Friday, June 17, 2016

FS dan FB Punya Cerita

Tak sengaja saya membuka salah satu akun sosial media milik saya yang sudah lama tidak dikunjungi. Facebook. Agaknya jejaring sosial yang happening di tahun 2008 ini tidak semenarik dahulu waktu baru booming. Jika dulu Facebook sangat digandrungi dari usia muda sampai orang tua, kini Facebook tidak lagi menjadi jejaring favorit kaum muda. Namanya jg anak muda, ada jejaring sosial baru, yang lama sudah lupa. 

Jejaring senior Facebook yang sudah lebih dahulu ditinggalkan yakni Friendster, lebih lagi tidak ada kabarnya. Media sosial ini rasanya menjadi pioneer bagi anak tahun 90an untuk berkreasi di kancah sosial media. Friendster punya cukup banyak fitur yang mengasah kreasi untuk menghias homepage dan menemukan teman-teman lama kita. Plusss kepoin gebetan atau pacar, hihihi.

Jaman saya kuliah semester awal, saya dan rekan-rekan banyak yg belum memiliki laptop. Maklum, harga laptop zaman tahun 2006-2007 sangat mahal dan belum bisa dijangkau oleh banyak mahasiswa. Apalagi macem mahasiswa pengiritan kaya saya dan bergaul dekat dengan anak rantau yang mandiri dan jauh dari orang tua. Hampir sebagian besar belum ada yang punya laptop. Rasanya tidak ingin merengek ke orang tua untuk sekedar minta dibelikan laptop. Lebih baik menabung dulu sampai nanti dapat dari hasil jerih payah sendiri. 

Tidak punya laptop untuk ke kampus bukan berarti tidak bisa berkreasi dengan jejaring sosial. Kami masih punya smart phone, walaupun hitungannya ga smart-smart banget alias harganya ga mahal-mahal banget. Yang penting bisa browsing dan buka jejaring. Saya dan rekan-rekan kalau sedang senggang suka nongkrong di lobi fakultas supaya bisa browsing pakai wifi, atau ke labkom yang bisa dipinjam secara bergantian dengan menggunakan Kartu Tanda Mahasiswa. Namun penggunaan labkom ini sifatnya tidak bisa berlama-lama, dan digunakan untuk kepentingan kampus dan tugas-tugasnya saja. Mana bisa browsing jejaring sosial kelamaan di labkom, yang ada kasian yang antri 😂

Tapi kalau super senggang, saya dan gerombolan rekan saya, tak habis cara. Kalau labkom gratis, maka pas lagi ada duit dan butuh hiburan browsing kita ke warnet. Iiih warnet dan rental komputer masih jaman??? Hey anak muda, zaman saya kuliah tahun 2006 warnet dan rental komputer masih berjamuran dimana-mana, terutama lingkungan kampus. Karena tidak semua mahasiswa punya laptop. Isinya? Ya mahasiswa yang nyari tugas, ngerjain skripsi, ya iseng browsing,  sampai iseng buka jejaring sosial. 

Harga rental komputer pada masa itu kalau tidak salah 1000 per jam. Dan biaya internet 3000-4000 per jam. Kalau di warnet dekat kampus saya banyak yang lesehan, setiap komputer dibatasi tirai atau gorden. Saya dan rekan-rekan biasa nongkrong di sana kalau lagi free. Ngapain? Buka Friendster (untuk selanjutnya disebut FS). Motivasi rekan-rekan saya yang buka FS beragam, ada yang kepoin mantannya, kepoin pacar baru mantannya, ada yang kepoin pacarnya, temen-temen pacarnya, ada yang kepoin gebetannya, temen-temen gebetan, keluarga gebetan, temennya temen gebetan (iiih panjang ye nasabnya). Pada intinya ga jauh-jauh dari asrama. Tsaahh preeett...

Racun banget kalau udah ke warnet suka lupa sendiri kalau udah kelamaan. Lucunya suka niat abis. Jadi kita Dzuhur dulu, abis sholat langsung ke warnet sampe Ashar.  Niat lah pokoknya. Belom lagi kalo lagi konsentrasi penuh menghias  FS, beuuuh ga ada yang bisa gangguin walopun temen sebelah udah narik2 gorden pembatas di warnet. Lucu rasanya. Kadang gordennya kita buka terus tengok-tengokan lagi ngapain, lagi buka FS siapa? Atau ada info baru entah siapa, sambil ngomong 'eh liat deh.... ' dan otomatis langsung ngerubungin satu layar komputer. 

Sungguh di tempat itu rasanya campur aduk, kadang seneng (kalo pas ngedit FS), kadang sedih (kalo pas liat gebetan deket sama cewe lain), kadang galau (liat mantan kayaknya punya tambatan baru), kadang penasaran (abis kepoin entah siapa). Sampai adegan nangis liatin layar komputer kalo berantem sama pacar. Beberapa yang saya ingat dari Friendster di kolom bagian depan ada fitur untuk menghias atau menuliskan pesan atau insert teks HTML. Saya malah senang sekali custom profile. Jadi tidak pakai background default dari FS, tapi pakai background sendiri dengan mencari kode HTMLnya. Bahkan terkadang insert gambar dan teks berjalan (marquee). Berasa keren banget kalo udah ngotak-ngatik FS. Ga jarang liat tutorialnya dan browsing soal kode HTML. 

