Showing posts with label kl. Show all posts
Showing posts with label kl. Show all posts

Sunday, April 6, 2014

KL Trip : 27 January 2014 (Central Market - Petaling Street - China Town - LCCT)

Tidak terasa ini adalah hari terakhir perjalanan Saya dan Febi di Kuala Lumpur. Kami akan terbang pukul 14.45 sehingga hanya memiliki waktu sedikit untuk berjalan-jalan sekitar Pasar Seni. Kali itu kami memang berencana untuk membeli cokelat di Choc Boutique yang berada di dekat pintu utama dari Central Market. Setelah mandi dan sarapan gratis di hostel, kami bergegas keluar.

Memang setelah saya bandingkan harga-harga yang menjual cokelat saat kemarin saya berkelana, memang choc boutique yang ada di central market inilah yang paling murah. Ada pula choc boutique yang ada di KL Sentral. Namun tahun lalu saya membeli di Central Market dan pedagangnya sangat ramah, maka saya nggak kapok untuk kembali lagi. Bahkan 2 tahun lalu saya ke KL dan mencoba membeli coklat di Beryl Kingdom namun harganya luar biasa mahaaaaal.


Setelah berbelanja cokelat berapa kilos hahahhaa, saya dann febi melipir ke Petaling street untuk sekali lagi berbelanja, selesai berbelanja kami kembali ke hostel untuk bersiap pulang. Kami perpisahan dengan pemilik hostel dan bergegas menuju bandara LCCT. Tentunya kami menggunakan LRT Pasar Seni – KL Sentral, setelah itu baru menaiki Bus dengan tujaun KL Sentral – LCCT. 

Sesampainya di bandara kami tak menunggu lama untuk kembali pulang ke Jakarta. Well done, trip yang sangat berkesan dan menyenangkan dan banyak ilmu yang bermanfaat. Semoga bisa ke KL lagi nanti bersama keluarga bulan puasa nanti, insya Allah, Aaamiin yaa Robbal’alamiin


Cek total pengeluaran selama Trip KL 4 hari 3 malam :

Day 1
Minum @ 3.2 RM x 2 = 6.4 RM
SIMCARD @ 35 RM x 2 = 70 RM
Tiket Genting @ 10.30 RM x 2 = 20.60 RM
Tiket LRT KL Sentral – Pasar Seni = Free by Bang Wasif
Hostel 210 RM
Tiket Bus @ 8 RM x 2 = 16 RM
Total  = 323 RM

Day 2
LRT ke KL Sentral @ 1 RM x 2 = 2 RM
Cable Car @ 6 RM x 2 = 12 RM
Bus Pulang @ 3.4 RM x 2 = 6.8 RM
Taxi ke Batu Caves = 10 RM
Minuman Kaleng @ 1 RM x 2 = 2 RM
KTM ke Shah Alam @ 3.9 RM x 2 = 7.8 RM
Bus No. 529 @ 1 RM x 2 = 2 RM
Sosis dan Gorengan Stick @ 3 RM x 2 = 6 RM
Beli Minuman 3 RM + 2 RM = 5 RM
Bus U80 @ 1 RM x 2 = 2 RM
Bus ke Seksyen 2 @ 50 sen x 2 = 1 RM
KFC Dinner 16 RM
Aqua di Sevel @ 1.3 RM x 2 = 3.6 RM
Taxi ke Padang Jawa 10 RM
KTM dari Padang Jawa – KL Sentral @ 2.9 RM x 2 = 5.8 RM
LRT KL Sentral – Pasar Seni @ 1 RM x 2 = 2 RM
Jajan di Masjid 3 RM
Total = 96 RM

Day 3
Bus Putrajaya @ 3.5 RM x 2 = 7 RM
Nadi Putra @ 50 sen x 4 = 2 RM
KLIA Transit @ 5.3 RM x 2 = 10.60 RM
LRT Hang Tuang @ 1.5 RM x 2 = 3 RM
Monorail Bukit Bintang @ 1.5 RM x 2 = 3 RM
LRT Pasar Seni @ 1.6 RM x 2 = 3.2 RM
Nasi Lemak , Teh Tarik, Teh O = 9.4 RM
Total = 38.20 RM

Day 4
LRT Ps Seni – KL Sentral @ 1 RM x 2 = 2 RM
Bus dari KL Sentral – LCCT @ 8 RM x 2 = 16 RM
Total 18 RM

Total Pengeluaran selama di KL adalah 323 RM + 96 RM +  38.20 RM + 16 RM = 473.2 RM, atau 236.6 RM per orang (senilai dengan 910.910 IDR)

Artinya dengan budget 1 juta pun kamu bisa keliling KL dengan murah dan asik ala backpacker dan budget traveler kaaaan. Tentunya itu diluar tiket pesawat dan belanjaan. Tipsnya ya belilah tiket pesawat jauh hari sehingga dapatkan dengan harga murah. Untuk belanjaan ya belanjalah seperlunya, sesuaikan dengan budget belanja sehingga tidak mengganggu budget operasional traveling. Sekian share dari saya, semoga bermanfaat, selamat berpetualang!

