Showing posts with label hostel. Show all posts
Showing posts with label hostel. Show all posts

Thursday, September 17, 2015

Penginapan di Tokyo, Kyoto dan Osaka

Akomodasi yang harus dipikirkan saat kita traveling ke Jepang salah satunya adalah penginapan. Membayangkan Negara Jepang dengan tingkat biaya hidup yang cukup tinggi membuat saya awalnya cukup khawatir menemukan hostel yang 'on budget'. Maklum, setiap traveling saya tidak biasa menginap di tempat penginapan yang mahal, saya selalu mencari range harga middle – end, demi pengiritan kantong. Namun ternyata, tidak sulit juga lho menemukan tempat penginapan dengan harga yang cukup murah.

Di Jepang sangat menjamur yang namanya Capsule Hotel atau Kapuseru Hoteru, yakni penginapan dengan kamar mini yang hanya berisi jajaran kasur-kasur berbentuk kapsul atau peti saja. Jepang memang sangat terbatas dalam ruang karena negara kecil, maka dimanfaatkan sedemikian hingga ruangan kecil bisa menampung orang banyak, hingga tercetuslah hotel kapsul. Ruang untuk tidur tamu lumayan kecil yang berbentuk peti modular terbuat dari plastik atau fibberglass berukuran 2 x 1 x 1.25 meter. Ruangan ini menyediakan fasilitas kasur dan fasilitas hiburan di dalamnya seperti televisi dan koneksi internet. Jangan khawatir, privasi tamu terjaga dengan adanya tirai dan pintu fibberglasss di bagian ruang masuk kamar. Harga menginap per malam di hotel kapsul ini tergolong murah berkisar antara 2000 JPY sampai 4000 JPY. Namun berhubung saya agak horor tidur di ruangan sempit dan berasa peti mati, maka saya mengurungkan niat untuk mencoba jenis penginapan seperti ini :D

Ada pun perjalanan saya ke Jepang mengunjungi tiga kota besar, yakni Tokyo, Kyoto dan Osaka. Masing-masing penginapan memiliki kesan tersendiri. Hari pertama saya menginap di Bandara Internasional Tokyo Haneda, berhubung kami baru landing pukul 11 malam dan tidak memungkinkan untuk perjalanan mencari penginapan. Akhirnya kami dari awal sudah memutuskan untuk bermalam di bandara menunggu pagi hari baru kami memulai perjalanan. Berikut hasil review dari saya mengenai hostel yang saya tempati selama di Jepang :
Foto bersama Chieko-san plus dapat oleh-oleh origami dan permen Jepang
Salah satu kasur di Khaosan Tokyo Original
Penginapan di Tokyo – Khaosan Tokyo Original

[+] Lokasi strategis tidak begitu jauh dari Stasiun Asakusa
[+] Lingkungan cukup aman dan nyaman walaupun pulang larut malam
[+] Pengurus hostel namanya Chieko-san, ramah dan mahir berbahasa Inggris sehingga mudah komunikasi
[+] Harga cukup terjangkau, saat itu kamar dormitory khusus wanita 2200 JPY / malam / orang (Harga pemesanan Oktober 2014)
[+] Kamar ber-AC dan cukup sejuk. Kasur dan suasana kamar cukup nyaman, homey banget
[+] Tersedia fasilitas Wifi 24 jam non stop dengan kecepatan super

[-] Kami dapat kamar di lantai 2 sehingga butuh menaikan dan menurunkan barang
[-] Kamar mandi cukup sempit, namun lumayan nyaman.
[-] Hanya tersedia satu kamar mandi dan satu toilet sehingga untuk pemakaiannya harus bergantian
[-] Kami memesan kamar dormitory sehingga berbarengan dengan penghuni lain, agak kurang nyaman ketika ingin mengobrol dengan travelmate, harus bisik-bisik agar tidak mengganggu. Tidak bisa leluasa packing juga kalau sudah larut, khawatir berisik dan mengganggu penghuni kasur-kasur sebelah.

Tampak luar Piece Hostel
Source : google.com
Penginapan di Kyoto – Piece Hostel

[+] Lokasi strategis tidak begitu jauh dari Stasiun Kyoto cukup berjalan kaki. Namun posisinya agak masuk gang. Walaupun demikian masih terbilang cukup mudah untuk ditemukan
[+] Lingkungan cukup aman dan nyaman walaupun pulang larut malam
[+] Harga cukup terjangkau, untuk kamar private room berdua seharga 3400 JPY / malam / orang. Karena sharing cost, jadi agak ringan.
[+] Kamar cukup mini namun tetap nyaman, kualitas kasur hotel dan di dalam kamar terdapat wastafel serta hair dryer.
[+] Tersedia fasilitas Wifi 24 jam non stop dengan kecepatan super
[+] Ada fasilitas lift
[+] Free sarapan pagi, kalau mau membawa untuk bekal juga bisa
[+] Free onigiri sampai dengan siang hari. Jadi disediakan onigiri yang sudah di wrapping dengan ukuran lumayan jumbo yang bisa kita ambil sepuasnya. Lumayan banget. Bahkan saya ambil 2 buah untuk makan siang *mumpuuung. Rasanya pun super enak, nasinya manis asin dan baru kali itu saya makan onigiri langsung di Jepang. Beda rasanya dengan onigiri ala-ala di Indonesia.
[+] Namanya sih hostel, namun menurut saya sudah mirip dengan hotel, mungkin sekelas Tune Hote milik Air Asia.

[-] Kamar mandi terdapat di lantai 1, jadi kita tidak bisa sepuasnya wara wiri ke kamar mandi. Terlebih jika kita mendapat kamar di lantai atas.
 
