Showing posts with label pasar seni. Show all posts
Showing posts with label pasar seni. Show all posts

Thursday, July 23, 2015

Review Submarine Guest House Kuala Lumpur, Malaysia

KELEBIHAN (+)
1. Harganya super murah dan sangat terjangkau
2. Lokasi strategis dekat Pasar Seni dan Petaling Street, akses LRT Pasar Seni
3. Air panas 24jam
4. Akses wifi gratis
5. Aman, karena masih di area jalan besar
6. Dekat dengan lokasi wisata
7. Sarapan gratis
8. Petugas ramah dan fasih berbahasa inggris
9. Hostel dilengkapi dengan fasilitas cctv
10. Cukup bersih dan nyaman
11. Kasur twin dengan ukuran yang cukup
12. Dapat blanket
13. Bayar ditempat secara tunai

KEKURANGAN (-)
1. Lokasi hostel ada di dalam ruko yang berada di lantai 2. Agak repit angkut-angkut koper
2. Suasananya super sunyi, jadi lumayan berbisik-bisik kalau mau mengobrol dengan travelmate terutama jika sudah malam

--------
Submarine Guest House
Website : http://www.submarinehotels.com/
Booking : 
Location : Central Market 2
Jalan Hang Kasturi, Kuala Lumpur, Malaysia
Access : LRT Pasar Seni
Pict Source : Google
Pintu depan
Ruang tunggu dan ruang santai
Kamar mandi
Kamar tidur

Sunday, April 6, 2014

KL Trip : 25 January 2014 (Genting Highland - Batu Caves - Blue Mosque - I City)

Pagi itu sudah pukul 05.30 pagi waktu Malaysia, ketika adzan berkumandang, saya membangunkan Febi untuk bergegas Shalat Shubuh dan kami pun bersiap-siap untuk perjalanan menyenangkan kami di hari kedua ini. Kemarin kami memang berpesan kepada penjaga hostel bahwa akan berangkat lebih pagi, dan kemungkinan tidak sarapan.  Di Jakarta mungkin bersiap pukul 05.30 atau 06.00 menjadi sangat terburu-buru dan  jalan raya pun sudah padat. Berbeda halnya dengan di Malaysia, pukul 06.30 pagi masih belum ramai dan masih cukup sepi.

Kami berangkat pada pukul 06.30 menuju LRT Pasar Seni. Jarak hostel kami ke LRT Pasar senin hanya 100 meter saja, cukup berjalan kaki dan dekat sekali dengan Pasar Seni. Kami tidak perlu terburu-buru karena target sampai KL Sentral adalah pukul 07.00. LRT sudah mulai beroperasi lho jam 06.30.

LRT melaju dengan cepat dan sesuai jadwal, sampailah kami di KL Sentral. Bus Genting Highland berangkat dari basement lantai paling bawah di KL Sentral. Saat itu sudah banyak yang menunggu keberangkatan Bus Genting Highland. Jadwal paling awal yakni 07.30. Ada segerombolan turis Jepang dan juga wisatawan lokal dari Malaysia. Tak lama menunggu, kami pun masuk ke dalam bus. Sebelum masuk bus, satu per satu tiket kami diperiksa. Saya dan Febi mencari nomor duduk bangku kami. Dan ternyata kami duduk di bangku paling belakang. Horeeee! Pengalaman duduk di belakang :D Bus berangkat sangat on time, saya lirik jam digital di bagian depan bus, ya pukul 07.30 bus mulai melaju keluar dari terminal KL Sentral. Awalnya saya melihat Mesjid Negara, Railway Station yang sangat unik arsitekturnya dan banyak lagi. Tak lama kami masuk jalur bebas hambatan.

Selfie Dulu :p
Jalanan berubah dari jalan tol dengan pemandangan sisi kanan kiri yang tidak menarik menjadi agak menanjak dan berliku. Mirip sekali dengan jalanan di puncak. Kondisi luar pun mulai berselimut kabut, dan kuping saya muai budeg. Tidak terasa sudah 1 jam 30 menit perjalanan kami, sampailah di terminal Genting pukul 09.00. Situasi di terminal masih sangat sepi, karena bus kami adalah bus pertama yang datang dari KL Sentral. Saya dan Febi langsung menuju ke lantai atas, mengikuti petunjuk untuk menaiki Cable Car Genting Highland. Tidak perlu membeli tiket lagi karena tiket yang saya beli seharga 10,30 RM sudah termasuk di dalamnya tiket naik Cable Car.

