Sunday, December 14, 2014

Jelajah Souvenir Alfriandra Cipinang

Alfriandra/Yana Souvenir
Jl. Cipinang Pulo RT. 015 RW. 011 No. 11
Cipinang Besar Utara, Jakarta Timur
Telp : 021-96636329, 98880301, 8561305, 68415860
HP : 081584234647, 08128533791

Bicara soal souvenir yang murah dan unik pasti banyak yang sudah hunting ke Asemka atau Pasar Mester Jatinegara. Di sana memang banyak menyediakan beragam souvenir untuk pernikahan. Dari gunting kuku, tempat tusuk gigi, tempat tissue, gelas, mug, dompet koin dan seabrek barang dagangan lain yang biasa dijadikan souvenir pernikahan. Saya sempat hunting ke Asemka, namun dikarenakan hari Minggu, maka banyak toko yang tutup dan pencarian pun menjadi tidak efektif. Saran saya bagi pembaca yang ingin ke Asemka hari Sabtu saja. Setahu saya memang untuk pasar-pasar tertentu ada yang tutup hari Minggu. Semua ini bermula dari si Mas yang kebanyakan leha-leha di rumah, kemudian dadakan ngajak ke Asemka.

Tadinya saya sudah cukup sumringah melihat harga yang ditawarkan di Asemka yang terbilang masih masuk budget souvenir saya. Hanya saja saya kurang sreg dengan barang-barang yang dijual di Asemka, rasanya sama semua. Setiap toko pasti menjual barang yang mirip-mirip bahkan sama persis dengan toko sebelahnya. Layaknya sahabat bagai kepompong, doi jual barang yang sama semua. Alhasil saya bosan dan memutuskan untuk pulang saja. Saya dan Masnya berencana ke tempat lain pekan depan.

Sehari sebelum keberangkatan kami untuk membeli souvenir, kemudian saya teringat rekan saya pernah bercerita tentang Gudang Souvenir yang terletak di dekat LP Cipinang. Kebetulan saya pernah sih masuk ke Penjara LP Cipinang jaman penelitian kuliah, sekarang sih sudah lupa yaaa. Tapi saya pernahnya ke Penjara LP Cipinang, bukan ke souvenir LP Cipinang juga. Jadi intinya ingatan saya tidak membantu lah *sedih* *terus ngapain cerita*

Nama gudang souvenirnya adalah Alfriandra/Yana Souvenir. Kenapa saya bilang gudang, karena tempatnya memang seperti gudang. Jangan membayangkan toko dengan etalase yang dipasang di depan, sama sekali tidak seperti itu. Alfriandra / Yana Souvenir memang sebuah rumah produksi souvenir, entah dapat barang supply dari mana, yang jelas satu rumah itu penuuuuuuuh dengan beragam souvenir pernikahan. Alfriandra juga memiliki toko di Jatinegara, Tanah Abang dan Asemka. Dengar-dengar juga, Alfriandra menjadi supplier banyak toko di beberapa pasar *entah denger dari siapa, bisik-bisik tetangga? gossip.

Gudang souvenir ini sudah cukup tenar dan populer di kalangan calon manten yang sedang galau mencari souvenir. Untuk lokasi pun mudah di akses. Terlebih jaman sekarang sudah ada google maps jaminan anti nyasar. 

Petunjuknya :

1. Kalau datang dari arah pinggir Stasiun Jatinegara atau Kampung Melayu, kamu akan melihat LP Cipinang di seberang jalan, lambaikan tangan. Horeee ketemu..! Putar balik kendaraan kamu sampai posisi LP Cipinang persis di jalur yang kamu lalui.

2. Jalan terus sepanjang LP Cipinang sampai habis, sebelah kiri jalan ada gang belok kiri, namanya Jl. Cipinang Latihan. Belok dan masuk ke dalam jalan tersebut.

3. Ikuti jalan, luruuus terus.  nanti ada jalan bercabang kamu belok kiri ikuti jalan, karena jalan lurusnya agak kecil. 

4. Tidak jauh dari sana ada jalan agak menurun di sebelah kanan, kamu belok kanan. Luruuuusss terus sampai terlihat sebuah rumah yang banyak orang parkir dan tukang parkir sedang semprit-semprit periwitan. Tidak lebay, tapi memang saking tersohornya tempat ini, maka banyak orang yang berbondong-bondong ke lokasi ini untuk hunting souvenir. Tempatnya nyaman, koleksi lumayan lengkap dan yang paling penting harganya murah plus terjangkau! *dibayar berape gue sama Alfriandra bisa promosi begini*

5. Gudangnya ada di sebelah kanan, terlihat plang Alfriandra / Yana Souvenir. Kamu sudah sampai tujuan, letakan kendaraan dan teriaklah "Berhasil…berhasil…horeeey!!!" *backsound Dora

Masuk ke gudang dengan perasaan deg-deg-an kira kira di sana jual apa (jual souvenir lah, menurut ngana?). Dan ternyata jeng jengg…..di luar rumahnya saja sudah ada bertumpuk-tumpuk dagangan souvenir yang siap kirim. Saya langsung masuk ke dalam rumah. Ternyata ruangannya ber-AC dan berkipas angin. Aaahhhh..surga duniaaa. Gak perlu panas-panasan dan berdesakan di Pasar Asemka, Mangga Dua, atau Jatinegara. Tempat ini memang oke banget! *lagi-lagi dibayar berapa gue sama Alfriandra* Okeh, saking banyaknya barang dagangan di sini, saya dan Mas pun bingung memilih yang mana. Setelah beberapa menit berputar dan melihat-lihat maka pilihan souvenir kami dijatuhkan pada……..jeng..jeng..jeng…

GELAS!

