Showing posts with label mrt. Show all posts
Showing posts with label mrt. Show all posts

Wednesday, July 22, 2015

Review U8 Hostel Singapore

KELEBIHAN (+) :
1. Unik dan menggemaskan. Ini kesan pertama yang saya dapat ketika googling U8 Hostel. Tak heran saya bilang unik, design hostel ini memang sangat menyenangkan dan enak dipandang mata. Pemilik hostel memasang banyak wall sticker pada hostelnya dan sprei warna warni. 

2. Hostel ini juga bersih dan nyaman untuk ditinggali.

3. Affordable budget. Maret 2015 silam saya mencoba menginap di hostel U8 ini dengan harga kamar 69 SGD  atau senilai 621.000 IDR (kurs 9000 IDR). Harganya memang cukup mahal mengingat kurs di Singapura memang luar biasa melejit di awal tahun 2015. Namun untuk harga rata-rata kamar di Singapura per malam sudah cukup terjangkau


4. Lokasi Strategis. Lokasi U8 berada di 181 Upper Paya Lebar Road, Singapura. Jika kamu menggunakan akses MRT maka kamu bisa turun di MRT Bartley dan jalan lurus menanjak ke arah Paya Lebar Road. Sampai di perempatan jalan, kamu akan melihat jejeran ruko, salah satunya adalah hostel U8. Jika kamu menggunakan bus, kamu bisa langsung turun di Paya Lebar Road, persis di depan ruko dan kamu tidak perlu berjalan agak jauh. 

5. Petugas yang melayani cukup ramah, berpengetahuan luas tentang tempat wisata dan mampu berbahasa inggris dengan baik. Kami diperbolehkan untuk menitip barang bawaan selama belum waktu check in kami. Check in pertama kali dimulai dari pukul 14.00 waktu setempat. Kami juga diperbolehkan untuk mandi dan berberes selama belum check in. Lumayan, sehabis bersih-bersih, titip barang, kamu bisa melanjutkan perjalanan wisata tanpa buang-buang waktu.







6. Suanananya sangat nyaman dan seperti di rumah sendiri. Kebersihannya patut diacungi jempol, spreinya warna-warni dan menggemaskan. Wall Sticker sangat mendominasi hostel ini. Hampir diseluruh penjuru tembok dipasangi wall sticker dengan berbagai tema dan ukuran.Kamar mandinya bersih walaupun hanya ada 3 pintu saja. Tersedia juga dapur

7. Sarapan gratis disediakan dimulai dari pukul 07.00 pagi. Jika kamu ingin laundry cuci baju makan kamu bisa menggunakan fasilitas di hostel ini, namun dikenakan biaya, demikian halnya dengan seterika.

8. Akses Wifi 24 jam yang bisa dipergunakan sepuasnya.



KEKURANGAN (-) :
1. Kamar yang mini dan irit tempat, jadi agak dempet-dempetan gitu

2. Tidak tersedia loker untuk menyimpan barang berharga atau penitipan khusus yang terkunci sehingga ada rasa aman bagi customer.

3. Fasilitas air panas tidak ada

Over all saya cukup puas menginap di hostel ini walaupun kamarnya agak sempit dan mini, tapi bersih dan rapi. Saya kasih nilai 8.5 of 10 untuk U8 Hostel Singapore.

 ---

U8 Hostel
Address: 181 Upper Paya Lebar Road Singapore 534866
Contact: +65 62848482
Website: www.u8hostel.com
Email: booking@u8hostel.com
Pict. source : from other blog

Tuesday, May 20, 2014

Commuter Line Jabodetabek

Dua tahun yang lalu saat saya masih ditempatkan di kantor pusat Sudirman, maka praktis tiap pagi sore saya menjadi pengguna setia KRL Jabodetabek. Bagaimana tidak, jarak tempuh dari Lenteng Agung ke Sudirman cukup jauh. Tidak terbayang jika harus menembus kemacetan Jakarta lewat jalur kendaraan bermotor. Maka solusinya adalah jadi anak kereta. Pukul 05.15 pagi  maka saya sudah nongkrong kece di Stasiun UP dan sore hari ketika selesai tutup kas, maka pukul 17.00 lewat-lewat dikit laaahh.