Cable Car yang kami akan naiki juga tidak perlu antri, benar benar masih kosong. Saya dan Febi menaiki satu cable car. Senangnya bisa menaiki cable car secara private tanpa bergabung dengan rombongan lain. Mungkin karena masih pagi sekali dan kosong ya. Seharusnya cable car bisa dinaiki oleh 5-6 orang, dengan tempat duduk yang saling membelakangi.

Cable Car Genting
Sebelum cable car berangkat, kami diminta untuk berpose dalam cable car dan difoto oleh tim foto Genting Highland. Seperti di tempat rekreasi di Jakarta, mungkin nanti kami akan diminta membeli fotonya. Selama perjalanan cable car selama 15 menit kami disuguhkan pemandangan eksotis di ketinggian beberapa ratus meter dari daratan. Kabut mulai menyelimuti kembali dan sinar matahari masih malu-malu untuk muncul. Tanpa membuang waktu kami bergantian untuk mengambil foto, saatnya selfie  hahahaha.

Pelepasan Cable Car Genting
We're on the sky
Horeeee Sampai di Pemberhentian Cable Car
Sampai di pemberhentian cable car Genting Highland, kami langsung keluar dan menemukan foto kami sudah tercetak di sana. Wow. Sepertinya tadi baru saja di foto waktu di pemberangkatan cable car dan sudah tercetak di seberang sana. Sepertinya mereka memiliki penghubung, jadi pada saat wisatawan difoto saat berangkat, foto langsung di cetak di pemberhentian cable car. Sehingga saat wisatawan turun dari cable car sudah bisa melihat hasilnya dan jika berniat membeli bisa langgsung membeli. Saya penasaran melihat hasilnya, dan penasaran juga melihat harganya haha. Hasilnya cukup bagus tapi harganya yang nggak bagus. Satu foto seharga 20RM. Weeewwww. Terpaksa saya mengurungkan niat untuk membeli foto itu (padahal dari awal juga sudah nggak niat, pasti mehong soalnya).

Peta Theme Park
Salah Satu Permainan di Indoor Theme Park
Dari pemberhentian cable car tersebut, wisatawan bisa berjalan jalan di Genting Highland dengan aneka mall yang saling terhubung. Diantaranya ada yang berisikan indoor theme park dengan beraneka ragam permainan, dimulai dari kereta-keretaan, roller coaster, mobil-mobilan dan sebagainya. Saya dan Febi tidak tertarik untuk main, permainan indoor rasanya kurang seru. Kami hanya berkeliling dan berfoto, kebetulan juga di bagian luar Genting outdoor theme park sedang dalam proses renovasi sehingga tidak dibuka. Di dalam Genting Highland banyak hotel dan banyak sekali tempat casino. Ya di sana memang tempat orang bermain judi. Saya hanya penasaran seperti apa Genting. Kami memang tidak akan berlama-lama di sana, pukul 10.30 kami bersiap untuk pulang.
Masih Sepi :D
Roller Coster

Kami menuju cable car dengan membeli tiket cable car untuk pulang. Kemarin kami hanya  membeli tiket berangkat tanpa tiket pulang supaya waktunya lebih fleksibel karena kami belum pernah ke sana sebelumnya sehingga tidak dapat memprediksi jadwal bus dan cable car untuk pulang. Harga tiket cable car single trip per orang adalah 6 RM. Sampai di terminal pemberhentian bus, kami menuju Bus Genting Highland – Gombak karena kami akan meneruskan perjalanan ke Batu Caves. Kami tidak kembali lagi ke KL Sentral, karena jarak Gombak dengan Batu Caves sudah dekat ketimbang KL Sentral.

Kami membeli tiket bus seharga 3.4RM. Saat menunggu bus berangkat, kami masih duduk duduk di kursi tunggu persis di samping Bus Genting Highland. Saya dan Febi tidak melewatkan waktu untuk berfoto, kami bergantian foto dengan latar belakang Bus Genting Highland. Ternyata ada wisatawan China yang memperhatikan kami berfoto bergantian, dan ia menawarkan diri untuk mengambil foto, supaya Saya dan Febi bisa berfoto berdua, tidak bergantian. Baik banget itu mas-mas China, hehehe. Nggak nolak rezeki, Saya dan Febi pun langsung berpose. Klik.

