Showing posts with label Bangkok. Show all posts
Showing posts with label Bangkok. Show all posts

Wednesday, December 3, 2014

Besar Besar Bangkok, Manis Manis Bangkok

Bukan isu lagi kalau Bangkok itu identik dengan yang besar besar. Sebut saja Durian Bangkok, sudah pasti kebayang besarnya itu Durian. Pepaya Bangkok, Jambu Bangkok maupun buah-buahan lain yang ada embel-embel Bangkok pasti sudah kebanyang kegedenya di atas rata-rata. Saya juga bingung sih, Thailand itu kalo nanem pohon gimana caranya kenapa buahnya bisa ekstra jumbo semuanya sih. Bukan Cuma buah-buahan sampai kucing yang saya lihat di Bangkok, dekat Masjid Chakrabongse pun seukuran anak anjing, Kucingnya gendut dan besar. Ya, khas Bangkok.

Bukan hanya besar, Bangkok juga identik dengan manis. Rasanya buah yang berasal dari Bangkok yang dijual ke Indonesia pasti rasanya manis. Sebut saja jambu bangkok yang warnanya hijau, rasanya super manis. Saya pikir itu hanya akal-akalan pengusaha saja biar jualannya laku. Maklum belum pernah ke Bangkok beneran, jadi bawaannya suudzon mulu *lah. Kali itu saya membuktikan sendiri soal buah Bangkok.

Ternyata Bangkok agak sebelas-dua belas dengan Jakarta. Bukan hanya soal waktu yang sama persis dengan Jakarta (tidak ada perbedaan waktu antara Bangkok dan Jakarta), namun juga soal abang-abang penjual rujak. Ternyata di Bangkok super banyak abang-abang di pnggir jalan yang jualan rujak. Mereka menggunakan gerobak yang berisi macam-macam buah. Eh gak macam-macam juga sih, lebih heboh buahnya Jakarta. Kalau di Bangkok biasanya hanya Mangga, Jambu Hijau, Jambu Merah. Jika di Jakarta menggunakan sambal kacang dan gula merah untuk sambalnya, maka di Bangkok hanya menggunakan bubuk rasa Pazzola saja. Dulu saya pernah mencoba Pazolla karena kebetulan Bapak saya entah dapat dari  mana. Rasanya manis, asam, asin, ramai rasanya. Tapi tidak pedas sama sekali. Sungguh orang Bangkok menyesal tidak merasakan rujak yang pedes sampe ke kuping.

Warna mangga Bangkok dan Jakarta sama, kuning. Tapi bedanya, saya yang udah ileran melihat mangga di gerobak abang-abang sudah membayangkan rasanya pasti asem, dengan tampilan super kuning. Ternyata salah dooonggg....Pada saat saya mencicipi satu gigitan mangga, luar biasa...rasanya manis! Saya pikir ah, paling cuma satu potog yang manis, diantara banyak potongan mangga yang ada, pasti yang lain asem! Ketika saya coba makan yang lain eh ternyata manis juga. Masih penasaran saya makan lagi potongan yang lain, masih manis juga, Saya tidak menyerah, saya coba lagi potongan-potongan yang lain sampai akhirnya itu seplastik mangga abis sama saya sendirian. Maapkan rasa penasaran sayaaaa rekan-rekan....*padahal emang doyan*

Masih agak gak rela bentuk mangga kuning gak menarik itu rasanya manis, malam harinya saya nyari abang-abang tukang jualan rujak. Ini bukan niat banget malem-malem nyari tukang rujak, tapi memang malam hari pun ini tukang rujak masih eksis aja jualan. Ibaratnya mereka jualan itu kayak pedagang cemilan buah keliling saja, yang bisa dimakan pagi siang sore malam. Kali ini saya dan rekan-rekan pesan mangga, jambu hijau dan jambu air merah ukuran jumbo. Dan luar biasanya itu buah gak ada asem-asemnya alias manis semua. Huh. Ini pasti konspirasi! Malam itu buah dikuasai oleh rekan saya yang lain supaya saya gak khilaf ngabisin sendirian.

