Showing posts with label kereta. Show all posts
Showing posts with label kereta. Show all posts

Monday, September 14, 2015

Uniknya ATM Jepang

Jalan-jalan ke Jepang dengan membawa uang cash dalam bentuk mata uang Yen sudah pasti ditangan, namun kita tidak mungkin untuk membawa uang cash dalam jumlah banyak sekaligus bukan? Untuk lebih aman kita pasti akan mempersiapkan dana cadangan di rekening kita jika sewaktu-waktu diperlukan di Jepang. Bagaimana dengan rekening yang kita miliki di Indonesia? Bisakah ditarik di mesin ATM Jepang?

Rekening yang ada di Indonesia terhubung dengan jaringan Master Card atau Cirrus untuk transaksi antar negara, sehingga rekening kita tetap bisa dipergunakan di luar negeri meskipun dengan mesin ATM bank lokal negara tersebut. Saya pribadi menggunakan rekening BNI Syariah dengan kartu ATM Hasanah Debit Card. Kartu ini bisa dipergunakan di mesin ATM berlogo Cirrus atau Master Card di seluruh dunia. Jadi saya tidak khawatir untuk melakukan penarikan di luar negeri meskipun dengan mesin ATM Bank lokal negara tersebut.

Bagaimana Proses Penarikan ATM BNI Syariah?

Untuk negara Jepang, saya mencoba penarikan uang di mesin ATM Seven Bank dengan jaringan Cirrus. Logonya angka 7 yang terdapat di 7/11 persiiis. Mesin ATM ini bisa ditemukan di banyak convenience store yang tersebar di tempat-tempat umum di Jepang, salah satunya di 7/11. Tata cara penarikannya sama seperti di Indonesia, mata uang yang dikeluarkan sesuai dengan mata uang negara tersebut, dan nominal pecahan yang keluar tergantung dari mesin ATM. Untuk di Jepang pecahan uang yang keluar adalah 10.000 JPY. Kurs akan berlaku sesuai kurs pada saat penarikan di negara tersebut, sehingga jumlah uang yang terdebet di rekening kita menyesuaikan dengan besar kurs yang berlaku saat itu. Biaya yang dipotong untuk penarikan menggunakan jaringan Cirrus adalah 25.000 IDR per transaksi. Mudah bukan?

Tampilan Layar ATM di Jepang ada di bagian bawah
Bicara soal mesin ATM di negara Jepang, saya cukup memperhatikan dan sempat berkomentar bahwa ATM Jepang cukup unik. Bentuk mesin ATMnya sebenarnya mirip dengan ATM di Indonesia, hanya saja seluruh mesin ATMnya berbasis touch screen, sehingga untuk pengoperasiannya menggunakan layar sentuh. Seluruh ATM Jepang bisa dipergunakan untuk mencetak buku tabungan apabila nasabah ingin mencetak buku tabungan. Berbeda di Indonesia, saat ini baru beberapa Bank yang menerapkan mesin ATM yang bisa melakukan pencetakan mutasi buku tabungan oleh nasabah sendiri. Bahasa yang dipergunakan sudah pasti bahasa Jepang, namun jika ingin mengganti ke Bahasa Inggris, tinggal pilih saja pilihan bahasanya. Saya pun saat melakukan penarikan memilih bahasa Inggris, karena angkat tangan tidak bisa membaca tulisan Jepang bercampur kanji di mesin ATM.

Hal lain yang saya perhatikan adalah tempat keluar uang saat penarikan di mesin ATM. Jika rata-rata mesin ATM di Indonesia jika mengeluarkan uang maka akan keluar dari samping bawah mesin ATM, sehingga apabila nasabah sedang menarik uang yang cukup banyak akan bisa terlihat oleh orang disekitarnya. Mesin ATM Jepang berbeda, tempat keluarnya uang dari mesin ATM tidak dari samping, namun tepat berada di bagian depan nasabah dekat tombol-tombol mesin ATM. Ketika uang terproses akan luar, maka dari mesin akan terbuka “pintu uang” yang di dalamnya terdapat pecahan uang yang kita ambil. Tangan kita harus merogoh ke dalam lubang tersebut untuk mengambil, baru kemudian langsung dimasukan ke dalam dompet. Jadi orang disekitar kita tidak akan mengetahui berapa banyak jumlah uang yang kita ambil dari mesin ATM. Terlebih lagi di sisi kanan dan kiri mesin ATM diberikan sekat yang cukup lebar yang menghalangi pandangan kanan dan kiri orang disebelah kita untuk melihat. 

Tampilan pintu masuk kartu, buku tabungan serta pintu uang
Mesin ATM di Jepang juga menyediakan kalkulator yang tertempel di samping mesin ATM sehingga bisa dipergunakan oleh nasabah apabila memerlukan. ATM tersebut juga menyediakan kantong amplop uang secara cuma-cuma yang bisa diambil oleh nasabah sehabis melakukan penarikan uang. Masing-masing mesin ATM Jepang juga dilengkapi dengan tombol Robbery Alarm, yakni tombol alarm jika terjadi keadaan mendesak seperti pencurian dan sebagainya. Selain berfungsi untuk transaksi penarikan uang, mesin ATM di Jepang juga berfungsi untuk transaksi penyetoran jika nasabah ingin menabung. Pecahan yang diterima dari 1000 JPY, 2000 JPY, 5000 JPY sampai 10.000 JPY, tidak hanya itu terdapat juga untuk pecahan koin logam yakni 1, 5, 10, 50, 100 sampai 500 JPY. Berbeda di Indonesia yang mesin penyetorannya berdiri sendiri sebagai Cash Deposit Machine, maka di Jepang baik untuk setoran maupun penarikan, bersatu dalam satu mesin ATM.

Pilihan Menu ATM Jepang

お預け入れ: Deposit (memasukkan uang)
お引き出し: Withdrawal (penarikan)
お振込み: transfer ke rekening lain
お振り替え: transfer ke rekening lain milik sendiri (jika punya 2 rekening)
通長記入:pencatatan di buku rekening
残高照会: sisa uang
  • Masukkan kartu ATM dan nomor PIN. Jika memilih transaksi penarikan, masukkan jumlah uang yang diinginkan (perhatian: pada panel akan tertera kanji (kelipatan 1000) dan (kelipatan 10.000). Bisa juga memasukkan jumlah uang secara manual dengan menekan tombol angka).
  • Untuk menyelesaikan transaksi pilih tombol sebagai berikut:
確認 : konfirmasi
訂正 : koreksi
取消 : batalkan transaksi

Bagaimana cara penarikan uang di ATM Jepang?