KL Trip : 26 January 2014 (KL City Gallery - Mesjid Putra / Pink Mosque - Sungei Wang - Bukit Bintang - Suriah KLCC Twin Tower - Pasar Seni)

Pagi itu Saya dan Febi bangun lebih santai, dan bersiap dengan santai tidak seperti sebelumnya kami berangkat terburu-buru. Kami pun sempat sarapan di hostel dan mengisi amunisi untuk perjalanan kami hari itu. Kami berjalan keluar hostel pada pukul 09.00 pagi dan berkeliling Dataran Merdeka, masuk ke KL City Gallery dengan pintu masuk icon I LOVE KL. Masuk ke KL City Gallery tidak dipungut bayaran alias free. Itu juga yang membuat saya sangat semangat haha. Sebenarnya ada city tour sekitar Dataran Merdeka namun sayang hari itu tidak ada jadwalnya. Di dalam KL City Gallery terdapat miniatur  landmark wisata yang menarik di KL, ada Mesjid Jamek, Dataran Merdeka, Twin Tower dan lain-lain. Tak lupa juga ada tempat membeli oleh oleh dengan ukiran kayu unik berbentuk landmark KL. Lucu-lucu tapi sayang mahal, haha.

Historical Treasure
National Heritage of Malaysia
Bagian Depan KL City Gallery
Area Dataran Merdeka
Icon I Love KL
Kerajinan Ukiran di KL City Galerry
Galeri Kuala Lumpur
Bangunan Mesjid Samad

Di KL City Gallery terdapat satu tempat yang membuat saya terpukau, ia adalah Discover City. Awalnya saya tidak tahu itu tempat apa, saya masuk ke dalam, terdapat di lantai 2. Begitu sampai melalui Red Carpet, ternyata sepi. Saya ragu-ragu mendekat. Namun ternyata ada petugas laki-laki yang sedang duduk di depat pintu yg tertutup tirai. Begitu melihat saya, ia langsung berdiri dan bersemangat menyambut. “Come on, let’s go, faster” sambil menggerakkan tangannya mengajak saya untuk masuk ke dalam ruangan. Wah semangat banget, padahal Cuma saya dan Febi aja di sana. Kemudian sebelum masuk ruangan, ia berkata “You can walking around, but do not touch. You can take a picture but please dont using flash, okay?” Kami mengangguk. “Take your time”

Kemudian saya dan Febi dipandu masuk ruangan gelap. Tak lama setelah  kami masuk tiba2 di depan kami berdiri ada layar besar dengan intro musik yang keren, saya memperhatikan, ternyata video tempat tempat wisata yang ada di KL. Saat saya asik melihat tayangan, tiba-tiba di depan kami menyala semua.

Wooow! Ternyata tempat di depan kami adalah meja superrr besar yang bersikan miniatur kota Kuala Lumpur, dengan bangunan bangunan di dalamnya. Benar-benar kota Kuala Lumpur dijadikan miniatur. Persis. Saya melihat Twin Tower bercahaya dan gedung-gedung lain bercahaya. Luar biasa. Seperti melihat kota Kuala Lumpur dari atas langit pada malam hari. Semua terlihat kecil dan cantik. Sekitar 5 menit saya dan Febi berdecak kagum, dan mikir kapan Indonesia punya beginian, fiuh.

Discover The City

Penampakan KL Discover The City di Dalam Ruangan
Setelah  puas keliling dan foto di sekitar sana, kami berjalan menuju pemberhentian bus menuju Putrajaya, katanya sih di dekat Mydin (Supermarket wholesale yang cukup terkenal di KL yang menjual berbagai macam barang). Kami menaiki Bus Putrajaya dengan pemberhentian akhir di terminal Putrajaya. Harga tiket bus adalah 3.5RM. Tak memakan waktu lama, kami pun sampai di terminal Putrajaya. Kami bertanya ke supir, bagaimana cara melanjutkan perjalanan untuk sampai ke Mesjid Putra?

Katanya kami harus menyambung menaiki bus Nadi Putra. Bus itu adalah Bus dalam komplek Putra, memang harus menaiki bus tersebut. Harga tiket Nadi Putra hanya 50 sen. Saat kami naik, sangat kosong, dan kami langsung mengambil tempat duduk paling depan dekat supir supaya mudah untuk bertanya. Di perjalanan ternyata supirnya sangat ramah dan menceritakan banyak hal tentang Putrajaya. Beliau juga penggemar sinetron Indonesia dan fans-nya Acha Septriasa. Weew. Hahhaa.

Bis Nadi Putra  adalah angkutan utama di Putrajaya dan hampir semua kawasan dilewati oleh Nadi Putra. Jadi  seperti halnya Bis Kuning yang melewati puteran kampus UI, mungkin ini juga seperti Bis Kuning. Sampai di halte pemberhentian yang kami maksud (setelah tanya dan pedekate sama supir Bus Nadi Putra yang sangat ramah, kami pun turun di halte terdekat menuju Mesjid Putra (Mesjid Pink). Kami berjalan menyusuri pinggir komplek Putra.

Sampai di Mesjid Pink super panas dan sangat menyengat. Saya yang tadinya malas mengeluarkan payung jadi beneran mengeluarkan payung saking panasnya. Kami tak sabar berjalan menuju Mesjid Pink ini. Dari luar sudah menjulang kubah dengan arsitektur menawan dan warna imut bangeeettt. Ternyata Mesjid Putra sedang ada renovasi. Kami masuk ke dalam Mesjid Putra.

