Showing posts with label nikah. Show all posts
Showing posts with label nikah. Show all posts

Sunday, June 1, 2014

Kata Terurai Jadi Laku

Kata Terurai Jadi Laku
Oleh Anis Matta

Kulitnya hitam. Wajahnya jelek. Usianya tua. Waktu pertama kali masuk ke rumah wanita itu, hampir saja ia percaya kalau ia berada di rumah hantu. Lelaki kaya dan tampan itu sejenak ragu kembali.
Sanggupkah ia menjalani keputusannya? Tapi ia segera kembali pada tekadnya. Ia sudah memutuskan untuk menikahi dan mencintai perempuan itu. Apapun resikonya.

Suatu saat perempuan itu berkata padanya, "Ini emas-emasku yang sudah lama kutabung, pakailah ini untuk mencari wanita idamanmu, aku hanya membutuhkan status bahwa aku pernah menikah dan menjadi seorang istri." Tapi lelaki itu malah menjawab, "Aku sudah memutuskan untuk mencintaimu. Aku takkan menikah lagi."

Semua orang terheran-heran. Keluarga itu tetap utuh sepanjang hidup mereka. Bahkan mereka dikaruniai anak-anak dengan kecantikan dan ketampanan yang luar biasa. Bertahun-tahun kemudian orang-orang menanyakan rahasia ini padanya. Lelaki itu menjawab enteng,

"Aku memutuskan untuk mencintainya. Aku berusaha melakukan yang terbaik. Tapi perempuan itu melakukan semua kebaikan yang bisa ia lakukan untukku. Sampai aku bahkan tak pernah merasakan kulit hitam dan wajah jeleknya dalam kesadaranku. Yang kurasakan adalah kenyamanan jiwa yang melupakan aku pada fisik."

Begitulah cinta ketika ia terurai jadi laku. Ukuran integritas cinta adalah ketika ia bersemi dalam hati. Terkembang dalam kata. Terurai dalam laku. Kalau hanya berhenti dalam hati, itu cinta yang lemah dan tidak berdaya. Kalau hanya berhenti dalam kata, itu cinta yang disertai dengan kepalsuan dan tidak nyata.

Kalau cinta sudah terurai jadi laku, cinta itu sempurna seperti pohon; akarnya terhunjam dalam hati, batangnya tegak dalam kata, buahnya menjumbai dalam laku. Persis seperti iman, terpatri dalam hati, terucap dalam lisan, dan dibuktikan oleh amal.

Semakin dalam kita merenungi makna cinta, semakin kita temukan fakta besar ini, bahwa cinta hanya kuat ketika ia datang dari pribadi yang kuat, bahwa integritas cinta hanya mungkin lahir dari pribadi yang juga punya integritas. Karena cinta adalah keinginan baik kepada orang yang kita cintai yang harus menampak setiap saat sepanjang kebersamaan.

Rahasia dari sebuah hubungan yang sukses bertahan dalam waktu lama adalah pembuktian cinta terus
menerus. Yang dilakukan para pecinta sejati disini adalah memberi tanpa henti. Hubungan bertahan lama bukan karena perasaan cinta yang bersemi di dalam hati, tapi karena kebaikan tiada henti yang dilahirkan oleh perasaan cinta itu.

Seperti lelaki itu, yang terus membahagiakan istrinya, begitu ia memutuskan untuk mencintainya. Dan istrinya, yang terus menerus melahirkan kebajikan dari cinta tanpa henti. Cinta yang tidak terurai jadi laku adalah jawaban atas angka-angka perceraian yang semakin menganga lebar dalam masyarakat kita.

Tidak mudah memang menemukan cinta yang ini. Tapi harus begitulah cinta, seperti kata Imam Syafii, Kalau sudah pasti ada cinta di sisimu Semua kan jadi enteng.

Dan semua yang ada di atas tanah
Hanyalah tanah jua.

Memahami Arti Keluarga Sakinah

Catatan Kajian Keluarga Bulanan Masjid UI (Kamis, 3 April 2014)

"Memahami Keluarga Sakinah"
by: Bu Ery Soekresno

Pahami perbedaan psikologis pria dan wanita

*Laki-laki:
1. Memiliki keinginan untuk belajar & merubah diri menjadi lebih baik dibanding wanita
2. Lebih stabil pola emosinya
3. Memiliki standar lebih tinggi
4. Senang humor dan bercanda
5. Membutuhkan tantangan lebih besar
6. Lebih mudah bosan
7. Lebih mudah bahagia

*Perempuan:
1. Cenderung egois
2. Mudah berkata jujur
3. Cenderung menyimpan perasaannya

Sakinah: tenang, terhormat, aman, merasa terlindungi, penuh kasih sayang, mantap, memperoleh pembelaan.

