Showing posts with label wisata. Show all posts
Showing posts with label wisata. Show all posts

Tuesday, October 13, 2015

10 Things to do in Japan

Berikut tempat-tempat dan hal-hal yang harus dilakukan ketika kamu berada di Jepang. Cocok untuk rekomendasi tempat wisata yang bisa kamu kunjungi lhoooo...

Kobe
Kyoto
Osaka
Akihabara
Chiba
Harajuku
Shibuya
Shinjuku

Japan Trip : Onigiri


Onigiri (nasi kepal) merupakan makanan khas Jepang yang berupa nasi yang dipadatkan berbentuk segitiga, bulat atau silinder. Ada yang menyebutnya dengan Omusubi atau Nigiri-han. Onigiri dibentuk dan diisi sesuai selera lalu dibalut oleh nori (rumput laut). Di Jepang cukup mudah menemukan Onigiri, karena biasanya makanan ini dijadikan bekal. Jika ingin membeli onigiri maka mudah saja untuk menemukan di berbagai convenience store. Onigiri memang memiliki beberapa kelebihan, selain praktis makanan ini juga jauh lebih tahan lama ketimbang nasi biasa.

Bentuk onigiri bermacam-macam, ada yang berbentuk segitiga sama sisi, bentuk bulat, bentuk bulat pipih, bentuk bola dan bentuk persegi empat. Nasi yang digunakan sebagai bahan utama onigiri pun beragam dari mulai nasi putih, nasi yang dicampur kacang-kacangan, jamur, nasi yang yang dicampur dengan biji wijen. Isi dari onigiri yang di jual di Jepang ini berbagai macam ada daging ikan-ikanan, saus mayonaise, gorengan, telur, daging-dagingan, acar, tumisan maupun sayur. Setelah dibentuk dengan campuran isi tersebut, onigiri dibalut dengan nori (rumput laut).

Onigiri beli di Family Mart
Selama di Jepang saya beberapa kali mencoba onigiri, salah satunya di convenience store. Ada banyak onigiri isi yang dijual di sana, namun kamu harus berhati-hati mengenai ingredientsnya. Jangan sampai mengandung yang tidak halal. Kamu bisa menanyakan kepada petugas convenience store, mana onigiri yang kira-kira berisi ikan saja atau ayam. Karena cukup banyak onigiri yang berisi salami atau daging babi yang beredar di convenience store. Cari yang halal ya, no putaniku (no salami/jangan daging babi). Petugas akan berbaik hati memberi tahu kepadamu.

Onigiri dari Piece Hostel
Saya juga mencoba onigiri yang disediakan secara cuma-cuma di hostel Kyoto yakni Piece Hotel. Ketika saya sampai di Kyoto siang hari, kebetulan saya mampir ke ruang makan, ternyata ada sebuah nampan yang penuh dengan onigiri yang sudah dibungkus dengan plastic wrap dengan porsi yang cukup besar. Petugasnya mengatakan bahwa tamu bisa mengambil onigiri tersebut sesukanya, bahkan bisa dibawa untuk bekal di perjalanan. Lumayan banget kan! Onigirinya berbentuk bulat dengan taburan nori di seluruh isi nasi tersebut, serta wijen. Febi yang memang tidak doyan nori awalnya enggan untuk mengambil. Nori memang berbau menyengat dan agak amis baginya. Namun ketika saya mencoba satu onigiri, sama sekali tidak tercium bau nori, bahkan rasanya sangat gurih walaupun tidak ada isi daging apa-apa.

Febi yang awalnya menolak untuk mengambil, langsung berubah pikiran. Saya yang dari awal sudah ngambil malah berpikir mau nambah lagi untuk bekal di jalan hehehehe. Nasinya sangat pulen, sepertinya diberi minyak supaya lebih gurih, entah bagaimana caranya rasanya sangat enak, apalagi nasinya masih hangat. Nyam nyammm... Keesokan harinya saat sarapan ternyata saya menemukan lagi onigiri yang dihidangkan di hotel tersebut, seperti biasa saya langsung mengambilnya tanpa basa basi. Ini laper atau doyaaaan :D


Salam,
Noni Halimi

Japan Trip : Persiapan Itinerary Jepang


Visa sudah approval, langkah selanjutnya adalah membuat itinerary sungguhan. Jujur saja baru kali ini saya dadakan membuat itinerary. Setiap saya bepergian biasanya itinerary atau jadwal perjalanan sudah saya buat jauh-jauh hari. Berbeda dengan perjalanan saya kali ini, saya merasa persiapannya sangat minim dan serba mepet. Padahal destinasi saya adalah ke negara Jepang. Saya sudah googling sana sini, makin banyak baca makin puyeng dan makin deg-degan. Fiiuuhh. Masalahnya semua masih di dalam otak dan belum dituangkan dalam excel.

Alhasil mendekati hari H keberangkatan saya memutuskan untuk membuat itinerary bersama dengan Febi, travelmate saya yang nantinya akan berangkat bersama. Sebelumnya kami sudah membuat gambaran kasar di masing-masing draft kami, ketika nanti menginap baru kami akan menggabungkan semuanya. Ada pun draft tersebut saya buat di kantor saat sedang puyeng ngurusin Teller dan CS saya, sedangkan Febi pun dikerjakan di kantornya hehehe. Kami membagi tugas dengan cara Febi membuat itinerary Tokyo sedangkan saya membuat itinerary Kyoto dan Osaka. Kami saling balas-balasan revisi itinerary. Entah sudah part berapa itu draft.

Sungguh malam itu akan menjadi malam panjang karena kami harus berpikir keras bagaimana agar wisata kami ke Jepang berjalan dengan sukses. Rencananya kami akan bepergian ke 3 kota besar di Jepang yakni Tokyo, Kyoto dan Osaka. Berpindah dari satu kota ke kota lain dengan membawa barang bawaan besar tentu bukan perkara mudah, terutama dalam hal transportasi dan akomodasi. Yosshh... kami berencana menyelesaikan semuanya pada malam tersebut.