Mesjid Putra (Pink Mosque)
Penampakan Bagian dalam Mesjid Putra
Ditetapkan aturan bahwa untuk masuk ke dalam harus menggunakan baju panjang dan jilbab. Jadi yang tidak  mengenakan jilbab wajib memakai jubah ala voldemort. Warna jubahnya adalah merah. Lucuuuu. Bahkan yang menggunakan jilbab tapi bajunya tidak menutupi bagian bawah pinggang pun disuruh  untuk memakai jubah. Saat itu saya sedang menggunakan baju panjang selutut dan jeans sedangkan febi menggunakan dress sehingga kami bebas masuk tanpa dipanggil petugas untuk mengenakan jubah voldemort itu.
Jubah ala Voldemort untuk masuk ke Mesjid Putra
Febi langsung menunaikan Shalat Dzuhur jamak dengan ashar, sedangkan saya menunggu di pinggir Mesjid karena sedang libur. Saya perhatikan banyak anak kecil berkeliaran dengan wajah turunan Timur Tengah yang menggemaskan. Saya berkeliling dan menemukan papan ini di samping Mesjid. Cerdas. Memang kita harus mendahulukan panggilan Allah untuk shalat ketimbang mendahulukan panggilan dari manusia.
Hayoooooo!
Suasana di pinggir Mesjid Putra juga asri dengan pemandangan menuju ke arah luar terdapat danau luas dan jembatan serta semilir angin membuat kami berdua makin aktif foto-foto. Tak lupa saya juga mengirimkan pesan kepada Bapak saya di Jakarta yang menanyakan saya pergi kemana saja hari ini. Memang setiap saya perjalanan jauh akan selalu dipantau karena Bapak saya juga petualang, jadi Bapak saya wajib tahu area destinasi saya.
:D
Selesai dari Mesjid Putra lalu kami keluar komplek dan menyusuri tempat yang tadi, kembali ke halte awal kami datang. Dari sana kami naik Bus Nadi Putra untuk kembali ke terminal Putrajaya. Dari Terminal Putrajaya lalu kami melanjutkan perjalanan ke Bukit Bintang. Memang jarak Putrajaya sudah cukup jauh dari KL, namun kita bisa menempuhnya dengan mudah dan cepat menggunakan MRT atau LRT. Saat  itu kami memilih untuk menaiki KLIA Transit, yakni kereta yang bertujuan akhir ke Bandara Internasional Kuala Lumpur. Terdapat 2 jenis kereta yang mengantar ke KLIA ini. Ada KLIA Transit yang berhenti di beberapa stasiun kereta, dengan kecepatan dan harga tiket yang lebih rendah. Ada pula KLIA Express dengan pemberhentian hanya di KLIA, kecepatannya tinggi, harganya pun juga cukup mahal.

Saya dan Febi memilih untuk mencoba menaiki KLIA Transit, saya belum pernah menaiki ini sebelumnya, maka yuk dicoba. Harga tiket KLIA Transit dari Putrajaya adalah 5.3 RM berhenti di Hang Tuah. Dari Hang Tuah kami berganti jenis kereta yakni menggunakan kareta Monorail dengan bentuk kereta yang lebih kecil dan susunan tempat duduk yang sedikit, lebih banyak yang berdiri dan pastinya penuh.

Penampakan KLIA Transit
Bagian Dalam Kursi KLIA Transit

Kami turun di pemberhentian stasiun Bukit Bintang. Dari sana sangat dekat sekali masuk ke Sungei Wang. Itu adalah salah satu jejeran mall yang terdapat di Bukit Bintang. Saya dan Febi hanya iseng melihat lihat sembari penasaran mencari sendal dan sepatu produksi khas dari Kuala Lumpur yang harganya 10RM. Ternyata ketemu! 

Saya melepas pandang pada jejeran sepatu dan sandal serta wanita-wanita yang sibuk menjajal. Saya biasa saja, tidak begitu tertarik membeli karena modelnya pun mirip dengan di Jakarta, rata-rata adalah flatshoes. Dan untuk harga termurah adalah model sandal jepit 10RM. Malas sekali rasanya membeli sandal jepit seharga 10RM, maka saya mengurungkan niat untuk membeli (bilang aja gak punya budget wakakak).

Hari sudah mulai sore, sekitar pukul 17.00. Waktu yang pas untuk berjalan kaki menyusuri Bukit Bintang. Daerah Buki Bintang makin gemerlap ketika malam hari karena makin banyak jajanan dan lalu lalang orang. Namun kami rencananya memang tidak ingin berlama-lama. Di sana banyak terdapat jejeran Mall dengan isi yang kurang lebih sama lah dengan Jakarta. Saya tidak begitu tertarik memasukinya satu per satu, hanya Sungei Wang yang saya masuki, karena sebelumnya saya juga sudah pernah ke Bukit Bintang dan berkeliling masuk beberapa Mall. Yaa hasilnya biasa saja.

Di perjalanan saya menemui tukang es krim turki nomaden yang sedang melayani pelanggannya. Berkerumun banyak orang karena penjualnya menggoda pembeli dengan atraksi es krim diputar balik namun tidak tumpah. Pejalan kaki ada yang hanya melihat saja sambil menikmati atraksi permainan es krim pak Turki gratis tanpa harus membeli es krim (contohnya saya dan Febi hahaha). Ohya saya sempat berkunjung ke Sephora, yakni toko kosmetik yang cukup tenar di kalangan wanita high class, bagaimana tidak harganya pun high class. Saya hanya melihat sebentar lalu kembali keluar.

Es Krim Turki
Setelah berkeliling Bukit Bintang tiba saatnya tujuan destinasi berikutnya yakni KLCC atau Twin Tower. Kami menaiki KL City Tour Bus, namanya Go KL, yakni bis untuk wisata yang bisa dinaiki di halte-halte wisata dan menariknya bus ini gratis. Nah ini yang saya suka! Hahaha. Kami berlari ke tempat pemberhentian bus di seberang sana, agak terburu-buru karena kami salah berdiri menunggu bus, kurang ke arah utara. Alhasil pada saat bus datang dan tidak berhenti di depan kami namun berhenti jauuuh di depan kami, ya kami berlari mengejar. Saya dan Febi turun di pemberhentian hotel yang dekat sekali dengan bagian belakang Twin Tower dan Surriah Mall. Kami berjalan menuju Suriah Mall dengan berjalan kaki melalui pintu belakang.