✔ QS Ar-Ruum: 32
Keluarga sakinah; setiap anggota keluarga merasa aman, penuh kasih sayang, dan paling penting dirahmati oleh Allah.

Ini penting, karena:
1. Dapet separuh agama
2. Menjaga keimanan
3. Jalan masuk surga
4. Dasar berjamama'ah

Ciri-ciri keluarga sakinah » 4 hal yang menjadi faktor yg mendatangkan kebahagiaan keluarga:
1. Suami/Istri yg setia
2. Anak2 yg berbakti
3. Lingkungan sosial yg sehat (biah Islam)
4. Dekat rezekinya (mudah berbagi)

Ciri lainnya:
- Cenderung pada agama
- Muda hormat pada yg tua, tua sayang pada yg muda
- Sederhana dlm belanja
- Lemah lembut dlm bergaul
- QS 2 : 187 (suami/istri adalah pakaian bagi pasangannya)
- Pergaulan suami-istri dg cara yg ma'ruf
- Pasutri melaksanakan peran masing2 krn Allah
- Semua anggota keluarga beriman dan bertaqwa kpd Allah, kembali kpd Qur'an & sunnah
- Rezeki bersih dr yg haram

Tantangan hari ini:
1. Pola hidup modern
2. Khawatir ditertawakan oleh golongan fujaro dan malu disebut sebagai golongan abror

Kiat menuju keluarga sakinah:
1. Mulai dr mencari pasangan yg shalih/ah, taat kepada perintah Allah dan sunnah Rasulullah.
2. Pilih pasangan yg memiliki keutamaan iman & taqwa
3. Niat menikah utk ibadah kpd Allah
4. Pasutri menjalankan kewajiban dg dorongan iman, cinta, dan ibadah kpd Allah
5. Memahami kekurangan & kelebihan pasangan, menghargai, melengkapi.
6. Mohon pada Allah agar menjadi keluarga samaraba
7. Jalan2 ke tempat bersejarah Islam, utk tingkatkan kecintaan pada Islam
8. Ketika menghadapi masalah, selalu memohon perlindungan kpd Allah dan selesaikan dg musyawarah (QS 3 : 159)

Perempuan, sebelum menikah perlu siapkan diri sbg istri & ibu. Krn perempuan adalah kunci membangun peradaban.

Indonesia sampai saat ini adalah fatherless country, kurang optimalnya peran bapak, "ada tapi tiada". Laki-laki, persiapkan diri agar menjadi ayah yg baik.

Notulensi oleh Ummi Syifa

Monday, May 12, 2014

Keberhasilan Rumah Tangga

Assalamu'alaikum
Apa sih tolak ukur keberhasilan Rumah Tangga ?
Sebagian besar masyarakat mengatakan, ada 2 hal yang jika terjadi maka Rumah Tangga tersebut terbilang sukses :
1) Punya anak,
2) Banyak harta.
Bukan. Bukan itu.
Pertama, Rumah Tangga 'Aisyah Radhiallaahu 'anha tidak dikaruniai anak, lalu apakah kita akan berkata Suami-Isteri tersebut tidak harmonis ? Tidak bahagia ?
Kedua, Rumah Tangga Fatimah Radhiallaahu 'anha sangat minim harta. Sang Istri pernah menahan laparnya selama beberapa hari hingga kuninglah wajah beliau. Lalu, apakah kita berani mengatakan bahwa Rumah Tangga mereka hancur berantakan diujung tombak ? Tidak. Bahkan Suami beliau adalah salah satu penghuni Surga Allaah. Maa syaa'Allaah..
Benar, sebagai seorang Isteri jangan bermudah-mudahan untuk menuntut kalimat perpisahan hanya karena kedua sebab diatas. Sebab ummahatul mukminin tidak pernah memberatkan suaminya dengan perkataan tercela.
Juga, sebagai seorang Suami jangan bermudah-mudahan mengatakan "aku tak punya harta, aku tak pantas untukmu.. Duhai Isteriku.." Innalillaahi wa inna ilayhi rooji'un. Tau kah para Suami, kalimat tersebut justru enggan didengar oleh Istri kalian. Sebab para sahabat tidak tercermin dalam diri mereka sifat keputus-asaan.
Tolak ukur keberhasilan Rumah Tangga seorang Muslim ialah,
>> Ketika setelah menikah, maka bertambahlah taqwa mereka kepada Allaah..
>> Ketika setelah menikah, maka bertambahlah amalan-amalan sunnah mereka..
>> Ketika setelah menikah, bertambahlah hapalan-hapalan mereka..
>> Ketika setelah menikah, bertambahlah kesabaran mereka dalam setiap taqdir Allaah..
>> Ketika setelah menikah, bertambahlah ghiroh mendatangi majelis-majelis 'ilmu Allaah..
>> Pun, ketika setelah menikah, bertambah takutlah mereka sebab mengingat hari dimana mereka akan terpisah dan menghadap sidang Rabb-nya yang paling adil. Bertambah berharaplah mereka kepada Rabb-nya agar bisa dinikahkan lagi dalam Jannah Allaah tanpa hisab..
Maa syaa'Allaah ♡ ♡ ♡
BaarakAllaahu fiikum
Semoga bermanfaat,
Wassalamu'alaikum
*taken from forward message whatsapp, arigatou putro*

