Thursday, October 8, 2015

Japan Trip : Kaminarimon Gate - Nakamise Shopping Street (31 Oct 2014)

Nakamise Shopping Street
Sebelum menuju Sensoji Temple, kamu akan melewati Kaminarimon Gate dan Nakamise Shopping Street. Tempat tersebut ramai dengan pengunjung yang akan ke Sensoji Temple. Untuk menuju tempat tersebut, saya berjalan dari Khaosan Guest House ke arah Asakusa. Tidak sulit menemukan Asakusa karena sedari pagi sudah ramai oleh turis dan pengunjung. Terlihat pintu masuk dengan lampion besar berwarna merah, khas Asakusa. Banyak yang mengambil foto di area tersebut. Di dalamnya terdapat jalan yang penuh dengan barang dagangan yakni Nakamise Shopping Street.

Nakamise Shopping Street adalah jalan yang berisi banyak toko yang menjual berbagai barang. Di sisi kanan dan kiri jalan terdapat ruko-ruko yang menjual berbagai macam dagangan seperti souvenir berupa gantungan kunci, tempelan kulkas, kipas, kaos bertuliskan jepang, sandal khas jepang, yukata, kimono, payung bahkan kue-kue camilan serta jajanan khas Jepang. Harga yang ditawarkan bermacam-macam, mulai dari 100 JPY sampai dengan yang mahal sekali pun. 

Contoh dompet
Cemilan
Banyak kue yang dijual
Bisa langsung lihat cara membuatnya
Tempelan kulkas



Untuk harga gantungan kunci berkisar 300 JPY, kipas bisa mencapai 1000 JPY, payung bening besar seharga 300-500 JPY, sandal khas jepang yang mencapai 2000 JPY, kaos souvenir Jepang berkisar 2000 JPY. Sedangkan untuk makanan dan camilan yang dijual beraneka ragam berkisar 100 JPY - 500 JPY. Untuk makanan saya tidak mencoba maupun membeli karena masih khawatir tidak halal. Jika kamu mau membeli makanan maupun cemilan, bisa saja kamu menanyakan kepada penjualnya, apa bahan dari kue tersebut. Pastika memang tidak ada bahan bahan yang haram seperti babi, rum dan sebagainya. Kalau sudah aman, bismillah saja, semoga bener heheehehe. Kalau ingin membeli souvenir, Nakamise Street bisa dijadikan referensi untuk membeli, namun harga yang ditawarkan standar, tidak terlalu murah seperti Daiso. Adapun pengunjung Nakamise Shopping Street, berasal dari turis luar, turis lokal maupun anak-anak sekolah yang berseragam. Entah sepertinya mereka sedang study tour ke Sensoji Temple *sotoy

Suasana lorong Nakamise Shopping Street
Pose dulu
Banyak anak sekolah yang berkeliaran juga
Sisi dalam Nakamise Street

Mulai hujan
Sekitar Nakamise Street terdapat banyak lorong dengan tampilan khas Jepang. Lorong yang kecil dan padat bangunan namun penuh tulisan dan gaya bangunan Jepang. Seperti di film dorama Jepang dengan adegan orang yang sedang mabuk karena sake melewati lorong-lorong jalan yang agak sempit dan khas Jepang. Tidak ingin kehilangan momen, saya pun berpose mengabadikan area tersebut. Cihuuuy

Salam,
Noni Halimi

Tuesday, October 6, 2015

Japan Trip : Tokyo Sky Tree (31 Oct 2014)

 
 
Untuk menuju ke Tokyo Sky Tree saya berjalan kaki dari Sensoji Temple ke arah utara. Awalnya kami berpikir jaraknya cukup dekat, karena memang bangunan Tokyo Sky Tree terlihat jelas di dekat Sensoji Temple. Saya juga memperhatikan peta, jaraknya tidak begitu jauh (tapi lupa liat skalanya hahahaha, sama aja boong). Akhirnya saya, adik saya dan travelmate saya memutuskan untuk berjalan kaki menyusuri jalan menuju Tokyo Sky Tree. Ternyata oh ternyata jalan untuk menuju ke Tokyo Sky Tree harus memutar, karena jalan yang seharusnya kami lewati di dekat jembatan besar Tokyo Sky Tree sedang ada konstruksi alias renovasi sehingga pedestrian walk dialihkan memutar. 
 