Sampai di rumah Febi, saya dan Febi langsung mengeluarkan alat pertempuran kami yak tidak lain adalah cemilan *looohh. Ini merupakan bagian penting dalam perintisan itinerary, rasanya kami tidak bisa berpikir kalau tidak ngemil *alasaaan. Saya membawa beberapa referensi buku yang membahas mengenai perjalanan ke Jepang serta tips-tips yang penting untuk diketahui. Saya dan Febi juga sudah print beberapa artikel yang berkaitan dengan destinasi wisata kami untuk memudahkan mengatur jadwal perjalanan.

Hostel yang akan kami tempati di 3 kota di Jepang sudah kami booking melalui booking.com, Alhamdulillah. Setidaknya penginapan sudah aman. Kenapa harus melalui booking.com? Karena pemesanan melalui booking.com tidak dikenakan biaya sepeser pun. Pembayaran dilakukan dengan uang cash ketika kami sudah sampai di lokasi tempat menginap. Lebih terjamin bukan? Apalagi kalau khawatir akan cancel mendadak, uang tidak akan hangus karena kami belum membayar apa-apa.

Destinasi wisata yang akan kami kunjungi juga sudah kami persiapkan, kami hanya mengatur waktu agar semuanya dirasa enak dan tidak terlalu melelahkan. Kami sudah membuat bucking list mengenai hal-hal apa saja yang harus saya lakukan di Jepang, terutama menaiki Shinkansen, itu wajib hukumnya. Kami berencana menaiki Shinkansen dari Kyoto menuju Osaka dengan perhitungan budget yang memadai karena harganya masih terjangkau. Walaupun konsekuensinya perjalanan dengan kereta peluru untuk ukuran jarak Kyoto dan Osaka sangat dekat dan hanya sebentar saja. Namun kami tidak masalah naik Shinkasen hanya hitungan menit, yang penting kami merasakan sensasinya kan?

Selanjutnya yang jadi permasalahan hidup kami adalah transportasi dari Tokyo menuju Kyoto. Ada banyak pilihan mengenai akses dari Tokyo ke Kyoto, diantaranya menggunakan jalur kereta Shinkansen, namun pastinya harganya mahal. Atau dengan menggunakan bus malam Willer Express dengan harga yang cukup terjangkau. Bus ini berangkat malam hari dari Tokyo dan akan tiba di Kyoto pada pagi hari. Pilihan yang tepat untuk menghemat penginapan kan? Namun sayang disayaaaanggg....kami cek website Willer Express ternyata tulisan kanji semua dan kami tidak berhasil memesan tiket tersebut. 



Peta Subway dan Kereta di Jepang
Pusing pala berbi. Saya dan Febi pontang panting cari cara, termasuk tanya sana sini ke teman yang punya akses di Jepang. Alhamdulillah ada teman dari teman kami (panjang kan urutannya), yang tinggal di Jepang, kami komunikasi melalui WhatsApp untuk meminta bantuan pemesanan bus. Dengan baik hati ia langsung reservasi bus untuk saya, Febi dan Adik saya melalui situs www.j-bus.co.jp dengan tujuan Tokyo – Kyoto. Mengapa kami tidak bisa memesan sendiri? Ini pertanyaan cerdas. Coba saja buka link tadi, dijamin siwer matanya melihat huruf kanji Jepang yang berserakan. Google translate sana sini namun tidak berhasil juga. Alhamdulillah ada yang membantu memesankan untuk kami.

Tiket bus untuk ke Gunung Fuji belum kami pesan karena rencananya kami akan membeli langsung di kounter tiket yang berada di terminal Shinjuku. Harganya kami sudah perkirakan sekitar 1700 Yen. Cukup mahal yaa.. Namun apa daya, kami wajib melihat Gunung Fuji, udah jauh-jauh ke Jepang masa nggak lihat Gunung Fuji kaaaaan..

Dalam satu malam akhirnya itinerary rampung diselesaikan, ini merupakan pencapaian yang cukup luar biasa bagi kami bedua. Ngebut fiksasi itinerary ditemani minyak kayu putih, coffee latte dan cemilan MSG. Terima kasih telah menemani kami semalaman :)


Salam,
Noni Halimi

Monday, October 12, 2015

Japan Trip : Menuju Khaosan Tokyo Original, Asakusa (31 Oct 2014)

Kami menaiki kereta menuju Asakusa Station dengan kartu pass Tokyo Subway Ticket. Kartu ini free dipergunakan untuk berapa kali pemaiakan selama masa kartunya masih aktif selama 3 hari sesuai yang kami pesan. Jadi kami tidak perlu khawatir dan ribet meyiapkan uang untuk membeli tiket setiap kali akan menaiki kereta. Kami cukup tap kartu pass kami di pintu masuk, selayaknya tap EZLink Card di Singapura. Perjalanan dari Bandara Tokyo Haneda 2F yakni menaiki Keikyu Line menuju Asakusa Station cukup singkat. Berhubung masih pagi hari, pemandangan masih sejuk dan situasi penumpang terlihat sibuk. Memang benar apa yang dikatakan oleh banyak orang, bahwa penduduk Jepang kalau berjalan memang terlihat terburu-buru. Entah seperti mengejar sesuatu. Bahkan untuk mengejar kereta sampai berlarian ke sana kemari, padahal jarak kereta satu dengan di belakangnya kurang dari 5 menit dan kedatangan kereta sangat on time alias tepat waktu tanpa kurang satu menit pun. Mereka berhitung dengan detik.

Kereta yang saya naiki agak mirip dengan kereta commuter line yang ada di Jakarta. Memang benar mirip, karena kereta commuter yang ada di Jakarta kabarnya memang hasil kereta limpahan dari Jepang. Bentuk dan isinya sama persis. Pagi itu sudah banyak terlihat penumpang yang akan berangkat kerja dan anak sekolah dengan seragam khas Jepang yang akan berangkat sekolah. Ada pun saya perhatikan selama di dalam kereta, mereka lebih banyak diam dan tidak mengobrol di kereta, Suatu hal yang memalukan dan dianggap mengganggu kepentingan umum jika berbicara terlalu keras di dalam kereta. Tatapan kosong, melihat gadget yang mereka bawa, serta membaca buku. Hampir tidak ada yang tidur di kereta, padahal pagi hari biasanya orang cenderung mengantuk.