Sunday, April 6, 2014

My Twin Ulil Wedding

Hari ini merupakan hari bahagia untuk twin saya, Sulis Mardiana. Betapa tidak pada hari ini ia akan melepas masa lajang, yeaaayyy! Sulis atau biasa dipanggil Ulil adalah salah satu sahabat saya di kantor. Saya memang berkawan dekat dengan 4 orang wanit ciamik di kantor, yakni Ulil, Iput, Kingkong dan Ocon. Memang panggilan yang aneh, entah darimana asalnya. Sedang saya sendiri biasa dipanggil Nonce, Once atau Oce.
Saya kenal ulil saat klasikal batch kami di Wisma Pelatihan BNI46, Slipi. Ya, kami memang 1 angkatan. Kami menyebutnya dengan ADP Batch 2. Saat itu Saya dan ulil hanya sekedar kenal nama, hingga berakhirlah masa klasikal dan penempatan OJT pun dilakukan. Saya dan ulil kebagian di Cabang Jakarta Selatan, baik OJT maupun penempatan denitif setelahnya.

Pertama kali OJT dimulai, kami tak banyak interaksi, maklum masih baru dan adaptasi dengan lingkungan kantor. Kami pun belum banyak bercanda, hanya mencuri waktu untuk mengobrol di tengah serangan ngantuuuukkkknya baca BPP (Buku Pedoman Perusahaan) yang wajib dibaca oleh anak OJT baru. Setidaknya saat itu kami masih sama-sama berpikiran kalau kami itu pen-di-am. Hingga makin lama, 1 bulan tak terasa, mulailah sifat asli kami keluar satu sama lain, yang sama koplaknya, becandaan kami yang nyambung dan kami yang hobi bgt ceng-ceng-in orang, agaknya membuat kami klop. Sampai-sampai orang kantor menyebut kami KEMBAR. Ya, kembaran. (bodohnya ada saja orang kantor yang percaya kalo kami ini beneran kembar haha).

Kami pun men-declare satu sama lain bahwa kami kembar, karena sifat kami yang mirip, tingkah laku mirip, gaya becandaan mirip dan muka yang mirip *kata orang-orang sih. Pasca pengangkatan pegawai tetap atau setelah OJT 3 bulan, kami terpisah jarak, saya di Kantor Cabang Pembantu Syariah Depok sedangkan Ulil di cabang. Namun kami masih dalam 1 cabang yang sama yang masih bertemu apabila ada acara Amanah Day, pertemuan Cabang dengan seluruh Cabang Pembantu di bawahnya.

Ulil merupakan anak bungsu dari 7 bersaudara, namun ia sama sekali tidak terlihat seperti anak bungsu, karena kedewasaannya dalam menyikapi segala hal. Memang kelakuannya dan becandaannya sering kekanakan-kanakan karena memang fun itu ya harus seperti bocah lepas, tapi begitu menyikapi suatu case atau masalah langsung berubah 180 derajat, serius dan solusi yang diberikan luar biasa. Saya salut dengan orang macem begini, ceria namun penuh kedewasaan.

Ia alumni dari IPB jurusan kehutanan, sangat banyak cerita koplaknya bersama rekan-rekan koplak kuliah soal kehutanan. Ia menjalin hubungan yang cukup lama dengan Wisnu. Mereka merupakan rekan satu SMA 63. Saya pun kenal dengan Wisnu. Bahkan Wisnu tahu kalau saya dan ulil di kantor sering dibilang kembar. Perrnah suatu ketika kami bercanda kalo orang kembar pasti tetap ada siapa yang lahir duluan. Lucunya memang bulan kelahiran kami sama, Maret :D