Jaman dulu masih ada adegan kereta ekonomi dengan massa penumpang yang anarkhis dengan manjat-manjat atap gerbong kereta, sampai banyak kejadian kesengat listrik dari atap, namun tak membuat jera juga. Akhirnya Pemprov DKI menghapuskan adanya kereta ekonomi dan menyetarakan dengan Commuterline. Kereta ekonomi tidak difungsikan, namun Commuter yang juga tidak terlalu banyak armadanya, membuat adegan desak-desakan tiap pagi dan sore menjadi hal lumrah.

Awalnya tiket Commuterline bisa dibeli di loket penjualan tiket dengan karcis kertas single trip. Ada pula yang menggunakan fasilitas abodemen dengan membayar bulanan, cocok untuk pengguna Commuterline yang tiap hari naek. 

Makin lama, teknis pembelian tiket Commuterline makin di update. Harga pun sekarang dikurangi jauh lebih murah. Sekarang menggunakan sistem jarak per stasiun. Jika hanya pergi melewati 2 stasiun maka hanya membayar 2000 rupiah saja, dan kelipatan 500 rupiah untuk 2 sampai 3 stasiun berikutnya, cukup murah bukan? Sistem pembelian tiket pun mejadi lebih canggih, sekarang Commuterline Jabodetabek hampir meniru MRT yang ada di Singapore dan Kuala Lumpur. Walaupun masih jauh dari mereka, namun setidaknya kita sudah berusaha ada kemajuan.

Kecanggihannya masih belum efektif dan efisien. Mengapa? Pertama, pembelian tiket masih dilayani di kounter tiket, menyebutkan lokasi tujuan, dan bayar ditempat. Petugas akan memberikan kartu perjalanan dan recepit bukti transaksi. Ini dari kertas. Tidak paperless sih. Sedangkan di Singapore sudah menggunakan mesin pembelian tiket otomatis, dengan menekan tujuan perjalanan dan memasukkan uang, maka kartu akan keluar dari mesin, dan jika ada kembalian maka akan keluar kembaliannya. Hemat petugas dan tidak buang-buang struk kertas.

Kedua, penumpang diharuskan membayar jaminan kartu seharga Rp. 5000 setiap pembelian tiket kereta. Jadi apabila kita ingin menaiki sampai 2 stasiun seharga Rp. 2000, maka kita harus membayar di loket Rp.7000 (terdiri dari Rp. 5000 jaminan kartu dan Rp. 2000 harga tiket sebenarnya). Kartu ini berlaku untuk single trip, hanya bisa di top up apabila akan melakukan perjalanan lagi. Kartu ini tidak boleh hilang.

Jadi, ketika kita dapat kartu ini, maka kita akan masuk ke area stasiun kereta. Ada mesin untuk tap kartu di sana, tap kartu kita dan masuklah. Ketika sudah sampai di lokasi tujuan, tap di mesin kartu di pintu keluar. Bagaimana dengan nasib kartu ini? ditukarkan di kounter penjualan tiket dengan berkata kepada mbak-mbaknya "Mbak, mau refund" Maka kita akan diberikan uang Rp.5000 jaminan kartu yang tadi, kartu pun dikembalikan. Saat ini, antrian refund dengan pembelian tiket masih dalam satu jalur yang sama, sehingga apabila penuh antrian membeli tiket, maka akan sangat malas untuk antri refund.

Ada pula kartu Commuterline dari Flazz BCA yang sistemnya seperti Ezlink Card Singapore, bisa di top up dan dipergunakan untuk berkendara Commuterline. Ketika kita tap di mesin stasiun awal, maka mesin akan mendeteksi lokasi, dan ketika ketika keluar dan tap lagi, maka saldo otomatis akan terpotong sesuai dengan harga tiket. Kenapa Pemprov tidak bekerja sama saja dengan perusahaan dengan sistem kartu pembayaran seperti itu? Sehingga tidak ada lagi yang namanya refund yang merepotkan. Terkadang krn malas antri refund, kartunya kebawa terus sama saya, tidak saya refund. Commuterline setidaknya lebih efektif jika diterapkan sistem pembayaran dengan kartu :) Semoga saja Commuterline Jabodetabek suatu saat akan seperti MRT di Singapura dan Malaysia.