Hotel Kaga, Osaka
Penginapan di Osaka – Hotel Kaga

[+] Lokasi strategis tidak begitu jauh dari Stasiun Shin Imamiya, Osaka cukup berjalan kaki. Namun posisinya agak masuk gang. Waktu kami sampai Osaka sudah malam hari jadi agak kesulitan mencarinya, namun kalau siang hari mungkin akan lebih mudah.
[+] Harga cukup terjangkau, untuk kamar private room berdua seharga 1700 JPY / malam / orang. (Harga pemesanan bulan Oktober 2014)
[+] Kamar cukup mini namun tetap nyaman, terlebih bentuk kasurnya tatami / kasur lipat jepang dan futon yang unik.
[+] Tersedia fasilitas AC, kulkas dan televisi di dalam kamar.
[+] Tersedia fasilitas Wifi 24 jam non stop dengan kecepatan super
[+] Ada fasilitas lift
[+] Toilet khusus wanita ada di lantai 6 (kebetulan kami juga dapatnya lantai 6, horeee) dan kondisinya sangat bersih, rapi dan terawat.
[+] Ada fasilitas tempat pemandian campur khusus wanita dan khusus pria khas Jepang

[-] Lingkungan yang cukup berbahaya kalau malam hari, disarankan untuk tidak keluar sendirian atau hanya berdua wanita semua. Dekat dengan area tuna wisma yang berkeliatan di kolong fly over serta cukup sepi kalau malam hari.

Kurang lebih demikian sekilas pengamatan saya mengenai penginapan di Tokyo, Kyoto dan Osaka. Ini merupakan komentar subjektif dari saya, sehingga mungkin saja rasanya berbeda untuk tiap orang. Mudah-mudahan bisa memberikan rekomendasi dan gambaran untuk kamu yang akan wisata ke Jepang ya





Salam,
Noni Halimi

Thursday, July 23, 2015

Review Fernloft Hostel Chinatown Singapore

 
 
KELEBIHAN (+) :
1. Harga terjangkau
2. Ada female dormitory, jika beruntung pesan 4 orang dormitory dapatnya 1 kamar 4 kasur, bareng semua, tidak terpencar, jadi berasa private room untuk berempat
3. Lokasi cukup terjangkau dari MRT
4. Ruang kamar AC
5. Ada fasilitas wifi gratis
6. Fasilitas air panas 24 jam
7. Kamar tidur bersih dan nyaman
8. Petugas yang ramah dan berwawasan luas mengenai tempat wisata
9. Banyak brosur wisata dan peta yang bisa diambil gratis di ruang tunggu

KEKURANGAN (-)
1. Antrian kamar mandi yang cukup panjang karena banyak kamar
 
---
Fernloft Hostel Chinatown
Location : 257 Jln Besar, Singapore 208930
Booking : booking.com, reservations@fernloft.com
Website : www.fernloft.com
Pict Source : Google 
 


 

Review Tune Hotel Downtown KL, Malaysia


KELEBIHAN (+) :
1. Harga terjangkau, untuk 1 kamar twin berkisar 75 MYR atau 300.000 IDR
2. Fasilitas lift sehingga tidak perlu naik turun tangga
3. Kamar mandi di dalam
4. Air panas 24 jam
5. Akses wifi gratis 24 jam
6. Kualitas kamar hotel, kasur nyaman, kamar bersih
7. Ada petugas yang membersihkan kamar setiap hari
8. Tersedia ruang penyimpanan bagasi
9.  Ada kulkas kecil di dalam kamar
10. Dipinjamkan handuk per orang, kalau kotor bisa langsung diganti
11. Petugas ramah dan fasih berbahasa inggris serta bisa dimintai informasi mengenai tempat wisata.
12. Bisa memesan berbarengan dengan tiket pesawat Air Asia, biasanyakl malah banyak promo jika booking jauh-jauh hari.
13. Ada fasilitas seterika dan laundry
14. Aman dilengkapi dengan CCTV
15. Ada fasilitas ATM
16. Jumlah kamar yang banyak yakni terdiri dari 27 kamar twin, 184 kamar double dan 64 kamar single.
KEKURANGAN (-) :
1. Lokasi yang tidak dekat dari stasiun LRT, namun dekat dengan stasiun Monorail. Walaupun dekat dengan akses transportasi kereta, namun jalur monorail agak ribet dan hanya sedikit armadanya. Lebih baik cari yang dekat stasiun LRT, armada lebih banyak dan aksesnya lebih mudah.
2. Pembayaran dilakukan sebelum check in, apabila dadakan ada pembatalan maka uang tidak bisa direfund
3. Jika check in sebelum pukul 14.00 maka akan dikenakan biaya tambahan berupa early check in yang dibayarkan tunai saat check in.

---------------------
Tune Hotel
Downtown KL
Location : 316 Jalan Tuanku Abdul Rahman, 
50100 Kuala Lumpur, Malaysia.
Access : Monorail Medan Tuanku
Website : www.tunehotels.com 

Lobi Tune Hotel
Lobi Tune Hotel
Kamar Single
Double Room
Penampakan Tune Hotel Downtown KL

Review Submarine Guest House Kuala Lumpur, Malaysia

KELEBIHAN (+)
1. Harganya super murah dan sangat terjangkau
2. Lokasi strategis dekat Pasar Seni dan Petaling Street, akses LRT Pasar Seni
3. Air panas 24jam
4. Akses wifi gratis
5. Aman, karena masih di area jalan besar
6. Dekat dengan lokasi wisata
7. Sarapan gratis
8. Petugas ramah dan fasih berbahasa inggris
9. Hostel dilengkapi dengan fasilitas cctv
10. Cukup bersih dan nyaman
11. Kasur twin dengan ukuran yang cukup
12. Dapat blanket
13. Bayar ditempat secara tunai

KEKURANGAN (-)
1. Lokasi hostel ada di dalam ruko yang berada di lantai 2. Agak repit angkut-angkut koper
2. Suasananya super sunyi, jadi lumayan berbisik-bisik kalau mau mengobrol dengan travelmate terutama jika sudah malam

--------
Submarine Guest House
Website : http://www.submarinehotels.com/
Booking : 
Location : Central Market 2
Jalan Hang Kasturi, Kuala Lumpur, Malaysia
Access : LRT Pasar Seni
Pict Source : Google
Pintu depan
Ruang tunggu dan ruang santai
Kamar mandi
Kamar tidur

