Sunday, May 25, 2014

Meja Dulu

Tiba-tiba saya menemukan foto ini diantara foto-foto lain di laptop saya. Haha. Lama tidak berjumpa dengan meja ini. Ini adalah meja saya saat saya di Takaful. Sisi kiri sudah penuh dengan berkas dan file pending yang harus diselesaikan baik itu Perjanjian Kerjasama atau hal-hal yang terkait dengan corporate legal. Sisi bagian depan banyak tempelan supaya tidak pikun lupa, hehehe. Komputer yang selalu on, kalau lagi senggang biasa buka twitter *eeehhh

Saya juga biasa meletakkan makanan di laci besar saya, ibarat pantry dari gula, susu, kopi, teh, cemilan-cemilan, pop mie dan lain sebagainya. Sebenarnya bisa sih ngambil gula di pantry beneran, tapi saya malas jalan keluar ruangan, alhasil laci saya jadikan pantry. Akibatnya banyak rekan-rekan saya yang lalu lalang ke meja saya untuk minta gula atau cemilan :D

Ahhh..sudah lama.

Meja yang berantakan kalau lagi revisi Perjanjian
Buku Kendali Perjanjian
Permen biar gak ngantuk hahahhaha

Sepeda Kuning

Sepeda Kuning atau biasa disingkat Spekun oleh orang orang yang biasa menyingkatnya, kalau saya sih enggak---adalah salah satu fasilitas yang diberikan oleh pihak kampus UI kepada mahasiswa untuk olahraga. Jalanan sepeda pun tidak tanggung-tanggung, dibangun dengan apik, tentu bukan pengeluaran yang sedikit. Rutenya dibuat mengelilingi kampus UI yang super lebar itu, segala masuk hutan juga ada rutenya. Fasilitas ini sangat diminati oleh civitas akademika UI, soalnya gratis. Bisa dipakai sepuasnya. Caranya hanya dengan mendatangi halte-halte Sepeda Kuning, di setiap Fakultas pasti ada, juga di tempat-tempat strategis lainnya. Kemudian tunjukan Kartu Tanda Mahasiswa UI yang kuning genjreng itu, berikut foto kece nampang. Setelah itu dapet deh sepedanya.

Animo mahasiswa saat Sepeda Kuning ini baru diluncurkan pun sangat besar. Mereka rebutan menggunakan sepeda itu. Padahal sepeda yang disediakan juga cukup banyak, ratusan unit. Jadwal pemakaian sepeda adalah dari pukul 08.00 pagi sampai dengan pukul 16.00. Sepeda dikembalikan lagi ke halte pemberhentian sepeda, di mana saja. Namun karena tingginya minat mahasiswa akan sepeda ini, terkadang kami rela nunggu di halte untuk jaga-jaga kalau saja ada yang mengembalikan sepeda. Bahkan kalau ada yang lewat sengaja kami liatin, siapa tau dia ngerasa kasian terus naro sepedanya deh *ngarep. Hahaha. 

Kami juga biasanya berangkat naik sepeda itu ramai-ramai alias rombongan, paling tidak ada 5 orang lebih. Nunggu sepeda kosong berbarengan 5 unit kan susah. Kalau ada yang sudah dapat sepeda, minggir dulu, tidak berangkat sampai keseluruhan dari kami dapat sepeda semua. Akibat perjuangan dapetin sepeda yang cukup sensasional, jadi kalau kami sudah naik sepeda, tidak rela untuk mengambil rute singkat, kami ambil rute terjauh mengelilingi UI. Bahkan kalau kami hendak membeli minuman dulu di kantin, itu sepeda bergantian dijaga hahahah, gak rela dibalikin. 

Waktu senggang yang paling banyak saya gunakan untuk hura-hura seperti naik sepeda keliling kampus adalah jaman-jaman skripsi. Abis bimbingan dikit, melipir ke halte, senggang karena sudah tidak ada mata kuliah lagi. Wuiih luang banget waktunya, terlebih lagi jaman-jaman selesai sidang dan menunggu wisuda itu dewa banget senggangnya. Justru saya rajin ke kampus hanya sekedar bermain sepeda. Rute favorit saya adalah naik dari halte belakang Mesjid UI, kemudian melewati belakang Fasilkom FIB lalu ke arah Science Park, Balairung, kemudian lurus terus ke arah Fakultas Kesehatan Masyarakat dan Fakultas Matematika dan IPA. Setelah itu kami melewati menara ini, ini salah satu spot favorit saya, ada tanjakan tinggi dan lanjut turunan curam yang sangat asik. Saya hanya sekali kayuh agak cepat, kemudian lepas pedal, maka sepeda akan meluncur dengan sendirinya tanpa saya kayuh. Setelah itu kaki mulai berasa berat  hehehe.

