Showing posts with label Couple Story. Show all posts
Showing posts with label Couple Story. Show all posts

Tuesday, July 12, 2016

Rekomendasi Daily Khimar atau Bergo

Sejak hamil, melahirkan dan mengurus anak, waktu dibuat seefisien mungkin untuk urusan berhias alias dandan, tak terkecuali urusan jilbab. Kalau jaman dulu pergi ke luar pakai jilbab segi empat atau pasmina mesti banget diseterika dulu, pasang-pasang jarum dll, reuuusss rempong. Kalau sekarang saya lebih sering mengenakan bergo alias jilbab langsung pakai. Hemat waktu dan nggak ribet pas lagi megang anak. Jilbab non instan saya pergunakan sesekali saja kalau lagi banyak waktu 😆

Kedengarannya simpel, ya sudah cari saja bergo instan. Hmmmm, tapi tunggu, saya termasuk orang yang pilih pilih untuk urusan jilbab instan atau bergo, terutama bagian pet atau topi depannya. Kalau saya tidak suka bentuknya, ya saya nggak nyaman pakainya. Jadi mesti banget dapet pet yang nyaman dan pas dimuka saya. Saya juga pilih pilih bahan bergo yang saya pakai, kalau panas saya tidak suka yang ada malah basah kuyup. Plusss desain bentuk bergonya saya juga lebih suka yang simpel, bukan yang ramai payet sana sini atau kerut sana sini.

Nah, mengenai bergo yang cucok marucok denga selera saya, berikut saya share, barang kali ada yang sedang nyari bergo yang nyaman. 

1. Zoya

Awal mula saya mencoba brand ini gegara Zoya buka store baru di samping cabang tempat saya bekerja. Otomatiiiis saya dan rekan-rekan iseng berkunjung, sekalian kenalan sama mbak-mbak yang jaga. Dan saya dipertemukanlah dengan bergo Zoya dengan bentuk simpel, tanpa belah, tanpa payet ataupun bordir. Begitu saya coba pakai di fitting room, wooow enak banget! Bahan spandex lycra yang jatuh waktu dipakai tapi juga nggak gampang lecek. Pas banget. Akhirnya saya tanya ke mbaknya, kalau di cuci bisa merusak pet-nya tidak? Karena saya bosen banget beli bergo pasti ga awetnya karena pet-nya lemes dan rusak. Saat pet rusak, pupus lah bergo saya 😅 Karena buat saya, bergo yang bagus petnya harus bagus. Nah, kata mbaknya bergo Zoya ga bakal berubah petnya walaupun dicuci dan seterika berkali-kali. Ih wow penasaran sama marketing mbaknya, akhirnya saya coba beli. Ternyata beneran loh, kualitasnya top. Sampai sekarang koleksi bergo Zoya yang saya punya belum ada yang pet nya rusak, padahal usianya sudah hitungan tahun. Adik-adik saya juga jadi hobi banget sama Zoya, berbekal ngembatin bergo milik saya 😂 Soal harga memang lumayan mahal sih, tapi jadi cukup terbantu dengan adanya kartu member yang bisa dapat diskon tambahan 10%. Harga bergo Zoya ukuran Medium dengan menutup dada berkisar 40-60ribu. Yang disayangkan, bergo simpel macem begitu jarang produksinya, dan tidak ada ukuran yang lebih besar lagi. Bergo ukuran jumbo Zoya rata-rata bermotif dan berpayet. Rame lah pokoknya, mungkin marketnya emak-emak yaaa..

2. House of Fathiya

Pertama kali tahu brand ini karena nggak sengaja explore Instagram, ketemu deh sama Daily Khimar House of Fathiya. Kok kayaknya pet nya enak banget ya. Akhirnya coba beli dengan ikut PO, kebetulan mereka sedang ada PO. Saya pesan 2 pc untuk permulaan. Kebetulan saya juga mencari bergo yang agak besar, jadilah saya pesan ukuran XL, harganya 60.000 per bergo, sangat terjangkau mengingat ukurannya cukup besar. Biasanya pasti harganya di atas 100ribu. 

Setelah sebulan lamanya, akhirnya kiriman datang dan woooowww bergonya enak banget dipakai. Petnya super nyaman dan berasa rugi cuma pesen 2 biji mana PO lama. Setelah berapa lama akhirnya saya tahu kalau lokasi offline store House of Fathiya masih di daerah Lenteng Agung juga, iiiih dekeeet. Jadi bisa langsung main ke store tanpa nunggu PO. Mana ownernya juga geulis pisan, masih muda tapi luar biasa, namanya Fathiya.
 
Bahan yang digunakan adalah Kaos Rayon Platinum dengan kualitas bagus, lembut, tebal tapi nggak bikin gerah, tidak nerawang dan jahitannya super rapi. Bentuknya pinguin jadi ga kelihatan kebesaran, fit and proper di badan. Ukurannya besar sehingga menutup sempurna apalagi kalau sedang menyusui Umar, berguna banget! Pokoknya saya jatuh cinta sama bergo daily khimar HoF. Belakangan saya baru tau juga kalau salah satu penjahit HoF adalah mantan penjahit di Zoya. Laaah pantesan aja berasa mirip pet Zoya, asiiikkk! Saat ini saya punya beberapa warna Daily Khimar HoF dan dipastikan jadi langganan banget 😂😂 Instagramnya bisa cek di houseoffathiya dan ownernya fathiyaatmadja

3. Khimar Haura Zizara

Nah kalau ini beda bahan, sedikit untuk yang formal, ini berbahan spandex crepe (mosscrepe) dengan tekstur tebal dan tidak menerawang. Ukurannya juga besar, dan ada aksen serutan yang mirip dengan Daily Khimar Fatima milik brand Atelier Angelina. Harga khimar Zizara ini tergolong agak mahal yakni 140.000. Ada harga ada kualitas sih, jahitannya juga rapi. Bisa cek di instagram zizara_ zizara_store, zizara_reseller, readystock_zizara dan buanyaaak reseller yang tersebar di seluruh Indonesia.

4. Kiciks Daily

Kiciks ini merupakan bergo berbahan kaos import high quality dengan pilihan warna yang bikin jatuh hati. Awalnya pet Kiciks ini kecil, namun kini dibuat satu lagi style pet ukuran sedang, sehingga konsumen bisa memilih lebih nyaman pakai pet kecil atau sedang. Owner kiciks ini yakni Uni Dewi dan Suaminya. Bahkan katalog Kiciks dihandle sendiri sama uni yang jadi modelnya. Aaaahhh adem banget liat wajah manisnya uni. Cara pembelian bergo kiciks ini dengan sistem PO yanh super lama tapi memuaskan hasilnya. Kalau mau cepat bisa dicari di distributor resmi kiciks. Seperti yang saya lakukan hehe 😁 *maunya cepet. Harga bergo ini juga tergolong terjangkau, untuk ukuran XL seharga 57.000 saja. Mirip dengan HoF kaaaan.. Saya memang cinta produk harga murah 😋 Bagi yang berminat ini instagramnya kiciks_daily dan ownernya dwpermata. Bisa juga cek di distributor Kicis seluruh Indonesia buat yang mau cari ready stock.

5. Fatima Khimar from Atelier Angelina

Saya belum punya produk ini sih, tapi tetap saya rekomendasikan karena oke bangeeet. Bahan ceruty dengan kualitas terbaik. Ada harga, ada kualitas katanya. Harganya memang agak mahal, untuk ukuran S 185.000, M 190.000 dan L 210.000. Berasa juga kalau koleksi kan? Hehe makanya sampai sekarang saya belum punya. Yang bikin gemes banget adalah warna basic dan pastel yang super cute, pluuuus kalau dipakai sama ownernya makin baper pengen punya. Udah lama banget kepoin akun instagramnya. Iya, yang punya Atelier Angelina ini adalah Teh Angella Fransisca atau biasa dipanggil Teh Angie. Beliau ini mantan model dan sekarang sudah hijrah pakai hijab syar'i. Meuuuni geulis pisan kayak barbie, pokoknya mah tob banget apalagi kalau posting juga soal rumah tangga, bapeeer abis 😍 Bagi yang berminat, cusss ke Instagram atelier.angelina, angelina.update dan ownernya angellafransisca.

Wednesday, June 29, 2016

Istri di rumah saja

“Ayah, aku mau kerja!”

“Jangan, lah. Kamu di rumah saja. Istri itu di rumah tugasnya :)”

“Itu, tetangga kita, dia kerja!”

“Hehe …, dia itu guru, sayaang. Dia dibutuhkan banyak orang. Yang membutuhkan kamu tidak banyak. Hanya Ayah dan anak kita. Di rumah saja, ya.”

“Itu…, tetangga kita yang satunya, yang sekarang sudah pindah ke kampung sebelah, aku lihat dia kerja. Bukan guru. Tidak dibutuhkan banyak orang.”

“Nanti, tunggu Ayah meninggal dunia.”

“Apa-apaan sih?”

“Dia itu janda, sayaaaang. Suaminya meninggal satu setengah bulan yang lalu. Makanya dia kerja.”

“Tapi kebutuhan kita makin banyak, Ayah”

“Kan Ayah masih kerja, Ayah masih sehat, Ayah masih kuat. Akan Ayah usahakan, InsyaAllah.”

“Iya, aku tahu. Tapi penghasilan Ayah untuk saat ini tidaklah cukup.”

“Bukannya tidak cukup, tapi belum lebih. Mengapa Ayah bilang begitu? Karena Allah pasti mencukupi. Lagi pula, kalau kamu kerja siapa yang jaga anak kita?”

“Kan ada Ibu! Pasti beliau tidak akan keberatan. Malah dengan sangat senang hati.”

“Istri Ayah yang Ayah cintai, dari perut sampai lahir, sampai sebelum Ayah bisa mengerjakan pekerjaan Ayah sendiri, segalanya menggunakan tenaga Ibu. Ayah belum ada pemberian yang sebanding dengan itu semua. Sedikit pun belum terbalas jasanya. Dan Ayah yakin itu tak akan bisa. Setelah itu semua, apakah sekarang Ayah akan meminta Ibu untuk mengurus anak Ayah juga?”

“Bukan Ibumu, tapi Ibuku, Ayah?”

“Apa bedanya? Mereka berdua sama, Ibu kita. Mereka memang tidak akan keberatan. Tapi kita, kita ini akan jadi anak yang tegaan. Seolah-olah, kita ini tidak punya perasaan.”

“Jadi, kita harus bagaimana?”

“Istriku, takut tidak tercukupi akan rezeki adalah penghinaan kepada Allah. Jangan khawatir! Mintalah pada-Nya. Atau begini saja, Ayah ada ide! Tapi Ayah mau tanya dulu.”

“Apa, Ayah?”

“Apa alasan paling mendasar, yang membuat kamu ingin bekerja?”

“Ya untuk memperbaiki perekonomian kita, Ayah. Aku ingin membantumu dalam penghasilan. Untuk kita, keluarga kita.”

“Kalau memang begitu, kita buka usaha kecil saja di rumah. Misal sarapan pagi. Bubur ayam misalnya? Atau, bisnis online saja. Kamu yang jalani. Bagaimana? anak terurus, rumah terurus, Ayah terlayani, uang masuk terus, InsyaAllah. Keren, kan?”

“Suamiku sayang, aku tidak pandai berbisnis, tidak bisa jualan. Aku ini karyawati. Bakatku di sana. Aku harus keluar kalau ingin menambah penghasilan.”

“Tidak harus keluar. Tenang, masih ada solusi!”

