Showing posts with label twin tower. Show all posts
Showing posts with label twin tower. Show all posts

Sunday, August 3, 2014

Ke mana Stesen Dang Wangi

Hari kedua kami di Kuala Lumpur, saya berniat mengajak adik-adik saya ke KLCC Twin Tower. KLCC (Kuala Lumpur Convention Center) Twin Tower adalah landmark dua buah menara kembar yang merupakan icon kota Kuala Lumpur, Malaysia. Hari itu ternyata salah seorang kolega Bapak berkunjung ke Tune Hotel tempat kami menginap dan mengajak silaturahim ke kantornya. Berhubung saya dan adik-adik tetap ingin pergi ke KLCC, maka kami tidak ikut Bapak dan Ibu. Saya dan adik-adik pergi ke KLCC dengan menggunakan kereta.

Stesen adalah sebutan Stasiun bagi orang Malaysia. Stesen kereta terdekat dari Tune Hotel tempat kami menginap adalah Monorail Medan Tuanku. Kita cukup berjalan ke arah timur, ikuti saja jalurnya monorail. Jaraknya hanya 200 meter saja. Dekat bukan? Namun untuk menuju ke KLCC, kita tidak bisa menggunakan Monorail, melainkan LRT. Jika kami menaiki jenis monorail, maka kami harus turun di monorail stesen Bukit Nanas, dan berjalan ke arah KLCC. Sedangkan jika kami menaiki jenis LRT, maka kami turun persis di stesen KLCC dan akan keluar tepat di Twin Tower. Adik saya tak sabar menaiki monorail yang keretanya berada di jalan layang dengan satu rel. Saya beritahukan bahwa kita akan naik monorail saat pulang saja, bukan saat berangkat.

Stesen LRT terdekat dari Tune Hotel adalah Stesen Dang Wangi. Jika dilihat dari peta sih tidak terlalu dekat, butuh berjalan kaki cukup jauh, apalagi tengah hari puasa-puasa hehehe. Namun berhubung adik-adik saya penasaran ingin menaiki kereta Malaysia, maka semangat saja. Paling adik saya yang bungsu bertanya, "masih jauh ya, Yun?" Heheee

Perjalanan menyusuri stesen Dang Wangi dari Tune Hotel cukup mudah, ikuti saja petunjuk jalan. Kamu hanya berjalan ke arah selatan, dan akan menemukan Sogo Departement Store. Daerah sini memang banyak pusat perbelanjaan, salah satunya Busana. Sampai di perempatan depan Sogo, belok kiri. Bersabarlah menyusuri jalan panjang itu, teruuuusss sampai ujung belokan ke kiri. Ikuti saja jalannya. Tidak jauh dari jalan itu, kamu akan menemukan eskalator Monorail Bukit Nanas yang menghubungkan ke seberang jalan. Tapi tunggu, tujuan kamu bukan Monorail Bukit Nanas, tapi LRT Dang Wangi. Tarik napas sejenak beristirahat di halte dekat eskalator, dan tengok ke kiri... Dan, Tadaaaa....Stesen Dang Wangi sudah di depan mata. Kita sudah sampai lho.

Stesen Dang Wangi
Mejeng Dulu
Masuklah ke dalam Stesen dengan menggunakan eskalator turun. LRT yang tersedia di Malaysia memang kebanyakan menggunakan rel bawah tanah, sehingga jika ingin menaiki kereta, maka harus masuk stesen dengan eskalator turun. Jika kamu tidak berniat buru-buru, maka berdirilah di sisi kiri eskalator, karena sisi kanan untuk mendahului. Jangan berdiri di kanan, kamu akan menghalangi orang belakang untuk mendahului. Setelah sampai ke dalam, pastikan kamu membeli tiket ya. Untuk membeli tiket/token, kamu hanya perlu mendatangi mesin pembelian tiket otomatis di depan pintu masuk. Jangan khawatir mengantri, mesinnya banyak kok.