Review ABC Backpackers Hostel Singapura

KELEBIHAN (+) :
1. Harga terjangkau
2. Lokasi strategis. Lokasi ABC Backpacker hostel terletak tidak jauh dari stasiun MRT Bugis. Hanya perlu berjalan kaki beberapa ratus meter di Jalan Victoria, maka tak lama kamu akan menemukan Jl. Kubor lokasi ABC Backpacker Hostel.
3. Aman, karena masih di area jalan besar Victoria Street
4. Bersih dan nyaman
5. Air panas berfungsi 24 jam
6. Akses wifi 24 jam gratis
7. Sarapan gratis sepuasnya, malah bisa untuk bekal sarapan di jalan
8. Ada kulkas untuk menitip makanan atau minuman dingin
9. Petugas yang ramah, berwawasan mengenai tempat wisata, dan fasih berbahasa inggris.
10. Kamar AC
11. Ada female dormitory
12. Banyak WNI yang menginap dan hostel ini cukup tenar di kalangan wisatawan Indonesia

KEKURANGAN (-) :
1. Perhatikan AC kamar, saat itu AC kamar saya agak bermasalah sehingga bocor mengeluarkan air
2. Kamarnya banyak, sehingga antrian kamar mandi pun panjang, saran saya untuk mandi pagi hari sekali saat para turis masih tidur.

----------------
ABC Backpackers Hostel 
Loacation : 3 Jln Kubor, Singapore 199201
Booking : booking.com
MRT Access : MRT Bugis
Pict Source : Google


Wednesday, July 22, 2015

Review U8 Hostel Singapore

KELEBIHAN (+) :
1. Unik dan menggemaskan. Ini kesan pertama yang saya dapat ketika googling U8 Hostel. Tak heran saya bilang unik, design hostel ini memang sangat menyenangkan dan enak dipandang mata. Pemilik hostel memasang banyak wall sticker pada hostelnya dan sprei warna warni. 

2. Hostel ini juga bersih dan nyaman untuk ditinggali.

3. Affordable budget. Maret 2015 silam saya mencoba menginap di hostel U8 ini dengan harga kamar 69 SGD  atau senilai 621.000 IDR (kurs 9000 IDR). Harganya memang cukup mahal mengingat kurs di Singapura memang luar biasa melejit di awal tahun 2015. Namun untuk harga rata-rata kamar di Singapura per malam sudah cukup terjangkau


4. Lokasi Strategis. Lokasi U8 berada di 181 Upper Paya Lebar Road, Singapura. Jika kamu menggunakan akses MRT maka kamu bisa turun di MRT Bartley dan jalan lurus menanjak ke arah Paya Lebar Road. Sampai di perempatan jalan, kamu akan melihat jejeran ruko, salah satunya adalah hostel U8. Jika kamu menggunakan bus, kamu bisa langsung turun di Paya Lebar Road, persis di depan ruko dan kamu tidak perlu berjalan agak jauh. 

5. Petugas yang melayani cukup ramah, berpengetahuan luas tentang tempat wisata dan mampu berbahasa inggris dengan baik. Kami diperbolehkan untuk menitip barang bawaan selama belum waktu check in kami. Check in pertama kali dimulai dari pukul 14.00 waktu setempat. Kami juga diperbolehkan untuk mandi dan berberes selama belum check in. Lumayan, sehabis bersih-bersih, titip barang, kamu bisa melanjutkan perjalanan wisata tanpa buang-buang waktu.







6. Suanananya sangat nyaman dan seperti di rumah sendiri. Kebersihannya patut diacungi jempol, spreinya warna-warni dan menggemaskan. Wall Sticker sangat mendominasi hostel ini. Hampir diseluruh penjuru tembok dipasangi wall sticker dengan berbagai tema dan ukuran.Kamar mandinya bersih walaupun hanya ada 3 pintu saja. Tersedia juga dapur

7. Sarapan gratis disediakan dimulai dari pukul 07.00 pagi. Jika kamu ingin laundry cuci baju makan kamu bisa menggunakan fasilitas di hostel ini, namun dikenakan biaya, demikian halnya dengan seterika.

8. Akses Wifi 24 jam yang bisa dipergunakan sepuasnya.



KEKURANGAN (-) :
1. Kamar yang mini dan irit tempat, jadi agak dempet-dempetan gitu

2. Tidak tersedia loker untuk menyimpan barang berharga atau penitipan khusus yang terkunci sehingga ada rasa aman bagi customer.

3. Fasilitas air panas tidak ada

Over all saya cukup puas menginap di hostel ini walaupun kamarnya agak sempit dan mini, tapi bersih dan rapi. Saya kasih nilai 8.5 of 10 untuk U8 Hostel Singapore.

 ---

U8 Hostel
Address: 181 Upper Paya Lebar Road Singapore 534866
Contact: +65 62848482
Website: www.u8hostel.com
Email: booking@u8hostel.com
Pict. source : from other blog

Review Back Home Kuala Lumpur, Malaysia


Back Home merupakan salah satu tempat menginap yang low budget di Kuala Lumpur. Harganya yang cukup terjangkau tidak menjadikan hostel ini kalah saing dari segi fasilitas dan lokasi. Hostel ini berlokasi yang cukup strategis yakni 30, Jalan Tun H S Lee, 50100 Kuala Lumpur, Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur, Malaysia, Telp.+60 3-2022 0788. Lokasinya dekat dengan stasiun LRT Masjid Jamek, hanya berjalan kaki berapa ratus meter dan sampailah di sepanjang jalan bertuliskan Back Home. Akses penginapan yang dekat dengan LRT sangat menguntungkan dan jadi pertimbangan di Kuala Lumpur, Malaysia. Pasalnya, kamu akan banyak berkeliling tempat wisata menggunakan moda transportasi umum seperti LRT atau bus kota. Jika akses penginapan sulit untuk ditempuh jalur LRT atau bus kota, maka kamu akan banyak membuang tenaga dan efisiensi waktu. Maka carilah hostel yang dekat dengan akses transportasi.