“Apa?”

“Bukankah ada yang lima waktu? Bukankah ada Tahajud? Bukankah ada Dhuha? Bukankah ada sedekah? Bukankah ada puasa? Bukankah ada amalan-amalan lainnya? Allah itu Maha Kaya. Minta saja pada-Nya.”

“Iya, Ayah, aku tahu. Tapi itu semua harus ada ikhtiar nyata.”

“Kita ini partner, sayang. Ayahlah pelaksana ikhtiarnya. Tugas kamu cukup itu. InsyaAllah jika menurut Allah baik, menurut-Nya kita pantas, kehidupan kita pasti akan berubah.”

“Tapi, Ayah?!”

“Ayah tanya lagi…, kamu ingin kita hidup kaya, apa berkah?”

“Aku ingin kita hidup kaya dan berkah.”

“Kalau begitu lakukan amalan-amalan tadi. InsyaAllah kaya dan berkah.”

“Kalau tidak kaya?”

“Kan masih berkah? Dan…, tahu apa yang terjadi padamu jika tetap istiqomah dengan itu?”

“Apa, Ayah?

“Pilihlah pintu surga yang mana saja yang kamu suka. Dan kamu, menjadi sebenar-benarnya perhiasan dunia.”

***

Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seorang wanita (istri) itu telah melakukan shalat lima waktu, puasa bulan Ramadhan, menjaga harga dirinya dan mentaati perintah suaminya, maka ia diundang di akhirat supaya masuk surga berdasarkan pintunya mana yang ia suka (sesuai pilihannya),” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Thabrani).

“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholehah” [H.R. Muslim]

Source : LINE Post

Monday, June 20, 2016

Sahabat Sepanjang Masa

Waktu sama SMA saya memiliki sahabat dekat, sebut saja Putro/Puput (panggilan di sekolah sih Budi) dan Avi atau Ampi )ini cewe yaaah). Kami dekat karena berada dalam satu kelas yang sama, organisasi yang sama, dan mungkin jalan pikiran dan kekonyolan yang sama. Kami berada dalam kelas XI Alam 5, entah ide dari mana ditunjuklah secara aklamasi Putro sebagai Ketua Kelas, saya sebagai Sekretaris dan Ampi Bendahara (atau Sekretaris 2 kok saya jadi lupaaa 😂). Kelas dipimpin oleh orang-orang macam kami ditengarai hasilnya akan zuper sekaliiih. Kami juga berada dalam satu organisasi yang sama, Rohani Islam atau biasa disihgkat Rohis. Namun jangan salah sangka, di sana kami malah jadi tim hore lebih ke arah rusuh ketimbang kalem khas Aktivis Dakwah Sekolah (ADS)

Bagaimana tidak, kalau ada yang ngomong bijak dikit kami spontan bilang "Cieeeee.." Saya dan Ampi kalau ngomong udah kayak toa upacara, kuenceng abis, dan Putro ga beda jauh.  Rapat (atau biasa kami menyebutnya Syuro) selalu kacau kalau ada kami. Tapi terkadang juga karena ide konyol kami yang spontan malah sering jadi solusi dan alternatif solusi dalam setiap rapat (pede gilaaaaakkk). Bukan hanya itu, kami malah suka cekikikan kalau rapat tanpa hijab (pembatas laki laki dan perempuan). Kalau ada hijab terus diem? Enggak juga, saya dan Ampi malah suka iseng ngintip dari balik hijab.

Pernah suatu ketika juga, another awkward Syuro, saya lupa itu rapat acara apa, biasanya kami rapat di Masjid sekolah, namun ini dilakukan di dalam kelas seusai jam pelajaran sekolah. Yess ga ada hijab penutup berarti. Hanya terpisah tempat duduk saja, baris kiri untuk laki laki dan kanan untuk perempuan. Dan tebak kami bertiga di sebelah mana? Belakang? Iya, di belakang, tapi posisinya di meja tengah. Gak sebaris sama ikhwan ga sebaris sama akhwat. Rekan-rekan satu angkatan kami untungnya sih asik semua, jadi udah paham juga kelakuan kami.

Syuro makin panjang, akhirnya Putro keluar kelas, saya dan Ampi pun menyusul. Ngapain? Ngaji di luar kelas? Bukan.. Kami malah maen kejar-kejaran di koridor sambil lempar-lemparan sepatu. Ketauan Ketua Rohis langsung di sidang kali nih 😂 Ahh tapi nggak juga, Senior kami baik ikhwan dan akhwat sudah angkat tangan dan mahfum atas kelakuan dan pertemanan kami bertiga. Jadi mereka sudah biasa juga.

Kami sering berkegiatan Rohis bareng terutama kepaniatiaan. Terlebih jaman kelas 2 merupakan jamannya menjadi pengurus bukan. Salah satu moment kepanitiaan yang tidak saya lupakan sampai sekarang, yakni acara di sekolah, kalau tidak salah dalam rangka memperingati Maulid Nabi. Rohis akan mengadakan acara dengan panggung di lapangan basket, tim pengisi acara, dekorasi dan semuanya dihandle oleh Rohis. Saya kebagian dekorasi, jaman dulu jadul abis, beneran manual hias pakai styrofoam dan karton warna warni untuk membentuk tulisan dan hiasan. H-1 sebelum acara, para ikhwan sepakat untuk menginap mempersiapkan panggung dan dekorasi. Saya dan Ampi ikut membantu, bedanya akhwat yang lain selesai sampai sore, tapi kami? Lanjut sampe nginep di sekolah 😂😂😂

Rumah Ampi sangat dekat dari sekolah, hanya perlu jalan kaki beberapa ratus meter saja. Karena mudah dijangkau jadi kalau ada perlu apa-apa pasti ke rumah Ampi, termasuk numpang mandi dan kalau ada acara sekolah saya suka menginap di rumah Ampi. Nah, demikian halnya dengan acara Maulid Nabi tersebut. Ampi dan saya pulang ke rumah untuk berganti pakaian, kemudian kembali lagi ke sekolah selepas maghrib untuk membantu dekorasi. Kami tidak hanya berdua tapi banyak juga rekan-rekan ikhwan yang membantu, mereka memang akan menginap (di panggung?), termasuk juga ada Putro di sana.

Kami mulai dekor di atas panggung, dari semangat sampai lelah karena jatoh terus tempelannya, emang masih amatir, pluss lapar sudah malem tapi belum juga makan malam. Alhasil kami istirahat di atas panggung sambil duduk duduk bahkan gegoleran sambil main game plus bercanda. Tak lama rekan kami nyeletuk, hampir tengah malam, "nyari nasi goreng yuk!!" Sontak setuju semua, saya dan Ampi juga mau ikutan beliiii.. Tapi ga boleh ke luar sekolah sama rekan-rekan ikhwan, katanya bahaya, jadilah kami menunggu itu nasgor dianter sama ikhwan-ikhwan. Iiikkhh so sweet bgt baru kali ini, biasanya kelakuan koplak semua, ternyata mereka bisa sweet juga. Bukan apa-apa, area Bulungan kalau sudah tengah malem suka banyak bencis katanya keliling. Serem khan.

Setelah makan kenyang, kami menyerahkan piring kosong untuk diantar lagi sama ikhwan-ikhwan ke abang nasgor di depan gerbang. Enaknyaaa. Perut kenyang jadi ngantuk, biar ga ngantuk malah ngobrol. Seringnya sih bercanda, karena malam itu juga rekan-rekan ikhwan termasuk Putro akan tampil sebagai tim Nasyid Ala-ala yang akan membawakan sebuah lagu di panggung esok hari. Saya lupa judulnya apa. Yang jelas kami ga berhenti tertawa menyaksikan mereka latihan semalaman. Kami memang berencana untuk begadang di sekolah jadi sengaja tidak pulang ke rumah Ampi. Niat abiiss.. Menjelang Shubuh beberapa ikhwan banyak yang terkapar di sepanjang panggung karena lelah, saya dan Ampi juga udh setengah teler abis. Selepas Shubuh kami berdua pulang ke rumah Ampi, untuk mandi dan bersiap ganti seragam sekolah. Bagaimana dengan ikhwan-ikhwan tadi? Mereka sih pada mandi di sekolah. 

Pada saat acara ceramah maulid, ramai sekali murid yang ikut, saya dan Ampi berasa zombie ngantuk abis, dan memilih duduk di belakang, luar barisan jamaah. Sesekali tertidur sambil duduk. Pas ditanya temen akhwat satu angkatan, gimana kemarin? Kami bilang, kami berdua begadang semalem di sekolah. Hapaahh??? Mereka kaget dan kami cuma cengengesan. Yang penting suksess acaranya, kemudian kami lanjut tidur di pojokan. Aaahhhh~ Oiya, bagaimana dengan Putro, dia dan ikhwan ikhwan tampil jadi Tim Nasyid ala-ala yang semalem sudah saya lihat latihannya itu. 

Saya bertiga sering belajar kelompok bareng, base camp kami di rumah Ampi. Biasanya kalau mau ujian, pulang sekolah saya dan Putro mampir ke rumah Ampi buat belajar bareng. Ibu (ibunya Ampi) biasanya menyediakan cemilan super banyak, harusnya buat nemenin belajar, ehh emang dasar kita bertiga gengges banget, itu cemilan dipake untuk nemenin kita ngobrol, malah kadang buat nemenin kita nonton pilem sambil tidur-tiduran. Ya Salaaamm.. Dan Ibu tiba2 teriak dari kamar sebelah, "Heeehhh pada belajar! Jangan ngobrol melulu, Avii..Nonii..Budiii" dengan suara khas Guru (maklum Ibunya Ampi memang seorang Guru). Sekarang kalo diinget-inget jadi kangen diocehin sama Ibu kalau kita lagi pada ngobrol bukannya belajar.

Kami berbagi sesuai bidang masing-masing yang kami minati dan kuasai. Kalau Matematika, Putro yang ngajarin. Biologi saya, sedangkan Kimia Ampi. Sisanya pasrah pada Ilahi, ga ada yang ngajarin soalnnya. Hehe. Saking kami sering bareng, kami membuat nama NBA70 dengan logo bola basket, dengan singkatan Noni-Budi-Avi-SMA70 atau IPA70 singkatan Iyun-Puput-Ampi-SMA70. Hehehhe. Bahkan kami punya hari jadi NBA70 lho, tanggal 28 Oktober 2005. Memang ada yang spesial tanggal tersebut? Buat kami sih ga ada kejadian spesial tahun itu, tapi tanggal 28 Oktober 1928 ada Sumpah Pemuda, dan itu bersejarah. Ga ada hubungannya sama kami sih, tapi karena kami pemuda supaya semangat juang, makanya kami ambil tanggal itu. Barangkali muncul di ujian, kami sudah hafal (ya kaliiii).

Bukan cuma di sekolah, kami juga suka main bareng ke tempat lainnya. Ragunan misalnya (kaya ga ada tempat lain), satu lagi yang saya ingat ke Planetarium. Moment kocak kami bertiga yang sulit dilupakan. Pasalnya tanggal 17 Juli 2005, selepas kami bertiga selesai menonton bintang di Planetarium, Putro berniat untuk menyatakan perasannya ke saya. Dan bodoh bin super sekaliih, sebelum pulang kita shalat Ashar, Putro menitipkan HPnya kepada saya. Entah kepencet apa, tiba-tiba muncul aplikasi notes yang setelah saya baca sekilas.... ternyata isinya teks pernyataan perasaan yang nantinya akan disampaikan ke saya. Buseeeett.. Udah kayak teks proklamasi kemerdekaan segala ditulis di notes. 