Bagian Depan Kartu Jaminan Commuterline
Bagian Belakang Kartu Commuterline Jabodetabek

Sunday, April 6, 2014

KL Trip : 24 January 2014 (LCCT - KL Sentral - Dataran Merdeka - China Town - Petaling Street)

Hari ini merupakan perjalan saya berdua dengan sahabat saya dari SMA yakni Febi untuk berkeliling Kuala Lumpur. Kami sudah jauh hari memesan tiket Air Asia dengan harga CGK – KL 99.000 IDR dan KL – CGK 199.000 IDR. Harga yang cukup murah untuk tamasya ke KL lah. Sebelumnya saya sudah pernah ke KL dengan rekan kuliah saya, namun waktunya sempit dan hanya berkunjung ke beberapa tempat. Dan saat itu kali pertama saya keluar negeri sehingga tidak ada persiapan itinerary dan sebagainya. Kali itu kami berempat, cukup memakan waktu banyak karena mengatur orang lebih banyak. Kali ini hanya berdua, mungkin akan lebih fleksibel.

Pesawat kami take off pukul 12.45 WIB dan pukul 11.00 saya sudah sampai ke bandara untuk melakukan self check in. Air Asia memiliki fasiitas self check in sehingga untuk check in tidak perlu mengantri, kita hanya cukup menuju ke mesin self check in yang disediakan Air Asia, dengan teknologi layar sentuh hanya memasukkan nomor booking saja, dan kita sudah bisa memilih untuk check in untuk kita snediri termasuk guess yang ada di tiket kita apabila kita memesan berbarengan dengan teman atau keluarga dalam satu itinerary tiket. Kita juga bisa memilih untuk check in pada saat depature juga sekaligus arrival sehingga pada saat pulang kita tidak perlu lagi bergegas untuk check in.

Tidak terasa pukul 11.30 dan Febi masih belum juga sampai Bandara Soekarno Hatta Terminal 3, keberangkatan Internasional. Saya mulai panik, ia memberi kabar masih di dalam tol. Dengan waktu tipis, akhirnya Febi datang dan langsung saya suruh naik ke lantai 2 dan menuju ke Boarding Room. Saya sudah menunggu di depan Boarding Room. Tentunya saya tidak dapat masuk Boarding Room tanpa Febi, kalaupun saya sudah masuk ya tidak dapat keluar lagi, masa saya ke KL sendirian. Akhirnya Febi pun datang dengan bergegas kami menuju antrian Boarding Room keberangkatan internasional. Waktu yang cukup sempit dan sudah masuk waktu Dzuhur, Saya pun bergantian sholat Dzuhur dengan Febi di Musholla Baording Room, tak lama penumpang Air Asia tujuan Kuala Lumpur dipanggil untuk naik pesawat.

Perjalanan ditempuh dalam waktu 2 jam dari Jakarta menuju Kuala Lumpur. Perkiraan kami akan sampai di Kuala Lumpur adalah pukul 15.45 atau sekitar pukul 4 sore waktu Kuala Lumpur. Terdapat perbedaan waktu 1 jam lebih cepat antara Jakarta dan Kuala Lumpur. Apabila di Jakarta masih pukul 15.00 maka di Kuala Lumpur sudah pukul 16.00. Beruntung kami duduk bersebelahan dan tak terasa terbang 2 jam pun usai.

Sampai di bandara low cost carrier Kuala Lumpur, kami menuju bagian imigrasi untuk cek in ke Malaysia.  Saya juga melihat bagian transit untuk penumpang yang akan meneruskan perjalanan selanjutnya. Wah serunya. Pasti destinasi yang cukup jauh biasanya yang transit seperti itu.

Imigrasi di Malaysia tidak cukup rumit namun memang sangat ketat untuk masalah barang bawaan, terutama saat imigrasi pulang ke negara asal, akan sangat ketat dan diperhatikan. Saya sempat kehilangan satu botol parfum yang baru saja saya beli ketika saya lupa meletakannya di tas yang akan masuk ke cabin, seharusnya saya meletakan di koper saya yang akan dimasukkan ke dalam bagasi. Selain itu berat maksimum barang bawaan juga ditimbang. Biasanya penimbangan dilakukan apabila kita terlihat membawa barang berat dan ukuran koper besar. Intinya sih petugas Malaysia ketat jika berurusan dengan barang bawaan.

Sesampainya di bandara, Saya dan Febi langsung membeli Simcard untuk berkomunikasi selama di Kuala Lumpur. Saya pilih provider Maxis dan paket internet 1GB. Harga Simcard perdana di KL cukup mahal, sama dengan di Singapura. Harganya 35RM atau setara dengan hampir 134.000 IDR sangat berbeda jauh dengan Simcard yang bisa dibeli di Jakarta dengan harga 5.000 sampai 10.000 IDR saja. Dengan menyerahkan Passport saya, pembelian simcard pun diproses. Sama seperti di Jakarta, untuk mendaftarkan dan mengaktifkan Simcard biasanya akan memasukkan nomor KTP atau nomor Identitas. Pun demikian dengan di sini, maka untuk warga negara asing wajib menunjukkan passport.

