Showing posts with label puasa. Show all posts
Showing posts with label puasa. Show all posts

Sunday, August 3, 2014

Tarawih di Masjid Jamek Kampung Baru

Dua kali kami berkesempatan untuk shalat di Masjid ini, namanya Masjid Jamek Kampung Baru. Lokasinya sangat dekat dengan Jalan Raja Alang, tempat peristirahatan kami. Masjid ini cukup besar dan cukup strategis. Pada saat Shalat Shubuh, kami Shalat Shubuh di Mesjid ini pukul 06.00 (waktu Shubuh di sana memang siang). Keluar dari Masjid, ada bapak-bapak yang sedang mengaduk bubur sum-sum pada kuali yang supeeerr besar. Penasaran, maka bertanya. Ternyata kuali yang berisi bubur itu dibuat untuk dibagikan pada saat buka puasa. Luarrr biasa, dibuatnya dari shubuh-shubuh buta karena porsi kualinya yang sangat besar, maka dibutuhkan juga proses menggodok yang cukup lama.

Masjid Kampung Baru
Suasana Bazar Ramadhan yang belum buka
Beda Shubuh, beda cerita juga dengan Maghrib dan menjelang tarawih. Saat setelah buka puasa, maka sudah banyak orang berbondong bondong menuju Masjid ini. Di luar area pelataran Masjid ini ada box besar berisi aqua gelas dengan es yang super banyak. Aqua gelas ini juga bisa diambil oleh jemaah yang akan tarawih. Di sebelahnya juga ada satu bungkus plastik kolak yang besar. Jangan tanya ururannya, jika biasanya di Indonesia kolak dibungkus dengan plastik ukuran 1/4 kg, ini dibungkus dengan plastik ukuran 1 kg. Dan ini gratis, bisa diambil berapa pun tak dibatasi. Bisa dibawa pulang. Edaan.

Tarawih dimulai pada pukul 20.30 dan berakhir pukul 23.00, jumlah rakaatnya ada 23 rakaat dengan imam yang membaca surat panjang entah berapa juz. Imam tarawihnya pun bergantian sampai 3 kali. Imam tarawih biasanya didatangkan dari Timur Tengah, namun terkadang dari orang Malaysia sendiri. Misinya adalah tarawih dengan menghatamkan Al Quran. Jadi imam membacakan surat setiap tarawih minimal sekali tarawih habis 1 juz. Bahkan biasanya baru 25 hari, Masjid tersebut sudah hatam. Bacaannya sangat merdu dan menghayati, terkadang imamnya terhenyuh sendiri karena saking menghayati. Saya pun teringat cuplikan imam Masjidil Haram yang memimpin Shalat. Sebegitu mengerti arti ayat yang dibaca hingga beliau menangis terisak di tengah Shalat. Masyaa Allah. Pengalaman tarawih di Masjid Malaysia memang menjadi pengalaman hidup yang berbeda, apalagi Tarawih di Masjidil Haram. Insya Allah ada saatnya kami sekeluarga ada rejeki ke sana. Aaamiiiin.

Dari sekian pengalaman mengharukan, tapi ada lucunya. Pada saat tarawih baru 8 rakaat, beberapa orang mundur ke belakang membubarkan diri. Jadi mereka akan melakukan witir sendiri 3 rakaat, hingga jumlahnya 11 rakaat. Mundurnya berbarengan dan sangat kompak, hehehee. Awalnya saya bingung, kok baru 8 rakaat langsung banyak yang bubar. Terlalu kompak dan berbarengan, hingga saya bingung. Tak lama saya menyadari bahwa mereka yang membubarkan diri itu akan melanjutkan witir sendiri. Jadi total tarawih mereka adalah 11 rakaat. (Tau gitu saya ikutan jugaa bubar *loh)

Suasana tempat shalat wanita
Area shalat untuk pria dan wanita dipisah ruangan, namun suaranya tetap terdengar. Suasana tempat shalatnya pun super adem, full AC dan nyaman. Beberapa wanita setengah baya ada yang menarik kursi untuk shalat sambil duduk. Di sana juga disediakan kursi bagi yang tidak kuat untuk shalat sambil berdiri. Selain area shalat, juga terdapat panggung di sisi kiri tempat wanita. Mungkin dipergunakaan untuk kajian kemuslimahan di Masjid ini.

Usai shalat tarawih, kami keluar Masjid dan kembali berdecak melihat meja yang tadinya menyuguhkan plastik kolak, kali ini berjejer buanyaaaak banget jajanan kue basah. Penuh makanan dan disediakan juga plastik untuk membukusnya jika ingin dibawa pulang. Aqua gelas dingin pun masih saja penuh. rupanya petugas akan mengisikan stock makanan dan minuman lagi ketika jumlahnya sudah mau habis. Masya Allah.

