Showing posts with label motivasi hidup. Show all posts
Showing posts with label motivasi hidup. Show all posts

Tuesday, July 9, 2013

Kisah Semut dan Lalat

Alkisah segerombolan lalat sedang berpesta di tong sampah depan rumah (mungkin salah seekor lalat sedang gelar hajatan di sana). Suatu ketika, anak pemilik rumah keluar rumahnya dan lupa menutup kembali pintunya. Kesempatan itu dipergunakan seekor lalat untuk masuk ke rumah tersebut. Lalat itu langsung bergegas ke dapur untuk mencari makanan lezat. Tampaknya ia bosan dengan sampah dan ingin mencari makanan segar. Dan ternyata beneran ada makanan lezat di sana. Lalat pun segera menyantap.

Setelah kenyang menyantap makanan di dapur, sang lalat pun terbang menuju pintu keluar. Namun apa yang terjadi? (jeng jeng jeng *backsound). Pintu rumah sudah tertutup kembali (mungkin anak kecil tadi sudah ingat untuk menutup pintunya, atau diomelin ibunya karena tadi pintunya dibiarkan terbuka saja). Pintu keluar sudah ditutup dan si lalat tidak bisa ke luar rumah menuju tong sampah dan kembali bersama teman-temannya *hiks, kasih tissue ke lalat

Lalat sesaat hinggap di pintu kaca, memandangi teman-temannya di luar, melambai-lambai, seolah minta tolong bahwa si lalat ingin bergabung kembali dengan teman-temannya. Lalat tersebut terbang di sekitar kaca, sesekali menerjang kaca, mengelilingi kaca atas-bawah, kanan-kiri, bolak-balik, berulang-ulang. Menabrakan dirinya ke kaca. Hari mulai petang, si lalat kelelahan dan akhirnya terkapar di lantai.

Tak jauh dari TKP, terdapat semut kecil dan Ayah semut melintas. Anak semut bertanya "Apa yang terjadi dengann lalat ini Ayah?" Ayah semut menjawab "Ini biasa terjadi, ada saja lalat yang terkapar sia-sia seperti ini nak. Sebenarnya lalat ini telah bersungguh-sungguh berjuang keras untuk keluar dari pintu kaca, namun ia menggunakan cara yang sama berulang-ulang. Jangan mengharapkan hasil yang berbeda jika menggunakan cara yang sama. Pemenang tidak akan melakukan hal-hal yang berbeda, mereka hanya melakukannya dengan cara yang berbeda."

Kisah Inspirasi, Semoga bermanfaat.

Pinjaman 86.400

Bayangkan, ada sebuah Bank yang memberikan pinjaman Rp. 86.400 setiap pagi untuk kita. Setiap pagi, tanpa terputus. Pinjaman tersebut bisa digunakan untuk membeli apa pun, membayar apa pun, untuk hal kebaikan atau pun kejahatan, it's up to you. Pada malam hari, hutang pinjaman tersebut akan dihapus oleh Bank, kita tidak perlu mengembalikan.

Apa yang kita lakukan? Tentu kita akan usaha banget untuk dapetin pinjaman luar biasa itu kan? Iyalah, dikasih pinjaman, tanpa harus mengembalikan.

Pada dasarnya kita juga memiliki Bank semacam itu, kita menyebut Bank tersebut dengan WAKTU.

Setiap pagi, kita bangun dari tidur, diberikan 86.400 detik untuk kegiatan kita dalam sehari. Pada malam hari, waktu tersebut akan dihapus, karena tidak bisa kita mengulang kembali ke masa lalu. Apabila waktu yang dipakai tersebut habis, tidak akan diberikan waktu tambahan. Karena setiap manusia diberikan jatah yang sama, yakni 86.400 detik. Bahkan kita tidak bisa meminta "uang muka" untuk keesokan harinya jika belum waktunya. Manfaatkan waktu yang diberikan untuk hal-hal yang bermafaat. Jika tidak dimanfaatkan untuk kebaikan, maka rugilah kita, karena waktu tidak dapat ditarik kembali.

Agar tahu pentingnya waktu 1 tahun, tanyakanlah pada murid yang gagal naik kelas.
Agar tahu pentingnya waktu 1 bulan, tanyakanlah pada Ibu yang melahirkan prematur.
Agar tahu pentingnya waktu 1 minggu, tanyakankan pada editor majalah mingguan.
Agar tahu pentingnya waktu 1 jam, tanyakanlah pada orang tua yang menunggu anaknya untuk pulang ke rumah.
Agar tahu pentingnya waktu 1 menit, tanyakanlah pada orang yang baru saja tertinggal pesawat.
Agar tahu pentingnya waktu 1 detik, tanyakanlah pada orang yang baru saja terhindar dari kecelakaan.

Dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu olehnya yaitu nikmat sehat dan WAKTU luang (HR. Bukhari). Maka dari itu, investasikan WAKTU tersebut untuk hal-hal yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat.

Semoga bermanfaat.

Palu dan Kaca

"Palu menghancurkan Kaca, tetapi Palu Membentuk Baja." Apa makna pepatah kuno barusan? (ya ampun berasa UN Bahasa Indonesia ya ditanyain beginian, hehe).

Andaikan JIWA kita seperti KACA, maka ketika MASALAH datang (PALU) menghantam, kita akan mudah putus asa, frustasi kecewa, marah. Andai JIWA kita adalah KACA, maka kita juga akan rentan terhadap benturan. Sedikit saja benturan sudah lebih dari cukup untuk meretakkan atau bahkan menghancurkan kita. Jangan pernah membuat JIWA kita seperti KACA, namun buatlah seperti BAJA.

JIWA seperti BAJA. Ya. Mental BAJA. Mental yang selalu berpikiran positif, bahkan tetap bersyukur ketika masalah datang. Orang yang JIWAnya seperti BAJA menganggap bahwa masalah adalah proses kehidupan untuk membentuknya menjadi pribadi yang lebih baik. Sepotong besi BAJA akan menjadi sebuah alat yang lebih berguna setelah diproses dan dibentuk dulu dengan PALU. Setiap pukulan memang menyakitkan, namun mereka yang bermental BAJA selalu menyadari bahwa hal tersebut baik untuk dirinya.

Jika JIWA kita adalah BAJA, maka kita akan selalu melihat MASALAH yang menghantam kita sebagai sahabat, PALU yang akan membentuk kita. Namun sebaliknya, jika JIWA kita adalah KACA, maka kita akan melihat MASALAH sebagai PALU yang akan menghancurkan kita. Jadilah JIWA-JIWA BAJA

Semoga bermanfaat.

Kisah Pekerja Bangunan Rumah

Alkisah ada seorang pekerja bangunan yang telah lama bekerja bertahun-tahun membangun berbagai rumah, namun ia merasa perkejaannya sia-sia. Berapa pun banyaknya rumah yang ia bangun, ia merasa tidak diberikan penghargaan dari majikannya. Ia lalu berniat untuk resign dan berhenti bekerja menjadi pekerja bangunan. Ia pun mengutarakan niatnya kepada majikan. Setelah ia mengutarakan niatnya, majikan pun tidak bisa melarang. Majikan kemudian mengutarakan pula permintaan terakhirnya kepada pekerja bangunan sebelum ia berhenti bekerja.

"Bangunlah sebuah rumah dengan model sesuka hatimu, bahan baku terbaik menurutmu. Bangunlah rumah impian yang terbaik. " Ujar sang majikan kepada pekerja bangunan.

Pekerja bangunan kesal dengan majikannya, karena ia ingin resign, mengapa masih juga disuruh membangun rumah? Kemudian pekerja tersebut memenuhi permintaan majikannya untuk membangun sebuah rumah. Namun karena kesal, ia kerjakan dengan asal-asalan. Untuk apa membangun rumah yang bagus lagi, toh saya juga mau resign setelah ini. Begitu pikir pekerja bangunan tersebut.

Setelah selesai, majikan pun melihat hasil rumah yang dibangun oleh pekerja bangunan kemudian tersenyum sedih. Karena yang ia lihat memang bangunan rumah asal-asalan. Atap, dinding, lantai, plafond dan bagian-bagian rumah lain dibangun dengan asal-asalan oleh pekerja bangunan. Majikan kemudian berkata : "Pak, rumah ini sesungguhnya untuk Bapak, ini bentuk rasa terima kasih saya atas pengabdian Bapak selama ini." Betapa terkejutnya pekerja bangunan mendengar hal tersebut. Ia menyesal, mengapa ia asal-asalan mengerjakan rumah yang diminta oleh majkannya. Mengapa ia tidak membangun rumah sebaik mungkin? Padahal ternyata rumah tersebut nantinya akan menjadi miliknya.

Kira-kira ibroh (hikmah) apa yang bisa kita ambil dari kisah di atas?

Bahwa pekerjaan yang kita lakukan, jangan mengharapkan apresiasi dari manusia, biarlah pekerjaan tersebut menjadi amalan kita.

