Thursday, January 14, 2016

Apakah saya siap menikah?

Seperti buku yang pernah saya baca, katanya menikah itu indah, karena akhirnya melepas status dari jomblo itu rasanya luar biasa. Bisa bebas bilang sayang tanpa harus malu dan bingung bagaimana menyampaikannya. Ada orang yang bisa kita sayang dari melek mata sampe merem lagi.

Kata teman-teman saya, menikah itu seru, semua dilakukan berdua. Makan berdua tanpa ngerasa kurang karena berbagi makanan dengan pasangan. Jalan-jalan bareng kemana pun yang kita mau tanpa khawatir ditelponin sama emak bapak di rumah disuruh pulang. Bebas pulang sampai larut malam berdua suami karena ada ia yang tanggungjawab atas kita.

Kata kakak kelas saya, menikah itu bahagia, karena merasa penuh. Bagaimana tidak, menikah itu kan menyempurnakan setengah agama kita. Menikah itu bisa ibadah bareng dan berlomba-lomba dalam kebajikan bersama. Saling mengingatkan dalam kebajikan dan taqwa.

Kalau kata motivator, menikah itu menyatukan dua hati yang berbeda, namun berjalan seiring seirama dengan satu tujuan hidup. Membangun keluarga yang sakinah mawaddah dan rahmah.

Memang betul.
Semua kata mereka betul.

Namun saya ingin menambahkan, bahwa menikah itu adalah sebuah kesiapan. Iya, menikah bukan hanya perlu persiapan tapi juga kesiapan. Persiapan sudah pasti karena menikah butuh biaya, persiapan daftar KUA, persiapan acara resepsi, acara unduh mantu kalau ada, persiapan tinggal dimana, dan sebagainya. Persiapan sudah tentu dilakukan, namun bagaimana dengan kesiapan?

Kesiapan dalam menghadapi babak baru dalam kehidupan bersama dengan orang yang kau pilih. Bersamanya melewati suka dan duka kehidupan. Bukan senangnya saja, tapi apakah siap kita menghadapi duka juga dan saling memotivasi pasangan kita. 

Sudah siapkah kita untuk merancang visi dan misi pernikahan? Siap untuk berbagi kepala, berbagi pikiran, berbagi bahu untuk menopang. Sudah siapkah menyiapkan strategi demi suksesnya visi dan misi pernikahan yang dibuat bersama? Sudah siapkah kamu untuk berjuang bersama pasangan? Jangan lupa, ketika siap untuk sukses, kamu juga harus siap ketika diterpa tantangan. 

Sudah siapkah kamu memiliki super duper banyak saudara dengan berbagai macam karakter dan latar belakang. Keluarga besar kita sendiri saja sudah banyak, ini bertambah lagi. Karena ketika sudah menikah, bukan hanya menyatukan dua kepala, tapi juga dua keluarga besar. Dan kita ada di dalamnya. 

Sudah siapkah kita berbesar hati, berlapang dada, mengakui kesalahan, meminta maaf kepada pasangan kita? Karena dari mulai melek mata sampai mau merem lagi ada pasangan kita di sana. Bagaimana bisa hidup bersama pasangan jika ada adegan berantem yang belum terselesaikan? Bagaimana bisa tidur nyenyak sedang orang tersebut ada di sebelah kita. Sudah siap untuk meminta maaf dan berjanji tidak mengulanginya kembali?

Menikah sudah pasti berharap adanya keturunan yang meneruskan perjuangan kita dan pasangan. Untuk wanita, sudah siapkah kau merasakan letihnya hamil 9 bulan, rintihan proses melahirkan dan perjuangan membesarkan anak-anak dengan penuh kasih sayang? Sudah siapkah kau membangun peradaban? Sungguh tugas seorang istri sudah cukup berat, ketika menjadi seorang Ibu, tugasmu berkali-kali lipat lebih berat. Siapkah kamu?

Untuk menikah, sudah lapangkah hati kamu untuk dipimpin oleh suami? Karena sungguh ridhonya Allah ada pada ridho suami ketika seorang wanita sudah menjadi seorang istri. Sudah siapkah untuk menurunkan ego yang biasanya mau menang sendiri? Sudah siapkan menerima semua arahan dari suami selama tidak bertentangan dengan syariat Islam?

Sudah siapkah? 

Tentu jika ditanyakan lagi makin ke bawah, makin detail, jawaban yang di dapat adalah Tidak Siap. Tentu. Karena belum mengalaminya. Tidak perlu heran. Ketika seorang anak kecil dengan standar tinggi yang memadai diperbolehkan akan terjun melakukan flying fox, lalu kita tanya, sudah siap dek??? Jawabnya, SIAP KAK!!! Jawabnya memang siap, tapi tahukah kamu kalau dalam hati ia berdegup luar biasa, bagaimana rasanya, bagaimana kalau jatuh? Bagaimana kalau tidak dapat mendarat dengan mulus. Pasti. Padahal adik kecil itu sudah mengikuti arahan dari Kakak Pembina, sudah menggunakan tali pengaman dan atribut pengaman lainnya di badan, sudah ada pula pengaman jaring di bawah flying fox, adik kecil itu juga sudah menanyakan ke teman-temannya yang sudah merasakan menaiki flying fox, bagaimana rasanya, takut tidak, apakah bisa melewatinya. Tentu ia mendapatkan jawaban, jangan takut, bisa. Bahkan adik kecil itu juga punya supporter luar biasa yang menyemangati di bawah, ya teman-teman ya keluarga. Apa yang harus ia lakukan? Hanya terjun saja. Sudah. Semua ketakutan bahwa ia tidak siap akan sirna. Demikian halnya dengan menikah. 

Ketika akan menikah, kita sudah cukup umur yang diperbolehkan menikah sesuai agama dan Undang-Undang. Pun kita juga sudah melakukan persiapan pernikahan, persiapan seminar pernikahan, seminar parenting, dan persiapan lainnya untuk bekal. Kita juga sudah minta nasihat dan arahan dari orang-orang yang sudah menikah sebelumnya terutama orang tua yang sudah makan asam garam kehidupan. Panduan kita sudah ada, yakni Al Quran dan Hadits. Selama berpegang teguh, tidak akan kesasar. Kita juga sudah tanya sana sini ke rekan-rekan seumuran yang sudah lebih dulu menikah. Bagaimana rasanya, apa tantangannya, bagaimana menghadapinya. Di belakang kita selalu ada orang-orang terkasih yang mendukung dan memberi semangat akan pernikahan kita berjalan sakinah mawaddah dan rahmah. Ya, yang akan menikah persis anak kecil yang mau terjun flying fox untuk pertama kali. 

Ketika ditanya sudah siap menikah? Mungkin sebagian orang menjawab sudah. Tapi sebenarnya selalu ada kekhawatiran tidak siap. Kalau sudah menikah beneran, sudah terjun, mau tidak mau harus siap? Jadi, bagaimana untuk memperoleh kesiapan menikah?? Jawabnya ya, menikahlah ☺️ Sudah kecebur nikah, pasti akan berusaha untuk siap. Bedanya hanya pada persiapan, ada yang melakukan persiapan jauh hari, ada yang melalukan persiapan on the spot alias pada hari-hari hidup bersama pasangan. 😊

Bagaimana, sudah siap untuk menikah? 

No comments:

Post a Comment