Panik baca sesuatu yang seharusnya ga saya lihat, buru-buru saya balikin. Pas pulang menunggu angkutan umum, Putro bilang siiis persisss kayak di notes yang saya sempat baca. Pengen ngakak tapi ga bisa malah sebaliknya. Kalau sekarang diingat-ingat aneh bin ajaib. Belum lagi, momen kelas 3 kami berpisah kelas. Agak berjauhan. Ampi IPA 2, saya IPA 4 dan Putro IPA 7. Kami sempat vakum bareng karena salah paham, namun bisa diselesaikan, namanya juga sahabatan ada aja asem garemnya. Sampai momen BTA70 (Bimbingan Terpadu Alumni) dan aktivitas belajar yang super pusying demi tercapainya impian kami bertiga untuk bisa kuliah di Universitas Indonesia.

Setelah jungkir balik baca buku sana sini, awut-awutan ngerjain soal ini itu, mata bengkak karena nonton dorama Jepang (kirain karena begadang belajar? Yeee bukan, capek ah belajar mulu). Akhirnya sampailah pengumuman SPMB kami bertiga Alhamdulillah lolos UI. Saya masuk Fakultas Hukum, Ampi masuk Fakultas Ilmu Budaya jurusan Sastra Indonesia, dan Putro masuk Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam jurusan Matematika. Sujud syukur seneng banget kami bertiga lolos semua.

Persahabatan kami belanjut sampai akhirnya jeng jeng saya dan Putro baru bilang kalau saya dan Putro saling tertarik. Ngoceh lah Ampi kenapa baru bilang saat itu (lupa tahun berapa kayaknya sih 2008), padahal kejadiannya sudah tahun 2005 yang lalu. Ampi sih sudah tahu, tapi menunggu kami yang menyampaikan. Hihi maaf ya Ampi, dulu rasanya banyak sekali pertimbangan yang kami berdua pikirkan. Untungnya Ampi toh ga masalah. 

Saat kuliah, saya bertiga juga sempat jalan-jalan ke luar kota, adalah sebuah misi saat itu. Kalau diingat, mungkin jadi kenangan seru. Namun selebihnya kami komunikasi hanya via chat, jarang kesana kemari bareng, tinggal saya dan Putro saja. Namun demikian, bukan berarti selesai, sampai sekarang masih dekat kok. Mereka berdua sahabat sepanjang masa yang saya miliki sampai kapan pun.

Sekarang, sahabat saya yg bernama Putro tadi sudah menjadi suami saya dan Bapak dari anak kami. Setelah proses panjang penuh drama suka duka dan ujian, akhirnya kami berdua ditakdirkan menikah. Acara pernikahan saya sangat banyak dibantu oleh Ampi, sungguh tertolong sekali. Nggak sabar rasanya saya dan Putro membantu acara pernikahan Ampi kelak. Soon. Kami tunggu yah mpi 😘

Dua orang di atas saksi perjalanan hidup saya, saksi perubahan saya dari ABG menjadi sosok yang lebih dewasa, mereka berdua yang jauh mengenal saya, kisah hidup dan kisah kasih saya, semua. Tanpa mereka saya bukanlah saya yang sekarang mengetik semua ini. Terima kasih, sahabat sepanjang masa. *lap ingus *taro mic *nyari waslap umar sebelum nangis *berasa abis pidato award.

-Noni Halimi-

Merindu Kumo

Iseng lihat-lihat album jadul, eehh tiba-tiba inget jaman dulu bareng Apak suka jalan-jalan naik motor. Kenapa naik motor? Soalnya dulu cuma punya motor belom punya mobil 😂. Mau naik angkutan umum tapi Apaknya nggak betah kalo gerah keringetan, alhasil jalan-jalan naik angkutan umum bareng Apak bisa dihitung pakai jari. Paling mentok naik Busway, Kereta, Bus Kota dan Angkot. 

Duluuuu sekali (tsahelah ceritanya udah jadul banget banget), waktu saya dan Apak masih berseragam putih abu-abu kelas 2 SMA sekitar awal tahun 2005, Apak punya sebuah sepeda motor ala anak gahul sebutlah Kawasaki Ninja warna Hitam. Kami berdua memberi nama Kumo (Kuro Motor). Kuro dalam bahasa Jepang artinya Hitam. Jadi, motor hitam. Haha namanya ga kreatif abisss..

Namun berhubung kami bersekolah di sekolah yang senioritasnya agak ehemmm.. masih berstatus kelas 2, belum bisa sembarangan bawa kendaraan sendiri (iya segitunya..). Jadilah suka ngumpet-ngumpet bawanya. Apalagi kalau pakai motor segede gitu untuk ukuran anak SMA, belum banyak juga yang punya. Tapi menjelang kenaikan kelas 3, barulah Apak suka seenak jidat parkir di dalam sekolah, karena senior kelas 3 sudah mau lulus hehehe. Terlebih Apak ikutan Rohis dan parkirnya di parkiran Masjid Sekolah, jadi aman ga bakal ditindas.

Kumo yang menemani kami berdua ke berbagai tempat, entah sekedar mengantar saya pulang ke rumah, dari Blok M ke Lenteng Agung, terus muter-muter dengan jalur pulang yang berbeda-beda supaya ada pengalaman baru, supaya lebih lama juga sampenya (dasar anak muda, huuuuuuhh). Atau berpergian hari libur dengan budget minimalis ala anak sekolahan, entah cuma nonton, makan, ke Kota Tua, Monas, Taman Mini, Wisata gratisan keliling museum-museum, ke Planetarium dan masih banyak lagi yang susah disebutin satu per satu saking buanyaknya dan kebanyakan iseng. Kadang juga bepergian dengan budget agak berisi (pasti abis dapet uang jajan bulanan), atau abis ngebongkar celengan gentong plastik warna warni di lemari (Iya, sampe SMA saya masih suka nabung di celengan macem itu, dan kalau sudah penuh girangnya luar biasa. Langsung ambil pisau dipanaskan di api, terus digunakan untuk membuka celengan. Plastik mudah meleleh kena pisau panas, kadang dengan bodohnya mengenai isi uangnya, agak-agak gosong dikit 😂😂) Isinya beragam dari 50rb sampai 2rb perak loh dimasukin juga saking pengen cepet-cepet penuh. 

Kemana biasanya kalau dapet budget berisi dikit? Pernah ke Ancol pakai motor, kuliner ke Bogor, bahkan yaaa kami pernah sampai Taman Safari pakai motor dari Jakarta Selatan loh. Iihh ga kebanyang kuat amat yak, kalo dipikir-pikir sekarang, mau pergi ke tempat jauh macem begitu pakai motor udah encok duluan kali. Naik mobil aja pegel 😂 

Bukan cuma itu, Kumo juga selalu nemenin kalau pas belajar kelompok ke rumah Ampi. Sahabat kami yg satu itu tinggal di Hang Jebat, jalan kaki dari sekolahan, jadi kami anggap base camp 😂. Kumo saksi perjalanan kisah kami, ya seneng ya berantem ya dramaaaah kumbara di jalan raya. Haaaahh lagi lagi anak muda. Cekikikan di motor, ketawa di motor, berantem di motor, nangis di motor, baikan di motor, makan cemilan di motor, malah makan yang agak berat juga pernah di motor, kehujanan basah kuyup juga di motor, ngebut juga di motor. 

Sampai hal-hal konyol yang kami pernah lakukan. Kala itu kami super ga suka banget pakai jas hujan. Emang anak muda sotoy, udah tau pakai motor, musim ujan eh ga punya jas ujan. Sore hari pulang nonton kebetulan hujan agak rintik. Saya ingin segera pulang, jadilah kami menerobos gerimis. Cek isi tas ga ada jaket lagi, adanya sarung. Kata Apak, pakai sarung aja buat nutupin badan, tapi ga saya lakukan karena hanya gerimis. Ehhh ga lama hujannya deres sederes-deresnya. Daaanggg.. Gimana nih,, mau berenti tapi ga ada tempat neduh, akhirnya bablas aja, saya buka sarungnya buat kerukupan di belakang. Macem orang bener aja, kerukupan pakai sarung ujan-ujanan ya nggak ngaruh laaah, basah kuyup juga. Kadung basah, pikir saya. Ya sudah. Paling diliatin orang di jalan ada yang pakai sarung ujan-ujanan di motor 😂😂. Beberapa hari setelahnya, kami patungan beli jas hujan bareng (gitu kek dari kemaren-kemaren).

Bukan cuma itu, kalau sekolah, Apak ga biasa bawa 2 helm. Berhubung kami backstreet juga khaaaan di sekolah. Alhasil ya tiap nganter pulang ga pernah pakai helm. Aman sih, area jalan pulang dari Blok M ke rumah ga ada polisi mangkal. Tapi masalahnya, kadang kalau kami lagi iseng muter-muter jalanan tuh, eeh ada aja polisi mangkal mau nilang. Kami pernah kena tilang 1 kali karena saya tidak pakai helm. Mana terlalu mencolok Kumo segede gambreng, eh penumpang belakang ga pake helm. Kalau pake motor bebek mungkin ga ditilang kali :p. Satu kali lagi pernah hampir kena, tapi dari arah seberang ada pengendara motor yang meneriaki kami, "Puter baliiiik ada polisi gendut!!!" Apaahh??! Ga berapa lama lewat belokan, beneran ada polisi mangkal, sengaja abis belokan dia mangkal, biar ga keliatan sama orang. Pas liat ada polisi kami langsung puter baliiiik cussss 😂😂

Tapi kejadian ini ga berlangsung lama kok, karena tak lama setelahnya ada pameran PRJ Kemayoran, Apaknya beliin sepasang helm, hitam buat Apak, putih buat saya. Sebelumnya Apak sudah punya helm gratisan dari Kawasakinya sih, tp dia ikutan ganti supaya kembar sama saya. Mana pake duit hasil part time ngajar les privat hihi. Alhamdulillah punya helm, jadi ga akan kena tilang lagi karena ga pake helm deh 😂. Banyak suka duka bareng Kumo sampai akhirnya tahun 2007, Kumo dicuri sama orang. Allah kasih cobaan, bye bye Kumo deh 😢

Tidak selang berapa lama, muncul New Kumo, Honda CBR di tahun yang sama 2007. Kami kasih namanya juga Kumo, karena motornya mirip dengan yang lama, sama gedenya, hitam juga. Bersama New Kumo kami juga banyak suka duka, walaupun ga sesering dengan Kumo, tapi New Kumo tetap punya cerita. Sampai di penghujung tahun 2007, terjadi insiden yang akhirnya New Kumo pensiun. Termasuk juga pengendaranya alias Apak nggak mau pakai motor gede, hingga beralihlah ke motor bebek hingga hari ini, apalagi kalau bukan si Revo Kuning😆

Thank you for a thousand good memories, for a thousand kilometers journey, up and downs relationship feeling. Thank you Kumo and New Kumo, both of you are perfect partner anyway. We love you both ❤️❤️

Keliling UI (lagi)

Sabtu tgl 11 Juni yang lalu, saya kebetulan ada keperluan berbelanja dengan suami. Umar? Di rumah dulu ya nak, panas banget di luar nih 😆😁 Kami berbelanja kilat di Carefour Depok dan mengejar Shalat Dzuhur di Masjid. Ketika di kasir, suami saya menanyakan :

👳🏻 : Shalat di mana mah? Kita ngejar Dzuhur dulu yah.
🙎🏻 : Di Masjid lah Pak, UI keburu ga yah?
👳🏻 : *sambil lirik jam di HP*
Keburu mah, yuk buruan (sambil cengengesan)

Saya pun bergegas menggandeng tangan suami saya ke parkiran motor dan cusss kita berangkat ke UI. Secepat kilat kami tiba di almamater kampus kami berdua. Langsung parkir dan segera berjalan masuk menuju Masjid. Seperti biasa, walau hari libur kuliah pun, Masjid ini tak absen dari ramainya jamaah. 