Pertama yang dilakukan adalah memasukan kartu ATM kita ke dalam mulut kartu di mesin ATM sebelah kanan. Jadi mesin ATM Jepang memiliki dua lubang pintu, sebelah kiri untuk pintu masuk buku tabungan sedangkan sebelah kanan untuk pintu masuk kartu ATM. Jangan sampai tertukar pintu ya, yang bentuknya lebih lebar itu untuk memasukan buku tabungan, sedangkan yang lebih kecil untuk kartu ATM. Kemudian mesin ATM akan meminta kita untuk memasukkan nomor PIN, maka masukan PIN ATM di layar sentuh yang disediakan. Setelah itu pilih transaksi penarikan dan masukan nominal penarikan yang dikehendaki. Jangan lupa untuk melihat jumlah pecahan yang tersedia di ATM tersebut. Misalnya pecahan 10.000 JPY. Jika sudah menekan jumlah penarikan, klik OK. Maka akan ada pilihan untuk pencetakan receipt atau tidak, silahkan dipilih. Jika tidak ingin mencetak receipt maka akan terlihat di layar mesin ATM sisa uang yang ada di rekening tersebut dalam konvensi Yen. Setelah itu ATM akan keluar secara otomatis untuk diambil. Setelah kartu ATM diambil, barulah uang akan keluar dari pintu kotak uang mesin ATM. Posisi pintu kotak uang ini persis di depan perut/badan nasabah dan posisinya terlindungi karena di dalam kotak. Tidak seperti jenis ATM di Indonesia yang pintu keluar uangnya menjulur di bawah sehingga bisa terlihat oleh siapa pun. Lebih Asyik yaa :D -Noni Halimi

Trip Japan : Tokyo Subway Ticket

Begitu keluar dari Bandara Haneda Tokyo, kami menuju moda transportasi kereta yang bisa kami pakai menuju tujuan pertama kami yakni Asakusa Station. Namun kendala awal adalah kami belum tahu harus membeli tourist pass macam apa yang lebih irit dan mudah. Tak jauh dari pintu keluar bandara, ternyata ada kounter Tokyo Subway Ticket dengan papan pengumuman harga yang cukup masuk budget kami. Kartu ini bisa dipergunakan untuk seluruh kereta Tokyo Metro lines dan Toei Subway lines. Berhubung kami akan banyak menggunakan jasa kedua jalur tersebut, maka kami memutuskan untuk membeli kartu Tokyo Subway Ticket selama 3 hari seharga 1500 JPY atau senilai dengan 166.500 IDR (1 JPY = 111 IDR). 
Ada pun harga kartu pass untuk 1 hari adalah 800 JPY dewasa dan 400 JPY untuk anak-anak, 2 hari dengan harga 1200 JPY dewasa dan 600 JPY untuk anak-anak, 3 hari 1500 JPY untuk dewasa dan 750 JPY untuk anak-anak. Sedangkan untuk akses hanya Tokyo Metro Line tersedia 1 hari 600 JPY untuk dewasa dan 300 JPY untuk anak-anak dan 2 hari 980 JPY untuk dewasa dan 490 JPY untuk anak-anak. Berhubung saya membutuhkan dua lines, maka saya membeli gabungan Tokyo Metro Lines dengan Toei Subway Lines.

Petugas yang menjaga kounter sangat baik dan super ganteng *loh. Macem pemain dorama gitu lah, hehehee. Ia menjelaskan kegunaan tiket kami dan menunjukan masa expired kartu. Kami juga diberikan peta dan informasi wisata Tokyo yang menarik, Padahal masih pagi buta, tapi semangat kerja mas-masnya benar- benar patut diacungi jempol. Kami masih dekil belum mandi gini, dilayanin sama mas-mas yang udah kece badaaaaaiii :D

Untuk kamu yang bepergian ke Tokyo selama 1 sampai 3 hari saya menyarankan untuk membeli kartu pass Tokyo Subway Ticket ini :) -Noni Halimi


Mejeng dulu di Bandara Tokyo Haneda

Wednesday, July 22, 2015

Spore - KL Trip Day 2 (KL Sentral - Batu Caves - Masjid Jamek - Pasar Seni - Back Home - Petaling Street - Raja Alang - KLCC)

Selamat pagi Kuala Lumpur, Malaysia.

Pukul 06.50 kami sudah mendarat dengan selamat di stasiun pemberhentian KTMB KL Sentral. Kami segera menurunkan koper, bergegas keluar dan langsung mencari hall utama KL Sentral. Ini kali pertama saya menggunakan KTMB antar kota, sehingga kurang familiar dengan lokasinya. Namun segera saya rekam lokasinya sehingga kali kedua saya ke sana tidak bingung. Tidak sulit menemukan hall utama KL Sentral, kami hanya perlu naik ke lantai 1.
KL Sentral merupakan tempat bertemunya berbagai moda transportasi di Malaysia baik Kereta, Taxi, Bus. Ada  4 jenis transportasi berbasis rel di Kuala Lumpur: KL Monorail, LRT (light rapid transit), KTM Komuter, dan KLIA Ekspres / KLIA Transit. Keempatnya dikenal sebagai sebuah sistem bernama Klang Valley Integrated Rail Transit.

KL Sentral memiliki tempat penyimpanan barang atau loker yang berlokasi di lantai 1 dekat surau/musholla. Berjejer puluhan loker dengan berbagai ukuran dari ukuran kecil, sedang hingg besar. Cara pemesanan loker cukup mudah, kamu hanya perlu membeli koin/token di penjaga loker seharga 5 RM untuk sekali pakai. Cari saja loker yang masih kosong, masukan barang bawaan yang akan disimpan, tutup loker dan masukkan token. Setelah itu kunci dan kamu boleh meninggalkan loker tersebut. Saran saya, foto lokasi loker untuk memudahkan mengingat lokasi ketika kamu sudah kembali dan berniat mengambil barang.

Di Malaysia saya tidak membeli kartu touris pass, saya selalu menggunakan uang receh untuk pembelian token secara harian di mesin pemesanan tiket. KTM Komuter berada di platform 3, ikuti saja petunjuk jalan yang mengarahkan ke kereta komuter. Tujuan kami adalah membeli tiket KTM Komuter Batu Caves seharga 2 RM per orang. 