Cara pembelian tiket di Stasiun Kereta Kuala Lumpur


Mesin pembelian tiket otomatis ini akan mengeluarkan token kereta berbentuk koin plastik berwarna biru. Cara pembeliannya, silakan kamu tekan pada layar touch screen English. Nanti akan muncul peta kereta Kuala Lumpur dengan berbagai jenis, dari LRT, Monorail, KLIA Express, KLIA Transit dan Commuter. Semuanya terintegrasi dan bersatu di Stesen KL Sentral. Pilih stesen tujuan kamu, tap pada peta di layar, jangan sampai salah tap ya, karena posisi gambarnya berdekatan. Cek lagi ketika sudah dipilih. Nanti akan muncul harga tiket untuk 1 token. Kamu bisa membeli lebih dari 1 token jika pergi berkelompok seperti saya. Caranya? Tekan saja tanda + nanti jumlah token dan harga total token akan berubah.

Token Pembelian Tiket LRT
Setelah selesai, waktunya pembayaran. Nah, untuk membayar harga tiket, kita hanya perlu memasukkan uang ke mesin. Ada untuk uang kertas dan ada untuk uang koin. Mesin ini hanya menerima pecahan uang kertas 1RM, 5RM, 10RM. Sedangkan untuk uang koin, mesin ini bisa menerima pecahan 1 Sen, 2 Sen, 5 Sen, 10 Sen, 20 Sen, 50 Sen, dan 1RM. Jika harga tiketnya 1.6RM, maka artinya kamu membutuhkan 1RM dan 60 Sen. Jika kamu tidak memiliki uang 60 Sen, kamu bisa memasukan 2 lembar/koin 1 RM. Lalu sisa 40 sen kemana?? Tenaaaang...saat kamu masukkan 2 RM, mesin akan mengeluarkan token milik kamu di bagian bawah mesin (persis seperti mesin penjual minuman). Selang beberapa detik perhatikan layar mesin akan tertulis Pemulangan Baki, yang artinya mesin akan mengeluarkan kembalian kamu. Uang koin sen kembalian kamu akan keluar di tempat pengambilan token.

Pintu Masuk/Keluar
Setelah kamu mendapatkan token, berjalanlah ke pintu masuk, nanti akan ada pagar masuk stesen. Perhatikan tanda hijau atau merah. Jika bertanda hijau, maka kamu bisa masuk melalui pintu itu, jika merah maka pintu tersebut khusus pintu keluar. Letakan token biru pada sisi atas palang pintu, ada tempat khusus untuk tap token/card. Kamu cukup tap sekali saja sampai mesin membaca dan pintu terbuka. Lewatlah dengan tenang, tidak panik, dan tidak teburu-buru. Mukanya biasa saja, jangan pasang ekspresi berlebihan karena kamu berhasil melewati ini semuaaaa. Jakarta memang gak ada sih yang kayak gini, saya paham ekspresi itu (pernah juga soalnya) wakaakak.

Jika kamu telah masuk palang pintu, kamu tinggal berjalan menuju tempat pemberhentian kereta, biasanya ada eskalator turun. Ikuti saja petunjuk jalannya. Masukkan token biru ke dalam saku, jangan sampai hilang karena kamu membutuhkan token itu untuk keluar dari stesen. Jalur keretanya ada dua lho, kiri dan kanan, perhatikan stesen tujuan kamu, jangan sampai kamu salah arah. Jika stesen kamu harusnya ke arah utara, jangan sampai kamu menaiki kereta yang ke selatan. Petunjuknya banyak dan jelas, kamu tidak perlu khawatir nyasar. Jika masih belum pede, tanya kepada orang sekitar, mereka dengan senang hati memberi tahu.

Ketika kereta datang, berdirilah di samping pintu masuk, jangan persis di depan pintu masuk. Bagian depan pintu masuk dipergunakan untuk penumpang yang akan turun. Peraturan di sana mendahulukan penumpang untuk turun, dan penumpang yang akan naik tidak diperbolehkan masuk sampai penumpang yang turun sudah selesai. Jadi tidak ada desak-desakan dan rebutan seperti Commuterline Jabodetabek milik kita. Semua teratur.