Tanggal Ulil adalah 15 Maret sedangkan tanggal saya adalah 25 Maret. Saat ditanya siapakah yang jadi kakak? Dengan santai saya menjawab : “Harusnya kan gw duluan, lil, yang lahir, Cuma daripada rebutan keluarnya dari emak kita masing-masing, dan daripada di luar kita berantem, jadi gw persilahkan lo keluar duluan (tanggal 15).” Dan ulil menanggapinya tak lebih ngaco lagi “Nanti kalo gw bosen jadi adeknya, kita gantian ya, Ce. Gw kakaknya lo adeknya. Gantian aja terus suka-suka mood kita.” Ngooookk. Akibat hubungan kembar dan kakak adik tak sedarah yang aneh ini, saya kebiasaan manggil Wisnu dengan sebutan Adik Ipar. Karena ia pasangan dari ulil dan ulil merupakan kembaran saya :D

Balik lagi ke hari nikahan Ulil ya. Sungguh intro aja panjang bener deh. Rempong cyin. Pagi itu saya memang berniat datang akad nikah jam 07.00 pagi di Petukangan Utara, tidak jauh dari rumah Ulil. Sehari sebelumnya alias kemarin saya baru saja ikut seminar dan pulang agak malam, aselik capek bener sih. Dan saya baru bisa memejamkan mata pukul 23.30. weleeehhh. Alhamdulillah sih siap-siap yang lancar, ngebut hehhee. Jam 06.00 saya sudah janjian berangkat bareng dengan Ocon dari stasiun Tanjung Barat. Saat ini memang masih lengang sehingga taxi yang kami tumpangi benar-benar ngebut hehe. Hanya membutuhkan waktu 30 menit dari Tanjung Barat ke Petukangan.

Saat kami sampai sudah berbaris dari besan pria, yakni Wisnu dan keluarga. Kami cengengesan keluar dari taxi dan menuju ke dalam ruangan pengantin wanita. Ulil sudah rapi dan duduk di kursi. Begitu  kami datang, saya dan ocon langsung berhambur memeluk dan menciumnya, sambil bercanda “Iiiihh siapa sih nih, cantik banget??” serayaku sambil mencolek pipi ulil. Tak pelak ulil menahan ketawa dan balas “Udah gw bilang lo jangan dateng pas akad, ce, nanti gw ketawa gimana pas akad.” hahahhahaa. Tadinya saya mau menceritakan kejadian lucu taxi kami melintas di depan iring-iringan pengantin pria, tapi saya bilang nanti aja kelar akad baru diceritain, daripada ketawa2 bahaya :P

Prosesi akad yang sangat mengharukan terjadi. Saya memang paling senang melihat prosesi akad nikah, karena sangat sakral dan kekeluargaan. Mengharukan. Demikian juga akad nikah ulil. Terlebih saat ulil memohon izin untuk direstui menikah, memohon maaf atas segala dosa yang telah ia lakukan kepada Bapak dan Ibunya serta rasa terima kasih yang luar biasa atas kasih sayang yang telah diberikan selama ini. Saat Bapak dari Ulil membacakan ijab, maka disambut dengan lantang oleh Wisnu. Luar biasa, merinding. Saat-mengharukan itu membuat ulil menangis, dan cukup dengan kode tatapan mata ke saya, saya pun paham dia minta tisue akakakak. Dasar kontak batin. Alhasil saya jadi asisten bolak balik, ngasih tisue dan ngambil tisue sekaan air mata :”D

Tidak banyak yang bisa saya ungkapkan atas rasa bahagia ini, dengan penuh doa saya mengharapkan pernikahan Ulil dan Wisnu diberkahi dan diberikan keturunan yang sholeh dan sholehah. Senang rasanya Asyrs (saya, ulil, ocon, kingkong dan iput) bisa berkumpul pada pagi hari itu saat akad, menyaksikan momen sakral yang sangat bersejarah itu. Saking bahagianya, lebih baik saya apresiasikan lewat foto. *lah *bilang aja mau narsis.

Doa untuk orang yang menikah :
“Barakallahu laka wa baraka ‘alaikuma wa jama’a bainakuma fii khair”
Artinya, Semoga Allah memberkahi kalian berdua, dan memberkahi di atas kalian berdua, dan menghimpun kalian berdua dalam kebaikan.

Happy Wedding dear my koplak twin an brother, i’m freakingly happy for you both, really! Have a wonderful marriage :)

- Noni Halimi

Tuesday, July 9, 2013

Share Seminar Pra Nikah

Saya pernah ikut seminar pra nikah yang diadakan oleh Pak Indra Noveldy, Marriage Consultant, content-nya sangat menarik dan bikin JLEB! Betapa tidak, banyak hal-hal simpel yang baru kepikiran saat saya ikut seminar pra nikah ini. Saya pernah beberapa kali ikut seminar pra nikah, namun baru kali ini yang benar-benar bikin JLEB! Sekali lagi saya ulang, bikin JLEB!