Kereta berangkat pukul 08.30 dengan kondisi masih kosong plong segar bugar, kami yang belum mandi hanya bekal cuci muka sikat gigi di toilet KL Sentral jadi ikutan segar. Sampai di Batu Caves jam 09.00, kami masuk melalui pintu samping Batu Caves yang letaknya persis di depan stasiun KTM Batu Caves. Udara masih dingin sangat cocok untuk mendaki ratusan anak tangga ke atas Batu Caves, memang paling cocok ke sini pagi atau sore hari ketika matahari tidak menyengat. Setelah puas naik ke ujung atas dan kembali turun, kami menghabiskan waktu sampai jam 09.30. Singkat? Iyalah ngapain lama-lama di sana, yang penting cukup foto dan mendaki anak tangga sampai habis :D. Kami kembali ke stasiun pukul 09.45 untuk beli tiket KL sentral 2 RM masuk dr platform 1 jurusan Pelabuhan Klang menuju LRT Masjid Jamek.

Sampai di pintu keluar LRT Pasar Masjid Jamek, berhubung laparnya luar biasa, kami baru sempat sarapan roti, maka saatnya untuk membeli gorengan tusuk khas Kuala Lumpur yang banyak di jual di pinggir jalan. Harganya 1 RM sampai 1.2 RM per tusuk. Jenis gorengan satenya macam-macam, ada baso, sausage besar, sosis kecil, otak-otak, nuggets, udang galah, dan lain sebagainya. Gorengan tusuk itu dimakan bersama dengan saus atau chilli. Nyaaamm.

Lepas makan cemilan tadi, kami bergegas ke restoran Sahira untuk sarapan menjelang makan siang yang agak berat. Saya memesan Nasi Lemak Ayam dan suami saya memesan nasi briyani ayam. Restoran orang Malaysia ini sebelas dua belas dengan restoran India maupun Arab, porsinya buanyak bener. Rasa nasi lemaknya sangat enaaaak, ini termasuk nasi lemak yang terenak selama saya mencoba ke Kuala Lumpur. Kalau nasi briyani masih lebih enak milik Singapore Zam-Zam. Over all, lumayan banget makan di sini, harganya pun terjangkau. Kami sengaja tidak memesan minum karena masih memiliki air mineral. Kami juga berencana membeli ais sirap (es sirop) warna warni yang mejeng di tempat jualan gorengan tusuk tadi. Ada rasa melon, jeruk, mangga, milo, lobak dan lain sebagainya. Kami pesan ais sirap melon warna hijau yang rasanya menggiurkan seharga 2 RM saja.

Dari LRT Masjd Jamek menuju Pasar Seni cukup dekat jaraknya, hanya dengan berjalan kaki berapa ratus meter kamu sudah akan sampai di belakang Kasturi Walk Pasar Seni. Kami hanya melihat-lihat sebentar karena memang tidak berniat belanja di sana hehehe. Memang di Pasar Seni banyak menjual berbagai kerajinan tangan khas Malaysia dan cinderamata Malaysia, namun harganya tidak cukup bersahabat untuk traveler kere macem kami, saya lebih tertarik membeli souvenir di Petaling Street yang bentuknya emperan pasar dan menjunjung tinggi tawar menawar harga (emak-emak banget). Boleeeeh laaa..

Setelah puas dan lelah keliling Pasar Seni dan lupa foto-foto, kami menuju penginapan Back Home Kuala Lumpur untuk meletakan barang bawaan dan beristirahat sejenak. Dari Pasar Seni kami berjalan kaki menuju Back Home Kuala Lumpur. Lokasinya tidak jauh dari Stesen LRT Masjid Jamek, kamu hanya ikuti jalan searah dengan Mesjid Jamek, kemudian di perempatan  belok kiri. Alamat Back Home Kuala Lumpur Jalan Tun H S Lee, 50100 Kuala Lumpur, Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur, Malaysia. Hostel ini ada di pinggir jalan dan sangat eye catching tulisannya sehingga mudah untuk ditemukan. Setelah check in dan meletakan barang bawaan, kami terkapar beristirahat beberapa jam.

Sore hari lepas mandi dan berberes kamar, kami langsung menuju ke Petaling Street. Pasar ini merupakan pasar tempat jual beli souvenir, buah, makanan, tas, dompet dan berbagai macam barang dagangan dengan harga yang cukup murah. Pasar ini memang baru buka menjelang sore, sehingga apabila kamu ingin berbelanja maka waktu terbaik adalah sore hari atau malam hari. Menjelang malam di Petaling Street juga banyak yang membuka restoran makanan pinggir jalan yang menyajikan berbagai jenis makanan Malaysia. Saya belum pernah sih mencoba makan di Petaling Street, karena ini kampong China sehingga banyak makanan tidak halal, sehingga saya tidak pernah memutuskan untuk makan di Petaling. Saya menemukan timbangan koper lucu seharga 18 RM di Petaling. Lumayan murah setelah nego harga dari 20 RM ke 18 RM :D

Dari Petaling Street ke Pasar Seni sangat dekat, kamu hanya perlu berjalan kaki menyusuri depan Petaling Street, dan sampailah di Pasar Seni dan Stesen LRT Pasar Seni. Tujuan kami selanjutnya adalah ke Stesen LRT Dang Wangi, kemudian menyebrang ke Monorail Bukit Nanas. Dari pintu keluar stesen Dang Wangi ada escalator di jalan raya untuk menyeberang ke arah monorail Bukit Nanas. Kami harus menyeberang, karena kereta yang akan kami naiki berbeda dengan laluan LRT. Harga tiket Monorail dari stesen Bukit Nanas ke stesen Medan Tuanku 1.2 RM per orang. Kami sampai di Medan Tuanku sekitar pukul 20.00.

Waktu yang pas untuk makan malam di Jalan Raja Alang. Di sana banyak restoran pinggir jalan yang menjual makanan lezat, tahun lalu saya ke sana saat bulan Ramadhan dan Jalan Raja Alang ini dipenuhi dengan jejeran tenda bazaar Ramadhan menjelang berbuka puasa. Luar biasa. Saya berencana makan di restoran Mazni. Dalam perjalan dari stesen Monorail Medan Tuanku ke Raja Alang, kami melewati Tune Hotel Down Town KL, tempat saya dan keluarga saya menginap saat Ramadhan ke KL. Saya dapat pesan dari Bapak Ibu saya untuk membeli cokelat Arab yang berukuran 2 kg per kemasan seharga 40 RM di swalayan Arab. Berjajaran dengan Tune Hotel memang banyak sekali swalayan Arab yang menjual cokelat. Lepas beli cokelat kami berjalan lurus menuju Jalan Raja Alang.

Sesampainya di Mazni restoran, kami langsung memesan Tom Yam Sotong 6 RM dan Tom Yam campur 5 RM lengkap dengan teh tariknya. Total makan malam kami sebanyak 14.5 RM. Lumayan bersahabat di kantong.  Tom Yam Mazni memang terkenal gurihnya, walapun fotonya kurang menggiurkan efek kamera, percayalah rasanya super dan wajib di coba.