Pada Maret 2015 silam kebetulan saya menginap di Back Home Hostel. Harga kamarnya 120 MYR per malam untuk double bed atau senilai 456.000 IDR (kurs 3800 IDR) untuk dua orang. Sebenarnya masih ada yang harganya hampir sama dengan Back Home, namun saya mencoba memilih Back Home, lumayan nyobain hostel yang berbeda-beda. Harganya cukup worth it, sebanding dengan apa yang kamu dapat. Lokasi strategis, kamar yang cukup luas, suasana yang cozy dan homy sekali, sarapan gratis, ada tempat penitipan barang, kamar mandi yang bersih. Semuanya sudah cukup menjadi dasar penilaian hostel tersebut cukup baik. Tak lupa melihat review dan rating yang diberikan di trip advisor, maka kamu akan semakin yakin memilih hostel ini.

Back Home mempersilahkan kepada customer yang ingin early check in tanpa mengenakan biaya tambahan apa pun. Saya memesan kamar menggunakan situs booking.com, sengaja cari yang gratisan, jadi booking bisa kapan saja, cancel jg tanpa biaya, dan pembayaran dilakukan 100 persen di tempat. Akses internet wifi ada dan ruang browsing untuk santai cukup luas dan nyaman. Kamu tidak perlu khawatir kesulitan googling atau update status karena akses wifi 24 jam. Kamu hanya perlu tanyakan password wifi ketika kamu check in di receptionist. Kamar mandi memang sharing (bersama-sama), namun jumlah pintu cukup banyak dan terpisah antara kamar mandi wanita dan pria. Sarapan dibuka pada pukul 07.00 pagi dengan menu roti, selai berbagai rasa, margarin, gula, kopi, teh, susu sampai sereal. Semuanya self service, alias kamu ambil sendiri makanan dan minuman yang kamu mau. Tersedia juga pemanggang roti jika kamu ingin roti panggang, dan tersedian juga coffee maker jika kamu ingin membuat kopi. Sarapan ini unlimited, tidak dibatasi jumlahnya, sehingga kami bisa membawa kota makan dan mengisinya dengan roti untuk persiapan bekal di perjalanan. Namanya juga pengiritan hehehehe. 

Banyak review dan komentar yang bisa kamu dapatkan di situs Back Home http://backhome.com.my/ atau Trip Advisor. Untuk rating Back Home dari saya bisa berikan 8 of 10 lah, not bad :D

picture source : blog.theholidaze.com

Spore - KL Trip Day 1 (Changi Airport - Singapore Zam Zam - Masjid Sultan - Queen Street Terminal - Johor Baru)

Pesawat Air Asia QZ 266 membawa kami terbang dari Bandara Internasional Soekarno Hatta menuju Changi Airport Singapura. Selama di dalam pesawat kami sudah dibagikan borang dari Negara Singapura terkait barang bawaan yang harus diisi, jangan lupa untuk selalu membawa pulpen ya..

Pukul 17.30 waktu Singapura dengan perbedaan waktu 1 jam lebih cepat dari Indonesia, kami sampai di Bandar Udara Intenasional Changi. Ini kali pertama saya ke Changi, sebelumnya ke Singapura melalui jalur bus dari Kuala Lumpur dan Jalur air dari Batam. Perlu waktu yang agak lama untuk keluar bandara ini, cukup luas dan muter-muter. Walaupun keren, belum ada yang menandingi bandara di Tokyo yang super keren *tetep Jepang*

Sebelum menaiki MRT saya sempat top up 10 SGD kartu Ezlink milik saya dan membeli 12 SGD kartu baru Ezlink untuk suami saya, dengan balance due kartu 7 SGD. Dari pintu kedatangan di Changi, kami langsung menuju ke MRT ke arah Tanah Merah, keluar di Exit B menuju MRT Joo Koon keluar di exit A ke arah Pasir Ris. Kami langsung ke arah  MRT Bugis karena kami berniat makan malam di daerah Arab Street, shalat Maghrib Isya di Masjid Sultan dan segera ke Queen Street terminal untuk naik bis.

Agenda makan malam kami sudah dipersiapkan dalam itinerary. Kami berencana makan di restoran Arab yang bernama Singapore Zam-Zam, letaknya persis di samping Masjid Sultan, pinggir jalan raya. Sangat mudah untuk menemukan restoran ini, harganya cukup terjangkau, porsi buanyaaak banget cocok untuk orang-orang yang kelaparan terus seperti kami, dan rasanya tobbbb markotob!! Recommended to try.


Kami pesan 1 nasi briyani ayam paha dan 1 murtabak ayam, untuk minuman karena kami belum beli minum, jadilah beli teh tarik. Nasi briyani kami makan sepiring berdua (supaya romantic) karena porsinya yang lumayan jumbo, setelah itu dilanjutkan makan murtabak ayam lezat yang porsinya juga jumbo. Alhamdulillah kenyaaaang. Kami makan malam seharga 15 SGD untuk dua orang. Lumayan mahal? Namanya juga Singapura. Kalau soal rasa, nasi briyani 8 of 10 dan Murtabak 8 of 10. Untuk teh tarik rasanya biasa saja, belum ada yang ngalahin teh tarik di Kuala Lumpur.

Lepas makan kami menuju Masjid Sultan untuk menunaikan shalat Maghrib dan Isya (jamak takdim). Masjid yang cukup besar di kawasan Bugis dan sangat nyaman untuk berlama-lama merebahkan badan. Tapi kami tidak bisa berleha-leha karena kami harus mengejar bus causewaylink di Queen Street Terminal.

Pukul 20.15 ke Queen Street Terminal  untuk naik Causewaylink Bus warna kuning harga 1 tiketnya 3.3 SGD. Sebenarnya bisa naik bus 170 dengan harga tiket lebih murah, namun kondisinya penuh dan saya agak malas untuk bawa koper dan sebagainya berdesakan, akhirnya memutuskan untuk naik Causewaylink. Sebelum menaiki bus, kami Antri di pinggir terminal beli tiket di kounter tiket cash atau dengan ezlinkcard. Antrian mengular sepanjang sisi terminal dan teratur, tidak ada rebutan apalagi berdesakan masuk.