Lanjut ke arah Pusgiwa, lalu tembus ke Fakultas Teknik, terkadang kami juga suka berhenti untuk ajang foto-foto. Sayang jaman dulu belom ada tongsis, kalau ada pasti lebih seru. Lanjut lagi Fakultas Ekonomi dengan jalur masuk pinggir hutan, lalu FIB dan Fakultas Psikologi. Sampailah kami di Bundaran UI. Yeaaahh. Belum selesai samai di situ, kami mengayuh lagi sepeda kami ke arah Asrama UI.

Jalan dari Kober menuju Asrama akan melewat Balhut atau Hutan UI yang terdapat tulisan Universitas Indonesia berserta danaunya. Jalur menuju ke sana sangat seru, inilah the best spot ever, turunan menuju bawah tulisan Universitas Indonesia. Ngebut abis, biasanya kami sembari teriak, dan saling komunikasi agar jaga jarak pada saat meluncur. Woooohooo!! sampai bawah biasanya kami foto-foto (lagi). Seperti biasa, ada turunan tajam sudah pasti ada tanjakan gak manusiawi. Asli kaki udah berasa pegelnya suruh ngayuh sepeda dengan kemiringan kurang 45 derajat. Eddiiiaan. Biasanya kami memapah sepeda kami hahahha.

Sambil terseok, kami lanjut semangat empat lima ke arah asrama dan FINISH!! Kami tergeletak di halte akhir perjalanan kami, yakni halte asrama. Haus, basah kuyup keringat dan kaki super pegal membawa kami masuk kantin asrama untuk makan sore (apa hubungannya, laper juga sih).

Sudah lulus begini jadi kangen masa-masa naik sepeda kuning ramai-ramai dan foto-foto, aah one of my best memories in college yaaa :D

Halte Sepeda Kuning Belakang Mesjid UI
Ngaso foto-foto dulu di Science Park
Area Jalanan Sepeda Rektorat yang sepi
Ngaso di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam


Jus!

Selain air mineral maka jus adalah salah satu minuman yang bermanfaat bagi kesehatan. Jadi kalau memang ada buah di rumah jangan males (kayak saya) untuk bikin jus ya. Mix and match jus juga bisa menghilangkan rasa jenuh minum jus. Misal yang tidak begitu suka jus wortel maka bisa ditambahkan dengan nanas atau jeruk. Jus strawberry juga bisa ditambah pisang. Rasanya jadi unik karena gabungan dari beberapa buah, tapi tetap segar :D

Jus!

Iga Penyet

Saya sering kebalik kalau makan Iga Penyet antara Iga Penyet Lekko dan Iga Penyet warung Tekko. Logonya mirip sih, dan menu utama yang dijual juga Iga. Entah ada hubungan apa mereka berdua, tapi ternyata (kata Putro sih), Iga Penyet Warung Tekko lebih enak dibanding yang satunya. Entah apa parameternya. Mungkin kalau makan iga lagi, better pilih Warung Tekko deh :D

Iga Penyet

Partai Islam Bersatu

Pemilu 2014 Republik Indonesia tidak terasa sudah menghitung hari. Memang masih bulan Juli, namun ada baiknya sudah memikirkan dan update informasi dari sekarang. Bangsa Indonesia butuh pemimpin yang mengedepankan hak rakyat, melayani, jujur dan berakhlak mulia. Saat-saat seperti ini, saya jadi rindu membaca pemerintahan zaman Rasulullah dan umirul mukminin. Sangat kontras sekali dengan yang saya rasakan selama ini. Ketika sebuah negara besar dipimpin oleh orang yang amanah, berani dan berakhlak mulia, tidak ada kejahatan merajalela, bahkan umat non Muslim pun merasa aman dipimpin oleh kaum Muslimin. Sungguh indah.

Bertebaran visi dan misi para calon presiden agaknya membuat rakyat bingung. Kasus korupsi yang tidak kunjung selesai membuat masyarakat pun apatis dan menganggap semuanya pasti akan berakhir korupsi tanpa ada harapan untuk perubahan. Banyaknya janji wakil rakyat membuat warga negara ini muak dan lelah menuntut janji. Profil wakil rakyat yang kadang jauh dari yang sebenarnya pun membuat rakyat tidak percaya. Lalu bagaimana Indonesia akan dapat pemimpin yang baik jika yang dipimpin tidak ada semangat untuk melakukan perubahan, setidaknya dengan memilih pemimpin yang baik.