Difotoin Mas Mas China hahahaha
Perut sudah kelaparan, untung kami  membawa roti yang bisa kami makan. Saat diminta untuk masuk bis, saya mencari nomor kursi sesuai dengan yang tertera di tiket bus. Namun ternyata kursi kami sudah ditempati oleh orang, Febi pun menunjukkan tiket kami dan menyamakan dengan nomor kursi. Ternyata itu memang kursi kami. Lah kok sudah ditempati orang. Kemudian  orang tersebut berkata “free for seat” yang artinya adalah kamu boleh duduk secara random yang kamu suka tanpa sesuai dengan nomor kursi yang tertera di tiket. Berbeda dengan bus waktu berangkat yang terisi full dan duduk sesuai nomor, bus menuju Gombak ini hanya terisi segelintir orang. Tanpa menunggu lama, bus pun berangkat walaupun hanya terisi sedikit saja penumpang. Berhubung free for seat, kami memilih untuk duduk di kursi paling depan. Kalau berangkat pagi di kursi paling belakang maka kali ini pulang di kursi paling depan.

Perjalanan menuju Gombak kurang saya perhatikan karena saya terserang ngantuk luar biasa. Perjalanan pun tidak terlalu lama, kami pun sampai di terminal Gombak. Saat itu pukul 11.30, dan luar biasa sangat  panas. Kami membeli minuman kaleng seharga 1 RM untuk menghilangkan dahaga di vending machine. Fiuuh. Kemudian dilanjutkan untuk mencari taxi untuk menuju Batu Caves. Awalnya saya dan Febi khawatir dengan taxi tanpa meter terlebih di terminal seperti ini dan banyak taxi yang ngetem. Untuk memastikan, kami pun mendekat ke taxi yang sedang ngetem dengan supir taxi yang sedang beristirahat. Kami bertanya mengenai taxinya apakah menggunakan meter?

Di Malaysia sebutan untuk taxi dengan argo adalah taxi meter. Jadi, meter itu ya argo. Sering saya temui taxi tanpa meter di KL yang langsung tembak harga. Untuk turis luar seperti kami dan jika tak pandai menawar, pastilah kena mahal. Daripada sesat dikemudian hari, lebih baik kami bertanya sama Pak Cik supir taxi. Kemudian pak supir taxi memberitahu bahwa taxi di sini menggunakan meter alias argo. Kami pun lega, dan tanpa basa basi kami naik taxi Pak Cik itu. Dengan ukuran taxi yang jauh lebih besar dari taxi lainnya, saya berpikir mungkin meterannya akan lebih mahal. Soalnya di Singapur seperti itu. Taxi yang ukurannya lebih besar daripada taxi sedan, harga argonya lebih mahal. Namun ternyata taxi di KL tidak seperti itu, harga meternya sama! Dari terminal Gombak ke Batu Caves hanya 15 menit dan menghabiskan 10RM.

Batu Caves adalah salah satu tempat pemujaan suci orang India yang terletak di Selangor, kurang lebih berjarak 13 km dari Kuala Lumpur. Tempat ini merupakan kuil yang paling populer di Kuala Lumpur yang dipersembahkan untuk Dewa Murungan. Patung Dewa Murungan terdapat persis di pintu masuk setinggi 42.7 meter.

Begitu sampai di sana, banyak wanita India menggunakan baju tradisional sari dan rambut panjang dengan aksesoris khas India. Benar-benar terasa seperti di India,  bukan di KL. Di bagian depan terdapat icon patung emas Dewa Murungan yang menjulang tinggi dan dibagian sekitarnya dipenuhi oleh burung dara dan wisatawan yang sibuk memberi roti kering untuk burung dara tersebut.

Burung Dara di Sekitar Pelataran Batu Caves
Bersiap Pendakian
Untuk mencapai ke atas gua, kami berdua harus mendaki 272 anak tangga, menjulang hingga 100 meter. Huwaaaa serunya! Saya paling senang mendaki seperti ini, rasa penasaran ingin tahu di puncak ada apa yaaa (walaupun sudah banyak googling foto-foto Batu Caves, namun tak puas rasanya jika belum melihat langsung kan).