----------------------------------------terminal queen street---------------------------------------

Bus causewaylink dan 170 merupakan bus antar kota antar negara dari Terminal Queen Street sama Johor Bahru. Nantinya kami akan turun untuk cap imigrasi, kemudian lanjut lagi naik bus di imigrasi. Bus yang akan dinaiki belum tentu sama dengan bus di Queen Street, tidak masalah asalkan jenis bus masih sama dan kamu masih memegang tiket bus. Jika kamu berangkat dengan Causewaylink, maka pastikan saat setelah cap imigrasi dan kembali naik bus juga menaiki jalur bus Causewaylink.

Tidak terasa sudah pukul 21.00 waktu setempat, kami sampai di Woodsland checkpoint, untuk cap imigrasi keluar Singapura. Kami berbondong-bondong turun dari bus dan berjalan masuk ke Woodsland Checkpoint yang berada di lantai 5. Jangan khawatir tersesat, ikuti saja arus lalu lalang orang, semua menuju imigrasi keluar Singapura.

---------------------------------------causewaylink----------------------------------------------

Setelah cap keluar Singapura di paspor, kami kembali mengular mengantri naik bus Causewaylink jurusan JB Sentral atau Johor Baru Sentral di jalur CW2. Jangan khawatir menunggu lama, karena stok bus ini sangat banyak. Perjalanan kedua dengan bus ini tidak memakan waktu yang lama, karena jarak Woodsland Checkpoint dengan Johor Baru area Malaysia sangat dekat, hanya beberapa menit saja.

Tidak berapa lama sampai juga kami di JB Checkpoint untuk masuk imigrasi Malaysia dengan cap masuk Malaysia di paspor kami. Setelah dari cikgu-cikgu imigrasi Malaysia, ikuti petunjuk jalan yang tertera ke arah JB Sentral. Letak JB Sentral cukup dekat dari imigrasi, hanya berbeda gedung saja. Jangan takut untuk tersesat ya. Kalau nyasar, prinsip orang kita jaman dulu, jangan malu untuk bertanya.

Pukul 21.30 sampai di JB Sentral turun dari lantai 4 ke lantai 3 untuk ke kounter tiket KTMB. Persoalan hidup kami dimulai *lebay* Jadi begini, kami membeli tiket PP dari Johor Baru Sentral - KL Sentral dan KL - Sentral - Johor Baru Sentral. Namun pada saat proses akhir pembayaran dan pencetakan bukti validasi pemesanan tiket terdapat error message sehingga bukti e-tiket kami untuk perjalanan berangkat (JB Sentral - KL Sentral) tidak bisa diprint, sedangkan tiket pulang kami (KL Sentral - JB Sentral) bisa diprint. Alhasil kami hanya memiliki 1 e-tiket pulang, padahal keterangan transaksinya berhasil dan kartu kredit saya sudah terdebet sejumlah tiket PP. Saya sudah kirim email ke call center KTMB namun sampai hai keberangkatan kami belum juga dapat balasan. Jeng jeng jeng.

Dengan modal nekat bin sotoy, kami mendatangi kounter tiket KTMB untuk konfirmasi. Saya menceritakan awal mula pemesanan tiket sampai berakhir gagal print, dan hanya bisa print tiket kepulangan saja. Saya juga memberitahukan bahwa transaksi saya berhasil karena sudah konfirmasi ke kartu kredit Hasanah Card saya bahwa memang ada transaksi pembelian tiket KTMB sebesar 45 MYR x 4 atau 180 MYR pada hari tersebut.

Cikgu penjaga kounter kemudian melakukan verifikasi data, namun ternyata kode booking pemesanan kami tidak ditemukan dan kami diminta untuk melakukan cancel ke Kartu Kredit untuk pengembalian dana. Lemes dengernya? Iya lah pasti, males banget kan nelepon ke Call Center Kartu Kredit yang sudah terproses transaksinya, terlebih KTMB tidak memberikan bukti bahwa transaksi gagal. Namun, masih ada keberuntungan di tiket kepulangan kami yang sudah kami cetak, ternyata tiket tersebut bisa dikonfirmasi, sehingga tiket kepulangan kami aman. Kami hanya perlu membeli ulang tiket berangkat saja. No problemo, kita urus belakangan saja cancel tiket berangkat. Mengenai tiket ini, saya ada cerita menarik di postingan selanjutnya :D
Selesai membeli tiket 45 MYR untuk 2 orang Kelas Superior Malam (ADNS) sleeper train, kami menunggu di ruang tunggu persis di depan pintu masuk keberangkatan KTMB Senandung Sutera. Kereta akan berangkat dari JB Sentral pukul 23.35 dan sampai di KL Sentral pada pukul 06.50 pagi pada platform B.

Di JB Sentral ada loker penitipan, masuk gate 6 lurus terus setelah Starbucks ada belok kanan berjejer loker penitipan barang sehari 10-20 ringgit tergantung besar ukuran loker. Jika kamu ingin menitipkan loker di JB Sentral bisa meletakkan di sana.

Kami menunggu kereta Senandung Sutera sekitar 1 jam dengan asyik memperhatikan lalu lalang orang dan tingkah orang-orang sekitar yang sedang menunggu. JB Sentral memang cukup ramai karena stasiun perbatasan untuk ke berbagai kota bahkan lintas ke Singapura dan Thailand. Cukup banyak keluarga yang membawa banyak anggotanya dengan koper besar-besar menunggu di kursi tunggu. Waktu tidk terasa, hingga sudah pukul 23.30 dan kami pun masuk lewat gate B turun ke bawah platform 3 dan 4. Kami segera mencari koc/tempat M11 yang berbentuk kasur. Kebetulan saya memang sengaja memilih kasur bawah berseberangan, yakni 34 dan 36. Tidak menunggu lama, kereta pun berangkat.
Sampai jumpa di Kuala Lumpur :)

Sunday, May 19, 2013

Singapore Trip 1 (23 April 2013)

Alarm HP berbunyi dan kami bertiga masih belum ada yang beranjak dari tempat tidur. Hari itu adalah hari pertama kami akan memulai our wonderful journey. Saya serta dua orang rekan dekat saya yakni Ampi dan Febi akan menggembel di Singapura dan Batam selama beberapa hari. Ide awalnya adalah ketika mereka ingin mencari tiket murah ke luar negeri, kemudian meminta saya untuk mencarikan. Awalnya kami berencana ingin ke Bangkok, namun apa daya tiket murahnya kehabisan terus di Air Asia, kemudian ke Singapura juga kehabisan. Tak habis akal, kebetulan ada promo Citilink untuk penerbangan domestik. Mata kami tertuju pada tujuan Jakarta-Batam-Jakarta, maka dipilihlah rute tersebut dengan harga tiket 420rb PP.