Setelah itu kami bergegas menuju tempat pemberhentian bus menuju KL Sentral, lokasinya di sebelah kiri bandara dekat dengan Musholla. Harga tiket bus yang mengantar dari Bandara LCCT menuju KL Sentral adalah 8 RM per orang. Tiket bisa dibeli di kounter dalam bandara atau dapat dibeli langsung di tempat pemberhentian bus, sesaat sebelum naik bus. Perjalanan menghabiskan waktu sekitar 2 jam, karena cukup macet. 

Di dalam bus, Febi langsung membuka bekal  makanan nasi rendang yang dibawakan oleh Mamanya. Saat tutup tempat makan dibuka, wuissss langsung semerbak wangi khas rempah masakan rendang. Celotehku dalam hati “Ini baru rendang asli Padang, Indonesia, bukan rendang yang dibuat oleh Malay hehehe” Beberapa penumpang menoleh ke arah kami karena wangi makanan kami, tapi rasa lapar seolah tidak memedulikan, biarkan saja. Langsung kami menghajar bekal rendang sampai tak bersisa, perut pun langsung kenyang mendadak. Alhamdulillah. Ludesss.

Sampai di KL Sentral, tadinya kami akan bertemu dengan rekan Febi yakni Bang Wasif yang merupakan perserta salah satu acara konferensi di UI. Beliau ingin mengantar kami ke hostel. Saya sebenarnya tidak ingin merepotkan, sehingga saat itu saya bilang untuk mengurungkan niat saya, kita pergi sendiri. Akhirnya dibatalkan janji bertemu. Namun memang sudah ditakdirkan oleh Allah untuk bertemu, pada saat  kami ingin membeli tiket bus Genting  Highland untuk kepergian esok hari, kami bertemu di eskalator. Febi dan Bang Wasif berpapasan. Ya akhirnya kami membeli tiket diantar Abang tersebut serta beliau pun mengantar kami menuju Hostel Submarine dekat Pasar Seni.

Alhamdulillah kami sangat terbantu sekali, karena saat malam pasti agak sulit menemukan hostel tersebut.
Selepas check in di hostel dan membayar biayanya, saya dan Febi meletakkan koper. Saya memang sudah jauh hari memesan hostel tersebut via online internet melalui situs booking.com dan harga yang tertera dengan yang saya bayar sama. Saya cukup berlega hati. Harga hostel sekamar berdua dengan fasilitas AC untuk 4 hari 3 malam adalah 210 RM (sehingga per orang harus membayar 105 RM). Harga yang cukup bersahabat bukan? Kami pun hanya meletakkan koper dan melanjutkan petualangan kami. Bang Wasif katanya bersedia mengantar. Kami berkeliling sekitar dataran merdeka saja.

Saya bertiga melipir di sisi-sisi Central Market sehingga bisa tembus ke Dataran Merdeka, wah saya baru tahu jalan ini. Dulu saya pikir dataran merdeka itu jauh sekali, karena dulu saya naik taxi. Ternyata dekat sekali ya kalau dari Central Market. Maklum, sejak pengalaman pertama saya ke luar negeri dahulu tanpa persiapan, saya jadi harus membuat itinerary dan menghafalkan rute serta peta jalanan. Kami berhenti di deretan toko yang menjual barang kesenian, dari mulai gambar-gambar, lukisan, kerajinan tangan.

Toko Lukisan Karikatur di sekitar Central Market
Contoh Hasil Seni Pasir

Tak kalah menariknya ada bule yang sedang membuat kreasi pasir dalam botol. Ia seorang wanita dan membuat hasil kreasinya di depan banyak orang sehingga kami dapat menyaksikan cara pembuatannya secara gratis. Luar biasa lincah dan lihai sekali, Butiran pasir bisa berbentuk indah dan berbagai paduan warna yang cantik. Saya pernah punya botol tersebut di rumah, kala itu Bapak membawakan dari Arab Saudi dan Yordania, katanya ini semua dalamnya pasir.