Warna pakaian yang dikenakan oleh orang kantoran di Jepang hampir sama antara satu dengan yang lainnya. Mereka mengenakan coat berwarna gelap baik hitam, cokelat tua, maupun biru gelap polos tanpa ada motif macam-macam. Demikian halnya dengan anak sekolah yang mengenakan jas berwarna biru gelap atau hitam, untuk anak wanita mengenakan rok kotak-kotak hitam atau biru gelap, mereka juga membawa tas tenteng atau tas ransel kaku khas pelajar Jepang. Pemandangan unik yang selalu saya impikan untuk dilihat :D

Tidak lama, akhirnya kami sampai di stasiun Asakusa. Begitu keluar dari stasiun, kami langsung menggigil, padahal kami sudah mengenakan jaket tebal berlapis. Namun agaknya badan kami belum menyesuaikan diri. Jalanan pagi itu masih sepi dan kami menebak-nebak dengan peta kira-kira ke mana arah Khaosan Guest House tempat kami menginap. Biasanya kami menggunakan google maps untuk mencari lokasi dimana pun kami berada. Namun apa daya saat itu memang kami tidak punya akses internet sama sekali sehingga kami hanya mengandalkan bertanya kepada orang yang lewat serta insting kesotoyan kami yang sangat kami harapkan. 



Setelah tanya sana sini, kami berjalan menyusuri sungai yang belakangan diketahui bahwa sungai besar tersebut merupakan Sumida River yang terkenal itu lhooooo...Telat amat baru nyadar. Ternyata lokasi penginapan kami di Tokyo cukup mudah untuk ditemukan, namanya Khaosan Tokyo Original, tidak jauh dari jembatan dan stasiun Asakusa. Kami langsung menemukan hostel tersebut di salah satu lorong jalan yang sangat bersiiiiiiih tanpa sampah sehelai pun. Ckck.

Saat masuk dengan menekan bel, ternyata pengurus guest house atau penginapan tersebut seorang perempuan,. Ia bernama Chieko-san. Kami bertiga dipersilahkan masuk dan kami memberitahu keperluan kami untuk check in. Dengan sangat ramah ia memperkenalkan diri dan menanyakan nama saya. Ia fasih berbahasa Inggris walaupun terkadang ia menggunakan bahasa Jepang. Untuk check in kami diharuskan untuk menyerahkan seluruh passpor kami untuk di copy oleh Chieko-san sebagai data. Setelah itu kami membayar biasa sewa untuk 3 hari 2 malam di Tokyo. Kebetulan saya dan Febi memesan kamar woman dormitory sehingga harus berbaur dengan traveler yang lain, sedangkan adik saya memesan private room.

Ketika saya sedang mengobrol, ternyataaa...Febi bertemu dengan salah satu rekan kantornya yang kebetulan juga menginap di Khaosan Original. What a coinsidence. Teman kantor Febi tersebut merupakan teman kuliah dari teman kerja saya di kantor. Rasanya dunia sempit ya, sesempit daun kelor. Sampai di penginapan rasanya saya mau sujud syukur, sangat dimudahkan sekali pencariannya, tidak sampai muter-muter bahkan nyasar. Alhamdulillaaaaahh. Tidak sabar rasanya untuk destinasi pertama di Tokyo :D



Salam,
Noni Halimi

Wednesday, September 30, 2015

Japan Trip : Harajuku Takeshita Street (03 Nov 2014)

Takeshita Street juga merupakan salah satu tempat hiruk pikuk mode di Jepang untuk anak muda. Kawasan ini merupakan sebuah jalan dengan panjang 360 meter yang dipenuhi oleh toko-toko yang menjual baju, sepatu, pernak pernik, hingga kuliner. Untuk menuju ke Takeshita street yang berada di Harajuku, kamu hanya perlu menaiki kereta JR Yamato line dan turun di stasiun Harajuku. Dari sana, cari pintu keluar ke arah Takeshita dan kamu akan keluar pesis di depan gerbang Takeshita street.

Untuk kuliner kamu bisa menyicipi Marion Crepes yang terkenal di Harajuku, Calbee plus yang menjual potato chips yang baru digoreng, Garret popcornshop, kebab turki, dan masih banyak lagi. Untuk baju yang dijual di Takeshita Street beraneka ragam dan berbeda-beda tiap toko, rata-rata menjual seharga 2000 yen, untuk kaos khas Jepang yang bertuliskan ala Jepang berkisar 1000 yen (atau senilai 111.000 IDR). Sepatu yang dijual di Takeshita street sangat unik mulai dari sport, boot, casual hingga heels, harganya mulai dari 5000 yen. Banyak pula outlet yang menjual aksesoris dan pernak pernik lainnya dari harga yang sangat murah hingga sangat mahal. Pintar-pintar saja memilih. 