Hal lain yang saya ingat adalah ketika kita kepoin orang. Kalau di FS kita membuka profile orang akan muncul notifikasi bahwa akun kita mengunjungi atau visit profile orang tersebut, yang artinya ketauan dong kita kepo. Nah biasanya kalau mau kepoin orang, kita setting FS kita menjadi private, sehingga ketika kita mengunjungi profile orang lain, tidak muncul notifikasi nama kita. Hanya sekedar unknown. Kita bebas kepo sana sini hihihi..Yang lucu kalau lagi asik-asik kepo, eeeehhh lupa setting private, aarghh hahahhaa memalukan kalo ketauan. Masa-masa remaja yang asem banget buat dilewatkan begitu aja. Kalau sekarang mana ada nongkrong di warnet macem bgitu. Udah pada nenteng laptop, netbook, bahkan ipad sendiri. 

Tahun kedua kuliah muncul jejaring baru bernama Facebook. Kami langsung beralih ke Facebook dan berangsur meninggalkan FS. Di Facebook (FB) kita bisa tag orang yang ada dalam foto yang kita publish. Kemudian sibuk komen-komenan. FB juga ada fitur untuk chat jadi tak jarang juga ada orang yang chat di FB. Sama hal nya dengan FS, kegunaan FB selain untuk sarana menjalin silaturahim juga tak lain sebagai sarana jomblo-jomblo kepo. 

Bedanya di tahun FB ini sudah mulai banyak mahasiswa yang punya laptop atau netbook. Apalagi menjelang skripsi, sebagian besar sudah punya sendiri. Tadinya nongkrong di warnet, ketika sudah punya laptop nongkrongnya di lobi maupun lokasi-lokasi terjangkau wifi di seluruh kampus. Kami bisa betah berjam-jam untuk urusan browsing. Bahkan kalau lagi iseng kami suka streaming youtube dan nonton bareng. 

Walaupun sudah jarang dibuka orang, namun FB masih tetap saja eksis. Karena tidak dapst dipungkiri jejaring sosial ini memiliki banyak manfaat, apalagi kalau bukan connecting. FB juga bisa dipergunakan untuk membuat akun profile lembaga, untuk membuat RSVP atau event, bahkan bisa dipergunakan untuk berjualan / membuka online shop. Biayanya sudah pasti gratissss.....

Banyak juga ya kenangan FS dan FB, tak terlupakan deh. Terima kasih FS dan FB, kalian punya cerita.

-Noni Halimi

Sunday, March 13, 2016

Foto Berlebihan Sama Pacar?

Kata orang (yang cukup) bijak : "Kalau masih pacaran, jangan terlalu banyak publish kemesraan di media sosial, nanti kalau putus, capek ngapusinnya."

Omongan tersebut ada benarnya juga sih. Terkadang ketika kita pacaran, dunia serasa milik berdua yang lain ngontrak, bebas ke sana ke mari, jepret selfie sana sini, ujung-ujungnya publish ke media sosial. Rasanya pengen semua orang tahu kalau dia milikku aku miliknya, kita bersama~ satuuuu selamanyaaa *malah nyanyi. Sebenarnya sah-sah saja sih, namanya juga lagi mabuk kepayang, boleh dong sharing. Jika sewajarnya saja okelah. Tapi yang namanya berlebihan memang nggak baik. Bagaimana jika kita terus menerus update foto mesra bersama, kemudian berantem eh kemudian putus. Nah loh..

Kalau sudah putus sama mantan pacar rasanya pengen menghapus segala sesuatu yang berhubungan sama doi. Pokoknya nggak pengen lihat doi lagi *Deeuuh segitunya amat emang dulu pas jaman pacaran diapain sih sampe segitu bencinya.* Otomatis semua rekaman yang berkaitan dengan mantan pengen dihapus, tidak terkecuali foto-foto yang pernah dipublish diberbagai sosial media. 

Jaman sekarang makin canggih. Jaman dulu cuma ada Friendster, maka ketika putus sama mantan hanya berkutat sama 1 akun Friendster saja. Maklum lah, dulu kan Friendster merupakan medsos paling hits sejagat anak ABG generasi 90an. Tiap hari pulang kuliah nyari wifi gratisan di kampus buat update Friendster, kalau lagi punya duit melipir ke warnet deket kampus dan menghabiskan waktu berjam-jam untuk menghias akun Friendster pluuuuss kepoin akun pacar. Maka kalau jaman dulu putus, bersihin foto di FS (baca : Friendster) kelar urusan. Namun bagaimana dengan sekarang?

Jangan ditanya kalau sekarang (lah tadi nanya???) Berbagai sosial media memfasilitasi hobi kawula muda yang jatuh cinta untuk mempublish hari-harinya bersama pacar. Mulai dari Facebook, Twitter, Path, Pinterest, Tumblr, Instagram, Google Plus, bahkan bisa diabadikan melalui tulisan di blog baik blog gratis macem Wordpress dan Blogspot, maupun blog berbayar (ini niat abis sih publishnya). Publish sana sini, foto berserakan di pelbagai sosial media, dan kemudian....putus. Oh la la~

Apa yang kemudian dilakukan? Tentu menyediakan waktu khusus buat menghapus foto-foto tersebut. Belum lagi kalau lihat foto-fotonya jadi inget kenangan bersama mantan, terus sedih, terus marah, terus kesel eh terus kangen *jadi baper.. mikir-mikir lagi buat ngapus, eh tapi pacara cemburu dan nyuruh ngapus. Ya udah deh nyiapin waktu buat ngapus. Lihat fotonya jadi inget kenangan bersama, terus sedih, terussssss muter aja ga kelar-kelar. Alhasil ribet sendiri jadinya buat yang mau hapus foto. 