Sebelumnya saya pernah juga masuk ke Suriah Mall, dan memang tidak ada yang dapat dibeli di sana, mahal. Di sana kita bisa masuk untuk naik ke Twin Tower, namun saya memang dari awal tidak ada niat untuk naik ke atas saya, saya nyari gratisan maka saya akan menikmati Twin Tower dari luar, dari taman seperti tahun lalu.

Saat di dalam Suriah Mall, saya dan Febi sempat ke tolet  namun ada yang berbeda. Jadi saat masuk ke lorong menuju restroom, di ujung lorong terdapat petugas berseragam yg menjaga, dan ada kotak untuk membayar. Yaaa seperti toilet berbayar gitu lah. Sepertinya dulu waktu saya ke toilet Suriah ini tidak berbayar deh, maka saya bertanya kepada petugas, dan memang benar harus bayar. Untuk toilet yang free terdapat di lantai bagian atas. Saat berjalan keluar lorong saya sempat melihat tulisan Executive Restroom. Walahh ya pantes aja bayar, eksklusif ternyata. Sebenernya saya penasaran seperti apa isi dalamnya restroom itu, kenapa sampai harus bayar. Namun lagi-lagi, di sebuah perjalan memang niat dan keinginan selalu ada, namun budget lah yang menentukan pada akhirnya (yang intinya adalah Saya gak jadi masuk toilet berbayar itu).

Saat sore menjelang matahari terbenam, namun masih terang. Saya dan Febi keluar dari Suriah dan berjalan menyusuri taman air mancur yang berada di belakang twin tower. Saat ini belum gelap maka suasana belum kontras cahaya dalam twin tower. Kami tidak membuang waktu, maka berpose sebanyak mungkin sebelum gelap. Saat matahari sudah terbenam dan gelap, maka terlihatlah sisi eksotis twin tower atau menara kembar Petronas, cantik! Dua gedung kembar ini menjulang tinggi dengan jembatan penghubung sedang bangunan tersebut dibalut cahaya. Sungguh memukau sih.

Twin Tower

Puas foto-foto di twin tower, kami pun berjalan pulang menuju MRT KLCC yang berada di bawah tanah. Jadi dipinggir jalan raya terdapat seperti ruang bawah tanah dengan tangga di dalamnya, itu menuju ke MRT KLCC. Kami akan naik MRT dari KLCC menuju Pasar Seni. Sebelum pulang, kami nyemil sausage dan baso tusuk pinggir jalan dulu, harganya beda 20 sen dari yang biasa kami beli kemarin. Yaa karena mungkin belinya di pinggir twin tower.

Oh ya, sebelum berangkat ke Putrajaya kami menyempatkan diri untuk makan di Restoran Yusof, yakni restoran Arab yang lokasinya persis di samping Kasturi Walk, Pasar Seni. Kami memesan Canai dan Nasi Lemak Porsi Besar, Teh Tarik serta Teh ‘O (Es Teh), total makan dan minum adalah 9.4RM.

Bagian Depan Restoran Yusoof and Zakhir
Our Menu
Setelah pulang dari KLCC, kami lanjut berkeliling ke dalam Cetral Market, saat itu sudah pukul 21.30 sehingga sudah banyak toko yang bersiap tutup. Kami hanya berkeliling sebentar dan memang planning kami ke Central Market adalah esok hari. Perjalan ditutup dengan perut yang kenyang dan kaki yang mulai terasa lelah (baru berasa sekarang) :D

Cek pengeluaran kami hari ini :
Bus Putrajaya @ 3.5 RM x 2 = 7 RM
Nadi Putra @ 50 sen x 4 = 2 RM
KLIA Transit @ 5.3 RM x 2 = 10.60 RM
LRT Hang Tuah @ 1.5 RM x 2 = 3 RM
Monorail Bukit Bintang @ 1.5 RM x 2 = 3 RM
LRT Pasar Seni @ 1.6 RM x 2 = 3.2 RM
Nasi Lemak Total 9.4 RM
Total Pengeluaran 38.20 RM untuk 2 orang

KL Trip : 25 January 2014 (Genting Highland - Batu Caves - Blue Mosque - I City)

Pagi itu sudah pukul 05.30 pagi waktu Malaysia, ketika adzan berkumandang, saya membangunkan Febi untuk bergegas Shalat Shubuh dan kami pun bersiap-siap untuk perjalanan menyenangkan kami di hari kedua ini. Kemarin kami memang berpesan kepada penjaga hostel bahwa akan berangkat lebih pagi, dan kemungkinan tidak sarapan.  Di Jakarta mungkin bersiap pukul 05.30 atau 06.00 menjadi sangat terburu-buru dan  jalan raya pun sudah padat. Berbeda halnya dengan di Malaysia, pukul 06.30 pagi masih belum ramai dan masih cukup sepi.

Kami berangkat pada pukul 06.30 menuju LRT Pasar Seni. Jarak hostel kami ke LRT Pasar senin hanya 100 meter saja, cukup berjalan kaki dan dekat sekali dengan Pasar Seni. Kami tidak perlu terburu-buru karena target sampai KL Sentral adalah pukul 07.00. LRT sudah mulai beroperasi lho jam 06.30.