Di tengah perjalanan kami, tepatnya di samping sungai yang cukup luas, kami melihat segerombolan siswi ABG Jepang sedang berfoto sambil loncat. Kami memperhatikan dari jauh, kemudian kami menawarkan diri untuk memfotokan mereka supaya semua personil lengkap difoto. Mereka pun dengan senang hati bersedia. Lumayan, abis ini kita minta foto bareng *laaah. Pasang pose dan klik! Adik saya berhasil mengambil gambar mereka sedang terbang di udara, dan sepertinya mereka puas akan hasilnya sambil berkata “Sugoooooiiii” Dan saya pun refleks inget dorama-dorama Jepang. Habis itu? Sudah bisa ditebak, kami gantian, minta foto bareng ahhahaha. Se...no! Klik. 



 
 Setelah foto-foto centil dengan ABG-ABG Jepang, kami ngaso di pinggir sungai tersebut. Tempat tersebut sepertinya dijadikan tempat nongkrong. Walau demikian kondisinya bersih dan terawat. Bahkan di tempat-tempat duduk pinggir sungai dibangun model tingkat, sehingga kami bisa duduk-duduk di atas dan memandangi pemandangan dari atas sambil nyabutin daun-daun maple di pohon. Hehehe. Sayang sekali daerah sana kondisi pohon maple-nya belum seluruhnya orange, hanya beberapa daun yang gugur. Febi dan Saya sempat mengambil foto daun gugur sambil sedih, huhuhu.. Semoga di perjalanan ke Gunung Fuji kami menemukan spot pohon maple yang berwarna orange hangat itu. Semogaaaa..
 
. 
 
 



 
Perjalanan super panjang kami lewati, mau naik subway tapi tidak ada stasiun terdekat. Kalau dirasa lelah maka kami beristirahat sebentar ala musafir kehausan. Tapi serius, emang jauh banget! Hingga akhirnya setelah hampir satu jam kami berjalan kaki plus ngaso-ngaso foto-foto cantik dan ganteng, kami sampai di bawah kaki Tokyo Sky Tree. Saking cuapenya betis udah somplak, kami lupa mengabadikan dalam bentuk foto. Arrrghhhh! Sila dicicipi hasil foto dari google di bawah ini, dari pada ga ada kaaaaan *nasiip



 
Salam,
Noni Halimi

Japan Trip : Shinjuku Station (31 Oct 2014)

Malam itu kami berencana untuk bertemu dengan teman dari temannya Febi, namanya Aimi. Jauh nasabnya? Iya benar. Febi pun tidak kenal dengan Aimi. Ia hanya dititipi sesuatu oleh temannya untuk diberikan kepada Aimi. Maka kami pun mengatur jadwal untuk bertemu dan berkomunikasi melalui Line. Sungguh line membuat kami jadi dekat haha. Kami berencana bertemu di Shinjuku Terminal, sebelumnya kami juga bercerita ingin sekalian ke sana untuk membeli tiket bus esok hari untuk ke Kawaguchiko Mount Fuji melihat indahnya gunung Fuji di musim gugur. Kami tidak tahu dimana kounter tiketnya, kami hanya mengetahui tiket tersebut bisa dipesan di Shinjuku Terminal. Alhasil kami menentukan meeting point di sana.

Saat hari sudah gelap, ternyata jalanan Jepang makin berasa lebar dan penuh manusia. Super penuh manusia lalu lalang di sana, puyeng juga nyari kounter tiketnya. Kami memang muter-muter di Terminal Shinjuku. Namanya juga terminal, sudah pasti ramai. Tapi jangan dibayangkan dengan terminal bus Blok M yaa, sungguh jauh banget bedanya. Terminal Shinjuku sangat modern dan lebih mirip salah satu pusat perbelanjaan. Akses menuju ke sini pun mudah, bisa juga ditempuh dengan Subway. Sebelum kami mencari kounter tiket, kami masuk ke salah satu pusat perbelanjaan elektronik di Shinjuku. Di sana memang banyak menjual barang elektronik terutama gadget dan kamera. Tidak sengaja kami membaca Free Wifi for Two Weeks. Wooooww.. Kami memang tidak membeli paket internet di Jepang dikarenakan mahal harganya, maka kami hanya mengandalkan Wifo gratis yang ada di hostel maupin tempat-tempat umum. Karena tidak sulit kok menemukan Wifii gratis di Jepang :D 
 