Sebenarnya saya tidak setuju dengan sistem pemilihan umum dengan pemungutan suara seperti ini. Diberlakukan sistem one man one vote, yang artinya adalah satu orang satu suara. Jadi apabila ada guru besar memilih calon A akan kalah suara dengan para buruh yang (mohon maaf) tidak memiliki pendidikan yang memilih calon B. Dimana kondisinya calon B itu tidak baik. Maka calon B yang menang karena lebih banyak mendapat suara. Ibaratnya satu suara atau vote dari BJ Habibie, akan sama saja dengan satu suara atau vote dari pengemis. Padahal pengemis itu juga tidak paham siapa yang dia pilih. 

Bagamaina dengan kondisi rakyat Indonesia saat ini? Lebih banyak yang berpendidikan atau yang tidak berpendidikan? Bagaimana jika para masyarakat pedesaan diberikan image baik tentang salah satu calon yang mengakibatkan calon tersebut mendapat suara banyak, padahal calon itu buruk? Bisa dibayangkan hasil dari Pemilu yang kita terima jika menggunakan sistem one man one vote. Beda cerita kalau kondisi masyarakat kita yang sudah berkecukupan dan berpendidikan, setidaknya bisa memilih mana yang baik.

Tanpa mendeskriditkan pihak mana pun, bahwa mencari tahu tentang pemimpin itu sangat perlu. Islam mengajarkan, jika ada dua pilihan maka pilihlah yang paling baik. Jika keduanya baik, maka pilihlah yang paling sedikit mudharatnya (keburukannya). Islam yang mengajarkan. Sudah selayaknya juga Partai Islam menerapkan hal serupa, itulah mengapa banyak yang berkoalisi. Namun sayang, bukan berkoalisi antar sesama Partai Islam. Kini, Partai Islam terpecah menjadi berbagai kalangan, tidak seperti Partai Islam tempo dulu.

Pemilu sampai dengan tahun 1998 hanya diikuti oleh 3 Partai saja yakni PPP, PDI dan Golkar. Setelah itu ada masa orde baru sehingga Pemilu tahun 1999 diikuti oleh 48 Partai. Ini merupakan Pemilu yang paling banyak pesertanya selama yang saya tahu. Mungkin karena sudah bosan dengan 3 Partai, maka pecah menjadi banyak Partai, makin banyak kepentingan, makin banyak orang yang ingin menonjol sendir, makin banyak orang yang haus kekuasaan. Pun demikian dengan Partai Islam.

Tadinya Partai Islam bersatu dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP), hanya satu panji. Semua kepentingan Islam dan harapan membangun Indonesia yang bermartabat dengan generasi Qur'ani bersatu di sana. Namun tahun 1999 pecah. Partai Islam terpecah menjadi Partai Bulan Bintang, Partai Keadilan, Partai Nadhatul Ulama, dan sebagainya. Hal tersebut masih terjadi di Pemilu tahun 2004, 2009 bahkan di tahun 2014. Seyogyanya Partai Islam bersatu padu dan membangun rencana untuk Indonesia yang lebih baik.

Nabi yang menggunakan ikat kepala PPP tahun 90an silam.

Barel FH UI

Teringat kembali ketika itu bulan Juli 2010, terjadi kecelakaan di rel kereta Barel, seberang FH UI. Barel atau kepanjangan dari Belakang Rel / Balik Rel adalah tempat terdekat dari luar UI jika dari arah Fakultas Hukum. Akses tersebut biasanya dilalui oleh mahasiswa yang pulang dari Fakultas Hukum, MUI atau Psikologi. 

Namun tahun 2010 terjadi kecelakaan di Barel. Korban adalah mahasiswa FH UI, saya lupa angkatan berapa. Palang Barel memang tidak ada pengaman, jarak antara rel dengan pedagang dan tempat fotocopian sangat dekat. Tidak ada rambu-rambu untuk peringatan apabila kereta akan lewat. Apabila kereta melintas dari Stasiun UI ke Pocin mungkin akan kelihatan, karena jarak pandang Stasiun UI sangat terlihat dari Barel. Namun sebaliknya kereta dari arah Pocin menuju Stasiun UI tidak terlihat, terlebih kondisi relnya agak menikung, menyulitkan pandangan jika kereta lewat. ada yang bilang saat menyebrang anak tersebut mendengarkan musik atau apa, sehingga tidak fokus menyebrang, di luar dari memang tidak ada pengamanan di Barel. Akibat kejadian tersebut maka akses Barel di tutup.