Keesokan harinya saya melihat tukang jualan buah lagi, tapi ada buah kesukaan saya, apalagi kalau bukan strawberry. Bahkan strawberry dijadikan camilan yang dijual bebas seenak jidat. Kalau di Jakarta strawberry jadi buah mahal yang dibungkus rapi dalam plastik bening, kalo di Bangkok sih biasa aja dipotongin dan dijembreng barengan sama levelnya mangga kuning-kuning yang kemaren itu. Level ileran saya sudah mencapai titik maksimum yang artinya saya harus beli itu strawberry! Harganya memang lebih malah daripada harga mangga potong. Jelas saja, dimana-mana strawberry jadi buah mahal *kenapa jadi gue yang bangga*

Saya perhatikan dengan seksama kumpulan strawberry sebelum saya beli, tak lupa saya juga memperhatikan  isi dompet dengan seksama, memastikan masih ada uang untuk bayar ke ibu-ibu yang jual. Bentuk strawberry juga jumbo, tetap terlihat jumbo walaupun sudah dipotong. Jelas saja, strawberry Bangkok.  Diatasnya ditaburi oleh gula. Saya senang, akhirnya ada juga buah yang asem. Strawberry sudah pasti asem, ini makanya dikasih gula. Walau asem saya tetep cinta strawberry, justru makin asem makin seru. Saya dan rekan saya membeli satu gelas plastik strawberry. Iler hampir netes. Saat buah strawberry sudah masuk ke mulut....*tolong, ceritanya ini adegan lambat ya* saya mengunyah pelan-pelan, dan rasanya.......MANIS! Edan! Ini strawberry termanis yang pernah saya rasain seumur-umur. Bukan gegara gulanya yang cuma dikit ditabur diatasnya, bukan juga karena ibu yang jualan pelit ngasih gula yang sedikit, bukan juga karena duit saya yang udah abis hari itu jadi gak bisa nambah beli oleh oleh, bukan juga karena saya supir tuk-tuk yang heran ngeliatin kami makan strawberry lahap banget, bukan itu. Tapi ini strawberry emang manis dari sononyeeeeeee....Arrrghhh!!!!

Strawberry Jumbo
Poto dulu sama yang dagang
Tanpa komando dari pemimpin upacara, saya langsung ngabisin segelas strawberry tadi tanpas sisa. Setelah kejadian strawberry tadi, akhirnya saya nyerah aja dan mengakui kalau buah-buah Bangkok itu manis gilak! Pantes aja Bangkok ada oleh-oleh manisan buah, emang buah Bangkok itu top. Buat yang menjelajah Bangkok jangan pernah lupa untuk memanjakan lidah kalian dengan buah-buahannya. Dijamin gak nyesel. Okey bye!

Salam Besar-Manis,

Noni Halimi

Wisata Singkat Wat Arun

Wat Arun atau Temple of The Dawn juga merupakan salah satu tempat menarik yang terkenal di kota Bangkok. Wat Arun adalah kuil yang menjulang seperti menara yang berlokasi dekat dari sungai Chao Phraya. Untuk mencapai ke Wat Arun, kamu harus menyebrang dengan perahu. Lokasi untuk menaiki perahu ada di district Thonburi, tepat di seberang Grand Palace dan Wat Po.

Pertama kami saya menaiki boat melintas Chao Phraya membuat saya sangat excited dan kegirangan. Tatkala mesin perahu boat dinyalakan dan menunggu penumpang yang naik, saya tak lepas dari jeprat sana sini untuk mengabadikan foto. Bangkok memang salah satu kota yang mengandalkan transportasi air, dikarenakan banyaknya sungai yang melintasi kota-kota di Bangkok. Bedanya dengan Indonesia, jika di Bangkok sangat terurus dan justru memanfaatkan adanya sungai untuk kepentingan masyarakat banyak dan wisatawan asing, sedangkan Indonesia dibiarkan begitu saja. Dari Sungai Ciliwung warnya masih agak bening (kata orang jaman dulu) sampai sekarang warnanya cokelat tua mendekati hitam tua, tak kunjung juga dimanfaatkan oleh pemerintah.

Tak lama menunggu penumpang, supir Chao Phraya Boat pun menjalankan mesin untuk menuju ke distri seberang. Saya pikir akan memutar-mutar dulu, ternyata langsung menyebrang. Berhubung lokasi Wat Arun persis di seberang distrik Thonburi tadi, jadi sensasi naik Chao Phraya Boat hanya sebentar saja *penonton kecewaaaaa* nanti kita naik lagi untuk ke Asiatique deh.