Sekitar Terminal Shinjuku
Free Wi-Fi
Langsung dapat username dan password
Tanpa membuang waktu, kami bergegas menanyakan kepada petugas bagaimana cara mendaftar Wifi gratis. Kami dibantu untuk registrasi hanya dengan menunjukan paspor kami, maka dapatlah username dan password Wifi. Alhamdulillaahhh...Akhirnya bisa konek internet dan Febi bisa menghubungi Aimi untuk lokasi detail pertemuan. Shinjuku Terminal cukup luas, terlebih kami belum pernah bertemu Aimi sebelumnya. Kami menunggu kedatangan Aimi di depan salah satu cafe dengan berharap ia bisa menemukan kami. Setelah hampir satu jam menunggu, datanglah seorang wanita dengan postur tinggi langsing dengan coat berwarna cokelat menghampiri kami, dan kami pun menyadari mungkin itu Aimi dan langsung berhambur ke arahnya. Akhirnyaaaaaa....

Aimi adalah teman dari temannya Febi, ia bekerja di salah satu Museum di Jepang. Hari itu ia memang habis bekerja dan pulang agak telat karena itu agak terlambat untuk datang menemui kami. Dengan menyesal dan minta maaf berkali-kali ia ucapkan kepada kami. Padahal kami juga tidak masalah kalau menunggu lama, karena kami yang akan merepotkannya untuk mengantar ke kounter pembelian tiket bus Shinjuku.

Febi memberikan titipan dari rekannya kepada Aimi, kemudian Aimi mengantarkan kami ke lokasi kounter pembelian tiket bus ke Kawaguchiko. Ia juga memberitahu bahwa besok pagi kami akan berangkat persis dari depan kounter tersebut. Bus akan lewat di depan kounter dan mengambil penumpang, kami hanya perlu memperhatikan jadwal keberangkatan dan jenis bus di papan informasi elektronik di depan kounter. Kami mengangguk-angguk mengerti. Tidak lama kemudian, Aimi mengeluarkan 3 tiket bus dengan tujuan Kawaguchiko untuk esok pagi dan memberikan kepada kami. Ia berkata 'Here's for you, the bus will take at this station early morning, make sure about the time on this tickets, it will be better if you come 15-30 minutes before the bus leaving.' Kami terperangah tiba-tiba sudah ada tiketnya, padahal baru mau beli. Kami menyakan berapa harga tiketnya, dengan bersikeras tanpa basa basi ia tidak mau diganti uangnya untuk pembelian tiket kami. Luar biasaaa baik beneerrr si Aimi. 


Ini dia yang namanya Aimi :D
Ia juga mengantarkan kami ke stasiun terdekat untuk menuju Asakusa Station tempat kami menginap. Ia sampai menunggu kereta kami datang. Sesaat sebelum kami menaiki kereta, kami melambai tangan kepada Aimi, dan sedetik kemudian ia kaget dan berlari ke arah pintu masuk untuk menyerahkan bungkusan yang ia bawa. Katanya, itu untuk kami bertiga, kenang-kenangan dari Aimi. Aaarghhhh.. udah kawaii super baik pulaa..Kereta bergerak menjauhi stasiun, namun ia masih melambai sambil tersenyum. Ibarat di dorama-dorama yaa hahaaha. Pesan kami sata itu, kami tunggu Aimi di Jakarta, kalau main ke Jakarta pasti akan kami temani dan antar. Semoga kebaikan Aimi berbalas kebaikan yang lain yaa, Domo arigatou gozaimasu Aimi :)
 
Salam, 
Noni Halimi

Japan Trip : Wisata Gunung Fuji (01 Nov 2014)

Pagi itu kami bangun lebih pagi guna mempersiapkan perjalanan ke Gunung Fuji. Kami memang menantikan untuk melihat gunung dengan salju abadi yakni Gunung Fuji yang merupakan ikon negara Jepang. Jarak dari Tokyo ke Gunung Fuji sekitar 150 km. Untuk bisa menuju ke kawasan Gunung Fuji, kami harus membeli tiket bus yang berada di Shinjuku Highway Bus Terminal. Alhamdulillah kami sudah memiliki tiket berangkat bus Keio ke Fuji Kawaguchiko dengan jam keberangkatan pukul 08.10 pagi. Harga tiket bus ini sebesar 1750 JPY atau senilai 194.250 IDR. Bus Keio berangkat setidaknya satu sampai dua bus setiap jam. Pagi yang mendung dan super dingin tersebut tidak menghalangi kami untuk segera menuju Shinjuku Station dari Asakusa tempat kami menginap.