Pendakian Batu Caves sangat seru, kami berbarengan dengan berbagai macam turis asing dari banyak negara dan etnis. Dari bocah kecil sampai lanjut usia yang penasaran mendaki Batu Caves, juga dari orang-orang Hindu yang ingin beribadah di atas puncak Batu Caves.  Mereka diguduli dan diolesi oleh krim entah apa itu namanya. Mereka mendaki tanpa alas kaki. Mungkin memang seperti itu peraturannya. Saya juga melihat adat yang cukup unik dimana seorang laki-laki (sepertinya seorang Bapak) mendaki ke puncak Batu Caves dengan cara merangkak sambil seorang wanita meletakkan bayi di punggung laki-laki tersebut seperti main kuda-kudaan. Entahlah mungkin semacam upacara adat untuk kelahiran bayi (sotoooyyy)

Upacara Di Tangga Batu Caves
Saat pendakian, lucunya ada turis suami istri yang lanjut usia, dan melihat Febi sudah kelelahan, sedangkan saya masih semangat empat lima. Dia berkata : “Heii..you’re younger than  me, come on.” Katanya sambil menyemangati,    sedang istrinya tersenyum. Hahahaha, saya cuma nahan ngakak aja. Bagi yang takut dengan monyet, harap berhati-hati karena di tangga-tangga menuju puncak bertebaran monyet jahil yang sangat lihai merampas barang bawaan dan makanan.



Sampai di atas bahagia banget rasanya, tapi sayangnya agak tidak terawat dengan aroma tidak sedap. Di bagian dalam Batu Caves banyak stalaktit yang keren dengan jarak pandang ke atas yang cukup tinggi. Kami muter sebentar, kemudian kembali turun. Tidak ingin berlama lama karena perjalanan masih panjang.

Di atas kami sempat memutar otak untuk perjalanan selanjutnya, karena hari kemarin yang diluar ekspektasi membuat jadwal kami cukup kacau dari itinerary. Yaaa begitulah traveling, saat tidak sesuai dengan itinerary dan kondisinya, maka harus dipersiapkan untuk Plan B dan C. Kemudian kami memutuskan (dadakan) untuk menuju Mesjid Biru baru kemudian malamnya ke i-city

Stasiun KTM Batu Caves Persis Di Belakang Batu Caves
Kami berjalan ke arah samping Batu Caves, di sana ada stasiun kereta Batu Caves. Pintu keluar samping berada tidak jauh dari patung Dewa Murungan. Kami naik KTM menuju Shah Alam. Jarak tempuh  yang cukup jauh. Kereta yang kami naiki sangat kosong karena berangkat dari stasiun terakhir yakni Batu Caves. Febi sempat tertidur pun demikian dengan saya sampai pemberhentian kami di Shah Alam kami bangun. Agak nekat juga ketiduran di commuter padahal ga tahu jalan, cuma gahu turun di stasiun Shah Alam. Kondisi sekitar stasiun Shah Alam yang cukup  berbeda dengan LRT maupun MRT lain di pusat kota Kuala Lumpur membuat saya cukup hening beberapa saat. Lumayan sepi dan kiri kanan jarang pemukiman. Saya dan Febi sempat mampir dulu di kedai pinggir jalan untuk membeli gorengan tusuk sambil sepik-sepik nanya ke Ibu penjual, bagaimana cara ke Mesjid Biru Shah Alam. Kemudian diinformasikan kami harus menaiki Bus 529.

Terminal Bus
Sambil menikmati gorengan sosis berlumur saus, tiba-tiba bus 529 datang. Waahhh satu tusuk gorengan ekspres saya masukin mulut karena di dalam bus tidak boleh makan. Perjalanan kami adalah menuju terminal bus Shah Alam, kami pun lagi-lagi bertanya bagaimana cara sampai ke Mesjid Biru alias Blue Mosque. Agak susah menemukan orang yang tahu dimana Blue Mosque. Aneh.  Ternyata oh ternyataaaa nama beken mesjidnya adalah Mesjid Sultan. Pantesan kami tanya Blue Mosque gak ada yang tahu. Haisshh. Kalau kami tanya Masjid Sultan pasti mereka tahu.


Tampak Depan Blue Mosque
Jajanan di Selasar Masjid
Gorengan Tusuk Hahaha
Mesjid Sultan Hasanuddin
Kami berjalan menyusuri samping Mesjid dari jauh sudah kelihatan. Sampai di sana kami Sholat Ashar. Di selasar Mesjid ada yang berjualan namun ketika sudah Adzan maka langsung menutup lapaknya. Luar biasa.

Lapak Yang Langsung Ditutup Ketika Adzan Berkumandang
Setelah sholat maka kami melanjutkan perjalanan ke i-city. Namun ternyata oh ternyata bus yang kami harus naiki ke i-city Shah Alam sudah tidak ada, sehingga kami harus putar cara. Saat itu sudah pukul 19.30 waktu Kuala Lumpur. Bekal nanya ke mbak-mbak di samping kami yang menunggu  bus juga, akhirnya kami diberitahu bagaimana ke i-city. Kami berangkat bersama naik bus U80 dan turun dipemberhentian, lanjut ganti bus untuk menuju seksyen 2. Ternyata i-city yang terletak di seksyen 2 cukup sulit juga mengetahui letaknya, karena sudah malam dan tidak begitu terlihat plangnya. Untungnya kami diberitahu kakak itu turun dimana. Nama kakak yang baik hati itu adalah Kak Shasha. Kalo nggak dikasih tau sama kak Shasha maka kami nyasar deh. Beruntung Allah menolong kami.