Saran simple dari saya buat yang hobi selfie sama pacar, buatlah foto sewajarnya, caption sewajarnya, jangan berlebihan untuk mengungkapkan sayang kapada pacar. Iya kamu sayang sama dia. Tahan-tahan dulu lah, nanti aja posting yang lebih seru dan menyenangkan kalau sudah sah. Lebih aman tho nduk kalau sudah nikah 😍 Karena kalau berlebihan, terus nanti putus dan berniat menghapus foto-foto mantan, capek ngapusinnya 😂

-Noni Halimi-

Sunday, January 24, 2016

Email Masa Depan

Dear anakku,
Shin Umar Abqary

Ama dan Apak buat alamat email untuk kamu nak, isinya semua rekam jejak kehidupan kamu dari dalam kandungan sampai tiba nanti saatnya Ama dan Apak beri tahu password emailnya ke kamu di usia 17 tahun. Semua rekaman foto, video, tulisan, curhatan Ama dan Apak, scan segala macam yang terkait sama kamu.

shinumarabqaryxxx@gmail.com

Ingatkan Ama dan Apak untuk memberitahukan passwordnya kepadamu di usia 17 tahun ya nak..

With love,
Ama dan Apak

Thursday, January 14, 2016

Apakah saya siap menikah?

Seperti buku yang pernah saya baca, katanya menikah itu indah, karena akhirnya melepas status dari jomblo itu rasanya luar biasa. Bisa bebas bilang sayang tanpa harus malu dan bingung bagaimana menyampaikannya. Ada orang yang bisa kita sayang dari melek mata sampe merem lagi.

Kata teman-teman saya, menikah itu seru, semua dilakukan berdua. Makan berdua tanpa ngerasa kurang karena berbagi makanan dengan pasangan. Jalan-jalan bareng kemana pun yang kita mau tanpa khawatir ditelponin sama emak bapak di rumah disuruh pulang. Bebas pulang sampai larut malam berdua suami karena ada ia yang tanggungjawab atas kita.

Kata kakak kelas saya, menikah itu bahagia, karena merasa penuh. Bagaimana tidak, menikah itu kan menyempurnakan setengah agama kita. Menikah itu bisa ibadah bareng dan berlomba-lomba dalam kebajikan bersama. Saling mengingatkan dalam kebajikan dan taqwa.

Kalau kata motivator, menikah itu menyatukan dua hati yang berbeda, namun berjalan seiring seirama dengan satu tujuan hidup. Membangun keluarga yang sakinah mawaddah dan rahmah.

Memang betul.
Semua kata mereka betul.

Namun saya ingin menambahkan, bahwa menikah itu adalah sebuah kesiapan. Iya, menikah bukan hanya perlu persiapan tapi juga kesiapan. Persiapan sudah pasti karena menikah butuh biaya, persiapan daftar KUA, persiapan acara resepsi, acara unduh mantu kalau ada, persiapan tinggal dimana, dan sebagainya. Persiapan sudah tentu dilakukan, namun bagaimana dengan kesiapan?

Kesiapan dalam menghadapi babak baru dalam kehidupan bersama dengan orang yang kau pilih. Bersamanya melewati suka dan duka kehidupan. Bukan senangnya saja, tapi apakah siap kita menghadapi duka juga dan saling memotivasi pasangan kita. 

Sudah siapkah kita untuk merancang visi dan misi pernikahan? Siap untuk berbagi kepala, berbagi pikiran, berbagi bahu untuk menopang. Sudah siapkah menyiapkan strategi demi suksesnya visi dan misi pernikahan yang dibuat bersama? Sudah siapkah kamu untuk berjuang bersama pasangan? Jangan lupa, ketika siap untuk sukses, kamu juga harus siap ketika diterpa tantangan. 

Sudah siapkah kamu memiliki super duper banyak saudara dengan berbagai macam karakter dan latar belakang. Keluarga besar kita sendiri saja sudah banyak, ini bertambah lagi. Karena ketika sudah menikah, bukan hanya menyatukan dua kepala, tapi juga dua keluarga besar. Dan kita ada di dalamnya. 

Sudah siapkah kita berbesar hati, berlapang dada, mengakui kesalahan, meminta maaf kepada pasangan kita? Karena dari mulai melek mata sampai mau merem lagi ada pasangan kita di sana. Bagaimana bisa hidup bersama pasangan jika ada adegan berantem yang belum terselesaikan? Bagaimana bisa tidur nyenyak sedang orang tersebut ada di sebelah kita. Sudah siap untuk meminta maaf dan berjanji tidak mengulanginya kembali?

Menikah sudah pasti berharap adanya keturunan yang meneruskan perjuangan kita dan pasangan. Untuk wanita, sudah siapkah kau merasakan letihnya hamil 9 bulan, rintihan proses melahirkan dan perjuangan membesarkan anak-anak dengan penuh kasih sayang? Sudah siapkah kau membangun peradaban? Sungguh tugas seorang istri sudah cukup berat, ketika menjadi seorang Ibu, tugasmu berkali-kali lipat lebih berat. Siapkah kamu?

Untuk menikah, sudah lapangkah hati kamu untuk dipimpin oleh suami? Karena sungguh ridhonya Allah ada pada ridho suami ketika seorang wanita sudah menjadi seorang istri. Sudah siapkah untuk menurunkan ego yang biasanya mau menang sendiri? Sudah siapkan menerima semua arahan dari suami selama tidak bertentangan dengan syariat Islam?

Sudah siapkah? 