Gadis Seniman Pasir

Lepas itu, kami tadinya ingin diajak berkeliling dengan kereta (mobil) oleh rekannya Bang Wasif, namun karena rekannya memarkir mobilnya di tempat yang tidak diijinkan memarkir kendaraan, maka ban mobil pun di borgol dan kena denda. Wuih. Memang memarkir saja di KL tidak boleh di sembarang tempat. Padahal itu lokasi pinggir jalan biasa yang dilewati lalu lalang orang. Alhasil kami berjalan kaki saja sekitar China Town dan Petaling Street. Area ini adalah kawasan untuk etnis China dan banyak pedagang yang berjualan cinderamata KL serta kawasan restoran pinggir jalan.

Suasana China Town
Pedagang di China Town

Bungaaaaaa :D

Toko Bunga China Town

Suasananya sangat meriah dengan lampion menghiasi bagian atas, penuh warna merah dan sisi kanan kiri banyak dagangan dan penjual berbagai macam belanjaan. Kami berkeliling sambil melihat-lihat. Aroma masakan pun beragam, ada pula aroma masakan babi yang sangat asing bagi saya, namun lama kelamaan jadi hafal. Tentu saya dan Febi tidak memilih lokasi tersebut untuk makan, saya akan mencari restoran arab atau restoran yang berlabel halal saja.

Pedagang Buah di Petaling Street

Di Petaling Street selain terkenal dengan harga barang yang murah dan dapat ditawar, terkenal juga area yang rawan dan banyak copet. Maka berhati-hatilah saat berkeliling di sini, pastikan tas berada di posisi depan, terutama dompet, barang berharga HP, kamera serta passport.

Pulang dari keliling China town dan Petaling kami pun pulang. Esok hari waktunya berkelana sendiri ya tanpa perantara, sepertinya saya dan Febi akan lebih menikmati petualangan sendiri :)

Cek pengeluaran hari ini :
Minum @ 3.2 RM x 2 = 6.4 RM
SIMCARD @ 35 RM x 2 = 70 RM
Tiket Genting @ 10.30 RM x 2 = 20.60 RM
Tiket LRT KL Sentral – Pasar Seni = Free by Bang Wasif
Hostel Twin Bed 4D3N = 210 RM
Tiket Bus @ 8 RM x 2 = 16 RM
Total = 323 RM

Sunday, May 19, 2013

Singapore Trip 2 (24 April 2013)

Pagi itu saya dibangunkan oleh dinginnya AC kamar hostel. Awalnya saat siang itu kami datang, saya mencak-mencak gegara AC kamar gak dingin membuat lembab semakin menjadi, namun kebalikannya dengan malam hari, superb dingin banget sampe nyaris beku! *okay ini lebay* Saya pun membangunkan Ampi dan Febi untuk Sholat Shubuh. Setelah Shalat kami pun bersiap untuk perjalanan hari ini. Kamar mandinya memang sharing, namun termasuk bersih dan tersedia air hangat apabila ingin menyalakan heaternya. Sebelum keluar hostel, kami menuju dapur untuk membuat sarapan. Memang hostel ini menyediakan fasilitas seterika, sarapan, ambil minum sepuasnya, bebas titip makanan di kulkas.

Di ABC Backpackers Hostel menyediakan roti, mentega, gula, krimer, selai strawberry, dan dua toast maker untuk membuat roti panggang. Berhubung saya tidak terlalu suka toast bread krn rotinya jadi agak keras, saya pun tidak menggunakan toast maker. Saya makan roti seperti biasanya sesekali dicelup ke cangkir teh. Setelah kenyang mengisi amunisi tak lupa mengisi penuh botol minuman kami masing-masing, kami pun bergegas keluar hostel. Untuk traveller, ada barang-barang yang wajib dibawa saat bepergian : paspor (ini wajib, kalo kata Bapak saya, paspor ini ibaratnya adalah nyawa kita di negeri orang), botol minuman (krn air mineral kemasan mahal, dan pastinya kita akan banyak minum berhubung perjalanannya panjang), payung (krn cuaca tidak menentu bisa panas banget bisa tiba-tiba hujan), tissue kering maupun tissue basah, alat sholat, alat komunikasi, kamera dan yang pasti adalah uang hehehehe.

