Showing posts with label perjalanan. Show all posts
Showing posts with label perjalanan. Show all posts

Monday, September 14, 2015

Japan Trip : Terbang Bersama Air Asia X

Setelah persiapan yang cukup singkat, akhirnya tiba juga waktu keberangkatan saya ke Jepang bersama adik saya (Nabi) dan travelmate saya (Febiana Malini) yakni tanggal 30 Oktober 2014. Perjalanan akan ditempuh melalui Soekarno Hatta International Airport – transit di Kuala Lumpur KLIA 2 – Flight Thru dengan Air Asia X ke Haneda International Airport, Tokyo. Jadwal penerbangan kami pukul 08.30 pagi dan kami sudah sampai di Bandara Soetta pukul 05.00 pagi. Terlalu pagi? Tidak juga. Sebenarnya memang sudah ada himbauan dari maskapai bahwa untuk penerbangan internasional dipersiapkan sampai di Bandara 3 jam sebelum keberangkatan. Walaupun pintu check in belum dibuka, tidak ada salahnya untuk menunggu di Bandara lebih lama ketimbang kejebak macet kan? Terlebih hari itu adalah weekdays. Alhasil saya diantar oleh calon suami beserta keluarga saya ke Bandara sebelum Shubuh. Yang pergi bertiga tapi yang nganter rame-rame berasa pergi Haji, haha. Setelah sholat shubuh dan minta doa restu kepada keluarga, berjalanlah kami bertiga ke pintu masuk keberangkatan internasional.


Baru mau masuk udah mejeng :D
Kami menunggu sekitar 30 menit hingga diperbolehkan check in. Penerbangan menuju Kuala Lumpur terasa singkat dan tibalah kami di KLIA 2 pukul 11.30 AM waktu setempat. Kami langsung mencari papan yang bertuliskan Transit, karena kami harus menunggu di Boarding Room tujuan kami selanjutnya yakni Tokyo Haneda. Ini kali pertama saya melakukan penerbangan transit, namun karena papan petunjuk di KLIA lengkap dan tidak membingungkan, maka kami sampai dengan selamat di depan pintu boarding room. 

Berhubung waktu sudah hampir tengah hari, maka sudah saatnya membuka bekal makanan yang dibawa dari rumah. Ngirit? Oh sudah pasti. Selama bisa bawa bekal sendiri kenapa tidak? Kami membawa mashed potatoes dicampur dengan krim keju, susu dan sayuran. Makan kami lahap bener layaknya gak makan seminggu. Tersadar kami tidak punya air minum, kami pun berkeliling ke sekitar boarding room, ternyata ada pengisian air minum gratis. Berbeda dengan bandara Soekarno Hatta yang tidak menyediakan fasilitas isi air minum gratis, di KLIA ada lhoo. Rasa airnya cukup sejuk dan kami bisa mengambil sepuasnya. Kalau di imigrasi Indonesia sudah pasti kena sita. Di KLIA kami juga sembari menunaikan Shalat Dzuhur dan Ashar, karena perjalanan kami selanjutnya akan menghabiskan waktu 7.5 jam di dalam pesawat dan akan tiba tengah malam.

Transit di KLIA 2
Langit terlihat mendung di luar KLIA 2, dan kami mengabarkan keluarga untuk kembali meminta doa restu atas perjalanan kami bertiga. Bismillah, pesawat kami sudah datang. Ini adalah pesawat Air Asia X dengan kode pesawat D7522 yang akan membawa kami terbang dari Kuala Lumpur KLIA 2 menuju destinasi kami yakni Bandara Internasional Tokyo Haneda. Tak lama panggilan untuk masuk ke dalam pesawat pun bergema, tak sabar kami langsung menaiki pesawat, dan ternyata.....

Air Asia X
Makan malam ala-ala Air Asia
 Pertama kami disambut oleh pramugari dengan senyuman khas dan kami berjalan melewati bisnis class, yang sudah pasti bentuk kursinya berbeda lah dengan yang kami pesan *nasiip. Begitu sampai di deretan kursi tengah, saya melongo saking senangnya, pesawat Air Asia X memang berukuran lebih besar ketimbang pesawat Air Asia yang biasa saya naiki. Jika biasanya hanya ada 2 baris yakni baris kiri 3 kursi dan baris kanan 3 kursi. Maka Air Asia X terdiri dari 3 baris, yakni baris kiri 3 kursi, baris tengah 3 kursi dan baris kanan 3 kursi. Kebayang kan lebih luasnya *maap norak abis. Terlebih lagi saat kami bertiga mencari nomor kursi, terdengar pengumuman dari speaker pesawat mengenai informasi-informasi dengan bahasa Melayu, Inggris dan Jepang. Mendengar bahasa Jepang menggema di dalam pesawat, makin tidak sabar rasanya untuk segera sampai di Negeri Sakura tersebut.