Panas Bingits
Wat Arun
Thiv dan Kk Sinta
Menjelang berangkat
Siang hari agaknya bukan waktu yang tepat untuk berkunjung ke Wat Arun, karena letaknya di pinggir sungai membuat situasi semakin panas dan silau (apa hubungannya). Intinya waktu yang cucok untuk ke Wat Arun adalah pagi hari ketika matahari belum terik atau senja ketika matahari terbenam. Konon sebutan Temple of The Dawn didapat ketika Raja Taksim berlayar mengarungi sungai Chao Phraya dan perahunya harus merapa ketika shubuh. Pemandangan di sana sangat indah, dan Raja Taksim ingin membangun kuil di tempat tersebut. Setelah kuil tersebut selesai di bangun, raja Taksim menamakannya kuil fajar. Lah tadi kan lagi bahas senja matahari terbenam kenapa jadi fajar ya. Intinya sih bagus lah kalo dalam keadaan remang-remang dan banyak cahaya dari sekitar kuil. Kuil tersebut jadi terlihat bersinar di antara sungai Chao Phraya yang eksotis.

Salam Fajar Menyingsing,
Noni Halimi


Patung Wat Po

Pernah melihat gambar patung Buddha warna emas yang sedang tidur di destinasi wisata Thailand? Saya sering sekali melihatnya. Nama tempat tersebut adalah Wat Po. Ini juga salah satu destinasi yang wajib untuk dikunjung (setidaknya bagi saya) di Bangkok. Wat Po atau Temple of The Reclining Buddha adalah kompleks vihara terbesar dan tertua di Bangkok. Vihara ini terkenal dengan patung Buddha rebah berlapis emas yang terbesar di dunia. Menurut kepercayaan Buddha, posisi patung rebah ini adalah posisi kenaikan Buddha ke nirwana. Ukuran patung Buddha ini mencapai 43 meter kali 15 meter.

Patung ini terdapat dalam satu ruangan yang terletak persis di dekat pintu masuk Wat Po. Patung ini hampir memenuhi seisi ruangan karena saking besarnya. Disekeliling patung Buddha ini terdapat jejeran mangkuk-mangkuk berwarna emas untuk mengisi koin. Jadi pengunjung yang datang ke sana meletakan koin koin mereka satu persatu ke dalam mangkok. Mereka antri dan berjejer satu per satu. Saya melihatnya mirip seperti main congklak, karena meletakan koin secara teratur dan berurutan.

Wat Po
Letak Wat Po ini tidak jauh dari Gran Palace, kamu hanya perlu berjalan kaki  untuk mencapai lokasi ini. Jika kamu tidak tahu, kamu bisa bertanya kepada pemilik toko-toko yang ada di area Grand Palace. Wat Po terletak di Sanam Chai Road. Tempat wisata ini buka setiap hari dari pukul 08.00 pagi sampai dengan pukul 17.00. Tiket masuk ke dalam Wat Po adalah 100 baht.

Salam bobo,

Noni Halimi 

Bangkok Shutdown

Bulan Februari 2014 lalu saya terbang ke Bangkok dalam keadaan deg-deg-an. Bagaimana tidak, saat itu ternyata masih terjadi kerusuhan dan demostrasi warga Bangkok. Aksi ini sudah berlangsung dari November 2013. Saya pikir Februari udah bosen demo, ternyata masih juga ada, bahkan makin gencar karena mendekati waktu Pemilu di Thailand. Demo ini bertujuan untuk menggulingkan Perdana Menteri Bangkok cantik bernama Yingluck Shinawatra. Para demostran dan pihak oposisi memaksa PM Bangkok untuk mundur dari kursi jabatannya. Terlebih ketika Thaksin Shinawatra, kakak dari Yinluck yang merupakan mantan PM, melarikan diri dari jeratan kasus korupsi. Yinluck dianggap membantu kakaknya dan bersekongkol dalam kasus korupsi.

Aksi demo ini bukan tidak heboh, bahkan aksi ini sudah banyak memakan korban. Beberapa ledakan terjadi di tengah-tengah kegiatan demonstran. Para demonstran beberapa kali menduduki pusat kota Bangkok dan memblokade jalan raya. Saya yang berencana pergi ke Bangkok jadi agak mikir. Bahkan saya disodorkan berita mengenai kersusuhan Bangkok oleh Bapak saya H-3 sebelum keberangkatan. Namun apa pun yang terjadi, tiket sudah dibeli, jadi saya tetap berangkat. Bismillah. Kami pun agak merombak itinerary perjalanan dan meminimalisir ke daerah yang rawan akan demo. Kami mungkin mendekati, namun  hanya sebentar saja. Tidak lupa kami rajin baca informasi mengenai Bangkok Shutdown dan lokasi-lokasi konflik. Selain itu kami memang dihimbau untuk tidak menggunakan atribut berwarna kuning atau merah, dan tidak menggunakan atribut bendera Thailand. Hal ini untuk membedakan demonstran dengan warga sipil lainnya.