Jamaah mengambil minuman gratis
Makanan gratis
Ada lagi yang unik dari aqua gelas di Malaysia. Jika di Indonesia, maka aqua gelas dengan sedotan terpisah, dan harus mencopotnya satu per satu. Jika di Malaysia, maka sedotan aqua gelas langsung menempel satu paket dengan aqua. Pendek dong? Ya, memang ukurannya pendek, secara logika jika dipakai untuk aqua, akan tenggelam. Namun lucunya, ketika sedotan tersebut dicopot dari aqua gelas, dibuka dari plastiknya, maka sedotan tersebut bisa ditarik menjadi panjang ukurannya. Sehingga apabila ditusuk untuk minum, maka tidak akan tenggelam. Inovasi yang super dan sepertinya biayanya mahal hehhehehe.

Aqua Malaysia yang sedotannya unik
Sedotan memanjang
Saking bertebarannya makan gratis, seperti tidak ada yang kelaparan rasanya, bahkan tuna wisma di Kuala Lumpur dijamin makanan dan perlengkapan sehari-harinya. Saya melihat di sepanjang jalan dekat Chow Kit pada malam hari, ada segerombolan orang yang sedang antri makanan dan bagi-bagi baju layak pakai. Ternyata mereka adalah tuna wisma yang sedang antri. Mereka dilayani oleh NGO yang bergerak dalam bidang sosial fokus tunawisma. Tidak hanya dari NGO, tetapi dana pemeliharaan tuna wisma ini juga diberikan oleh Kerajaan Malaysia. Jadi mereka tidak gelandangan compang camping di kolong jembatan. Mereka cukup rapi dan tidur di lokasi-lokasi tertentu yang diperbolehkan Negara, tidak di sembarang tempat. Ini baru sesuai dengan Undang-Undang Indonesia, bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh Negara. Jika saja negara kita mampu seperti Malaysia.

Well done, sekian dulu pengamatan saya saat tarawih di Masjid Kampung Baru, semoga bisa memberikan hikmah dan motivasi kepada pembaca sekalian.
Salam,
Noni Halimi

Bazar Ramadhan Jalan Raja Alang

Lokasi istirahat yang disediakan oleh kolega Bapak saya berada di Raja Alang, Kuala Lumpur. Jalan Raja Alang adalah sebuah jalan panjang yang biasa dibuat bazar Ramadhan. Saya pernah menonton Upin Ipin saat bulan puasa, ada scene Upin dan Ipin diajak Kak Ros untuk belanja buka puasa di Bazar Ramadhan. Terlihat suasana bazar dengan tenda yang ramai menjajakan jajanan berbuka. Ternyata saya menyaksikan sendiri Bazar Ramadhan ala Upin Ipin di sini.

Ramainya Bazar Ramadhan Jalan Raja Alang
Jalan Raja Alang
Harga makanan dan minuman yang dijual pada Bazar Ramadhan cukup murah, range harga 1 sampai 10 RM saja. Maka jika belanja di sini cukup membawa uang 10 RM atau senilai 38.000 IDR maka kita sudah bisa pulang membawa banyak macam makanan. Ada yang menjual kue basah khas Kuala Lumpur yang super enak 1RM dapat 3 biji. Es milo, es mango pinneaple, es talas, es cincau, es kelapa, es blackcurant, es teh tarik dan segala macam minuman es dengan harga 1 RM untuk plastik kecil dan 2 RM untuk plastik besar. Ukuran plastik besarnya ternyata memang besar banget, cukup untuk 4 gelas. Es yang dipergunakan di bazar kaki lima ini bukan es balok dari kali ciliwung yang dipecah dengan alat tidak steril seperti di Indonesia. Saya melihat sendiri truk freezer membawa berkarung-karung plastik es bersih dan dibagikan kepada pedagang di sana. Es bulat yang biasa digunakan di kedai siap saji fast food, sudah berbentuk kecil-kecil dan higienis. Beda banget sama Indonesia yang.....ahhh sudahlah daripada emosi.

Makanan yang dijual beragam, ada tom yam, mie khas Penang, Ayam goreng, nasi lemak, nasi briyani, mie goreng Kuala Lumpur, ayam goreng, ayam madu, ayam fillet bumbu, murtabak manis atau asin, roti jala, cemilan ringan, sampai favorit saya di KL saat kelaparan dan pengen ngirit, yakni sosis dan baso tusuk harga 1 RM dilumur saus. Nyaaamm.