Kereta akan datang tiap beberapa menit sekali, paling tidak 1-2 menit sekali. Saking banyaknya kereta yang datang, hampir tidak pernah ada isi kereta sampai pepes tempe ala Commuterline Jabodetabek (maaf yaaa, lagi-lagi contohnya Indonesia hahaha). Kalau pun penuh ya masih tahap wajar, tidak berdesak-desakan. Ketika kereta berjalan, silakan menikmati pemandangan bawah tanah, apabila kereta sudah keluar dari bawah tanah, kamu bisa menikmati pemandangan luar kota Kuala Lumpur. Perhatikan notifikasi dari petugas mengenai stesen pemberhentian selanjutnya, atau kamu bisa memperhatikan petunjuk rute stesen kereta tersebut di bagian atas pintu.

Jika sudah sampai stesen tujuan, turunlah dengan beratur dan carilah pintu keluar. Token biru yang kamu simpan tadi silakan dikeluarkan, dan masukkan ke dalam lubang di palang pintu keluar. Jika di palang pintubmasuk bentuknya datar untuk sekedar tap/tempel token, jika di pintu keluar maka bentuknya seperti celengan. Masukkan token kamu ke celengan tersebut, dan pintu akan terbuka. Keluarlah dengan perlahan, dan saya ingatkan kembali, jangan tunjukkan ekspresi berlebihan :p

Bagaimana jika saya ingin transit berbeda jenis kereta?

Jika kamu ingin pergi ke stesen tujuan dengan jenis kereta yang sama dengan stesen kereta kamu, maka tidak akan bingung. Misal dari LRT Dang Wangi ke LRT KLCC. Maka tidak membutuhkan Transit Kereta. Namun bagaimana jika kamu berangkat dari LRT Dang Wangi dan ingin turun di Monorail Bukit Bintang? Nah kamu membutuhkan transit.

Apabila kamu ingin berganti jenis kereta, jangan khawatir, tetap pesan token sesuai stesen tujuan kamu, dan carilah stesen transit (interchange stesen). Turunlah di stesen transit, jangan keluar, tapi lanjut ke jenis kereta selanjutnya. Jangan masukkan token ke pintu, karena perjalanan kamu akan dianggap selesai pada saat kamu memasukkan token ke pintu keluar. Jadi selama kamu memegang token, kamu ingin transit di beberapa stesen, tidak masalah. Kamu boleh memasukkan token di pintu keluar saat akhir perjalanan kamu ya.

Suasana Jalan Dang Wangi
Sampai di KLCC saya menuju ke pintu keluar yg arah Suria KLCC. Suria adalah nama mall besar untuk kalangan atas, mungkin kalau di Jakarta seperti Plaza Indonesia. Banyak brand super mahal yang cuma bisa saya lihat saja dari etalase. Nggak berminat untuk beli dan nggak sanggup juga. Jadi biarlah menjadi hiburan mata saja. Setelah berjalan mengitari Suria KLCC, ikuti saja petunjuk jalan yang mengarahkan ke Twin Tower Petronas. Mudah kok. Kamu akan menemukan menara tersebut ketika keluar dari Suria KLCC. Spot terbaik untuk mengambil full gambar twin tower ada di bagian taman air mancur. Berjalanlah sampai ujuuuuuuunggg belakang. Di sanalah kamu bisa mengabadikan foto Twin Tower secara utuh sampai puncaknya.

Twin Tower Mendung
Saya sarankan untuk ke Twin Tower pada malam hari, karena gedung Twin Tower akan menyala dari dalam, super cantik untuk diabadikan. Jika tidak sempat malam, maka kamu bisa berkunjung pagi hari, ketika belum banyak sinar matahari. Jika terlalu siang, maka akan ada backlight dan kualitas foto kurang bagus. Kata orang, belum ke Malaysia jika belum foto di Twin Tower. Jadi jangan sia-siakan perjalanan kamu. Semoga bermanfaat yaaa!