Perjalanan panjang yang cukup melelahkan saya habiskan dengan : mengobrol, bercanda, membaca buku, makan-makan sampai tertidur dan terbangun lagi dan tertidur lagi. Hingga sampailah waktu landing kami di Bandara Tokyo Haneda pada pukul 10.30 PM malam hari. Tiba di Bandara kami langsung melihat sekeliling dan sudah pasti ke toilet. Tidak sulit menemukan toilet karena sepanjang di dalam Bandara bertebaran toilet, yang kabarnya memang banyak tombol ajaib. Benar saja, toilet ini memang banyak tombol ajaib yang super keren. Maklum saya belum pernah melihat toilet macem ini sebelumnya di Indonesia. Selepas itu, kami menuju imigrasi Jepang untuk mendapatkan stempel masuk Jepang.

Welcome to Japan
Pertama kali lewat lorong ini langsung nyari toilet
Berbaris rapi antrian pada malam hari itu dengan banyak petugas imigrasi Jepang yang melayani. Begitu sampai antrian saya dan saya dipersilahkan untuk maju, saya sangat terkesan dengan petugas imigrasi Jepang. Dengan budaya kerja Jepang, petugas tersebut tersenyum menyambut saya dan menyapa “Konbanwa” yang artinya selamat malam. Saya pun refleks membalas senyum lebar sambil menjawab "Konbanwa". Aaarggghhhh!! Petugas tersebut mulai membuka paspor milik saya dan memeriksa Visa milik saya. Tak lama saya diminta untuk meletakan jari saya di mesin pengindai sidik jari dan memposisikan mata saya di kamera yang disediakan, mungkin untuk pemotretan *eh. Setelah proses singkat tersebut selesai, ia tersenyum mengembalikan paspor milik saya sambil mengucapkan “Arigatou Gozaimasu” yang artinya “Terima kasih”. Saya berjalan menjauhi kounter petugas imigrasi tersebut masih dengan perasaan excited luar biasa. Baru kali ini seumur-umur saya berhadapan dengan petugas imigrasi yang disambut hangat dan penuh senyum, bahkan untuk jam tengah malam. Bahkan yang sering saya temui, di pagi hari pun petugas imigrasi juga jarang senyum :D Namun Jepang ternyata berbeda, luar biasa.


Denah Haneda Intl Airport kalau nyasar
Tidur darurat di bandara Haneda

Karena waktu menunjukan sudah tengah malam tidak mungkin untuk berkeliaran apalagi mencari penginapan, maka kami memutuskan untuk menginap di Bandara Haneda dan menunggu pagi hari. Kami sudah berencana akan menginap di Bandara setelah sebelumnya saya googling apakah bisa menginap di bandara Haneda, dan ternyata banyaaaakk yang menginap di sana. Begitu keluar dari imigrasi Jepang, langsung terhampar deretan kursi-kursi yang siap untuk jadi alas tidur :D Awalnya saya masih ragu untuk tidur merebahkan badan, karena banyak petugas yang berkeliaran, namun lama-lama saya menyadari bahwa memang diperbolehkan untuk tidur di ruangan tersebut. Banyak yang saya lihat merebahkan badan dengan santai sambil menaikan kaki di atas koper miliknya. Petugas memang berkeliaran untuk berjaga-jaga saja, tidak pernah menegur dan melarang, jadi amaaaaan~ Kendati demikian, jangan lupa untuk tetap menjaga barang barang yang kamu bawa ya, misalnya ransel kecil digunakan untuk bantalan kepala, sedangkan koper besar dijadikan alas untuk merebahkan kaki.