Tentu jika ditanyakan lagi makin ke bawah, makin detail, jawaban yang di dapat adalah Tidak Siap. Tentu. Karena belum mengalaminya. Tidak perlu heran. Ketika seorang anak kecil dengan standar tinggi yang memadai diperbolehkan akan terjun melakukan flying fox, lalu kita tanya, sudah siap dek??? Jawabnya, SIAP KAK!!! Jawabnya memang siap, tapi tahukah kamu kalau dalam hati ia berdegup luar biasa, bagaimana rasanya, bagaimana kalau jatuh? Bagaimana kalau tidak dapat mendarat dengan mulus. Pasti. Padahal adik kecil itu sudah mengikuti arahan dari Kakak Pembina, sudah menggunakan tali pengaman dan atribut pengaman lainnya di badan, sudah ada pula pengaman jaring di bawah flying fox, adik kecil itu juga sudah menanyakan ke teman-temannya yang sudah merasakan menaiki flying fox, bagaimana rasanya, takut tidak, apakah bisa melewatinya. Tentu ia mendapatkan jawaban, jangan takut, bisa. Bahkan adik kecil itu juga punya supporter luar biasa yang menyemangati di bawah, ya teman-teman ya keluarga. Apa yang harus ia lakukan? Hanya terjun saja. Sudah. Semua ketakutan bahwa ia tidak siap akan sirna. Demikian halnya dengan menikah. 

Ketika akan menikah, kita sudah cukup umur yang diperbolehkan menikah sesuai agama dan Undang-Undang. Pun kita juga sudah melakukan persiapan pernikahan, persiapan seminar pernikahan, seminar parenting, dan persiapan lainnya untuk bekal. Kita juga sudah minta nasihat dan arahan dari orang-orang yang sudah menikah sebelumnya terutama orang tua yang sudah makan asam garam kehidupan. Panduan kita sudah ada, yakni Al Quran dan Hadits. Selama berpegang teguh, tidak akan kesasar. Kita juga sudah tanya sana sini ke rekan-rekan seumuran yang sudah lebih dulu menikah. Bagaimana rasanya, apa tantangannya, bagaimana menghadapinya. Di belakang kita selalu ada orang-orang terkasih yang mendukung dan memberi semangat akan pernikahan kita berjalan sakinah mawaddah dan rahmah. Ya, yang akan menikah persis anak kecil yang mau terjun flying fox untuk pertama kali. 

Ketika ditanya sudah siap menikah? Mungkin sebagian orang menjawab sudah. Tapi sebenarnya selalu ada kekhawatiran tidak siap. Kalau sudah menikah beneran, sudah terjun, mau tidak mau harus siap? Jadi, bagaimana untuk memperoleh kesiapan menikah?? Jawabnya ya, menikahlah ☺️ Sudah kecebur nikah, pasti akan berusaha untuk siap. Bedanya hanya pada persiapan, ada yang melakukan persiapan jauh hari, ada yang melalukan persiapan on the spot alias pada hari-hari hidup bersama pasangan. 😊

Bagaimana, sudah siap untuk menikah? 

Dilema Cincin Kawin

Saya beli cincin kawin di daerah Melawai, di sana memang banyak toko emas. Kenapa di sana? Simpel saja, karena kakaknya calon saya mau cuci emas miliknya di toko emas daerah Melawai, jadilah sekalian saya beli cincin kawin di sana.

Saya nggak mau neko-neko alias nggak suka ribet juga, bukan tipe yang muter ke sana kemari dan membandingan ini itu, yang ada malah pusing sendiri. Saya cari model yang kiranya menarik hati di toko emas kakaknya calon saya. Rencananya hanya saya yang membeli cincin emas, sedangkan calon suami saya nanti akan membeli cincin perak, karena menurut agama Islam, laki-laki tidak boleh mengenakan sesuatu dari emas.

Lihat cincin-cincin yang terpajang di etalase, saya tertarik dengan 1 cincin dengan bentuk yang simpel. Emas putih, matanya hanya 1, bentuk permatanya belah ketupat. Saya coba masukan ke jari manis sebelah kanan, klop banget ukutannya. Tidak longgar dan tidak terlalu kecil. PAS. Seperti berasa klik dan jodoh  dengan cincin ini, akhirnya saya memutuskan untuk memilih cincin tersebut sebagai cincin kawin saya.

Sebulan kemudian setelah saya menikah, saya hamil anak pertama. Bukan main berat saya bertambah banyak sekali, totalnya bertambah 20 kilo, dari berat awal 48 kilo ke 68 kilo. Makin bertambahnya usia kehamilan semakin banyak pula pertambahan beratnya. Rasanya badan melar, tak terkecuali dengan jari tangan. Saya merasa jari tangan menggelembung besar-besar. Alhasil cincin kawin nggak muat lagi dong, saya copot untuk sementara waktu. 

Berhubung saya tetap ingin pakai cincin kawin ditangan kanan saya, biar gak digodain orang karena gak pake cincin dikira belom kawin (pede ameeet), akhirnya saya minta dibelikan cincin ke suami. Saya cuma minta cincin perak saja karena hanya untuk dipasang di jari manis sementara saya hamil. Ternyata ukuran jari saya menjadi besar banget, kalo nggak salah nomor 9 deh, weeewww..

Dengan hati riang gembira, cincin perak harga 75ribu saja saya pakai di jari manis saya. Suami saya lagi baik banget mau beliin hihi, padahal tadinya bilang nggak usah pakai cincin dulu saja sementara waktu. Tapi karena saya terus merengek (nasiiipp ya pak punya istri teguh pendirian) harus beli, akhirnya beli deeeh. Sampai melahirkan, saya masih pakai cincin tersebut sedangkan cincin kawin saya yang sebenarnya masih disimpan.

Lama-kelamaan jalan 1 bulan sejak saya melahirkan, berat badan saya pun turun drastis. Ini karena saya memang memberikan ASI Eksklusif kepada anak saya. Spontan berat saya turun drastis. Padahal udah kece-kece pas hamil agak berisi, sekarang kembali kerempeng. Tidak terkecuali tangan saya pun menipis kembali. Akibatnya, cincin yang saya pakai di jari manis pun sangat longgar, saya pindahkan ke jari tengah pun sangat longgar. 