Sunday, April 6, 2014

KL Trip : 26 January 2014 (KL City Gallery - Mesjid Putra / Pink Mosque - Sungei Wang - Bukit Bintang - Suriah KLCC Twin Tower - Pasar Seni)

Pagi itu Saya dan Febi bangun lebih santai, dan bersiap dengan santai tidak seperti sebelumnya kami berangkat terburu-buru. Kami pun sempat sarapan di hostel dan mengisi amunisi untuk perjalanan kami hari itu. Kami berjalan keluar hostel pada pukul 09.00 pagi dan berkeliling Dataran Merdeka, masuk ke KL City Gallery dengan pintu masuk icon I LOVE KL. Masuk ke KL City Gallery tidak dipungut bayaran alias free. Itu juga yang membuat saya sangat semangat haha. Sebenarnya ada city tour sekitar Dataran Merdeka namun sayang hari itu tidak ada jadwalnya. Di dalam KL City Gallery terdapat miniatur  landmark wisata yang menarik di KL, ada Mesjid Jamek, Dataran Merdeka, Twin Tower dan lain-lain. Tak lupa juga ada tempat membeli oleh oleh dengan ukiran kayu unik berbentuk landmark KL. Lucu-lucu tapi sayang mahal, haha.

Historical Treasure
National Heritage of Malaysia
Bagian Depan KL City Gallery
Area Dataran Merdeka
Icon I Love KL
Kerajinan Ukiran di KL City Galerry
Galeri Kuala Lumpur
Bangunan Mesjid Samad

Di KL City Gallery terdapat satu tempat yang membuat saya terpukau, ia adalah Discover City. Awalnya saya tidak tahu itu tempat apa, saya masuk ke dalam, terdapat di lantai 2. Begitu sampai melalui Red Carpet, ternyata sepi. Saya ragu-ragu mendekat. Namun ternyata ada petugas laki-laki yang sedang duduk di depat pintu yg tertutup tirai. Begitu melihat saya, ia langsung berdiri dan bersemangat menyambut. “Come on, let’s go, faster” sambil menggerakkan tangannya mengajak saya untuk masuk ke dalam ruangan. Wah semangat banget, padahal Cuma saya dan Febi aja di sana. Kemudian sebelum masuk ruangan, ia berkata “You can walking around, but do not touch. You can take a picture but please dont using flash, okay?” Kami mengangguk. “Take your time”

Kemudian saya dan Febi dipandu masuk ruangan gelap. Tak lama setelah  kami masuk tiba2 di depan kami berdiri ada layar besar dengan intro musik yang keren, saya memperhatikan, ternyata video tempat tempat wisata yang ada di KL. Saat saya asik melihat tayangan, tiba-tiba di depan kami menyala semua.

Wooow! Ternyata tempat di depan kami adalah meja superrr besar yang bersikan miniatur kota Kuala Lumpur, dengan bangunan bangunan di dalamnya. Benar-benar kota Kuala Lumpur dijadikan miniatur. Persis. Saya melihat Twin Tower bercahaya dan gedung-gedung lain bercahaya. Luar biasa. Seperti melihat kota Kuala Lumpur dari atas langit pada malam hari. Semua terlihat kecil dan cantik. Sekitar 5 menit saya dan Febi berdecak kagum, dan mikir kapan Indonesia punya beginian, fiuh.

Discover The City

Penampakan KL Discover The City di Dalam Ruangan
Setelah  puas keliling dan foto di sekitar sana, kami berjalan menuju pemberhentian bus menuju Putrajaya, katanya sih di dekat Mydin (Supermarket wholesale yang cukup terkenal di KL yang menjual berbagai macam barang). Kami menaiki Bus Putrajaya dengan pemberhentian akhir di terminal Putrajaya. Harga tiket bus adalah 3.5RM. Tak memakan waktu lama, kami pun sampai di terminal Putrajaya. Kami bertanya ke supir, bagaimana cara melanjutkan perjalanan untuk sampai ke Mesjid Putra?