Sepanjang jalan akan dipenuhi oleh muda mudi Jepang yang kebanyakan adalah fashion-cholic. Gaya berbusananya pun berbeda-beda khas kesenangan mereka masing-masing dan terbilang unik. Ada yang berpakaian imut ala boneka Eropa dengan paduan warna warna salem, pink, rok mekar dengan aksen renda bahkan terkadang memakai payung renda, ini disebut gaya lolita. Untuk yang berpakaian serupa namun dominasi hitam maka disebut gothic lolita. Ada pula yang mengenakan cosplay anime Jepang, serta yang berpakaian ala Japanesse rock. Tak hanya itu, berkeliaran juga jenis Kogal dan Ganguro. Kogal adalah sebutan untuk wanita muda yang menghabiskan uangnya untuk fashion, gaya busana rok mini, rambut cerah, boot tinggi dan seperangkat merek terkenal untuk aksesorisnya. Masih banyak gaya unik berpakaian ala Jepang yang bisa kamu temui di sini, jadi jangan sampai heran yaaa

Harajuku Takeshita Street
Shibuya-ku, Jinguuame
Stasiun terdekat : JR Yamato Line, Stasiun Harajuku
Website : http://takeshita-street.com/


Salam,
Noni Halimi

Friday, September 18, 2015

Japan Trip : Pengalaman Naik Shinkansen Kereta Peluru Jepang (04 Nov 2014)

Shinkansen Bullet Train Japan

Salah satu kegiatan yang harus saya lakukan saat trip ke Jepang adalah menaiki Shinkansen Jepang. Shinkansen adalah jalur kereta api cepat Jepang yang dioperasikan oleh empat perusahaan dalam grup Japan Railways. Shinkansen pertama kali dibuka pada 01 Oktober 1964 (jaman segini di Jepang udah lahir kereta super cepat, luar biasa) untuk menyambut olimpiade kota Tokyo. Shinkasen merupakan sarana transportasi utama untuk angkutan antar kota di Jepang selain pesawat udara. Kecepatan kereta Shinkansen rata-rata 300 km/jam dan kecepatan maksimum bisa mencapai 500 km/jam. Jarak stasiun Tokyo ke Shin-Osaka adalah 515.4 km dengan menggunakan kereta Shinkansen bisa ditempuh dalam waktu kurang dari 2 jam saja. 

Jadwal kereta Shinkansen

Kereta Shinkansen sangat terintegrasi dan aman, terbukti tidak ada daftar kecelakaan yang berakibat fatal dalam pengoperasian Shinkansen selama 50 tahun lebih. Beberapa kasus hanya orang terluka karena pintu menjepit penumpang atau barang, beberapa percobaan bunuh diri penumpang. Untuk menghadapi gempa bumi, kereta ini dilengkapi dengan sistem pendeteksi yang akan memberhentikan kereta apabila terjadi gempa bumi. Kereta Shinkansen juga terkenal dengan ketepatan waktu. JR Sentral melaporkan jadwal waktu rata-rata Shinkansen tepat dalam waktu 0.1 menit atau 6 detik dari waktu yang telah dijadwalkan. Seperti komentar saya dahulu, di Jepang memang berburu dengan detik, bukan menit ya.

Saat perjalanan saya ke Jepang, sengaja saya membeli tiket kereta Shinkansen. Harga tiketnya cukup mahal, mirip dengan tiket pesawat. Karena itu saya memilih jalur pendek supaya harga tiketnya tidak terlalu mahal *ngirit Maka dipilihlah jalur Kyoto – Shin Osaka. Kami membeli tiket di kounter tiket stasiun Kyoto. Perasaan campur aduk senang, tidak sabar dan deg-degan akan menaiki kereta fenomenal tersebut. Kyoto Station merupakan stasiun terbesar di Kota Kyoto yang terintegrasi dengan stasiun-stasiun lainnya di kota Kyoto. Stasiun ini dilengkapi dengan pusat perbelanjaan , hotel, bioskop, dan kantor-kantor. Jika ingin mengelilingi stasiun ini cukup waktu banyak juga karena terbilang cukup luas.

Tanpa membuang waktu, saya langsung menuju peron untuk menaiki kereta Shinkansen. Saya menggenggam tiket dengan erat dan menaiki eskalator menuju peron. Jadwal kedatangan kereta kami masih 15 menit lagi. Namun saya semakin deg-degan salah kereta atau salah peron, hehehe. Maklum kereta ini super cepat dan tepat waktu, gawat kalau ketinggalan. Selama menunggu kedatangan kereta, saya bersama Nabi dan Febi menyempatkan foto-foto setiap ada kereta Shinkansen yang lewat dekat peron kami. Sasaran kami tidak lain moncong kereta peluru tersebut yang super keren, apalagi kereta Nozomi. Kami memperhatikan waktu kedatangan kereta, saat kereta bersiap masuk stasiun langsung pasang senyum lebar, kliik! Hehehehe.

Kelas bisnis hehehehe
Kursi bisnis

Tidak lama kereta kami pun datang, beruntung kami menaiki kereta Nozomi, horeeee!! Kami bertiga bingung naik melalui pintu yang mana begitu kereta berhenti, kami sembarang masuk. Ketika sampai di dalam, ternyata itu kelas eksekutif, walaah pantesan lebih kece. Setahu saya kursi penumpang Shinkansen kelas biasa berwarna biru. Namun sudah terlanjur masuk, maka bandel dikit, kita foto-foto dulu di sana :D

Usai berfoto kami langsung berjalan menuju gerbong kami yang seharusnya. Ya..kursi biru yang seharusnya kami tempati. Bagian dalam kereta Shinkansen mirip dengan desain interior pesawat terbang. Sandaran kursi bisa direbahkan ke belakang. Tiap tiap kursi dilengkapi dengan meja kecil dan cantolan jaket. Di sepanjang tempat duduk juga tersedia tempat penyimpanan bagasi yang bisa memuat koper medium. Di bagian pintu tempat keluar masuk terdapat running text yang berisi informasi stasiun kereta berikutnya dalam dua bahasa yakni bahasa Jepang dan bahasa Inggris.

Kelas Biasa, yeaay
Bagian depannya

Tempat duduk Shinkansen dibagi menjadi 2, yakni tiper reserve dan non-reserve. Untuk tiket reserve harganya lebih mahal ketimbang yang non-reserve. Non-reserve artinya kita bebas memilih tempat duduk dimana pun yang kita mau selama masih tersedia kursi yang kosong, sedangkan reserve artinya kursi tersebut sudah kita pesan dan tidak bisa diduduki oleh orang lain. Untungnya kemarin cukup sepi sehingga kami bebas memilih lokasi tempat duduk mana yang kami sukai.

