus. Logonya angka 7 yang terdapat di 7/11 persiiis. Mesin ATM ini bisa ditemukan di banyak convenience store yang tersebar di tempat-tempat umum di Jepang, salah satunya di 7/11. Tata cara penarikannya sama seperti di Indonesia, mata uang yang dikeluarkan sesuai dengan mata uang negara tersebut, dan nominal pecahan yang keluar tergantung dari mesin ATM. Untuk di Jepang pecahan uang yang keluar adalah 10.000 JPY. Kurs akan berlaku sesuai kurs pada saat penarikan di negara tersebut, sehingga jumlah uang yang terdebet di rekening kita menyesuaikan dengan besar kurs yang berlaku saat itu. Biaya yang dipotong untuk penarikan menggunakan jaringan Cirrus adalah 25.000 IDR per transaksi. Mudah bukan?

Tampilan Layar ATM di Jepang ada di bagian bawah
Bicara soal mesin ATM di negara Jepang, saya cukup memperhatikan dan sempat berkomentar bahwa ATM Jepang cukup unik. Bentuk mesin ATMnya sebenarnya mirip dengan ATM di Indonesia, hanya saja seluruh mesin ATMnya berbasis touch screen, sehingga untuk pengoperasiannya menggunakan layar sentuh. Seluruh ATM Jepang bisa dipergunakan untuk mencetak buku tabungan apabila nasabah ingin mencetak buku tabungan. Berbeda di Indonesia, saat ini baru beberapa Bank yang menerapkan mesin ATM yang bisa melakukan pencetakan mutasi buku tabungan oleh nasabah sendiri. Bahasa yang dipergunakan sudah pasti bahasa Jepang, namun jika ingin mengganti ke Bahasa Inggris, tinggal pilih saja pilihan bahasanya. Saya pun saat melakukan penarikan memilih bahasa Inggris, karena angkat tangan tidak bisa membaca tulisan Jepang bercampur kanji di mesin ATM.

Hal lain yang saya perhatikan adalah tempat keluar uang saat penarikan di mesin ATM. Jika rata-rata mesin ATM di Indonesia jika mengeluarkan uang maka akan keluar dari samping bawah mesin ATM, sehingga apabila nasabah sedang menarik uang yang cukup banyak akan bisa terlihat oleh orang disekitarnya. Mesin ATM Jepang berbeda, tempat keluarnya uang dari mesin ATM tidak dari samping, namun tepat berada di bagian depan nasabah dekat tombol-tombol mesin ATM. Ketika uang terproses akan luar, maka dari mesin akan terbuka “pintu uang” yang di dalamnya terdapat pecahan uang yang kita ambil. Tangan kita harus merogoh ke dalam lubang tersebut untuk mengambil, baru kemudian langsung dimasukan ke dalam dompet. Jadi orang disekitar kita tidak akan mengetahui berapa banyak jumlah uang yang kita ambil dari mesin ATM. Terlebih lagi di sisi kanan dan kiri mesin ATM diberikan sekat yang cukup lebar yang menghalangi pandangan kanan dan kiri orang disebelah kita untuk melihat. 

Tampilan pintu masuk kartu, buku tabungan serta pintu uang
Mesin ATM di Jepang juga menyediakan kalkulator yang tertempel di samping mesin ATM sehingga bisa dipergunakan oleh nasabah apabila memerlukan. ATM tersebut juga menyediakan kantong amplop uang secara cuma-cuma yang bisa diambil oleh nasabah sehabis melakukan penarikan uang. Masing-masing mesin ATM Jepang juga dilengkapi dengan tombol Robbery Alarm, yakni tombol alarm jika terjadi keadaan mendesak seperti pencurian dan sebagainya. Selain berfungsi untuk transaksi penarikan uang, mesin ATM di Jepang juga berfungsi untuk transaksi penyetoran jika nasabah ingin menabung. Pecahan yang diterima dari 1000 JPY, 2000 JPY, 5000 JPY sampai 10.000 JPY, tidak hanya itu terdapat juga untuk pecahan koin logam yakni 1, 5, 10, 50, 100 sampai 500 JPY. Berbeda di Indonesia yang mesin penyetorannya berdiri sendiri sebagai Cash Deposit Machine, maka di Jepang baik untuk setoran maupun penarikan, bersatu dalam satu mesin ATM.