Nasi Lemak
Laksa Penang, Malaysia
Ngomong-ngomong Ayam Madu, saya ingat sekali Upin Ipin pernah melihat rekannya Mael pedagang sejati sedang berdagang Ayam Madu di Bazar Ramadhan. Harganya 1RM dapat 2 ayam. Kala itu Upin dan Ipin malah menjualnya dengan 1 RM dapat 3 ayam. Rupanya memang benar-benar ada yang menjual Ayam Madu dengan kipas dan asap yang aromanya lezat. Harganya 1 RM dapat 2 potong kecil ayam, atau 2 RM dapat 1 bagian ayam paha drum stick/dada. Persis seperti film Upin Ipin. Aaaahhh!

Ayam Madu dan bocah yang ingin membeli
Ayam Madu Ipin Upin
Nak Ayam Madu?
Selain makanan yang beraneka ragam, penjual di bazar ini juga ramah dan super baik. Saat kami tanya macam-macam mengenai makanan mereka, dijawab dengan lengkap dan jelas. Tak jarang juga mereka memberi lebih pada makanan kami. Saat kami hanya beli nasi briyani polos seharga 1 RM sebanyak 2 buah, kami dapat gratis sebungkus saus acar nanas lumayan banyak, padahal kami tidak membeli lauknya. Semoga keberkahan mengalir untuk pedagang-pedagang super baik ini.

Tidak jauh dari deretan bazar, terdapat pasar pagi yang menjual banyak daging, ikan, dan sayuran bahan baku memasak. Tidak hanya itu, pasarnya juga menjual buah buahan yaag super beraneka ragam. Dari mulai mango, kelengkeng, duku, manggis, delima, nangka, cempedak, melon, semangka, durian, jambu air, pepaya, pisang, dan masih banyak lagi. Sumpah saking banyaknya buah, saya sampe mikir "Di sini gak ada musim buahnya kali ya, kok banyak banget buahnya"
.
Durian Hahaha
Salah satu yang menarik buat saya adalah penjual durian yang berjejer di sana, mereka menjual 10 RM untuk 5 durian yang bisa dibuka langsung ditempat. Kami membeli 10 RM dan diberikan gratis 1 buah durian sehingga totalnya 6 durian. Tuh kan, lagi-lagi pedagangnya baik-baik banget. Penjualnya mahir membuka durian dan dengan gesit memasukkan isi buah durian ke dalam box tempat makan besar yang kami bawa. Penuh. 10 RM entah dapet berapa biji, banyak bangeeet. Dan setelah dimakan, rasanya manis semua, tidak ada yang mengecewakan. Di luar jenis durian itu, saya sempat membeli durian jenis Udang Merah. Harganya cukup mahal yakni 20 RM isinya hanya 4 buah durian besar. Saat mencoba 1 buah, luar biasaaaaa, enak banget! Hampir seluruh isinya daging durian semua dan biji duriannya.....cuma seiprit saja. Warna daging duriannya kuning kemerahan, karena itu disebut Udang Merah. Rasanya lebih enak dari durian Monthong. Asli deh harus nyobain :D

Pasar Jalan Raja Alang
Bazar Ramadhan ini pun masuk pemberitaan di statiun televisi Malaysia saat saya sedang menonton TV di hotel siang hari. Liputannya mengenai Bazar Ramadhan di Raja Alang. Waaahh beruntungnya saya pernah ke sana. Hehehe. Pengalaman yang berbeda bisa menikmati puasa di negeri orang, walau bagaimana pun serunya, tetap saya rindu negeri sendiri :D

Ifthar Massal di Masjid Besi, Selangor

Hari ketiga kami di Kuala Lumpur, kami berencana untuk tarawih di Masjid Tuanku Mizan Zainal Abidin Putrajaya atau lebih dikenal dengan Masjid Besi. Memang tujuan utama kami ke Kuala Lumpur saat puasa adalah menikmati tarawih di Masjid-Masjid besar Kuala Lumpur. Putrajaya memang banyak sekali Masjid besar. Maklum ini adalah area pusat pemerintahan Kuala Lumpur, banyak sekali gedung pemerintahan, istana perdana menteri dan perumahan kawasan menteri dan pegawai negeri. Sepanjang area Putrajaya dipasang cctv bahkan sampai ke jalan raya dan area perumahan. Kebiasaan orang Malaysia adalah tertib rambu lalu lintas, sehingga apabila ada lampu merah di area tersebut, padahal jalanan kosoooong melompong, tetap saja kendaraan berhenti dan menunggu lampu hijau. Coba kalau di Indonesia.....eemmmm

Masjid Besi
Jalanan Masuk Masjid
Sekitar Luar
Kami sampai di Masjid Tuanku Mizan Zainal Abidin pukul 17.00 atau masih 2.5 jam lagi buka puasa. Di Kuala Lumpur buka puasa pukul 19.30, mulai tarawih pukul 20.30 dengan 23 rakaat bacaan puanjang-puanjang maka praktis kami selesai tarawih pukul 23.00. Weeew. Kata Bapak, nanti ada saatnya kalau ada rejeki, insya Allah kami umroh bertujuh. Berhubung belum waktunya, maka ke Kuala Lumpur dulu dan merasakan nikmatnya puasa di negeri---yang sama-sama mayoritas Islam layaknya Indonesia, namun sangat berbeda suasananya.