Mainstream? Emang. Biarin.  

Berhubung kami sudah lelah seharian jalan, akhirnya kami memutuskan untuk memesan gelas dengan standar kemampuan budget kami. Kami pilih gelas mug dengan ukuran medium dan bentuk yang lumayan jarang saya temukan di gelas mug yang biasa dijadikan souvenir nikahan. Bentuknya agak langsing, mungkin ini cucok dengan jeritan hati si Mas yang pengen langsing. Harganya 3500 rupiah saja dengan bungkus tile. Kalau kamu ingin mengganti bungkus dengan kemasan yang agak elegan boleeeh banget. Untuk kemasan mika atau paper bag dikenakan biaya tambahan 1000 rupiah per gelas. Jadi total hargannya 4500 rupiah. Berhubung budget kami hanya 4000 rupiah untuk souvenir, maka kami putuskan untuk pakai tile saja. Toh pembungkus juga akan dibuang nantinya. Mubazir kalau  mahal-mahal. *Pledoi (alasan pembenaran) calon manten yang belom tajir.

Pegawai Alfriandra cukup banyak dan sigap dalam melayani, begitu kami deal jenis souvenir, kami langsung diberikan satu bundel buku yang berisi gambar ilustrasi untuk cetak di gelas. Proses pembuatan maksimal 1.5 bulan, dengan DP sebesar 50% dibayar di tempat. Saya memilih gambar sepasang cewe-cowo sedang naik bis dan tulisan berbentuk cangkir kopi. Puas banget kerjaan satu ini lumayan membuahkan hasil. Alhamdulillah, checklist nyari souvenir kecoret jugaaaaak.

Oiyaa, saya punya tips dan saran untuk kamu yang ingin mencari souvenir di Alfriandra, supaya maksimal efektif dan efisien, ada hal-hal yang perlu diperhatikan :

1. Tentukan budget maksimum yang akan kamu keluarkan untuk membeli souvenir. Jangan sampai melebihi dari budget yang kamu anggarkan.

2. Tentukan pilihan item souvenir yang mungkin kamu pilih. Jangan terlalu banyak pilihan, nanti pusing sendiri.

3. Ketika kamu sedang memilih souvenir di Alfriandra pasti ramai pengunjung dan petugas pasti akan lelah jika kamu tanya berkali-kali soal harga. "yang ini berapa harganya mbak?" Mungkin pertanyaan pertama masih dijawab dengan senyum sama mbaknya. Tapi bayangin kalo udh pertanyaan ke sepuluh dengan jeda beberapa menit sekali, pasti mbaknya udah capek jawabnya. Jadi saran saya, kelilingi tempat souvenir, kumpulkan barang-barang yang mungkin menjadi pilihan kamu, setelah dapat beberapa barang, maka tanyakan kepada petugasnya sekaligus. Jika tidak ada harga yang pas dengan budget alias kemahalan, maka ulangi step yang tadi. Kumpulkan dulu pilihannya, baru tanyakan sekaligus.

4. Alfriandra akan sangat penuh pada hari libur atau weekend, maklum calon-calon manten ada waktunya weekend. Saran saya datang ke Alfriandra pagi sekali atau sore menjelang tutup ba'da Ashar. Situasi dan kondisi cenderung kondusif, tidak terlalu penuh.

Demikian penjelajahan Nonce The Explorer bersama dengan Putros gundut, melaporkan dari tempat kejadian perkara. Semoga calon-calon manten diberikan kemudahan dalam pencarian souvenir yang lumayan bikin galau ini. Cheers.

Salam Souvenirs,
Noni Halimi


 
 
 

Wednesday, December 3, 2014

Besar Besar Bangkok, Manis Manis Bangkok

Bukan isu lagi kalau Bangkok itu identik dengan yang besar besar. Sebut saja Durian Bangkok, sudah pasti kebayang besarnya itu Durian. Pepaya Bangkok, Jambu Bangkok maupun buah-buahan lain yang ada embel-embel Bangkok pasti sudah kebanyang kegedenya di atas rata-rata. Saya juga bingung sih, Thailand itu kalo nanem pohon gimana caranya kenapa buahnya bisa ekstra jumbo semuanya sih. Bukan Cuma buah-buahan sampai kucing yang saya lihat di Bangkok, dekat Masjid Chakrabongse pun seukuran anak anjing, Kucingnya gendut dan besar. Ya, khas Bangkok.

Bukan hanya besar, Bangkok juga identik dengan manis. Rasanya buah yang berasal dari Bangkok yang dijual ke Indonesia pasti rasanya manis. Sebut saja jambu bangkok yang warnanya hijau, rasanya super manis. Saya pikir itu hanya akal-akalan pengusaha saja biar jualannya laku. Maklum belum pernah ke Bangkok beneran, jadi bawaannya suudzon mulu *lah. Kali itu saya membuktikan sendiri soal buah Bangkok.