First destination kami hari itu adalah menuju MRT Orchard untuk ke Singapore Botanic Garden. Sebelum ke MRT Bugis, kami berhenti di 7eleven dekat hostel lagi dan membeli EZ Link Card. Kali pertama saya ke Singapura saya banyak menggunakan taxi, dan tidak membeli EZ Link Card, sehingga apabila naik MRT kami harus membeli tiket MRT di mesin tiket dengan uang cash. Kali ini saya mau menggunakan fasilitas EZ Link Card, karena saya akan banyak mengeksplor MRT (balas dendam kemaren2 ke sini tapi gak terlalu eksplore MRT hehehehe). EZ Link Card adalah kartu yang berfungsi sebagai alat pembayaran alat transportasi di Singapura. Kartu ini sakti dan wajib dimiliki kalau gak mau ribet ngeluarin recehan untuk beli tiket MRT atau tiket Bis.Cara pemakaiannya mudah sekali, untuk di MRT hanya tinggal letakan di tempat pendeteksi lokasi pintu masuk MRT. Saat kita meletakan EZ Link Card, saat itu lokasi kita terdetect otomatis. Apabila sudah sampai di tempat tujuan, kita akan meletakan EZ Link Card lagi di pintu keluar. Saat itulah lokasi akan terdetect bersamaan dengan otomatis pemotongan uang kita di EZ Link Card. Harga EZ Link Card adalah $10 dengan isi di dalam kartu sebesar $5. Saya memutuskan untuk langsung top up sebesar $10, sehingga total uang kami di EZ Link Card adalah $15, saya pikir cukup lah untuk 3 hari di Singapura. Ohya, apabila ingin top up isi EZ Link Card, tinggal ke 7eleven atau ke mesin pembelian tiket MRT, dan pilih top up dan masukan uang top up, minimum top up adalah $10.

Orchard Road
Back to our journey, kami akan menuju Orchard Road (MRT Orchard) melalui MRT Bugis. Kami naik MRT Bugis arah Joo Koon dan berhenti untuk transit di MRT City Hall. dari City Hall kami menuju MRT Orchard (arah MRT Jurong East). sampai di Orchard baru pukul 09.30, masih sepi sekali area di sini. Orchard Road adalah kawasan hang out dengan jejeran Mall besar dengan brand brand ternama yang mahalnya gilak banget, gak sanggup lah kalo belanja di sana, hahaha. Kami menghabiskan waktu sesaat untuk sekedar foto-foto di depan Orchard Road. Setelah puas foto, kami melanjutkan perjalanan menuju Singapore Botanic Garden. Ini kali pertama saya ke SBG. Sebenarnya bisa saja kami ke Singapore Botanic Garden dengan MRT Circle Line, langsung turun di depan Singapore Botanic Garden. Namun saya ingin mengajak rekan saya berputar dan berjalan seputar Orchard Road, karena apabila tidak disempatkan pagi itu ke sana, maka tidak ada waktu lagi yang pas dan rute yang pas.

Orchard Road
Kami berjalan panjang dan saat melalui Naseem Road yang super sepi, saya menyadari bahwa perjalanan masih sangat panjang di depan. Itu di peta jalanan masih luruuuuuuus panjang hahahahhaha! Kecapean jalan, akhirnya kami istirahat dulu sebentar di pinggir jalan. Tiba2 melintaslah taxi ala-ala taxi Malaysia dengan supir melayu, tebakan saya sih dari Malaysia. Supir tsb memperhatikan kami yang berjalan kaki. Kesian bener kali ya keliatannya sampe duduk2 cekikikan di pinggir jalan hahhahah (apa jangan2 dikira TKW, siaal..)

Kami melanjutkan perjalanan kembali, berjalan. Namun taxi tersebut mengikuti kami, dan saya menyadarinya. Supir tsb menawarkan taxinya, awalnya kami tidak mau. Namun supir tsb kekeuh menawari taxinya. Febi dan Ampi masih pikir-pikir. Tiba-tiba entah kenapa, saya merasa harus naik taxi, karena berhubung saya tahu lokasinya masih lumayan jauh, dan feeling saya kalau supir taxi ini orang baik. Awalnya taxi itu akan memutar balik, namun saya perhatikan taxi itu tidak puter balik, justru malah mengikuti kami. Bismillah. "Ayo kita naik taxi." ujar saya sambil menyebrang jalan ke arah taxi tsb tanpa kompromi dulu dengan dua rekan saya, keputusan sepihak dan tiba-tiba memang haha, entah mengapa saya yakin bahwa kami harus naik taxi. Febi sempat bilang "emang uang kita cukup?" taxi memang agak mahal di Singapura, dan kondisinya memang saat itu lagi kere-kerenya, tanggal 25 gajian masih esok pagi kalau mau ambil uang di ATM :P Saya bilang "Gapapa, ada kok, naik aja." saya meyakinkan Febi. Padahal saya gak menengok ke dompet sama sekali untuk cek apa bener masih ada hahahha. Karena saya yakin Allah pasti menolong perjalanan kami.