Tema pernikahan memang selalu hits di waktu kapan pun, terutama di kalangan jomblo jomblo imut yang menanti jodohnya untuk menikah. Ehem. Saya ingin bahas sedikit ilmu yang beliau sampaikan di materi seminar pra nikah yang judulnya : Half A Deen. Apa itu? Separuh dari agama. Ya. Memang menikah itu kata Rasulullah menyempurnakan separuh dari agama Islam. Siapa sih yang gak mau agamanya full? :D

Sebelumnya beliau menanyakan beberapa hal kepada audience untuk dijawab oleh audience, namun dalam hati saja. Kenapa sih saya mau menikah? Apa saya sudah punya konsep pernikahan? Apa saya sudah punya kriteria pasangan ideal?

Kriteria Ideal. Sepertinya menyenangkan mencari-cari apa saja kriteria pasangan ideal untuk saya. Namun ingat, pastikan ada kriteria WAJIB yang harus ada di dalam kriteria tersebut. Sudah tentu kriteria Agama dan Akhlaq-nya. Saat seseorang sudah paham Agama dan tercermin dalam Akhlaq-nya, maka adem banget ya kalo bersamanya. Ada yang paham Agama saja, namun Akhlaq-nya tidak sejalan. Ada yang Akhlaq-nya baik baik saja, namun tidak terlalu paham Agama. Maka idealnya keduanya beriringan.

Namun jangan tidak sadar diri, tidak bisa melihat kamu itu siapa. Selalu memandang diri sempurna, padahal tidak. Pede berat. Jangan mengharapkan suami yang mendekati Muhammad kalau kamu sendiri belum mendekati Khadijah. Demikian juga sebaliknya. Pantaskan diri. Kalau ingin mendapat jodoh yang baik, maka sudah sepantasnya kita berusaha menjadi yang baik juga.

Gampangnya gini, kamu tahu banget sisi positif dan negatif kamu. Kalau kamu disuruh nikah sama orang yang kelakukannya sama kayak kamu, mau nggak? "Maukah saya apabila disuruh menikah dengan orang yang kelakuannya mirip saya?" Kalau nggak mau, yaaa gimana orang lain disuruh menikahi kamu, lha wong kamu sendiri gak mau nikah sama orang yang kelakuannya mirip kayak kamu.

Tapiii....tidak ada manusia yang sempurna. Ya memang. No body's perfect. Apabila dari seluruh kriteria yang kamu buat itu sudah mencapai lebih dari 75%, maka ambillah. Dari pada keburu diambil orang kan!

Nah kalau sudah pas, pastikan cari info sebanyak-banyaknya . Pertama, gali informasi dari dirinya sendiri. Ajak ngobrol hal-hal yang kira-kira penting untuk kalian berdua. Kedua dari keluarganya, orang tua dia, kakak adik, saudara. Karena keluarga adalah orang yang paling mengetahui dia. Ketiga dari sahabat-sahabat terdekatnya. Seperti kata Rasulullah, tunjukkanlah sahabatmu maka aku akan tunujukkan siapa kamu. Karena sahabat adalah orang yang banyak berinteraksi dengan dia. Keempat dari rekam jejak social media, twitter, facebook dan sebagainya. Perhatikan statusnya apakah positif ataukah penuh dengan kegalauan. Kelima, ini adalah bagian terkepo kamu, cari tahu tentang dia di google. Ketikkan nama lengkapnya di google dan voila....kamu akan dapatkan info-info penting tentang dia :D

Jangan pernah segan untuk menanyakan hal-hal krusial yang kepada pasangan. Ibaratnya mending kebongkar sekarang jauh-jauh hari daripada kebongkar nanti saat sudah bersama. Kalau misalnya memang ada negatifnya? Coba cek lagi. Apa dia cukup pantas untuk diperjuangkan? Kalau tidak, cari aja yang lain. Aselik deh! Karena modal cinta aja nggak cukup untuk sebuah pernikahaan. Ciyus! (eh tanya aja sama yang udah nikah ya, jangan tanya saya).

How can we do now?

Upgrade pribadi. Belajar memantaskan diri. Memperbaiki hubungan dengan orang tua. Berdoa dan selalu melibatkan Allah dalam setiap proses "pencarian" kita :D #selamatgalau

Don't rush yourself into any kind of relationship. Work on yourself, feel yourself, and experience yourself. - Noni Halimi