Kenyang dengan tom yam hangat di malam hari, kami melanjutkan perjalanan ke Stesen Chow Kit yang lokasinya tidak jauh dari Jalan Raja Alang. Dari Chow Kit kami kembali ke monorail Bukit Nanas seharaga 1.3 RM dan menyebrang ke LRT Dang Wangi untuk menuju ke LRT KLCC sebesar 1 RM. Ada apa di KLCC? Apalagi kalau bukan Twin Tower Petronas, kami ingin mengambil foto malam hari. Keluar dari LRT KLCC ambil kea rah Ampang, dari sana akan langsung tembus ke Jalan Ampang yang berlokasi persis di depan Suriah KLCC. Untuk menuju Twin Tower dari Suriah KLCC cukup mudah, kamu hanya masuk ke Suriah KLCC dan ikuti petujuk jalan kea rah belakang gedung dan sampailah di taman Twin Tower Petronas dengan air mancur dan taburan lampu hias warna. Di situlah spor terbaik untuk mengambil gambar twin tower secara utuh. Kami menghabiskan waktu di petronas hingga pukul 22.00 kemudian dilanjutkan untuk kembali ke hostel Back Home.

Kami pulang pukul 22.00 dari stesen LRT KLCC ke LRT Masjid Jamek dengan biaya 1.3 RM per orang. Perjalanan yang cukup melelahkan untuk hari ini. Saatnya beristirahat dan mempersiapkan untuk perjalanan esok pagi.

Bagaimana Cara Memesan Tiket KTMB Malaysia

Wisata Singapura ke Malaysia dengan Jalur Darat Kereta Api

Bermula dari akhir Agustus 2014 berburu tiket murah di maskapai Air Asia, dengan semangat empat lima saya cari destinasi Jakarta-Singapura-Jakarta untuk honeymoon saya dan calon suami. Setelah cari-cari pasangan tanggal murah berangkat dan pulang, maka didapatkan rencana liburan Singapura 18-22 Maret 2015 (dengan harap-harap cemas tanggal tersebut kami sudah menikah, kalau belom yah angus lah). Awalnya saya tidak masalah 5 hari wisata Singapura, toh saya dapat tiket murah dengan biaya berangkat 99.000 IDR dan pulang 189.000 IDR. Namun makin lama harga SGD (Singapore Dollar) makin menjadi dan melambung, sampai menyentuh harga 9800-an hampir 10.000 berasa USD jaman dulu. Kayaknya dua tahun lalu masih 8000. Kalau sampai 10.000 berasa juga biaya hidupnya. Berhubung puyeng ngitung biaya hidup dua orang di Singapura selama 5 hari, maka saya memutuskan (sepihak) alternatif wisata lain. Iya. Saya memilih nyebrang di Negara tetangga Singapura yang biaya hidupnya lebih bersahabat, yakni Malaysia.

Membuat itinerary Malaysia Singapura tidak memakan waktu lama, karena sebelumnya saya sudah pernah wisata ke dua negara tetangga tersebut. Namun perjalanan saya ke dua Negara tersebut bermacam-macam jalur. Saya pernah naik bus malam dari Malaysia ke Singapura, saya juga pernah ke Singapura dari Batam melalui jalur air pelabuhan Sekupang, atau ke Malaysia seperti biasa dengan jalur udara. Namun saya belum pernah menyeberang ke Malaysia menggunakan kereta api. Baca-baca di banyak sumber perjalanan dari Singapura ke Malaysia atau Malaysia ke Singapura bisa dilakukan dengan 3 jalur, yakni jalur udara dengan pesawat terbang, jalur darat dengan bus antar kota antar Negara, serta jalur darat dengan menggunakan kereta api.  Terus terang saya belum pernah mencoba menyeberang dari Singapura ke Malaysia dengan kereta api, maka liburan kali ini saatnya mencoba.

Apa itu KTMB?

Perjalanan dari Singapura ke Malaysia maupun sebaliknya bisa ditempuh dengan menggunakan kereta api Malaysia yang disebut KTMB (Keretaapi Tanah Melayu Berhad). KTMB atau disebut juga Malayan Railway merupakan pengendali kereta api utama di Semenanjung Malaysia. Kereta ini bermula dari jaman penjajahan Inggris yang digunakan untuk jalur pengangkutan timah. Hubungan jalan kereta di Semenanjung Malaysia yang dikendalikan oleh KTM, terdiri dari dua jalur utama dan beberapa jalur cabang. Jalur utama terdiri dari Jalur Pantai Barat dan Jalur Pantai Timur.

Jalur Pantai Barat mulai dari Padang Besar di Perbatasan Malaysia-Thailand di Perlis (yang terhubung dengan landasan Negara Thailand ke Singapura melalui Butterworth, Pulau Pinang dan Kuala Lumpur. Disebut jalur Pantai Barat karena ia melalui negeri-negeri pantai barat di Semenanjung Malaysia.  Jalur Pantai Timur dimulai percabangan rel dari Gemas di Negeri Sembilan dan Tumpat serta Rantau Panjang, yang semuanya berada di Negeri Kelantan. Sedangkan Jalur Cabang yakni Batu Caves-Sentul-Kuala Lumpur-Pelabuhan Klang.

Keretaapi Tanah Melayu Berhad atau KTMB inilah yang akan saya pergunakan untuk menyeberang dari Singapura ke Malaysia. Saya akan memilih kereta malam, agar perjalanan dilakukan pada malam hari saya bisa istirahat dan sampai di tempat tujuan pagi hari sehingga waktu liburan saya tidak terbuang percuma hanya untuk perjalanan dari Singapura ke Malaysia atau sebaliknya.