Mau begadang semalaman? Boleh juga. Kamu tidak akan bosan menunggu pagi karena di bandara ini tersedia fasilitas free Wifii dengan kecepatan super yang akan menemani kamu semalaman. Jangan khawatir juga baterai HP habis, karena tersedia banyak meja yang dilengkapi dengan stop kontak yang bisa dipakai sepuasnya untuk cas HP. Tidak jauh dari tempat duduk kami terdapat pula smoking room untuk pengunjung. Adik saya sempat menengok ke dalam, ia bercerita bahwa smoking roomnya luas dan bersih, lebih mirip kafe daripada tempat merokok gratis

Setelah beristirahat semalaman, Shubuh pun tiba, kami shalat di ruangan Bandara tersebut dengan menggelar sajadah :D Untuk akses air minum, di ruangan tersebut juga ada air minum gratis untuk isi ulang. Ketika saya mencoba untuk mengisi ulang botol minum milik saya, luar biasa airnya superrrr dingin kayak dari kulkas. Segaaaar. Maklum norak, saya langsung minum banyak :D Tersedia juga loker penyimpanan barang, toilet dan ruang ibu hamil dan menyusui. Ruangan tersebut bisa dipergunakan juga untuk bayi atau balita yang ingin berganti popok, dengan fasilitas beberapa kasur bersabuk pengaman yang berjejer serta sebuah mesin entah apa gunanya, saya belum pernah mencobanya (berhubung tulisannya juga bahasa Jepang semua). Jepang ramah sekali untuk ibu-ibu yang memiliki bayi dan balita yaaaa :D


Tombol toilet Jepang
Demikian hari pertama menginjakkan kaki di negera Jepang yang selama ini saya mimpikan, tidak sabar untuk petualangan berikutnya.

Salam,
Noni Halimi      

Tuesday, May 20, 2014

Singgah di Jambi

Setelah menginap semalam di Santika Hotel Bengkulu dengan harga diskon lebaran (Alhamdulillah), kami melanjutkan perjalanan melewati Sungai Penuh, Jambi. Kebetulan hari sudah mulai sore dan  hari sudah menjelang maghrib. Berbeda dengan pesisir Bengkulu yang sepi, Sungai Penuh ini walaupun tidak berada di pusat kota Jambi, namun ramai riuh orang-orang yang bersiap buka puasa dan mesjid sudah ramai. Kami melipir ke tempat saudaranya dari rekan Bapak. Ini juga pelajaran hidup buat saya, Bapak saya yang jiwa jurnalis selalu berusaha mengunjungi tempat tempat baru dan singgah di rumah rekannya lah, saudaranya rekan lah, orang tuanya rekanlah. Banyak. Kalau berkunjung ke rumah saudara itu sudah pasti namun jika ke tempatnya saudara atau orangtuanya sahabat-sahabat? Mungkin banyak yang sungkan, apalagi mesti berepot-repot mencari rumahnya yang terpencil di desa.

Namun Bapak memiliki pemikiran berbeda, setiap perjalanan jauh dan melewati lokasi manaaaaa...saja yang kiranya ia pernah mendengar kerabat dari rekannya tinggal di sana, maka akan dikunjungi. Ada salah satu momen yang saya ingat, ketika itu kami sedang bepergian jauh entah di Jawa Timur bagian mana saya lupa yang jelas masih pedesaan sekali. Ketika itu Bapak teringat bahwa salah satu pegawai kantor bagian editor, pernah bercerita bahwa orang tuanya tinggal di daerah yg kami lewati tersebut. Maka dadakan Bapak mengarahkan perjalanan kami untuk ke lokasi tersebut. Dadakan. Ya, di luar dari jadwal seharusnya. Bapak kemudian menelepon rekannya tersebut yang saat itu sedang di kantor. Menanyakan alamatnya dan ancer-ancernya masuk gang sebelah mana, maklum pedesaan dengan kondisi gunung dan bukit. Betapa kaget dan terharunya rekan Bapak tersebut, ia baru menikah beberapa bulan yang lalu dan belum sempat mengunjungi keluarganya di kampung lagi, eh malah Bapak saya yang berkunjung.

Masuk ke area perkampungannya sangat luar biasa, terjal mendaki dan menyenangkan. Hingga sampailah kami di lokasi yang dimaksud. Kami disambut dengan sumringah setengah bingung oleh orang rumahnya. Sesaat sebelumnya rekan bapak langsung menelepon orang rumahnya bahwa kami akan berkunjung. Bapak pun mempekenalkan diri dan bilang ingin silaturahim karena memang lewat daerah sini. Bukan main senangnya keluarga di sana, kami disuguhkan susu sapi murni yang baru saja diperas dari sapi. Susu itu langsung di rebus dalam tungku kayu bakar dan diminum hangat-hangat. Saya pun menengok di belakang rumah ada kandang sapi dan kambing mungil. Bagian depan rumah ada kebun yang berisi sayur-sayuran.