Pilihan Menu ATM Jepang

お預け入れ: Deposit (memasukkan uang)
お引き出し: Withdrawal (penarikan)
お振込み: transfer ke rekening lain
お振り替え: transfer ke rekening lain milik sendiri (jika punya 2 rekening)
通長記入:pencatatan di buku rekening
残高照会: sisa uang
  • Masukkan kartu ATM dan nomor PIN. Jika memilih transaksi penarikan, masukkan jumlah uang yang diinginkan (perhatian: pada panel akan tertera kanji (kelipatan 1000) dan (kelipatan 10.000). Bisa juga memasukkan jumlah uang secara manual dengan menekan tombol angka).
  • Untuk menyelesaikan transaksi pilih tombol sebagai berikut:
確認 : konfirmasi
訂正 : koreksi
取消 : batalkan transaksi

Bagaimana cara penarikan uang di ATM Jepang?

Pertama yang dilakukan adalah memasukan kartu ATM kita ke dalam mulut kartu di mesin ATM sebelah kanan. Jadi mesin ATM Jepang memiliki dua lubang pintu, sebelah kiri untuk pintu masuk buku tabungan sedangkan sebelah kanan untuk pintu masuk kartu ATM. Jangan sampai tertukar pintu ya, yang bentuknya lebih lebar itu untuk memasukan buku tabungan, sedangkan yang lebih kecil untuk kartu ATM. Kemudian mesin ATM akan meminta kita untuk memasukkan nomor PIN, maka masukan PIN ATM di layar sentuh yang disediakan. Setelah itu pilih transaksi penarikan dan masukan nominal penarikan yang dikehendaki. Jangan lupa untuk melihat jumlah pecahan yang tersedia di ATM tersebut. Misalnya pecahan 10.000 JPY. Jika sudah menekan jumlah penarikan, klik OK. Maka akan ada pilihan untuk pencetakan receipt atau tidak, silahkan dipilih. Jika tidak ingin mencetak receipt maka akan terlihat di layar mesin ATM sisa uang yang ada di rekening tersebut dalam konvensi Yen. Setelah itu ATM akan keluar secara otomatis untuk diambil. Setelah kartu ATM diambil, barulah uang akan keluar dari pintu kotak uang mesin ATM. Posisi pintu kotak uang ini persis di depan perut/badan nasabah dan posisinya terlindungi karena di dalam kotak. Tidak seperti jenis ATM di Indonesia yang pintu keluar uangnya menjulur di bawah sehingga bisa terlihat oleh siapa pun. Lebih Asyik yaa :D -Noni Halimi

Trip Japan : Tokyo Subway Ticket

Begitu keluar dari Bandara Haneda Tokyo, kami menuju moda transportasi kereta yang bisa kami pakai menuju tujuan pertama kami yakni Asakusa Station. Namun kendala awal adalah kami belum tahu harus membeli tourist pass macam apa yang lebih irit dan mudah. Tak jauh dari pintu keluar bandara, ternyata ada kounter Tokyo Subway Ticket dengan papan pengumuman harga yang cukup masuk budget kami. Kartu ini bisa dipergunakan untuk seluruh kereta Tokyo Metro lines dan Toei Subway lines. Berhubung kami akan banyak menggunakan jasa kedua jalur tersebut, maka kami memutuskan untuk membeli kartu Tokyo Subway Ticket selama 3 hari seharga 1500 JPY atau senilai dengan 166.500 IDR (1 JPY = 111 IDR). 
Ada pun harga kartu pass untuk 1 hari adalah 800 JPY dewasa dan 400 JPY untuk anak-anak, 2 hari dengan harga 1200 JPY dewasa dan 600 JPY untuk anak-anak, 3 hari 1500 JPY untuk dewasa dan 750 JPY untuk anak-anak. Sedangkan untuk akses hanya Tokyo Metro Line tersedia 1 hari 600 JPY untuk dewasa dan 300 JPY untuk anak-anak dan 2 hari 980 JPY untuk dewasa dan 490 JPY untuk anak-anak. Berhubung saya membutuhkan dua lines, maka saya membeli gabungan Tokyo Metro Lines dengan Toei Subway Lines.