Teringat cincin kawin saya yang asli, akhirnya saya keluarkan lagi. Harusnya muat lagi dooong kan udah langsing (baca : kurus) lagi. Saya mengambil cincin kawin saya dan kembali memasangkan pada jari manis. Tapi oh tapiiiii... Ketika saya mencoba memasukannya ke dalam jari manis, baru satu buku jari sudah stuck. NGGAK MUAT DOOOOOOONG!!

Oh men, walaupun berat turun drastis, ternyata jari tangan tidak kembali seperti sebelum menikah. Sedikit melar ya. Kalau kata ibu saya, harusnya saat membeli cincin kawin itu dicoba di jari tengah dulu, dan gak papa kalau sedikit longgar saat pertama kali, karena nanti akan pas dengan sendirinya (dengan kata lain abis nikah bakal gendutan). 

Well done well done, sekarang saya dilema. Pakai cincin kawin beneran gak bisa karena sudah kekecilan, pakai cincin perak ala-ala jaman hamil kegedean. Apakah ini artinya Ama harus dibeliin cincin baru lagi, Apak? *kedip kedip kelilipan ke suami.

Noni Halimi

Wednesday, January 13, 2016

Romantis itu..

Romantis itu..
Bukan yang tiap pagi kasih ucapan selamat pagi lewat message
Tapi yang bangunin kita buat shalat shubuh berjamaah walaupun mesti diciprat-ciprat air

Bukan yang kasih bunga kalo anniversary
Tapi bercengkrama dan mengenang bersama cerita tepat setahun yang lalu

Bukan yang kasih ucapan selamat ulang tahun tepat jam 12 malam dan surprise bawa kue
Tapi yang kasih kecupan sayang waktu yang ulang tahun terlelap tidur

Bukan yang berteduh di bawah jembatan karena kehujanan naik motor berduaan
Tapi ketika ia memberikan seluruh jas hujan kepada istrinya agar tidak kehujanan, tapi istrinya menolak dan memberikan sebagian kepada suaminya. Akhirnya mereka pakai jas hujan hanya setengah, co cwiiit (basah kuyup)

Bukan yang pegangan tangan kalau lagi jalan dan bilang i love the way you hold my hand
Tapi yang selalu menginginkan menarik tangan kita kelak di surga-Nya bersama-sama

Bukan juga yang selalu update foto bareng berdua
Tapi yang update foto bareng istri dan anaknya

Bukan yang dinner di tempat mahal plus lilin remang-remang
Tapi yang makan masakan istrinya dengan lahap tanpa sisa, bahkan nambah

Bukan yang selalu bilang pengen nikahin kita tapi ga ada action
Tapi yang datengin wali kita dan bilang face to face ingin meminang kita

Bukan yang panggil memanggil dengan sebutan Ayah-Bunda, Papa-Mama padahal belum menikah. Tapi yang tiap anaknya nangis selalu bilang 'Maaa..anaknya nangis mau nyusu'. Karena mereka sudah menjadi orang tua beneran

Bukan juga yang ngucapin 'Selamat tidur' tiap malem di HP.
Tapi yang ngucapin selamat tidur secara langsung, mengelus kepala kita sampai tertidur

Bukan yang tiap weekend ngajakin jalan atau malem mingguan ke luar.
Tapi yang rela angkut angkut barang disuruh ini itu sama istrinya karena weekend adalah waktunya beberes rumah

Romantis itu...
Bukan yang bilang i love you tiap hari,
Tapi ketika istrinya ngomel dan dia masih bisa bilang Koishiteru (Deepest way to say I Love You in Japanesse)

Bukan yang tiap minggu ada jadwal nonton bioskop berdua,
Tapi yang nonton film di kamar berdua sama istrinya plus makan cemilan sampe rebutan

Bukan yang selalu beliin ini itu untuk kita, 
Tapi ketika ia memperbolehkan istrinya membeli barang yang sangat istrinya inginkan

Bukan yang liburan bareng ke sana kemari dengan status pacar,
Tapi ketika berpetualang berdua dengan judul destinasi honeymoon

Bukan yang rela nungguin cewe nyalon sedang ia menunggu di luar,
Tapu ketika ia dengan setengah ngantuk tetap memijat istrinya yang sedang hamil besar

Romantis itu bukan yang nge-gombalin kita dengan bilang 'Calon Ibu dari anak-anakku'
Tapi ketika ia dengan sabar menunggu dan menyaksikan proses persalinan istrinya

Bukan yang tiap malem skype demi bisa ngobrol face to face sama pacar,
Tapi yang mengisi waktu malamnya dengan mengobrol berdua istrinya , berbagai tema dari sabang sampai marauke

Romantis itu...
Ketika ia punya segudang cara untuk membuat kita tertawa bahagia

Ketika ia rela berkeringat tidur dengan AC yang tidak dingin karena takut bayinya kedinginan

Ketika ia sukarela berbagi kasurnya untuk anaknya tidur

Ketika ia bercanda dan bermain dengan anaknya

Ketika ia menyerahkan makanan kesukaannya supaya dimakan istrinya

Ketika ia bela-belain beli kelapa hijau setiap hari dengan jalan pulang yang lebih jauh

Ketika ia mau bawain tas bayi segede gambreng di saat istrinya gendong anak

Ketika ia gendong buah hati kita semalam suntuk supaya gak nangis

Ketika ia membiarkan istrinya beristirahat setelah kelelahan begadang sedang ia yang mengambil alih tugas

Ketika ia mau menceboki anaknya

Ketika mau mencuci dan membilas popok anaknya

Ketika ia dengan segudang leluconnya menghibur istrinya yang sedang ngomel

Ketika istri mencium tangan suami saat ia berangkat kerja dan suami mencium kening istrinya, dan mengucap selamat mencari rezeki yang halal, hati-hati di jalan

Romantis itu..
Ketika kita bisa menikah dengan sabahat terbaik kita, karena menikah adalah hidup bersama dengan sahabat terbaik.