Kereta hanya berhenti kurang dari 3 menit kemudian melaju meninggalkan stasiun Kyoto. Saking penasarannya, saya benar-benar memperhatikan ke luar jendela, secepat apa sih kereta ini? Awalnya kereta berjalan normal saja, berapa detik kemudian saya merasakan kecepatan luar biasa, persis seperti menaiki pesawat terbang, terlebih suara yang terdengar juga seperti suara pesawat. Kereta Shinkansen terbang :D Kecepatan Shinkansen makin berasa ketika berpapasan dengan kereta Shinkansen lain. Wuuuzzzzz....

Hello Shinkansen

Namun sayang sekali, perjalanan saya hanya dari Kyoto menuju stasiun pertama setelahnya yakni Shin-Osaka, yang hanya ditempuh dalam waktu kurang dari 15 menit. Terlihat di layar informasi bahwa kereta akan memasuki stasiun Shin-Osaka, demikian juga dengan pesan informasi yang disuarakan oleh mbak-mbak petugas melalui speaker. Huwaaaa rasanya masih belum rela untuk turun dari Shinkansen. Tak lama kereta melambat dan memasuki stasiun. Saatnya berpisah dengan kereta peluru ini. Walaupun singkat namun sangat berkesan, karena salah satu mimpi saya bisa terwujud. Suatu saat saya harus kembali lagi ke sana untuk merasakan kembali sensasi kereta Shinkansen yaaa..Insya Allah..


Salam,

Japan Trip : Taiyaki Cemilan Ikan (04 Nov 2014)

Taiyaki Cemilan Jepang
Taiyaki adalah kue berasal dari Jepang yang berbentuk ikan. Dalam bahasa Jepang, Tai adalah sebutan untuk ikan, dan yaki artinya adalah panggang. Jadi taiyaki adalah kue yang berbentuk ikan yang cara penyajiannya dengan cara di panggang. Mengapa bisa berbentuk ikan? Karena alat panggangnya cetakan berbentuk ikan. Bagian atas kue dipanggang terpisah dengan bagian bawah kue. Ketika kedua lapisan hampir matang baru diolesi oleh berbagai macam isi yang dapat kita pilih sesuai selera. Ada pun isinya bisa berupa selai kacang merah, selai strawberry, selai cokelat, selai matcha, vanila, keju, vla, sosis, dan lain sebagainya. Bahan untuk membuat taiyaki menurut saya mirip dengan kue cubit, yakni dari tepung terigu, gula pasir, baking powder, telur ayam, susu dan air.

Macam-macam rasa
Taiyaki ini salah satu cemilan favorit untuk masyarakat Jepang baik anak-anak maupun orang dewasa. Taiyaki biasanya dijual di toko, kedai pinggir jalan, maupun kedai dadakan yang berada di tempat-tempat wisata. Saya mencoba taiyaki yang dijual di Fushimi Inari, Kyoto saat berkunjung ke Jepang. Satu buah taiyaki diberi harga 100 JPY atau senilai 11.100 IDR. Saya mencoba rasa matcha atau teh hijau. Penjualnya membuat taiyaki sekaligus karena yang mengantri cukup banyak. Di sana saya melihat sendiri proses pembuatan taiyaki oleh penjualnya. Benar-benar mirip seperti membuat kue cubit. Bedanya kue cubit hanya melewati satu proses saja, si penjual hanya sekali menuang adonan ke panggangan. Sedangkan taiyaki terdiri dari dua lapis, sehingga mirip sandwich. 

Abang-abang jualan Taiyaki
Mengenai rasa, menurut saya pribadi rasa kue taiyaki agak cenderung hambar, tidak manis seperti kue cubit. Mungkin memang adonan tepungnya tidak diberi banyak gula. Sehingga apabila hanya memakan kue taiyakinya saja tanpa ada olesan selai agak hambar dan seret (minum....minum...). Masih jauh lebih enak rasanya kue cubit di Indonesia lah, dan harganya pun sebelas dua belas, malah dapat banyak, hehehehe. Tapi bagi pembaca sekalian yang penasaran ingin mencoba langsung taiyaki dari negara asalnya, boleh lhooo..Saya rekomendasikan rasa matcha, karena khas Jepang :D Selamat mencoba


Salam,

Japan Trip : Dotonbori Street, Osaka (05 Nov 2014)

Dotonbori Street
Puas bermain di Osaka Castle, saya melanjutkan perjalanan ke Dotonbori. Untuk bisa menuju ke Dotonbori, kamu hanya perlu menaiki kereta dan turun di Stasiun Shinsaibashi kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki. Dotonbori Street adalah salah satu pusat perbelanjaan yang terbesar di Osaka. Seperti one stop shopping di Dotonbori menyediakan tempat untuk membeli oleh-oleh, tempat berbelanja, tempat kuliner makanan ringan maupun berat. Ketika masuk ke Dotonbori akan terlihat papan lampu bertuliskan Dotonbori. Wuaah hari sudah mulai gelap, memang saat yang tepat untuk berjalan di sekitar Dotonbori. Area ini memang terkenal dengan ikon-ikon yang terdapat di tokonya, beberapa ada yang saya abadikan dalam bentuk foto.

Ikon pertama yang paling terkenal adalah Mr. Glico Man yakni hiasan bergambar seorang laki-laki sedang berlari di lintasan lari bertuliskan Glico. Ada pun Glico merupakan salah satu produk makanan yang ada di Jepang. Ikon kedua yang tidak kalah menarik adalah Kuidaore Taro, yakni boneka berbaju badut yang sedang memukul drum. Ikon ketiga adalah Kani Doraku Crab, kepiting raksasa yang dipajang di depan restoran Kani Doraku. Selain itu masih ada lagi ikon gurita, ikan kembung, dapi dan lain-lain. Kesemua icon tersebut dipasang di masing-masing toko pada bagian atas toko berbarengan dengan lampu neong yang berwarna warni.