LRT melaju dengan cepat dan sesuai jadwal, sampailah kami di KL Sentral. Bus Genting Highland berangkat dari basement lantai paling bawah di KL Sentral. Saat itu sudah banyak yang menunggu keberangkatan Bus Genting Highland. Jadwal paling awal yakni 07.30. Ada segerombolan turis Jepang dan juga wisatawan lokal dari Malaysia. Tak lama menunggu, kami pun masuk ke dalam bus. Sebelum masuk bus, satu per satu tiket kami diperiksa. Saya dan Febi mencari nomor duduk bangku kami. Dan ternyata kami duduk di bangku paling belakang. Horeeee! Pengalaman duduk di belakang :D Bus berangkat sangat on time, saya lirik jam digital di bagian depan bus, ya pukul 07.30 bus mulai melaju keluar dari terminal KL Sentral. Awalnya saya melihat Mesjid Negara, Railway Station yang sangat unik arsitekturnya dan banyak lagi. Tak lama kami masuk jalur bebas hambatan.

Selfie Dulu :p
Jalanan berubah dari jalan tol dengan pemandangan sisi kanan kiri yang tidak menarik menjadi agak menanjak dan berliku. Mirip sekali dengan jalanan di puncak. Kondisi luar pun mulai berselimut kabut, dan kuping saya muai budeg. Tidak terasa sudah 1 jam 30 menit perjalanan kami, sampailah di terminal Genting pukul 09.00. Situasi di terminal masih sangat sepi, karena bus kami adalah bus pertama yang datang dari KL Sentral. Saya dan Febi langsung menuju ke lantai atas, mengikuti petunjuk untuk menaiki Cable Car Genting Highland. Tidak perlu membeli tiket lagi karena tiket yang saya beli seharga 10,30 RM sudah termasuk di dalamnya tiket naik Cable Car.

Cable Car yang kami akan naiki juga tidak perlu antri, benar benar masih kosong. Saya dan Febi menaiki satu cable car. Senangnya bisa menaiki cable car secara private tanpa bergabung dengan rombongan lain. Mungkin karena masih pagi sekali dan kosong ya. Seharusnya cable car bisa dinaiki oleh 5-6 orang, dengan tempat duduk yang saling membelakangi.

Cable Car Genting
Sebelum cable car berangkat, kami diminta untuk berpose dalam cable car dan difoto oleh tim foto Genting Highland. Seperti di tempat rekreasi di Jakarta, mungkin nanti kami akan diminta membeli fotonya. Selama perjalanan cable car selama 15 menit kami disuguhkan pemandangan eksotis di ketinggian beberapa ratus meter dari daratan. Kabut mulai menyelimuti kembali dan sinar matahari masih malu-malu untuk muncul. Tanpa membuang waktu kami bergantian untuk mengambil foto, saatnya selfie  hahahaha.

Pelepasan Cable Car Genting
We're on the sky
Horeeee Sampai di Pemberhentian Cable Car
Sampai di pemberhentian cable car Genting Highland, kami langsung keluar dan menemukan foto kami sudah tercetak di sana. Wow. Sepertinya tadi baru saja di foto waktu di pemberangkatan cable car dan sudah tercetak di seberang sana. Sepertinya mereka memiliki penghubung, jadi pada saat wisatawan difoto saat berangkat, foto langsung di cetak di pemberhentian cable car. Sehingga saat wisatawan turun dari cable car sudah bisa melihat hasilnya dan jika berniat membeli bisa langgsung membeli. Saya penasaran melihat hasilnya, dan penasaran juga melihat harganya haha. Hasilnya cukup bagus tapi harganya yang nggak bagus. Satu foto seharga 20RM. Weeewwww. Terpaksa saya mengurungkan niat untuk membeli foto itu (padahal dari awal juga sudah nggak niat, pasti mehong soalnya).

Peta Theme Park
Salah Satu Permainan di Indoor Theme Park
Dari pemberhentian cable car tersebut, wisatawan bisa berjalan jalan di Genting Highland dengan aneka mall yang saling terhubung. Diantaranya ada yang berisikan indoor theme park dengan beraneka ragam permainan, dimulai dari kereta-keretaan, roller coaster, mobil-mobilan dan sebagainya. Saya dan Febi tidak tertarik untuk main, permainan indoor rasanya kurang seru. Kami hanya berkeliling dan berfoto, kebetulan juga di bagian luar Genting outdoor theme park sedang dalam proses renovasi sehingga tidak dibuka. Di dalam Genting Highland banyak hotel dan banyak sekali tempat casino. Ya di sana memang tempat orang bermain judi. Saya hanya penasaran seperti apa Genting. Kami memang tidak akan berlama-lama di sana, pukul 10.30 kami bersiap untuk pulang.
Masih Sepi :D
Roller Coster

Kami menuju cable car dengan membeli tiket cable car untuk pulang. Kemarin kami hanya  membeli tiket berangkat tanpa tiket pulang supaya waktunya lebih fleksibel karena kami belum pernah ke sana sebelumnya sehingga tidak dapat memprediksi jadwal bus dan cable car untuk pulang. Harga tiket cable car single trip per orang adalah 6 RM. Sampai di terminal pemberhentian bus, kami menuju Bus Genting Highland – Gombak karena kami akan meneruskan perjalanan ke Batu Caves. Kami tidak kembali lagi ke KL Sentral, karena jarak Gombak dengan Batu Caves sudah dekat ketimbang KL Sentral.