I-City Bagian Depan Jalan Raya
Turun dari bus kami langsung menyebrang jalan ke i-city. Sekitar pukul 20.30 kami sampai di i-city, memang waktu yang pas karena malam hari lampu lampu dinyalakan dan gemerlapan. Saat di bagian depan i city, kami sedikit kecewa, ternyata lampunya hanya begitu saja. Namun ketika kami berjalan ke arah dalam... Woooooowww luar biasa. Banyak pohon tinggi yg luar biasa bejejer penuh lampu. Pohonnya seperti gemerlapan menyala. Nah ini baru tidak mengecewakan. Kami asik dengan foto-foto sampai lupa kalau belum makan malam. Beginilah kondisi dalam i-city.
Minta Tolong Difotoin sama Orang

Salah Satu Design Pohon Lampu di I City

Kami makan malam di KFC baru kemudian pulang. Saat pulang kami rencananya akan naik taxi sampai stasiun Padang Jawa. Namun kami tidak memberhentikan taxi dari depan pintu i-city, tapi kami berjalan jauh keluar, mendekat ke arah jalan raya, bahkan menyeberang jalan raya. Di sana kami memberhentikan taxi dan nego harga. Dapat dengan harga 10 RM. Ternyata supir taxi bilang kalau kami cegat taxi dari depan pintu masuk i-city, bisa kena 30 RM karena taxi tahu itu turis dan biasanya akan dikenakan biaya yang lebih mahal. Lagi lagi kami beruntung. Alhamdulillah. Di perjalanan kami mengobrol banyak dengan supir taxi yang ramah. Sampai di Padang Jawa sudah cukup malam alias jam 11 malam. Saat itu saya dan Febi jg cukup deg2an apakah terburu waktunya dan masih ada kereta.

Ternyata di depan kami, terdapat segerombolan keluarga yang sedang heboh membeli karcis. Tiket tak kunjung keluar karena mesin tidak bisa mendekteksi uang Malaysia yang kertas baru. Mesin akan lebih mudah mendeteksi dengan koin, maka ributlah mereka mencari koin. Saat itu kami juga ikut membantu saat mereka pusing mencari koin 50 sen. Alhasil setelah mereka selesai mendapatkan tiket untuk seluruh anggota keluarga, maka giliran kami  berdua yang ditolong, sampai akhirnya kami bisa membeli tiket atas bantuan mas-mas itu juga. Aman. Segerombolan keluarga sekitar 10 orang itu berasal dari Jakarta yang sedang berlibur ke KL, kami sempat mengobrol. Tak lama, datanglah kereta kami. Ya...ini adalah kereta yang terakhir beroperasi di hari itu. Fiuuh.

Mesin Pemesanan Tiket KTM, LRT dan MRT

Kami naik kereta terakhir dari stasiun Padang Jawa menuju KL Sentral. Wah. Agak membahayakan tapi sangat seru. Pengalaman naik kereta malam dengan isi penumpang yang super sedikit. Kami puas dengan foto-foto. Ternyata lebih mudah naik kereta lho ke I-city ketimbang naik bus. Saran saya, kalau mau ke Icity lebih baik naik Commuter dan turun di Stasiun Padang Jawa, setelah itu naik bus atau taxi ke Icity. Jaraknya tidak begitu jauh kok.

Akhirnya perjalanan hari ini selesai. Saking serunya perjalanan kami, tak terasa perjalanan yang jauh dan melelahkan tidak membuat kaki saya terasa pegal. Sampai di Pasar Seni pukul 00.00 malam dan kami masih saja sempat untuk keliling ke dataran merdeka untuk melihat-lihat dataran merdeka pada malam hari. Ternyata sudah sepi, namun tidak mematahkan semangat kami untuk berfoto.