Saya sempat berpikir ulang untuk membelinya. Untuk tiket seharga sekian dengan Air Asia promo seharusnya bisa dapat rute Jakarta-Singapore-Jakarta. Kalau melalui Batam, akan mengeluarkan cost ferry untuk menyeberang dari Batam ke Singapura, tentunya memakan budget yang lebih mahal. Namun hal tsb tidak saya indahkan, dengan pikiran saya kali kedua ke Singapura kenapa tidak  mencoba rute yang berbeda, saya ingin mencoba ke Singapura melalui jalur air. Kalo kata Bapak, menambah ilmu. Sebelumnya saya memang sudah pernah ke Singapura yang saat itu kali pertama saya travelling ke luar negeri. Saya mengambil rute Jakarta menuju Kuala Lumpur, kemudian ke Singapura melalui jalan darat dengan bus SBS Transit Johor Bahru – Singapore.

Kembali lagi ke suara alarm yang sanggat mengganggu. Rasanya baru sedetik saya memejamkan mata. Maklum, saya dan Febi baru tiba di rumah Ampi yanng berada di bilangan Ciledug pada pukul 11 malam, dan kami baru memejamkan mata pukul 2 pagi. Saat ini pukul setengah 4 pagi alarm sudah berisik membangunkan kami. Namun demi perjalanan yang berilmu ini, kami harus semangat. Air dan udara dingin pun tidak membuat semangat kami layu. Kami berangkat menuju Bandara Internasional Soekarno Hatta dan berhenti di terminal 1C untuk keberangkatan pesawat Citilink menuju Batam. Sesampainya di bandara tepat pukul setengah 5 pagi, kami pun menunaikan Shalat Shubuh terlebih dahulu. Pesawat kami take off pukul 6.15, sehingga setidaknya kami sudah harus check in pukul 5 pagi. Lumayan pagi bener yeeeee....

Dalam perjalanan kami nanti, saya bertindak sebagai navigator perjalanan. Bisa-bisanya mereka mempercayakan tugas ini ke saya, hahaha! Tapi, jujur, saya dari dulu memang senang menjadi navigator disetiap perjalanan, baik ke tempat yang sudah pernah dikunjungi maupun yang belum pernah dikunjungi. Entah mengapa, mungkin jiwa sotoy saya yang mendarah daging, saya percaya gak ada yang namanya nyasar. Nyasar itu hanyalah memutar perjalanan lebih jauh untuk mendapatkan ilmu yang baru, hehehhee. ada hikmah di setiap perjalanan yang telah saya lalui. Demi mengemban tugas yang mengasyikan itu sebelum perjalanan saya membuat itinerary perjalanan, membuka lebar-lebar peta Singapura dan calculating budget.

Dalam perjalanan pertama kali ke Singapura bulan November lalu, yang bertindak sebagai navigator utama adalah rekan saya, sedangkan saya sebagai navigator tambahan dan bendahara. Selama perjalanan, saya berusaha merekam penjuru tempat dan lokasi Singapura dalam satu kali waktu. Ini adalah ajaran Bapak saya. Ketika kamu melakukan sebuah perjalanan, pergunakan mata, telinga, mulut dan memori dengan sebaik-baiknya, rekam semuanya dalam otak. Sehingga ketika kali kedua kamu menuju tempat tersebut kamu masih ingat. and it works for me. Saya biasanya paham ke lokasi yg sudah pernah saya kunjungi sebelumnya walaupun hanya pernah satu kali ke sana.Tugas Bendahara dan Akuntan perjalanan diserahkan kepada Febi karena dia sangat teliti dan mudah sekali menghafal pengeluaran yang dipakai. Sedangkan tugasnya Ampi adalah sebagai time keeper yang mengingatkan kita untuk strict to the rundown.

Pesawat kami pun melaju dan dengan gagahnya mendarat mulus di bandara Internasional Hang Nadim Batam. Saat itu menunjukkan pukul 09.15, kami tidak langsung naik taxi ke pelabuhan karena saya berniat untuk membeli tiket ferry di bandara Internasional Hang Nadim, katanya sih ada diskon kalo beli di sana. Dan benar, kami mendapatkan tiket PP via Batam Center/Sekupang dengan harga $30 ($17 untuk harga tiket PP, $7 untuk port tax di Pelabuhan Batam Center/Sekupang dan $6 port tax di Harbourfront yang di bayar pada saat akan berangkat naik ferry). Ferry yang kami tumpangi adalah Batam Fast. setelah membeli tiket seharga $17 x 3  = $51 kami pun mencari taxi di depan bandara. Pembayaran tiket ferry tadi bisa dengan rupiah atau dengan dollar Singapura loh (red. penulisan $ maksudnya mata uang dollar Singapura yang kita kenal dengan SGD).