Ternyata Bangkok agak sebelas-dua belas dengan Jakarta. Bukan hanya soal waktu yang sama persis dengan Jakarta (tidak ada perbedaan waktu antara Bangkok dan Jakarta), namun juga soal abang-abang penjual rujak. Ternyata di Bangkok super banyak abang-abang di pnggir jalan yang jualan rujak. Mereka menggunakan gerobak yang berisi macam-macam buah. Eh gak macam-macam juga sih, lebih heboh buahnya Jakarta. Kalau di Bangkok biasanya hanya Mangga, Jambu Hijau, Jambu Merah. Jika di Jakarta menggunakan sambal kacang dan gula merah untuk sambalnya, maka di Bangkok hanya menggunakan bubuk rasa Pazzola saja. Dulu saya pernah mencoba Pazolla karena kebetulan Bapak saya entah dapat dari  mana. Rasanya manis, asam, asin, ramai rasanya. Tapi tidak pedas sama sekali. Sungguh orang Bangkok menyesal tidak merasakan rujak yang pedes sampe ke kuping.

Warna mangga Bangkok dan Jakarta sama, kuning. Tapi bedanya, saya yang udah ileran melihat mangga di gerobak abang-abang sudah membayangkan rasanya pasti asem, dengan tampilan super kuning. Ternyata salah dooonggg....Pada saat saya mencicipi satu gigitan mangga, luar biasa...rasanya manis! Saya pikir ah, paling cuma satu potog yang manis, diantara banyak potongan mangga yang ada, pasti yang lain asem! Ketika saya coba makan yang lain eh ternyata manis juga. Masih penasaran saya makan lagi potongan yang lain, masih manis juga, Saya tidak menyerah, saya coba lagi potongan-potongan yang lain sampai akhirnya itu seplastik mangga abis sama saya sendirian. Maapkan rasa penasaran sayaaaa rekan-rekan....*padahal emang doyan*

Masih agak gak rela bentuk mangga kuning gak menarik itu rasanya manis, malam harinya saya nyari abang-abang tukang jualan rujak. Ini bukan niat banget malem-malem nyari tukang rujak, tapi memang malam hari pun ini tukang rujak masih eksis aja jualan. Ibaratnya mereka jualan itu kayak pedagang cemilan buah keliling saja, yang bisa dimakan pagi siang sore malam. Kali ini saya dan rekan-rekan pesan mangga, jambu hijau dan jambu air merah ukuran jumbo. Dan luar biasanya itu buah gak ada asem-asemnya alias manis semua. Huh. Ini pasti konspirasi! Malam itu buah dikuasai oleh rekan saya yang lain supaya saya gak khilaf ngabisin sendirian.

Keesokan harinya saya melihat tukang jualan buah lagi, tapi ada buah kesukaan saya, apalagi kalau bukan strawberry. Bahkan strawberry dijadikan camilan yang dijual bebas seenak jidat. Kalau di Jakarta strawberry jadi buah mahal yang dibungkus rapi dalam plastik bening, kalo di Bangkok sih biasa aja dipotongin dan dijembreng barengan sama levelnya mangga kuning-kuning yang kemaren itu. Level ileran saya sudah mencapai titik maksimum yang artinya saya harus beli itu strawberry! Harganya memang lebih malah daripada harga mangga potong. Jelas saja, dimana-mana strawberry jadi buah mahal *kenapa jadi gue yang bangga*

Saya perhatikan dengan seksama kumpulan strawberry sebelum saya beli, tak lupa saya juga memperhatikan  isi dompet dengan seksama, memastikan masih ada uang untuk bayar ke ibu-ibu yang jual. Bentuk strawberry juga jumbo, tetap terlihat jumbo walaupun sudah dipotong. Jelas saja, strawberry Bangkok.  Diatasnya ditaburi oleh gula. Saya senang, akhirnya ada juga buah yang asem. Strawberry sudah pasti asem, ini makanya dikasih gula. Walau asem saya tetep cinta strawberry, justru makin asem makin seru. Saya dan rekan saya membeli satu gelas plastik strawberry. Iler hampir netes. Saat buah strawberry sudah masuk ke mulut....*tolong, ceritanya ini adegan lambat ya* saya mengunyah pelan-pelan, dan rasanya.......MANIS! Edan! Ini strawberry termanis yang pernah saya rasain seumur-umur. Bukan gegara gulanya yang cuma dikit ditabur diatasnya, bukan juga karena ibu yang jualan pelit ngasih gula yang sedikit, bukan juga karena duit saya yang udah abis hari itu jadi gak bisa nambah beli oleh oleh, bukan juga karena saya supir tuk-tuk yang heran ngeliatin kami makan strawberry lahap banget, bukan itu. Tapi ini strawberry emang manis dari sononyeeeeeee....Arrrghhh!!!!

Strawberry Jumbo
Poto dulu sama yang dagang
Tanpa komando dari pemimpin upacara, saya langsung ngabisin segelas strawberry tadi tanpas sisa. Setelah kejadian strawberry tadi, akhirnya saya nyerah aja dan mengakui kalau buah-buah Bangkok itu manis gilak! Pantes aja Bangkok ada oleh-oleh manisan buah, emang buah Bangkok itu top. Buat yang menjelajah Bangkok jangan pernah lupa untuk memanjakan lidah kalian dengan buah-buahannya. Dijamin gak nyesel. Okey bye!

Salam Besar-Manis,

Noni Halimi

Wisata Singkat Wat Arun

Wat Arun atau Temple of The Dawn juga merupakan salah satu tempat menarik yang terkenal di kota Bangkok. Wat Arun adalah kuil yang menjulang seperti menara yang berlokasi dekat dari sungai Chao Phraya. Untuk mencapai ke Wat Arun, kamu harus menyebrang dengan perahu. Lokasi untuk menaiki perahu ada di district Thonburi, tepat di seberang Grand Palace dan Wat Po.