KTMB untuk keberangkatan malam hari atai night train milik Malaysia ini memiliki beberapa jenis kursi penumpang. Ada yang kursi duduk biasa selayaknya kereta api pada umumnya dengan dua kursi berjejer, namun ada pula jenis sleeper train atau kereta yang dilengkapi dengan kasur. Wait, what? Di dalam kereta ada kasurnya, jadi kita bisa tidur di dalam kereta? Hehehe, Seru bukan? Saya langsung nelen ludah baca review dari banyak blog, sepertinya seru dan menantang! Patut dicoba :D

Pesan Tiket dari JB Sentral Lebih Irit

Perjalanan saya akan bermula dari Singapura menuju Malaysia. Jika melihat dari stasiun kereta api pada umumnya maka seharusnya saya naik dari Singapura melalui stasiun Woodsland dan turun di KL Sentral yakni stasiun Malaysia. Namun saya tidak memilih rute tersebut, tapi saya memilih jalur Johor Baru atau terminal JB Sentral Why oh why? Hal ini tentu karena urusan biaya yang harus dikeluarkan *teteepp

Johor Baru merupakan daerah terluar Malaysia yang berbatasan langsung dengan Singapura. Jika kita menyebrang dari Singapura ke Malaysia melalui Johor Baru, itu artinya kita sudah naik kereta di Malaysia (Johor Baru) dan turun di Malaysia (Kuala Lumpur). Lah bagaimana caranya dari Singapura ke Johor Baru? Caranya sangat mudah, dari Singapura kamu bisa naik bus Causewaylink dari terminal Queen Street harganya 3.3 SGD sampai Woodsland Checkpoint kemudian lanjut naik Causewaylink selanjutnya hingga turun di Johor Baru Checkpoint atau JB Sentral. Memang agak repot myambung-nyambung sedikit tapi beda lhoo (harganya)

Jadi ada perbedaan harga tiket kereta apabila kita beli di JB Sentral daripada beli Woodsland. Beli tiket berangkat dari Woodsland lebih mahal ketimbang JB Sentral, padahal harga tiketnya sama-sama 45. Ternyata yang bikin beda adalah faktor pengali kursnya. Jika kamu naik dari stasiun Woodsland Singapura maka biaya yang dikeluarkan adalah 45 SGD x 9800 IDR atau sekitar 441.000 IDR, sedangkan jika kita membeli dengan keberangkatan JB Sentral atau Johor Baru, maka harga tiket yang dikeluarkan 45 RM x 3800 IDR atau sekitar 171.000 IDR. Bedanya 270.000 IDR per tiket. Lumayan kan?

Bagaimana Cara Memesan Tiket Kereta Api Malaysia

Setelah menentukan itinerary dan waktu keberangkatan, maka saatnya untuk memesan tiket kereta api KTMB. Saya bisa saja memesan tiket di kaunter penjualan tiket di Singapura atau Malaysia, namun khawatir tiket sudah terjual habis dan saya tidak bisa mendapatkan tiket untuk menyeberang ke Singapura. Daripada itinerary saya hancur berantakan, maka lebih baik saya pesan online di website KTMB. Cara pesan online lebih saya suka daripada pesan langsung di kaunter karena kita bisa mengetahui ketersediaan kursi dan alternatif cara lain apabila tiket habis. Bagaimana cara memesan tiket KTMB secara online? Caranya mudah, buka saja situs Keretapi Tanah Melayu Berhad di laman http://www.ktmb.com.my/

Nanti akan muncul halaman seperti ini


Saya sarankan jika belum memiliki user akun agar daftar terlebih dahulu, caranya cukup mudah, hanya perlu mengisi nama lengkap, user name yang diinginkan, password yang diinginkan, alamat email, nomor telepon dan HP. Setelah mendaftar, segera konfirmasi di email kamu dan sign in untuk masuk.

Mengapa disarankan untuk daftar sebagai pengguna? JIka nanti transaksi sudah berhasil akan lbih mudah mencari tiket yang kita pesan karena sudah masuk di history pemesanan. Dan jika ada gagal koneksi atau gagal transaksi maka lebih mudah untuk diproses. Intinya, ikuti kata saya aja deh biar cepet (maksa :D)



Setelah sign in akan muncul tampilan seperti ini, klik Ticket Reservation. Silakan isi bagian Onward dan Return. Pada bagian Onward silahkan isi Origin dengan tempat keberangkatan dan Destination dengan tempat tujuan kami, serta isi tanggal perjalanan. Misalnya berangkat dari JB Sentral dan tujuan KL Sentral pada tanggal 06 Juni 2015.


Input juga jenis kereta, untuk kereta malam pilihlah Senandung Sutera, dan jenis gerbong pilih yang ADNS – Superior Night Class dengan harga kasur tingkat atas untuk anak 27 RM, kasur bawah anak 33 RM, kasur dewasa tingkat atas seharga 39 RM dan kasur dewasa di bawah 45 RM. Setelah selesai tekan tombol Add. Maka akan muncul pop up untuk pengisian data diri penumpang yang terdiri dari : Nama penumpang, IC atau nomor paspor, dewasa atau anak-anak, pria atau wanita, serta pilihan nomor kursi yang dikehendaki.


Dengan klik nomor kursi akan muncul otomatis ketersediaan kursi atau sisa kursi yang bisa dipesan. Perhatikan warna kursi, warna merah untuk kursi yang sudah dipesan, warna abu-abu untuk kursi yang sementara bisa dipesan, namun saya tidak menyarankan untuk memilih ini, dan warna biru yang menandakan kursi tersebut kosong dan dapat dipesan. Klik label pilihan gerbong missal M6 atau M7. Nah, pilihlah kursi tersebut. Di sana juga ada keterangan Upper (Atas) Lower (Bawah) sehingga kita tidak bingung kode kasur yang akan dipilih. Kasur atas maupun bawah sebenarnya tidak masalah, namun saya lebih memilih kasur bawah supaya mudah meletakan koper dan barang bawaan, tidak perlu angkut ke atas. Pilih juga untuk kursi kepulangan. Lanjutkan dengan menekan tombol continue, dan akan muncul seperti ini


Pastikan data yang tercantum benar dan pilihan tiket sudah sesuai. Setelah itu dilanjutkan dengan menu pembayaran yakni pilihan pembayaran, saya memilih dengan menggunakan kartu kredit andalan saya yang menemani saya di pelbagai reservasi online liburan yakni Hasanah Card BNI Syariah. Setelah mengisi data pembayaran, maka akan ada keterangan transaksi sudah berhasil dan akan muncul tombol untuk print e-tiket. Silakan print bukti pemesanan tiket kamu tersebut dan jangan lupa untuk dibawa pada saat masuk ke dalam kereta untuk pemeriksaan.

Bagaimana? Simpel bukan?
Semoga bermanfaat.

Salam,
Noni Halimi

Sunday, August 3, 2014

Ke mana Stesen Dang Wangi

Hari kedua kami di Kuala Lumpur, saya berniat mengajak adik-adik saya ke KLCC Twin Tower. KLCC (Kuala Lumpur Convention Center) Twin Tower adalah landmark dua buah menara kembar yang merupakan icon kota Kuala Lumpur, Malaysia. Hari itu ternyata salah seorang kolega Bapak berkunjung ke Tune Hotel tempat kami menginap dan mengajak silaturahim ke kantornya. Berhubung saya dan adik-adik tetap ingin pergi ke KLCC, maka kami tidak ikut Bapak dan Ibu. Saya dan adik-adik pergi ke KLCC dengan menggunakan kereta.