Kami membeli tiket bus seharga 3.4RM. Saat menunggu bus berangkat, kami masih duduk duduk di kursi tunggu persis di samping Bus Genting Highland. Saya dan Febi tidak melewatkan waktu untuk berfoto, kami bergantian foto dengan latar belakang Bus Genting Highland. Ternyata ada wisatawan China yang memperhatikan kami berfoto bergantian, dan ia menawarkan diri untuk mengambil foto, supaya Saya dan Febi bisa berfoto berdua, tidak bergantian. Baik banget itu mas-mas China, hehehe. Nggak nolak rezeki, Saya dan Febi pun langsung berpose. Klik.

Difotoin Mas Mas China hahahaha
Perut sudah kelaparan, untung kami  membawa roti yang bisa kami makan. Saat diminta untuk masuk bis, saya mencari nomor kursi sesuai dengan yang tertera di tiket bus. Namun ternyata kursi kami sudah ditempati oleh orang, Febi pun menunjukkan tiket kami dan menyamakan dengan nomor kursi. Ternyata itu memang kursi kami. Lah kok sudah ditempati orang. Kemudian  orang tersebut berkata “free for seat” yang artinya adalah kamu boleh duduk secara random yang kamu suka tanpa sesuai dengan nomor kursi yang tertera di tiket. Berbeda dengan bus waktu berangkat yang terisi full dan duduk sesuai nomor, bus menuju Gombak ini hanya terisi segelintir orang. Tanpa menunggu lama, bus pun berangkat walaupun hanya terisi sedikit saja penumpang. Berhubung free for seat, kami memilih untuk duduk di kursi paling depan. Kalau berangkat pagi di kursi paling belakang maka kali ini pulang di kursi paling depan.

Perjalanan menuju Gombak kurang saya perhatikan karena saya terserang ngantuk luar biasa. Perjalanan pun tidak terlalu lama, kami pun sampai di terminal Gombak. Saat itu pukul 11.30, dan luar biasa sangat  panas. Kami membeli minuman kaleng seharga 1 RM untuk menghilangkan dahaga di vending machine. Fiuuh. Kemudian dilanjutkan untuk mencari taxi untuk menuju Batu Caves. Awalnya saya dan Febi khawatir dengan taxi tanpa meter terlebih di terminal seperti ini dan banyak taxi yang ngetem. Untuk memastikan, kami pun mendekat ke taxi yang sedang ngetem dengan supir taxi yang sedang beristirahat. Kami bertanya mengenai taxinya apakah menggunakan meter?

Di Malaysia sebutan untuk taxi dengan argo adalah taxi meter. Jadi, meter itu ya argo. Sering saya temui taxi tanpa meter di KL yang langsung tembak harga. Untuk turis luar seperti kami dan jika tak pandai menawar, pastilah kena mahal. Daripada sesat dikemudian hari, lebih baik kami bertanya sama Pak Cik supir taxi. Kemudian pak supir taxi memberitahu bahwa taxi di sini menggunakan meter alias argo. Kami pun lega, dan tanpa basa basi kami naik taxi Pak Cik itu. Dengan ukuran taxi yang jauh lebih besar dari taxi lainnya, saya berpikir mungkin meterannya akan lebih mahal. Soalnya di Singapur seperti itu. Taxi yang ukurannya lebih besar daripada taxi sedan, harga argonya lebih mahal. Namun ternyata taxi di KL tidak seperti itu, harga meternya sama! Dari terminal Gombak ke Batu Caves hanya 15 menit dan menghabiskan 10RM.

Batu Caves adalah salah satu tempat pemujaan suci orang India yang terletak di Selangor, kurang lebih berjarak 13 km dari Kuala Lumpur. Tempat ini merupakan kuil yang paling populer di Kuala Lumpur yang dipersembahkan untuk Dewa Murungan. Patung Dewa Murungan terdapat persis di pintu masuk setinggi 42.7 meter.

Begitu sampai di sana, banyak wanita India menggunakan baju tradisional sari dan rambut panjang dengan aksesoris khas India. Benar-benar terasa seperti di India,  bukan di KL. Di bagian depan terdapat icon patung emas Dewa Murungan yang menjulang tinggi dan dibagian sekitarnya dipenuhi oleh burung dara dan wisatawan yang sibuk memberi roti kering untuk burung dara tersebut.

Burung Dara di Sekitar Pelataran Batu Caves
Bersiap Pendakian
Untuk mencapai ke atas gua, kami berdua harus mendaki 272 anak tangga, menjulang hingga 100 meter. Huwaaaa serunya! Saya paling senang mendaki seperti ini, rasa penasaran ingin tahu di puncak ada apa yaaa (walaupun sudah banyak googling foto-foto Batu Caves, namun tak puas rasanya jika belum melihat langsung kan).

Pendakian Batu Caves sangat seru, kami berbarengan dengan berbagai macam turis asing dari banyak negara dan etnis. Dari bocah kecil sampai lanjut usia yang penasaran mendaki Batu Caves, juga dari orang-orang Hindu yang ingin beribadah di atas puncak Batu Caves.  Mereka diguduli dan diolesi oleh krim entah apa itu namanya. Mereka mendaki tanpa alas kaki. Mungkin memang seperti itu peraturannya. Saya juga melihat adat yang cukup unik dimana seorang laki-laki (sepertinya seorang Bapak) mendaki ke puncak Batu Caves dengan cara merangkak sambil seorang wanita meletakkan bayi di punggung laki-laki tersebut seperti main kuda-kudaan. Entahlah mungkin semacam upacara adat untuk kelahiran bayi (sotoooyyy)

Upacara Di Tangga Batu Caves
Saat pendakian, lucunya ada turis suami istri yang lanjut usia, dan melihat Febi sudah kelelahan, sedangkan saya masih semangat empat lima. Dia berkata : “Heii..you’re younger than  me, come on.” Katanya sambil menyemangati,    sedang istrinya tersenyum. Hahahaha, saya cuma nahan ngakak aja. Bagi yang takut dengan monyet, harap berhati-hati karena di tangga-tangga menuju puncak bertebaran monyet jahil yang sangat lihai merampas barang bawaan dan makanan.