Tiket Batam Fast via Batam Center / Sekupang
Saya memilih pelabuhan Batam Center untuk perjalanan kami ke Singapura karena waktu tempuh dari Bandara Internasional Hang Nadim ke Batam Center lebih dekat ketimbang pelabuhan Sekupang. Sebelum memesan taxi, kami sempat mengobrol dulu dengan Bapak separuh baya petugas Bandara yang baik hati. Saya lupa nama Bapaknya yang pasti asalnya dari Jawa Tengah. Kata Bapak yang saya lupa namanya itu, harga taxi dari bandara menuju Batam Center adalah Rp.70.000-Rp.80.000. Memang lucunya di Batam ini rata-rata taxi tidak menggunakan argo, namun langsung tembak harga. Begitu pesan taxi, kami langsung ditawarkan harga Rp.70.000, tanpa tawar menawar harga lagi, karena kami sudah diberitahu range harga taxinya oleh Bapak yang saya lupa namanya tadi di Bandara.

Sampai di Pelabuhan Batam Center pukul 10.30, hanya setengah jam perjalanan kami. Sebelum check in, kami sempatkan untuk membeli roti untuk pengganjal perut, karena bisa dipastikan kami di Singapur nanti akan kelaparan siang-siang dan cacing-cacing sudah pada protes. Setelah itu kami check in di counter Batam Fast yang berada di lantai 2, bersamaan dengan membayar port tax. Beruntung kami check in untuk keberangkatan ferry pukul 11.00, tepat 10 menit lagi berangkat :D Ohya, ada yang menarik di Batam, karena memang benar-benar berseberangan dengan Singapura terlebih di pelabuhan, banyak toko makanan dan minuman yang menjual dengan mata uang dollar Singapura. Contohnya teh tarik $1 atau nasi lemak $3 dan sebagainya.

Kami menuju bagian imigrasi dan dengan cepat dan segera kami merapat ke ferry Batam Fast yang tak lama lagi akan berangkat. Tak lama menunggu, ferry pun melaju dengan cepat. Waktu tempuh ferry dari Batam Center menuju Harbourfront adalah 60 menit. Di tengah perjalanan, ferry kami berhenti, sambil bercanda saya bilang ini ferry lagi mau ngisi bensin, hahaha. Ternyata berhentinya ferry tersebut karena sudah berada di luar laut Indonesia, di sinilah  batas teritoral laut Indonesia dan Singapura. Di area perbatasan ini sudah dijaga oleh polisi perbatasan. Memang tiap negara yang titik terluarnya bersinggunggan dengan negara lain, terutama di laut terdapat penetapan garis batas laut, untuk mempermudah aparat keamanan dalam melaksanakan tugas keselamatan pelayaran, karena terdapat kepastian hukum mengenai batas kedaulatan kedua negara (tetiba teringat mata kuliah Hukum Maritim, huek).

Police Coast Guard di laut perbatasan Singapura
Saya melongok keluar dan tertuju pada sebuah kapal yang berada di sebelah ferry yang kami tumpangi. Kapal bertuliskan Police Coast Guard berisikan polisi-polisi perbatasan Singapura lengkap dengan atribut dan persenjataannya. Beberapa petugas kemudian masuk ke ferry kami dan berkeliling memastikan ferry tidak membawa barang mencurigakan atau berpenumpang mencurigakan. Selayaknya petugas imigrasi yang gak murah senyum apalagi ini polisi perbatasan lebih-lebih lagi gak ada senyumnya hehe. Lepas memeriksa, kemudian ferry kami diizinkan untuk melanjutkan perjalanan. Kami sudah memasuki wilayah Singapura, dan seketika roaming pun dimulai hahahhaa, begitu sampai wajib cari kartu dulu ini sih.

Ferry kami merapat pukul 13.00 waktu Singapura, kalau di Jakarta sih baru pukul 12.00 WIB. Kami sampai di Harbourfront dan akan melanjutkan ke Sentosa Island, namun ditengah jalan saya menuju Vivo City, ternyata sudah mendung. Saya sih berharap hujan salju, tapi apa daya yang turun hujan air juga (ya iyalaaaahhh). Segera saya puter otak untuk ganti itinerary. Ya beginilah kalau jalan-jalan, kalau kondisi tidak memungkinkan segera ganti ke Plan B, rombak itinerary dadakan. Kami tidak melanjutkan ke Sentosa, namun langsung ke Bugis yakni ke ABC Backpackers Hostel. Kami naik MRT dari Harbourfront (MRT arah Punggol) transit di Outram Park dan melanjutkan ke Bugis (MRT arah Pasir Ris). Sesampainya di Bugis, ternyata saya baru menyadari MRT Bugis tepat di depan Bugis + dan Bugis Street, hahahha! Waktu saya pertama kali berjalan kaki nyasar di Singapura oleh rekan saya agak muter-muter sampe gak kebayang itu dimana. Namun kali kedua saya ke sana, saya langsung teringat tempat tersebut. Kebetulan peta Singapura sudah sedikit saya hafalkan, untungnya negaranya kecil dan sangat banyak petunjuk di setiap sudut, “gak mungkin nyasar” pikir saya.

Kami berjalan mencari Jalan Kubor lokasinya ABC Backpacker Hostel, di tengah perjalanan kami melihat Mesjid Sultan. wah gak jauh dari sini nih lokasinya ABC Hostel, setelah memang benar, tak jauh dari sana kami menemukan Jl Kubor dan ABC Backpacker Hostel, yatta!! Sampai di sana saya bilang kalau sudah membooking 1 private room for 3 paks via email (tak lupa saya print bukti pemesanan dan reply2an email saya dengan pegawai ABC Hostel), kemudian pegawai ABC Backpackers pun menyebutkan nama saya, dan nama saya sudah ada di daftar pemesan. Memang saya memesan kamar dengan nama saya. Harga private room 3 orang untuk 4 hari 3 malam seharga $255 ($85 per malam). Pembayaran dilakukan 2 kali. Pembayaran pertama di lakukan 1x24 jam setelah booking online. Saya membayar Rp.1.020.000 ke rekening BCA milik crew ABC Hostel (mereka punya rekening BCA Indonesia untuk memudahkan orang Indonesia yang ingin menginap). Memang sepengetahuan saya, hostel ini memang banyak dikunjungi dan direkomendasikan oleh backpackers asal Indonesia. Nah, sisanya $127.5 di bayar on the spot pada saat kami tiba di lokasi hostel. Oh ya, tak lupa kami memberikan deposit sebesar masing-masing $10 untuk handuk, kunci dan welcoming drink di ABC Backpackers Hostel, yang akan dikembalikan pada saat kami check out. Saat saya menginap di Singapura kali pertama November silam, saya menginap di Fernloft Hostel di Jalan Besar, Little India. Harganya cukup lumayan, tempatnya bersih namun lokasinya kurang strategis. Kali ini pilihan saya sangat tepat, lokasi ABC Backpackers Hostel ini sangat strategis dan dekat dengan MRT Bugis.