Katanya kami harus menyambung menaiki bus Nadi Putra. Bus itu adalah Bus dalam komplek Putra, memang harus menaiki bus tersebut. Harga tiket Nadi Putra hanya 50 sen. Saat kami naik, sangat kosong, dan kami langsung mengambil tempat duduk paling depan dekat supir supaya mudah untuk bertanya. Di perjalanan ternyata supirnya sangat ramah dan menceritakan banyak hal tentang Putrajaya. Beliau juga penggemar sinetron Indonesia dan fans-nya Acha Septriasa. Weew. Hahhaa.

Bis Nadi Putra  adalah angkutan utama di Putrajaya dan hampir semua kawasan dilewati oleh Nadi Putra. Jadi  seperti halnya Bis Kuning yang melewati puteran kampus UI, mungkin ini juga seperti Bis Kuning. Sampai di halte pemberhentian yang kami maksud (setelah tanya dan pedekate sama supir Bus Nadi Putra yang sangat ramah, kami pun turun di halte terdekat menuju Mesjid Putra (Mesjid Pink). Kami berjalan menyusuri pinggir komplek Putra.

Sampai di Mesjid Pink super panas dan sangat menyengat. Saya yang tadinya malas mengeluarkan payung jadi beneran mengeluarkan payung saking panasnya. Kami tak sabar berjalan menuju Mesjid Pink ini. Dari luar sudah menjulang kubah dengan arsitektur menawan dan warna imut bangeeettt. Ternyata Mesjid Putra sedang ada renovasi. Kami masuk ke dalam Mesjid Putra.

Mesjid Putra (Pink Mosque)
Penampakan Bagian dalam Mesjid Putra
Ditetapkan aturan bahwa untuk masuk ke dalam harus menggunakan baju panjang dan jilbab. Jadi yang tidak  mengenakan jilbab wajib memakai jubah ala voldemort. Warna jubahnya adalah merah. Lucuuuu. Bahkan yang menggunakan jilbab tapi bajunya tidak menutupi bagian bawah pinggang pun disuruh  untuk memakai jubah. Saat itu saya sedang menggunakan baju panjang selutut dan jeans sedangkan febi menggunakan dress sehingga kami bebas masuk tanpa dipanggil petugas untuk mengenakan jubah voldemort itu.
Jubah ala Voldemort untuk masuk ke Mesjid Putra
Febi langsung menunaikan Shalat Dzuhur jamak dengan ashar, sedangkan saya menunggu di pinggir Mesjid karena sedang libur. Saya perhatikan banyak anak kecil berkeliaran dengan wajah turunan Timur Tengah yang menggemaskan. Saya berkeliling dan menemukan papan ini di samping Mesjid. Cerdas. Memang kita harus mendahulukan panggilan Allah untuk shalat ketimbang mendahulukan panggilan dari manusia.
Hayoooooo!
Suasana di pinggir Mesjid Putra juga asri dengan pemandangan menuju ke arah luar terdapat danau luas dan jembatan serta semilir angin membuat kami berdua makin aktif foto-foto. Tak lupa saya juga mengirimkan pesan kepada Bapak saya di Jakarta yang menanyakan saya pergi kemana saja hari ini. Memang setiap saya perjalanan jauh akan selalu dipantau karena Bapak saya juga petualang, jadi Bapak saya wajib tahu area destinasi saya.
:D
Selesai dari Mesjid Putra lalu kami keluar komplek dan menyusuri tempat yang tadi, kembali ke halte awal kami datang. Dari sana kami naik Bus Nadi Putra untuk kembali ke terminal Putrajaya. Dari Terminal Putrajaya lalu kami melanjutkan perjalanan ke Bukit Bintang. Memang jarak Putrajaya sudah cukup jauh dari KL, namun kita bisa menempuhnya dengan mudah dan cepat menggunakan MRT atau LRT. Saat  itu kami memilih untuk menaiki KLIA Transit, yakni kereta yang bertujuan akhir ke Bandara Internasional Kuala Lumpur. Terdapat 2 jenis kereta yang mengantar ke KLIA ini. Ada KLIA Transit yang berhenti di beberapa stasiun kereta, dengan kecepatan dan harga tiket yang lebih rendah. Ada pula KLIA Express dengan pemberhentian hanya di KLIA, kecepatannya tinggi, harganya pun juga cukup mahal.