Dengan baca doa yang super, temen-temen yang mau perang ke daerah konflik (siaaal), minta doa restu dari orang tua, kami pun tetep berangkat ke Bangkok. Berikut penampakan Bangkok Shutdown yang ada di area National Stadium, Siam dan sekitarnya. Benar kata media, memang masih terjadi demonstrasi.

Demo Yang Mirip Kemping
Bangkok Shutdown
Demonstasi yang dilakukan di Bangkok berbeda jauh dari bayangan saya. Berhubung saya tinggal di Jakarta, dan sering juga melihat orang demo, bahkan jaman mahasiswa malah ikut jadi peserta demo, dalam bayangan saya yaaaa...pendemo akan beriringan di pinngir jalan, berorasi, dan jika ada kerusuhan..ya nasip deh bentrok. Namun apa yang saya temukan berbeda sekali. Di Bangkok, aksi demo ini dilakukan dengan sangat tertib. Mereka menggunakan atribut demo, membangun panggung, berorasi, bahkan ada hiburan musik (ini demo apa kondangan dangdutan sih). Peserta demo duduk-duduk tertib di depan panggung sambil membentangkan atribut, tulisan, gambar yang mendukung aksi mereka. Bahka yang lebih lucu lagi, di stasiun National Stadium, terdapat lapangan cukup luas, mereka menggelar tenda hijau tentara, berbaris rapiiiii. Mereka menginap dalam rangka demo kepada pemerintahan, Lucu, ini demo apa kemping sih. Walaupun terlihat aman, bukan berarti tidak ada provokator dan potensi untuk rusuh. Jadi saya dan rekan-rekan hanya sekedar melihat dan segera menjauhi dari tempat lokasi demo. Cukup tahu saja, di sana demonya anti maintream gak kaya di Jakarta. Besok-besok saya kasih masukan untuk para demonstran kalau mau protes yang kreatif dikit, mungkin sambil bawa peralatan masak, terus masak-masak, abis itu masakannya dibagiin ke penonton demo (iyaa....ini demo memasak!)

Saturday, September 20, 2014

Madame Tussauds Bangkok

Menjelang siang hari lepas dari Chatuchak Weekend Market kami langsung bergegas ke Madame Tussauds yang terletak di Siam. Kami menaiki BTS dari Mo Chit menuju Siam dengan harga tiket BTS 42 THB. Karena panas yang super maka kami pun memutuskan untuk mencoba membeli ice cone McD yang berada di dalam stasiun Mo Chit. Harganya 9 THB atau lebih mahal daripada harga aqua dan harga ice cone di Indonesia. Tapi jangan khawatir, ukuran Bangkok memang selalu super big. Ini ice cone sampe lama bener saya bisa ngabisinnya sakit super gede. Padahal biasanya saya paling cepat kalau disuruh ngabisin ice cream. Madame Tussauds terletak di Siam Discovery lantai 6. Rupanya lokasi Siam Discovery sangat mudah ditemukan. Bekal bertanya orang sana sini, kami pun sampai di Madame Tussauds. Kami harus menyebrangi Siam Paragon (Mall besar dengan lambang huruf P di bagian depan gedung) dan Siam Center. Setelah menyeberang mall tersebut baru kami sampai di Siam Discovery dengan papan besar bertuliskan Madame Tussauds.

Sebenarnya saya sudah lama sekali ingin pergi ke Madame Tussauds. Untuk ke Madame Tussauds London agaknya masih lama dan belum cukup budget, maka Madame Tussauds Bangkok adalah yang paling dekat, hahaha. Begitu sampai di depan registrasi saya langsung menunjukkan bukti booking dan pembayaran tiket masuk Madame Tussauds. Jika kami masuk sebelum pukul 12.00 pm maka akan ada potongan harga. Untuk pembelian secara online juga mendapatkan potongan harga. Standar tiket untuk dewasa adalah 800 THB. Jika dilakukan pembelian online maka harga tiket menjadi 640 THB. Dan jika masuk sebelum pukul 12.00 siang maka tiket bisa dibeli dengan harga 480 THB saja atau hemat 40% dari harga normal. Menarik bukan.