Neon dan ikon Dotonbori Street
Sepanjang jalan Dotonbori ini terhampar luar tempat penjualan souvenir mulai dari gantungan kunci, tempelan kulkas, baju, kipas, gelas, snack atau makanan ringan dan pernak-pernik lain yang bisa dijadikan oleh-oleh. Harga yang ditawarkan di tempat penjualan souvenir ini cukup terjangkau. Saya sarankan untuk membeli oleh-oleh khas Osaka, yakni yang bernuansa Mr. Glico Man, Takoyaki, Okonomiyaki, tulisan Osaka, dan banyak lagi, Selain itu, banyak juga toko yang menjual makanan pinggir jalan seperti takoyaki dan okonomiyaki. Porsi satu buah okonomiyaki sangat banyak sehingga tidak bisa dihabiskan seorang diri. Harganya berkisar antara 400 hingga 500 yen. 

Ebisu Bridge
Area Dotonbori Street ini dilengkapi dengan sarana untuk duduk-duduk dibagian tengah jalan. Bentuknya hanya tiang atau pilar kecil yang bagian bawahnya ada kursi melingkar yang bisa dipergunakan untuk duduk. Pas banget untuk yangingin beristirahat setelah lelah seharian berjalan. Di sana juga terdapat banyak convenience store yang memberikan fasilitas wifi gratis, salah satunya Family Mart. Saat beristirahat duduk-duduk bisa sambil browsing. Jika kita berjalan ke dalam lagi, maka kita akan menemukan Jembatan Ebisu yang dibawahnya mengalir sungai. Sungai tersebut dihiasi oleh lampu-lampu dan dijadikan tempat wisata juga, yakni dengan adanya perahu wisata yang melintasi sungai. Kalau ingat jembatan Ebisu ini, saya jadi teringat oleh Heiji dan Kazuha! Osaka ini merupakan tempat asal Heiji (detektif dari Barat) dalam serial Detective Conan. Ia ingin menyelesaikan kasus mengenai transaksi ganja dan berakhir di Jembatan Ebisu. Akhirnya saya kesampaian juga ke area Dotonbori ini :D


Salam,


Japan Trip : Osaka Castle (05 Nov 2014)

Osaka Castle
Itinerary saya di Osaka pada hari itu adalah mengunjungi Osaka Castle dengan cara menaiki kereta dan turun di JR Osakajokoen Station. Osaka Castle adalah salah satu objek wisata terkenal yang sarat akan sejarah di Osaka. Bangunan ini berupa kastil yang mulai dibangun pada tahun 1583 oleh Totoyomi Hideyoshi, dan sampai saat ini sudah beberapa kali dilakukan renovasi. Saat saya mengunjungi Osaka Castle bertepatan dengan musim gugur. Sepanjang jalan menuju Osaka Castle berhamburan pohon ginko yang menjulang tinggi, daunnya berwarna kuning terang dan sangat cantik menghiasi sepanjang jalan. Tidak jauh dari sana juga terdapat pohon sakura, namun sayang karena bukan musim semi jadi tidak ada bunga sakura yang tampak. Jika musim semi tiba pastilah cantik suasananya. Namun saya tidak terlalu kecewa karena pemandangan musim gugur tidak kalah cantik karena daun-daun ginko yang sangat cerah ini.

Untuk menuju ke Osaka Castle, kita harus turun di stasiun Osakajokoen. Setelah turun dari stasiun berjalanlah ke arah taman umum yang cukup luas, biasanya dipergunakan untuk bercengkrama, bermain sepeda, bahkan ada lapangan baseball. Ikuti petunjuk jalan menuju Osaka Castle ke arah kanan, kamu akan menemukan banyak pohon ginko sepanjang jalan. Tidak jauh dari sana, sudah terlihat Osaka Castle yang menjulang. Untuk masuk ke dalam kastil ini kita harus membeli tiket seharga 600 yen. Loket dibuka dari pukul 08.30 sampai dengan 17.00.
Memasuki kawasan Osaka Castle
Taman sekitar Osaka Castle
Mejeng di depan pohon Ginko
Foto ala-ala
Wisata saya ke Osaka Castle ini tentunya foto dengan background Osaka Castle. Tidak jauh dari kastil terdapat danau yang cukup luas yang bisa kita lihat dari ketinggian. Ketika saya sedang berjalan-jalan melihat danau tersebut dari pinggir pagar, ternyata ada segerombolan turis yang sedang membuat video clip. Terlihat seorang wanita sedang direkam, ia duduk santai bernyanyi sambil memainkan gitar. Adik saya pun bertanya kepada salah satu crew, siapa orang yang sedang direkam tersebut. Ternyata ia adalah Nikki Lane, seorang penyanyi asal USA. Saya nggak hafal artis USA, ketika pulang ke Indonesia barulah saya googling hehehehe.

Nikki Lane sedang shooting video clip
Es krim rasa kelopak bunga sakura
Di dalam area kastil terdapat juga jajaran tempat makan dan tempat duduk-duduk santai. Saya hanya mencoba membeli es krim rasa kelopak bunga sakura seharga 250 yen, dan ternyata rasanya cukup unik. Pulang dari kastil kami melewati kembali taman Osaka dan menyempatkan melewati salah satu event costplay samurai dan ninja. Adik saya sempat berfoto dengan orang Jepang yang mengenakan kostum ninja. Untuk bisa berfoto dengan kostum samurai serta ninja kamu bisa menyewa di event tersebut seharga 500 yen. Harga yang cukup mahal, karena itu kami hanya berfoto bersama petugas cosplay sajalah *teteeepp.