Bapak tsb menanyakan kami ingin kemana? Kompak kami bilang akan ke Singapore Botanic Garden. "Jalan darimana?" tanya Bapaknya lagi. Saya pun menjawab "Orchard Road" tak pelak kagetnya Bapak itu "Masya Allah, jauhnya kalian jalan. Jauh kali itu sampai ke Singapore Botanic Garden". Saya hanya cengar cengir. dari Orchard Road menuju Naseem Road sih tidak terlalu jauh buat saya, namun menyusuri Naseem Roadnya yang gilak banget, mana gak ada pemandangan asik kecuali jalanan luruss dan pohon-pohon pinggir jalan. Kami pun mengobrol dengan Bapak itu, lagi asik-asiknya ngobrol kami pun baru sadar, kok argonya tidak dinyalakan. Febi pun bertanya "Pak, Argonya kok tidak dinyalakan?" Dengan santainya Bapak itu menjawab "Tak perlu lah, Abang antar kalian sampai Singapore Botanic, tak perlu lah membayar, mau tolong." Hampir keselek saya dan rekan-rekan saya, serius nih gak usah bayar?? dan benar saja, saat sampai di SBG, kami benar benar ditolak pembayaran, kami pun menutup pertemuan kami dengan doa kepada Bapak supir taxi tsb semoga amalan mulianya diterima Allah dan makin luas rejekinya, aamiin.

Sekalinya naik taxi dadakan, eh gratis. Kali kedua saya ditolong orang Malaysia. Yang pertama saat di Bandara Kuala Lumpur, di bagian Imigrasi dan pengecekan muatan. Saat itu memang muatan kami berlebih seharusnya masuk ke dalam bagasi. Namun kami sudah selesai berurusan dengan bagasi, dan niatnya sisanya akan dimasukkan ke kabin. Tadinya memang kami diminta untuk meletakkannya di bagasi dan membeli bagasi tambahan. Namun berkat mas-mas Malaysia yang baik hati, akhirnya kami diizinkan untuk meletakkan sisa koper kami di kabin, yeaaay Alhamdulillah. Pertolongan Allah itu dekat, saya yakin sekali dengan ayat tsb setiap saya melakukan perjalanan di mana pun.

Sampai di Singapore Botanic Garden melalui pintu belakang (di luar dugaan saya, hehehhe) karena saya tidak melalui main gate dari MRT Botanic Garden. Sesampainya di SBG, kami berkeliling sembari menuju MRT Botanic Garden. Masuk Singapore Botanic Garden tidak dipungut biaya sepeser pun kecuali jika ke Orchard Garden. Singapore Botanic Garden buka dari pukul 10.00. Di tengah perjalanan kami bertemu dengan segerombolan Kindergarden School, bocah-bocah dengan berbagai etnis berjalan beriringan dan tas ransel imut dan muka-muka imut mereka. Dengan ilmu sotoy yang saya miliki, saya menebak bahwa krucil-krucil tsb akan ke Jacob Ballas Childrens Garden. Lokasinya Jacob Garden memang searah dengan tujuan kami yakni MRT Botanic Garden. Karenanya kami berjalanlah di belakang mereka, sambil mengendap-endap layaknya pencuri anak (hehehe ya nggak lah. tp pengennya sih bawa pulang 1, lucu bener abisnya *tetep)

Singapore Botanic Garden, Singapore
Ternyata jauh juga lho dari pintu Selatan ke MRT Singapore Botanic Garden, ciyus deh! Hingga pada saat kami menemukan main gate seperti pernah saya googling di internet, saya pun terhuraaaaaa sekali *lap sapu tangan *seka ingus. Tidak kami sia-siakan momen mengharukan itu dengan foto-foto di depan tulisan Singapore Botanic Garden haha. Kami langsung menuju MRT Singapore Botanic Garden menuju Chinese Garden. Dari MRT Circle line Singapore Botanic Garden kami transit di MRT Buona Vista untuk melanjutkan ke MRT Chinese Garden. Sesampainya di Chinese Garden yang saya juga baru pertama kali ke sini hahaha, dengan ilmu sotoy bersama kami pun keluar MRT dan ambil langkah ke arah Pagoda menjulang yang tadi di atas MRT terlihat sekilas. Itu pasti Chinese Garden! pikir kami, hehe. Dan memang benar, di sanalah Chinese Garden. Hanya berjalan lurussss saja dari MRT Chinese Garden.
Pagoda di Chinese Garden