Untuk lebih lengkapnya silahkan kunjungi laman berikut ini : www.madametussauds.com/bangkok/en/

Pose di depan Madame Tussauds

Chatuchak Weekend Market

Pagi hari di Bangkok tepat hari Minggu akan saya manfaatkan untuk ke Chatuchak Weekend Market yang berlokasi tidak jauh dari terminal Mo chit. Kami hanya butuh berjalan kaki dari Mo Chit. Berbekal peta yang sudah saya jarah di Bandara hari kemarin, maka dengan penuh percaya diri saya yakin nggak akan nyasar ke Chatuchak. Tentunya dengan modal tanya sana sini juga sih hehehehe.

Kami berangkat dari hostel menuju Samsen Road tempat pemberhentian bus sekitar pukul 06.40 pagi. saat itu masih sepi dan belum penuh kendaraan bermotor. Jalanan lengang dan masih cukup dingin. Bus besar yang kami naiki tanpa AC dengan kondektur seorang wanita yang sigap mengguncangkan kaleng sebesar kaleng Pringless yang berisi koin recehan untuk kembalian. Empat toiket untuk ke terminal Mo Chit kami harus membayar 11.5 THB. Lepas membayar dengan uang deposit kami bersama, dilanjutkan dengan menikmati perjalanan pagi hari di kota Bangkok. Hingga tidak terasa sampailah kami di terminal Mo Chit. Kami hanya berjalan kaki sedikit menuju Chatuchak Market. 

Pose dulu di Bus
Chatuchak (baca: Jatujak) adalah pasar tradisional yang hanya buka pada saat weekend (Sabtu Minggu) di Bangkok. Lokasinya berada di Chatuchak dekat dengan BTS Mo Chit. Chatuchak Market adalah pasar yang sangat banyak menjual barang barang. Lebih tepatnya one stop shoping. Karena kamu bisa menemukan banyak barang di sini. Dari baju, peralatan rumah tangga, kaos, cinderamata khas Bangkok seperti tas, gantungan kunci, hiasan dinding, tempelan kulkas, dan masih banyak lagi tersedia di sini. Tipsnya ketika berbelanja di sini adalah tentukan apa yang akan kamu beli sebelum masuk Chatuchak, karena banyaknya ragam yang dijual disesuaikan dengan lorongnya masing-masing. Misal lorong (soi) 1-3 untuk baju-baju, lorong 4-6 untuk makanan dan seterusnya. Sehingga ketika kamu sudah menentukan akan membeli apa maka sudah pasti akan menentukan akan masuk soi berapa. Hal ini untuk meminimalisir nysar dan buang-buang waktu dengan berjalan tanpa arah (tssaaaahhh).

Selain itu, agaknya prinsip membeli pada pasar di seluruh dunia akan berlaku hukum yang sama, yakni jika sudah ada barang yang diminati maka tawarlah dengan harga yang paling murah untuk mendapatkan harga yang sesuai dengan selera dan kantong. Demikian halnya dengan di Chatuchak, jangan malu untuk menawar harga dari harga awal yang mereka tawarkan. Terlebih lagi jika kamu membeli beramai-ramai dan dalam jumlah yang banyak biasanya akan diberikan potongan harga. Jangan lupa untuk survey alias berkeliling ke toko yang berbeda dengan barang yang sama untuk mencari perbandingan harga dan mendapatkan harga yang paling murah. Jangan ragu untuk bolak balik karena di sini memang banyak toko yang menjual barang yang mirip-mirip satu sama lain.

Jangan kalap untuk langsung membeli banyak barang. Selain Chatuchak masih ada lagi tempat perbelanjaan di Bangkok yang sayang untuk dilewati begitu saja. So, keep your money save in your pocket. Puas belanja kami keluar dari area pasar tersebut dan mencoba membeli mangga potong yang dijual di pinggir jalan. Ini kali pertama saya merasakan mangga Bangkok. Warnanya kuning, dan diberi bumbu garam gula selayaknya rujak pinggir jalan. Berbeda dengan di  Indonesia yang menggunakan sambal kacang, kalau di Bangkok hanya sebatas bumbu butiran garam manis asam asin ala-ala Pazzolla (untuk yang sudah pernah nyoba). saya pikir dengan warna kuning terang tersebut rasanya akan super asam, namun aneh ternyata rasanya sangat manis. Luar biasa. Harga seplastik mangga yang sudah dipotong adalah 10 THB (which is itu satu mangga gede utuh yang dipotong-potong). Lumayan murah lah. Tak lupa kami membeli aqua botol seharga 7 THB di pinggir jalan untuk menghilangkan rasa dahaga dan teman sarapan roti pagi hari :D

Buah buahan Rujak