Sampai di Shinjuku Station kami menunggu di depan perhentian bus, sambil tanya sana sini, kira-kira bus kami yang mana. Di sana banyak sekali bus sehingga kami tidak ingin salah naik bahkan tertinggal bus. The power of nanya orang sangat berperan penting, terutama nanya petugas supaya lebih yakin. Jepang memang tetap waktu, pukul 08.10 bus sudah datang, namun ada dua bus datang saling berjajar depan belakang, kami bertanya dulu kepada petugas bus mana yang harus kami naiki dengan menunjukkan tiket yang telah kami beli. Setelah mengetahui bus mana yang harus kami naiki, maka kami segera naik dan mencari temapt duduk sesuai dengan yang terdaftar di tiket milik kami bertiga. 


 
Perjalanan dari Shinjuku ke Fuji Kawaguchiko memakan waktu setidaknya 2 jam dengan melewati jalan tol bebas hambatan kemudian menuju jalan yang berbukit serta berliku ala puncak. Pemberhentian bus yang pertama adalah di Fujisan Station kemudian dilanjutkan Fujikyu Highland yang terdapat banyak taman bermain, terakhir berhenti di Kawaguchiko Station. Kami turun di stasiun terakhir yakni Kawaguchiko station. Saat turun dari bus, udara semakin dingin dan berkabut, suhu udara sekitar 7 derajat Celcius. Dingin abiiiiis dan berangin, saya sampai menggigil :(

 
 
 
Tiba di Stasiun Kawaguchiko terdapat shuttle bus sight seeing yang mengantar kita naik ke sekitar gunung Fuji. Ada dua rute yang bisa kita pilih dan rute tersebut melewati tempat yang berbeda-beda. Gunung Fuji memiliki beberapa tingkat (stage) dan merupakan titik-titik pemberhentian sebelum mencapai puncak. Tempat tertinggi yang bisa dicapai dengan mobil atau bus adalah stage 5. Kalau kita mau melanjutkan lagi sampai puncak maka kita dapat berjalan kaki. Waktu yang dibutuhkan dari stasiun Kawaguchiko sampai atas stage 5 adalah 30 menit.


Jalan menuju gunung Fuji sangat indah, menyusuri hutan dan banyak tempat pemberhentian yang unik. Banyak juga tersebar penginapan-penginapan bagi turis yang ingin bermalam di Fuji, namun jangan tanya harganya, kemungkinan sih mahal yaaa. Gunung Fuji terkenal pemalu, tidak seperti yang sering kita lihat di google. Di sana Gunung Fuji bisa terlihat jelas dengan salju tebal di atas permukaannya. Yang sering ditemui adalah Gunung Fuji jarang sekali menampakkan diri terutama di cuaca yang tidak bagus seperti mendung dan banyak kabut sehingga menutupi Gunung Fuji. Pemandangan gunung Fuji akan terlihat jelas jika cuaca cerah. Saat saya pergi ke sana, kondisi musim gugur, langit mendung dan super dingin, gunung Fuji hanya terlihat bagian atasnya saja :(

Di sekitar gunung Fuji terdapat 5 danau yang tersebar di berbagai area. Danau yang paling favorit adalah Danau Kawaguchi. Danaunya besar dan luas, seperti telaga Sarangan, hehehe. Dari depan danau Kawaguchi akan terlihat persis bagian badan Gunung Fuji hingga puncaknya. Ini kalau cuacanya cerah yaa.

Selama berkeliling dengan shuttle bus, kamu akan banyak menemukan momiji spot. Apa itu momiji spot? Momiji (daun maple) spot sangat diincar oleh turis yang datang ke Gunung Fuji pada musim gugur. Lokasi ini adalah tempat berkumpulnya banyak pohon maple. Pada musim gugur, daun-daun pohon maple ini akan memunculkan warna warna cantik mulai dari kuning, orange, hingga merah. Tidak hanya momiji, tetapi juga ada Cherry Spot atau Sakura Spot. Nah kalau yang ini akan diincar oleh turis pada musim semi karena banyak pohon sakura di area tersebut. Berhubung kami ke sana musim gugur, dan selama di Tokyo tidak menemukan pohon momiji yang banyak, maka saatnya berburu momiji. Di luar sudah gerimis, namun kami tetap semangat mencari momiji. Alhamdulillah kami bisa dapat momiji spot. 