Di perjalanan pulang, kami melihat truk air di pinggir jalan Central Market. Persis mobil keliling yang menyiram tanaman di kampus UI atau tanaman di pinggir jalan raya Jakarta yang pernah saya lihat. Penasaran saya pun mendekat, dan ternyata itu adalah mobil untuk membersihkan trotoar jalanan di KL. Jadi ada petugas yang menggunakan sepatu boot dan sikat panjang, mereka menyikat dan membersihkan trotoar setiap malamnya. Luar biasa pemerintah Malaysia memelihara fasilitas umumnya. Mereka mengedepankan kenyamanan rakyat dan wisatawan. Pantes aja kinclong banget trotoarnya. Bersih. Bukan hanya di sapu tetapi juga di sikat. Wuiih.

Di sekitar Central Market memang ada gedung-gedung tinggi, dan ternyata di pelatarannya berjejer orang-orang tuna wisma yang tidur beralaskan koran. Saya pernah dengar juga bahwa sekitar Central Market dan area Pasae Seni digunakan untuk rumah singgah. Jadi untuk orang-orang yang tidak memiliki tempat menginap, bisa tidur di sana, tapi yaaa dengan alas tidur sendiri dan siap-siap pagi-pagi sudah harus bersih lagi.

Berikut pengeluaran saya di hari kedua :
LRT ke KL Sentral @ 1 RM x 2 = 2 RM
Cable Car @ 6 RM x 2 = 12 RM
Bus Pulang @ 3.4 RM x 2 = 6.8 RM
Taxi ke Batu Caves = 10 RM
Minuman Kaleng @ 1 RM x 2 = 2 RM
KTM ke Shah Alam @ 3.9 RM x 2 = 7.8 RM
Bus No. 529 @ 1 RM x 2 = 2 RM
Sosis dan Gorengan Stick @ 3 RM x 2 = 6 RM
Beli Minuman 3 RM + 2 RM = 5 RM
Bus U80 @ 1 RM x 2 = 2 RM
Bus ke Seksyen 2 @ 50 sen x 2 = 1 RM
KFC Dinner 16 RM
Aqua di Sevel @ 1.3 RM x 2 = 3.6 RM
Taxi ke Padang Jawa 10 RM
KTM dari Padang Jawa – KL Sentral @ 2.9 RM x 2 = 5.8 RM
LRT KL Sentral – Pasar Seni @ 1 RM x 2 = 2 RM
Jajan di Masjid 3 RM
Total = 96 RM untuk 2 orang

KL Trip : 24 January 2014 (LCCT - KL Sentral - Dataran Merdeka - China Town - Petaling Street)

Hari ini merupakan perjalan saya berdua dengan sahabat saya dari SMA yakni Febi untuk berkeliling Kuala Lumpur. Kami sudah jauh hari memesan tiket Air Asia dengan harga CGK – KL 99.000 IDR dan KL – CGK 199.000 IDR. Harga yang cukup murah untuk tamasya ke KL lah. Sebelumnya saya sudah pernah ke KL dengan rekan kuliah saya, namun waktunya sempit dan hanya berkunjung ke beberapa tempat. Dan saat itu kali pertama saya keluar negeri sehingga tidak ada persiapan itinerary dan sebagainya. Kali itu kami berempat, cukup memakan waktu banyak karena mengatur orang lebih banyak. Kali ini hanya berdua, mungkin akan lebih fleksibel.

Pesawat kami take off pukul 12.45 WIB dan pukul 11.00 saya sudah sampai ke bandara untuk melakukan self check in. Air Asia memiliki fasiitas self check in sehingga untuk check in tidak perlu mengantri, kita hanya cukup menuju ke mesin self check in yang disediakan Air Asia, dengan teknologi layar sentuh hanya memasukkan nomor booking saja, dan kita sudah bisa memilih untuk check in untuk kita snediri termasuk guess yang ada di tiket kita apabila kita memesan berbarengan dengan teman atau keluarga dalam satu itinerary tiket. Kita juga bisa memilih untuk check in pada saat depature juga sekaligus arrival sehingga pada saat pulang kita tidak perlu lagi bergegas untuk check in.

Tidak terasa pukul 11.30 dan Febi masih belum juga sampai Bandara Soekarno Hatta Terminal 3, keberangkatan Internasional. Saya mulai panik, ia memberi kabar masih di dalam tol. Dengan waktu tipis, akhirnya Febi datang dan langsung saya suruh naik ke lantai 2 dan menuju ke Boarding Room. Saya sudah menunggu di depan Boarding Room. Tentunya saya tidak dapat masuk Boarding Room tanpa Febi, kalaupun saya sudah masuk ya tidak dapat keluar lagi, masa saya ke KL sendirian. Akhirnya Febi pun datang dengan bergegas kami menuju antrian Boarding Room keberangkatan internasional. Waktu yang cukup sempit dan sudah masuk waktu Dzuhur, Saya pun bergantian sholat Dzuhur dengan Febi di Musholla Baording Room, tak lama penumpang Air Asia tujuan Kuala Lumpur dipanggil untuk naik pesawat.