Saya dan Febi memilih untuk mencoba menaiki KLIA Transit, saya belum pernah menaiki ini sebelumnya, maka yuk dicoba. Harga tiket KLIA Transit dari Putrajaya adalah 5.3 RM berhenti di Hang Tuah. Dari Hang Tuah kami berganti jenis kereta yakni menggunakan kareta Monorail dengan bentuk kereta yang lebih kecil dan susunan tempat duduk yang sedikit, lebih banyak yang berdiri dan pastinya penuh.

Penampakan KLIA Transit
Bagian Dalam Kursi KLIA Transit

Kami turun di pemberhentian stasiun Bukit Bintang. Dari sana sangat dekat sekali masuk ke Sungei Wang. Itu adalah salah satu jejeran mall yang terdapat di Bukit Bintang. Saya dan Febi hanya iseng melihat lihat sembari penasaran mencari sendal dan sepatu produksi khas dari Kuala Lumpur yang harganya 10RM. Ternyata ketemu! 

Saya melepas pandang pada jejeran sepatu dan sandal serta wanita-wanita yang sibuk menjajal. Saya biasa saja, tidak begitu tertarik membeli karena modelnya pun mirip dengan di Jakarta, rata-rata adalah flatshoes. Dan untuk harga termurah adalah model sandal jepit 10RM. Malas sekali rasanya membeli sandal jepit seharga 10RM, maka saya mengurungkan niat untuk membeli (bilang aja gak punya budget wakakak).

Hari sudah mulai sore, sekitar pukul 17.00. Waktu yang pas untuk berjalan kaki menyusuri Bukit Bintang. Daerah Buki Bintang makin gemerlap ketika malam hari karena makin banyak jajanan dan lalu lalang orang. Namun kami rencananya memang tidak ingin berlama-lama. Di sana banyak terdapat jejeran Mall dengan isi yang kurang lebih sama lah dengan Jakarta. Saya tidak begitu tertarik memasukinya satu per satu, hanya Sungei Wang yang saya masuki, karena sebelumnya saya juga sudah pernah ke Bukit Bintang dan berkeliling masuk beberapa Mall. Yaa hasilnya biasa saja.

Di perjalanan saya menemui tukang es krim turki nomaden yang sedang melayani pelanggannya. Berkerumun banyak orang karena penjualnya menggoda pembeli dengan atraksi es krim diputar balik namun tidak tumpah. Pejalan kaki ada yang hanya melihat saja sambil menikmati atraksi permainan es krim pak Turki gratis tanpa harus membeli es krim (contohnya saya dan Febi hahaha). Ohya saya sempat berkunjung ke Sephora, yakni toko kosmetik yang cukup tenar di kalangan wanita high class, bagaimana tidak harganya pun high class. Saya hanya melihat sebentar lalu kembali keluar.

Es Krim Turki
Setelah berkeliling Bukit Bintang tiba saatnya tujuan destinasi berikutnya yakni KLCC atau Twin Tower. Kami menaiki KL City Tour Bus, namanya Go KL, yakni bis untuk wisata yang bisa dinaiki di halte-halte wisata dan menariknya bus ini gratis. Nah ini yang saya suka! Hahaha. Kami berlari ke tempat pemberhentian bus di seberang sana, agak terburu-buru karena kami salah berdiri menunggu bus, kurang ke arah utara. Alhasil pada saat bus datang dan tidak berhenti di depan kami namun berhenti jauuuh di depan kami, ya kami berlari mengejar. Saya dan Febi turun di pemberhentian hotel yang dekat sekali dengan bagian belakang Twin Tower dan Surriah Mall. Kami berjalan menuju Suriah Mall dengan berjalan kaki melalui pintu belakang.