Momiji









 
Jangan khawatir kehabisan hiburan, sepanjang perjalanan ke Gunung Fuji banyak tempat wisata, salah satunya Kachi Kachi Rope atau kereta gantung yang melintasi area tersebut sehingga bisa melihat view gunung Fuji lebih jelas dari ketinggian. Ada juga Kubota Itchiku Museum, yakni sebuah museum unik yang menampilkan kimono, juga ada Kawaguchiko Museum of Art, dan Kawaguchiko Music Forest. Satu yang tidak kalah menarik adalah Kawaguchiko Wedding Museum yakni museum yang menampilkan tentang pernikahan dan ornamen wedding, Whuaah seru khaan! Apalagi saat itu saya sedang persiapan hari H, makin excited melihatnya. Ada lagi spot yang lucu di sekitar danau, saya menemukan batu besar yang bertuliskan tulisan Jepang dan gambar not balok. Sepertinya batu tugu tersebut dibuat untuk penghormatan kepada seseorang yang berjasa di bidang musik di Jepang. Ketika saya mendekat dan menyentuh batu tersebut, dari dalam batu tersebut keluar bunyi dentingan piano lembut seperti music box, entah lagu apa. Kereeen :D
 
 


Saya baru menemukan hal unik mengenai vending machine di Gunung Fuji ini. Jepang memang tersebar banyak sekali vending machine di berbagai tempat untuk membeli apa pun, apalagi hanya vending machine minuman yang sudah biasa. Beli tiket bioskop saja bisa pakai vending machine lho di Jepang. Nah mengenai vending machine ini, saya biasanya memang memilih minuman dingin dan menyegarkan, dan tidak memperhatikan minuman lain yang kira-kira tidak segar seperti kopi. Nah di vending machine gunung Fuji ini saya baru menyadari ketika ingin membeli minuman, ternyata ada minuman botol yang panas. Awalnya saya bingung bagaimana bisa ya, apa nanti keluarnya panas? Terlebih mesin tersebut juga menjual minuman dingin. Jadi mesin itu menjual minuman panas dan dingin bersamaan. Saya pun mencoba membeli minuman panas yakni kopi susu berhubung cuaca di Gunung Fuji super dingin. Saya memasukkan koin receh, dan kluuung.... terdengar bunyi minuman kaleng yang jatuh di tempat pengambilan minuman. Saat saya mengambil minuman, benar saja, kalengnya panas dan isinya juga panas! Horeeeyyy! 

Vending Machine
Di salah satu tempat pemberhentian bus ada toko yang menjual pernak pernik oleh-oleh, cemilan, serta cafe yang menjual es krim dengan rasa super bermacam-macam. Tadinya saya sempat membeli eskrim dan saya makan saat itu juga sambil menunggu bus. Rasanya dingin di luar dan dingin di dalam, haha ya iyalah lagi dingin eh malah makan es krim. Di sana juga terdapat taman bunga lavender yang berbunga pada musim semi. Berhubung sedang musim gugur jadi tidak ada satu pun yang berbunga, yang ada hanya alang alang bergoyang, yaaaannggg...Rumah yang berjejer di sekitar gunung Fuji pun tidak kalah lucu dan menarik.


Lepas bermain di sekitar Gunung Fuji, perut sudah mulai keroncongan dan kami pun melipir mencari tempat makan di sekitar Kawaguchiko Main Gate. Di sana ada restoran sederhana sekaligus tempat penginapan, namanya Noah Cafe. Di sana kami memesan makanan untuk pengganjal lapar. Kami menanyakan makanan yang kiranya halal dan tidak mengandung babi atau sejenisnya. Maka kami memesan sesuai dengan rekomendasi Bapak penjual toko yang baik hati, yakni curry rice, pizza sayuran dan krim sup ayam. Baru kali ini saya merasakan makan kari khas Jepang, ternyata rasanya luar biasa enaaaakkk!! Pantas saja grup Detective Boys di Detective Conan sangat semangat makan nasi kari, ternyata rasanya memang super enak. Padahal bentuknya simpel dan sederhana, namun rasanya gurih bumbunya sangat kental bercampur potongan tomat dan daging sapi, dipadu dengan nasi Jepang yang super pulen. Ini kari terenak yang pernah saya cicipi :D 
 

 
 
Setelah kenyang makan, kami pun kembali ke Tokyo dengan menghabiskan tidur di perjalanan, lelah rasanya :D Alhamdulillah, terima kasih Gunung Fuji, kapan-kapan kita berjumpa lagi yaaa :)

Salam,
Noni Halimi