Petugas yang menjaga kounter sangat baik dan super ganteng *loh. Macem pemain dorama gitu lah, hehehee. Ia menjelaskan kegunaan tiket kami dan menunjukan masa expired kartu. Kami juga diberikan peta dan informasi wisata Tokyo yang menarik, Padahal masih pagi buta, tapi semangat kerja mas-masnya benar- benar patut diacungi jempol. Kami masih dekil belum mandi gini, dilayanin sama mas-mas yang udah kece badaaaaaiii :D

Untuk kamu yang bepergian ke Tokyo selama 1 sampai 3 hari saya menyarankan untuk membeli kartu pass Tokyo Subway Ticket ini :) -Noni Halimi


Mejeng dulu di Bandara Tokyo Haneda

Japan Trip : Terbang Bersama Air Asia X

Setelah persiapan yang cukup singkat, akhirnya tiba juga waktu keberangkatan saya ke Jepang bersama adik saya (Nabi) dan travelmate saya (Febiana Malini) yakni tanggal 30 Oktober 2014. Perjalanan akan ditempuh melalui Soekarno Hatta International Airport – transit di Kuala Lumpur KLIA 2 – Flight Thru dengan Air Asia X ke Haneda International Airport, Tokyo. Jadwal penerbangan kami pukul 08.30 pagi dan kami sudah sampai di Bandara Soetta pukul 05.00 pagi. Terlalu pagi? Tidak juga. Sebenarnya memang sudah ada himbauan dari maskapai bahwa untuk penerbangan internasional dipersiapkan sampai di Bandara 3 jam sebelum keberangkatan. Walaupun pintu check in belum dibuka, tidak ada salahnya untuk menunggu di Bandara lebih lama ketimbang kejebak macet kan? Terlebih hari itu adalah weekdays. Alhasil saya diantar oleh calon suami beserta keluarga saya ke Bandara sebelum Shubuh. Yang pergi bertiga tapi yang nganter rame-rame berasa pergi Haji, haha. Setelah sholat shubuh dan minta doa restu kepada keluarga, berjalanlah kami bertiga ke pintu masuk keberangkatan internasional.


Baru mau masuk udah mejeng :D
Kami menunggu sekitar 30 menit hingga diperbolehkan check in. Penerbangan menuju Kuala Lumpur terasa singkat dan tibalah kami di KLIA 2 pukul 11.30 AM waktu setempat. Kami langsung mencari papan yang bertuliskan Transit, karena kami harus menunggu di Boarding Room tujuan kami selanjutnya yakni Tokyo Haneda. Ini kali pertama saya melakukan penerbangan transit, namun karena papan petunjuk di KLIA lengkap dan tidak membingungkan, maka kami sampai dengan selamat di depan pintu boarding room. 