Bagian luar Masjid ternyata dibangun tenda-tenda putih bazar Ramadhan yang menjual makanan, minuman, pakaian dan segala macam yang bisa dijual. Dari ketinggian Masjid kami melihat bazar tenda putih seperti tenda di Padang Arafah. Ramai manusia lalu lalang. Namun sayang sekali harganya mahal ketimbang di Indonesia. Saya cek harga jilbab di Malaysia sekitar 125 RM atau senilai 475.000 IDR. Mahal bangeeeet. Liat baju-baju gamis di sana juga mahal, padahal modelnya standar saja, sekitar 125 RM - 175 RM. Rasanya pengen ke Tanah Abang terus buka lapak di sini haha. Dari segi model ala-ala Hijab memang Indonesia lebih kreatif dan cantik.

Hampir setiap Masjid di sini menyelenggarakan tarawih 23 rakaat. Imam dari lokal atau timur tengah pasti membacakan surat puanjang puanjang yang suaranya super bagus (kata Bapak sama Ibu, ini mirip kayak di Masjidil Haram, saya cuma ngangguk-ngangguk aja berhubung belom pernah). Kebiasaan di Masjid Putrajaya ini jg mengadakan buka puasa massal secara gratis selama sebulan penuh. Stock buka puasa sampai 2500 orang dan dibiayai oleh Negara, bukan dari sumbangan donatur-donatur. Negara memiliki alokasi dana sendiri untuk kegiatan seperti ini. Hal ini tidak ditemui di Indonesia.
Bazar ala Mina
Awalnya saya pikir hanya takjil biasa, mungkin kurma dan makan ringan yang dibungkus. Namun pada saat saya sampai di kanopi dalam Masjid, terlihat karpet panjaaaaaang yang berjajar 8 baris. Di atas karpet diletakkan takjil dan orange jus. Di setiap pilar Masjid terdapat juga meja berisi tumpukan takjil berupa kurma + pastel dan tong orange jus super gede yang bisa kita refil seenak jidat. Pengambilan takjil juga tidak dibatasi, maka bisa dibawa pulang jika berminat. Di selasar Masjid didirikan tenda dan meja-meja, serta meja prasmanan untuk makan malam. Jadi lepas buka puasa dengan takjil, kemudian lanjut sholat Maghrib. Setelah itu kami beratur (berbaris) di meja-meja prasmanan untuk mengambil makan malam seenak jidat juga (ada nasi, lauk pauk ayam, telur, dan banyak lagi). Sumpah saya berasa lagi di kawinan orang. Pemerintahan Malaysia banyak duit banget ya. Momen ini banyak diikuti oleh masyarakat Putrajaya, Kuala Lumpur, warna negara Malaysia lainnya bahkan turis dari berbagai negara.

Setelah santap makan malam, piring diletakan di sisi meja kemudian diangkut dan dibereskan oleh petugas Masjid yang berpakaian putih. Dalam waktu singkat, selasar Masjid sudah kembali rapi dan kami bersiap untuk sholat Isya dilanjutkan tarawih. Pemandangan suasana Masjid yang indah dan semangat orang-orang yang luar biasa mencari pahala kebaikan.

Bagian belakang Masjid dekat terdapat rak yang berisi air mineral botol 350 ml, dan kotak amal di sampingnya. Jamaah bisa mengambil air secara gratis dan jika ingin beramal bisa memasukkan uang ke dalam kotak tersebut. Bukan hanya Masjid ini saja yang menyediakan minum gratis, pun demikian di Masjid Pink Putrajaya. Saat saya ke Masjid Putrajaya ada pula rak macam ini, bahkan ada dispenser air yang bisa kami isi ke dalam botol minum pribadi sepuasnya. Dingin, hehehe.