Pertama kami saya menaiki boat melintas Chao Phraya membuat saya sangat excited dan kegirangan. Tatkala mesin perahu boat dinyalakan dan menunggu penumpang yang naik, saya tak lepas dari jeprat sana sini untuk mengabadikan foto. Bangkok memang salah satu kota yang mengandalkan transportasi air, dikarenakan banyaknya sungai yang melintasi kota-kota di Bangkok. Bedanya dengan Indonesia, jika di Bangkok sangat terurus dan justru memanfaatkan adanya sungai untuk kepentingan masyarakat banyak dan wisatawan asing, sedangkan Indonesia dibiarkan begitu saja. Dari Sungai Ciliwung warnya masih agak bening (kata orang jaman dulu) sampai sekarang warnanya cokelat tua mendekati hitam tua, tak kunjung juga dimanfaatkan oleh pemerintah.

Tak lama menunggu penumpang, supir Chao Phraya Boat pun menjalankan mesin untuk menuju ke distri seberang. Saya pikir akan memutar-mutar dulu, ternyata langsung menyebrang. Berhubung lokasi Wat Arun persis di seberang distrik Thonburi tadi, jadi sensasi naik Chao Phraya Boat hanya sebentar saja *penonton kecewaaaaa* nanti kita naik lagi untuk ke Asiatique deh.

Panas Bingits
Wat Arun
Thiv dan Kk Sinta
Menjelang berangkat
Siang hari agaknya bukan waktu yang tepat untuk berkunjung ke Wat Arun, karena letaknya di pinggir sungai membuat situasi semakin panas dan silau (apa hubungannya). Intinya waktu yang cucok untuk ke Wat Arun adalah pagi hari ketika matahari belum terik atau senja ketika matahari terbenam. Konon sebutan Temple of The Dawn didapat ketika Raja Taksim berlayar mengarungi sungai Chao Phraya dan perahunya harus merapa ketika shubuh. Pemandangan di sana sangat indah, dan Raja Taksim ingin membangun kuil di tempat tersebut. Setelah kuil tersebut selesai di bangun, raja Taksim menamakannya kuil fajar. Lah tadi kan lagi bahas senja matahari terbenam kenapa jadi fajar ya. Intinya sih bagus lah kalo dalam keadaan remang-remang dan banyak cahaya dari sekitar kuil. Kuil tersebut jadi terlihat bersinar di antara sungai Chao Phraya yang eksotis.

Salam Fajar Menyingsing,
Noni Halimi


Patung Wat Po

Pernah melihat gambar patung Buddha warna emas yang sedang tidur di destinasi wisata Thailand? Saya sering sekali melihatnya. Nama tempat tersebut adalah Wat Po. Ini juga salah satu destinasi yang wajib untuk dikunjung (setidaknya bagi saya) di Bangkok. Wat Po atau Temple of The Reclining Buddha adalah kompleks vihara terbesar dan tertua di Bangkok. Vihara ini terkenal dengan patung Buddha rebah berlapis emas yang terbesar di dunia. Menurut kepercayaan Buddha, posisi patung rebah ini adalah posisi kenaikan Buddha ke nirwana. Ukuran patung Buddha ini mencapai 43 meter kali 15 meter.

Patung ini terdapat dalam satu ruangan yang terletak persis di dekat pintu masuk Wat Po. Patung ini hampir memenuhi seisi ruangan karena saking besarnya. Disekeliling patung Buddha ini terdapat jejeran mangkuk-mangkuk berwarna emas untuk mengisi koin. Jadi pengunjung yang datang ke sana meletakan koin koin mereka satu persatu ke dalam mangkok. Mereka antri dan berjejer satu per satu. Saya melihatnya mirip seperti main congklak, karena meletakan koin secara teratur dan berurutan.

Wat Po
Letak Wat Po ini tidak jauh dari Gran Palace, kamu hanya perlu berjalan kaki  untuk mencapai lokasi ini. Jika kamu tidak tahu, kamu bisa bertanya kepada pemilik toko-toko yang ada di area Grand Palace. Wat Po terletak di Sanam Chai Road. Tempat wisata ini buka setiap hari dari pukul 08.00 pagi sampai dengan pukul 17.00. Tiket masuk ke dalam Wat Po adalah 100 baht.

Salam bobo,

Noni Halimi 

Grand Palace Bangkok

Kalau ada yang bertanya, apa objek wisata utama yang harus dikunjungi di kota Bangkok? Maka jawabannya adalah Grand Palace. Ya, inilah icon kota Bangkok yang bisa disejajarkan dengan Twin Tower Malaysia atau Merlion Singapore. Ini adalah icon kota Bangkok. Kalau kata orang sih, nggak ke Bangkok kalau belum ke Grand Palace. Untung saya udah perah ke Grand Palace, berarti saya sudah ke Bangkok dong yaa *sujud syukur*

Grand Palace ini adalah kompleks istana yang pernah menjadi kediaman resmi raja Thailand. Meskipun sekarang sudah tidak dijadikan sebagai istana raja, namun pesona Grand Palace tetap tidak hilang begitu saja. Grand Palace dibangun pada tahun 1782 oleh Raja Rama I, mengenai silsilah Raja Rama bisa dibaca di sejarah Thailand, saya sendiri pusing bacanya, mungkin lain kali sempat untuk baca serius. Grand Palace dibangun tidak lama setelah Rama I memindahkan ibu kota Thailand dari Siam ke Rattanakosin. Bangunan ini usianya mencapai lebih dari seratus tahun. Sampai sekarang masih dimanfaatkan untuk administrasi negara, namun tidak lagi digunakan sebagai tempat tinggal raja. Arsitektur Grand Palace seperti perpaduan antara gaya khas Thailand dan gaya Eropa. Di satu sisi sangat terlihat tradisional namun di sisi yang lain sangat dipengaruhi unsur western.