Suasana yang tidak pernah berubah dari dulu. Pertama kali saya shalat di Masjid ini juga bersama dengan suami saya. Saat itu saya bertiga suami dan sahabat kami, Avi datang mengunjungi UI Goes To School. Saat itu masih beraeragam putih abu-abu. Selesai berkeliling kami Shalat di sini. Suasananya yang tidak pernah berubah juga selama saya kuliah di Fakultas sebelah Masjid UI ini. Tetap teduh, rindang, adeeeem walaupun di luar terik matahari, dan riuh dengan orang-orang yang berlomba beribadah. 

Dulu belum ada kantin, jadi kalau berlama-lama di Masjid UI suka kelaparan dan girang banget kalau ada abang-abang jualan siomay, batagor, sekoteng, gorengan mangkal di depan parkiran. Kalau tidak ada? Balik ke Fakultas Hukum, yang cuma sebelahan. Masjid ini juga ramai sebagai tempat bertemunya aktivis-aktivis kampus baik akademisi maupun kerohanian. Sarana rapat antar fakultas maupun kajian antar fakultas. Tak pernah sepi. Ini Masjid UI. Aahh kangen sekali.

Saya menuju tempat wudhu wanita di selatan, sedangkan suami menuju ke tempat wudhu pria di utara. Tempat shalat untuk wanita ada di lantai 2. Banyak anak-anak kecil yang sedang pesantren kilat. Gemes bangeeetttt.. Iya, Masjid UI memang sering dijadikan tujuan sanlat untuk anak sekolahan. Lepas shalat Dzuhur, saya mengedarkan pandangan ke berbagai sudut lantai 2 tersebut. Selasar Timur biasa dipergunakan untuk duduk santai dan kajian. Selasar Selatan biasa dipergunakan untuk rapat organisasi rohis kampus, SALAM UI namanya. Terbayang hijab tiang yang dipergunakan untuk separator antara ikhwan (pria) dan akhwat (wanita). Tak lupa sebuah papan tulis yang dipergunakan bergantian. Aaahhh mahasiswa.

Lepas shalat saya menuju ke selasar utama pintu masuk, menunggu suami. Tumben, kok dia belum ada. Padahal seharusnya sudah menunggu saya di depan. Tak lama ada yang menepuk pundak saya sambil cengengesan "Nyari siapa mbak? Nyari suami ya?" Iiiiihh kebiasaan, selalu seperti itu datang dari arah belakang, kadang malah mengagetkan. Huft kelakuan Apaknya Umar. Kami menuju parkiran motor untuk bergegas pulang, namun sebelum pulang suami saya menawarkan "keliling UI satu puteran yuk mah!" 

Hayuuuukkk!! 

Saya langsung semangat empat lima hehe, dua puteran juga boleh pak. Dari Masjid UI kami langsung berbelok ke samping Fakultas Hukum, wow berubah, ada pelataran Fakultas Hukum dan Bikun. Coffee. Seonggok bus kuning yang disulap menjadi tempat nongkrong minum kopi. Lanjut melewati sarang nusuh power rangers alias Perpustakaan Pusat, crystal of sciences. Begitu lanjut lagi ke belakang FIB eehh jalanan ditutup, kata Bapak2 yang jaga, hari Minggu sekarang UI ditutup sebagian.

Yowes melipir ke FIB lanjut FISIP dan masuk ke jalur utama Bikun Biru. Udara mulai dingin, bagaimana tidak kanan kiri pohon tinggi semua, dan cuaca mendadak mending. Yeaahh semeriwing angin sepoy-sepoy menemani kami. Melewati Fakultas Ekonomi, kemudian Fakultas Teknik. Haahh kangennyoo biasanya saya dan suami suka jalan smjg masuk Kutek (Kukusan Teknik) pakai motor untuk sekedar berkeliling. Jalan yang biasa menuju Kutek sudah berdiri bangunan Klinik Makara namanya. Kalau dulu namanya PKM (Pusat Kesehatan Mahasiswa), letaknya di depan Fakuktas Kesehatan Masyarakat dan samping Fakultas Ilmu Keperawatan.

Saat melewati Gymnasium dan Stadion saya berujar, "Sampe lulus, amanya belum pernah masuk ke sana lho pak" (menunjuk Stadion dan Gymasium). Sambil ketawa Apaknya bilang "Sama mah, Apaknya juga belom" Nggak heran kalau suami saya sih, memang ga pernah ikut organisasi lintas fakultas macam SALAM UI atau BEM UI. Hanya seputaran satu Fakultas saja. Sedangkan saya paling senang ikut organisasi lintas Fakultas, seru aja kenalan sama banyak teman-teman beda Fakultas dengan berbagai latar belakang. Apalagi yang didapat kalau bukan link dan menjalin silaturahim kan? Lewat Pusgiwa (Pusat Kegiatan Mahasiswa) suami pun bilang belum pernah ke sana. Hehehe.

Belok ke menara air menuju rektorat, eeehhh ditutup lagi jalanannya. Muter deh ke Fakultas MIPA tempat suami saya, eehh tutup juga. Aaahh lagi ga beruntung nih, akhinya kami bundaran UI lagi untuk pulang. Cuma setengah gini kelilingnya. Begitu sampe UI Wood, suami menurunkan kecepatan supaya kami bisa menikmati pemandangan UI Wood dan Danau, ternyata rumputnya sudah hijau lagi. Beberapa bulan lalu waktu jarang hujan kering warna kuning. 

Begitu sampai gerbatama (gerbang utama), saya pikir mau selesai. Eh dilanjut sampai arah Asrama Mahasiswa UI dan Wisma Makara. Tak lupa arah sana juga ada Gedung Sabha Widya. Masih ingat? Itu gedung bersejarah tempat suami mengucapkan akad nikah setahunan yang lalu. "Siapa yang mau nengokin tempat nikahaaaan?" Ujar suami saya sambil mempercepat motor. "Amanyaaaaa!!" Saya membalas sambil berteriak. 

Sampai Asrama Mahasiswa UI, yang tidak lain juga tempat pool bus kuning, berjejer rapi bus tak berpenumpang tersebut. Aah kangen naik bus kuning ini. Begitu sampai Sabha Widya, sepiiii kosohg~ kami hanya numpang mutar motor saja. Iyalah, puasa-puasa gini jarang yang mengadakan pernikahan, biasanya ramai pasca Idul Fitri nanti dan akhir tahun hehe. 

Demikian perjalanan keliling UI yang super singkat yang saya lakukan bersama suami. Cuma sebentar, tapi rasanya memanggil banyak memori dan berhimpitan untuk keluar. Satu per satu berloncatan dengan riang. Aaahh.. UI 😍

Sunday, June 19, 2016

Menghapus Foto Mantan

Putus dari pacar terus berniat menghapus semua foto mantan pacar di social media dan perangkat lainnya? Untuk sebagian orang, menghapus foto mantan itu penting, karena ketika ia menghapus foto mantan, ia akan lebih mudah untuk melupakan. Ia akan lebih mudah pula untuk move on dan mendapatkan yang baru. Ketika sudah bersama pacar yang baru, mungkin pacar barunya cemburuan, dan ingin supaya kisahnya dengan mantan 'bersih' tak bersisa. Jadilah ia menghapus foto mantannya. Atau malah pacar barunya yang menghapus foto mantannya, daripada berantem mulu. Menghapus foto mantan penting, apalagi yang susah buat move on, apalagi yang putusnya ga baik2 dan syeelll kesyellll kalo liat muka mantannya. Rasanya pengen ngapus semua yess.. (Segitunya hihihi). 

Untuk sebagian lain, menghapus foto mantan menjadi tidak penting. Kenapa? Toh ia bisa kok move on tanpa harus menghapus kenangan. Mungkin juga ia merasa toh hubungan mereka baik-baik saja, keputusan berpisah adalah keputusan bersama, no hurt feeling, sehingga buat apa tho foto-fotonya dihapus. Mungkin juga isi foto bersama mantan juga standar saja, tidak biasa publish yang kelewat mesra sehingga wajar sajalah jika masih tersimpan di sosial media dan orang lain melihat. Mungkin juga orangnya cuek, dan tidak mempermasalahkan masa lalu, toh statusnya masih pacaran, belum nikah ini. Jadi tidak apa-apa tho kalau fotonya masih ada?

Pilihan untuk tidak menghapus foto mantan pacar diambil sebagian orang dengan alasan di atas, salah satunya saya. Saya punya mantan pacar yang sudah saya kenal cukup lama. Hmmmm...Sebut saja namanya Mr. Budi (bukan nama samaran, emang beneran namanya itu 😂😂😂). Iya, saya kenal dekat dengan Mr. Budi ini dari jaman berseragam putih abu-abu. Kami kenal dekat karena satu kelas dan berlanjut sampai kami keterima di UI. Alhasil bareng terus, walaupun kami beda Fakultas. 

Selepas saya lulus, masih juga sama dia lagi-dia lagi. Singkat cerita saya keterima kerja di sebuah perusahaan perbankan sebut saja BNI Syariah, sedangkan Mr Budi masih menyelesaikan skripsinya. Well pending setahun, sampai akhirnya ia berhasil lulus (juga) dan keterima di salah satu perusahaan perbankan, sebut saja BRI. Bagaimana dengan kisah kami? Masih, dia lagi-dia lagi. Sampai pada saat ia penempatan di luar kota yakni Cilacap, April 2012 kami putus. Ternyata kami ga lulus LDR, banyak godaannya, banyak cobaannya. Kami putus, setelah menjalin kisah selama hampir 7 tahun. Berasa nyicil KPR kan yeee..

Ia bersama dengan pasangan barunya yang sudah saya ketahui sebelum saya putus dengan pacar saya. Lalu, saya sendiri aja. Syediih? Iyeeelah.. Pake nanya lagi ah.. Tapi tidak berlangsung lama, 2 bulan saya bengong-bengong dulu patah hati (eh ini itungannya lama ga yahhh) saya lanjut memotivasi diri saya sendiri dan membangun benteng yang jauh lebih kuat dari sebelumnya, banyak belajar, banyak mengambil hikmah, dan tentunya banyak bersyukur karena cobaan ini pasti untuk kebaikan kami bertiga (iya bertiga sama pacar barunya Mr Budi). Untuk menghargai privasi dan kebahagiaan Mr Budi tadi, setelah semua clear, saya tidak pernah melabrak sesepacarnya atau menghubungi Mr Budi atau pacarnya. Karena buat saya, cukuplah dengan tidak mengusik mereka, artinya saya berusaha merelakan dan melepasnya. Tsaaahhhelah...

Ada 2 moment yang saya harus menghubungi Mr Budi melalui SMS atau media ketik sejenisnya. Event ulang tahun Mr Budi, dan permohonan maaf saat lebaran. Saya punya alasan tersendiri kenapa juga putus sama temen yang super deket sampe berasa sodara kok ya ga boleh ngucapin ultah sama lebaran. Hanya sampai situ, besoknya tidak berlanjut ke obrolan yang lain. 