Lepas shalat saya melihat-lihat pemandangan luar, terlihat dari jauh jembatan Seri Wawasan. Hall utama untuk shalat berjamaah ada di lantai 2. Ada arsitektur menakjubkan mengenai Masjid ini. Ketika saya berjalan ke pinggir Masjid, terdapat kolam yang cukup luas. Saat malam gelap dan lampu hias Jembatan Seri Wawasan menyala dari kejauhan, ternyata saya menyadari bahwa kolam tersebut dibuat dengan sudut pandang sejajar dengan Jembatan Seri Wawasan. Maka ketika kita duduk di depan kolam, dan memandang ke luar, maka kita seperti duduk di lautan kolam hingga ada Jembatan di tengah kolam. Padahal jarak jembatannya jauuuh dan dibawah sana, tapi entah kenapa rasanya seperti dekat karena susunan arsitektur Masjid yang luar biasa ini.

Kira-kira seperti itulah pengalaman shalat tarawih saya di Masjid Tuanku Mizan Zainal Abidin, Selangor Malaysia. Usai shalat, makin ramai dengan panggung nasyid dan masih ramai orang yang berkunjung bersiap i'tikaf.

Area Tempat Berkumpul
Dewan Peradilan
Add caption

KLIA 2

Bandara KLIA 2 Malaysia
KLIA 2 (Kuala Lumpur International Airport) adalah bandara milik Malaysia yang merupakan relokasi dari LCCT (Low Cost Carrier Terminal), yakni bandara yang dipergunakan oleh maskapai low budget, salah satunya Air Asia. Bandara ini terhubung dengan bandara utamanya KLIA 1 dengan interconected bridge atau jembatan penghubung. Jangan ditanya luasnya bandara ini, super gede. Kalau dibandingkan dengan Soekarno Hatta ya jauh bener. KLIA 2 resmi beroperasi dan dibuka pada bulan Mei 2014. Saat saya dan rekan saya ke KL pada bulan Januari 2014, masih mendarat di LCCT. Maka pada penerbangan kali ini, saya berkesempatan mencoba KLIA 2.

Tempat landasan pesawat
Secara tampilan bandara ini sangat bersih dan luas. Tiap pintu yang menghubungkan dengan ruangan lain tertutup rapat dan hanya bisa diakses dengan security code. Saya pikir semua pegawai tahu security codenya, atau setidaknya punya kartu akses masuk ruangan seperti kantor-kantor di Jakarta, namun ternyata tidak. Bahkan awak kapal, pramugari, pilot dan petugas bandara tidak tahu dan tidak bisa sembarang akses. Saya mengalaminya sendiri.

Saat kami turun dari pesawat, kami langsung diturunkan masuk ke dalam KLIA 2 dengan jembatan penghubung antara pesawat dan gedung. Berbeda halnya dengan LCCT, kami turun dengan tangga pesawat biasa dan berjalan masuk ke dalam ruangan LCCT. Jika di KLIA 2, begitu turun pesawat langsung masuk gedung. Saat kami keluar pesawat, ada pintu yang terbuka dan kami diarahkan untuk masuk pintu tersebut, tulisan pintunya adalah Domestic Arrival. Pintu sebelahnya bertuliskan International Arrival. Saya tidak begitu menyadarinya, karena mungkin bandara baru, jadi bisa masuk pintu Domestic Arrival. Kami mencari claim bagasi, saya baca di running text tempat claim bagasi, bahwa bagasi pesawat kami ada pada ruang nomor 6, bahkan sudah ada keterangan First Bag arrive, yang berarti mesin pemutar bagasi sudah berjalan. Lucunya lokasi tempat kami berdiri adalah nomor 1, 2, 3. Untuk mesin putar bagasi nomor 6 ada di bagian ujung dan tertutup pintu kaca. Kami tidak diperbolehkan lewat, dan petugas tidak diperkenankan membuka. Padahal nomor 6 terlihat dari pintu kaca. Kelihatan kok ada di ujung sana. Lha aneh. 

Imigrasi
Saya berlari tanya petugas, ternyata lokasi kami ini adalah tempat kedatangan untuk penerbangan Domestic, persis seperti pintu yang saya baca tadi pada saat turun pesawat. Saya berlari kembali ke arah pertama keluar pesawat, jalannya cukup jauh. Hampir 20 menit kami putar-putar. Kemudian kami bertemu dengan pramugari Air Asia di pesawat kami, dan ia memberitahukan akan kesalahan pintu keluar dan memohon maaf kepada kami. Saat itu saya bersama beberapa rombongan yang juga nyasar hanya bisa ketawa saja. Lha wong kita disuruh masuk pintu Domestic sama pramugarinya sendiri kok, mana kita tahu.

Ia berkali-kali meminta maaf kepada kami bahkan menepuk pundak adik saya dan mohon maaf mereka salah membukakan pintu keluar. Kami dan beberapa rombongan fix nyasar.