Area ini sangat luas dan terdiri dari beberapa museum dan bangunan. Grand Palace terletak di Nha Phra Lan Road, buka setiap hari dari pukul 08.30 sampai dengan 16.30. Harga tiket masuk ke Grand Palace adalah 400 baht, da harga ini termasuk tiket terusan yang bisa dipakai untuk masuk ke Dusit Palace dan Temple of Emerald Buddha. Tiket ini juga bisa dipergunakan dalam hari yang berbeda. Saya dan rekan-rekan ke Grand Palace pada hari Senin, namun berhubung ini tempat keramat betul, maka walaupun weekdays, tetap saja ramai dikunjungi oleh orang. Jika kamu datang ke Grand Palace maka sempatkan untuk masuk ke dalam rumah-rumah tersebut, memang tidak diijinkan untuk mengambil gambar di beberapa tempat, tapi cukup memuaskan untuk dikunjungi. 



Area Grand Palace sangat teratur dan dijaga ketat, bahkan pengunjung yang akan masuk ke Grand Palace harus melewati seleksi petugas dulu dalam hal pakaian, Karena tempat ini merupakan tempat terhormat bagi orang Thailand, maka tidak diperkenankan untuk mengenakan baju tanpa lengan atau celana pendek. Wisatawan yang menggunakan celana pendek atau baju pendek akan dipanggil ke antrian khusus untuk dipinjamkan baju dan kain selendang untuk menutupi tubuhnya. Saya jadi ingat di Malaysia, wisatawan yang ingin berkunjung ke Masjid Malaysia pasti harus lolos seleksi. Bahkan wanita yang sudah mengenakan jilbab namun masih mengenakan jeans ketat dan pakaian diatas lutut, maka diwajibkan mengenakan jubah penutup. So far, Grand Palace worth to visit lah *jadi logat Malaysia.

Salam Lambai Tangan Princess,
Noni Halimi


Masjid Chakrabongse


Bagian dalam Masjid Mungil Chakrabongse
Thailand bukan negara Muslim, dan sebagai seorang Muslim, hasrat saya mencari Masjid di Thailand semakin besar. Baca-baca buku panduan jelajah Bangkok saya menemukan satu Masjid yang kiranya wajib untuk saya kunjungi, namanya Masjid Chakrabongse. Masjid ini berlokasi di sekitar Khaosan Road dan Chakrapong Road. Saya memang tidak membayangkan Masjid besar layaknya di Malaysia. Saya sepakat (seorang diri) memasukkan Masjid Chakrabongse ke dalam itinerary. Berhubung saya yang bikin itinerary jadi suka-suka saya mau kemana :D

Jadwal kami ke Masjid ini adalah malam hari ketika kami berjalan kaki menyusuri Chakrapong Road. Banyak kuliner dan jajanan di sekitar jalan ini. Bahkan di salah satu perempatan jalan, ada yang tidak dilewati mobil dan dijadikan sebagai bazar makanan. Saya dan rekan-rekan menyempatkan diri membeli kebab dan sejenis pancake. Memang lapar menyebabkan bodoh. Pantes kalau jaman dulu kita mau aja dijajah. Alasannya apa? Karena pada kelaperan. Selesai memesan makanan, karena lapar yang menyerang, kami langsung menyantap tanpa mengabadikan foto makanan tersebut. Aarrggghhhh! *lebay* 

Tidak jauh dari area tersebut, saya berpapasan dengan seorang Bapak yang mengenakan peci kupluk. Entah mengapa saya juga yakin bahwa Bapak ini Muslim, walaupun bentuk pecinya memang gak mirip-mirip peci sih. Cuma aura sholehnya berasa *tsahelaaah* Tanpa komando langsung tanya Masjid Chakrabongse ada dimana. Dan benar sajaaaa...ternyata Bapk itu Muslim dan menunjukkan bahwa Masjid Chakrabongse ada di gang sebelah.

Kami kegirangan dan menuju pintu gang yang dimaksud oleh bapak tersebut. Kami menemukan plang tulisan Chakrabongse Mosque. Dan melirik ke arah gang persis di depan kami. Agak kecil bentuknya, lebih mirip gang senggol. Yaa apa pun itu, saya tetap gembira bisa menemukan tempat ini. Kami masuk ke dalam gang tersebut, dan mulai tercium aroma masakan dari rumah-rumah. Ternyata di sana banyak rumah yang menjual makanan, mungkin seperti warteg untuk anak-anak kost. Harum masakan yang khas dan sedaaap. Ini wangi masakan halal. Sungguh kontras dengan aroma masakan yang ada di sepanjang pinggir jalan Chakrapong Road tadi. Tak jauh dari mulut gang, kami menemukan pintu gerbang bertuliskan Chakrabongse Mosque. Alhamdulillah sampai.