"...Allah memberi balasan kepada setiap orang terhadap apa yang dia usahakan.." (QS. Ibrahim : 51)

Bahwa penyesalan selalu datang di belakang (ya iyaaalaaah, kalau di depan namanya pendaftaran, hehe :p ) Maka kerjakanlah pekerjaan kita dengan sebaik-baiknya, karena Allah Maha membalas segala sesuatu. Karena apa yang kita kerjakan sekarang bisa menjadi kado untuk kita di masa mendatang. Do your best! - Noni Halimi

Kisah Penebang Kayu

Alkisah ada seorang penebang kayu melamar pekerjaan kepada seorang majikan untuk menjadi ....penebang kayu (ya iyalaaah). Penebang kayu tersebut diberikan sebuah kapak oleh majikan. Kapak itu masih baru, asli kinclong, dan pastinya sangat tajam. Hari pertama mulailah si penebang kayu tsb bekerja dan berhasil menebang 10 pohon dalam sehari *lap keringet* Melihat hasil kerja si penebang kayu, majikan sangat senang dan memberikan pujian kepadanya. "Luar biasa, keren banget, men! Belum pernah ada pekerja yang bisa menebang pohon sebanyak itu dalam sehari lho!" Ujar sang majikan dengan terkagum-kagum. Mendengar pujian majikan, sang penebang kayu makin semangat '45 menebang pohon di hari berikutnya.

Namun apa yang terjadi? Pohon yang berhasil ditebang hanya 9 pohon. Hari berikutnya hanya berhasil menebang 8 pohon, hari berikutnya lagi hanya 7 pohon, bahkan 6 pohon saja. "Sepertinya aku kehilangan keahlianku dalam menebang pohon nih! Bagaimana aku mempertanggungjawabkan hasil pekerjaanku ini kepada majikan?" Gerutu sang penebang pohon kecewa.

Penebang pohon kemudian meminta maaf kepada majikan atas hasil perkerjaan yang tidak optimal dan mengeluh tidak tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya sehingga kinerjanya begitu menurun dari hari ke hari. Sang majikan bertanya "Kapan terakhir kau mengasah kapakmu?". Penebang kayu menjawab "Mengasah kapak? Saya tidak punya waktu untuk itu, setiap hari aku sibuk menebang kayu dengan sekuat tenaga".

Majikan tersenyum dan berkata "Nah disitulah masalahnya. Pada saat pertama kau bekerja, kapak yang kau pergunakan masih baru dan terasah tajam, kau gunakan tenaga semaksimal mungkin. Hari kedua kau gunakan tenaga yang masa, dengan kapak yang sama, namun kapan itu tidak diasah sehingga hasilnya makin menurun. Maka sesibuk apa pun, sempatkanlah untuk mengasah kapakmu agar setiap hari bekerja dengan tenaga yang masa dan hasil yang maksimal."

Terkadang kita terjebak dalam rutinitas hidup, baik bekerja, kuliah, kehidupan berumahtangga, dan kegiatan sehari-hari lainnya yang konstan. Terkadang kita lupa untuk upgrade diri dengan hal-hal baru yang positif di kehidupan sehari-hari sehingga membuat jenuh. Gunakan waktu-waktu kita agar tetap produktif. Selalu melibatkan Allah dalam segala urusan dan terus memperbaiki diri.

Kisah Inspirasi, Semoga bermanfaat

Wednesday, July 3, 2013

Karir dan Sepeda

Alkisah seorang anak yang mengeluhkan pekerjaan kepada Ayahnya. Ia hendak mengundurkan diri dari pekerjaan tersebut. "Ayah, akhir-akhir ini saya bekerja dengan tekanan yang besar, pekerjaan saya luar biasa berat. saya ingin mengundurkan diri dari pekerjaan ini." tutur anak tersebut. Ayahnya menjawab "Apakah kira-kira kamu masih bisa bertahan?". Anak pun menjawab : "Sebenarnya masih kuat tapiiii........"

Sang Ayah tersenyum dan menjawab "Lanjutkan pekerjaanmu, nak. Karir itu ibarat kamu menaiki sebuah sepeda. Saat jalan yang dilalui datar, kamu akan merasa santai mengendarainya. Itu artinya karirmu biasa saja. Namun saat di jalan yang mendaki, perjalananmu akan terasa berat dan butuh tenaga ekstra untuk melaluinya, maka artinya karirmu sedang naik."

"Bersabarlah nak, dahulu saat kau belajar menaiki sepeda pun pernah jatuh, sudah biasa. Tak apa, yang terpenting kau tetap bangkit dan mau mencoba kembali. Suatu saat kau akan memetik hasil memuaskan dari apa yang telah kau ikhtiarkan dalam pekerjaan." lanjut Ayahnya.

Sang Anak pun mengurungkan niatnya mengundurkan diri dari pekerjaannya. *sambil berharap besok boss-nya kasih SK promosi, hehehhehe ngarep.

Semoga bermanfaat.