Beberapa lama setelah saya move on dan mulai membuka pintu hati (udah kayak acara menjelang buka puasa di tipi-tipi), eh saya pacaran dengan seseteman satu perusahaan, sebut saja Mr. Satu Lagi, biar gampang. Cinlok? Enggak sih, doinya aja ngepepet mulu dateng ke outlet saya 😎 *ketauan orangnya abis....deh gue* Dan jadilah kami mencoba jalan bareng. Ternyata Mr Satu Lagi ya biasa aja sama sosial media. Tidak mempermasalahkan juga dengan foto-foto saya, ga kepo juga sampe liat postingan entah berapa tahun lalu. Kalo saya mah pasti kepo hihihi. Jadi aman aja, ga disuruh buat hapus sana sini. 

Saya juga memilih tidak menghapus foto Mr Budi, karena memang foto yang saya upload biasa aja, nggak ada foto spesial layaknya pasangan kekasih romantis lainnya. Tidak ada. Sesemantan (bahasanya kaya caption IGtaiment banget sih) saya, Mr Budi, memang sahabat dekat saya, orang yang ikut serta menyaksikan proses metamorfosa saya dari jaman SMA, rasanya sampai kapan juga ia tetap sahabat saya, ga mungkin bisa dihilangkan. Plus saya males juga nanti ada yang mikir macem-macem, kenapa kok fotonya dihapus, putusnya ga baik-baik ya? Saya juga masih dekat sama keluarganya pasca putus, jadi toh.. biarkan sajalah. Kecualiii...syarat dan ketentuan berlaku. Apa itu? Kalau saya sudah menikah, dan suami saya berkeberatan. Sok lah, hayukk dihapus semua yang dirasa keberatan. Apa sih yang enggak buat suami khaaan... 😆😆😆😆. 

Okeehhh ceritanya disekip sekip biar cepet, sampai tiba waktunya di awal tahun 2013, saya mulai siap untuk berkomunikasi lagi dengan Mr Budi. Saya yakin sudah setroooong ga baper. Toh saya juga sudah punya pacar si Mr Satu Lagi khan. Aman ada yang jagain. Cuma berkabar saja, karena selama ini saya tidak pernah tahu kabarnya bagaimana, dan risih juga ga sih, temen deket banget tiba-tiba hilang ga komunikasi, nanti kalo doi kawin trus saya ga diundang gimanaaah cobaaaak mikiiiiiirrr *kepikirannya cuma ke situ doang 😂 Iya, sesimpel itu. Saya juga cuma tahu info ternyata ia pindah penempatan ke Sumatera dari Kakaknya dan Kakak Iparnya Mr Budi--yang nggak pernah habis godain saya untuk balikan lagi sama Mr Budi. Katanya, kangen nggak sama Putro (panggilan dekat Mr Budi)? Kangen kaaaaan? Udah, balikan aja sih Yun (panggilan dekat untuk saya).. Mikir dalem hati saya, sekarang sih udah kosong aja ga ada perasaan dan niat buat balikan, boro2 deh.. Tapi kalo Allah berkehendak lain mana tau? 

Awal 2013 sekedar berkabar tapi malah Mr Budi yang dari awal baper. Bahkan sebelum saya mulai interaksi dia udah galau dan baper duluan. Cobaan.. cobaan... Saya masih teguh pendirian dan bersikap normal saja, stay cool. Eehh Allah punya rencana hebat pastinya. Saya putus sama Mr Satu Lagi yang singkat itu. Katanya, mending saya sama Mr Budi aja. Laaahh pan saya dan Mr Budi udah putus kita yee.. Beklah.. Namanya juga takdir, jadilah saya jomblo lagi.. Mblooo..mbloo... Begitu saya putus dengan pacar, saya mengurangi intensitas berkabar dengan Mr Budi, takutnya dia udah baper, saya malah ikutan baper karena ga ada pacar. Semua baper. Ah ribet nanti. 

Berhubung sampai penghujung tahun 2013 saya belum ada pacar, ya foto lama saya baik dengan Mr Budi dan Mr Satu lagi, ga ada yang saya hapus. Apalagi sama Mr Satu Lagi, lebih lebih jarang foto, ga suka eksis.

Ternyata, menjelang akhir tahun 2013, Mr Budi putus sama sesepacar satu perusahaan itu. Ia juga memutuskan untuk hengkang dari perusahaan tersebut, hijrah dari perusahaan konvensional dan memilih untuk kembali ke Jakarta mencari pekerjaan halal non ribawi. Siapa yang nggak percaya skenario Allah indah? Saya ceritain kalo ada yang masih ragu dan nggak percaya..

Di penghujung tahun 2013 selepas Mr Budi putus dengan sesepacar, dia mengajak saya kembali kepadanya. Jeng jeng.. Saya meminta waktu untuk berfikir dan beristikharah. Selama saya istikharah, saya bingung, benar-benar kosong, boro-boro ada rasa dan keinginan balik. Wong udah jungkir balik ikhlasin buat sesemantan tadi itu. Malah dulu berharap mereka jadi ke pelaminan. Plus sudah berlapang dada mencoba silaturahim dengan sesemantannya, walaupun berujung saya dicurigai punya niat buruk kepadanya, hiks hiks..

Bingung menjawab permintaan Mr. Budi. Apa yang harus saya lakukan?

Tidak tahu kenapa ditunjukkan untuk flash back, tiba-tiba pengen lihat foto-foto jaman dulu sama Mr Budi, sapa tau dapat inspirasi, sambil berdoa.... Kalau memang ini yang terbaik, berikan tanda, Ya Allah, tumbuhkan rasa sayang seperti dulu saya menyayanginya *bocoooor deh sekarang doanya. Iya, dulu doanya kaya gitu. 

Entah dateng darimana, tiba-tiba berasa super dekat lagi sama Mr Budi, berasa sesayang dulu. Jedaaarr... Padahal 1,5 tahun tidak tatap muka, tidak ngobrol banyak apalagi bercanda seperti jaman dulu. Tidak ada. Bahkan saya dalam kondisi netral. The power of old photos kah?? Entahlah, saya menganggap ini salah satu 'tanda' dari Allah, seperti doa yang saya panjatkan. Kenapa segitunya saya istikharah cuma buat balikan dan pacaran sama mantan saya ini? Takut dia pergi lagi? Enggak. Bukan ke sana. Saya menyadari bahwa usia saya tidak muda lagi (aahh bahas umur kan jadinya). Tentunya ketika saya menjalin hubungan, arah yang kita harapkan tidak lain dan tidak bukan dan sudah pasti dan tidak diragukan... (Duh panjang) adalah PERNIKAHAN. Ngapain mas mbak capek-capek balik lagi kalo nggak merencanakan untuk menikah. 

Akhirnya setelah mendapatkan keyakinan untuk kembali kepada Mr Budi, saya menerima permintaannya dan kami bersiap berjuang bersama.

Setahun kemudian kami berdoa, berstrategi, dan berjuang untuk mencapai tujuan Pernikahan. Hingga di bulan Agustus 2014, Mr Budi mengkhitbah saya ke Bapak saya. Jeng jeng jeng... Takdir Allah memang indah. Puji syukur atas rahmat dari Allah, Bapak saya approval khibah Mr Budi bulan Oktober, dan bulan November kami mulai mempersiapkan pernikahan. Alhamdulillah, saya dan Mr Budi menikah Februari 2015 dengan persiapan yang singkat karena tidak mau menunda-nunda. Cukuplah, perjalanan panjang kami dari SMA, masa persiapan nikah yang udah dapet approval wali pake lama? Hihi. 

Sudah menikah, menghapus foto mantan? Nah kalau ini iya, bersih bersinar tak ada sisa. Eh tapi, apa yang dihapus? Orang isi foto-foto mantan saya itu ya suami saya. Nah khan, ada gunanya juga foto-foto nggak dihapus, soalnya file foto saya di Mr Budi sudah bersih dari jaman dia pacaran dulu sama sesemantan. Berarti sesemantan tipe orang yang pertama yes? Yang hapus foto mantan? Gapapa, tiap orang punya alasan masing-masing 😊 Sedangkan saya juga sudah bersih-besih foto Mr Satu Lagi setelah menikah. Untung cuma dikit, ga pegel ngapusinnya 😂. 

Hikmahnya kalau udah nikah bisa lihat foto jadul itu romantis banget iiih.. Bisa mengenang lagi moment di foto tersebut, nggak jarang cekikikan berdua kalo inget-inget pergi ke beberapa tempat. Terkadang nyeletuk "kapan-kapan ke sana lagi yuk!"

Well hey, kalau kamu berniat tidak hapus foto mantan pacar boleh-boleh kok. Siapa tahu jodoh kamu itu ya mantan pacar kamu lho, bisa buat kenangan untuk cerita berdua. Kecuali kalau pacar kamu yang meminta menghapus, daripada berantem melulu. Nah, kalau sudah menikah, untuk menghindari perselisihan, baper, kecemburuan, pertengkaran yang gak penting, bersihkan semuanya ya.. Hanya ada kamu dan dia, jangan ada dia dia dia yang lain. Usir cantik semua foto mantan ala incess Syahrini, huuuussshhh... husshhhh... sanaaahhh~

-Noni Halimi-

Sunday, March 13, 2016

Foto Berlebihan Sama Pacar?

Kata orang (yang cukup) bijak : "Kalau masih pacaran, jangan terlalu banyak publish kemesraan di media sosial, nanti kalau putus, capek ngapusinnya."

Omongan tersebut ada benarnya juga sih. Terkadang ketika kita pacaran, dunia serasa milik berdua yang lain ngontrak, bebas ke sana ke mari, jepret selfie sana sini, ujung-ujungnya publish ke media sosial. Rasanya pengen semua orang tahu kalau dia milikku aku miliknya, kita bersama~ satuuuu selamanyaaa *malah nyanyi. Sebenarnya sah-sah saja sih, namanya juga lagi mabuk kepayang, boleh dong sharing. Jika sewajarnya saja okelah. Tapi yang namanya berlebihan memang nggak baik. Bagaimana jika kita terus menerus update foto mesra bersama, kemudian berantem eh kemudian putus. Nah loh..

Kalau sudah putus sama mantan pacar rasanya pengen menghapus segala sesuatu yang berhubungan sama doi. Pokoknya nggak pengen lihat doi lagi *Deeuuh segitunya amat emang dulu pas jaman pacaran diapain sih sampe segitu bencinya.* Otomatis semua rekaman yang berkaitan dengan mantan pengen dihapus, tidak terkecuali foto-foto yang pernah dipublish diberbagai sosial media. 

Jaman sekarang makin canggih. Jaman dulu cuma ada Friendster, maka ketika putus sama mantan hanya berkutat sama 1 akun Friendster saja. Maklum lah, dulu kan Friendster merupakan medsos paling hits sejagat anak ABG generasi 90an. Tiap hari pulang kuliah nyari wifi gratisan di kampus buat update Friendster, kalau lagi punya duit melipir ke warnet deket kampus dan menghabiskan waktu berjam-jam untuk menghias akun Friendster pluuuuss kepoin akun pacar. Maka kalau jaman dulu putus, bersihin foto di FS (baca : Friendster) kelar urusan. Namun bagaimana dengan sekarang?