Berhubung waktu sudah hampir tengah hari, maka sudah saatnya membuka bekal makanan yang dibawa dari rumah. Ngirit? Oh sudah pasti. Selama bisa bawa bekal sendiri kenapa tidak? Kami membawa mashed potatoes dicampur dengan krim keju, susu dan sayuran. Makan kami lahap bener layaknya gak makan seminggu. Tersadar kami tidak punya air minum, kami pun berkeliling ke sekitar boarding room, ternyata ada pengisian air minum gratis. Berbeda dengan bandara Soekarno Hatta yang tidak menyediakan fasilitas isi air minum gratis, di KLIA ada lhoo. Rasa airnya cukup sejuk dan kami bisa mengambil sepuasnya. Kalau di imigrasi Indonesia sudah pasti kena sita. Di KLIA kami juga sembari menunaikan Shalat Dzuhur dan Ashar, karena perjalanan kami selanjutnya akan menghabiskan waktu 7.5 jam di dalam pesawat dan akan tiba tengah malam.

Transit di KLIA 2
Langit terlihat mendung di luar KLIA 2, dan kami mengabarkan keluarga untuk kembali meminta doa restu atas perjalanan kami bertiga. Bismillah, pesawat kami sudah datang. Ini adalah pesawat Air Asia X dengan kode pesawat D7522 yang akan membawa kami terbang dari Kuala Lumpur KLIA 2 menuju destinasi kami yakni Bandara Internasional Tokyo Haneda. Tak lama panggilan untuk masuk ke dalam pesawat pun bergema, tak sabar kami langsung menaiki pesawat, dan ternyata.....

Air Asia X
Makan malam ala-ala Air Asia
 Pertama kami disambut oleh pramugari dengan senyuman khas dan kami berjalan melewati bisnis class, yang sudah pasti bentuk kursinya berbeda lah dengan yang kami pesan *nasiip. Begitu sampai di deretan kursi tengah, saya melongo saking senangnya, pesawat Air Asia X memang berukuran lebih besar ketimbang pesawat Air Asia yang biasa saya naiki. Jika biasanya hanya ada 2 baris yakni baris kiri 3 kursi dan baris kanan 3 kursi. Maka Air Asia X terdiri dari 3 baris, yakni baris kiri 3 kursi, baris tengah 3 kursi dan baris kanan 3 kursi. Kebayang kan lebih luasnya *maap norak abis. Terlebih lagi saat kami bertiga mencari nomor kursi, terdengar pengumuman dari speaker pesawat mengenai informasi-informasi dengan bahasa Melayu, Inggris dan Jepang. Mendengar bahasa Jepang menggema di dalam pesawat, makin tidak sabar rasanya untuk segera sampai di Negeri Sakura tersebut.

Perjalanan panjang yang cukup melelahkan saya habiskan dengan : mengobrol, bercanda, membaca buku, makan-makan sampai tertidur dan terbangun lagi dan tertidur lagi. Hingga sampailah waktu landing kami di Bandara Tokyo Haneda pada pukul 10.30 PM malam hari. Tiba di Bandara kami langsung melihat sekeliling dan sudah pasti ke toilet. Tidak sulit menemukan toilet karena sepanjang di dalam Bandara bertebaran toilet, yang kabarnya memang banyak tombol ajaib. Benar saja, toilet ini memang banyak tombol ajaib yang super keren. Maklum saya belum pernah melihat toilet macem ini sebelumnya di Indonesia. Selepas itu, kami menuju imigrasi Jepang untuk mendapatkan stempel masuk Jepang.