Perjalanan ditempuh dalam waktu 2 jam dari Jakarta menuju Kuala Lumpur. Perkiraan kami akan sampai di Kuala Lumpur adalah pukul 15.45 atau sekitar pukul 4 sore waktu Kuala Lumpur. Terdapat perbedaan waktu 1 jam lebih cepat antara Jakarta dan Kuala Lumpur. Apabila di Jakarta masih pukul 15.00 maka di Kuala Lumpur sudah pukul 16.00. Beruntung kami duduk bersebelahan dan tak terasa terbang 2 jam pun usai.

Sampai di bandara low cost carrier Kuala Lumpur, kami menuju bagian imigrasi untuk cek in ke Malaysia.  Saya juga melihat bagian transit untuk penumpang yang akan meneruskan perjalanan selanjutnya. Wah serunya. Pasti destinasi yang cukup jauh biasanya yang transit seperti itu.

Imigrasi di Malaysia tidak cukup rumit namun memang sangat ketat untuk masalah barang bawaan, terutama saat imigrasi pulang ke negara asal, akan sangat ketat dan diperhatikan. Saya sempat kehilangan satu botol parfum yang baru saja saya beli ketika saya lupa meletakannya di tas yang akan masuk ke cabin, seharusnya saya meletakan di koper saya yang akan dimasukkan ke dalam bagasi. Selain itu berat maksimum barang bawaan juga ditimbang. Biasanya penimbangan dilakukan apabila kita terlihat membawa barang berat dan ukuran koper besar. Intinya sih petugas Malaysia ketat jika berurusan dengan barang bawaan.

Sesampainya di bandara, Saya dan Febi langsung membeli Simcard untuk berkomunikasi selama di Kuala Lumpur. Saya pilih provider Maxis dan paket internet 1GB. Harga Simcard perdana di KL cukup mahal, sama dengan di Singapura. Harganya 35RM atau setara dengan hampir 134.000 IDR sangat berbeda jauh dengan Simcard yang bisa dibeli di Jakarta dengan harga 5.000 sampai 10.000 IDR saja. Dengan menyerahkan Passport saya, pembelian simcard pun diproses. Sama seperti di Jakarta, untuk mendaftarkan dan mengaktifkan Simcard biasanya akan memasukkan nomor KTP atau nomor Identitas. Pun demikian dengan di sini, maka untuk warga negara asing wajib menunjukkan passport.

Setelah itu kami bergegas menuju tempat pemberhentian bus menuju KL Sentral, lokasinya di sebelah kiri bandara dekat dengan Musholla. Harga tiket bus yang mengantar dari Bandara LCCT menuju KL Sentral adalah 8 RM per orang. Tiket bisa dibeli di kounter dalam bandara atau dapat dibeli langsung di tempat pemberhentian bus, sesaat sebelum naik bus. Perjalanan menghabiskan waktu sekitar 2 jam, karena cukup macet. 

Di dalam bus, Febi langsung membuka bekal  makanan nasi rendang yang dibawakan oleh Mamanya. Saat tutup tempat makan dibuka, wuissss langsung semerbak wangi khas rempah masakan rendang. Celotehku dalam hati “Ini baru rendang asli Padang, Indonesia, bukan rendang yang dibuat oleh Malay hehehe” Beberapa penumpang menoleh ke arah kami karena wangi makanan kami, tapi rasa lapar seolah tidak memedulikan, biarkan saja. Langsung kami menghajar bekal rendang sampai tak bersisa, perut pun langsung kenyang mendadak. Alhamdulillah. Ludesss.

Sampai di KL Sentral, tadinya kami akan bertemu dengan rekan Febi yakni Bang Wasif yang merupakan perserta salah satu acara konferensi di UI. Beliau ingin mengantar kami ke hostel. Saya sebenarnya tidak ingin merepotkan, sehingga saat itu saya bilang untuk mengurungkan niat saya, kita pergi sendiri. Akhirnya dibatalkan janji bertemu. Namun memang sudah ditakdirkan oleh Allah untuk bertemu, pada saat  kami ingin membeli tiket bus Genting  Highland untuk kepergian esok hari, kami bertemu di eskalator. Febi dan Bang Wasif berpapasan. Ya akhirnya kami membeli tiket diantar Abang tersebut serta beliau pun mengantar kami menuju Hostel Submarine dekat Pasar Seni.