Jangan ditanya kalau sekarang (lah tadi nanya???) Berbagai sosial media memfasilitasi hobi kawula muda yang jatuh cinta untuk mempublish hari-harinya bersama pacar. Mulai dari Facebook, Twitter, Path, Pinterest, Tumblr, Instagram, Google Plus, bahkan bisa diabadikan melalui tulisan di blog baik blog gratis macem Wordpress dan Blogspot, maupun blog berbayar (ini niat abis sih publishnya). Publish sana sini, foto berserakan di pelbagai sosial media, dan kemudian....putus. Oh la la~

Apa yang kemudian dilakukan? Tentu menyediakan waktu khusus buat menghapus foto-foto tersebut. Belum lagi kalau lihat foto-fotonya jadi inget kenangan bersama mantan, terus sedih, terus marah, terus kesel eh terus kangen *jadi baper.. mikir-mikir lagi buat ngapus, eh tapi pacara cemburu dan nyuruh ngapus. Ya udah deh nyiapin waktu buat ngapus. Lihat fotonya jadi inget kenangan bersama, terus sedih, terussssss muter aja ga kelar-kelar. Alhasil ribet sendiri jadinya buat yang mau hapus foto. 

Saran simple dari saya buat yang hobi selfie sama pacar, buatlah foto sewajarnya, caption sewajarnya, jangan berlebihan untuk mengungkapkan sayang kapada pacar. Iya kamu sayang sama dia. Tahan-tahan dulu lah, nanti aja posting yang lebih seru dan menyenangkan kalau sudah sah. Lebih aman tho nduk kalau sudah nikah 😍 Karena kalau berlebihan, terus nanti putus dan berniat menghapus foto-foto mantan, capek ngapusinnya 😂

-Noni Halimi-

Sunday, January 24, 2016

Email Masa Depan

Dear anakku,
Shin Umar Abqary

Ama dan Apak buat alamat email untuk kamu nak, isinya semua rekam jejak kehidupan kamu dari dalam kandungan sampai tiba nanti saatnya Ama dan Apak beri tahu password emailnya ke kamu di usia 17 tahun. Semua rekaman foto, video, tulisan, curhatan Ama dan Apak, scan segala macam yang terkait sama kamu.

shinumarabqaryxxx@gmail.com

Ingatkan Ama dan Apak untuk memberitahukan passwordnya kepadamu di usia 17 tahun ya nak..

With love,
Ama dan Apak

Thursday, January 14, 2016

Apakah saya siap menikah?

Seperti buku yang pernah saya baca, katanya menikah itu indah, karena akhirnya melepas status dari jomblo itu rasanya luar biasa. Bisa bebas bilang sayang tanpa harus malu dan bingung bagaimana menyampaikannya. Ada orang yang bisa kita sayang dari melek mata sampe merem lagi.

Kata teman-teman saya, menikah itu seru, semua dilakukan berdua. Makan berdua tanpa ngerasa kurang karena berbagi makanan dengan pasangan. Jalan-jalan bareng kemana pun yang kita mau tanpa khawatir ditelponin sama emak bapak di rumah disuruh pulang. Bebas pulang sampai larut malam berdua suami karena ada ia yang tanggungjawab atas kita.

Kata kakak kelas saya, menikah itu bahagia, karena merasa penuh. Bagaimana tidak, menikah itu kan menyempurnakan setengah agama kita. Menikah itu bisa ibadah bareng dan berlomba-lomba dalam kebajikan bersama. Saling mengingatkan dalam kebajikan dan taqwa.

Kalau kata motivator, menikah itu menyatukan dua hati yang berbeda, namun berjalan seiring seirama dengan satu tujuan hidup. Membangun keluarga yang sakinah mawaddah dan rahmah.

Memang betul.
Semua kata mereka betul.

Namun saya ingin menambahkan, bahwa menikah itu adalah sebuah kesiapan. Iya, menikah bukan hanya perlu persiapan tapi juga kesiapan. Persiapan sudah pasti karena menikah butuh biaya, persiapan daftar KUA, persiapan acara resepsi, acara unduh mantu kalau ada, persiapan tinggal dimana, dan sebagainya. Persiapan sudah tentu dilakukan, namun bagaimana dengan kesiapan?

Kesiapan dalam menghadapi babak baru dalam kehidupan bersama dengan orang yang kau pilih. Bersamanya melewati suka dan duka kehidupan. Bukan senangnya saja, tapi apakah siap kita menghadapi duka juga dan saling memotivasi pasangan kita. 

Sudah siapkah kita untuk merancang visi dan misi pernikahan? Siap untuk berbagi kepala, berbagi pikiran, berbagi bahu untuk menopang. Sudah siapkah menyiapkan strategi demi suksesnya visi dan misi pernikahan yang dibuat bersama? Sudah siapkah kamu untuk berjuang bersama pasangan? Jangan lupa, ketika siap untuk sukses, kamu juga harus siap ketika diterpa tantangan. 

Sudah siapkah kamu memiliki super duper banyak saudara dengan berbagai macam karakter dan latar belakang. Keluarga besar kita sendiri saja sudah banyak, ini bertambah lagi. Karena ketika sudah menikah, bukan hanya menyatukan dua kepala, tapi juga dua keluarga besar. Dan kita ada di dalamnya. 

Sudah siapkah kita berbesar hati, berlapang dada, mengakui kesalahan, meminta maaf kepada pasangan kita? Karena dari mulai melek mata sampai mau merem lagi ada pasangan kita di sana. Bagaimana bisa hidup bersama pasangan jika ada adegan berantem yang belum terselesaikan? Bagaimana bisa tidur nyenyak sedang orang tersebut ada di sebelah kita. Sudah siap untuk meminta maaf dan berjanji tidak mengulanginya kembali?

Menikah sudah pasti berharap adanya keturunan yang meneruskan perjuangan kita dan pasangan. Untuk wanita, sudah siapkah kau merasakan letihnya hamil 9 bulan, rintihan proses melahirkan dan perjuangan membesarkan anak-anak dengan penuh kasih sayang? Sudah siapkah kau membangun peradaban? Sungguh tugas seorang istri sudah cukup berat, ketika menjadi seorang Ibu, tugasmu berkali-kali lipat lebih berat. Siapkah kamu?

Untuk menikah, sudah lapangkah hati kamu untuk dipimpin oleh suami? Karena sungguh ridhonya Allah ada pada ridho suami ketika seorang wanita sudah menjadi seorang istri. Sudah siapkah untuk menurunkan ego yang biasanya mau menang sendiri? Sudah siapkan menerima semua arahan dari suami selama tidak bertentangan dengan syariat Islam?

Sudah siapkah? 

Tentu jika ditanyakan lagi makin ke bawah, makin detail, jawaban yang di dapat adalah Tidak Siap. Tentu. Karena belum mengalaminya. Tidak perlu heran. Ketika seorang anak kecil dengan standar tinggi yang memadai diperbolehkan akan terjun melakukan flying fox, lalu kita tanya, sudah siap dek??? Jawabnya, SIAP KAK!!! Jawabnya memang siap, tapi tahukah kamu kalau dalam hati ia berdegup luar biasa, bagaimana rasanya, bagaimana kalau jatuh? Bagaimana kalau tidak dapat mendarat dengan mulus. Pasti. Padahal adik kecil itu sudah mengikuti arahan dari Kakak Pembina, sudah menggunakan tali pengaman dan atribut pengaman lainnya di badan, sudah ada pula pengaman jaring di bawah flying fox, adik kecil itu juga sudah menanyakan ke teman-temannya yang sudah merasakan menaiki flying fox, bagaimana rasanya, takut tidak, apakah bisa melewatinya. Tentu ia mendapatkan jawaban, jangan takut, bisa. Bahkan adik kecil itu juga punya supporter luar biasa yang menyemangati di bawah, ya teman-teman ya keluarga. Apa yang harus ia lakukan? Hanya terjun saja. Sudah. Semua ketakutan bahwa ia tidak siap akan sirna. Demikian halnya dengan menikah. 

Ketika akan menikah, kita sudah cukup umur yang diperbolehkan menikah sesuai agama dan Undang-Undang. Pun kita juga sudah melakukan persiapan pernikahan, persiapan seminar pernikahan, seminar parenting, dan persiapan lainnya untuk bekal. Kita juga sudah minta nasihat dan arahan dari orang-orang yang sudah menikah sebelumnya terutama orang tua yang sudah makan asam garam kehidupan. Panduan kita sudah ada, yakni Al Quran dan Hadits. Selama berpegang teguh, tidak akan kesasar. Kita juga sudah tanya sana sini ke rekan-rekan seumuran yang sudah lebih dulu menikah. Bagaimana rasanya, apa tantangannya, bagaimana menghadapinya. Di belakang kita selalu ada orang-orang terkasih yang mendukung dan memberi semangat akan pernikahan kita berjalan sakinah mawaddah dan rahmah. Ya, yang akan menikah persis anak kecil yang mau terjun flying fox untuk pertama kali. 

Ketika ditanya sudah siap menikah? Mungkin sebagian orang menjawab sudah. Tapi sebenarnya selalu ada kekhawatiran tidak siap. Kalau sudah menikah beneran, sudah terjun, mau tidak mau harus siap? Jadi, bagaimana untuk memperoleh kesiapan menikah?? Jawabnya ya, menikahlah ☺️ Sudah kecebur nikah, pasti akan berusaha untuk siap. Bedanya hanya pada persiapan, ada yang melakukan persiapan jauh hari, ada yang melalukan persiapan on the spot alias pada hari-hari hidup bersama pasangan. 😊

Bagaimana, sudah siap untuk menikah? 

Dilema Cincin Kawin

Saya beli cincin kawin di daerah Melawai, di sana memang banyak toko emas. Kenapa di sana? Simpel saja, karena kakaknya calon saya mau cuci emas miliknya di toko emas daerah Melawai, jadilah sekalian saya beli cincin kawin di sana.

Saya nggak mau neko-neko alias nggak suka ribet juga, bukan tipe yang muter ke sana kemari dan membandingan ini itu, yang ada malah pusing sendiri. Saya cari model yang kiranya menarik hati di toko emas kakaknya calon saya. Rencananya hanya saya yang membeli cincin emas, sedangkan calon suami saya nanti akan membeli cincin perak, karena menurut agama Islam, laki-laki tidak boleh mengenakan sesuatu dari emas.

Lihat cincin-cincin yang terpajang di etalase, saya tertarik dengan 1 cincin dengan bentuk yang simpel. Emas putih, matanya hanya 1, bentuk permatanya belah ketupat. Saya coba masukan ke jari manis sebelah kanan, klop banget ukutannya. Tidak longgar dan tidak terlalu kecil. PAS. Seperti berasa klik dan jodoh  dengan cincin ini, akhirnya saya memutuskan untuk memilih cincin tersebut sebagai cincin kawin saya.

Sebulan kemudian setelah saya menikah, saya hamil anak pertama. Bukan main berat saya bertambah banyak sekali, totalnya bertambah 20 kilo, dari berat awal 48 kilo ke 68 kilo. Makin bertambahnya usia kehamilan semakin banyak pula pertambahan beratnya. Rasanya badan melar, tak terkecuali dengan jari tangan. Saya merasa jari tangan menggelembung besar-besar. Alhasil cincin kawin nggak muat lagi dong, saya copot untuk sementara waktu. 

Berhubung saya tetap ingin pakai cincin kawin ditangan kanan saya, biar gak digodain orang karena gak pake cincin dikira belom kawin (pede ameeet), akhirnya saya minta dibelikan cincin ke suami. Saya cuma minta cincin perak saja karena hanya untuk dipasang di jari manis sementara saya hamil. Ternyata ukuran jari saya menjadi besar banget, kalo nggak salah nomor 9 deh, weeewww..