Romantis itu.. 
Ketika semua yang dilakukan berdua menjadi Halal
Romantis itu..
Kamu, Apak :)

Bedong oh Bedong

Shin Umar Abqary, bocah belum genap 1 bulan usianya senantiasa menggunakan bedong. Kata dokter bedong ga bagus, mengganggu pertumbuhan bayi, tapi kata orang jaman dulu, bayi baru lahir itu justru harus dibedong. Soalnya bedong itu membuat tubun bayi lurus (entah penelitian dari mana). Kalau kata ibu saya, bayi butuh dibedong supaya lebih hangat, dan ia selalu merasa dipeluk.

Okelah saya nurut apa kata Ibu saya, akhirnya saya membedong Umar. Awal-awal bedong sakit buat ketat, tapi lambat laun kok kasian ya ngeliatnya nggak bisa bergerak, maka belakangan saya membedong dengan agak longgar, memberi kesempatan untuk Umar bergerak dan berkreasi. 

Anak bayi dikasih kesempatan udah kayak dikasih lampu ijo gitu sama emaknya. Begitu dirasa bedong agak longgar, mulailah badannya bergerak ke sana kemari, supaya lilitan bedong lebih longgar lagi. Saya memperhatikan saja aksonya dan membiarkan. Kemudian tangannya mulai ditekuk dan menyembul keluar. Mula-mula tangan yang kiri, lalu disusul tangan yang kanan. Kepalanya bergerak ke sana kemari hingga tidak pada posisi yang sama.

Hingga suatu hari pernah saya tinggal mandi sebentar dengan kondisi bedong longgar, maka inilah hasilnya..

Kamu nggak suka bedong ya nakk...




Kado (Sok) Misterius 25 Maret 2013

Dua tahun yang lalu saat saya masih ditempatkan di Cabang Utama dengan penuh lika liku nasabah yang seabrek dan permasalahan percintaan (halaah), ada momen yang tidak saya lupakan. Iya, hari itu tanggal 25 Maret 2013 merupakan hari kelahiran saya yang ke 25 tahun. Ucapan dari rekan-rekan kantor sudah banjir, dimulai dari Morning Briefing di kantor, rekan saya bukannya menyampaikan hal-hal terkait kerjaan yang akan di share malah pengumuman kalo hari itu saya ulang tahun. Tak lupa ledekan-ledekan kapan nikah kapan nikah. Ditambah lagi supervisor processing yang sangat cetar yakni Pak Yudi menyanyikan lagu ulang tahun di banking hall saat jam layanan. Men, untung lagi ga ada nasabah.

Di saat sedang rame-ramenya nasabah kayak keran ngucur ga berenti-berenti, satpam saya tiba2 bilang kalau ada kiriman barang untuk saya. Segera saya terima dan melanjutkan rutinitas melayani nasabah. Saat jam istirahat, rekan kerja saya Bebeb Iing menanyakan kiriman apa tadi? Saya pun bingung, karena setahu saya kemarin-kemarin saya ga pesan atau belanja online. Penasaran apa isinya, maka kami buka. Ternyata sebuah jaket.

Kami berdua bingung, Bebeb Iing malah cengar cengir ngeledekin katanya dari fans gelap. Saya malah bingung, pacar gak ada, siapa yang kirim. Adanya mantan. Haha. Saya lihat pengirimnya ternyata dikirim langsung dari online shop, jadi gak bisa lacak juga yang mesen siapa, mana nomer yang tertera di resi gak aktif (beneran nyari tau). Bukan apa-apa, saya butuh mengucapkan terima kasih atas kiriman barangnya, bukankah itu sudah kewajiban seseorang jika diberi sesuatu?

Jalan satu-satunya untuk tahu siapa yang kirim adalah dengan nanya langsung ke mantan-mantan saya. Untung mantan saya cuma 2, kalo ada banyak capek juga nanyain. Kebetulan hubungan saya dan mantan saya pasca pisah masih baik, masih komunikasi dengan baik-baik, dan bagi saya tidak masalah untuk menanyakannya. 

Saya tanya ke mantan saya yang kedua, ngerasa kirim barang gak ke kantor? katanya 'nggak ada kirim barang kok, dapet kiriman dapet fans kali dek :D' oke, bukan doi yang kirim. Kalau begitu saya tanya ke mantan saya yang pertama yakni teman dekat saya dari SMA. Katanya 'aku nggak kirim barang kok' Lhaa gantian saya makin bingung, padahal kirain yang ngirim salah satu dari mereka. Akhirnya saya cuma bisa mengucapkan terima kasih ke Bebeb Iing atas kiriman kado yang saya terima. Lhooo kok ke Bebeb Iing. Iya habis saya bingung mau terima kasih kemana.

Akhirnya itu jaket sempat saya pake waktu ke Singapura bareng travelmate saya Ampi dan Febi. Jaketnya lucu kayak bocah, warna pink muda favorit saya dan bermotif panda. Saya sempat mengabadikan fotonya. 

Dua tahun kemudian..

Ceritanya di fast forward, soalnya kalo dijabarin per hari yang ada bisa 3 kali Lebaran baru kelar bacanya.