Masjid Sultan di Area Arab Street
Kami melepas lelah sejenak, Shalat Dzuhur dan Ashar di jama', minum, dan merapihkan sedikit kamar. Rundown kami selanjutnya adalah ke Mustafa Center yang berada di bilangan Little India. Tadinya saya ingin menyusuri dan memutar area Little India dengan melalui Sungei Road, lewat Masjid Abdul Gafoor, Dunlop Street, Serangoon Road dan berakhir di Mustafa Center. Namun apa daya, lumayan jauh juga kalau memutar, akhirnya kami memilih jalur tercepat dan hanya melewati Ronchor Canal Road dan menyusuri Syed Alwi Road, tinggal luruuuuuuus aja :D Akhirnya sampailah kami di Mustafa Center. Sejujurnya saya masih trauma dengan Mustafa Center dengan aroma khas rempah India yang bikin mual. Namun demi memperkenalkan Mustafa Center kepada dua rekan saya ini, saya pun memasukkan Mustafa Center ke itinerary. Sebelum berangkat ke Mustafa Center, kami sempatkan untuk ke 7Eleven dekat hostel untuk membeli Sing-Tel, simcard yang akan kami pakai selama kami tinggal di Singapur. Harga kartu perdana tersebut adalah $10 dengan balance due sebesar $7. Untuk paket Blackberry selama 5 hari menghabiskan $5, masih ada sisa $2 untuk sms ke Indonesia hehehe. Belajar dari pengalaman sebelumnya, rekan saya pernah hilang di Mustafa Center dan paket Blackberry kami mati semua, belum beli simcard Singapura. Mateeekkk lah!

Mustafa Center adalah Supermarket besar 24 jam yang isi pegawainya etnis India semua hehehehe. Mustafa Center menjual seabrek produk yang rasanya sih ini supermarket one stop shopping. Mulai dari elektronik, souvenir, parfum, alat kosmetik, makanan, minuman, cokelat, obat-obatan, aaah pusing kalo disebutin satu-satu, buanyak bener pokoknya, sampe lupa deh jualan apa aja di sana *loh* Karena familiar dengan produk dan dijual di sana, sering kali kami iseng untuk menconvert harga ke dalam rupiah dan membandingkan dengan harga di Indonesia. dan wow banyak produk yang harganya jauh lebih mahal ketimbang di Indonesia. Namun kami menemukan juga harga-harga yang memang sama bahkan lebih murah, yakni produk susu dan cokelat.

Mustafa Center ini punya banyak pintu masuk/keluar, dan terdiri dari dua gedung yang saling berhubungan satu sama lain. Aselik bakal nyasar dan muter-muter kalo gak segera mengingat ingat jalan keluar atau arah yang dilalui di dalam Mustafa Center. Berhubungan saya pernah muter-muter di Mustafa Center saat November lalu, kala itu rekan saya tiba-tiba menghilang dan positif saya dan rekan saya yg satu lalu muteeeeeeerin isi Mustafa Center berkali-kali, mana belum beli simcard, gak ada alat komunikasi satu pun. Pelajaran hidup ya, hikmahnya saya jadi cukup hafal dengan isi Mustafa Center yang njelimet itu :D

Setelah belanja secukupnya, kami keluar dari Mustafa Center dan ternyata sudah gelap. Sesaat kami keluar tetiba sadar, loh kami belum beli universal stop kontak dengan 3 colokan. Berbeda di Indonesia yang kebanyakan stop kontak 2, kalau di Singapura dan Malaysia siap-siap dengan colokan 3. Di rumah saya gak ada dan memang saya merencanakan untuk membelinya di Mustafa Center. Karena pentingnya stop kontak tersebut, saya dan Ampi bergegas masuk lagi ke Mustafa Center dan bergegas cepat, setelah menemukan stop kontak seharga $4.2 kami langsung keluar Mustafa Center dan menyusul Febi.

Tak terasa perut kami keroncongan, bok belom makan siang. Kami pun merapat di Restoran Arab di depan Mustafa, yakni Raj Restaurant. Kami memesan Nasi Briyani dan Nasi Goreng Ayam serta 2 Teh O dah Teh O Mocca. Pesan untuk budget traveller jika makan di suatu tempat, pesanlah dulu 1 jenis makanan untuk di makan bersama-sama. Mengapa seperti itu? Karena kita tidak tahu rasa dan porsi makanan tersebut, ingatlah ini di negara orang, belum tentu seleranya sama dengan lidah kita. Setahu saya memang porsi Nasi Briyani rata-rata jumbo. Kami melahap 1 porsi briyani bertiga, kemudian kami pesan lagi nasi goreng dan kami habiskan bersama. Total makan kami hari itu $15.

Setelah kenyang dengan makanan tadi, kami pulang menuju Hostel. Jalanan sudah agak gelap, saya mengerahkan ingatan saya untuk kembali ke jalan Syed Alwi Road. Lokasi Raj Restaurant kebetulan tidak dekat dengan pintu masuk pertama kami datang tadi sore. Pulangnya kami melewati seberang Jalan Kubor, sudah sepi. Saat melewati seberang Jalan Kubor yang sepi dan banyak pohon besar gelap, tetiba saya teringat dengan pool bis kuning di dekat menara air UI. Persis banget, seremnya, gelapnya dan suasananya. Namun berhubungan rame-rame, jadi obrolan serem-serem malah jadi becandaan. Sampai di Hostel kami berisirahat sambil urut-urut kaki, mempersiapkan energi untuk tracking esok pagi yang lebih bersemangat.