Tindakan tersebut sesuai mandat langsung dari rektor. Akibat penutupan akses Barel ini, praktis tidak ada jalan tembus ke luar UI jika dari arah FH atau MUI. Alhasil harus memutar jauh ke Stasiun UI. Menyulitkan Mahasiswa memang. Selain itu, karena mahasiswa tidak ada yang ke Barel, akibatnya omzet pedagang Barel menurun drastis. Di Barel biasa ada banyak tempat fotocopy dan penjilidan, warung makan, warnet dan laundry. Ini menutup juga peluang usaha mereka. Terlebih saat itu adalah jaman-jaman saya skripsi yang harus bolak balik ke Barel fotocopy revisian.

Banyak tuntutan dari mahasiswa dan elemen masyarakat agar pihak kampus membuka kembali akses Barel. Tak hanya itu, pagar kuning pembatas kampus di Barel juga di jebol, hingga mahasiswa bisa "ngolong" untuk menuju Barel. Sebelumnya sih agak ekstrem, kalau mau ke luar Barel mahasiswa harus manjat gerbang kuning hahaha. Saya juga pernah ikut aksi manjat pagar kuning *pengakuan dosa.

Setelah kondisi berlarut-larut hampir setengah tahun lamanya, saya juga sudah wisuda kala itu, akhirnya akses Barel kembali di buka dengan penambahan pengamanan di sisi sebelum rel, jadi apabila ada kereta maka gerbang akan tertutup. Masih manual sih, seharusnya bisa dibikin otomatis. Yaa patut disyukuri, setidaknya Barel tidak lumpuh lagi, hingga mahasiswa angkatan bawah bisa kembali merasakan Barel yang sangat membantu para  mahasiswa ini :)

Spanduk Bebaskan Barel
Akses Pintu Barel Ditutup

Hari Yang Sakral

Pagi itu saya dikejutkan oleh sms dari rekan kantor saya, chia namanya. Sabtu pagi sekitar jam 6 ia mengirimkan pesan singkat bahwa akan ada acara sakral si rumahnya pukul 1 siang.
"Noni, datang ya di acara sakral aku jam 1 siang, di rumah aja kok. Acara keluarga. Cari aja janur kuning yah. Aku tunggu. Alamat aku di xxxxxxx"

What?! Sentak yang tadinya aku setengah melek lihat layar HP jadi melek beneran.
Buru-buru saya menghubungi Putro kiranya doi bisa nemenin berhubung rumahnya Chia jauuuh banget. Sehari sebelumnya memang Chia sudah sounding tentang acara sakral di rumahnya. Saya penasaran tanya acara apa? Lamaran? Chia hanya senyam senyum saja. Dia tidak memberikan jawaban, yang pada akhirnya saya hanya menebak sendiri, jangan-jangan acara lamaran sama Kak Ramdhan (rekan kantor kami). Tapi siang itu saya belum sempat menanyakan hal tersebut kepada Kak Ramdhan, alhasil Sabtu pagi saya dikejutkan oleh SMS Chia tadi. Ah beneran nih??

Tanpa membuang waktu saya ngebut ngerjain frame yang isinya dekorasi dan hiasan, biasa saya berikan kepada rekan-rekan saya yang menikah. Berhubung ini lamaran, mungkin gapapa kali ya saya berikan duluan hehehehe. Ngebut bikinnya, tapi Alhamdulillah selesai. Frame bertuliskan Chia dan Ramdhan. Jam 10 siang saya bersiap dan menunggu dijemput Putro.

Kami bergegas menuju alamat rumah Chia, letaknya di bilangan Kali Deres. Sumpah kami berdua tidak familiar dengan daerah tersebut, maka google maps memainkan perannya. Masuk gang, nyari janur kuning, dan akhirnya kami menemukan rumah Chia. Sudah ramai orang yang datang, banyak bapak-bapak duduk di depan ruang tamu. Kami berdua masuk ke dalam, ingin mencari Chia, karena saya juga belum tahu yang mana Bapak Ibunya Chia. Ketika masuk saya memperkenalkan diri bahwa saya adalah teman kantor Chia, ternyata yang menyambut saya adalah Bapak Ibunya Chia. Seketika kemudian Chia menghampiri saya dengan menahan tawa. Saya bingung.