Salam,

Monday, September 14, 2015

Trip Japan : Tokyo Subway Ticket

Begitu keluar dari Bandara Haneda Tokyo, kami menuju moda transportasi kereta yang bisa kami pakai menuju tujuan pertama kami yakni Asakusa Station. Namun kendala awal adalah kami belum tahu harus membeli tourist pass macam apa yang lebih irit dan mudah. Tak jauh dari pintu keluar bandara, ternyata ada kounter Tokyo Subway Ticket dengan papan pengumuman harga yang cukup masuk budget kami. Kartu ini bisa dipergunakan untuk seluruh kereta Tokyo Metro lines dan Toei Subway lines. Berhubung kami akan banyak menggunakan jasa kedua jalur tersebut, maka kami memutuskan untuk membeli kartu Tokyo Subway Ticket selama 3 hari seharga 1500 JPY atau senilai dengan 166.500 IDR (1 JPY = 111 IDR). 
Ada pun harga kartu pass untuk 1 hari adalah 800 JPY dewasa dan 400 JPY untuk anak-anak, 2 hari dengan harga 1200 JPY dewasa dan 600 JPY untuk anak-anak, 3 hari 1500 JPY untuk dewasa dan 750 JPY untuk anak-anak. Sedangkan untuk akses hanya Tokyo Metro Line tersedia 1 hari 600 JPY untuk dewasa dan 300 JPY untuk anak-anak dan 2 hari 980 JPY untuk dewasa dan 490 JPY untuk anak-anak. Berhubung saya membutuhkan dua lines, maka saya membeli gabungan Tokyo Metro Lines dengan Toei Subway Lines.

Petugas yang menjaga kounter sangat baik dan super ganteng *loh. Macem pemain dorama gitu lah, hehehee. Ia menjelaskan kegunaan tiket kami dan menunjukan masa expired kartu. Kami juga diberikan peta dan informasi wisata Tokyo yang menarik, Padahal masih pagi buta, tapi semangat kerja mas-masnya benar- benar patut diacungi jempol. Kami masih dekil belum mandi gini, dilayanin sama mas-mas yang udah kece badaaaaaiii :D

Untuk kamu yang bepergian ke Tokyo selama 1 sampai 3 hari saya menyarankan untuk membeli kartu pass Tokyo Subway Ticket ini :) -Noni Halimi


Mejeng dulu di Bandara Tokyo Haneda

Japan Trip : Terbang Bersama Air Asia X

Setelah persiapan yang cukup singkat, akhirnya tiba juga waktu keberangkatan saya ke Jepang bersama adik saya (Nabi) dan travelmate saya (Febiana Malini) yakni tanggal 30 Oktober 2014. Perjalanan akan ditempuh melalui Soekarno Hatta International Airport – transit di Kuala Lumpur KLIA 2 – Flight Thru dengan Air Asia X ke Haneda International Airport, Tokyo. Jadwal penerbangan kami pukul 08.30 pagi dan kami sudah sampai di Bandara Soetta pukul 05.00 pagi. Terlalu pagi? Tidak juga. Sebenarnya memang sudah ada himbauan dari maskapai bahwa untuk penerbangan internasional dipersiapkan sampai di Bandara 3 jam sebelum keberangkatan. Walaupun pintu check in belum dibuka, tidak ada salahnya untuk menunggu di Bandara lebih lama ketimbang kejebak macet kan? Terlebih hari itu adalah weekdays. Alhasil saya diantar oleh calon suami beserta keluarga saya ke Bandara sebelum Shubuh. Yang pergi bertiga tapi yang nganter rame-rame berasa pergi Haji, haha. Setelah sholat shubuh dan minta doa restu kepada keluarga, berjalanlah kami bertiga ke pintu masuk keberangkatan internasional.


Baru mau masuk udah mejeng :D
Kami menunggu sekitar 30 menit hingga diperbolehkan check in. Penerbangan menuju Kuala Lumpur terasa singkat dan tibalah kami di KLIA 2 pukul 11.30 AM waktu setempat. Kami langsung mencari papan yang bertuliskan Transit, karena kami harus menunggu di Boarding Room tujuan kami selanjutnya yakni Tokyo Haneda. Ini kali pertama saya melakukan penerbangan transit, namun karena papan petunjuk di KLIA lengkap dan tidak membingungkan, maka kami sampai dengan selamat di depan pintu boarding room. 

Berhubung waktu sudah hampir tengah hari, maka sudah saatnya membuka bekal makanan yang dibawa dari rumah. Ngirit? Oh sudah pasti. Selama bisa bawa bekal sendiri kenapa tidak? Kami membawa mashed potatoes dicampur dengan krim keju, susu dan sayuran. Makan kami lahap bener layaknya gak makan seminggu. Tersadar kami tidak punya air minum, kami pun berkeliling ke sekitar boarding room, ternyata ada pengisian air minum gratis. Berbeda dengan bandara Soekarno Hatta yang tidak menyediakan fasilitas isi air minum gratis, di KLIA ada lhoo. Rasa airnya cukup sejuk dan kami bisa mengambil sepuasnya. Kalau di imigrasi Indonesia sudah pasti kena sita. Di KLIA kami juga sembari menunaikan Shalat Dzuhur dan Ashar, karena perjalanan kami selanjutnya akan menghabiskan waktu 7.5 jam di dalam pesawat dan akan tiba tengah malam.

Transit di KLIA 2
Langit terlihat mendung di luar KLIA 2, dan kami mengabarkan keluarga untuk kembali meminta doa restu atas perjalanan kami bertiga. Bismillah, pesawat kami sudah datang. Ini adalah pesawat Air Asia X dengan kode pesawat D7522 yang akan membawa kami terbang dari Kuala Lumpur KLIA 2 menuju destinasi kami yakni Bandara Internasional Tokyo Haneda. Tak lama panggilan untuk masuk ke dalam pesawat pun bergema, tak sabar kami langsung menaiki pesawat, dan ternyata.....