Stesen adalah sebutan Stasiun bagi orang Malaysia. Stesen kereta terdekat dari Tune Hotel tempat kami menginap adalah Monorail Medan Tuanku. Kita cukup berjalan ke arah timur, ikuti saja jalurnya monorail. Jaraknya hanya 200 meter saja. Dekat bukan? Namun untuk menuju ke KLCC, kita tidak bisa menggunakan Monorail, melainkan LRT. Jika kami menaiki jenis monorail, maka kami harus turun di monorail stesen Bukit Nanas, dan berjalan ke arah KLCC. Sedangkan jika kami menaiki jenis LRT, maka kami turun persis di stesen KLCC dan akan keluar tepat di Twin Tower. Adik saya tak sabar menaiki monorail yang keretanya berada di jalan layang dengan satu rel. Saya beritahukan bahwa kita akan naik monorail saat pulang saja, bukan saat berangkat.

Stesen LRT terdekat dari Tune Hotel adalah Stesen Dang Wangi. Jika dilihat dari peta sih tidak terlalu dekat, butuh berjalan kaki cukup jauh, apalagi tengah hari puasa-puasa hehehe. Namun berhubung adik-adik saya penasaran ingin menaiki kereta Malaysia, maka semangat saja. Paling adik saya yang bungsu bertanya, "masih jauh ya, Yun?" Heheee

Perjalanan menyusuri stesen Dang Wangi dari Tune Hotel cukup mudah, ikuti saja petunjuk jalan. Kamu hanya berjalan ke arah selatan, dan akan menemukan Sogo Departement Store. Daerah sini memang banyak pusat perbelanjaan, salah satunya Busana. Sampai di perempatan depan Sogo, belok kiri. Bersabarlah menyusuri jalan panjang itu, teruuuusss sampai ujung belokan ke kiri. Ikuti saja jalannya. Tidak jauh dari jalan itu, kamu akan menemukan eskalator Monorail Bukit Nanas yang menghubungkan ke seberang jalan. Tapi tunggu, tujuan kamu bukan Monorail Bukit Nanas, tapi LRT Dang Wangi. Tarik napas sejenak beristirahat di halte dekat eskalator, dan tengok ke kiri... Dan, Tadaaaa....Stesen Dang Wangi sudah di depan mata. Kita sudah sampai lho.

Stesen Dang Wangi
Mejeng Dulu
Masuklah ke dalam Stesen dengan menggunakan eskalator turun. LRT yang tersedia di Malaysia memang kebanyakan menggunakan rel bawah tanah, sehingga jika ingin menaiki kereta, maka harus masuk stesen dengan eskalator turun. Jika kamu tidak berniat buru-buru, maka berdirilah di sisi kiri eskalator, karena sisi kanan untuk mendahului. Jangan berdiri di kanan, kamu akan menghalangi orang belakang untuk mendahului. Setelah sampai ke dalam, pastikan kamu membeli tiket ya. Untuk membeli tiket/token, kamu hanya perlu mendatangi mesin pembelian tiket otomatis di depan pintu masuk. Jangan khawatir mengantri, mesinnya banyak kok.

Cara pembelian tiket di Stasiun Kereta Kuala Lumpur


Mesin pembelian tiket otomatis ini akan mengeluarkan token kereta berbentuk koin plastik berwarna biru. Cara pembeliannya, silakan kamu tekan pada layar touch screen English. Nanti akan muncul peta kereta Kuala Lumpur dengan berbagai jenis, dari LRT, Monorail, KLIA Express, KLIA Transit dan Commuter. Semuanya terintegrasi dan bersatu di Stesen KL Sentral. Pilih stesen tujuan kamu, tap pada peta di layar, jangan sampai salah tap ya, karena posisi gambarnya berdekatan. Cek lagi ketika sudah dipilih. Nanti akan muncul harga tiket untuk 1 token. Kamu bisa membeli lebih dari 1 token jika pergi berkelompok seperti saya. Caranya? Tekan saja tanda + nanti jumlah token dan harga total token akan berubah.

Token Pembelian Tiket LRT
Setelah selesai, waktunya pembayaran. Nah, untuk membayar harga tiket, kita hanya perlu memasukkan uang ke mesin. Ada untuk uang kertas dan ada untuk uang koin. Mesin ini hanya menerima pecahan uang kertas 1RM, 5RM, 10RM. Sedangkan untuk uang koin, mesin ini bisa menerima pecahan 1 Sen, 2 Sen, 5 Sen, 10 Sen, 20 Sen, 50 Sen, dan 1RM. Jika harga tiketnya 1.6RM, maka artinya kamu membutuhkan 1RM dan 60 Sen. Jika kamu tidak memiliki uang 60 Sen, kamu bisa memasukan 2 lembar/koin 1 RM. Lalu sisa 40 sen kemana?? Tenaaaang...saat kamu masukkan 2 RM, mesin akan mengeluarkan token milik kamu di bagian bawah mesin (persis seperti mesin penjual minuman). Selang beberapa detik perhatikan layar mesin akan tertulis Pemulangan Baki, yang artinya mesin akan mengeluarkan kembalian kamu. Uang koin sen kembalian kamu akan keluar di tempat pengambilan token.

Pintu Masuk/Keluar
Setelah kamu mendapatkan token, berjalanlah ke pintu masuk, nanti akan ada pagar masuk stesen. Perhatikan tanda hijau atau merah. Jika bertanda hijau, maka kamu bisa masuk melalui pintu itu, jika merah maka pintu tersebut khusus pintu keluar. Letakan token biru pada sisi atas palang pintu, ada tempat khusus untuk tap token/card. Kamu cukup tap sekali saja sampai mesin membaca dan pintu terbuka. Lewatlah dengan tenang, tidak panik, dan tidak teburu-buru. Mukanya biasa saja, jangan pasang ekspresi berlebihan karena kamu berhasil melewati ini semuaaaa. Jakarta memang gak ada sih yang kayak gini, saya paham ekspresi itu (pernah juga soalnya) wakaakak.

Jika kamu telah masuk palang pintu, kamu tinggal berjalan menuju tempat pemberhentian kereta, biasanya ada eskalator turun. Ikuti saja petunjuk jalannya. Masukkan token biru ke dalam saku, jangan sampai hilang karena kamu membutuhkan token itu untuk keluar dari stesen. Jalur keretanya ada dua lho, kiri dan kanan, perhatikan stesen tujuan kamu, jangan sampai kamu salah arah. Jika stesen kamu harusnya ke arah utara, jangan sampai kamu menaiki kereta yang ke selatan. Petunjuknya banyak dan jelas, kamu tidak perlu khawatir nyasar. Jika masih belum pede, tanya kepada orang sekitar, mereka dengan senang hati memberi tahu.