Alhasil kita dibawa ke tempat pertama kali datang, pintu kaca tulisan Domestic Arrival tertutup rapat. Pramugari cantik muka-muka ala Korea tersebut menelpon bagian bandara untuk minta dibukakan pintunya. Dari telepon ia dipandu kode untuk membuka pintu, dan ia input di mesin samping pintu. Ketika selesai, ia bicara kembali "Is it done? Okay? Is it open now? Okay, let me try.." *kemudian ia menarik pintu, dan pintu bisa dibuka* Ia menyahut kepada kami, "Okay, it's open now..sorry..sorry, come in" Seraya memberi jalan kepada kami untuk masuk. Pun demikian dengan pintu satu lagi yang masih tertutup, ia mendapatkan security code dari telepon dan memasukkan pada mesin di samping pintu. KLIA 2 ini memang steril. Asli.

Saat kami sampai di pintu keluar, ternyata ada 1 lagi pramugari Air Asia pesawat kami, yakni pemimpin kabin. Wanita cantik berpenampilan rambut cepak seperti laki-laki, pembawaan gesit, dan bahasa inggris yang lancar dan fasih. Bukan hanya bahasa Inggris, saya perhatikan ia juga mengobrol dengan rekan pramugari lain di dalam pesawat dengan bahasa Malaysia dan Mandarin. Di depan pintu ia berdiri sambil menelungkupkan tangan dan mohon maaf atas kesalahan mereka sehingga kami harus nyasar. Bapak saya komen sambil senyum "Wah, kita sudah olah raga nih di KLIA", ia menyambut dengan senyum dan permintaan maaf "Mohon maaf sekali lagi Pakcik" Heheheehee. Lucu bener.

Suasana Bandara KLIA 2
Satu hal lagi yang saya alami di pesawat Air Asia, sepertinya ada standarisasi baru ketika pesawat sudah persiapan landing. Biasanya pemimpin kabin hanya menyebutkan selamat datang di kota tujuan. Misal, ketika kita datang ke Malaysia, maka ia akan berkata "Welcome to Malaysia". Namun kini, ada penambahan yang membuat sambutan menjadi lebih hangat dan bersahabat. "For foreign passenger, Welcome to Malaysia, and for Malaysian passenger, Welcome Home." Kalimat simpel namun sarat makna menurut saya. Kepada penumpang warga negara luar Malaysia, selamat datang di Malaysia, dan untuk penumpang warga negara Malaysia, selamat datang di rumah kalian. Bikin saya pengen balik lagi ke Indonesia dan dibilang, helooooo...selamat datang di rumah...... Hehhehehhe.

Thank You Air Asia

Berawal dari bulan September 2013 saat saya sedang asyik cari tiket murah di kantor, tetiba saya ingat obrolan Ibu Bapak saya yang berencana ke Kuala Lumpur sekeluarga. Maka saya langsung bbm Ibu saya, bahwa tiket murah Jakarta-Kuala Lumpur jatuh pada bulan Juli 2014, saat bulan puasa dan liburan anak sekolah. Di luar dugaan, bbm singkat beliau menjawab bahwa Bapak saya pun setuju dengan rencana kami akan liburan dan berpuasa di Kuala Lumpur. Horeeeeeyy!!

Pemesanan tiket Air Asia untuk penerbangan internasional bisa dilakukan dengan isian nama penumpang dan tanggal lahir saja, berbeda dengan maskapai penerbangan lain yang membutuhkan data identitas nomor paspor. Ini yang saya suka dari Air Asia, bisa ngajak siapa pun yang belum punya paspor untuk pesan tiket penerbangan internasional. Yang penting pesen tiket dulu ke luar negeri, bikin paspor belakangan. Pun demikian dengan keluarga saya, yang memiliki paspor baru Bapak, Ibu dan saya, sedangkan keempat adik-adik saya belum memiliki paspor.

Rencananya Bapak saya jg akan bertemu dengan kolega-kolega beliau yang tinggal di Kuala Lumpur. Saya baru tahu bahwa kami disediakan tempat menginap di area Raja Alang, tapi saya sudah pesan 3 kamar di Tune Hotel milik Air Asia di daerah Medan Tuanku. Alhamdulillah lokasi tempat menginap Raja Alang dengan Medan Tuanku cukup dekat, sehingga kami bisa singgah bergantian di dua tempat tersebut :D
Tune Hotel Medan Tuanku
Booking Tune Hotel
Tune Hotel adalah hotel bintang 3 milik Air Asia dengan konsep minimalist low budget traveler. Saya pesan 3 kamar double room untuk 3 hari. Harga per kamar untuk semalam sekitar 250.000 IDR. Harga yang cukup terjangkau dengan kantong saya ketimbang hotel-hotel mahal lainnya di Kuala Lumpur. Awalnya saya ingin pesan apartemen untuk kami sekeluarga, karena jumlah kami cukup banyak, maka akan lebih irit dan efisien apabila saya pesan satu kamar di apartemen. Banyak apartemen yang disewakan oleh pemiliknya di daerah Bukit Bintang. Saya pernah pesan di Fahrenheit 88 tahun 2012 silam, harganya cukup murah. Namun dikarenakan Bapak saya request pesan hotel yang dekat dengan Raja Alang, maka saya putuskan untuk memesan Tune Hotel yang beralamat di Jalan Tuanku Abdul Rahman 316, Kuala Lumpur 50100. 