Dengan hati riang gembira, cincin perak harga 75ribu saja saya pakai di jari manis saya. Suami saya lagi baik banget mau beliin hihi, padahal tadinya bilang nggak usah pakai cincin dulu saja sementara waktu. Tapi karena saya terus merengek (nasiiipp ya pak punya istri teguh pendirian) harus beli, akhirnya beli deeeh. Sampai melahirkan, saya masih pakai cincin tersebut sedangkan cincin kawin saya yang sebenarnya masih disimpan.

Lama-kelamaan jalan 1 bulan sejak saya melahirkan, berat badan saya pun turun drastis. Ini karena saya memang memberikan ASI Eksklusif kepada anak saya. Spontan berat saya turun drastis. Padahal udah kece-kece pas hamil agak berisi, sekarang kembali kerempeng. Tidak terkecuali tangan saya pun menipis kembali. Akibatnya, cincin yang saya pakai di jari manis pun sangat longgar, saya pindahkan ke jari tengah pun sangat longgar. 

Teringat cincin kawin saya yang asli, akhirnya saya keluarkan lagi. Harusnya muat lagi dooong kan udah langsing (baca : kurus) lagi. Saya mengambil cincin kawin saya dan kembali memasangkan pada jari manis. Tapi oh tapiiiii... Ketika saya mencoba memasukannya ke dalam jari manis, baru satu buku jari sudah stuck. NGGAK MUAT DOOOOOOONG!!

Oh men, walaupun berat turun drastis, ternyata jari tangan tidak kembali seperti sebelum menikah. Sedikit melar ya. Kalau kata ibu saya, harusnya saat membeli cincin kawin itu dicoba di jari tengah dulu, dan gak papa kalau sedikit longgar saat pertama kali, karena nanti akan pas dengan sendirinya (dengan kata lain abis nikah bakal gendutan). 

Well done well done, sekarang saya dilema. Pakai cincin kawin beneran gak bisa karena sudah kekecilan, pakai cincin perak ala-ala jaman hamil kegedean. Apakah ini artinya Ama harus dibeliin cincin baru lagi, Apak? *kedip kedip kelilipan ke suami.

Noni Halimi

Wednesday, January 13, 2016

Romantis itu..

Romantis itu..
Bukan yang tiap pagi kasih ucapan selamat pagi lewat message
Tapi yang bangunin kita buat shalat shubuh berjamaah walaupun mesti diciprat-ciprat air

Bukan yang kasih bunga kalo anniversary
Tapi bercengkrama dan mengenang bersama cerita tepat setahun yang lalu

Bukan yang kasih ucapan selamat ulang tahun tepat jam 12 malam dan surprise bawa kue
Tapi yang kasih kecupan sayang waktu yang ulang tahun terlelap tidur

Bukan yang berteduh di bawah jembatan karena kehujanan naik motor berduaan
Tapi ketika ia memberikan seluruh jas hujan kepada istrinya agar tidak kehujanan, tapi istrinya menolak dan memberikan sebagian kepada suaminya. Akhirnya mereka pakai jas hujan hanya setengah, co cwiiit (basah kuyup)

Bukan yang pegangan tangan kalau lagi jalan dan bilang i love the way you hold my hand
Tapi yang selalu menginginkan menarik tangan kita kelak di surga-Nya bersama-sama

Bukan juga yang selalu update foto bareng berdua
Tapi yang update foto bareng istri dan anaknya

Bukan yang dinner di tempat mahal plus lilin remang-remang
Tapi yang makan masakan istrinya dengan lahap tanpa sisa, bahkan nambah

Bukan yang selalu bilang pengen nikahin kita tapi ga ada action
Tapi yang datengin wali kita dan bilang face to face ingin meminang kita

Bukan yang panggil memanggil dengan sebutan Ayah-Bunda, Papa-Mama padahal belum menikah. Tapi yang tiap anaknya nangis selalu bilang 'Maaa..anaknya nangis mau nyusu'. Karena mereka sudah menjadi orang tua beneran

Bukan juga yang ngucapin 'Selamat tidur' tiap malem di HP.
Tapi yang ngucapin selamat tidur secara langsung, mengelus kepala kita sampai tertidur

Bukan yang tiap weekend ngajakin jalan atau malem mingguan ke luar.
Tapi yang rela angkut angkut barang disuruh ini itu sama istrinya karena weekend adalah waktunya beberes rumah

Romantis itu...
Bukan yang bilang i love you tiap hari,
Tapi ketika istrinya ngomel dan dia masih bisa bilang Koishiteru (Deepest way to say I Love You in Japanesse)

Bukan yang tiap minggu ada jadwal nonton bioskop berdua,
Tapi yang nonton film di kamar berdua sama istrinya plus makan cemilan sampe rebutan

Bukan yang selalu beliin ini itu untuk kita, 
Tapi ketika ia memperbolehkan istrinya membeli barang yang sangat istrinya inginkan

Bukan yang liburan bareng ke sana kemari dengan status pacar,
Tapi ketika berpetualang berdua dengan judul destinasi honeymoon

Bukan yang rela nungguin cewe nyalon sedang ia menunggu di luar,
Tapu ketika ia dengan setengah ngantuk tetap memijat istrinya yang sedang hamil besar

Romantis itu bukan yang nge-gombalin kita dengan bilang 'Calon Ibu dari anak-anakku'
Tapi ketika ia dengan sabar menunggu dan menyaksikan proses persalinan istrinya

Bukan yang tiap malem skype demi bisa ngobrol face to face sama pacar,
Tapi yang mengisi waktu malamnya dengan mengobrol berdua istrinya , berbagai tema dari sabang sampai marauke

Romantis itu...
Ketika ia punya segudang cara untuk membuat kita tertawa bahagia

Ketika ia rela berkeringat tidur dengan AC yang tidak dingin karena takut bayinya kedinginan

Ketika ia sukarela berbagi kasurnya untuk anaknya tidur

Ketika ia bercanda dan bermain dengan anaknya

Ketika ia menyerahkan makanan kesukaannya supaya dimakan istrinya

Ketika ia bela-belain beli kelapa hijau setiap hari dengan jalan pulang yang lebih jauh

Ketika ia mau bawain tas bayi segede gambreng di saat istrinya gendong anak

Ketika ia gendong buah hati kita semalam suntuk supaya gak nangis

Ketika ia membiarkan istrinya beristirahat setelah kelelahan begadang sedang ia yang mengambil alih tugas

Ketika ia mau menceboki anaknya

Ketika mau mencuci dan membilas popok anaknya

Ketika ia dengan segudang leluconnya menghibur istrinya yang sedang ngomel

Ketika istri mencium tangan suami saat ia berangkat kerja dan suami mencium kening istrinya, dan mengucap selamat mencari rezeki yang halal, hati-hati di jalan

Romantis itu..
Ketika kita bisa menikah dengan sabahat terbaik kita, karena menikah adalah hidup bersama dengan sahabat terbaik.

Romantis itu.. 
Ketika semua yang dilakukan berdua menjadi Halal
Romantis itu..
Kamu, Apak :)

Bedong oh Bedong

Shin Umar Abqary, bocah belum genap 1 bulan usianya senantiasa menggunakan bedong. Kata dokter bedong ga bagus, mengganggu pertumbuhan bayi, tapi kata orang jaman dulu, bayi baru lahir itu justru harus dibedong. Soalnya bedong itu membuat tubun bayi lurus (entah penelitian dari mana). Kalau kata ibu saya, bayi butuh dibedong supaya lebih hangat, dan ia selalu merasa dipeluk.

Okelah saya nurut apa kata Ibu saya, akhirnya saya membedong Umar. Awal-awal bedong sakit buat ketat, tapi lambat laun kok kasian ya ngeliatnya nggak bisa bergerak, maka belakangan saya membedong dengan agak longgar, memberi kesempatan untuk Umar bergerak dan berkreasi. 

Anak bayi dikasih kesempatan udah kayak dikasih lampu ijo gitu sama emaknya. Begitu dirasa bedong agak longgar, mulailah badannya bergerak ke sana kemari, supaya lilitan bedong lebih longgar lagi. Saya memperhatikan saja aksonya dan membiarkan. Kemudian tangannya mulai ditekuk dan menyembul keluar. Mula-mula tangan yang kiri, lalu disusul tangan yang kanan. Kepalanya bergerak ke sana kemari hingga tidak pada posisi yang sama.

Hingga suatu hari pernah saya tinggal mandi sebentar dengan kondisi bedong longgar, maka inilah hasilnya..

Kamu nggak suka bedong ya nakk...




Kado (Sok) Misterius 25 Maret 2013

Dua tahun yang lalu saat saya masih ditempatkan di Cabang Utama dengan penuh lika liku nasabah yang seabrek dan permasalahan percintaan (halaah), ada momen yang tidak saya lupakan. Iya, hari itu tanggal 25 Maret 2013 merupakan hari kelahiran saya yang ke 25 tahun. Ucapan dari rekan-rekan kantor sudah banjir, dimulai dari Morning Briefing di kantor, rekan saya bukannya menyampaikan hal-hal terkait kerjaan yang akan di share malah pengumuman kalo hari itu saya ulang tahun. Tak lupa ledekan-ledekan kapan nikah kapan nikah. Ditambah lagi supervisor processing yang sangat cetar yakni Pak Yudi menyanyikan lagu ulang tahun di banking hall saat jam layanan. Men, untung lagi ga ada nasabah.

Di saat sedang rame-ramenya nasabah kayak keran ngucur ga berenti-berenti, satpam saya tiba2 bilang kalau ada kiriman barang untuk saya. Segera saya terima dan melanjutkan rutinitas melayani nasabah. Saat jam istirahat, rekan kerja saya Bebeb Iing menanyakan kiriman apa tadi? Saya pun bingung, karena setahu saya kemarin-kemarin saya ga pesan atau belanja online. Penasaran apa isinya, maka kami buka. Ternyata sebuah jaket.

Kami berdua bingung, Bebeb Iing malah cengar cengir ngeledekin katanya dari fans gelap. Saya malah bingung, pacar gak ada, siapa yang kirim. Adanya mantan. Haha. Saya lihat pengirimnya ternyata dikirim langsung dari online shop, jadi gak bisa lacak juga yang mesen siapa, mana nomer yang tertera di resi gak aktif (beneran nyari tau). Bukan apa-apa, saya butuh mengucapkan terima kasih atas kiriman barangnya, bukankah itu sudah kewajiban seseorang jika diberi sesuatu?

Jalan satu-satunya untuk tahu siapa yang kirim adalah dengan nanya langsung ke mantan-mantan saya. Untung mantan saya cuma 2, kalo ada banyak capek juga nanyain. Kebetulan hubungan saya dan mantan saya pasca pisah masih baik, masih komunikasi dengan baik-baik, dan bagi saya tidak masalah untuk menanyakannya. 

Saya tanya ke mantan saya yang kedua, ngerasa kirim barang gak ke kantor? katanya 'nggak ada kirim barang kok, dapet kiriman dapet fans kali dek :D' oke, bukan doi yang kirim. Kalau begitu saya tanya ke mantan saya yang pertama yakni teman dekat saya dari SMA. Katanya 'aku nggak kirim barang kok' Lhaa gantian saya makin bingung, padahal kirain yang ngirim salah satu dari mereka. Akhirnya saya cuma bisa mengucapkan terima kasih ke Bebeb Iing atas kiriman kado yang saya terima. Lhooo kok ke Bebeb Iing. Iya habis saya bingung mau terima kasih kemana.