Saya pun memberikan frame tulisan Chia Ramdhan kepadanya, dan memberikan selamat sambil ngoceh kenapa dadakan dan nggak bilang sebelumnya. Chia tak bisa menahan tawa lagi, ia pun tertawa terbahak-bahak. Rekan kantor kami yakni Rara yang hadir di sana lebih dulu dari saya pun ikut tertawa. Saya dan Putro makin bingung.

Ternyata, itu bukan acara sakral lamaran. Itu adalah acara syukuran Chia yang baru saja di wisuda dari kampusnya. Aaarrghhh!! Bikin panik orang pagi-pagi dadakan pula, dan frame nama ini?? Hahahaha. Saya lemes mendengarnya. Yang makin bikin dia tertawa adalah kostum saya dan putro yang sama-sama batik cokelat, resmi. Bener-bener deeehhh! Akhirnya kami mengabadikan momen ini dengan foto-foto.

Chia dan Kak Ramdhan saat itu memang tidak ada apa-apa, dan frame itu tetap di simpan oleh Chia. Namun apa yang terjadi, kuasa Allah memainkan segalanya. Tak lama saya resign dari Takaful untuk pindah ke BNI Syariah, dua atau tiga bulan setelah saya resign, ternyata saya dapet undangan dari Chia. Dan nama pasangannya adalah Kak Ramdhan. Luar biasa. Subhanallah, benar-benar terjadi. Saya cengengesan kalau inget hari sakral waktu itu. Alhasil frame saya terpakai juga :P

Keisengan Chia
Lempaaarrrr!!!
Sendal Terbang
Hasil dikerjain Chia

Thursday, May 22, 2014

Es Dawet Suranatan

Es Dawet Suranatan. Ini juga salah satu warung wajib yang dikunjungi ketika ke Madiun lho. Lokasinya juga tidak jauh dari alun-alun kota Madiun (menurut saya lho). Es dawet ini sudah terkenal sejak lama, dan selalu ramai pengunjung. Padahal rasanya jg tidak berubah dari dulu, begitu saja *ya bagus dong konsisten dari dulu hehhehe

Banyak foto orang-orang terkenal yang dari jaman baheula berkunjung ke warung dawet ini. Bahkan ada juga foto presiden sby sedang makan dawet juga. Tempatnya lumayan luas karena aslinya memang rumah yang dijadikan warung. Namun sayangnya tidak ada tempat parkirnya, alias hanya jalan komplek biasa. Akibatnya jika ramai pengunjung akan sulit mikir mau markir mobil dimana.

Ini dawet memang fenomenal sih. Bagi yang belum mencoba, yuk silahkan mencoba! :D

Es Dawet Suranatan

Baso Simo

Saya bukan penggemar baso seperti Ibu saya. Dikit-dikit pengen baso. Hujan dikit pengen baso. Liat iklan baso, jadi pengen baso. Pengen nyemil dikit pengen baso. Bahkan lagi duduk di warung baso aja pengen baso *ya iyalaaaahh.

Ini salah satu baso favorit Ibu saya kalau kami pulang ke Madiun. Namanya Baso Simo. Letaknya tidak jauh dari Alun-alun kota Madiun, bisa ditempuh dengan berjalan kaki (dari alun-alun lho yaaa bukan dari rumah)
Rasanya memang cukup enak dan bebas gerenjel tulang atau kikil-kikil. Rasa kuahnya sangat gurih. Biasanya sebelum saya mencampur aduk kuah dengan sambal dan kecap, maka saya akan me cicipi rasa asli dari kuah basonya. Rasa kuah baso simo ini muantapp. Rasa kaldu alami, bukan dari penyedap rasa yang bikin bego.

Harganya cukup diatas rata2 baso kebanyakan di daerah kampung. Harganya sekitar Rp.15.000. Namun untuk ukuran baso Jakarta, maka sudah cukup wajar lah. Apalagi kalau rasanya enak kan.
Nongkrong-nongkrong di alun-alun Madiun, melipir sebentar ke Baso Simo ini :D

Baso Simo dekat alun-alun Madiun

Es Merah Delima

Ini adalah salah satu menu minuman di restoran sate khas senayan. Namanya Es Merah Delima. Rasanya berani. Manis. Dan yang pasti nggak ada delima-delimanya. Entah kenapa disebut Merah Delima. Harusnya sih Es Merah Merona, kayak kamu. Iyaaa...kamu. heehehhe *ala-ala Dodit Stand Up Comedy Indonesia