Sampai di atas bahagia banget rasanya, tapi sayangnya agak tidak terawat dengan aroma tidak sedap. Di bagian dalam Batu Caves banyak stalaktit yang keren dengan jarak pandang ke atas yang cukup tinggi. Kami muter sebentar, kemudian kembali turun. Tidak ingin berlama lama karena perjalanan masih panjang.

Di atas kami sempat memutar otak untuk perjalanan selanjutnya, karena hari kemarin yang diluar ekspektasi membuat jadwal kami cukup kacau dari itinerary. Yaaa begitulah traveling, saat tidak sesuai dengan itinerary dan kondisinya, maka harus dipersiapkan untuk Plan B dan C. Kemudian kami memutuskan (dadakan) untuk menuju Mesjid Biru baru kemudian malamnya ke i-city

Stasiun KTM Batu Caves Persis Di Belakang Batu Caves
Kami berjalan ke arah samping Batu Caves, di sana ada stasiun kereta Batu Caves. Pintu keluar samping berada tidak jauh dari patung Dewa Murungan. Kami naik KTM menuju Shah Alam. Jarak tempuh  yang cukup jauh. Kereta yang kami naiki sangat kosong karena berangkat dari stasiun terakhir yakni Batu Caves. Febi sempat tertidur pun demikian dengan saya sampai pemberhentian kami di Shah Alam kami bangun. Agak nekat juga ketiduran di commuter padahal ga tahu jalan, cuma gahu turun di stasiun Shah Alam. Kondisi sekitar stasiun Shah Alam yang cukup  berbeda dengan LRT maupun MRT lain di pusat kota Kuala Lumpur membuat saya cukup hening beberapa saat. Lumayan sepi dan kiri kanan jarang pemukiman. Saya dan Febi sempat mampir dulu di kedai pinggir jalan untuk membeli gorengan tusuk sambil sepik-sepik nanya ke Ibu penjual, bagaimana cara ke Mesjid Biru Shah Alam. Kemudian diinformasikan kami harus menaiki Bus 529.

Terminal Bus
Sambil menikmati gorengan sosis berlumur saus, tiba-tiba bus 529 datang. Waahhh satu tusuk gorengan ekspres saya masukin mulut karena di dalam bus tidak boleh makan. Perjalanan kami adalah menuju terminal bus Shah Alam, kami pun lagi-lagi bertanya bagaimana cara sampai ke Mesjid Biru alias Blue Mosque. Agak susah menemukan orang yang tahu dimana Blue Mosque. Aneh.  Ternyata oh ternyataaaa nama beken mesjidnya adalah Mesjid Sultan. Pantesan kami tanya Blue Mosque gak ada yang tahu. Haisshh. Kalau kami tanya Masjid Sultan pasti mereka tahu.


Tampak Depan Blue Mosque
Jajanan di Selasar Masjid
Gorengan Tusuk Hahaha
Mesjid Sultan Hasanuddin
Kami berjalan menyusuri samping Mesjid dari jauh sudah kelihatan. Sampai di sana kami Sholat Ashar. Di selasar Mesjid ada yang berjualan namun ketika sudah Adzan maka langsung menutup lapaknya. Luar biasa.

Lapak Yang Langsung Ditutup Ketika Adzan Berkumandang
Setelah sholat maka kami melanjutkan perjalanan ke i-city. Namun ternyata oh ternyata bus yang kami harus naiki ke i-city Shah Alam sudah tidak ada, sehingga kami harus putar cara. Saat itu sudah pukul 19.30 waktu Kuala Lumpur. Bekal nanya ke mbak-mbak di samping kami yang menunggu  bus juga, akhirnya kami diberitahu bagaimana ke i-city. Kami berangkat bersama naik bus U80 dan turun dipemberhentian, lanjut ganti bus untuk menuju seksyen 2. Ternyata i-city yang terletak di seksyen 2 cukup sulit juga mengetahui letaknya, karena sudah malam dan tidak begitu terlihat plangnya. Untungnya kami diberitahu kakak itu turun dimana. Nama kakak yang baik hati itu adalah Kak Shasha. Kalo nggak dikasih tau sama kak Shasha maka kami nyasar deh. Beruntung Allah menolong kami.