Akhirnya itu jaket sempat saya pake waktu ke Singapura bareng travelmate saya Ampi dan Febi. Jaketnya lucu kayak bocah, warna pink muda favorit saya dan bermotif panda. Saya sempat mengabadikan fotonya. 

Dua tahun kemudian..

Ceritanya di fast forward, soalnya kalo dijabarin per hari yang ada bisa 3 kali Lebaran baru kelar bacanya.

Saya menikah dengan mantan saya yang pertama yang tidak lain adalah sahabat SMA serta satu Almamater kampus. Waktu di rumah ia melihat jaket pink itu seraya berkata 'masih ada aja jaketnya' Saya bingung, kok dia tahu jaket ini. Padahal waktu nanya dahulu kala saya nggak bilang bentuk barangnya seperti apa. Ternyata saya baru tahu, yang mengirimkan kado jaket itu adalah dia yang sekarang menjadi suami saya. Protes saya bilang kenapa dulu bohong bilangnya bukan dia yang kirim. Sambil cengengesan dia bilang 'emang bukan aku yang kirim, kan abang-abang online shop yang kirim, aku cuma pesen' zzzzzz ngeles mulu apaknya Umar. 

Dan kado sok misterius itu baru terpecahkan dua tahun kemudian bahkan setelah kami menikah. Ruuaar biasah. 

Noni Halimi

Tuesday, January 12, 2016

Referensi Lagu Pernikahan (Wedding Song)

Postingan ini dipersembahkan oleh rasa kangen sama lagu-lagu yang diputer waktu kawinan dulu hehehehe.

Salah satu wedding preparation yang masuk check list adalah mempersiapkan lagu pernikahan atau wedding song. Untuk lagu pernikahan saya tidak pakai organ tunggal dengan penyanyi, jadi saya menggunakan pemain biola yang memainkan musik instrumental saja. Ia membawakan beberapa lagu yang saya ajukan tentunya yang sudah familiar, beberapa diantaranya ada di bawah ini.

Di bawah ini juga saya share lagu yang diputar saat menunggu proses akad nikah saat pagi persiapan, serta jeda setelah akad nikah ke resepsi. Tentunya di dalam gedung masih banyak tamu dan keluarga baik yang sedang santap sarapan maupun yang menunggu dimulainya resepsi. Nah saatnya memutar lagu-lagu kesukaan saya dan suami. Inilah lagu-lagu yang kami suka karena musiknya bagus  yang nyanyi keren, liriknya oke, atau memiliki kenangan tersendiri untuk kami *uhuk.

Pesan dari saya, buat list lagu secukupnya, karena kamu nggak akan mungkin memutar seluruh list lagu kesukaan kamu di saat jeda akad-resepsi, bahkan pada saat resepsi hanya dimainlan beberapa lagu saja, karena terpotong oleh MC yang berbicara. Masukan list lagu tersebut dalam 1 file agar mudah dalam pengoperasiannya pada hari H oleh PIC Soundsystem.

Lagu dengan Vokal
1. The Secret of Color and Kiroy Y
2. Letto - Ruang Rindu
3. Rossa - Ayat Ayat Cinta
4. Potret - Bunda
5. Chrisye - Untukmu
6. Yovie n Nuno - Janji Suci
7. Maher Zain - Barakallah
8. Bunga Citra Lestari - Cinta Sejati
9. Ada Band - Yang Terbaik Bagimu
10. Mocca - Hanya Satu
11. Connie Talbot - Let it Be
12. John Legend cover by Luciana Zogbi - All of Me
13. Lenka - The Show (New Version)

Lagu Instrumental
1. Vivaldi Winter (Piano Guys) - Let it Go
2. The Piano Guys - Love Story
3. The Piano Guys - A Thousand Years
4. The Piano Guys - Because of You
5. The Piano Guys - Pachebells Canon in D
6. Ashita Hareru Kana (Piano and String Version, OST Proposal Daisakusen)
7. Kibou (OST Proposal Daisakusen Main Theme)
8. Yiruma - Kiss The Rain
9. Depapepe - One
10. Depapepe - Dream

Musik yang dibawakan dengan biola saat Resepsi
1. A Thousand Years
2. Let it Go
3. Bunda
4. Untukmu
5. Cinta Sejati
6. Yang Terbaik Bagimu
7. All of Me

Semoga menginspirasi,
Salam,
Noni Halimi

My Life After Having a Baby

'Gimana rasanya mbak habis melahirkan terus punya anak, ada yang berubah nggak? Lebih keibuan ya?'

Pertanyaan itu dilontarkan salah satu rekan kerja saya di kantor ketika menjenguk 2 hari pasca saya melahirkan. Saya bingung jawabnya, rasanya belum ada yang berubah pasca saya melahirkan kecuali hadirnya bocah mungil yang kini tidur bertiga bersama saya. Dulu mungkin saya bingung jawabnya, tapi sekarang rasanya so much has changed.

My life after having a baby. Yang jelas bertambahnya status saya dari seorang istri, bertambah menjadi seorang Ibu. Bertambah pula amanah yang saya emban dari Allah untuk semua ini. Rasa keibuan sudah pasti timbul dengan sendirinya ketika lahir seorang bayi, menurut saya itu alami dan sudah menjadi insting Ibu yang baik untuk merawat dan menjaga anaknya. 

Seperti sudah saya paparkan di muka, ketika sudah memiliki buah hati, maka saya harus rela berbagi tempat tidur. Jika sebelumnya bisa seenaknya saja berdua, sekarang kami lebih hati-hati bergerak karena si kecil tidur di kasur yang sama. Yang biasanya tidur pecicilan, malem tidur di pojok, pagi bangun sudah di pinggir, bed cover ke sana kemari-- kini tidur kami kalem macem snow white gitu lah.

My life after having a baby,
Saya jadi sering ngomong sendiri, enggak sendiri banget sih, ngobrol bareng si bayi, tapi kan dia belom bisa respon balik tuh. Gapapa lah, Umar pasti ngerti emaknya ngomong apa. Katanya kalau sering ajak ngobrol anaknya bounding yang tercipta antara Ibu dan anak juga kuat. 

Menjaga makanan dan segala asupan yang saya makan. Kalau ini tidak jauh berbeda sih dengan masa hamil dahulu. Hanya saja kali ini lebih berhati-hati. Jika dulu masih suka 'bandel' makan ini itu, kalau sekarang selektif karena apa yang kita makan dalam tempo singkat akan berpengaruh kepada si kecil karena ia minum ASI. 

Jika dulu saya lebih banyak waktu santai untuk browsing, melakukan hal-hal dari yang penting sampai gak penting di waktu senggang, kini hari-hari saya dihabiskan untuk menyusui, memandikan anak, menggendong, menidurkan dan bermain bersama anak. Dulu masih bisa Pakai baju macam-macam biar kece, sekarang kalau bisa pakai baju yang simpel dan gak ribet untuk menyusui. 

Dulu saya sering baca buku atau artikel random yang saya suka, setelah memiliki bayi, maka bacaan saya beralih ke segmen parenting, baby, dan kawan-kawannya. Mulai dari cara mengurus bayi, kesehatan bayi, informasi pertumbuhan bayi, imunisasi dan lain sebagainya. Menjadi Ibu baru sangat minim pengetahuan membuat saya harus belajar banyak dari berbagai sumber baik artikel browsing maupun pengalaman dari orang tua, teman teman serta kerabat dekat yang sudah memiliki anak.

Jika dulu weekend masih bisa jalan ke sana kemari, nonton bioskop, maka saat sudah punya bayi hilang semua dari list kegiatan sehari-hari. Untuk bulan-bulan pertama weekend dihabiskan di rumah untuk mengurus bayi dan bermain di rumah. Tidak mungkin saya meninggalkan bayi di rumah sedang saya malah jalan-jalan ke luar. Mungkin nanti ya nak kalau sudah besar dikit kita jalan bareng ;)

My life after having a baby,
Kalau dulu isi HP saya dan suami adalah kebanyakan foto-foto kami berdua, biasa selfie. Sekarang isi HP kami adalah penuh foto si kecil dengan berbagai pose dari hari ke hari, rasanya nggak mau ketinggalan satu momen pun dalam hidupnya yang tidak terekam kamera.

Hobi lain saya yang hilang adalah berburu tiket murah untuk bepergian. Iya, semenjak hamil dan kini sudah punya bayi, saya tidak pernah lagi browsing cari tiket murah bepergian. Mungkin nanti kalau dirasa cukup usianya kami bisa bepergian bertiga. Membawa bayi usia sangat kecil bepergian memang tidak ada salahnya sih, tapi rempongnya itu lhoooo.. Menginap satu dua hari saja perlengkapannya berasa pindah rumah cyiin, belom bawa stroller. Kalau bisa bak mandi di bawa juga dibawa deeh.

Bener kata orang-orang, kalau emak-emak biasanya bawel, doyan ngomel. Ah masa sih? Itu yang saya rasakan pada akhirnya. Naluri emak-emak sudah mengudara, bawaannya mau ngomel kalau ada yang berantakan. Kalau dulu suami naro barang sembarangan masih suka saya bereskan tanpa komen, kalau sekarang ngoceh dulu baru beresin. Yaaa.. ocehan khas emak-emak. 

My life after having a baby, semua serba cepat, serba butuh efisien dan tidak membuang waktu. Saya belajar banyak manajemen waktu ketika sudah memiliki anak. Iya, bagaimana memanage waktu untuk keperluan kita pribadi dengan mengurus anak. Misal pagi hari sehabis memandikan anak serta menyusui, kita baru bisa mandi saat ia sudah terlelap. Ketika malam hari ia tidur, sebiss mungkin kita juga ikut tidur walaupun masih pukul 8 malam. Karena ketika malam hari ia bangun, kita juga harus bangun untuk menyusui.

Jika dulu saya senang belanja online barang-barang kebutuhan saya pribadi, maka sekarang saya lebih senang mencari kebutuhan bayi. Demikian juga jika belanja ke suatu tempat, maka tempat yang saya datangi dan excited untuk ubek-ubek tumpukan barang dagangan adalah baju-baju dan perlengkapan bayi. Rasanya gemes banget melihat baju ukuran mini, sepatu mini, dan membayangkan betapa lucunya jika dipakaikan ke anak, walaupun saat itu bajunya masih terlalu besar dan belum muat. Yang penting beli dulu ehehe.

Jika dulu ketika selesai shalat dan berdoa biasa hanya mendoakan suami, keluarga, rekan-rekan, muslimin dan muslimat, maka ketika sudah punya anak, maka doa untuk anak menjadi skala prioritas. Apa pun didoakan demi yang terbaik untuknya. Rasanya tidak habis-habis untuk berharap segala sesuatu kebaikan untuk si kecil. 

My life after having a baby, i do love my parents much better than before. Rasanya sedih campur bangga. Sedih belum bisa berbuat banyak untuk orang tua, bangga karena dibesarkan oleh mereka. Karena ketika kita memiliki anak, kita mengetahui bagaimana rasanya menjadi orang tua, bagaimana rasanya mengurus anak, sehingga akan timbul perasaan sayang yang lain dari biasanya kepada orang tua kita.

My life after having a baby, 

Now i know how does it feel to be a mother for the first time. I'm sorry if i haven't being a perfect Mama for you, but trust me, i'll try my best to raising you up baby, my little prince charming, Shin Umar Abqary.

*tetiba melooow
*lap ingus
*cari waslap Umar

Sekian dan terima kasih cinta
Noni Halimi