Ketika kereta datang, berdirilah di samping pintu masuk, jangan persis di depan pintu masuk. Bagian depan pintu masuk dipergunakan untuk penumpang yang akan turun. Peraturan di sana mendahulukan penumpang untuk turun, dan penumpang yang akan naik tidak diperbolehkan masuk sampai penumpang yang turun sudah selesai. Jadi tidak ada desak-desakan dan rebutan seperti Commuterline Jabodetabek milik kita. Semua teratur.

Kereta akan datang tiap beberapa menit sekali, paling tidak 1-2 menit sekali. Saking banyaknya kereta yang datang, hampir tidak pernah ada isi kereta sampai pepes tempe ala Commuterline Jabodetabek (maaf yaaa, lagi-lagi contohnya Indonesia hahaha). Kalau pun penuh ya masih tahap wajar, tidak berdesak-desakan. Ketika kereta berjalan, silakan menikmati pemandangan bawah tanah, apabila kereta sudah keluar dari bawah tanah, kamu bisa menikmati pemandangan luar kota Kuala Lumpur. Perhatikan notifikasi dari petugas mengenai stesen pemberhentian selanjutnya, atau kamu bisa memperhatikan petunjuk rute stesen kereta tersebut di bagian atas pintu.

Jika sudah sampai stesen tujuan, turunlah dengan beratur dan carilah pintu keluar. Token biru yang kamu simpan tadi silakan dikeluarkan, dan masukkan ke dalam lubang di palang pintu keluar. Jika di palang pintubmasuk bentuknya datar untuk sekedar tap/tempel token, jika di pintu keluar maka bentuknya seperti celengan. Masukkan token kamu ke celengan tersebut, dan pintu akan terbuka. Keluarlah dengan perlahan, dan saya ingatkan kembali, jangan tunjukkan ekspresi berlebihan :p

Bagaimana jika saya ingin transit berbeda jenis kereta?

Jika kamu ingin pergi ke stesen tujuan dengan jenis kereta yang sama dengan stesen kereta kamu, maka tidak akan bingung. Misal dari LRT Dang Wangi ke LRT KLCC. Maka tidak membutuhkan Transit Kereta. Namun bagaimana jika kamu berangkat dari LRT Dang Wangi dan ingin turun di Monorail Bukit Bintang? Nah kamu membutuhkan transit.

Apabila kamu ingin berganti jenis kereta, jangan khawatir, tetap pesan token sesuai stesen tujuan kamu, dan carilah stesen transit (interchange stesen). Turunlah di stesen transit, jangan keluar, tapi lanjut ke jenis kereta selanjutnya. Jangan masukkan token ke pintu, karena perjalanan kamu akan dianggap selesai pada saat kamu memasukkan token ke pintu keluar. Jadi selama kamu memegang token, kamu ingin transit di beberapa stesen, tidak masalah. Kamu boleh memasukkan token di pintu keluar saat akhir perjalanan kamu ya.

Suasana Jalan Dang Wangi
Sampai di KLCC saya menuju ke pintu keluar yg arah Suria KLCC. Suria adalah nama mall besar untuk kalangan atas, mungkin kalau di Jakarta seperti Plaza Indonesia. Banyak brand super mahal yang cuma bisa saya lihat saja dari etalase. Nggak berminat untuk beli dan nggak sanggup juga. Jadi biarlah menjadi hiburan mata saja. Setelah berjalan mengitari Suria KLCC, ikuti saja petunjuk jalan yang mengarahkan ke Twin Tower Petronas. Mudah kok. Kamu akan menemukan menara tersebut ketika keluar dari Suria KLCC. Spot terbaik untuk mengambil full gambar twin tower ada di bagian taman air mancur. Berjalanlah sampai ujuuuuuuunggg belakang. Di sanalah kamu bisa mengabadikan foto Twin Tower secara utuh sampai puncaknya.

Twin Tower Mendung
Saya sarankan untuk ke Twin Tower pada malam hari, karena gedung Twin Tower akan menyala dari dalam, super cantik untuk diabadikan. Jika tidak sempat malam, maka kamu bisa berkunjung pagi hari, ketika belum banyak sinar matahari. Jika terlalu siang, maka akan ada backlight dan kualitas foto kurang bagus. Kata orang, belum ke Malaysia jika belum foto di Twin Tower. Jadi jangan sia-siakan perjalanan kamu. Semoga bermanfaat yaaa!

Monday, June 9, 2014

BNI Syariah KCPS JPU Sudirman

Our Team at BNI Syariah KCPS JPU
BNI Syariah KCPS JPU Sudirman, Jakarta Pusat? Too much memories that I have experienced in this office. That's all I wanna say. Just like that? Nggak jadi cerita doooong.... : P

Indeed, too many things going on here. 25th March 2012 just my birthday at the same time I was given a duty assignment to be Customer Service at BNI Syariah KCPS JPU Sudirman in Central Jakarta. No doubt i was on terrible feeling, very shocked. It's so sudden and I don't understand the Customer Service things. Day-to-day i just dealing with tellers things and tomorrow morning, i will be on duty as Customer Service. That makes me cry suddenly in the corner of my office di cabang hahahhaa. Oh men, how come..

But duty is a duty that must be executed. After all the challenges and obstacles I have to face it, for the sake of the development of my career *sotoy berat. So I walk on my life at BNI Syariah KCPS JPU.

I was a bit nervous as Customer Service and serving the customers who are mostly employees of BNI and BNI Syariah Head Office. Customer Service transaction code in our system information is definitelly different from teller transaction code. And finally, I admit it's incredibly hard to be a Customer Service. Oh ya, there's only one Customer Service at KCPS JPU, and the person was me. I was the only one Customer Service at KCPS JPU, so if you're on busy-hectic full of customers, then i should ngabisiiiiin itu semua nasabah :D

The things that i miss this place so much is a duty routinities in a very static but dynamic *apaaaa pulaa. Morning around 5.15 AM, I already walked to the nearest train station from home to go to the office. At 5:20 AM I was already inside the train. The journey is quite short because I was always accompanied by reading books or music player. At 6:10 AM, I usually had to walked from Sudirman station into Kantor Besar BNI. It only took 5 minutes to walked since I have a habit of running fast. At 06.15 AM after giving a greeting to cleaning service and some fellows of BNI who already come, then I've been in the banking hall BNI Syariah KCPS JPU.