Sebelumnya saya pernah juga masuk ke Suriah Mall, dan memang tidak ada yang dapat dibeli di sana, mahal. Di sana kita bisa masuk untuk naik ke Twin Tower, namun saya memang dari awal tidak ada niat untuk naik ke atas saya, saya nyari gratisan maka saya akan menikmati Twin Tower dari luar, dari taman seperti tahun lalu.

Saat di dalam Suriah Mall, saya dan Febi sempat ke tolet  namun ada yang berbeda. Jadi saat masuk ke lorong menuju restroom, di ujung lorong terdapat petugas berseragam yg menjaga, dan ada kotak untuk membayar. Yaaa seperti toilet berbayar gitu lah. Sepertinya dulu waktu saya ke toilet Suriah ini tidak berbayar deh, maka saya bertanya kepada petugas, dan memang benar harus bayar. Untuk toilet yang free terdapat di lantai bagian atas. Saat berjalan keluar lorong saya sempat melihat tulisan Executive Restroom. Walahh ya pantes aja bayar, eksklusif ternyata. Sebenernya saya penasaran seperti apa isi dalamnya restroom itu, kenapa sampai harus bayar. Namun lagi-lagi, di sebuah perjalan memang niat dan keinginan selalu ada, namun budget lah yang menentukan pada akhirnya (yang intinya adalah Saya gak jadi masuk toilet berbayar itu).

Saat sore menjelang matahari terbenam, namun masih terang. Saya dan Febi keluar dari Suriah dan berjalan menyusuri taman air mancur yang berada di belakang twin tower. Saat ini belum gelap maka suasana belum kontras cahaya dalam twin tower. Kami tidak membuang waktu, maka berpose sebanyak mungkin sebelum gelap. Saat matahari sudah terbenam dan gelap, maka terlihatlah sisi eksotis twin tower atau menara kembar Petronas, cantik! Dua gedung kembar ini menjulang tinggi dengan jembatan penghubung sedang bangunan tersebut dibalut cahaya. Sungguh memukau sih.

Twin Tower

Puas foto-foto di twin tower, kami pun berjalan pulang menuju MRT KLCC yang berada di bawah tanah. Jadi dipinggir jalan raya terdapat seperti ruang bawah tanah dengan tangga di dalamnya, itu menuju ke MRT KLCC. Kami akan naik MRT dari KLCC menuju Pasar Seni. Sebelum pulang, kami nyemil sausage dan baso tusuk pinggir jalan dulu, harganya beda 20 sen dari yang biasa kami beli kemarin. Yaa karena mungkin belinya di pinggir twin tower.

Oh ya, sebelum berangkat ke Putrajaya kami menyempatkan diri untuk makan di Restoran Yusof, yakni restoran Arab yang lokasinya persis di samping Kasturi Walk, Pasar Seni. Kami memesan Canai dan Nasi Lemak Porsi Besar, Teh Tarik serta Teh ‘O (Es Teh), total makan dan minum adalah 9.4RM.

Bagian Depan Restoran Yusoof and Zakhir
Our Menu
Setelah pulang dari KLCC, kami lanjut berkeliling ke dalam Cetral Market, saat itu sudah pukul 21.30 sehingga sudah banyak toko yang bersiap tutup. Kami hanya berkeliling sebentar dan memang planning kami ke Central Market adalah esok hari. Perjalan ditutup dengan perut yang kenyang dan kaki yang mulai terasa lelah (baru berasa sekarang) :D

Cek pengeluaran kami hari ini :
Bus Putrajaya @ 3.5 RM x 2 = 7 RM
Nadi Putra @ 50 sen x 4 = 2 RM
KLIA Transit @ 5.3 RM x 2 = 10.60 RM
LRT Hang Tuah @ 1.5 RM x 2 = 3 RM
Monorail Bukit Bintang @ 1.5 RM x 2 = 3 RM
LRT Pasar Seni @ 1.6 RM x 2 = 3.2 RM
Nasi Lemak Total 9.4 RM
Total Pengeluaran 38.20 RM untuk 2 orang