Kami masuk berurutan dan berniat melepas alas kaki ketika sampai di depan Masjid. Ketika kami melepaskan alas kaki, ada seorang mas-mas yang menanyakan kami hendak apa? hendak sholat? Beliau berbicara bahasa Melayu, kami langsung jawab rehat sejenak ingin sholat Isya. Kemudian mas-mas itu bilang, “Ya boleh sekejap, kerana Masjid ini nak tutup, dah malam.” Saat itu memang menunjukkan pukul 20.30 malam. Mungkin karena Masjid ini dikelola oleh mereka, ada jam malam, terlebih kami juga serombongan wanita-wanita lemah (halaaah) yang seharusnya nggak boleh keluyuran malam-malam.

Tirai
Begitu masuk ke dalam Masjid langsung adeeeeem dan dingin parah. Tadinya kami gerah segerah-gerahnya jalan malam, habis masuk Masjid langsung nyeesssss....Angin dari kipas angin super kenceng membuat kami betah di dalam Masjid. Kalau nggak inget disuruh buruan sama mas-mas tadi, mungkin kami sudah nginep aja di Masjid :D Tiap saya datang ke Masjid mana pun di luar dari Jakarta dan kota-kota besar lainnya, atau ke Masjid di negara lain dengan pendudukan Muslim yang minoritas, membuat saya makin bersyukur bahwa saya sangat difasilitasi oleh tempat ibadah yang memadai, jangan sampe kalah semangat dengan saudara-saudara saya yang berada di daerah yang minoritas Muslim. Sempatkan untuk mengunjungi Mesjid di mana pun kamu bepergian, kamu akan belajar banyak.
Lemari Buku Mushaf
Mejeng di depan gang

Bangkok Shutdown

Bulan Februari 2014 lalu saya terbang ke Bangkok dalam keadaan deg-deg-an. Bagaimana tidak, saat itu ternyata masih terjadi kerusuhan dan demostrasi warga Bangkok. Aksi ini sudah berlangsung dari November 2013. Saya pikir Februari udah bosen demo, ternyata masih juga ada, bahkan makin gencar karena mendekati waktu Pemilu di Thailand. Demo ini bertujuan untuk menggulingkan Perdana Menteri Bangkok cantik bernama Yingluck Shinawatra. Para demostran dan pihak oposisi memaksa PM Bangkok untuk mundur dari kursi jabatannya. Terlebih ketika Thaksin Shinawatra, kakak dari Yinluck yang merupakan mantan PM, melarikan diri dari jeratan kasus korupsi. Yinluck dianggap membantu kakaknya dan bersekongkol dalam kasus korupsi.

Aksi demo ini bukan tidak heboh, bahkan aksi ini sudah banyak memakan korban. Beberapa ledakan terjadi di tengah-tengah kegiatan demonstran. Para demonstran beberapa kali menduduki pusat kota Bangkok dan memblokade jalan raya. Saya yang berencana pergi ke Bangkok jadi agak mikir. Bahkan saya disodorkan berita mengenai kersusuhan Bangkok oleh Bapak saya H-3 sebelum keberangkatan. Namun apa pun yang terjadi, tiket sudah dibeli, jadi saya tetap berangkat. Bismillah. Kami pun agak merombak itinerary perjalanan dan meminimalisir ke daerah yang rawan akan demo. Kami mungkin mendekati, namun  hanya sebentar saja. Tidak lupa kami rajin baca informasi mengenai Bangkok Shutdown dan lokasi-lokasi konflik. Selain itu kami memang dihimbau untuk tidak menggunakan atribut berwarna kuning atau merah, dan tidak menggunakan atribut bendera Thailand. Hal ini untuk membedakan demonstran dengan warga sipil lainnya.

Dengan baca doa yang super, temen-temen yang mau perang ke daerah konflik (siaaal), minta doa restu dari orang tua, kami pun tetep berangkat ke Bangkok. Berikut penampakan Bangkok Shutdown yang ada di area National Stadium, Siam dan sekitarnya. Benar kata media, memang masih terjadi demonstrasi.

Demo Yang Mirip Kemping
Bangkok Shutdown
Demonstasi yang dilakukan di Bangkok berbeda jauh dari bayangan saya. Berhubung saya tinggal di Jakarta, dan sering juga melihat orang demo, bahkan jaman mahasiswa malah ikut jadi peserta demo, dalam bayangan saya yaaaa...pendemo akan beriringan di pinngir jalan, berorasi, dan jika ada kerusuhan..ya nasip deh bentrok. Namun apa yang saya temukan berbeda sekali. Di Bangkok, aksi demo ini dilakukan dengan sangat tertib. Mereka menggunakan atribut demo, membangun panggung, berorasi, bahkan ada hiburan musik (ini demo apa kondangan dangdutan sih). Peserta demo duduk-duduk tertib di depan panggung sambil membentangkan atribut, tulisan, gambar yang mendukung aksi mereka. Bahka yang lebih lucu lagi, di stasiun National Stadium, terdapat lapangan cukup luas, mereka menggelar tenda hijau tentara, berbaris rapiiiii. Mereka menginap dalam rangka demo kepada pemerintahan, Lucu, ini demo apa kemping sih. Walaupun terlihat aman, bukan berarti tidak ada provokator dan potensi untuk rusuh. Jadi saya dan rekan-rekan hanya sekedar melihat dan segera menjauhi dari tempat lokasi demo. Cukup tahu saja, di sana demonya anti maintream gak kaya di Jakarta. Besok-besok saya kasih masukan untuk para demonstran kalau mau protes yang kreatif dikit, mungkin sambil bawa peralatan masak, terus masak-masak, abis itu masakannya dibagiin ke penonton demo (iyaa....ini demo memasak!)