Bulan Ramadhan tiba, bertepatan dengan pemilihan presiden yang ke 7 di negara saya, yakni tanggal 9 Juli 2014. Kami sekeluarga sudah packing dan mempersiapkan barang bawaan sehari sebelumnya. Pagi hari saya sudah sibuk untuk coblos pemilu hehehe, siang hari kami sudah siap dengan bekal makanan untuk buka puasa di Bandara. Kami take off pukul 20.30 WIB dan rencananya sehabis maghrib kami sudah harus check in bagasi. Pengalaman dari check in yang mepet sebelum-sebelumnya, maka lebih baik check in awal. Untuk penerbangan Internasional disarankan untuk sampai Bandara 2 jam sebelum keberangkatan. 

Seperti biasa, yang rempong di keluarga saya tiap pergi-pergi adalah makanan. Kebiasaan keluarga saya adalah bawa makanan sendiri, jarang beli makanan di luar apalagi restoran. Maka untuk buka puasa di Bandara, maka kami bawa makanan sendiri. Nasi briyani, gulai ayam, acar nanas, gurame tepung, semuanya bikinan sendiri. Ini berawal dari Bapak saya yang minta dibuatkan nasi briyani ala-ala di Singapur. Hadeeh.

Perjalanan ke bandara cukup lengang, mungkin karena orang-orang lebih milih diam di rumah habis nyoblos pemilu ketimbang memenuhi jalan raya. Sampai di Bandara pukul 17.00 dan kami ngabuburit di depan Musholla Parkiran Terminal 3. Rencananya setelah kami buka puasa, semua perlengkapan akan dibawa pulang lagi ke rumah oleh driver. Pengalaman berbuka puasa yang menyenangkan :)

Lepas Shalat maghrib dan Isya (jamak), kami langsung menuju tempat check in Air Asia. Paspor kami bertujuh semuanya diletakan di dompet traveling milik saya supaya memudahkan. Hanya hitungan menit, tidak mengantri, maka boarding pass sudah di tangan. Saya memang tidak pesan nomor kursi pada saat pesat tiket, karena booking nomor kursi akan dikenakan biaya tambahan. Buat apa? Lebih baik ya random saja saat check in, paling request agak duduknya masih sederetan, jangan ada yang terpisah sendirian. Eehhhh...rejeki anak sholehah, Saya dan Yasmin (adik saya yang bungsu) dapet nomor kursi 1 alias hot seat, paling depan. Yeaaah bisa liatin pramugari keceeee! 

Penerbangan Jakarta - Kuala Lumpur ditempuh dalam waktu 2 jam, namun terdapat perbedaan waktu antara Jakarta dan Kuala Lumpur 1 jam, sehingga ditambahkan waktu 1 jam lagi. Jika kami take off pukul 20.30, maka kami sampai di Kuala Lumpur pukul 22.30 WIB atau pukul 23.30 Waktu Kuala Lumpur.

Hot Seat Hahahaha
Pesawat saya ternyata berbarengan dengan orang-orang Lombok dan Kalimantan yang akan berangkat umroh. Ramai rasanya dengan seragam mereka yang berwarna putih dan logat daerahnya. Bahkan ketika diajak bicara bahasa Indonesia, mereka masih belum fasih dan bingung.

Alhamdulillah perjalanan sangat lancar dan kami mendarat di KLIA 2. Ini kali pertama saya menginjakkan kaki di KLIA 2, yakni bandara hasil perpindahan dari LCCT. Ini adalah bandara yang saling terintegrasi dengan Bandara KLIA 1. Ada jembatan penghubung yang keren. Luar biasa.
Dapat tiket pesawat berangkat yang super murah 199.000 IDR dan Tune Hotel yang cukup murah, tidak ada yang bisa saya ekspresikan selain bersyukur, Alhamdulillah..Thank you Air Asia :)

Tuesday, May 27, 2014

Choco Crunch Ala-Ala

Saat Ramadhan biasanya banyak anggota rumah yang sibuk juga menyiapkan kue untuk hidangan lebaran. Pun demikian dengan keluarga saya, namun biasanya kami membuat kue-kue itu pada minggu kedua Ramadhan, tidak mepet mau lebaran. Hal itu dikarenakan biasanya hari-hari terakhir Ramadhan kami melancong alias pergi-pergi ke Jawa atau Sumatera, atau jika stay di rumah ya sibuk mempersiapkan lontong sayur, rendang dan opor ayam. Maklum bikin lontongnya khusus, dari daun pisang dan digodok dengan panci besar dan tungku kayu bakar, ekstra lama dan kami membuatnya dengan porsi yang banyak, jadi cukup memakan waktu.