I-City Bagian Depan Jalan Raya
Turun dari bus kami langsung menyebrang jalan ke i-city. Sekitar pukul 20.30 kami sampai di i-city, memang waktu yang pas karena malam hari lampu lampu dinyalakan dan gemerlapan. Saat di bagian depan i city, kami sedikit kecewa, ternyata lampunya hanya begitu saja. Namun ketika kami berjalan ke arah dalam... Woooooowww luar biasa. Banyak pohon tinggi yg luar biasa bejejer penuh lampu. Pohonnya seperti gemerlapan menyala. Nah ini baru tidak mengecewakan. Kami asik dengan foto-foto sampai lupa kalau belum makan malam. Beginilah kondisi dalam i-city.
Minta Tolong Difotoin sama Orang

Salah Satu Design Pohon Lampu di I City

Kami makan malam di KFC baru kemudian pulang. Saat pulang kami rencananya akan naik taxi sampai stasiun Padang Jawa. Namun kami tidak memberhentikan taxi dari depan pintu i-city, tapi kami berjalan jauh keluar, mendekat ke arah jalan raya, bahkan menyeberang jalan raya. Di sana kami memberhentikan taxi dan nego harga. Dapat dengan harga 10 RM. Ternyata supir taxi bilang kalau kami cegat taxi dari depan pintu masuk i-city, bisa kena 30 RM karena taxi tahu itu turis dan biasanya akan dikenakan biaya yang lebih mahal. Lagi lagi kami beruntung. Alhamdulillah. Di perjalanan kami mengobrol banyak dengan supir taxi yang ramah. Sampai di Padang Jawa sudah cukup malam alias jam 11 malam. Saat itu saya dan Febi jg cukup deg2an apakah terburu waktunya dan masih ada kereta.

Ternyata di depan kami, terdapat segerombolan keluarga yang sedang heboh membeli karcis. Tiket tak kunjung keluar karena mesin tidak bisa mendekteksi uang Malaysia yang kertas baru. Mesin akan lebih mudah mendeteksi dengan koin, maka ributlah mereka mencari koin. Saat itu kami juga ikut membantu saat mereka pusing mencari koin 50 sen. Alhasil setelah mereka selesai mendapatkan tiket untuk seluruh anggota keluarga, maka giliran kami  berdua yang ditolong, sampai akhirnya kami bisa membeli tiket atas bantuan mas-mas itu juga. Aman. Segerombolan keluarga sekitar 10 orang itu berasal dari Jakarta yang sedang berlibur ke KL, kami sempat mengobrol. Tak lama, datanglah kereta kami. Ya...ini adalah kereta yang terakhir beroperasi di hari itu. Fiuuh.

Mesin Pemesanan Tiket KTM, LRT dan MRT

Kami naik kereta terakhir dari stasiun Padang Jawa menuju KL Sentral. Wah. Agak membahayakan tapi sangat seru. Pengalaman naik kereta malam dengan isi penumpang yang super sedikit. Kami puas dengan foto-foto. Ternyata lebih mudah naik kereta lho ke I-city ketimbang naik bus. Saran saya, kalau mau ke Icity lebih baik naik Commuter dan turun di Stasiun Padang Jawa, setelah itu naik bus atau taxi ke Icity. Jaraknya tidak begitu jauh kok.

Akhirnya perjalanan hari ini selesai. Saking serunya perjalanan kami, tak terasa perjalanan yang jauh dan melelahkan tidak membuat kaki saya terasa pegal. Sampai di Pasar Seni pukul 00.00 malam dan kami masih saja sempat untuk keliling ke dataran merdeka untuk melihat-lihat dataran merdeka pada malam hari. Ternyata sudah sepi, namun tidak mematahkan semangat kami untuk berfoto.

Di perjalanan pulang, kami melihat truk air di pinggir jalan Central Market. Persis mobil keliling yang menyiram tanaman di kampus UI atau tanaman di pinggir jalan raya Jakarta yang pernah saya lihat. Penasaran saya pun mendekat, dan ternyata itu adalah mobil untuk membersihkan trotoar jalanan di KL. Jadi ada petugas yang menggunakan sepatu boot dan sikat panjang, mereka menyikat dan membersihkan trotoar setiap malamnya. Luar biasa pemerintah Malaysia memelihara fasilitas umumnya. Mereka mengedepankan kenyamanan rakyat dan wisatawan. Pantes aja kinclong banget trotoarnya. Bersih. Bukan hanya di sapu tetapi juga di sikat. Wuiih.

Di sekitar Central Market memang ada gedung-gedung tinggi, dan ternyata di pelatarannya berjejer orang-orang tuna wisma yang tidur beralaskan koran. Saya pernah dengar juga bahwa sekitar Central Market dan area Pasae Seni digunakan untuk rumah singgah. Jadi untuk orang-orang yang tidak memiliki tempat menginap, bisa tidur di sana, tapi yaaa dengan alas tidur sendiri dan siap-siap pagi-pagi sudah harus bersih lagi.

Berikut pengeluaran saya di hari kedua :
LRT ke KL Sentral @ 1 RM x 2 = 2 RM
Cable Car @ 6 RM x 2 = 12 RM
Bus Pulang @ 3.4 RM x 2 = 6.8 RM
Taxi ke Batu Caves = 10 RM
Minuman Kaleng @ 1 RM x 2 = 2 RM
KTM ke Shah Alam @ 3.9 RM x 2 = 7.8 RM
Bus No. 529 @ 1 RM x 2 = 2 RM
Sosis dan Gorengan Stick @ 3 RM x 2 = 6 RM
Beli Minuman 3 RM + 2 RM = 5 RM
Bus U80 @ 1 RM x 2 = 2 RM
Bus ke Seksyen 2 @ 50 sen x 2 = 1 RM
KFC Dinner 16 RM
Aqua di Sevel @ 1.3 RM x 2 = 3.6 RM
Taxi ke Padang Jawa 10 RM
KTM dari Padang Jawa – KL Sentral @ 2.9 RM x 2 = 5.8 RM
LRT KL Sentral – Pasar Seni @ 1 RM x 2 = 2 RM
Jajan di Masjid 3 RM
Total = 96 RM untuk 2 orang