Shopping Murah di MBK

Siapa sih yang tidak tahu MBK? Banyak orang yang tahu soal MBK, sedikit orang yang tidak tahu soal MBK. Dan sayangnya saya termasuk segelintir orang yang tidak tahu apa itu MBK *sedih tidak* Weitss..tapi itu duluuuu....sebelum saya pesan tiket Jakarta-Bangkok-Jakarta. Sejak saya nekat pesan tiket PP Jakarta-Bangkok-Jakarta melalui maskapai low budget Tiger Airways, sudah pasti saya akan cari tahu lokasi dan tempat yang wajib dikunjungi di Bangkok, maka saya pun tahu apa itu MBK. Terima kasih Tiger Airways *ala-ala tong fang.

MBK, Bangkok

MBK adalah salah satu pusat perbelanjaan yang ada di jantung kota Bangkok. Jika kamu menaiki transportasi umum BTS (kereta) maka kamu harus turun di National Stadium, berjalan sedikit dan voila..... kamu sudah sampai di MBK dengan jembatan yang langsung menghubungkan ke dalam mall tersebut. MBK itu singkatan (iya semua orang juga tahu keleus, Nonce). Nah kepanjangan dari MBK adalah Mah Boon Krong *oke saya ngaku lupa kepanjangannya, barusan saya google*. Jika kamu pergi ke MBK naik taxi maka bilang ke Pak supir ke Mah Boon Krong, karena sebutan tersebut untuk orang lokal. Mall ini ramai dikunjungi wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang ingin berbelanja. Gedung dengan 8 lantai ini memang menyediakan berbagai barang dagangan, mulai dari kosmetik, alat rumah tangga, fashion, souvenir, kerajinan tangan khas Thailand, kuliner, dan masih banyak lagi. Harga yang ditawarkan cukup terjangkau dan yang lebih asyik lagi di sini bebas tawar menawar layaknya ITC! Boleehh kakak...Silahkan Kakak...

Saat berkunjung ke MBK saya langsung memutar ke area perbelanjaan souvenir. Banyak barang yang dijual persis sama dengan yang ada di Chatuchak Weekend Market. Namun yang bikin kesel adalah harganya kok lebih murah dari Chatuchak yeeeeee...Bahkan untuk kaos, saya menemukan rombongan kaos souvenir dengan harga yang dibanderol 98 Baht saja per kaos, which is harganya kurang lebih 35ribuan. Ah meeeennn! Saya langsung ngibrit mendekati tokonya dan memegang bahan kaosnya. Well, aselik ini bahan kaos souvenir adem banget, beda banget sama kaos souvenir buatan Singapore atau Malaysia. Di Singapore untuk harga kaos dengan bahan yang agak lumayan mencapai 150ribu, sedangkan di Bangkok cukup merogoh kocek 35ribuan sudah dapat kaos kece. Walhasiiiiil kami kalap.

Bukan hanya kaos tapi juga banyak barang dagangan lainnya yang lebih murah dari di Chatuchak. Entah di Chatuchak kami tidak bisa nawar atau gimana keliatan bloonnya sehingga harganya jadi gak murah-murah banget. Jika kekurangan uang cash jangan khawatir di mall ini tersedia banyak money changer. Kamu bisa menukarkan uang rupiah atau dollar milik kamu ke dalam baht. Jika tetap tidak punya uang cash, kamu bisa menggunakan kartu kredit sebagai pembayaran. Banyak juga toko yang menyediakan mesin EDC sehingga kamu bisa berbelanja dengan cara menggesek kartu kredit di mesin EDC. Namun jika kamu tidak punya uang cash dan kartu kredit, saran saya kamu bisa berjalan kaki ke luar MBK, mending pulang saja daripada ngiler pengen beli ini itu kan!

MBK buka dari pagi hingga pukul 21.00 malam, makin malam justru makin ramai dan suasana dari luar MBK sangat cantik. Untuk yang berencana shopping di Bangkok, masukkan MBK sebagai salah satu destinasi belanja kamu. Dijamin gak bakal rugi! Kecuali kalo sebelumnya udah belanja banyak di Chatuchak sih *curcol

Salam Shopping,
Noni Halimi

Saturday, September 20, 2014

Madame Tussauds Bangkok

Menjelang siang hari lepas dari Chatuchak Weekend Market kami langsung bergegas ke Madame Tussauds yang terletak di Siam. Kami menaiki BTS dari Mo Chit menuju Siam dengan harga tiket BTS 42 THB. Karena panas yang super maka kami pun memutuskan untuk mencoba membeli ice cone McD yang berada di dalam stasiun Mo Chit. Harganya 9 THB atau lebih mahal daripada harga aqua dan harga ice cone di Indonesia. Tapi jangan khawatir, ukuran Bangkok memang selalu super big. Ini ice cone sampe lama bener saya bisa ngabisinnya sakit super gede. Padahal biasanya saya paling cepat kalau disuruh ngabisin ice cream. Madame Tussauds terletak di Siam Discovery lantai 6. Rupanya lokasi Siam Discovery sangat mudah ditemukan. Bekal bertanya orang sana sini, kami pun sampai di Madame Tussauds. Kami harus menyebrangi Siam Paragon (Mall besar dengan lambang huruf P di bagian depan gedung) dan Siam Center. Setelah menyeberang mall tersebut baru kami sampai di Siam Discovery dengan papan besar bertuliskan Madame Tussauds.