Welcome to Japan
Pertama kali lewat lorong ini langsung nyari toilet
Berbaris rapi antrian pada malam hari itu dengan banyak petugas imigrasi Jepang yang melayani. Begitu sampai antrian saya dan saya dipersilahkan untuk maju, saya sangat terkesan dengan petugas imigrasi Jepang. Dengan budaya kerja Jepang, petugas tersebut tersenyum menyambut saya dan menyapa “Konbanwa” yang artinya selamat malam. Saya pun refleks membalas senyum lebar sambil menjawab "Konbanwa". Aaarggghhhh!! Petugas tersebut mulai membuka paspor milik saya dan memeriksa Visa milik saya. Tak lama saya diminta untuk meletakan jari saya di mesin pengindai sidik jari dan memposisikan mata saya di kamera yang disediakan, mungkin untuk pemotretan *eh. Setelah proses singkat tersebut selesai, ia tersenyum mengembalikan paspor milik saya sambil mengucapkan “Arigatou Gozaimasu” yang artinya “Terima kasih”. Saya berjalan menjauhi kounter petugas imigrasi tersebut masih dengan perasaan excited luar biasa. Baru kali ini seumur-umur saya berhadapan dengan petugas imigrasi yang disambut hangat dan penuh senyum, bahkan untuk jam tengah malam. Bahkan yang sering saya temui, di pagi hari pun petugas imigrasi juga jarang senyum :D Namun Jepang ternyata berbeda, luar biasa.


Denah Haneda Intl Airport kalau nyasar
Tidur darurat di bandara Haneda

Karena waktu menunjukan sudah tengah malam tidak mungkin untuk berkeliaran apalagi mencari penginapan, maka kami memutuskan untuk menginap di Bandara Haneda dan menunggu pagi hari. Kami sudah berencana akan menginap di Bandara setelah sebelumnya saya googling apakah bisa menginap di bandara Haneda, dan ternyata banyaaaakk yang menginap di sana. Begitu keluar dari imigrasi Jepang, langsung terhampar deretan kursi-kursi yang siap untuk jadi alas tidur :D Awalnya saya masih ragu untuk tidur merebahkan badan, karena banyak petugas yang berkeliaran, namun lama-lama saya menyadari bahwa memang diperbolehkan untuk tidur di ruangan tersebut. Banyak yang saya lihat merebahkan badan dengan santai sambil menaikan kaki di atas koper miliknya. Petugas memang berkeliaran untuk berjaga-jaga saja, tidak pernah menegur dan melarang, jadi amaaaaan~ Kendati demikian, jangan lupa untuk tetap menjaga barang barang yang kamu bawa ya, misalnya ransel kecil digunakan untuk bantalan kepala, sedangkan koper besar dijadikan alas untuk merebahkan kaki.

Mau begadang semalaman? Boleh juga. Kamu tidak akan bosan menunggu pagi karena di bandara ini tersedia fasilitas free Wifii dengan kecepatan super yang akan menemani kamu semalaman. Jangan khawatir juga baterai HP habis, karena tersedia banyak meja yang dilengkapi dengan stop kontak yang bisa dipakai sepuasnya untuk cas HP. Tidak jauh dari tempat duduk kami terdapat pula smoking room untuk pengunjung. Adik saya sempat menengok ke dalam, ia bercerita bahwa smoking roomnya luas dan bersih, lebih mirip kafe daripada tempat merokok gratis

Setelah beristirahat semalaman, Shubuh pun tiba, kami shalat di ruangan Bandara tersebut dengan menggelar sajadah :D Untuk akses air minum, di ruangan tersebut juga ada air minum gratis untuk isi ulang. Ketika saya mencoba untuk mengisi ulang botol minum milik saya, luar biasa airnya superrrr dingin kayak dari kulkas. Segaaaar. Maklum norak, saya langsung minum banyak :D Tersedia juga loker penyimpanan barang, toilet dan ruang ibu hamil dan menyusui. Ruangan tersebut bisa dipergunakan juga untuk bayi atau balita yang ingin berganti popok, dengan fasilitas beberapa kasur bersabuk pengaman yang berjejer serta sebuah mesin entah apa gunanya, saya belum pernah mencobanya (berhubung tulisannya juga bahasa Jepang semua). Jepang ramah sekali untuk ibu-ibu yang memiliki bayi dan balita yaaaa :D


Tombol toilet Jepang
Demikian hari pertama menginjakkan kaki di negera Jepang yang selama ini saya mimpikan, tidak sabar untuk petualangan berikutnya.

Salam,
Noni Halimi