Air Asia X
Makan malam ala-ala Air Asia
 Pertama kami disambut oleh pramugari dengan senyuman khas dan kami berjalan melewati bisnis class, yang sudah pasti bentuk kursinya berbeda lah dengan yang kami pesan *nasiip. Begitu sampai di deretan kursi tengah, saya melongo saking senangnya, pesawat Air Asia X memang berukuran lebih besar ketimbang pesawat Air Asia yang biasa saya naiki. Jika biasanya hanya ada 2 baris yakni baris kiri 3 kursi dan baris kanan 3 kursi. Maka Air Asia X terdiri dari 3 baris, yakni baris kiri 3 kursi, baris tengah 3 kursi dan baris kanan 3 kursi. Kebayang kan lebih luasnya *maap norak abis. Terlebih lagi saat kami bertiga mencari nomor kursi, terdengar pengumuman dari speaker pesawat mengenai informasi-informasi dengan bahasa Melayu, Inggris dan Jepang. Mendengar bahasa Jepang menggema di dalam pesawat, makin tidak sabar rasanya untuk segera sampai di Negeri Sakura tersebut.

Perjalanan panjang yang cukup melelahkan saya habiskan dengan : mengobrol, bercanda, membaca buku, makan-makan sampai tertidur dan terbangun lagi dan tertidur lagi. Hingga sampailah waktu landing kami di Bandara Tokyo Haneda pada pukul 10.30 PM malam hari. Tiba di Bandara kami langsung melihat sekeliling dan sudah pasti ke toilet. Tidak sulit menemukan toilet karena sepanjang di dalam Bandara bertebaran toilet, yang kabarnya memang banyak tombol ajaib. Benar saja, toilet ini memang banyak tombol ajaib yang super keren. Maklum saya belum pernah melihat toilet macem ini sebelumnya di Indonesia. Selepas itu, kami menuju imigrasi Jepang untuk mendapatkan stempel masuk Jepang.

Welcome to Japan
Pertama kali lewat lorong ini langsung nyari toilet
Berbaris rapi antrian pada malam hari itu dengan banyak petugas imigrasi Jepang yang melayani. Begitu sampai antrian saya dan saya dipersilahkan untuk maju, saya sangat terkesan dengan petugas imigrasi Jepang. Dengan budaya kerja Jepang, petugas tersebut tersenyum menyambut saya dan menyapa “Konbanwa” yang artinya selamat malam. Saya pun refleks membalas senyum lebar sambil menjawab "Konbanwa". Aaarggghhhh!! Petugas tersebut mulai membuka paspor milik saya dan memeriksa Visa milik saya. Tak lama saya diminta untuk meletakan jari saya di mesin pengindai sidik jari dan memposisikan mata saya di kamera yang disediakan, mungkin untuk pemotretan *eh. Setelah proses singkat tersebut selesai, ia tersenyum mengembalikan paspor milik saya sambil mengucapkan “Arigatou Gozaimasu” yang artinya “Terima kasih”. Saya berjalan menjauhi kounter petugas imigrasi tersebut masih dengan perasaan excited luar biasa. Baru kali ini seumur-umur saya berhadapan dengan petugas imigrasi yang disambut hangat dan penuh senyum, bahkan untuk jam tengah malam. Bahkan yang sering saya temui, di pagi hari pun petugas imigrasi juga jarang senyum :D Namun Jepang ternyata berbeda, luar biasa.


Denah Haneda Intl Airport kalau nyasar
Tidur darurat di bandara Haneda

Karena waktu menunjukan sudah tengah malam tidak mungkin untuk berkeliaran apalagi mencari penginapan, maka kami memutuskan untuk menginap di Bandara Haneda dan menunggu pagi hari. Kami sudah berencana akan menginap di Bandara setelah sebelumnya saya googling apakah bisa menginap di bandara Haneda, dan ternyata banyaaaakk yang menginap di sana. Begitu keluar dari imigrasi Jepang, langsung terhampar deretan kursi-kursi yang siap untuk jadi alas tidur :D Awalnya saya masih ragu untuk tidur merebahkan badan, karena banyak petugas yang berkeliaran, namun lama-lama saya menyadari bahwa memang diperbolehkan untuk tidur di ruangan tersebut. Banyak yang saya lihat merebahkan badan dengan santai sambil menaikan kaki di atas koper miliknya. Petugas memang berkeliaran untuk berjaga-jaga saja, tidak pernah menegur dan melarang, jadi amaaaaan~ Kendati demikian, jangan lupa untuk tetap menjaga barang barang yang kamu bawa ya, misalnya ransel kecil digunakan untuk bantalan kepala, sedangkan koper besar dijadikan alas untuk merebahkan kaki.

Mau begadang semalaman? Boleh juga. Kamu tidak akan bosan menunggu pagi karena di bandara ini tersedia fasilitas free Wifii dengan kecepatan super yang akan menemani kamu semalaman. Jangan khawatir juga baterai HP habis, karena tersedia banyak meja yang dilengkapi dengan stop kontak yang bisa dipakai sepuasnya untuk cas HP. Tidak jauh dari tempat duduk kami terdapat pula smoking room untuk pengunjung. Adik saya sempat menengok ke dalam, ia bercerita bahwa smoking roomnya luas dan bersih, lebih mirip kafe daripada tempat merokok gratis

Setelah beristirahat semalaman, Shubuh pun tiba, kami shalat di ruangan Bandara tersebut dengan menggelar sajadah :D Untuk akses air minum, di ruangan tersebut juga ada air minum gratis untuk isi ulang. Ketika saya mencoba untuk mengisi ulang botol minum milik saya, luar biasa airnya superrrr dingin kayak dari kulkas. Segaaaar. Maklum norak, saya langsung minum banyak :D Tersedia juga loker penyimpanan barang, toilet dan ruang ibu hamil dan menyusui. Ruangan tersebut bisa dipergunakan juga untuk bayi atau balita yang ingin berganti popok, dengan fasilitas beberapa kasur bersabuk pengaman yang berjejer serta sebuah mesin entah apa gunanya, saya belum pernah mencobanya (berhubung tulisannya juga bahasa Jepang semua). Jepang ramah sekali untuk ibu-ibu yang memiliki bayi dan balita yaaaa :D


Tombol toilet Jepang
Demikian hari pertama menginjakkan kaki di negera Jepang yang selama ini saya mimpikan, tidak sabar untuk petualangan berikutnya.

Salam,
Noni Halimi