Saya menikah dengan mantan saya yang pertama yang tidak lain adalah sahabat SMA serta satu Almamater kampus. Waktu di rumah ia melihat jaket pink itu seraya berkata 'masih ada aja jaketnya' Saya bingung, kok dia tahu jaket ini. Padahal waktu nanya dahulu kala saya nggak bilang bentuk barangnya seperti apa. Ternyata saya baru tahu, yang mengirimkan kado jaket itu adalah dia yang sekarang menjadi suami saya. Protes saya bilang kenapa dulu bohong bilangnya bukan dia yang kirim. Sambil cengengesan dia bilang 'emang bukan aku yang kirim, kan abang-abang online shop yang kirim, aku cuma pesen' zzzzzz ngeles mulu apaknya Umar. 

Dan kado sok misterius itu baru terpecahkan dua tahun kemudian bahkan setelah kami menikah. Ruuaar biasah. 

Noni Halimi

Tuesday, January 12, 2016

Referensi Lagu Pernikahan (Wedding Song)

Postingan ini dipersembahkan oleh rasa kangen sama lagu-lagu yang diputer waktu kawinan dulu hehehehe.

Salah satu wedding preparation yang masuk check list adalah mempersiapkan lagu pernikahan atau wedding song. Untuk lagu pernikahan saya tidak pakai organ tunggal dengan penyanyi, jadi saya menggunakan pemain biola yang memainkan musik instrumental saja. Ia membawakan beberapa lagu yang saya ajukan tentunya yang sudah familiar, beberapa diantaranya ada di bawah ini.

Di bawah ini juga saya share lagu yang diputar saat menunggu proses akad nikah saat pagi persiapan, serta jeda setelah akad nikah ke resepsi. Tentunya di dalam gedung masih banyak tamu dan keluarga baik yang sedang santap sarapan maupun yang menunggu dimulainya resepsi. Nah saatnya memutar lagu-lagu kesukaan saya dan suami. Inilah lagu-lagu yang kami suka karena musiknya bagus  yang nyanyi keren, liriknya oke, atau memiliki kenangan tersendiri untuk kami *uhuk.

Pesan dari saya, buat list lagu secukupnya, karena kamu nggak akan mungkin memutar seluruh list lagu kesukaan kamu di saat jeda akad-resepsi, bahkan pada saat resepsi hanya dimainlan beberapa lagu saja, karena terpotong oleh MC yang berbicara. Masukan list lagu tersebut dalam 1 file agar mudah dalam pengoperasiannya pada hari H oleh PIC Soundsystem.

Lagu dengan Vokal
1. The Secret of Color and Kiroy Y
2. Letto - Ruang Rindu
3. Rossa - Ayat Ayat Cinta
4. Potret - Bunda
5. Chrisye - Untukmu
6. Yovie n Nuno - Janji Suci
7. Maher Zain - Barakallah
8. Bunga Citra Lestari - Cinta Sejati
9. Ada Band - Yang Terbaik Bagimu
10. Mocca - Hanya Satu
11. Connie Talbot - Let it Be
12. John Legend cover by Luciana Zogbi - All of Me
13. Lenka - The Show (New Version)

Lagu Instrumental
1. Vivaldi Winter (Piano Guys) - Let it Go
2. The Piano Guys - Love Story
3. The Piano Guys - A Thousand Years
4. The Piano Guys - Because of You
5. The Piano Guys - Pachebells Canon in D
6. Ashita Hareru Kana (Piano and String Version, OST Proposal Daisakusen)
7. Kibou (OST Proposal Daisakusen Main Theme)
8. Yiruma - Kiss The Rain
9. Depapepe - One
10. Depapepe - Dream

Musik yang dibawakan dengan biola saat Resepsi
1. A Thousand Years
2. Let it Go
3. Bunda
4. Untukmu
5. Cinta Sejati
6. Yang Terbaik Bagimu
7. All of Me

Semoga menginspirasi,
Salam,
Noni Halimi

My Life After Having a Baby

'Gimana rasanya mbak habis melahirkan terus punya anak, ada yang berubah nggak? Lebih keibuan ya?'

Pertanyaan itu dilontarkan salah satu rekan kerja saya di kantor ketika menjenguk 2 hari pasca saya melahirkan. Saya bingung jawabnya, rasanya belum ada yang berubah pasca saya melahirkan kecuali hadirnya bocah mungil yang kini tidur bertiga bersama saya. Dulu mungkin saya bingung jawabnya, tapi sekarang rasanya so much has changed.

My life after having a baby. Yang jelas bertambahnya status saya dari seorang istri, bertambah menjadi seorang Ibu. Bertambah pula amanah yang saya emban dari Allah untuk semua ini. Rasa keibuan sudah pasti timbul dengan sendirinya ketika lahir seorang bayi, menurut saya itu alami dan sudah menjadi insting Ibu yang baik untuk merawat dan menjaga anaknya. 

Seperti sudah saya paparkan di muka, ketika sudah memiliki buah hati, maka saya harus rela berbagi tempat tidur. Jika sebelumnya bisa seenaknya saja berdua, sekarang kami lebih hati-hati bergerak karena si kecil tidur di kasur yang sama. Yang biasanya tidur pecicilan, malem tidur di pojok, pagi bangun sudah di pinggir, bed cover ke sana kemari-- kini tidur kami kalem macem snow white gitu lah.

My life after having a baby,
Saya jadi sering ngomong sendiri, enggak sendiri banget sih, ngobrol bareng si bayi, tapi kan dia belom bisa respon balik tuh. Gapapa lah, Umar pasti ngerti emaknya ngomong apa. Katanya kalau sering ajak ngobrol anaknya bounding yang tercipta antara Ibu dan anak juga kuat. 