Alhamdulillah kami sangat terbantu sekali, karena saat malam pasti agak sulit menemukan hostel tersebut.
Selepas check in di hostel dan membayar biayanya, saya dan Febi meletakkan koper. Saya memang sudah jauh hari memesan hostel tersebut via online internet melalui situs booking.com dan harga yang tertera dengan yang saya bayar sama. Saya cukup berlega hati. Harga hostel sekamar berdua dengan fasilitas AC untuk 4 hari 3 malam adalah 210 RM (sehingga per orang harus membayar 105 RM). Harga yang cukup bersahabat bukan? Kami pun hanya meletakkan koper dan melanjutkan petualangan kami. Bang Wasif katanya bersedia mengantar. Kami berkeliling sekitar dataran merdeka saja.

Saya bertiga melipir di sisi-sisi Central Market sehingga bisa tembus ke Dataran Merdeka, wah saya baru tahu jalan ini. Dulu saya pikir dataran merdeka itu jauh sekali, karena dulu saya naik taxi. Ternyata dekat sekali ya kalau dari Central Market. Maklum, sejak pengalaman pertama saya ke luar negeri dahulu tanpa persiapan, saya jadi harus membuat itinerary dan menghafalkan rute serta peta jalanan. Kami berhenti di deretan toko yang menjual barang kesenian, dari mulai gambar-gambar, lukisan, kerajinan tangan.

Toko Lukisan Karikatur di sekitar Central Market
Contoh Hasil Seni Pasir

Tak kalah menariknya ada bule yang sedang membuat kreasi pasir dalam botol. Ia seorang wanita dan membuat hasil kreasinya di depan banyak orang sehingga kami dapat menyaksikan cara pembuatannya secara gratis. Luar biasa lincah dan lihai sekali, Butiran pasir bisa berbentuk indah dan berbagai paduan warna yang cantik. Saya pernah punya botol tersebut di rumah, kala itu Bapak membawakan dari Arab Saudi dan Yordania, katanya ini semua dalamnya pasir.

Gadis Seniman Pasir

Lepas itu, kami tadinya ingin diajak berkeliling dengan kereta (mobil) oleh rekannya Bang Wasif, namun karena rekannya memarkir mobilnya di tempat yang tidak diijinkan memarkir kendaraan, maka ban mobil pun di borgol dan kena denda. Wuih. Memang memarkir saja di KL tidak boleh di sembarang tempat. Padahal itu lokasi pinggir jalan biasa yang dilewati lalu lalang orang. Alhasil kami berjalan kaki saja sekitar China Town dan Petaling Street. Area ini adalah kawasan untuk etnis China dan banyak pedagang yang berjualan cinderamata KL serta kawasan restoran pinggir jalan.

Suasana China Town
Pedagang di China Town

Bungaaaaaa :D

Toko Bunga China Town

Suasananya sangat meriah dengan lampion menghiasi bagian atas, penuh warna merah dan sisi kanan kiri banyak dagangan dan penjual berbagai macam belanjaan. Kami berkeliling sambil melihat-lihat. Aroma masakan pun beragam, ada pula aroma masakan babi yang sangat asing bagi saya, namun lama kelamaan jadi hafal. Tentu saya dan Febi tidak memilih lokasi tersebut untuk makan, saya akan mencari restoran arab atau restoran yang berlabel halal saja.

Pedagang Buah di Petaling Street

Di Petaling Street selain terkenal dengan harga barang yang murah dan dapat ditawar, terkenal juga area yang rawan dan banyak copet. Maka berhati-hatilah saat berkeliling di sini, pastikan tas berada di posisi depan, terutama dompet, barang berharga HP, kamera serta passport.

Pulang dari keliling China town dan Petaling kami pun pulang. Esok hari waktunya berkelana sendiri ya tanpa perantara, sepertinya saya dan Febi akan lebih menikmati petualangan sendiri :)

Cek pengeluaran hari ini :
Minum @ 3.2 RM x 2 = 6.4 RM
SIMCARD @ 35 RM x 2 = 70 RM
Tiket Genting @ 10.30 RM x 2 = 20.60 RM
Tiket LRT KL Sentral – Pasar Seni = Free by Bang Wasif
Hostel Twin Bed 4D3N = 210 RM
Tiket Bus @ 8 RM x 2 = 16 RM
Total = 323 RM