Sembari Bapak saya mengobrol dan menikmati susu hangat dengan Ayah dan Ibu dari rekan bapak saya itu, dengan sigap Bapak langsung mengeluarkan kamera kepada saya, hanya isyarat saya, tapi saya mengerti maksudnya adalah...pasti minta diambilkan foto. Ya ya..Jurnalis. Saya mengambil foto cukup banyak baik orang tua tersebut dan lingkungan rumahnya. Beberapa bulan kemudian, salah satu dari orang tua rekan Bapak saya itu berpulang. Saya agak lupa, entah Ayahnya atau Ibunya. Dan rekan bapak belum sempat menengok. Dan foto yang saya ambil itulah kenangan terakhir dan foto terakhir yang diambil :(

Kembali ke Jambi lagi, atas dasar silaturahim dan hobi Bapak saya yang ketemu banyak orang, maka kami singgah di sebuah rumah makan milik saudara dari rekan Bapak. Memang tinggalnya di Jambi, namun mereka membuka usaha rumah makan padang kecil-kecilan yang sangat ramai peminatnya. Kami memang berencana buka puasa di sana, sembari mengobrol dan menyantap makanan khas padang, terutama dendeng baladonya yang supeerrrr! Rezeki gak kemana, walaupun kami bersikeras untuk membayar makanan kami, namun mereka pun bersikeras untuk menolak, sampai akhirnya ya sudah kami makan ditraktir yang punya warung hehe. Insya Allah akan dibalas dengan kebaikan baik yang berunjung maupun menjamu, aaamiiin.

Pesisir Bengkulu

Perjalanan kami sekeluarga ke Padang cukup melelahkan namun menyenangkan. Rute kami yang menggunakan jalur darat membuat adrenalin kami terpacu dan sering dikir, hehe. Bagaimana tidak, sepanjang perjalanan kami disuguhkan oleh pemandangan yang luar biasa cantik dan mengerikan. Kami menyusuri jalur Bengkulu melalui pesisir pantai, suasana yang panas dan menyengat sisi barat pantai membentang tiada ujung. Jalan raya pun sepi dan lalu lalang hewan sapi dan kerbau di jalan raya menjadi pemandangan biasa. 

Hari itu hari-hari terakhir Ramadhan. Dari kecil kami diajarkan kedua orang tua yang senang bepergian jauh menjelang lebaran, bahwa sejauh apa pun perjalanan kami, jika tidak sakit dan masih kuat untuk tetap berpuasa, maka berpuasalah, insya Allah berkah musafir akan lebih terasa. Memang ada rukhsah (kemudahan) untuk tidak berpuasa ketika sedang perjalanan jauh dan diganti dengan hari lain, namun mengapa kita sia-siakan Ramadhan mulia ini? Maka kami sekeluarga tetap berpuasa walaupun pergi jauh ke berbagai tempat saat Ramadhan.

Hari mulai gelap dan kemungkinan adzan maghrib segera berkumandang, kami masih perjalanan di pedesaan Bengkulu. Sungguh pesisir Bengkulu ini agak jauh dari suasana Islami, tidak ada tanda-tanda orang berpuasa dan bersiap maghrib ke surau terdekat. Berhubung menjelang maghrib, maka kami putuskan untuk berhenti di salah satu mesjid pinggiran desa Bengkulu. Sepi.

Kondisi mesjidnya cukup memprihatinkan, bahkan ketika waktu Maghrib area Bengkulu dan sekitarnya telah tiba, tidak satu pun orang yang datang ke mesjid itu, bahkan untuk sekedar adzan. Padahal saat itu Ramadhan, yang biasanya orang lebih giat ibadah. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana dengan hari biasanya. Astaghfirullah. Kami pun mengumandangkan adzan tanpa speaker. Kemudian membuka bekal perjalanan kami yang sudah kami siapkan dari Lampung. Santapan berbuka puasa nikmat langsung ludes, maklum orangnya juga banyak, dua mobil penuh hehe. Setelah berbuka puasa, dan membereskan perlengkapan makan kami, kami lalu menunaikan shalat maghrib berjamaah. 

Ketika selesai sholat dan berberes ingin meninggalkan area mesjid, barulah dua tiga orang bapak paruh baya masuk mesjid dan hendak bersiap sholat. Pun tidak ada dikumandangkan adzan. Menurut saya juga itu sudah lewat waktu Maghrib cukup lama. Entahlah. Menjadi pengalaman dalam hidup saya juga, bahwa beruntung untuk kita yang masih tinggal dipemukiman yang mesjidnya hidup dan dihidupkan. Masih terdengar adzan, masih banyak orang yang tergerak untuk sholat di mesjid. Bersyukurlah.