Menjaga makanan dan segala asupan yang saya makan. Kalau ini tidak jauh berbeda sih dengan masa hamil dahulu. Hanya saja kali ini lebih berhati-hati. Jika dulu masih suka 'bandel' makan ini itu, kalau sekarang selektif karena apa yang kita makan dalam tempo singkat akan berpengaruh kepada si kecil karena ia minum ASI. 

Jika dulu saya lebih banyak waktu santai untuk browsing, melakukan hal-hal dari yang penting sampai gak penting di waktu senggang, kini hari-hari saya dihabiskan untuk menyusui, memandikan anak, menggendong, menidurkan dan bermain bersama anak. Dulu masih bisa Pakai baju macam-macam biar kece, sekarang kalau bisa pakai baju yang simpel dan gak ribet untuk menyusui. 

Dulu saya sering baca buku atau artikel random yang saya suka, setelah memiliki bayi, maka bacaan saya beralih ke segmen parenting, baby, dan kawan-kawannya. Mulai dari cara mengurus bayi, kesehatan bayi, informasi pertumbuhan bayi, imunisasi dan lain sebagainya. Menjadi Ibu baru sangat minim pengetahuan membuat saya harus belajar banyak dari berbagai sumber baik artikel browsing maupun pengalaman dari orang tua, teman teman serta kerabat dekat yang sudah memiliki anak.

Jika dulu weekend masih bisa jalan ke sana kemari, nonton bioskop, maka saat sudah punya bayi hilang semua dari list kegiatan sehari-hari. Untuk bulan-bulan pertama weekend dihabiskan di rumah untuk mengurus bayi dan bermain di rumah. Tidak mungkin saya meninggalkan bayi di rumah sedang saya malah jalan-jalan ke luar. Mungkin nanti ya nak kalau sudah besar dikit kita jalan bareng ;)

My life after having a baby,
Kalau dulu isi HP saya dan suami adalah kebanyakan foto-foto kami berdua, biasa selfie. Sekarang isi HP kami adalah penuh foto si kecil dengan berbagai pose dari hari ke hari, rasanya nggak mau ketinggalan satu momen pun dalam hidupnya yang tidak terekam kamera.

Hobi lain saya yang hilang adalah berburu tiket murah untuk bepergian. Iya, semenjak hamil dan kini sudah punya bayi, saya tidak pernah lagi browsing cari tiket murah bepergian. Mungkin nanti kalau dirasa cukup usianya kami bisa bepergian bertiga. Membawa bayi usia sangat kecil bepergian memang tidak ada salahnya sih, tapi rempongnya itu lhoooo.. Menginap satu dua hari saja perlengkapannya berasa pindah rumah cyiin, belom bawa stroller. Kalau bisa bak mandi di bawa juga dibawa deeh.

Bener kata orang-orang, kalau emak-emak biasanya bawel, doyan ngomel. Ah masa sih? Itu yang saya rasakan pada akhirnya. Naluri emak-emak sudah mengudara, bawaannya mau ngomel kalau ada yang berantakan. Kalau dulu suami naro barang sembarangan masih suka saya bereskan tanpa komen, kalau sekarang ngoceh dulu baru beresin. Yaaa.. ocehan khas emak-emak. 

My life after having a baby, semua serba cepat, serba butuh efisien dan tidak membuang waktu. Saya belajar banyak manajemen waktu ketika sudah memiliki anak. Iya, bagaimana memanage waktu untuk keperluan kita pribadi dengan mengurus anak. Misal pagi hari sehabis memandikan anak serta menyusui, kita baru bisa mandi saat ia sudah terlelap. Ketika malam hari ia tidur, sebiss mungkin kita juga ikut tidur walaupun masih pukul 8 malam. Karena ketika malam hari ia bangun, kita juga harus bangun untuk menyusui.

Jika dulu saya senang belanja online barang-barang kebutuhan saya pribadi, maka sekarang saya lebih senang mencari kebutuhan bayi. Demikian juga jika belanja ke suatu tempat, maka tempat yang saya datangi dan excited untuk ubek-ubek tumpukan barang dagangan adalah baju-baju dan perlengkapan bayi. Rasanya gemes banget melihat baju ukuran mini, sepatu mini, dan membayangkan betapa lucunya jika dipakaikan ke anak, walaupun saat itu bajunya masih terlalu besar dan belum muat. Yang penting beli dulu ehehe.

Jika dulu ketika selesai shalat dan berdoa biasa hanya mendoakan suami, keluarga, rekan-rekan, muslimin dan muslimat, maka ketika sudah punya anak, maka doa untuk anak menjadi skala prioritas. Apa pun didoakan demi yang terbaik untuknya. Rasanya tidak habis-habis untuk berharap segala sesuatu kebaikan untuk si kecil. 

My life after having a baby, i do love my parents much better than before. Rasanya sedih campur bangga. Sedih belum bisa berbuat banyak untuk orang tua, bangga karena dibesarkan oleh mereka. Karena ketika kita memiliki anak, kita mengetahui bagaimana rasanya menjadi orang tua, bagaimana rasanya mengurus anak, sehingga akan timbul perasaan sayang yang lain dari biasanya kepada orang tua kita.

My life after having a baby, 

Now i know how does it feel to be a mother for the first time. I'm sorry if i haven't being a perfect Mama for you, but trust me, i'll try my best to raising you up baby, my little prince charming, Shin Umar Abqary.

*tetiba melooow
*lap ingus
*cari waslap Umar

Sekian dan terima kasih cinta
Noni Halimi