It doesn't end there, right after i got to the room, I immediately opened my breakfast box with my super sister (Kakak Fani) who's on duty as Teller-- to breakfast together. She always come early to the office, just like me. We always have breakfast together (unless if we're fasting on Monday or Thursday) and there is always a fight scene breakfast. Surprisingly, we already had our food but somehow we still often rebutan sarapan satu sama lain.

After had breakfast, i used to brushed my teeth and chit chat with kakak fani on the rest room. We also rebutan keran juga, padahal banyak keran di sana buat sikat gigi. Hadeeeeh. We took ablutions (wudhu) and pray Dhuha every morning. If there's much time, we usually read Qur'an then we touch up and get dress with our uniform. Orangeeeeee :D

One more thing that makes me miss this place is....i had a lot of interactions with the BNI Syariah and BNI Head Office staff. There's so much stories to share experiences, diomelin, criticized and to be loved * preeet. If the employee of BNI Syariah was come to KCPS JPU, that should be a group. They came with partner and the other partner. You can say "rombongan" especially the technology division which located in the opposite our building. Kalo udah divisi teknologi berkunjung bisa satu unit dibawa semua, malah unit sebelah juga dibawa. Ramai rasanya.

Lots of ups and downs for the half a year when I was in charge there. At the end I should gave a good-bye because KCPS JPU moved into BNI Syariah Cabang Bendungan Hilir and I returned into Cabang Fatmawati agaaaaain.

Absolutely those moments will not be fotgotten :D

Almost Last Day
Kakak Fani, My sister in crime
Okey, ribut terus.

Tuesday, May 20, 2014

Commuter Line Jabodetabek

Dua tahun yang lalu saat saya masih ditempatkan di kantor pusat Sudirman, maka praktis tiap pagi sore saya menjadi pengguna setia KRL Jabodetabek. Bagaimana tidak, jarak tempuh dari Lenteng Agung ke Sudirman cukup jauh. Tidak terbayang jika harus menembus kemacetan Jakarta lewat jalur kendaraan bermotor. Maka solusinya adalah jadi anak kereta. Pukul 05.15 pagi  maka saya sudah nongkrong kece di Stasiun UP dan sore hari ketika selesai tutup kas, maka pukul 17.00 lewat-lewat dikit laaahh.

Jaman dulu masih ada adegan kereta ekonomi dengan massa penumpang yang anarkhis dengan manjat-manjat atap gerbong kereta, sampai banyak kejadian kesengat listrik dari atap, namun tak membuat jera juga. Akhirnya Pemprov DKI menghapuskan adanya kereta ekonomi dan menyetarakan dengan Commuterline. Kereta ekonomi tidak difungsikan, namun Commuter yang juga tidak terlalu banyak armadanya, membuat adegan desak-desakan tiap pagi dan sore menjadi hal lumrah.

Awalnya tiket Commuterline bisa dibeli di loket penjualan tiket dengan karcis kertas single trip. Ada pula yang menggunakan fasilitas abodemen dengan membayar bulanan, cocok untuk pengguna Commuterline yang tiap hari naek. 

Makin lama, teknis pembelian tiket Commuterline makin di update. Harga pun sekarang dikurangi jauh lebih murah. Sekarang menggunakan sistem jarak per stasiun. Jika hanya pergi melewati 2 stasiun maka hanya membayar 2000 rupiah saja, dan kelipatan 500 rupiah untuk 2 sampai 3 stasiun berikutnya, cukup murah bukan? Sistem pembelian tiket pun mejadi lebih canggih, sekarang Commuterline Jabodetabek hampir meniru MRT yang ada di Singapore dan Kuala Lumpur. Walaupun masih jauh dari mereka, namun setidaknya kita sudah berusaha ada kemajuan.

Kecanggihannya masih belum efektif dan efisien. Mengapa? Pertama, pembelian tiket masih dilayani di kounter tiket, menyebutkan lokasi tujuan, dan bayar ditempat. Petugas akan memberikan kartu perjalanan dan recepit bukti transaksi. Ini dari kertas. Tidak paperless sih. Sedangkan di Singapore sudah menggunakan mesin pembelian tiket otomatis, dengan menekan tujuan perjalanan dan memasukkan uang, maka kartu akan keluar dari mesin, dan jika ada kembalian maka akan keluar kembaliannya. Hemat petugas dan tidak buang-buang struk kertas.

Kedua, penumpang diharuskan membayar jaminan kartu seharga Rp. 5000 setiap pembelian tiket kereta. Jadi apabila kita ingin menaiki sampai 2 stasiun seharga Rp. 2000, maka kita harus membayar di loket Rp.7000 (terdiri dari Rp. 5000 jaminan kartu dan Rp. 2000 harga tiket sebenarnya). Kartu ini berlaku untuk single trip, hanya bisa di top up apabila akan melakukan perjalanan lagi. Kartu ini tidak boleh hilang.

Jadi, ketika kita dapat kartu ini, maka kita akan masuk ke area stasiun kereta. Ada mesin untuk tap kartu di sana, tap kartu kita dan masuklah. Ketika sudah sampai di lokasi tujuan, tap di mesin kartu di pintu keluar. Bagaimana dengan nasib kartu ini? ditukarkan di kounter penjualan tiket dengan berkata kepada mbak-mbaknya "Mbak, mau refund" Maka kita akan diberikan uang Rp.5000 jaminan kartu yang tadi, kartu pun dikembalikan. Saat ini, antrian refund dengan pembelian tiket masih dalam satu jalur yang sama, sehingga apabila penuh antrian membeli tiket, maka akan sangat malas untuk antri refund.

Ada pula kartu Commuterline dari Flazz BCA yang sistemnya seperti Ezlink Card Singapore, bisa di top up dan dipergunakan untuk berkendara Commuterline. Ketika kita tap di mesin stasiun awal, maka mesin akan mendeteksi lokasi, dan ketika ketika keluar dan tap lagi, maka saldo otomatis akan terpotong sesuai dengan harga tiket. Kenapa Pemprov tidak bekerja sama saja dengan perusahaan dengan sistem kartu pembayaran seperti itu? Sehingga tidak ada lagi yang namanya refund yang merepotkan. Terkadang krn malas antri refund, kartunya kebawa terus sama saya, tidak saya refund. Commuterline setidaknya lebih efektif jika diterapkan sistem pembayaran dengan kartu :) Semoga saja Commuterline Jabodetabek suatu saat akan seperti MRT di Singapura dan Malaysia.

Bagian Depan Kartu Jaminan Commuterline
Bagian Belakang Kartu Commuterline Jabodetabek