Chinese Garden, Singapore
Japanese Garden, Singapore
Sampai di lokasi, terlihat jembatan merah yang membelah sungai yang cukup lebar. Tak lupa kami mengabadikannya dengan foto, setelah itu baru masuk ke pintu utama. Kami berjalan cukup ragu, karena saya baca di google, bahwa masuk Chinese Garden itu ada biaya-nya. Namun mata saya berkeliling mencari counter tiket, tapi tidak ada penjaganya. Ya sudahlah, mungkin emang kita gak perlu bayar hahahaha. Akhirnya dengan pede aja kami masuk. Ternyata garden ini tidak hanya Chinese Garden, namun ada pula Japanese Garden. Kami memutuskan untuk menuju ke Japanese Garden dan berfoto-foto di sana. Saat itu aselik panassss banget! Japanese garden ditanda dengan landmark Jembatan putih besar dan kokoh yang melintang. Dibaliknya ada taman-taman Jepang dengan pohon bonsai khas Jepang. Kelar berkeliling dan foto, kami beristirahat di saung. Eh bukan saung sih, lebih mirip kelenteng. Tapi anggep aja saung lah, soalnya kita mau sholat. hehehe. Tanpa ragu-ragu, kami menggelar sajadah yg disponsori oleh BNI Syariah (tetep yaa, goodie bag BNI Syariah juga saya bawa-bawa mau kemana pun, kebiasaan ajang publikasi banget hahaha), dan mengeluarkan mukena untuk Shalat. Usai shalat, kami ngaso-ngaso sebentar sambil ketiduran gegara anginnya enak banget dan kondisinya memang panas.

Next Destination kami adalah IKEA Alexandra Road. IKEA merupakan perusahaan Swedia yang mendunia karena produk-produk rumah tangga (homeware) yang lucu dan unik. Di Singapura sendiri ada 2 buah IKEA yakni di depan Anchor Point, Alexandra Road dan di Tampines. Saya memutuskan untuk ke IKEA Alexandra Road yakni turun di MRT Queenstown, keluar melalui exit A ke arah kiri dan menyambung dengan SBS No.195. Uniknya di IKEA ini ada showroomnya, dibangun kubikel2 showroom ruangan-ruangan di rumah dari living room, family room, dining room, bed room dan bath room. Semuanya lucu-lucu dan menginspirasi untuk rumah yang minimalis dan banyak memanfaatkan tempat. Kreatif!
Showroom IKEA, Singapore
Usai dari IKEA kami pulang menuju Bugis, dan mampir di Bugis Street untuk belanja secukupnya. Bugis Street merupakan salah satu destinasi belanja yang bisa saya rekomendasikan karena banyak menjual souvenir dan barang-barang lucu, hehe. untuk souvenir biasanya dibandrol borongan, misalnya $10 untuk 3 item souvenir, salah satunya paket key chain (gantungan kunci). Kalau pinter mencari, kamu bisa dapatkan gantungan kunci dengan $10 dapat 18-24 buah. Lumayan untuk dibagi-bagi. Namun apabila ingin key chain yang kualitasnya bagus dan gambarnya unik bisa cari yang harganya $10 dapat 6pc keychain dengan packaging satu-satu, tidak rombongan. kalau ingin mencari kaos pun bisa di sini, dengan harga $10 kamu bisa dapat 3-4 kaos, tergantung kualitasnya. Saya menemukan kaos yang samaaaa persis dengan yang dijual di Mustafa Center. Saya ingat harganya $11 di Mustafa. Iseng saya tanya di Bugis Street, ternyata harganya $13, wow lumayan juga. Ternyata ada juga yang lbh mahal di Bugis Street.

Usai belanja, kami pun pulang dengan suksesnya ngurut kaki. Pegel juga garden-gardenan hari itu :D Pelajaran yang bisa saya ambil untuk hari itu adalah pertolongan Allah memang benar dekat adanya jika kita percaya.