Untuk kue-kue kami biasa membuat kue semprit (ini wajib banget tiap tahunnya, karena ini kue kesukaan Bapak saya, jadi tiap tahun juga wajib banget bersihin nanas, motong nanas, dan ngaduk-ngaduk selai nanas di wajan besar), putri salju, castengels, dan nastar. Sedangkan kue-kue cemilan lain biasanya kami random sesuai selera, namun akhir-akhir ini cemilan yang satu ini tidak pernah absen dari rumah. Terlebih karena adik-adik saya sangat doyan dan agresif banget kalau sudah makan cemilan ini. Sekali buka toples, dikekep sendiri nggak diputar, boro-boro ditaro balik lagi ke meja. 

Cemilan ini terbuat dari Choco crunch cokelat yang dilapisi cokelat batangan yang sudah dicairkan, kemudian disusun di atas kertas alas kue, lalu atasnya ditaburi dengan butiran warna warni. Butiran penghias kue ini bisa dibeli di toko membuat kue atau bisa beli di pasar.

Kalau beli Choco crunch dari Nestle sudah pasti agak rugi bandar, berhubung adik-adik saya ganas makannya. Maka biasanya saya membeli Choco crunch KW yang logonya beruang cokelat itu lho, saya beli beberapa toples. Rasanya memang tidak semanis Choco crunch Nestle, namun tidak terlalu menjadi masalah karena pada akhirnya kan ada dibalut dengan cokelat juga. Rasanya akan menjadi manis. Ini semata-mata untuk menekan budget. Sungguh. *pengakuan

Pertama-tama, cokelat batang di iris tipis-tipis dengan pisau. Bagi yang malas mengiris cokelat gunakanlah parutan keju. Saya biasa menggunakan cara ini, sangat mudah dan cepat. Ini untuk mempercepat dan mempermudah proses pecairan cokelat. Cokelat batangan bisa di beli di supermarket, carilah di bagian pudding, agar-agar, dan sejenisnya. Haraga dan merek beragam berkisar 13.000 IDR - 20.000 IDR. Carilah yang rasa Cokelat biasa, atau boleh juga Dark Choco. 

Berhati-hati dalam mencairkan cokelat, sungguh ini penting sekali. Cara mencairkan cokelat bukan berarti cokelat dimasukkan ke dalam panci kemudian dipanaskan di atas kompor. Ini akan membuat cokelat melelh dari gosong. Kalau panik kemudian ditambah air? Ini makin memperburuk keadaan, cokelat yang bahannya banyak mengandung minyak memang tidak bisa disatukan dengan air. Akan ada gumpalan gumpalan yang akhirnya malah gagal.

Cara mencairkan cokelat adalah dengan cara merebus air dalam panci, kemudian angkat. Siapkan mangkok yang terbuat dari stainless, letakkan di atas panci tersebut. Kemudian setelah itu, baru masukkan cokelat yang sudah diparut ke dalam mangkok tadi. Ingat, mangkok ya bukan panci. Aduk perlahan. Uap panas dari panci akan disalurkan melalui pantat mangkok stainless yang berada di atasnya. Tak lama, cokelat pun akan mencair. 

Setelah cair, masukkan plain choco crunch ke dalam mangkok tadi, aduk-aduk hingga rata. ambil beberapa potong choco crunch dan susun di atas kertas alas kue, dan taburkan butiran warna. Tunggu hingga cokelat cair yang melumuri choco crunch itu kering. Setelah kering, baru kamu bisa memasukkan ke dalam toples dan menyusunnya dengan cantik. Rasanya enak dan bikin ketagihan anak kecil dan orang dewasa. Sangat cocok disajikan untuk acara keluarga di rumah, apalagi momen lebaran. Selamat mencoba :D

Mangkok bekas adegan mencairkan cokelat, dan cokelat parut di sisi kiri
Kalau malas mengiris cokelat, gunakan parutan, lihat bentuknya keriting :P
Chococrunch ala-ala siap dihidangkan