Sebenarnya saya sudah lama sekali ingin pergi ke Madame Tussauds. Untuk ke Madame Tussauds London agaknya masih lama dan belum cukup budget, maka Madame Tussauds Bangkok adalah yang paling dekat, hahaha. Begitu sampai di depan registrasi saya langsung menunjukkan bukti booking dan pembayaran tiket masuk Madame Tussauds. Jika kami masuk sebelum pukul 12.00 pm maka akan ada potongan harga. Untuk pembelian secara online juga mendapatkan potongan harga. Standar tiket untuk dewasa adalah 800 THB. Jika dilakukan pembelian online maka harga tiket menjadi 640 THB. Dan jika masuk sebelum pukul 12.00 siang maka tiket bisa dibeli dengan harga 480 THB saja atau hemat 40% dari harga normal. Menarik bukan.

Untuk lebih lengkapnya silahkan kunjungi laman berikut ini : www.madametussauds.com/bangkok/en/

Pose di depan Madame Tussauds

Chatuchak Weekend Market

Pagi hari di Bangkok tepat hari Minggu akan saya manfaatkan untuk ke Chatuchak Weekend Market yang berlokasi tidak jauh dari terminal Mo chit. Kami hanya butuh berjalan kaki dari Mo Chit. Berbekal peta yang sudah saya jarah di Bandara hari kemarin, maka dengan penuh percaya diri saya yakin nggak akan nyasar ke Chatuchak. Tentunya dengan modal tanya sana sini juga sih hehehehe.

Kami berangkat dari hostel menuju Samsen Road tempat pemberhentian bus sekitar pukul 06.40 pagi. saat itu masih sepi dan belum penuh kendaraan bermotor. Jalanan lengang dan masih cukup dingin. Bus besar yang kami naiki tanpa AC dengan kondektur seorang wanita yang sigap mengguncangkan kaleng sebesar kaleng Pringless yang berisi koin recehan untuk kembalian. Empat toiket untuk ke terminal Mo Chit kami harus membayar 11.5 THB. Lepas membayar dengan uang deposit kami bersama, dilanjutkan dengan menikmati perjalanan pagi hari di kota Bangkok. Hingga tidak terasa sampailah kami di terminal Mo Chit. Kami hanya berjalan kaki sedikit menuju Chatuchak Market. 

Pose dulu di Bus
Chatuchak (baca: Jatujak) adalah pasar tradisional yang hanya buka pada saat weekend (Sabtu Minggu) di Bangkok. Lokasinya berada di Chatuchak dekat dengan BTS Mo Chit. Chatuchak Market adalah pasar yang sangat banyak menjual barang barang. Lebih tepatnya one stop shoping. Karena kamu bisa menemukan banyak barang di sini. Dari baju, peralatan rumah tangga, kaos, cinderamata khas Bangkok seperti tas, gantungan kunci, hiasan dinding, tempelan kulkas, dan masih banyak lagi tersedia di sini. Tipsnya ketika berbelanja di sini adalah tentukan apa yang akan kamu beli sebelum masuk Chatuchak, karena banyaknya ragam yang dijual disesuaikan dengan lorongnya masing-masing. Misal lorong (soi) 1-3 untuk baju-baju, lorong 4-6 untuk makanan dan seterusnya. Sehingga ketika kamu sudah menentukan akan membeli apa maka sudah pasti akan menentukan akan masuk soi berapa. Hal ini untuk meminimalisir nysar dan buang-buang waktu dengan berjalan tanpa arah (tssaaaahhh).

Selain itu, agaknya prinsip membeli pada pasar di seluruh dunia akan berlaku hukum yang sama, yakni jika sudah ada barang yang diminati maka tawarlah dengan harga yang paling murah untuk mendapatkan harga yang sesuai dengan selera dan kantong. Demikian halnya dengan di Chatuchak, jangan malu untuk menawar harga dari harga awal yang mereka tawarkan. Terlebih lagi jika kamu membeli beramai-ramai dan dalam jumlah yang banyak biasanya akan diberikan potongan harga. Jangan lupa untuk survey alias berkeliling ke toko yang berbeda dengan barang yang sama untuk mencari perbandingan harga dan mendapatkan harga yang paling murah. Jangan ragu untuk bolak balik karena di sini memang banyak toko yang menjual barang yang mirip-mirip satu sama lain.

Jangan kalap untuk langsung membeli banyak barang. Selain Chatuchak masih ada lagi tempat perbelanjaan di Bangkok yang sayang untuk dilewati begitu saja. So, keep your money save in your pocket. Puas belanja kami keluar dari area pasar tersebut dan mencoba membeli mangga potong yang dijual di pinggir jalan. Ini kali pertama saya merasakan mangga Bangkok. Warnanya kuning, dan diberi bumbu garam gula selayaknya rujak pinggir jalan. Berbeda dengan di  Indonesia yang menggunakan sambal kacang, kalau di Bangkok hanya sebatas bumbu butiran garam manis asam asin ala-ala Pazzolla (untuk yang sudah pernah nyoba). saya pikir dengan warna kuning terang tersebut rasanya akan super asam, namun aneh ternyata rasanya sangat manis. Luar biasa. Harga seplastik mangga yang sudah dipotong adalah 10 THB (which is itu satu mangga gede utuh yang dipotong-potong). Lumayan murah lah. Tak lupa kami membeli aqua botol seharga 7 THB di pinggir jalan untuk menghilangkan rasa dahaga dan teman sarapan roti pagi hari :D

Buah buahan Rujak